• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 KEMATIAN BAYI DAN BALITA DALAM BALUTAN MITOS,

4.6 Bloko Suto : Dramaturgi Komunal, Kuasa,

4.6.3 Perubahan Sosial

Masyarakat Desa Kalangan secara sejarah sudah merupakan masyarakat petani dari jaman dahulu kala. Dari jaman kerajaan Majapahit, Mataram Kuno, jaman kolonial Belanda dan masa sekarang, mereka adalah masyarakat petani. Pertanian padi adalah kehidupan mereka. Namun pada jaman Belanda mereka mengubah budaya menanam padi dengan menanam tebu dan tembakau. Walaupun tidak dilakukan pada semua lahan pertanian. Pada masa sekarang masih banyak yang bertanaman padi. Tercatat pada masa kolonial Belanda ada 9 pabrik gula di Klaten yaitu Jungkare, Gondang Winangun, Gondang Wedi, Ceper, Kapitu, Kemuda, Delanggu, Junggrangan dan Sepuluh. Masa sekarang, meskipun pekerjaan dari masyarakat sudah berubah beragam, namun mentalitas sebagai masyarakat petani masih melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Kalangan.

Perubahan drastis yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akan sangat mengganggu stabilitas kemasyarakatan. Sama rasa sama rata, masyarakat yang hidup secara komunal pada masa lalu tidak berlaku lagi di kehidupan masa kini.

George Foster pada awal 1960-an dalam Ginzberg (2014), berteori tentang “image” atau gambaran yang mengindikasikan bahwa orang yang memiliki dan menggunakan harta kekayaan yang lebih besar, prestige, cinta, kecantikan, pengaruh kekuasaan, dan vitalitas lebih dari rata-rata kebanyakan orang, menyebabkan orang lain yang tidak memperolehnya merasa menderita atas kondisi tersebut. Karena itu, untuk menjaga kemungkinan terjadi disintegrasi warga komunitas diperlukan mekanisme penyeimbang dalam bentuk konpensasi kultural.

“George Foster in the early sixties, while studying in Tzintzuntzan; a Mexican rural village in western Mexico. Foster had shown that the image— an indication that a person who holds and employs greater means of

subsistence, prestige, love, beauty, power, influence and vitality (however calculated) than the habitual average person, causes someone else to suffer from a scarcity of these means—functioned as a useful buffer against a possible disintegration of the rural community”

Penampakan rumah yang lebih bagus dengan bangunan tembok dan keramik penuh di seluruh rumah, renovasi penuh dari rumah “joglo” bentuk lama akan menimbulkan gosip di sekitar bahwa orang tersebut memiliki akses kepada kekuasaan dan bisa memainkan peran dalam pengolahan uang yang didapatkan dari luar yang bersifat tidak wajar.

Hal tersebut sangat santer mengemuka dalam peristiwa gempa tahun 2006. Setelah terjadi gempa, sebagian besar rumah dari warga Desa Kalangan ambruk. Mereka berkemah di halaman rumah masing-masing. Sesaat setelah gempa ada bantuan datang untuk pembangunan kembali rumah-rumah yang telah hancur. Namun bantuan tersebut menimbulkan disintegrasi, karena sebagian warga merasa tidak mendapatkan bantuan tersebut. Sebagian menuduh kalau penerima bantuan adalah orang-orang yang dekat dengan penguasa saja, sehingga gosip yang beredar adalah rumah-rumah yang berdiri bagus dan lebih bagus dari bentuk awal sebelum gempa adalah hasil dari korupsi bantuan gempa untuk warga. Kebenaran yang ada tidak dapat ditelusur lebih jauh, karena arena gosip yang bermain lebih santer dari pada realitasnya.

Gosip akibat prasangka terkait keberhasilan seseorang atau keberhasilan dukuh lain dalam hal perekonomian akan digosipkan bahwa orang yang memiliki kelebihan ekonomi terkait dengan laku pesugihan. Dikaitkan dengan mitos yang ada dan berkembang di sekitar.

Masyarakat petani adalah masyarakat statis yang perubahannya pelan. Semuanya berdasarkan perhitungan musim tanam, ketidak pastian akan menimbulkan ketidak selarasan dalam kehidupan mereka. Sejarah panjang masyarakat Desa Kalangan, dimana Kalangan sebagai arena peperangan dari masa ke masa yang menimbulkan ketidakpastian kehidupan membuat masyarakatnya

hidup dengan rasa prasangka yang tinggi kepada orang sekitarnya. Namun dalam perkembangan masa, Desa Kalangan sekarang sudah merupakan desa yang dekat perkotaan. Daerah peri-feri perkotaan dengan perkembangan kota dan industri yang cukup cepat di sekitarnya.

Kini Desa Kalangan bukan hanya sebuah desa pertanian seperti masa dahulu. Wilayah Kalangan yang luas dan memiliki jumlah penduduk yang besar sebenarnya merupakan aset penting dari suatu wilayah apabila dikembangkan dengan baik. Namun, karena perkembangan ekonomi dari wilayah sekitar Desa Kalangan tidak diimbangi dengan peningkatan pendidikan masyarakatnya maka yang terjadi adalah masyarakatnya sebagai penyuplai tenaga buruh yang besar pada industri-industri pabrik yang ada di sekitarnya. Baik itu industri besar maupun industri menengah.

Industri yang berkembang di wilayah sekitar desa Kalangan adalah industri tekstil yang sudah merupakan industri pabrik besar dan juga industri menengah dan industri rumah tangga seperti industri konveksi, tempe dan produk olahan dari tempe.

Gambar 4.7 Pabrik yang berada di sekitar Desa Kalangan Sumber: Dokumentasi Penelitian 2015

Walaupun perlu diteliti lebih lanjut akan dampak perindustrian terhadap kesehatan warga sekitar, penulis bisa menyajikan bahwa

industri berdampak pada lingkungan sekitar. Termasuk berdampak pula pada peran sosial dari seorang ibu. Beberapa dari ibu yang bekerja sebagai buruh di suatu industri di sekitar Desa Kalangan, menyebabkan peran pemeliharaan anak beralih atau berpindah pada keluarga luas bagi yang masih memiliki keluarga luas seperti nenek-kakek, bibi-paman. Sedangkan bagi yang tinggal hanya di keluarga inti, maka pengasuhan akan diserahkan kepada tetangga dekatnya.

Daerah peri-feri penunjang perkotaan, tidak lepas dari dampak perkembangan dan perubahan daerah sekitarnya. Tidak jauh dari Desa Kalangan ada sebuah desa yang merupakan tempat lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK). Menurut data dari PPK UNS tahun 2006 di tempat tersebut ada sekitar 50 PSK. Data dari KPAD Kabupaten Klaten tahun 2014 menunjukkan bahwa HIV/AIDS mencapai 236 orang dan 31 orang diantaranya sudah meninggal dunia. Tidak menutup kemungkinan penyebaran penyakit Infeksi Menular Seksual lebih tinggi dibandingkan angka kejadian HIV/AIDS di Kabupaten Klaten. Selain itu ada mitos di wilayah Terminal Wedi atau di Pasar Sapi, yaitu agar dagangannya laris penjual harus berhubungan seks dengan PSK di sana (Solopos, 2006). Praktek semacam ini juga mengidentifikasikan bahwa fenomena mitos di Desa Kalangan masih tetap hidup subur.