BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Perilaku
Menurut Blum (1974), dalam Maulana (2009), perilaku adalah faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Oleh sebab itu, untuk membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, intervensi atau upaya yang ditujukan kepada faktor perilaku sangat penting dan strategis, mengingat pengaruh yang ditimbulkannya.
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berhubungan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Menurut Bloom (1908) dalam
Maulana (2009), membagi perilaku manusia dalam 3 (tiga) domain yaitu kognitif (pengetahuan), afektif ( sikap) dan psikomotor (tindakan atau keterampilan).
Pengetahuan merupakan proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep baik melalui proses pendidikan maupun pengalaman. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, dari guru, orang tua, teman, buku dan media massa (WHO, 1992).
Pengetahuan yang dicakup dalam kognitif memiliki enam tingkatan yaitu : 1) tahu, yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya; 2)
memahami, yaitu sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi secara benar; 3) aplikasi, yaitu mampu menggunakan rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam
situasi yang lain, misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah; 4) analisis, yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu subyek kendala komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisa dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya; 5) sintesis, yaitu menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru; dan 6) evaluasi, yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi (Green & Lewis, 1986).
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner berisi materi yang ingin diukur dari responden (Azwar, 2003). Sedangkan menurut Simon-Morton, dkk., (1995), pengetahuan merupakan hasil stimulasi informasi yang diperhatikan dan diingat. Informasi dapat berasal dari berbagai bentuk termasuk pendidikan formal maupun non formal, percakapan harian, membaca, mendengar radio, menonton TV dan dari pengalaman hidup.
Menurut Widayatun (1999), sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak. Sikap juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberi pengaruh dinamika atau terarah terhadap respons individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1996), sikap dapat pula didefinisikan sebagai perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanent mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen sikap adalah pengetahuan, perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak.
Sikap mempunyai fungsi yang berbeda bagi setiap orang yaitu : 1) pengetahuan; dengan sikapnya, seseorang akan mampu mengorganisasikan dan
menginterpretasikan berbagai macam informasi yang diterima, 2) ekspresi diri; sehingga individu dapat menyatakan nilai-nilai atau keyakinannya, 3) sarana peningkatan harga diri; dengan mengetahui fungsi sikap bagi seseorang maka komunikator dapat menentukan strategi komunikasi yang tepat dengan memberikan pesan persuasi yang berisi informasi yang relevan bagi fungsi sikap yang bersangkutan (Azwar, 2003).
Menurut Walgito (2003), ada beberapa faktor determinan sikap yang dianggap penting, yaitu : 1) Faktor fisiologis, seseorang akan ikut menentukan bagaimana sikap seseorang. Berkaitan dengan ini adalah faktor umur dan kesehatan. Pada umunya orang muda sikapnya lebih radikal daripada sikap orang yang lebih tua, sedangkan pada orang dewasa sikapnya lebih moderat; 2) Faktor pengalaman langsung terhadap obyek sikap akan dipengaruhi langsung oleh pengalaman orang yang bersangkutan dengan obyek tersebut; 3) Faktor kerangka acuan, merupakan faktor penting dalam sikap seseorang, karena kerangka acuan ini berperan terhadap obyek sikap; dan 4) Faktor komunikasi sosial yang berwujud informasi seseorang kepada orang lain.
Menurut Mantra (1997), perilaku manusia adalah respons individu terhadap stimulasi baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Perilaku manusia itu sesuatu yang unik dan khusus, artinya dia tidak sama antar dan inter manusia baik dalam hal kepandaian, bakat, sikap, minat maupun kepribadian (Widayatun, 1999).
Tindakan manusia ada tiga jenis yaitu : 1) tindakan ideal, artinya tindakan yang dapat diamati yang dilakukan oleh individu atau masyarakat untuk mengurangi atau membantu memecahkan masalah; 2) Tindakan sekarang, artinya perilaku yang
dilaksanakan saat ini, dan 3) tindakan yang diharapkan, yakni tindakan yang diharapkan dilaksanakan oleh sasaran (Azwar, 2003).
Kurt Lewin dalam Brigham (1991), merumuskan suatu model hubungan tindakan yang mengatakan bahwa tindakan (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E) yaitu :
B=f (P.E)
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, biografik, sifat kepribadian dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan tindakan. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan tindakan, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Hal inilah yang menjadikan prediksi tindakan lebih kompleks.
Menurut Sutarlinah (1983), perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan merupakan proses belajar yang ditujukan untuk peningkatan, pemeliharaan, pengurangan, dan penghilangan serta perkembangan dari tingkah laku lama. Menurut Mantra (1997), ada beberapa rangsangan yang dapat menyebabkan orang berubah pengetahuan, sikap dan tindakan, yaitu : 1) rangsangan fisik; 2) rangsangan rasional;
3) rangsangan emosional; 4) ketrampilan; 5) jaringan perorangan dan keluarga; 6) struktur sosial; 7) biaya; dan 8) perilaku yang bersaing.
Pendidikan bukanlah satu-satunya cara merubah pengetahuan, sikap dan tindakan individu atau kelompok, namun secara umum ada tiga macam cara untuk merubah individu atau kelompok yaitu menggunakan kekuasaan atau kekuatan, memberikan informasi, diskusi dan partisipasi (Sarwono, 1997).
Menurut Rukminto (2001), merencanakan perubahan pengetahuan, sikap, dan tindakan pada individu atau pada sekelompok masyarakat melalui intervensi komunitas tidak mudah. Pada kenyataan di lapangan, ada berbagai kendala yang sering ditemui, kendala tersebut meliputi kendala yang berasal dari kepribadian individu dan kendala yang berasal dari sistem sosial yang berkembang dilingkungan kelompok masyarakat tersebut. Kendala individu antara lain adalah kestabilan, kebiasaan, hal-hal utama yang diyakini, seleksi ingatan dan persepsi, ketergantungan, superego, rasa tidak percaya serta rasa tidak aman. Kendala sistem sosial antara lain meliputi kesepakatan terhadap norma tertentu, kesatuan dan kepatuhan terhadap sistem dan budaya, hal-hal yang bersifat sakral, kelompok kepentingan, penolakan terhadap orang luar yang datang ke dalam komunitas tersebut.