HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kelompok Tani Mina Bakt
2. Matriks EFE ( External Factor Evaluation )
Matriks EFE dapat memberikan informasi mengenai peluang dan ancaman yang dapat mempengaruhi perkembangan usaha Kelompok Tani Mina Bakti. Faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman diperoleh dari hasil wawancara dengan responden. Setelah diketahui faktor-faktor tersebut, langkah berikutnya adalah pembobotan dan kemudian pemberian peringkat. Pembobotan dan pemberian peringkat dilakukan pada responden yang sama kemudian diambil bobot rata-rata dan peringkat rata-rata dari setiap faktor berdasarkan hasil penilaian dari kelima responden. Langkah berikutnya adalah penentuan nilai tertimbang dari masing-masing faktor dengan mengalikan bobot dengan peringkat. Nilai tertimbang dapat menentukan peluang yang paling potensial dan ancaman yang dapat menghambat perkembangan usaha. Tabel 14 merupakan hasil matriks EFE dari Kelompok Tani Mina Bakti.
Tabel 14 Matriks EFE (External Factor Evaluation) Kelompok Tani Mina Bakti
No. Faktor-Faktor Strategis Eksternal Bobot Peringkat Nilai
Tertimbang Peluang
1. Adanya program pengembangan ugadi dari KKP 0.092 4 0.368
2. Peraturan pemerintah mengenai larangan menjual lahan produktif
0.085 4 0.340
3. Adanya Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah setempat untuk pengembangan ugadi.
0.098 4 0.392
4. Loyalitas konsumen yang tinggi 0.072 4 0.288
5. Belum banyak kelompok tani lainnya yang mengembangkan ugadi
0.052 3 0.156
6. Pelatihan yang rutin diadakan BP3K setiap 2 minggu sekali 0.065 3 0.195
7. Pelatihan yang diadakan BBPBAT Sukabumi mengenai teknis ugadi
0.065 3 0.195
8. Perkembangan teknologi yang mendukung kegiatan 0.059 3 0.177
Ancaman
1. Pemasok benih udang galah hanya berasal dari BBPBAT Sukabumi
0.111 1 0.111
2. Serangan hama 0.105 1 0.105
3. Perubahan harga input produksi 0.078 2 0.156
4. Limbah rumah tangga yang menghambat saluran pengairan sawah
0.052 2 0.104
5. Meningkatnya jumlah pabrik industri di Cidahu 0.065 1 0.065
Total 1.00 2.652
Matriks EFE menunjukkan bahwa peluang utama yang paling potensial bagi Kelompok Tani Mina Bakti adalah adanya anggaran dana alokasi khusus untuk pengembangan ugadi dari pemerintah setempat dengan nilai tertimbang sebesar 0.392. Dana alokasi khusus tersebut khusus dianggarkan untuk pengembangan ugadi di 10 kecamatan yang ada di wilayah Sukabumi, dan salah satu kecamatannya adalah Cidahu. Setiap kecamatan dipilih 1 kelompok tani yang diberikan dana alokasi khusus tersebut, dan
Kelompok Tani Mina Bakti merupakan kelompok tani yang dipilih untuk Kecamatan Cidahu. Petani sangat mengharapkan dana bantuan tersebut karena petani memiliki masalah internal yang berkaitan dengan modal usaha. Sehingga harapannya dengan adanya dana bantuan tersebut, dapat membantu petani untuk mengembangkan ugadi.
Ancaman utama yang paling berpengaruh adalah perubahan harga input produksi. Perubahan harga input produksi tidak dapat dikendalikan oleh Kelompok Tani Mina Bakti. Perubahan harga input produksi akan mempengaruhi besarnya modal usaha yang dikeluarkan oleh petani. Input produksi yang sering mengalami perubahan dan sangat berpengaruh adalah kenaikan harga pupuk dan bahan bakar minyak. Kedua input produksi tersebut merupakan input produksi yang dibutuhkan oleh petani dalam jumlah banyak. Sehingga perubahan harga yang terjadi pada kedua input tersebut, sangat mempengaruhi pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani untuk biaya produksi.
Hasil analisis matriks EFE untuk Kelompok Tani Mina Bakti menunjukkan skor bobot total yang diperoleh adalah sebesar 2.652. Skor bobot total yang diperoleh merupakan skor bobot total yang berada di atas nilai rata-rata. Skor bobot total untuk rata- rata adalah sebesar 2.5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kelompok Tani Mina Bakti mampu menarik keuntungan dari peluang yang ada dan dapat meminimalkan pengaruh negatif potensial yang ditimbulkan dari ancaman eksternal.
