• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

MEDIA KOMUNIKASI FEEDBACK FEEDBACK

MESSAGE (S) MESSAGE (S) MEDIA KOMUNIKASI KOMUNIKASI HORISONTAL PETUGAS DATABASE PETUGAS TEKNIS PENDAMPING KEGIATAN MESSAGE (S) MESSAGE (S) FEEDBACK FEEDBACK KOMUNIKASI HORISONTAL

Frekuensi Komunikasi

Penelitian ini menghitung aktivitas komunikasi organisasi dari frekuensi berkomunikasi dan tingkat penggunaan media komunikasi. Pada frekuensi komunikasi pendamping diamati melalui beberapa arah, yaitu komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, dan komunikasi horisontal. Tabel 11 memperlihatkan frekuensi komunikasi berdasarkan arah komunikasi organisasi.

Tabel 11. Sebaran persentase responden menurut frekuensi komunikasi organisasi program Gernas Kakao tahun 2014

Arah komunikasi organisasi Kategori Jumlah (orang) Persentase (%) Komunikasi ke atas Rendah 13 39.4

Sedang 18 54.5

Tinggi 2 6.1

Komunikasi ke bawah Rendah 17 51.5

Sedang 11 33.3

Tinggi 5 15.2

Komunikasi horisontal Rendah 16 48.5

Sedang 11 33.3

Tinggi 6 18.2

Total Rendah 24 72.7

Sedang 5 15.2

Tinggi 4 12.1

Proses komunikasi dalam pelaksanaan program Gernas meliputi frekuensi yaitu seringnya pendamping berkomunikasi, berbicara, berdiskusi dengan atasan atau dengan rekan pendamping yang lain. Pendamping mendiskusikan informasi dan materi tentang program pada setiap pertemuan. Isi pesan yang disampaikan bersifat informatif dan persuasif yang membahas mengenai pekerjaan untuk mencapai tujuan program.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi komunikasi berdasarkan arah komunikasi ke atas berada pada kategori sedang (54.5%). Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi komunikasi pendamping kepada ketua UPP sebagai atasannya telah cukup sering terjadi, yaitu sekitar tiga atau empat kali per bulan. Aktivitas komunikasi ke atas ditunjukkan dari kesempatan pendamping memberikan saran atau pendapat kepada atasan atau berdiskusi dengan atasan. Jika ditelaah berdasarkan komponen komunikasi maka pendamping sebagai komunikator dan ketua UPP sebagai komunikan, dimana pesan komunikasi dapat berupa diskusi, bertukar pikiran atau pengalaman dengan ketua UPP, meminta pandangan atau arahan ketika mengalami kesulitan dalam pelaksanaan tugas, mengutarakan pendapat dalam pertemuan atau rapat, serta memberikan laporan baik secara lisan maupun tertulis kepada ketua UPP. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah seorang responden yang disajikan berikut ini:

Komunikasi terjadi saat saya berdiskusi mengenai pekerjaan, itupun jarang mi. Kegiatan berdiskusi dengan Pak MY sebagai ketua UPP hanya saya lakukan saat rapat koordinasi dilaksanakan, saya lapor ki hasil survey lapangan dan perkembangan di lokasi kegiatan“ (Pak GF, 24)

Arah komunikasi ke bawah juga terjadi di dalam organisasi pelaksana program, yaitu komunikasi dari atasan kepada pendamping program. Hasil penelitian diperoleh bahwa frekuensi komunikasi berdasarkan arah komunikasi ke bawah berada pada kategori rendah (51.5%). Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi komunikasi yang terjadi dari atasan kepada pendamping masih sangat terbatas, karena hanya dilakukan sebagai suatu kegiatan yang bersifat rutinitas kantor. Aktivitas komunikasi ke bawah sebagian besar masih dilaksanakan hanya pada pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat di kantor.

