• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mediasi di Pengadilan Proyek Percontohan Mahkamah Agung

C. Pengintegrasian Forum Mediasi Sebagai Alternatif Penyerasian Konflik Dalam Sistem Peradilan Perdata

1. Mediasi di Pengadilan Proyek Percontohan Mahkamah Agung

Mahkamah Agung mendorong upaya mediasi, bukan saja demi kepentingan pihak-pihak yang bersangkutan atau yang terkait dengan sengketa. Pengembangan upaya damai merupakan salah satu kebijakan strategis menata sistem peradilan, baik dari segi administrasi atau managemen peradilan maupun dalam rangka menegaskan fungsi peradilan sebagai pranata yang menyelesaikan sengketa bukan sekedar pemutus sengketa. Dari segi administrasi atau manegemen peradilan, upaya damai yang intensif dan meluas akan mengurangi perkara di pengadilan sehingga pemeriksaan perkara dapat dilakukan lebih bermutu karena tidak akan tergesa-gesa, efisien, efektif dan mudah dikontrol.

Semua sengketa perdata yang diajukan ke pengadilan wajib untuk terlebih dahulu diselesaikan melalui mediasi dengan bantuan mediator. Kecuali sengketa yang diselesaikan melalui prosedur pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, serta keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Adapun sengketa perdata yang dapat diselesaikan melalui proses mediasi di pengadilan ini sangat beragam. Hal ini dapat dilihat pada penyelesaian sengketa bidang hukum keluarga, yakni pada kasus perceraian dan warisan. Kemudian, kasus perbuatan melawan hukum, jual beli, hutang piutang, wanprestasi dam tanah dapat diselesaikan melalui proses mediasi di pengadilan. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor

134. Lihat tinjauan proses penyelesaian sengketa Suyud Margono, ADR (Alternative Dispute Resolution) & arbiterase proses Pelembagaan dan Aspek Hukum (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000) hal. 23-33

KMA/059/SK/XII/2003, menetapkan empat Pengadilan Negeri untuk dijadikan proyek percontohan mediasi, yaitu: Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pengadilan Surabaya, Pengadilan Negeri Batu Sangkar dan Pengadilan Negeri Bengkalis.

a. Periode Tahun 2003-2007

Secara keseluruhan, data yang diperoleh dari keempat Pengadilan Negeri yang ditetapkan sebagai proyek percontohan Mahkamah Agung periode 2003-2007, dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 3:

Jumlah Sengketa Yang Berhasil Melalui Mediasi di Pengadilan Negeri

Proyek Percontohan Mahkamah Agung Selama Tahun 2003-2007

Pengadilan Negeri Sengketa Yang Masuk Sengketa Berhasil Melalui Mediasi Sengketa Gagal Melalui Mediasi Prosentase Berhasil Jakarta Pusat 2.192 65 2.127 2,97% Surabaya 3.808 77 3.731 2,02% Bengkalis 77 2 75 2,59% Batusangkar 87 7 80 8,05 %

Sumber : Diolah dari Laporan Registrasi Induk Perkara Gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, PN Surabaya, PN Bengkalis dan PN Batusangkar, Tahun 2003 s.d. 2007

Tabel tersebut di atas, menggambarkan bahwa penyelesaian sengketa melalui mediasi di keempat Pengadilan Negeri proyek percontohan tahun 2003-2007 sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari keempat Pengadilan Negeri tersebut selama tahun 2003-2007 sebanyak 151 perkara mencapai sepakat dari keseluruhan perkara yang masuk sejumlah 6.164 perkara atau sekitar 2,45%. Dengan demikian, data yang diperoleh dari keempat Pengadilan Negeri yang menjadi proyek percontohan menunjukkan hasil penyelesaian sengketa melalui mediasi ini sangat rendah. Rata-rata persentase keberhasilannya masih di bawah 5 persen. Rendahnya tingkat keberhasilan penyelesaian sengketa melalui mediasi di keempat pengadilan tersebut karena umumnya para pihak tidak mau berdamai. Belum ditunjang oleh sarana dan prasarana yang dimiliki oleh keempat pengadilan negeri yang menjadi proyek percontohan. Misalnya saja, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang masih belum memiliki ruangan khusus pertemuan mediasi.

