BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Prosedur Penelitian
3.5.2 Materi dan Peralatan
Materi dan peralatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian, antara lain
1. Perangkat komunikasi laptop atau handphone 2. Akses internet dan akun zoom
3. Materi Powerpoint mengenai konsep konselor sebaya dan psychological wellbeing
28
4. Lembar observasi listening skill (Pre-test dan Post Test)
5. Modul pelatihan, digunakan sebagai pelatih/instruktur dalam memilih subjek.
6. Alat uji validitas modul yang digunakan yaitu Aiken’s V (lembar validasi).
3.6 Validator
Dalam penelitian uji validitas modul KOVID dalam bidang psychological well-being menggunakan ahli pakar atau validator melalui prosedur Judgement serta pemberian rating dilakukan oleh pakar ahli dibidangnya berkaitan dengan materi intervensi (Azwar, 2018). Validasi modul KOVID dilakukan oleh 3 orang validator sekaligus professional judgment yang dipilih secara purposive. Teknik purposive merupakan Teknik penentuan validator dengan menggunakan pertimbangan tertentu (Ekawati & Saputra, 2018).
Validator dalam penelitian ini berdasarkan ketentuan yaitu sebagai berikut:
1. Psikolog, lulus sebagai Magister Psikolog, terdaftar sebagai anggota HIMPSI, mempunyai surat izin praktik Psikolog, berpengalaman dalam memberikan pelatihan konselor sebaya.
2. Guru BK dengan kualifikasi akademik minimal S-1 BK telah mendapatkan kajian teoretik tentang bidang pengembangan kehidupan pribadi sosial siswa selama menempuh pendidikan akademik pada bidang BK di perguruan tinggi.
3. Konselor, lulus sarjana (S1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan atau S1 Psikologi serta memahami secara mendalam dan berpengalaman dalam bidang pelatihan konselor sebaya.
29 3.7 Instrumen Penelitian
3.7.1 Lembar Validasi Modul
Tabel 3. 3 Lembar Validasi Modul
Subbagian Kegiatan
Tujuan yang Hendak Dicapai
Uraian Isi dan Bentuk Kegiatan
Rating Relevansi (STS)
1
(TS) 2
(CS) 3
(S) 4
(SS) 5 SESI 1
Comfort
“Counseling my friend on virtual”
Waktu : 115 Menit
Peserta memahami mengenai konsep konselor sebaya dan mengetahui keterampilan konselor sebaya (listening skill)
Kegiatan dibuka oleh fasilitator dengan memberi salam dan memperkenalkan diri kepada peserta.
Sebelum memulai kegiatan inti sesi pertama, fasilitator akan memimpin ice breaking yaitu
“tag line sekolah” yang bertujuan untuk membangun semangat para siswa.
Fasilitator akan menyebutkan “siapa kita”?, peserta menjawab 3 kata yaitu “Student (nama sekolah) School”. Jika fasilitator menyebut student peserta menjawab “huhuhu”, kemudian jika fasilitator menyebut nama sekolah, peserta menjawab hahaha, lalu yang terakhir jika fasilitator menyebut school, peserta menjawab
“huhahuhahuha”.
30
Jika peserta sudah mengerti ice breaking siap digunakan selama sesi kegiatan.
Pada sesi ini, peserta akan diberikan penjelasan mengenai tujuan dan capaian pelatihan oleh fasilitator. Kemudian fasilitator akan menjelaskan mengenai rangkaian tahapan kegiatan dalam pelatihan
Dilanjutkan dengan memperkenalkan Konselor ahli sebagai pemateri di sesi pertama.
Selanjutnya mempersilahkan konselor untuk mengambil alih kegiatan.
Sampai pada inti kegiatan yaitu penyampaian materi oleh Konselor. Konselor akan memberikan materi mengenai ruang lingkup dan konsep konselor sebaya.
Konselor ahli memaparkan materi mengenai keterampilan menjadi konselor sebaya, yaitu listening skill diantaranya adalah attending, paraphrasing, clarifying, perception checking
(Brammer & MacDonald, 2003).
Peserta memahami materi tentang psychological well-being, tugas perkembangan yang harus terpenuhi selama penerapan pembelajaran di masa pandemi.
Penyampaian materi oleh Konselor ahli tentang psychological well-being siswa, tentang tugas perkembangan yang harus dipenuhi pasca penerapan pembelajaran daring atau semasa blended learning. Materi berasal dari aspek psychological well-being Ryff (1995), kemudian disesuaikan dengan permasalahan siswa saat ini. Poin-poin penting dalam materi diantaranya sebagai berikut.