Aktivitas komunikasi ke bawah ditunjukkan dari kegiatan ketua UPP memberikan perintah atau instruksi ke pendamping atau menegur pendamping jika terjadi kekeliruan dalam tugasnya. Jika ditelaah berdasarkan komponen komunikasi maka ketua UPP sebagai komunikator yang mampu bekerjasama dan memperbincangkan persoalan dengan rekan pendamping yang lain sehingga timbul saling pengertian. Pendamping program digolongkan sebagai komunikan yaitu penerima pesan. Ragam pesan komunikasi dapat berupa perintah atau instruksi kerja. Ketua memberikan perintah/instruksi dapat secara lisan yaitu dengan cara menyampaikan secara langsung pada saat pertemuan atau rapat-rapat, atau dengan cara tertulis yaitu diberikan melalui memo atau catatan kecil kepada pendamping. Ragam pesan komunikasi juga berupa pesan-pesan motivasi dari ketua UPP kepada pendamping. Contoh lain dari aktivitas komunikasi ke bawah adalah kegiatan penilaian kerja dan teguran yang diberikan oleh ketua UPP kepada pendamping ketika melakukan kekeliruan dalam pelaksanaan tugas. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah seorang pendamping yang mengatakan bahwa:

“.. Akhir-akhir ini atasan sudah jarang memberikan perintah, karena saya sudah paham apa saja yang menjadi tugas saya”(Pak MH, 30)

Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa pendamping di lingkungan organisasi pelaksana program Gernas juga menggunakan arah komunikasi horisontal, yaitu aktivitas komunikasi yang terjadi antara pendamping yang satu dengan rekan pendamping yang lainnya. Pendamping program Gernas berkomunikasi dengan sesamanya sebagai bagian dari interaksi kerja. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa frekuensi aktivitas komunikasi horisontal berada pada kategori rendah (48.5%). Rendahnya frekuensi berkomunikasi ini dipengaruhi oleh jarangnya pendamping saling bertemu di kantor sekretariat. Berdasarkan wawancara dengan salah satu responden, pendamping menyatakan bahwa mereka memang jarang sekali datang ke kantor, karena pendamping lebih sering berada di lapangan untuk mengontrol perkembangan kegiatan, sehingga jarak antara lokasi kegiatan dan kantor sekretariat program mempengaruhi tingkat intensitas pertemuan antar pendamping di kantor sekretariat program Gernas.

Aktivitas komunikasi horisontal yang terjadi di antara pendamping terjadi ketika pendamping saling mengkoordinasikan penugasan kerja, berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan kerja, bertukar pikiran untuk memecahkan masalah yang terjadi di lapangan, berunding dan menengahi perbedaan, mengingatkan rekan pendamping yang lainnya ketika melakukan kekeliruan, bertukar pikiran sebelum membuat keputusan mengenai pekerjaan, berbincang- bincang mengenai keadaan petani di lapangan, serta saling memotivasi untuk

menumbuhkan dukungan antarpersonal. Saat komunikasi horisontal berlangsung, pendamping berperan sebagai komunikator dan komunikan tergantung posisi pendamping pada saat komunikasi horisontal berlangsung. Berkomunikasi dengan rekan pendamping yang selevel membuat pendamping lebih merasa nyaman dan leluasa dalam mengemukakan pendapat dan gagasannya, termasuk ketika pendamping memberikan saran kepada pendamping yang lainnya untuk memperlancar pekerjaan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh salah seorang pendamping:

“.. Saya merasa lebih bebas saat menyampaikan pendapat kepada rekan pendamping lainnya, karena hubunganku dengan pendamping lainnya sudah sangat akrabjadi lebih mudah ka’ untuk berkomunikasi dengan mereka”(Ibu FR, 25)

Proses komunikasi yang terjadi merupakan salah satu sarana pendekatan untuk membangun hubungan di antara pendamping. Kegiatan berkomunikasi merupakan cara pendamping melakukan pendekatan, memahami, mendiskusikan masalah yang terjadi di lapangan, mengumpulkan dan berbagi informasi. Pada kegiatan berkomunikasi, pendamping mampu membangun dan memelihara komunikasi tersebut. Cara yang dilakukan oleh pendamping untuk memulai membangun hubungan adalah dengan melakukan pendekatan, baik kepada atasan maupun kepada rekan kerja pendamping yang lain. Hal ini menentukan cara pendamping membangun kepercayaan, sedangkan cara yang dilakukan oleh pendamping untuk membangun kepercayaan adalah dengan melakukan dialog dan komunikasi dua arah agar dapat menyamakan persepsi.