Selain itu, minimnya pengetahuan hakim sebagai mediator, karena hakim belum pernah mengikuti pelatihan dan pendidikan mediasi. Bagaimana seorang hakim yang ditunjuk menjadi mediator dapat membantu

menyelesaikan sengketa melalui mediasi padahal hakim itu sendiri tidak memahami prosedur mediasi. Ditambah lagi dengan adanya ketentuan PerMA yang masih lemah, hal ini dapat dilihat dari adanya kewajiban hakim harus memiliki sertifikat mediator. Adanya pengaturan waktu yang tidak cukup untuk penyelesaian sengketa melalui proses mediasi (hanya 22 hari), dan tidak ada insentif bagi hakim yang telah menjalankan fungsi sebagai mediator atau yang berhasil menyelesaikan sengketa melalui proses mediasi. Faktor-faktor sebagaimana disebutkan di atas menjadi salah satu kendala kurang berhasilnya proses mediasi di empat pengadilan negeri yang menjadi proyek percontohan. Dengan demikian, Mahkamah Agung perlu menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan prosedur mediasi di pengadilan.

Sebagai perbandingan, rendahnya tingkat keberhasilan proses mediasi di pengadilan, dapat juga dilihat dari hasil penelitian Indonesian Institute for Conflict Transformation (IICT) pada tahun 2004. Proses mediasi di 4 (empat) Pengadilan Negeri (PN) yaitu PN Batusangkar, PN Bengkalis, PN Jakarta Selatan dan PN Surabaya dari bulan September 2003 sampai dengan bulan November 2004 menunjukkan persentasi keberhasilan penyelesaian sengketa melalui proses mediasi sekitar 2,6 persen. Sedikitnya 654 perkara yang masuk ke 4 Pengadilan Negeri tersebut dan hanya 17 perkara yang dapat diselesaikan melalui mediasi.135 Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal pelaksanaan proses mediasi di Pengadilan yaitu sejak tahun 2003 sampai 2007 tingkat keberhasilan proses mediasi di keempat pengadilan tersebut sangat rendah. Dari 151 pokok sengketa yang berhasil diselesaikan di keempat Pengadilan Negeri Proyek Percontohan Mediasi yang ditunjuk oleh Mahkamah Agung berdasarkan PerMA Nomor 02 Tahun 2003 menunjukkan bahwa pokok sengketa yang dapat diselesaikan sangat beragam. Namun dari 151 perkara yang berhasil diselesaikan melalui mediasi yang paling banyak adalah sengketa mengenai wanprestasi (38) perkara. Sengketa wanprestasi lebih banyak berhasil dibandingkan dengan sengketa perdata lainnya, karena para pihak memiliki peluang tawar menawar dalam proses perundingan selama mediasi. Selain itu, para pihak dalam sengketa wanprestasi sudah saling mengenal, sehingga mediasi sangat cocok bagi mereka yang menekankan

135 “Persentase Keberhasilan Mediasi Masih Rendah”, http://www.lictor.id/dokumen/Persentase.20

pentingnya hubungan baik yang telah berlangsung maupun yang akan dating. Ditambah lagi, para pihak mempunyai itikad baik untuk mengakhiri sengketanya melalui mediasi, dan mediasi memiliki sarana sebagai sengketa lebih ekonomis baik dari sudut pandang biaya maupun waktu.

Sedangkan, sengketa perceraian tidak banyak berhasil diselesaikan melalui proses mediasi, karena seringkali para pihak mengalami jalan buntu. Selain itu, para pihak sendiri tidak mau hadir dalam pertemuan mediasi, sehingga sulit bagi hakim mediator untuk mempertemukan keinginan yang ada dari kedua belah pihak bersengketa. Umumnya para pihak yang hendak bercerai sejak awal sudah saling bermusuhan dan dating ke pengadilan dengan tujuan untuk memutuskan hubungan perkawinannya. Bahkan tidak sedikit diantara mereka saling menyerang dengan emosi yang berlebihan. Ironisnya, kedua belah pihak mau berdamai asalkan perceraian dikabulkan. Tentu saja hal ini bertentangan dengan prinsip mediasi, bahwa mendamaikan dalam perkara perceraian berarti mempersatukan kembali rumah tangga yang sedang retak. b. Periode Tahun 2008-2009

Data yang diperoleh secara keseluruhan menunjukkan bahwa pengintegrasian proses mediasi ke dalam hukum acara perdata di pengadilan negeri yang menjadi proyek percontohan mediasi pada tahun 2008-2009, dapat terlihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4:

