• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

2.3. Tinjauan Studi Terdahulu

3.1.3. Matriks Analisis Kebijakan ( Policy Analysis Matrix/PAM )

Matriks Analisis Kebijakan (Policy Analysis Matrix, PAM) digunakan untuk menganalisis keadaan ekonomi ditinjau dari sudut usaha swasta (private profit) dan sekaligus memberi ukuran tingkat efesiensi ekonomi usaha atau keuntungan sosial (social profit) dan besarnya intensif atau intervensi pemerintah serta dampaknya pada sistem komoditas pada aktivitas usahatani, pengolahan dan pemasaran secara keseluruhan dengan sistematis.

Policy Analysis Matrix membantu memberikan informasi tentang apakah sistem pertanian kompetitif di bawah teknologi dan harga-harga yang berlaku saat ini. Apakah petani, pedagang dan pengelola memperoleh keuntungan ketika menghadapi harga aktual pasar. Kebijakan harga akan mengubah harga dari output atau biaya input serta pula probabilitas privat dalam sistem. PAM dapat menunjukkan efek secara individual maupun kolektif dari harga dan kebijakan faktor. Selain itu PAM memberikan informasi yang penting untuk analisis keuntungan biaya dari suatu investasi pertanian. Selanjutnya model PAM dapat pula digunakan untuk menganalisis efesiensi ekonomi dan besarnya insentif atau intervensi pemerintah serta dampaknya pada sistem komoditas secara bersamaan. Analisis PAM dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai wilayah, tipe usahatani dan teknologi (Monke and Pearson, 1989).

Matriks PAM terdiri dari tiga baris dan empat kolom. Baris pertama mengestimasi keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga yang berlaku, yang mencerminkan nilai yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Baris kedua mengestimasi keunggulan ekonomi dan daya saing (komparatif) yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga sosial (shadow price) atau nilai ekonomi yang sesungguhnya terjadi di pasar tanpa adanya kebijakan pemerintah. Sedangkan baris ketiga merupakan selisih antara baris pertama dengan baris kedua yang menggambarkan divergensi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Policy Analysis Matrix Uraian Penerimaan Biaya (Cost) Keuntungan Tradable Input Faktor Domestik Harga Privat A B C D Harga Sosial E F G H

Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar

I J K L

Sumber : Monke and Pearson, 1989) Keterangan :

1. Keuntungan privat (D) = A – B – C 2. Keuntungan sosial (H) = E – F – G 3. Transfer output (I) = A – E

4. Transfer input untuk Tradable (J) = B – F 5. Transfer faktor non Tradable (K) = C – G 6. Transfer bersih (L) = D – H = I – J = K 7. Rasio biaya privat (PCR) = C/(A – B)

8. Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRCR) = G/(E – F) 9. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) = A/F 10.Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) = B/F 11.Koefisien Proteksi Efektif (EPC) = (A - B)/(E - F) 12.Koefisien Keuntungan (PC) = D/H

13.Rasio Subsidi Bagi Produsen (SRP) = L/E

Perbedaan perhitungan antara private price dengan social price

disebabkan terjadinya kegagalan pasar atau masuknya kebijakan pemerintah yang terletak pada baris ketiga. Jika kegagalan dianggap faktor yang tidak begitu berpengaruh, maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya insentif kebijakan yang dapat dianalisis. Menurut Monke and Pearson (1989), dalam penggunaan matriks PAM, ada asumsi yang harus dipenuhi yaitu :

1. Perhitungan berdasarkan harga privat (private cost) yaitu harga yang benar-benar terjadi yang diterima oleh produsen dan konsumen atau harga yang terjadi setelah adanya kebijakan pemerintah.

2. Perhitungan berdasarkan harga sosial (social cost) atau harga bayangan (shadow price) yaitu harga pada kondisi pasar persaingan sempurna atau harga yang terjadi tanpa ada kebijakan pemerintah. Pada komoditi tradable, harga bayangannya adalah harga yang terjadi di pasar internasional.

3. Output bersifat tradable sedangkan input dapat dipisah berdasarkan komponen tradable (asing) dan non tradable (faktor domestik).

4. Eksternalitas positif dan negatif dianggap saling meniadakan. 3.1.4. Penentuan Harga Bayangan

Menurut Gittinger (1986), penggunaan harga pasar dalam melakukan analisis ekonomi seringkali tidak menggambarkan opportunity costnya. Oleh karena itu, setiap input dan output yang digunakan dalam analisis ekonomi harus disesuaikan terlebih dahulu dengan tingkat harga sosial. Harga sosial atau harga bayangan adalah harga yang terjadi dalam suatu perekonomian apabila pasar berada dalam kondisi persaingan sempurna dan dalam kondisi keseimbangan. Namun dalam kenyataannya sulit untuk menemukan pasar dalam kondisi pasar persaingan sempurna. Harga bayangan secara umum ditentukan dengan mengeluarkan distorsi akibat adanya kebijakan pemerintah seperti subsidi, pajak, penentuan upah minimum, kebijakan harga dan lain-lain.

Adapun alasan penggunaan harga bayangan dalam menganalisis ekonomi adalah :

1. Harga yang berlaku di masyarakat tidak mencerminkan harga yang sebenarnya diperoleh masyarakat melalui produksi yang dihasilkan suatu aktivitas.

2. Harga pasar yang berlaku tidak mencerminkan harga yang sebenarnya dikorbankan jika seandainya terdapat sejumlah pilihan sumberdaya yang digunakan dalam aktivitas, namun tidak digunakan pada aktivitas lain yang masih memungkinkan bagi masyarakat.