Tingkat Penggunaan Media Komunikasi

Kegiatan komunikasi memerlukan media untuk menyalurkan atau menyampaikan pesan. Kegiatan komunikasi dengan menggunakan media akan mempermudah pendamping menyebarkan informasi atau materi program kepada petani sehingga petani dapat menerima informasi dalam waktu yang bersamaan. Dalam penelitian yang dimaksud dengan media komunikasi terdiri dari media massa dan media non massa. Media massa merupakan media yang dapat dengan mudah diakses oleh banyak petani dalam waktu bersamaan atau hampir bersamaan, contohnya brosur, buletin, poster, buku pedoman (buku juknis), radio, televisi, dan surat kabar. Media non massa merupakan media yang hanya digunakan oleh orang-orang tertentu saja, misalnya seperti handphone, e-mail,

memo, dan surat-surat resmi.

Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa tingkat penggunaan media komunikasi berada pada kategori rendah (60.6%). Hal ini menunjukkan bahwa pendamping tergolong belum optimal menggunakan media komunikasi. Rendahnya tingkat penggunaan media komunikasi disebabkan oleh rendahnya ketersediaan media. Kemajuan teknologi dan telekomunikasi ternyata tidak memberikan dampak yang berarti pada pendamping, karena dari pengamatan di lapangan pendamping hanya menggunakan media komunikasi yang konvensional yang disediakan oleh program seperti brosur, poster, dan buku pedoman untuk menyampaikan materi kepada petani.

Hasil penelitian di lapangan tentang penggunaan media komunikasi oleh pendamping disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12. Sebaran persentase responden menurut tingkat penggunaan media komunikasi tahun 2014

Tingkat penggunaan media komunikasi Kategori Jumlah (orang) Persentase (%) Media massa cetak Rendah 6 18.2

Sedang 5 15.2

Tinggi 22 66.6

Media massa elektronik Rendah 29 87.9

Sedang 3 9.1

Tinggi 1 3.0

Media non-massa cetak Rendah 2 6.1

Sedang 26 78.7

Tinggi 5 15.2

Media non-massa elektronik Rendah 6 18.2

Sedang 17 51.5

Tinggi 10 30.3

Total Rendah 20 60.6

Sedang 5 15.2

Tinggi 8 24.2

Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa tingkat penggunaan media massa cetak yaitu brosur, buletin, poster, buku petunjuk dan teknis, serta surat kabar berada pada kategori tinggi (66.6%). Hal ini didukung oleh tingginya tingkat penggunaan media komunikasi dari program Gernas seperti brosur, poster, dan buku pedoman untuk menyampaikan materi kepada petani. Sebaliknya, tingkat penggunaan media massa elektronik berada pada kategori rendah (87.9%). Media massa elektronik yang dimaksud adalah radio dan televisi. Di Kabupaten Polewali Mandar, pendamping tidak menggunakan radio dan televisi untuk menyampaikan materi program kepada petani, akan tetapi digunakan untuk mencari informasi mengenai proses pelaksanaan dan perkembangan program Gernas di wilayah lain di Indonesia. Secara umum, pendamping menggunakan media massa seperti radio RRI, radio lokal FM Tipalayo, televisi lokal yaitu TVRI, dan surat kabar lokal yaitu Radar Sulbar.