Jumlah Sengketa yang Berhasil Melalui Mediasi di Pengadilan Negeri

Proyek Percontohan MA Selama Tahun 2008-2009

Pengadilan Negeri Sengketa Masuk Sengketa Berhasil Melalui Mediasi Sengketa Gagal Melalui Mediasi Persentase Berhasil Jakarta Barat 834 13 821 1.59% Jakarta Selatan 655 2 653 0.31% Depok 219 1 215 0.47% Bogor 192 4 188 2.08% Bandung 536 13 706 1.84%

Sumber : Diolah dari Laporan Regisrasi Induk Perkara Perdata di PN Jakarta Barat, PN Jakarta Selatan, PN Depok dan PN Bandung tahun 2008-2009.

Dari keseluruhan hasil penyelesaian sengketa melalui mediasi di lima pengadilan proyek percontohan mediasi di Mahkamah Agung menunjukkan hasil yang sangat rendah. Berdasarkan data yang diperoleh dari kelima pengadilan tersebut sedikitnya dari 2.637 perkara yang masuk hanya 33

perkara atau sekitar 1,25% yang berhasil diselesaikan melalui proses mediasi. Dengan demikian, hasil penelitian di lima pengadilan tersebut berdasarkan perMA tahun 2008 masih sangat rendah. Rendahnya jumlah sengketa yang dapat diselesaikan melalui proses mediasi sama halnya dengan empat pengadilan yang menjadi proyek percontohan berdasarkan perMA tahun 2003 yaitu 2,45% dari jumlah perkara yang masuk.

Data yang diperoleh dari lima Pengadilan Negeri yang menjadi proyek percontohan menunjukkan hasil penyelesaian sengketa melalui mediasi ini sangat rendah. Rata-rata persentase keberhasilannya masih di bawah 5 persen. Rendahnya tingkat keberhasilan penyelesaian sengketa melalui mediasi di lima pengadilan proyek percontohan tahun 2008 hampir sama dengan apa yang menjadi kendala belum berhasilnya proses mediasi di pengadilan karena umumnya para pihak tidak mau berdamai. Minimnya pengetahuan hakim sebagai mediator, karena hakim belum pernah mengikuti pelatihan dan pendidikan mediasi. Bagaimana seorang hakim yang ditunjuk menjadi mediator dapat membantu menyelesaikan sengketa melalui mediasi padahal hakim itu sendiri tidak memahami Prosedur mediasi. Ditambah lagi dengan adanya ketentuan waktu yang tidak cukup untuk penyelesaian sengketa melalui proses mediasi (hanya 40 hari). Tidak ada insentif bagi hakim yang telah menjalankan fungsi sebagai mediator atau yang berhasil menyelesaikan sengketa melalui proses mediasi. Dengan demikian, Mahkamah Agung perlu menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan prosedur mediasi di pengadilan. Sehingga, dengan adanya kewajiban untuk menempuh proses mediasi sebagaimana ketentuan PerMA yang baru ini dapat meningkatkan penyelesaian sengketa melalui proses mediasi di pengadilan. Dari 33 pokok sengketa yang berhasil diselesaikan di keempat Pengadilan Negeri tersebut di atas, menunjukkan bahwa semua jenis perkara tersebut di atas dapat diselesaikan proses mediasi. Dari 33 perkara yang dapat diselesaikan melalui proses mediasi di pengadilan negeri proyek percontohan 2008 yaitu sebanyak 9 perkara hutang piutang, 4 perkara wanprestasi, 4 perkara tanah, 4 perkara perceraian, 2 perkara perbuatan mlawan hukum, 2 perkara warisan, 1 perkara ganti rugi, dan 1 perkara gono gini. Secara keseluruhan sengketa yang paling banyak diselesaikan melalui mediasi di lima pengadilan proyek percontohan itu adalah sengketa hutang piutang. Sengketa

hutang piutang lebih banyak berhasil dibandingkan dengan sengketa perdata lainnya, karena para pihak memiliki peluang tawar menawar dalam proses perundingan selama mediasi. Selain itu, para pihak sengketa hutang piutang lebih menekankan kepada faktor ekonomis baik dari sudut pandang biaya maupun waktu. Karena para pihak yang bersengketa hanya butuh waktu 4 sampai 7 kali untuk mengakhiri pertemuan mediasi.