BAB III METODOLOGI PENELITIAN
C. Prosedur Pengembangan
Berikut adalah prosedur penelitian dan pengembangan model pengembangan ADDIE yang digunakan dalam penelitian ini.
Gambar 3.1 Langkah-langkah Model ADDIE (Tegeh, dkk., 2014) Model ADDIE memberi peluang untuk melakukan evaluasi terhadap aktivitas pengembangan pada setiap tahap. Dampak positif yang ditimbulkan dengan adanya evaluasi pada setiap tahap adalah meminimalisir tingkat kesalahan atau kekurangan produk yang dihasilkan pada tiap akhir model ini (Tegeh, dkk., 2014) Tahap-tahap pengembangan model ADDIE dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Tahap I: Analyze (Analisis)
Tegeh, dkk. (2014) menjelaskan bahwa tahap analyze (analisis) meliputi kegiatan sebagai berikut (1) melakukan analisis kompetensi yang dituntut kepada siswa, (2) melakukan analisis karakteristik siswa tentang kapasitas belajarnya, pengetahuan, keterampilan, sikap yang
Implement Evaluate Design
Analyze
telah dimiliki oleh siswa, serta aspek lain yang terkait, dan (3) melakukan analisis materi sesuai dengan tuntutan kompetensi. Tahap analisis menyangkut tiga pertanyaan yang harus dijawab tuntas. Pertama, kompetensi apa saja yang harus dikuasai oleh siswa setelah menggunakan produk pengembangan. Pertanyaan ini menyangkut segala kapabilitas belajar yang ingin dicapai oleh siswa setelah memanfaatkan produk pengembangan dalam pembelajaran. Kedua, bagaimana karakteristik siswa yang akan menggunakan produk pengembangan ini. Hal ini berkenaan dengan keadaan siswa yang akan menjadi sasaran pengguna produk pengembangan. Keadaan siswa yang dimaksud adalah pengetahuan awal yang dimiliki, minat dan bakat secara umum, dan gaya belajar. Ketiga, materi apa saja yang perlu dikembangkan sesuai yang akan dituntut siswa dan karakteristik siswa. Pertanyaan ketiga berkenaan dengan analisis materi.
Hasil analisis kebutuhan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik umum siswa kelas V adalah berusia rata-rata 11 tahun, beretnik Jawa, dan berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda-beda. Berdasarkan wawancara dan observasi dengan guru mata pelajaran IPA kelas V, materi “Penghematan Air” merupakan salah satu materi yang dianggap masih sulit untuk dikuasai siswa kelas V yang berjumlah 20 siswa. Hal ini terlihat dari 60% siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal atau KKM (75). Hasil ulangan harian materi
“Penghematan Air” pada tahun 2017 menunjukkan bahwa hanya 40% anak yang mencapai KKM.
2. Tahap II: Design (Perancangan)
Tegeh, dkk. (2014) menjelaskan bahwa tahap design
(perancangan) dilakukan dengan kerangka acuan di antaranya (1) untuk siapa pembelajaran dirancang, (2) kemampuan apa yang peneliti inginkan untuk dipelajari, dan (3) bagaimana materi pembelajaran atau keterampilan dapat dipelajari dengan baik. Berdasarkan pertanyaan tersebut, maka perancangan pembelajaran difokuskan pada tiga kegiatan yaitu pemilihan materi sesuai dengan karakteristik siswa dan tuntutan kompetensi, strategi pembelajaran yang diterapkan dan bentuk, serta metode asesmen dan evaluasi yang digunakan.
3. Tahap III: Development (Pengembangan)
Tegeh, dkk. (2014) menjelaskan bahwa tahap ketiga adalah kegiatan development (pengembangan) yang intinya adalah kegiatan menerjemahkan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik sehingga kegiatan ini menghasilkan prototype. Segala hal yang telah dilakukan pada tahap perancangan, yakni pemilihan materi, karakteristik siswa, tujuan kompetensi, dan evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk
prototype. Dalam hal ini peneliti harus sudah menghasilkan prototype
berupa media pembelajaran berbasis Scratch yang berisikan materi “Penghematan Air” dan kuis untuk mata pelajaran IPA kelas V SD.