Ragam isi media dari program Gernas antara lain brosur berisi gambaran umum Gernas Kakao, perawatan kebun kakao, pemupukan, pentingnya pohon pelindung untuk kebun kakao, pengendalian Vascular Streak Dieback dan

Phytophtora Palmivora. Poster berisi mengenai informasi tentang standar mutu kakao Indonesia, meningkatkan produktivitas kakao dengan sambung samping, meningkatkan produksi kakao dengan klon tanaman unggul, mengendalikan kanker batang, penyakit busuk buah, penggerek buah kakao, penyakit pembuluh kayuVascular Streak Dieback, panen dan pasca panen kakao yang tepat, tanaman kakao harus dipangkas, dan tentang pohon pelindung yang mutlak bagi tanaman kakao. Terbukti dengan keadaan di lapangan, tampak di sanggar tani terdapat beberapa poster dari program Gernas.

Buku pedoman memberikan informasi tentang cakupan kegiatan utama dalam program yaitu peremajaan, rehabilitasi, dan intensifikasi, sasaran gerakan, tugas dan tanggung jawab dari masing-masing stakeholder, dan manfaat dari program. Informasi mengenai pengertian peremajaan, kriteria kebun, kriteria tanaman, pengajiran, pembuatan lubang tanam, penanaman tanaman sela, pengelolaan pohon pelindung, penanaman kakao, pemeliharaan seperti pemupukan dan pemangkasan. Informasi tentang kegiatan rehabilitasi seperti pengertian rehabilitasi, kriteria kebun, waktu pelaksanaan sambung samping, persyaratan entres, persiapan entres, pelaksanaan sambung samping, pemeliharaan kebun, sanitasi, pengelolaan pohon pelindung. Informasi intensifikasi seperti pengertian kegiatan, kriteria kebun, informasi mengenai pemeliharaan tanaman kakao, informasi mengenai panen sering untuk tanaman kakao, dan informasi mengenai sanitasi untuk tanaman kakao.

Tingkat penggunaan media non-massa cetak berada pada kategori sedang atau cukup (78.7%). Media non-massa cetak yang dimaksud adalah memo, surat- surat resmi, dan laporan yang dibuat oleh pendamping, baik itu laporan bulanan, laporan triwulan, laporan persemester, dan laporan tahunan. Ragam isi pesan yang sering dikomunikasikan dalam bentuk memo antara lain: pengarahan tentang disiplin kepada petani, tata cara dan syarat-syarat pelaksanaan teknik sambung samping, serta pengarahan tentang pemupukan dan pemangkasan. Surat resmi juga digunakan pendamping dalam menyampaikan informasi mengenai surat keputusan (SK) penetapan kelompok tani dan lokasi lahan program Gernas.

Selanjutnya, tingkat penggunaan media non-massa elektronik diketahui juga berada pada kategori sedang yaitu 51.5%. Media non-massa elektronik yang dimaksud adalah penggunaan handphone dan e-mail. Media non massa seperti

handphone (telepon seluler) membantu pendamping membuat janji pertemuan dengan petani atau kelompok tani peserta program. Sebagai contoh Pak RD (29) di Kecamatan Matangnga, sebelum menyampaikan sosialisasi program dan pelaksanaanya Pak RD (sebagai pendamping Gernas) selalu menghubungi Pak MT (selaku ketua kelompok tani) untuk menghubungi masing-masing anggotanya kelompok taninya. Pak MT lalu mencari hari dan jam yang sesuai dimana seluruh anggota kelompok taninya dapat hadir, lalu menghubungi Pak RD kembali untuk menyesuaikan jadwal, setelah jadwal disepakati pendamping Gernas bertemu dengan kelompok tani untuk menyosialisasikan program Gernas.Handphonejuga membantu petani pada hari-hari libur. Jika petani memiliki pertanyaan yang ingin disampaikan kepada pendamping, petani akan menghubungi melalui handphone, sehingga dalam hal ini handphone telah membantu para pendamping menyebarluaskan informasi. Hal ini pernah dialami oleh Pak LT (28), saat berkebun di hari Minggu Pak LT pernah menemukan ada buah yang terserang penyakit busuk buah di kebunnya, kemudian Pak LT menghubungi pendamping melalui handphone. Melalui handphone pendamping menjelaskan bahwa buah yang terserang busuk buah harus segera dipanen, setelah dipanen kulit buah dikumpulkan, dan dilakukan sanitasi agar penyakit busuk buah tidak menyebar. Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendamping masih sangat kurang menggunakan media komunikasi surat elektronik atau e-mail. Hal ini dikarenakan terbatasnya sarana laptop dan wifi yang dimiliki oleh pendamping. Hal ini turut mempersulit pendamping mengakses email mereka.

