A. Mediasi Dalam Berbagai Sistem Hukum 1 Mediasi dalam Sistem Hukum Adat
2. Mediasi dalam Sistem Hukum lslam
Konsep penyelesaian sengketa win-win solution seperti dalam mediasi, juga dikenal dalam sistem hukum Islam. Walaupun tidak disebut dengan mediasi, namun pola penyelesaian sengketa yang digunakan menyerupai pola yang digunakan dalam mediasi. Dalam sistem hukum Islam dikenal dengan apayang disebut istilah islah dan hakam. Islah adalah ajaran Islam yangbermakna lebih menonjolkan metode penyelesaian perselisihan atau konflik secara damai dengan mengesampingkan perbedaan-perbedaan yang menjadi akar perselisihan. Intinya bahwa para pihak yang berselisih diperintahkan untuk mengikhlaskan "kesalahan" masing-masing dan diamalkan untuk saling memaafkan.
Pengertian islah juga sangat berkembang penggunaannya di kalangan masyarakat Islam secara luas, baik untuk menyelesaikan kasus-kasus perselisihan ekonomi-bisnis maupun non-ekonomi-bisnis. Contohnya, sewaktu terjadi perselisihan paham antara dua tokoh Islam, yaitu Abdurrahman Wahid dengan Abu Hasan, hampir semuapemuka agama Islam menganjurkan keduanya untuk ber-islah. Konteks islah dapat diidentikkan dengan pengertian mediasi atau konsiliasi.
Selain islah dikenal juga, istilah hakam. Hakam mempunyai pengertian yang sama dengan mediasi. Dalam sistem hukum Islam hakam biasanya berfungsi untuk menyelesaikan perselisihan perkawinan yang disebut dengan syiqaq. Mengenai pengertian hakam, para ahli hukum Islam memberikan pengertian yang berbeda-beda. Namun, dari pengertian yang berbeda-beda tersebut dapat disimpulkan bahwa hakam merupakan pihak ketiga yang mengikatkan diri ke dalam konflik yang terjadi di antara suami-istri sebagai pihak yang akan menengahi atau menyelesaikan sengketa di antara mereka.96
Sebagai pedoman, pengertian hakam dapat diambil dari Penjelasan Pasal 76 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 jo. Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama. Dikatakan bahwa "hakam adalah orang yang ditetaphan pengadilan dari pihak keluarga suami atau pihak keluarga istri atau pihah lain untuk mencari upaya penyelesaian perselisihan terhadap syiqaq." Dari bunyi penjelasan pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi hakam hanyalah untuk mencari upaya penyelesaian perselisihan, bukan untuk menjatuhkan putusan.
Setelah hakam berusaha sekuat tenaga untuk mencari upaya perdamaian di antara suami-istri, maka kewajiban dari hakam berakhir. Hakam kemudian melaporkan kepada Hakim tentang usaha yang telah mereka ambil terhadap para pihak (suami-istri). Selanjutnya, keputusan akan diambil oleh Hakim dengan mempertimbangkan masukan dari hakam.
Dengan demikian, kita lihat bahwa haham dalam hukum Islam ini mempunyai kesamaan dengan mediator. Keduanya (baik mediator maupun hakam) tidak mempunyai kewenangan untuk memutus. Keduanya merupakan mekanisme penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Dari uraian tersebut, jelas terlihat bahwa pola penyelesaian sengketa melalui mediasi telah dikenal pula dalam sistem hukum Islam. Islah dan hakam dapat dikembangkan untuk menjadi metode penyelesaian berbagai jenis sengketa, termasuk sengketa perdata dan bisnis sebagaimana ajaran Islam yang memerintahkan agar menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi antara manusia dengan cara perdamaian (islah) sesuai firman Allah Swt dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat 49:9
96 Nailul Sukri, Kedudukan Mediasi dan Tahkim di Indonesia, Skripsi, Fakultas Syariah IAIN Syarif
yang berbunyi "jika ada dua golongan orang beriman bertengkar maka damaikanlah mereka, perdamaian itu hendaklah dilakukan dengan adil dan benar sebab Allah sangat mencintai orang yang berlaku adil". Walaupun pranata hakam dalam sistem hukum Islam digunakan untuk menyelesaikan masalah perceraian, hal ini dapat diterapkan juga pada bidang-bidang sengketa yang lainnya.
