• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 DESA KALANGAN DALAM KONTEKS BUDAYA

2.3 Sistem Religi

2.3.1 Pemeluk Agama di Desa Kalangan

Menurut data kependudukan Desa Kalangan, sebagian besar masyarakat Desa Kalangan beragama Islam, sisanya beragama Kristen dan Hindu. Dari 17 dukuh yang ada di Desa Kalangan memiliki 19 Masjid/Musholla, 1 Gereja dan 1 Pura.

Tabel 2.3 Jumlah Pemeluk Agama di Desa Kalangan

Agama Jumlah

Islam 5.562

Kristen 49

Katolik 21

Hindu 16

Pengaruh agama Islam berasal dari Muhamadyah, Nadlatul Ulama, Majelis Tafsir Al Qur’an (MTA) dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Ada beberapa dari aliran-aliran agama tersebut oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai pemecah belah di antara warga dan kerukunan hidup bermasyarakat. Seperti diungkapkan Bapak K (55 tahun) berikut ini:

“...(saiki) golongane benten-benten. Niki mboten mengenai agomo nggih, Sak niki wonten golongan X mboten nggunakan nopo-nopo. Pun bubar. Ndungo rombongane piyambak. Sak koncone dewe liyane mboten entuk. Tiyang liyo mboten angsal, kajeng berangkat jenasah diangkat dipikul didungani modin ngriki mboten angsal. Kulo ngarani termasuk memecah belah niku. Kanggene tiyang Jawi Solo, jawine kejawen asli, nggunake selametan niku penting banget. Kanggo keselametan...”

(...(sekarang) golongan (agama) berbeda-beda. Ini kita tidak berbicara agama loh, sekarang ada aliran X yang melarang menggunakan apapun. (setelah ada apapun seperti kelahiran atau kematian) langsung bubar. Doa juga hanya golongannya sendiri, temannya sendiri, orang lain tidak boleh. Orang meninggal saat mau dibawa ke makam diangkat dan didoakan oleh modin kampung tidak boleh. Saya menganggap itu memecah belah masyarakat. Untuk orang Jawa Solo itu Jawa nya adalah Kejawen asli, menggunakan selametan itu sangat penting, untuk keselamatan...)

Demikian juga yang dikatakan oleh Bapak S (70 tahun) bahwa kerukunan dalam Islam sudah mulai luntur karena banyak aliran-aliran yang saling menjelekkan satu sama lain, seperti penuturannya berikut ini:

“...Aliran agama (sakniki) niku pun katah. Kulo nek enten Mubaligh kutbah ngelek-elekake kulo tinggal muleh. Agomo pun diakoni negoro sing rukun mboten dielek-elekake, niku mubaligh elek. Podo agamane ora selametan dielek-elek. Niku kan adate ngriki... Seje agama niku sing rukun. Wong urip niku sing didoleki rukun, ampun fanatik teng agama.wong ndeso uripe gotong royong, urip pating penteleng niku ate ngopo. Kerukunan niku sae. Ampun petuk terus ngidu ate ngapo...”

(aliran-aliran agama sekarang itu banyak. Saya kalau ada mubaligh berkhotbah menjelek-jelekkan yang lain saya tinggal pulang. Agama-agama yang sudah diakui oleh negara itu yang rukun jangan dijelek-jelekkan, itu mubaligh yang tidak baik. Sama agamanya beda aliran tidak mengadakan selamatan dijelek-jelekkan. Selametan itu adat disini...Meskipun berbeda seharusnya rukun. Orang hidup itu yang dicari kerukunan, jangan terlalu fanatik terhadap agama. Orang desa itu hidupnya gotong royong, kalau hidup saling bermusuhan itu mau apa? Kerukunan itu bagus, jangan ketika bertemu terus buang ludah, mau apa hidup seperti itu...)

Di Desa Kalangan ada pengajaran-pengajaran Taman Pendidikan Al-Qur’an yang dilaksanakan di Masjid-Masjid Dukuh. Di situ ada kegiatan TPA untuk anak-anak, remaja dan pengajian ibu-ibu. Di samping ada aliran yang dianggap memecah belah oleh warga, ada juga aliran yang menyatu dengan budaya masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan budaya yang membawa kebaikan dan kegotongroyongan masyarakat tidak serta merta dihapus atau dianggap tidak sesuai.