Effendy (2009) mengemukakan bahwa efek komunikasi terdiri dari efek yang bersifat kognitif, afektif, dan konatif yang timbul pada diri seseorang atau sejumlah orang sebagai akibat dari komunikasi yang dilancarkan seseorang kepadanya. Efek kognitif berkaitan dengan daya pikir dan daya nalar, misalnya menjadi tahu dan paham karena informasi. Efek afektif bersangkutan dengan perasaan, misalnya menjadi gembira, sedih, puas, atau tidak puas. Efek konatif berkaitan dengan dorongan untuk bertindak, adanya upaya melaksanakan kegiatan (sesuai pesan yang diterima), yang pada gilirannya berlanjut menjadi tindakan dan perilaku.

Berdasarkan pengertian efek komunikasi di atas, yang juga bermakna sebagai umpan balik dari komunikan terhadap pesan yang disampaikan komunikator, maka pesan-pesan melalui berbagai media komunikasi tentu ada pengaruhnya bagi khalayak dalam hal ini adalah petani peserta program Gernas. Efek melalui berbagai media komunikasi hanya sampai pada tahap efek kognitif atau afektif saja. Efek konatif lebih disebabkan oleh campur tangan pendamping dalam menyebarluaskan informasi dan materi program kepada petani.

Kinerja Pendamping Program Gernas

Kinerja merupakan hasil kerja pendamping dalam upaya mencapai tujuan program. Kinerja menjadi penting karena pada kenyataannya kinerja pendamping dapat merubah kompetensi petani, bila kinerja pendamping baik maka akan meningkatkan kompetensi petani, begitu pula sebaliknya, bila kinerja pendamping buruk maka kompetensi petani semakin menurun.

Kinerja pendamping responden secara keseluruhan diketahui melalui penilaian sendiri dari masing-masing pendamping, penilaian atasan, dan persepsi petani terhadap kinerja pendamping. Hasil penelitian diperoleh bahwa kinerja pendamping termasuk dalam kategori rendah (51.5%) menurut penilaian sendiri, kinerja pendamping termasuk dalam kategori rendah (51.5%) menurut penilaian atasan, dan kinerja pendamping termasuk dalam kategori rendah (52.2%) menurut persepsi petani.

Rendahnya kinerja pendamping disebabkan beberapa permasalahan, di antaranya adalah terbatasnya jumlah pendamping program sehingga menyebabkan tidak meratanya kerja pendamping untuk mendatangi petani, selain itu tenaga pendamping yang baru lulus dari sarjana (S1) juga kurang menguasai masalah teknis di lapangan, sehingga mereka hanya lebih banyak mengawal urusan administrasi saja. Menurut petani, pendamping kurang memberikan sosialisasi kepada seluruh petani kakao mengenai upaya peningkatan produktivitas dan mutu kakao. Petani mengeluhkan mengenai kehadiran pendamping pada berbagai kegiatan program Gernas yang masih sangat kurang.

Pada Tabel 13 disajikan data mengenai kinerja pendamping yang meliputi kualitas kerja, kuantitas kerja, kerja sama, pengetahuan terhadap pekerjaan, ketepatan waktu, dan jumlah waktu kerja. Kinerja pendamping secara keseluruhan diketahui melalui penilaian sendiri dari masing-masing pendamping, penilaian atasan, dan persepsi petani terhadap kinerja pendamping.