Perdamaian dalam syariat Islam sangat dianjurkan. Sebab, dengan perdamaian akan terhindarlah kehancuran silaturahmi (hubungan kasih sayang) sekaligus permusuhan di antara pihak-pihak yang bersengketa akan dapat diakhiri.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam bersabda, “perdamaian (shulh) itu diperbolehkan di antara kaum muslim, kecuali perdamaian yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram.” (HR Abu Daud, dan At Tirmidzi menshahihkannya).
Mengenai hukum shulhu diungkapkan juga dalam berbagai hadits nabi, salah satunya yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Imam Tirmizi yang artinya:
“perdamaian dibolehkan dikalangan kaum muslimin, kecuali perdamaian menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang haram. Dan orang- orang islam (yang mengadakan perdamaian itu) bergantung pada syarat- syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (HR. Ibnu Hibban dan Turmuzi)”. Pesan terpenting yang dapat dicermati dari hadits di atas bahwa perdamaian merupakan sesuatu yang diizinkan selama tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran dasar keislaman. Untuk pencapaian dan perwujudan perdamaian, sama sekali tidak dibenarkan mengubah ketentuan hukum yang sudah tegas di dalam islam. Orang-orang Islam yang terlibat di dalam perdamaian mesti mencermati agar kesepakatan perdamaian tidak berisikan hal-hal yang mengarah kepada pemutarbalikan hukum; yang halal menjadi haram atau sebaliknya.
Dalam konsep Islam pengertian mediasi ini disamakan dengan konsep Tahkim yang dalam bahasa Arab disebut Al Hakam/Hakam yang berarti wasit, pendamai, dan juga penengah.97 pengertian ini didasari dari Al Quran yang artinya:
”Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. An-Nisa. 35)
97 Ahmad Hasan Munawir, Al Munawir Kamus Arab Indonesia, Ponpes Al Munawir Krapyak,
Dalam kaidah Ulumul Quran yang mashur, suatu pengertian diambil karena keumuman lafal bukan karena kekhususan sebab. Jika kaidah ini ditetapkan pada ayat tersebut di atas maka akan sampai pada kesimpulan bahwa Hakam tidak hanya dapat difungsikan pada proses perceraian saja seperti yang ditujukan secara explisit pada ayat Al Quran tersebut melainkan dapat bersifat secara luas pada semua sengketa. Metode pengambilan ini didukung dengan memperhatikan metode lain yaitu berupa isyarah nass.98
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Christhopher W. More bahwa, mediasi adalah intervensi dalam sebuah sengketa atau negosiasi oleh pihak ketiga yang bisa diterima pihak yang bersengketa bukan merupakan bagaian dari kedua belah pihak dan bersifat netral. Pihak ketiga ini tidak mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Dia bertugas untuk membantu pihak-pihak yang bertikai agar secara sukarela mau mencapai kata sepakat yang diterima oleh masing-masing pihak dalam sebuah persengketaan.99 Yahya Harahap mendefinisikan mediasi sebagai :100
1). Sebagai pihak ketiga yang netral dan tidak memihak (imparsial) dan;
2). Berfungsi sebagai pembantuan atau penolong (helper) mencari berbagai kemungkinan atau alternatif penyelesaian sengketa yang terbaik dan saling menguntungkan kepada para pihak.
Rachmadi Usman menyimpulkan mediasi adalah sebagai cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan melalui perundingan yang melibatkan para pihak ketiga yang bersikap netral (non intervensi) dan disebut “mediator” atau “penengah” yang bertugas hanya membantu pihak-pihak yang bersengketa dalam menyelesaikan masalahnya dan tidak mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan.101
Dari keterangan beberapa definisi di atas, nampak jelas bahwa esensi mediasi adalah proses penyelesaian sengketa yang difasilitasi oleh seorang fasilitator yang disebut juga dengan mediator guna sebuah penyelesaian dengan jalan damai. Maka dalam konsep Islam penyelesain dengan jalan damai ini disebut dengan istilah “as
98 Abdul Wahab Khalaf. Ilmu Ushul Fiqh, alih bahasa Masdar Helmy, (Bandung: Gema Risalah
Press, 1996), hlm.249..
99 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, (Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 2003),hlm. 80
100 Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama UU No 7/1989. cet ke IV,
(Jakarta ; Sinar Garfika, 2007), hlm.135.
sulhu” yang secara bahasa berarti “kot un niza’” yaitu memutuskan suatu persengketaan.102 Sedangkan menurut para ulama secara syara’ ialah:103
Artinya “ Islah menurut istilah syara’ adalah suatu aqad dengan maksud mengakhiri suatu persengketaan antara dua orang yang saling bersengketa dan orang yang melakukan akad itu disebut mushalihan, yaitu orang yang melakukan islah”.