4. Tahap IV: Implemention (Implementasi)
Kegiatan keempat adalah tahap implementation (implementasi). Hasil pengembangan diterapkan dalam pembelajaran untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kualitas pembelajaran yang meliputi keefektifan, kemenarikan, dan keefisienan pembelajaran. Prototype produk pengembangan perlu diujicobakan secara nyata di lapangan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat keefektifan, kemenarikan, dan keefisienan pembelajaran. Keefektifan berkenaan dengan sejauh mana produk pengembangan dapat mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Kemenarikan berkenaan dengan sejauh mana produk pengembangan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta merangsang minat dan motivasi belajar siswa. Efisiensi berkaitan dengan segala sumber seperti dana, waktu, dan tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Tegeh, dkk., 2014).
Dalam penelitian ini, media pembelajaran dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi sebagai berikut.
a. Setelah menggunakan media pembelajaran, siswa dapat mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) atau melebihi nilai KKM (75). b. Setelah menggunakan media pembelajaran, siswa dapat mengetahui
cara menghemat air dalam materi pembelajaran IPA kelas V “Penghematan Air” dalam kehidupan sehari-hari.
c. Setelah menggunakan media pembelajaran, siswa dapat mempraktikkan cara menghemat air dalam materi pembelajaran IPA kelas V “Penghematan Air” dalam kehidupan sehari-hari.
5. Tahap V: Evaluation (Evaluasi)
Tegeh, dkk. (2014) menjelaskan bahwa tahap terakhir adalah melakukan evaluasi (evaluation) yang meliputi evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan untuk mengumpulkan data pada setiap tahapan yang digunakan untuk penyempurnaan. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk mengetahui hasil pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dan kualitas pembelajaran secara luas.
Tabel 3.1 Perbedaan Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif
Aspek Pembeda
Bentuk Evaluasi
Formatif Sumatif
Komponen Bagian Keseluruhan
Instrumen Buatan sendiri Standar
Pelaksana Intern Ekstern
Fungsi Perbaikan Efektivitas
Sifat Kontinu (continue) Satu tahapan
Ditinjau dari aspek komponen, evaluasi formatif diarahkan pada evaluasi terhadap bagian-bagian tertentu dari obyek evaluasi, sedangkan evaluasi sumatif mencakup keseluruhan obyek evaluasi. Pelaksanaan
evaluasi formatif adalah bersifat intern. Dalam latar penelitian pengembangan, pelaksana evaluasi formatif adalah tim pengembang itu sendiri/peneliti. Pelaksanaan evaluasi sumatif adalah bersifat ekstern, dalam arti pelaksanaannya adalah orang-orang yang berada di luar tim pengembang. Evaluasi formatif berfungsi untuk memperbaiki atau menyempurnakan suatu kegiatan/program/produk, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi untuk mengetahui keefektifan suatu kegiatan/program/produk di akhir program. Dilihat dari sifatnya, evaluasi formatif bersifat kontinu (continue) atau bertahap sedangkan evaluasi sumatif bersifat satu tahap.
Kirna dan Tegeh (2010) menjelaskan data yang dikumpulkan melalui pelaksanakkan evaluasi formatif adalah (1) data evaluasi tahap pertama berupa data hasil uji ahli atau pakar produk media pembelajaran dan dosen ahli mata pelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan evaluasi formatif dengan cara menguji validasikan produk kepada dosen ahli mata pelajaran IPA, dosen ahli ICT, dan guru mata pelajaran IPA kelas V, dan (2) Data evaluasi tahap kedua berupa data hasil uji coba perorangan dan uji coba lapangan, berupa data hasil review dari siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar pedoman wawancara, lembar observasi, dan lembar kuesioner. Data evaluasi tersebut berupa masukan, tanggapan, kritik, dan saran perbaikan yang terdapat pada lembar kuesioner. Hasil data evaluasi tersebut digunakan untuk merevisi produk penelitian.