Tabel 13. Sebaran persentase responden menurut kinerja pendamping program Gernas Kakao tahun 2014

Kinerja Menurut penilaian sendiri (%) Menurut penilaian atasan (%) Menurut persepsi petani (%) Kualitas kerja Rendah 30.3 42.4 61.9 Sedang 45.4 30.3 32.6 Tinggi 24.3 27.3 5.5 Kuantitas kerja Rendah 42.2 56.2 48.9 Sedang 36.4 28.2 40.2 Tinggi 21.2 15.6 10.9 Kerja sama Rendah 27.2 46.8 48.9 Sedang 51.5 21.8 43.4 Tinggi 21.3 31.4 7.8 Pengetahuan terhadap pekerjaan Rendah 24.2 15.6 22.8 Sedang 48.5 65.6 36.9 Tinggi 27.3 18.8 40.3 Ketepatan waktu Rendah 42.4 48.5 54.3 Sedang 36.7 30.3 36.9 Tinggi 20.9 21.2 8.8 Waktu kerja Rendah 30.4 51.5 47.8 Sedang 54.5 18.2 32.6 Tinggi 15.1 30.3 19.6 Total Rendah 51.5 51.5 52.2 Sedang 18.2 18.2 14.1 Tinggi 30.3 30.3 33.7

Pendampingan kegiatan program Gernas di Kabupaten Polewali Mandar pelaksanaannya belum efektif. Tenaga pendamping kegiatan yang ada dari sarjana yang baru lulus, sehingga kurang menguasai masalah teknis di lapangan, sehingga mereka hanya lebih banyak mengawal masalah administrasi saja. Tenaga pendamping lebih banyak berkomunikasi dengan ketua kelompok tani dan jarang melakukan pengawalan teknis di lapangan. Akan tetapi, pendamping program Gernas memiliki kelebihan diantaranya adalah usia yang masih muda, sehingga energik dalam bekerja dan idealis, terfokus dalam melaksanakan tugas pendampingan, tidak ada tugas lain yang bisa mengganggu sebagai pendamping. Kekurangannya, pendamping adalah sarjana yang baru lulus yang masih sangat minim pengetahuan teknis tentang budidaya kakao, selain itu pengalaman pendampingan juga masih kurang, kurang menguasai teknis budidaya kakao sampai pada kegiatan pasca panen kakao. Oleh karena itu, diperlukan buku pedoman petunjuk dan teknis (juknis) dan pelatihan-pelatihan untuk lebih

mengefektifkan kinerja pendamping. Beberapa hal yang menjadi faktor pendorong kegiatan pendampingan diantaranya adalah dukungan kebijakan dan pembiayaan dari pemerintah daerah untuk pelaksanaan program Gernas cukup memadai, dan juga semangat petani untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil kakaonya cukup tinggi. Faktor penghambat kegiatan pendampingan antara lain sosialisasi masih kurang, penyediaan sarana produksi sering terlambat, penggunaan bibit SE untuk kegiatan peremajaan belum teruji, dan jumlah tenaga pendamping yang masih kurang.

Kualitas Kerja

Berdasarkan hasil penelitian, petani menilai kualitas kerja pendamping berada pada kategori rendah yaitu sebesar 61.9%, hal yang sama terjadi menurut penilaian atasan bahwa kualitas kerja pendamping berada pada kategori rendah 42.4%. Petani menilai bahwa pendamping belum terampil melaksanakan kegiatan budidaya kakao seperti menanam bibit unggul dan melaksanakan sambung samping yaitu menempel entres. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh petani sebagai berikut:

“ .. Saya lihat itu entres yang ditempel sama petani, ndak kuatki. Lebih bagus kalau petani sendiri yang tempel, lebih kuat dan bagus pertumbuhannya itu entres”(Pak RF, 34)

Namun menurut penilaian pendamping sendiri, kualitas kerja mereka telah berada pada kategori cukup baik. Pendamping menilai bahwa mereka telah menguasai teori dan praktek sehingga mampu mendampingi dan membantu petani melaksanakan kegiatan budidaya kakao. Kualitas kerja pendamping juga diukur dari kemampuannya menyampaikan materi dan informasi, kemampuannya menyumbangkan fikiran, tenaga, dan waktu untuk membina petani, kemampuannya menyelesaikan dan melengkapi data hasil laporan kegiatan serta kemampuan untuk turut menjaga kebersihan di kantor sekretariat.