1. Penerimaan diri : Siswa dapat menyadari dan menerima kekurangan dan kelebihan dirinya selama proses pembelajaran disekolah
31
2. Hubungan positif dengan orang lain : Siswa dapat menjalin hubungan interpersonal yang baik melalui dukungan sosial baik dari keluarga dan teman sebaya.
3. Otonomi : mengandalkan dirinya sebagai problem solver dalam menghadapi masalah selama pembelajaran di masa pandemi
4. Penguasaan lingkungan : memiliki kegiatan produktif yang bermanfaat bagi orang lain, bisa dengan menjadi konselor bagi diri sendiri dan teman sebaya, tentunya dengan mengikuti pelatihan yang telah tersusun dalam modul KOVID.
5. Tujuan hidup : menyusun dan menuangkan target serta cita-cita dalam planner book (template planner book disiapkan oleh fasilitator kemudian untuk dikirimkan kepada para siswa) 6. Pengembangan diri : siswa menyadari potensi dan berusaha mngembangkan hal tersebut melalui mengikuti kegiatan ekstakulikuler disekolah maupun kegiatan pengembangan diri diluar sekolah.
Mengetahui sejauh mana peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan serta mengetahui
kekurangan kegiatan sebagai bahan evaluasi kegiatan selanjutnya
Melakukan Debrief atau sesi tanya jawab.
Fasilitator memberikan pertanyaan kepada peserta terkait dengan kegiatan yang telah dilakukan.
- Apa yang sudah kalian pelajari hari ini?
- Apa saja yang harus diperhatikan dalam menjadi konselor sebaya ?
- Apa saja yang harus diperhatikan dalam menerapkan keterampilan listening skill - Apa saja yang harus diperhatikan dalam sesi
konseling via daring
32
- Apa saja yang harus diperhatikan dalam konseling terkait psychological wellbeing siswa.
SESI 2
“Commit”
counselour must imitate
Waktu : 115 menit
Peserta dapat memahami praktek konseling sebaya melalui video yang ditampilkan
Fasilitator menampilkan video yang mencontohkan kegiatan konseling sebaya yang berjudul “Praktik Teknik Mendengarkan Aktif dalam Konseling” (source Youtube:
https://youtu.be/aVbXsbwLrtk)
Konselor ahli sambil menjelaskan keterampilan konselor yang di praktikkan dari video tersebut.
Peserta dapat mempraktikan keterampilan listening skill dalam sesi latihan (role play).
Sebelum ke kegiatan berikutnya, fasilitator memimpin ice breaking.
Fasilitator dan membagi peserta menjadi 5 kelompok, dimana 1 kelompok terdiri dari 2 orang. Fasilitator mengirimkan file contoh percakapan konselor dan konseli.
Peserta mempraktikkan role play sesi konseling dengan percakapan yang telah dibagikan.
Konselor ahli mendampingi dan membimbing para konselor sebaya yang akan mempraktikkan sesi konseling
Fasilitator mengisi lembar observasi keterampilan para peserta, keterampilan listening skill para peserta
Mengetahui sejauh mana peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan serta mengetahui
Melakukan Debrief atau sesi tanya jawab.
Fasilitator memberikan pertanyaan kepada peserta terkait dengan kegiatan yang telah dilakukan.
- Apa yang sudah kalian pelajari hari ini ? - Bagaimana perasaan setelah mempraktikkan
sesi konseling via daring?
33
kekurangan kegiatan sebagai bahan evaluasi kegiatan selanjutnya
- Apa saja kesulitan yang dihadapi selama sesi Commit?
- Bagaimana cara mengatasinya?
- Peserta diminta menceritakan kesan untuk kegiatan di hari kedua.
SESI 3
“Complete”
counselour implementation Waktu : 115 menit
Peserta dapat mempraktekkan kegiatan konseling dengan
menyelesaikan beberapa kasus yang sering terjadi disekolah selama penerapan sistem pembelajaran yang digunakan saat ini
Fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan dan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan ada sesi ini.
Fasilitator menyiapkan beberapa kasus untuk di bahas dalam praktik sesi simulasi/latihan.