Selain itu kehadiran mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa yang sarat dengan nilai kedamaian ini juga sesuai dengan prinsip Islam sebagaimana disebutkan dalam Al Quran yang artinya:
”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S. Al-Imran. 159)
”Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Q.S. Al-Hujarat. 10)
”Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan Mengadakan ishlah di antara manusia. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah. 224)
”Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. An-Nisa. 35)
Di samping dari apa yang telah disebutkan dalam Al Quran tersebut, praktik mediasi pernah juga dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, baik sebelum ia menjadi Rasul maupun sesudahnya. Proses penyelesaian konflik (sengketa) dapat ditemukan dalam peristiwa peletakan hajar aswad (batu hitam pada sisi Kakbah) dan peristiwa perjanjian hudaibiyah. Peristiwa peletakan kembali batu hajar aswad dan perjanjian hudaibiyah memiliki nilai dan strategi resolusi konflik (sengketa) terutama mediasi
102 Sayyid Sabiq, Fiqhussunna, Juz III, Daarul Baayan, Kuwait, 1971, hlm.305. 103 Ibid.
dan negosiasi, sehingga kedua peristiwa ini memiiki perspektif yang sama yaitu mewujudkan perdamaian.104
Pada peletakan hajar aswad ada banyak nilai yang terkandung didalamnya, nilai penyelesaian sengketa antara suku dalam menciptakan perdamaian dan dapat diidentifikasikan antar lain: nilai sabar, menghargai orang lain dalam kedudukan yang sederajat, nilai kebersamaan, komitmen dan proaktif untuk menyelesaikan sengketa.105 Nilai-nilai ini merupakan modal bagi para pihak dalam menjalankan negosiasi, mediasi, dan bahkan arbitrase, baik dalam sengketa antar individu maupun antar kelompok.106
Dalam peristiwa perjanjian hudaibiyah yang terjadi pada tahun 6 Hijriyah atau tepatnya tanggal 13 Maret 628 M. Nabi Muhammad SAW memimpin sekitar seribu kaum muslim meninggalkan Madinah berangkat menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Rasul mengetahui bahwa tidak mudah memasuki kota Mekkah dikarenakan para pemimpin Quraisy tidak mengizinkan kafilah kaum muslim memasuki kota Mekah.107
Dalam kondisi demikian Rasulullah SAW tidak berputus asa, Rasul melakukan negosiasi panjang dengan delegasi Quraisy, yang akhirnya menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan perjanjian hudaibiyah yang isinya antara lain :108 1). Nabi Muhammad, tidak di izinkan mengunjungi Kakbah pada tahun itu (6
H/628 M), tetapi dapat mengunjungi tahun depan.
2). Setiap kunjungan hanya dilakukan selama tiga hari dan tidak membawa senjata kecuali pedang yang telah di sarungkan. Selama kunjungan itu penduduk harus keluar dari kota Mekkah dan memberikan kesempatan kepada kaum muslim ibadah umrah.
3). Kaum muslim wajib mengembalikan orang Mekkah yang datang ke Madinah untuk masuk Islam tanpa persetujuan walinya, sedangkan pihak Quraisy boleh menerima orang Mekkah yang telah hijrah ke Madinah bila mereka ingin kembali ke Mekkah.
4). Kaum muslim Madinah dan kelompok Quraisy Mekkah sepakat untuk gencatan senjata selama 10 tahun.
104 Syahrizal Abbas, Op Cit, hal. 166 105 Ibid.hal. 168
106 Ibid.
107 Ibid. hal. 172 108 Ibid.
5). Setiap kabilah bebas mengadakan persekutuan (aliansi) dengan kaum Quraisy atau kaum muslim, dan aliansi tersebut dihormati oleh kedua belah pihak. Jika dilihat lebih jauh, maka perjanjian hudaibiyah merupakan kemenangan diplomatik kaum muslim, dimana Rasul untuk pertama kali berhasil mengajak kaum quraisy ke meja perundingan dan menghasilkan kesepakatan.109 Mediasi juga dinyatakan dalam hadis Rasul dan pendapat para ulama. Dalam dalam hadis disebutkan yakni:
Artinya: dari Amar bin Auf Al Muzanni r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda “antara sesama muslim boleh mengadakan perdamain kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan setiap muslim di atas syaratnya masing-masing kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”. (H.R. Tamuzi dan hadis ini disahihkan).110
Artinya: telah bercerita kepadaku AbuBakr bin Abi Saybah, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw, bersabda:”Diantara sesama kaum muslim boleh mengadakan perdamaian kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”.(HR. Ibn Majah).111