Kuantitas Kerja

Tabel 13 dapat dijelaskan bahwa petani menilai kuantitas kerja pendamping berada pada kategori rendah yaitu sebesar 48.9%, atasan juga menilai bahwa kuantitas kerja pendamping juga berada pada kategori rendah 56.2%, begitupun menurut pendamping itu sendiri bahwa kuantitas kerja mereka berada pada kategori rendah 42.2%. Kurangnya jumlah intensitas kunjungan pendamping disebabkan oleh jauhnya jarak antara kantor sekretariat dengan lokasi kegiatan, serta jauhnya jarak antara lokasi kegiatan yang satu dengan yang lainnya. Minimnya sarana transportasi yang disediakan juga turut mempengaruhi kerja pendamping untuk mengunjungi petani binaan. Berikut kutipan pernyataan salah seorang pendamping:

.. Saya jarangmi kunjungi petani ku karena motor rusak, sama honor lama turun. Mana lokasi kegiatan jauh, di atas gunung, jalanannya rusak, mobil ndak bisa kesana, motor ji bisa”

Jika diperhatikan intensitas kunjungan pendamping lebih banyak bertemu dan berkomunikasi dengan ketua kelompok tani, sebab ketua kelompok lebih aktif dalam mencari informasi mengenai program Gernas. Ini memberikan gambaran bahwa monitoring dan pengawasan yang dilakukan oleh pendamping belum berjalan dengan baik. Pendamping belum memberikan pengawalan dan pendampingan yang merata kepada seluruh petani peserta program.

Kerja Sama

Tabel 13 menunjukkan bahwa petani menilai hubungan kerja sama di antara pendamping berada pada kategori rendah yaitu sebesar 48.9%, hal yang sama terjadi menurut penilaian atasan bahwa kerja sama pendamping masih berada pada kategori rendah yaitu sebesar 46.8%. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kerja sama antar pendamping di lokasi kegiatan masih rendah, karena dominan pendamping bekerja hanya untuk lokasi kegiatan masing-masing.

Hal berbeda dikemukakan oleh pendamping, bahwa hubungan kerja sama di antara mereka berada pada kategori cukup baik. Pendamping mampu bersahabat, bersikap sopan, serta menjaga hubungan baik dengan rekan kerja yang lain maupun dengan atasan. Keeratan hubungan kerja sama terlihat pada pernyataan Pak NW (28) sebagai berikut:

“ .. Kalau bekerja kita semua ini akrab, saling bantu juga. Kalau saya butuh bantuan teman yang lain saya bilang, biasa temanku langsung ji bantu. Pokoknya baik-baik ji hubungan ku dengan pendamping yang lain”(Pak NW, 28)

Hubungan kerja sama yang terjalin antar sesama pendamping memberikan inspirasi untuk berbuat lebih baik untuk mencapai tujuan organisasi. Nilai sosial dari hubungan kerja sama adalah adanya hubungan saling mengenal terhadap sesama pendamping dan saling berbagi informasi yang berguna untuk membina dan mengembangkan kompetensi petani. Hal ini membantu membangun hubungan kerja sama yang baik antar sesama pendamping.

Pengetahuan terhadap Pekerjaan

Dari Tabel 13 dapat diketahui bahwa petani menilai pengetahuan pendamping terhadap pekerjaan berada pada kategori tinggi yaitu sebesar 40.3%, dan menurut penilaian atasan dan pendamping sendiri berada pada kategori cukup tinggi yaitu masing-masing 65.6% dan 48.5%. Hal ini terlihat dari kemampuan pendamping memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ruang lingkup kegiatan, prosedur kegiatan, tujuan-tujuan program, dan penguasaan materi dari program Gernas. Secara umum menunjukkan bahwa pengetahuan yang menonjol adalah