3.1.4.1. Harga Bayangan Output

Harga bayangan output adalah harga output yang terjadi di pasar internasional apabila diberlakukan pasar bebas. Harga bayangan output untuk komoditas ekspor atau berpotensi ekspor digunakan harga perbatasan yaitu harga FOB (free on board). Sedangkan harga bayangan output untuk komoditi impor digunakan sebagai harga perbatasan yaitu harga CIF (cost insurance freight). Harga FOB (untuk komoditi ekspor) dan harga CIF (untuk komoditi impor) ini akan dikonversi dengan SER ( Shadow Exchange Rate) dikurangi dengan biaya tataniaga (transportasi dan penanganan) dari pelabuhan ke lokasi usahatani. 3.1.4.2. Harga Bayangan Input

Pada dasarnya dalam menentukan harga bayangan sarana produksi dan peralatan yang termasuk komoditi tradable tidak berbeda dengan penentuan harga bayangan output. Harga bayangan ditentukan pada harga batas (border price), yaitu untuk komoditas ekspor digunakan harga FOB (free on board) dan untuk komoditas impor digunakan harga CIF (cost insurance freight). sedangkan untuk input non tradable digunakan harga domestik.

3.1.4.3. Harga Bayangan Tenaga Kerja

Menurut Pearson and Gotsch (2005), menyatakan bahwa peneliti tidak banyak menemukan divergensi yang mempengaruhi pasar tenaga kerja di Indonesia. Hal ini disebabkan karena ketentuan upah minimum tidak berlaku di sektor pertanian. Menurut Gittinger (1986), tenaga kerja di pedesaan umumnya bukan merupakan tenaga ahli dan kenyataan masih adanya pengangguran. Sehingga dalam penelitian ini pengukuran harga bayangan tenaga kerja menggunakan pendekatan produk marginal dimana produk marginal sebenarnya masih dapat ditingkatkan, sehingga tingkat upah bayangan diduga lebih rendah dari upah aktual.

Secara umum pengukuran harga bayangan tenaga kerja didasarkan pada formulasi sebagai berikut :

dimana :

HB = Harga Bayangan HA = Harga Aktual

3.1.4.4. Harga Bayangan Nilai Tukar

Penetapan nilai tukar rupiah didasarkan atas perkembangan nilai tukar mata uang asing yang menjadi acuan (US Dollar).

Menurut Van der Tak (1982) dalam Gettinger (1986), bahwa penentuan harga bayangan nilai tukar mata uang ditentukan dengan menggunakan rumus berikut :

SERt = OERt SCFt Dimana :

SERt : Nilai Tukar Bayangan (Rp/US$) OERt : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$) SCFt : Faktor Konversi Standar

Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut :

SCFt = Xt + Mt

(Xt – Txt) + (Mt + Tmt) Dimana :

SCFt : Faktor konversi standar untuk tahun ke-t Xt : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp) Mt : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)

Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp) Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp) 3.1.5. Metode Alokasi Komponen Biaya Domestik dan Asing

Terdapat dua metode pendekatan dalam pengalokasian biaya ke dalam komponen asing dan domestik, yaitu metode pendekatan langsung (Direct Approach) dan pendekatan total (Total Approach). Metode pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input yang dapat diperdagangkan baik

impor maupun produksi dalam negeri dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat diperdagangkan apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat dipenuhi dari perdagangan internasional. Input non tradable yang berasal dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen biaya domestik dan input asing yang dipergunakan dalam proses produksi dihitung sebagai komponen biaya asing (Monke and Pearson, 1989).

Sedangkan pendekatan total mengasumsikan setiap biaya input tradable

dibagi kedalam komponen biaya domestik dan asing, dan penambahan input

tradable dapat dipenuhi dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan untuk diproduksi di dalam negeri. Pendekatan ini lebih tepat digunakan apabila produsen lokal dilindungi sehingga tambahan input didatangkan dari produsen lokal atau pasar domestik (Monke and Pearson, 1989). 3.2. Analisis Sensitivitas

Sifat dari metode Policy Analysis Matrix (PAM) yang kaku atau statis, menyebabkan tidak bisa dilakukannya simulasi untuk kemungkinan perubahan-perubahan pada faktor usahatani, misalnya perubahan-perubahan pada variabel-variabel biaya atau penerimaan, sehingga untuk mereduksi kelemahan dari metode ini maka dilakukanlah analisis sensitivitas.

Analisis sensitivitas merupakan suatu alat dalam menganalisis pengaruh resiko yang ditanggung dan ketidakpastian dalam analisa proyek (Gittinger, 1986). Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat bagaimana suatu kegiatan usahatani bila terjadi perubahan dalam perhitungan biaya atau manfaat. Analisis ini merupakan suatu teknik untuk menguji perubahan kelayakan suatu kegiatan ekonomi secara sistematis jika terjadi kejadian-kejadian yang berada dalam perkiraan yang telah dibuat dalam perencanaan.

Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara mengubah besarnya variabel- variabel yang penting yang dapat dilakukan sendiri-sendiri ataupun dengan mengkombinasikan variabel tersebut.

Menurut Kadariah (1999), analisis sensitivitas dilakukan dengan cara : (1) mengubah besarnya variabel-variabel yang penting dengan suatu persentase dan menentukan seberapa sensitifnya hasil perhitungan terhadap perubahan-perubahan

tersebut, (2) menentukan seberapa besar variabel yang berubah sehingga hasil perhitungan membuat usahatani tidak dapat diterima.

Menurut Gittinger (1986) menyatakan bahwa suatu variasi pada analisis sensitivitas adalah nilai pengganti untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan penurunan harga output dan penurunan produksi atau peningkatan harga input atau peningkatan biaya produksi yang masih dapat ditoleransi agar usahatani masih tetap layak.