• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Media Audio Visual

Kata media berasal dari bahasa Latin Medius, yang secara harfiah berarti ”tengah”, ”perantara atau pengatur”. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad, 2006). Sedangkan menurut Gerlach & Ely (1971), mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual/verbal.

Alat-alat audio visual adalah alat-alat yang “audible” artinya dapat didengar dan alat-alat yang “visible” artinya dapat dilihat. Alat-alat audiovisual gunanya untuk membuat cara berkomunikasi menjadi efektif. Sasaran komunikasinya yaitu berupa pengajaran, penerangan dan penyuluhan. Alat-alat audio-visual antara lain termasuk gambar, foto, slide, model, pita kaset tape recorder, film bersuara dan televisi. Pendidikan visual artinya penyajian pengetahuan melalui pengalaman melihat, atau suatu metode untuk menyampaikan informasi berdasarkan prinsip psikologis yang

menyatakan bahwa seseorang memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dilihat daripada sesuatu yang didengar atau dibacanya (Machfoedz, dkk., 2005). Media audio dan audio-visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan terjangkau. Disamping itu menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi lebih banyak, menurut Arsyad (2006).

Menurut beberapa faktor dalam filsafat dan sejarah pendidikan, pengetahuan disalurkan ke otak melalui satu indera atau lebih. Para ahli indera berpendapat, bahwa 75% dari pengetahuan manusia sampai ke otaknya melalui mata dan yang selebihnya melalui pendengaran dan inderaindera yang lain. Alat-alat audio visual dapat menyampaikan pengertian atau informasi dengan cara yang lebih konkrit atau lebih nyata daripada yang disampaikan oleh kata-kata yang diucapkan, dicetak atau ditulis. Oleh karena itu alat-alat audio visual membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti (Lucie, 2005).

Salah satu penyebab yang utama dari tidak efisiennya cara belajar dan berkomunikasi adalah bahwa manusia adalah pelupa. Kalau sekiranya anak-anak atau orang dewasa mengekalkan 25% saja lebih banyak dari yang mereka ketahui, keadaan lingkungan kita pasti lebih baik dari sekarang (Suleiman, 1988).

Media audio visual mempunyai karakteristik yang melekat padanya, meliputi sifat positif dan negatif; disebut positif karena dapat memperoleh manfaat yang lebih maksimal, jangkauan luas, seketika (serentak), menarik, kontak relatif mudah, efek dramatisasi, penentuan waktu penayangan mudah, gabungan (gambar, suara, gerak, warna, juga tulisan). Sedangkan sifat negatif, sekilas pandang dan dengar, frekuensi harus tinggi, mahal, tidak ada segmentasi, terbatas (harus pendek), membutuhkan waktu produksi yang rumit dan lama (Phyllis, 1989).

Menurut Machfoedz, dkk., (2005), alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam penyampaian bahan pendidikan/pengajaran. Alat bantu ini disebut “alat peraga” karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan jelas pula pengertian/pengetahuan yang diperoleh. Dale (1969), membagi alat peraga tersebut menjadi 11 macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam suatu kerucut pada gambar 5 berikut yaitu :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Keterangan : 1) Kata-kata; 2) Tulisan; 3) Rekaman/Radio; 4) Film; 5) Televisi; 6) Pameran; 7) Field Trip 8) Demonstrasi; 9) Sandiwara; 10) Benda

Tiruan; 11) Benda Asli.

Gambar 5 : Kerucut Edgar Dale

Sumber : Pendidikan Kesehatan Bagian Dari Promosi Kesehatan Oleh Machfoedz (2005a), Halaman 84

Gambar kerucut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan yang paling dasar adalah benda asli dan yang paling atas adalah kata-kata. Hal ini berarti bahwa dalam proses pendidikan, benda asli mempunyai intensitas yang paling tinggi untuk

mempersepsikan bahan pendidikan dan pengajaran. Sedangkan penyampaian bahan yang hanya dengan kata-kata saja sangat kurang efektif atau intensitasnya paling rendah. Jelas bahwa dalam penggunaan alat peraga adalah salah satu prinsip proses pendidikan.

Penulisan skenario yang perlu diperhatikan antara lain : pemikiran tentang cerita penyuluhan kesehatan, topik atau tema penyuluhan, jalan cerita dan esensi, pengembangan gagasan, penyatuan gagasan dalam urutan yang sesuai, pengembangan cerita dan sebagainya sehingga menarik untuk ditonton. Bahasa yang digunakan untuk pesan penyuluhan kesehatan melalui media audio visual harus menarik, sederhana dan mudah dimengerti, cukup jelas sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, sehingga mampu menggambarkan apa yang menjadi maksud yang sebenarnya, juga harus disesuaikan tampilan jenis gambar. Pengaturan audio visual dengan baik dapat memberi berbagai makna dalam suatu arus informasi yang berkualitas sehingga bisa diterima dalam belajar dan memungkinkan keadaan lebih baik (Norfolk, 2004).

Pengaruh media audio visual paling lekat berhubungan dengan perilaku suatu propaganda. Media audio visual dapat menimbulkan beberapa perubahan, misalnya perubahan perilaku, meningkatkan pengetahuan, mempengaruhi tahap bertahan, menguatkan nilai, menengahi faktor, mempengaruhi perspektif psikologis. Mengkonstruksi pendengar untuk membentuk pandangan mereka sendiri tentang kenyataan sosial di tempat mereka berinteraksi dengan simbol yang ditawarkan media (Boyd, dkk., 1987).

Alat visual untuk mengkonkritkan suatu ajaran dilengkapi dengan digunakannya alat audio sehingga dikenal adanya alat audio visual atau Audio Visual

Aids (AVA). Video sistem dalam penggunaannya sebagai peralatan putar ulang dari suatu program (rekaman), terdiri dari minimal satu buah video tape recorder (video cassette recorder/VCR) dan satu buah monitor atau lebih. Berbagai jenis VCR yang ada di pasaran dibuat dengan berbagai tujuan penggunaannya. Ada yang untuk keperluan broadcast, untuk keperluan pendidikan, pengajaran, penyuluhan, keperluan industri dan keperluan rumah tangga atau hiburan (Sadiman, dkk., 2003).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan (Mahfoedz, dkk., 2005).

Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Feby. Dkk., (2004) pada post-test menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata pengetahuan pada kelompok intervensi lebih tinggi (21,61) dibandingkan dengan kelompok control (20,35). Promosi kesehatan melalui ceramah dibantu VCD dan Leaflet ternyata lebih meningkatkan pengetahuan guru penjakes tentang GAKI dibandingkan kelompok yang hanya mendapat promosi melalui ceramah dibantu media VCD.

Hasil penelitian dilakukan oleh Pelto, dkk. (2004) menunjukkan bahwa dengan intervensi training konseling nutrisi merubah perilaku dokter dan memperbaiki pengetahuan pemberi perawatan, hasilnya ibu yang menerima nasehat dari perawat yang terlatih memiliki tingkat pengingatan pesan tinggi terhadap makanan khusus yaitu dari 27% menjadi 95%, praktek asupan dan rekomendasi penyajian makanan dari 20% menjadi 90% serta proporsi pesan yang diingat mengenai pentingnya ibu menyusui anak dari 30% menjadi 60%. Audio visual merupakan alat bantu yang paling tepat saat ini. Seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat dan pembuatan/pemakaian media audio visual tidaklah begitu

mahal lagi. Sebagian besar masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan memiliki sarana Audio visual dirumah masing-masing (Arsyad, 2006).

Dokumen terkait