Agama Hindu di Dukuh Nayan memiliki Pura Besar yang diberi nama Candi Untronoyo. Pembangunan Candi Untronoyo dilakukan 12 tahun yang lalu oleh pemuka agama Hindu almarhum Bapak T.

Gambar 2.4 Pura atau Candi Untoroyono di Dukuh Nayan Sumber: Dokumentasi Penelitian 2015

Upacara sembahyang di Candi Untoroyono biasa diadakan seminggu 2 kali, yaitu pada malam Selasa dan malam Jumat, seperti diungkapkan Bapak Sy (50 tahun) berikut ini,” Acarane sembayangan

dinten malem Jemuwah kaliyan malem Seloso. Wonten sing tilem mriki menawi sembayangan”. Kompleks candi terbuka untuk siapa

saja tidak terbatas pada pemeluk agama Hindu saja. Namun upacara sembahyang dilakukan dengan tata cara agama Hindu. Terbuka untuk kepercayaan lain untuk tujuan bermeditasi atau yang dalam bahasa Jawa disebut “nglakoni” untuk mencari penghidupan, derajat dan kesehatan. Terkait dengan kesehatan, menurut pengurus candi di sisi kanan candi ada sumur mata air yang biasa diminum untuk orang-orang yang mencari kesembuhan atas penyakitnya.

Agama Kristen Protestan berkembang di Dukuh Jembunan, dengan adanya gereja Kemah Injil Indonesia. Gereja tersebut dipimpin oleh seorang pendeta yaitu Bapak St (50 tahun) berasal dari Semarang.

Gambar. 2.5 Gereja di Desa Kalangan Sumber: Dokumentasi Penelitian 2015

Berdasarkan keterangan dari pendeta, jamaah gereja berasal dari berbagai dukuh dan desa, tidak terbatas pada Dukuh Jembunan dan Desa Kalangan. Kebaktian diadakan setiap hari Minggu. Terkait dengan kesehatan ibu dan anak, peran serta gereja terhadap jamaahnya adalah pada saat kedua pasang pengantin akan melakukan pernikahan, ada pendidikan pra nikah yang wajib diikuti oleh kedua calon mempelai selama beberapa periode. Isi pendidikan pra nikah tersebut adalah terkait penguatan iman, penerimaan kedua belah pihak atas kelebihan dan kekurangan masing-masing, termasuk didalamnya terkait penyakit yang harus diungkapkan. Pelajaran mengenai kehidupan berumah tangga dan pendidikan terkait anak yang nanti akan dihasilkan dalam perkawinan tersebut. Hal tersebut terkait dengan ajaran Kristen bahwa apa yang sudah disatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Sehingga harus bisa menerima satu sama lain.

Untuk kasus calon pengantin yang sudah melakukan hubungan diluar pernikahan, gereja memiliki kebijakan bahwa kedua pasangan tersebut tidak bisa dinikahkan dengan pemberkatan gereja. Pernikahan dapat dilakukan secara sipil sebagai warga negara, dan

juga melalui proses pertobatan terlebih dahulu dari kedua belah pihak.

Gereja ada permohonan do’a yang dituliskan dalam kotak, yang akan dibaca dan dido’akan bersama oleh jemaat gereja untuk bisa dicapai hajat permohonan dari orang yang bersangkutan. Permohonan do’a bisa tentang permohonan kesehatan, pemenuhan hajat dan lain sebagainya terkait kebaikan hidup si pemohon.

Berbagai macam agama dan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Desa Kalangan, masing-masing memiliki tokoh yang memimpin penganut-penganutnya. Tujuan kebaikan untuk masing-masing umat agama ada pada masing-masing-masing-masing agama tersebut, sepanjang tidak bertolak belakang dengan budaya masyarakat Desa Kalangan itu sendiri. Friksi dan ketidak percayaan akan muncul apabila agama yang diajarkan tidak selaras dengan kehidupan berbudaya masyarakat setempat.