BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Mata Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
IPA merupakan pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. IPA adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan (Susanto, 2013).
Darmojo (1992) dan Nash (1993) (dalam Samatowa, 2011) menyebutkan adapun pengetahuan itu sendiri adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia. Jadi secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dan segala isinya. Winaputra (dalam Samatowa, 2011) menyatakan bahwa IPA tidak hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi memerlukan kerja, cara berpikir, dan cara untuk memecahkan suatu masalah.
Hakikat pembelajaran IPA yaitu ilmu pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap. Ilmu pengetahuan alam sebagai produk, yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah ilmuwan lakukan dan sudah
membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan empiris dan kegiatan analitis. Bentuk IPA sebagai produk, antara lain: fakta-fakta, prinsip, hukum, dan teori-teori IPA (Susanto, 2013).
Ilmu pengetahuan sebagai proses, yaitu untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam. Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan konsep, maka IPA membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang akan digeneralisasi oleh ilmuwan. Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan, seperti mengamati, mengukur, mengklasifikasikan, dan menyimpulkan. Ilmu pengetahuan alam sebagai sikap, sikap yang dimaksud adalah sikap ilmiah yang dikembangkan dalam pembelajaran IPA (Susanto, 2013).
b. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Samatowa (2011) menjelaskan model belajar yang cocok untuk anak Indonesia adalah belajar melalui pengalaman langsung (Learning
by doing). Model belajar ini memperkuat daya ingat siswa karena
menggunakan alat-alat dan media yang ada di lingkungan anak sendiri. 1) Tujuan Pembelajaran IPA
Adapun tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar (Susanto, 2013) dimaksudkan untuk.
a) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-Nya.
b) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bemanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
d) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
e) Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam.
f) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.
2) Ruang Lingkup IPA
Ruang lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI (Mulyasa, 2006) meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
a) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan serta kesehatan.
b) Benda atau materi, sifat-sifat, dan kegunaannya meliputi : cair, padat, dan gas.
c) Energi dan perubahannya meliputi : gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya, dan pesawat sederhana.
d) Bumi dan alam semesta, meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.
3) Cara pembelajaran IPA yang ideal sekolah dasar
Hakikat pembelajaran yang ideal adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan, dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Keterlaksanaan proses pembelajaran ideal yang efektif tidak terlepas dari peran pendidik. Kurangnya kompetensi pedagogik dan profesional pada pendidik secara langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran dimana ketercapaian KD sesuai kompetensi terkait dengan proses pembelajaran dalam kelas (Purnamawati, 2009).
Piaget (dalam Trianto, 2009) mengelompokkan tahap kognitif anak menjadi empat tahap, yaitu: (1) tahap sensorimotor (0-2 tahun), (2) tahap operasional (2-7 tahun), (3) tahap operasi kongkret (8-11 tahun), dan (4) tahap operasi formal (diatas 11 tahun). Berdasarkan penggolongan menurut Piaget, siswa kelas V SD yang rata-rata
berumur 11 tahun tergolong pada tahap operasional kongkret yaitu pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, siswa juga mulai berpikir secara logis. Siswa juga sudah menggunakan aturan yang jelas dan logis (Suparno, 2001). Berdasakan konsep perkembangan tersebut, siswa kelas V SD tergolong pada tahap operasional kongkret. Hal tersebut menyebabkan media pembelajaran sangat diperlukan untuk membantu siswa memahami pembelajaran dan tercapainya pembelajaran yang ideal.
Menurut Iskandar (2001), siswa perlu diberi kesempatan untuk berlatih keterampilan-keterampilan proses IPA, sebab diharapkan dapat berpikir dan memiliki sikap ilmiah. Siswa juga berperan secara langsung dalam menggunakan media pembelajaran IPA sehingga pembelajaran dapat berkesan kuat dan bertahan lama dalam ingatan siswa (Pamungkas, 2018). Ilmu pengetahuan IPA didefinisikan oleh Paolo dan Marten (dalam Carin, 1993) adalah sebagai berikut.
a) Mengamati apa yang terjadi.
b) Mencoba memahai apa yang diamati.
c) Mempergunakan pengetahuan baru untuk meramalkan apa yang akan terjadi.
d) Menguji dugaan-dugaan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat apakah ramalan tersebut benar.
4) Keterkaitan Pendidikan IPA dan Teknologi
Pada abad ke-IV, antara pendidikan IPA dan teknologi dulunya tidak dikaitkan, dalam artian berdiri sendiri, dimana pendidikan IPA hanyalah IPA tanpa teknologi, dan teknologi hanyalah teknologi tanpa IPA (Mariana, dkk., 2009). Tetapi sekarang IPA itu dikaitkan dengan teknologi artinya bahwa IPA itu bagaimana diterapkan atau dikaitkan dengan teknologi untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi di masyarakat (Mariana, dkk., 2009).
IPA dan teknologi saling melengkapi sangat erat satu dengan yang lainnya. Penemuan dalam sains memungkinkan pengembangan teknologi dengan menyediakan instrumen yang baru lagi, sehingga memungkinkan mengadakan observasi dan percobaan dalam sains. Pada abad ke-20 ini, pengembangan IPA sangat ditunjang teknologi. Dengan demikian hendaknya perubahan pendidikan sains dan teknologi harus merefleksikan atau mengarahkan kepada hubungan antara sains dan teknologi dengan masalah yang dihadapi manausia dalam kehidupan sehari-hari (Mariana, dkk., 2009).
Secara umum keterkaitan pendidikan IPA dengan teknologi yaitu, dengan adanya pendidikan IPA mengarahkan terbentuknya siswa yang sadar atau “melek” IPA dan teknologi atau scientific and
technological meracy. Artinya dalam menyelenggarakan
dijaman teknologi tinggi. Sadar atau “melek” yang dimaksud disini, bukan keterampilan yang dapat diajarkan sedemikian rupa, tetapi merupakan penggunaan kesadaran sosial dan pemahaman tentang penalaran manusia dan pengambilan keputusan dalam IPA dan kaitannya dengan isu-isu sosial, personal, politik, ekonomi, dan etika (Mariana, dkk., 2009).