Tahap Pencocokan (Matching Stage)
Tahap pencocokan merupakan tahap kedua setelah tahap masukan. Tahapan ini adalah mencocokkan faktor-faktor keberhasilan penting eksternal dengan internal. Tahap pencocokan menghasilkan alternatif strategi yang dapat direkomendasikan. Alat analisis yang digunakan pada tahap pencocokan adalah matiks IE (Internal-External) dan SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats).
1. Matriks IE (Internal-External)
Matriks IE dibagi menjadi 9 dengan 3 jenis strategi yang dapat dikembangkan. Matriks IE dapat memberikan informasi mengenai pemetaan posisi Kelompok Tani Mina Bakti dalam penentuan strategi alternatif. Pemetaan didasarkan pada skor bobot total dari matriks IFE dan EFE pada tahap masukan. Skor bobot total IFE Kelompok Tani Mina Bakti adalah sebesar 3.218 sedangkan skor bobot total untuk EFE adalah sebesar 2.652. Berdasarkan informasi tersebut, maka Gambar 11 merupakan pemetaan posisi Kelompok Tani Mina Bakti pada matirks IE.
Gambar 11 Analisis Matriks Internal-External (IE) pada Kelompok Tani Mina Bakti Hasil pemetaan matriks IE menunjukkan bahwa Kelompok Tani Mina Bakti berada pada sel IV. Sel IV menunjukkan bahwa Kelompok Tani Mina Bakti berada pada lingkungan internal yang kuat dan respon usaha terhadap faktor-faktor eksternal yang dihadapinya tergolong sedang. Kelompok Tani Mina Bakti pada kondisi tersebut
menunjukkan bahwa kelompok tani berada pada posisi tumbuh dan membangun (grow and
build). Strategi yang dapat dilakukan adalah strategi intensif dan integratif. Strategi intensif seperti penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk dapat dilakukan oleh kelompok tani. Strategi penetrasi pasar dapat dilakukan dengan perluasan pasar yang sudah ada melalui upaya-upaya pemasaran yang lebih besar, seperti meningkatkan tenaga kerja penjualan, meningkatkan promosi, menambahkan cinderamata sebagai daya tarik, dan lain sebagainya. Strategi pengembangan pasar dapat dilakukan dengan mengenalkan produk yang dihasilkan ke berbagai wilayah pemasaran yang baru. Strategi pengembangan produk dapat dilakukan dengan meningkatkan penjualan melalui perbaikan kualitas produk dan inovasi produk. Strategi integratif yang dapat dilakukan adalah integrasi horizontal dan integrasi vertikal. Integrasi vertikal dapat dibagi menjadi 2, yakni backward linkage dan
forward linkage. Backward linkage merupakan strategi yang bekerjasama dengan pelaku usaha pada sub sistem hulu, seperti bekerjasama dengan pemasok untuk memenuhi input produksi dengan jaminan atas kualitas dan harga input produksi. Forward linkage
merupakan strategi yang dilakukan dengan bekerjasama dengan pelaku usaha pada sub sistem hilir, seperti distributor. Distributor dapat membantu perusahaan dalam memasarkan produk lebih luas. Integrasi horizontal adalah strategi dengan meningkatkan kontrol terhadap pesaing. Upaya yang biasa dilakukan adalah melakukan marger dan akuisisi.
Rahman (2009) yang melakukan penelitian mengenai strategi pengembangan budidaya udang galah juga menunjukkan bahwa kelompok tani yang berada di Tasikmalaya beradapada sel IV. Kelompok tani tersebut berada pada posisi tumbuh dan membangun. Kondisi tersebut sama dengan Kelompok Tani Mina Bakti yang berada pada posisi tumbuh
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
2.652 3,218 S K O R B O B O T T O T A L E F E Tinggi 3.0-4.0 Sedang 2.0-2.99 Rendah 1.00-1.99 4.0 3.0 2.0 1.0SKOR BOBOT TOTAL IFE
Kuat 3.0-4.0 Sedang 2.0-2.99 Lemah 1.0-1.99 3.0 2.0 1.0
dan membangun. Posisi pada sel IV menunjukkan bahwa organisasi memiliki lingkungan internal yang kuat dan lingkungan eksternal yang sedang. Hal ini mungkin terjadi karena budidaya udang galah memiliki peluang pasar yang besar, sehingga kelompok tani dapat menangkap peluang lebih baik dengan memasarkan udang galah lebih luas. Peluang pasar yang besar didukung dengan lingkungan internal yang kuat, yang dapat mendukung pengembangan budidaya udang galah.