Adapun beberapa gambaran kasus yaitu : 1. Kepercayaan diri saat presentasi
dikelas
2. Penundaan dalam pengerjaan tugas (Prokrastinasi)
3. Penentuan karir/jurusan setelah lulus sekolah
4. Sulit berbaur dengan teman sekelas pasca pembelajaran daring
5. Social media addict dan tidak berminat untuk mengasah minat dan bakat Fasilitator memberikan kasus ke masing masing kelompok yang sudah ditentukan.
Pasangan konselor dan konseli mencoba untuk mempraktikkan kegiatan konseling berdasarkan kasus yang telah didapatkan
Konselor ahli mendampingi peserta pelatihan Fasilitator ikut mengawasi peserta dan mengisi Post test lembar observasi “Listening skill”
34
Mengetahui sejauh mana peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan serta mengetahui
kekurangan kegiatan sebagai bahan evaluasi akhir
Melakukan Debrief atau sesi tanya jawab.
Fasilitator memberikan pertanyaan kepada peserta terkait dengan kegiatan yang telah dilakukan.
- Apa yang sudah kalian pelajari hari ini?
- Bagaimana perasaan setelah menyelesaikan kasus yang didapat?
- Kesulitan yang dirasakan?
- Bagaimana mengatasinya?
- Peserta diminta menceritakan kesan untuk kegiatan di hari ketiga.
Peserta mendapatkan evaluasi dari ahli konselor
Konselor ahli memberikan evaluasi kepada para peserta terkait keterampilan para peserta dalam mempraktikan kegiatan konseling
35
3.7.2 Teknik Penilaian Lembar Validasi Modul
Penilaian terhadap kesesuian isi atau professional judgement pada setiap subbagian modul dilakukan oleh para penilai dengan cara memberikan rating angka 1-5, dimana 1 “sangat tidak sesuai” dan 5 “sangat sesuai”.
Tabel 3. 4 Rating Relevansi
Pilihan Penilaian Angka Rating
Sangat Tidak Sesuai 1
Tidak Sesuai 2
Cukup Sesuai 3
Sesuai 4
Sangat Sesuai 5
3.7.3 Lembar Panduan Observasi
Kemampuan mendengarkan, memperhatikan atau menyimak adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang konselor dalam sesi wawancara maupun konseling. Termasuk diantaranya adalah attending, paraphrasing, clarifying, perception checking (Sudarji, 2014).
Didalam buku The Helping Relationship Lawrence M. Brammer & Ginger MacDonald (2003) menyatakan bahwa Helping Skills for Understanding yang utama adalah kemampuan mendengarkan atau Listening. Listening adalah suatu keterampilan khusus yang mendasar dan dibutuhkan dalam proses konseling dan menjadikan komunikasi yang lebih efektif. Aspek-aspek yang akan dipelajari dalam keterampilan listening ini adalah attending yaitu suatu respon komunikasi dan tingkah laku non verbal, paraphrasing yaitu suatu respon secara verbal pada pesan yang disampaikan, clarifying adalah proses menyingkapkan suatu informasi dan memfokuskan pada suatu pembicaraan dari informasi tersebut, dan perception checking yaitu memastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan yang didengarkan oleh konselor (Aminah, 2018).
Tabel 3. 5 Lembar Panduan Observasi
36
No Aspek yang diamati Detail keterampilan Ya Tidak Keterangan 1. Attending
Keterampilan
attending adalah perilaku konselor mengahampiri kllien yang diwujudkan dalam bentuk kontak mata dengan klien, bahasa tubuh, dan bahasa lisan.
Konselor menganggukkan kepala saat menyetujui pernyataan klien Konselor
menunjukkan ekspresi wajah tenang, ceria, dan senyum
Konselor
menunjukkan variasi isyarat gerakkan tangan berubah-ubah untuk menekankan suatu pembicaraan Konselor menunggu ucapan konseli hingga selesai, diam kemudian
memberikan respon.
2. Paraphrasing
Upaya untuk
menangkap perasaan,
pikiran dan
pengalaman klien, kemudian
merefleksikan kepada klien Kembali
Konselor
mendengarkan pesan
konseli dan
mengkonfirmasi pesan tersebut dengan kata-kata sendiri.
Konselor mengungkapkan kembali pokok-pokok pikiran dan perasaan yang diungkapkan konseli.
Konselor menjelaskan
kembali inti
permasalahan konseli Konselor memberikan respon/konfirmasi yang tepat sesuai dengan cerita permasalahan konseli (non judgemental).
3 Clarifying
Pengungkapan diri dan memfokuskan diskusi. Konselor
Merangkum inti pembicaraan yang disampaikan oleh konseli.