C. Pengintegrasian Forum Mediasi Sebagai Alternatif Penyerasian Konflik Dalam Sistem Peradilan Perdata
3. Pengintegrasian Forum Mediasi Dalam Sistem Peradilan Perdata
Persoalan penting yang harus diperhatikan dalam penyelesaian suatu sengketa adalah mengenai upaya perdamaian (mediasi) dengan menerapkan azas sederhana, cepat dan biaya ringan dalam pemeriksaan perkara perdata. Dalam rangka mewujudkan proses sederhana, cepat dan murah sesuai dengan azas hukum acara perdata, maka diaturlah upaya perdamaian yakni dengan cara mengintegrasikan proses mediasi di Pengadilan. Hal ini diatur dalam pasal 130 ayat (1) HIR (Herziene Indonesisch Reglement) disebutkan bahwa: “ Jika pada hari yang ditentukan itu, kedua belah pihak datang, maka Pengadilan Negeri dengan pertolongan Hakim Ketua mencoba akan memperdamaikan mereka “.1
Pada ayat di atas sangat jelas keharusan Hakim Ketua Pengadilan Negeri untuk mengupayakan perdamaian terhadap perkara perdata yang diperiksanya. Dalam kaitannya ini hakim harus dapat memberikan pengertian, menanamkan kesadaran dan keyakinan kepada para pihak yang berperkara, bahwa penyelesaian perkara dengan perdamaian merupakan suatu cara penyelesaian yang lebih baik dan lebih bijaksana daripada diselesaikan dengan putusan Pengadilan, baik dipandang dari segi waktu, biaya dan tenaga yang digunakan.Namun terkadang dalam kenyataannya penerapan azas-azas beracara perdata tersebut tidak terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan para pencari keadilan dalam menyelesaikan perkara mereka, sehingga banyak anggapan yang timbul dari masyarakat bahwa proses mediasi bukan lagi menjadi suatu cara tepat dalam menyelesaikan sengketa.
Terdapat beberapa alasan mengapa mediasi sebagai bagian dari alternatif penyelesaian sengketa mulai mendapat perhatian yang lebih di Indonesia seperti : 1). Faktor Ekonomis, dimana alternatif penyelesaian sengketa memiliki potensi
sebagai sarana untuk menyelesaikan sengketa yang lebih ekonomis, baik dari sudut pandang biaya maupun waktu.
2). Faktor ruang lingkup yang dibahas, alternatif penyelesaian sengketa memiliki kemampuan untuk membahas agenda permasalahan secara lebih luas, komprehensif dan fleksibel.
3). Faktor pembinaan hubungan baik, dimana alternatif penyelesaian sengketa yang mengandalkan cara-cara penyelesaian yang kooperatif sangat cocok bagi mereka yang menekankan pentingnya hubungan baik antar manusia (relationship), yang telah berlangsung maupun yang akan datang.
4). Adanya tuntutan bisnis Internasional, yang akan memberlakukan sistem perdagangan bebas, meningkatnya jumlah dan bobot sengketa di masyarakat, sehingga perlu dicari cara dan sistem penyelesaian sengketa yang cepat, efektif dan efesien.
5). Era globalisasi mengharuskan adanya suatu sistem penyelesaian sengketa yang dapat menyesuaikan dengan laju kecepatan perkembangan perekonomian dan perdagangan yang menuju pasar bebas (free market) dan persaingan bebas (free competition) dan untuk itu harus ada suatu lembaga yang mewadahinya138.
Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui bahwa latar belakang mengapa Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) mewajibkan para pihak menempuh mediasi sebelum perkara diputus oleh hakim melalui Peraturan Mahkamah Agung (Perma), didasari atas beberapa alasan, yaitu:139
1). Proses mediasi diharapkan dapat mengatasi masalah penumpukan perkara. 2). Proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih cepat
dan murah dibandingkan dengan proses litigasi.
3). Pemberlakuan mediasi diharapkan dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan.
4). Institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam menyelesaikan sengketa.
5). Trend penyelesaian hukum di berbagai negara di dunia.
138 http://www.litbangdiklatkumdil.net/publikasi-litbang/197-naskah-akademis-mediasi.html diakses
tanggal 20 Februari, 2013, jam: 21.00 WIB.
139 Anonimous. Buku Komentar Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 tentang Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan. Dibuat atas kerjasama MARI, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Indonesia Institute for ConflikctTransformation (IICT), 2008 hlm. 7-12
Dalam hal tertunggaknya perkara dan ketidakpuasan para pencari keadilan terhadap putusan pengadilan, selain dalam rangka mewujudkan proses sederhana, cepat dan murah sesuai dengan azas hukum acara perdata, MA mencoba mengintegrasikan proses penyelesaian sengketa alternatif (non litigasi ) dalam hal ini mediasi ke dalam proses peradilan (litigasi). Yaitu dengan menggunakan proses mediasi untuk mencapai perdamaian pada tahap upaya damai di persidangan dan hal inilah yang biasa disebut dengan lembaga damai dalam bentuk mediasi atau lembaga mediasi. Model lembaga mediasi yang diterapkan di Indonesia sangat mirip dengan mediasi yang diterapkan di Australia, yaitu sistem mediasi yan berkoneksitas dengan pengadilan (mediation connected to the court). Pada umumnya yang bertindak sebagai mediator adalah pejabat pengadilan. Dengan demikian, compromise solution yang diambil bersifat paksaan (compulsory) kepada kedua belah pihak. Namun agar resolusinya memiliki potensi memaksa, harus lebih dulu diminta persetujuan para pihak dan jika mereka setuju, resolusi mengikat dan tidak ada upaya apapun yang dapat mengurangi daya kekuatannya.140
Dalam kaitannya dengan pengintegrasian mediasi sebagai penyelesaian sengketa non litigasi dalam sistem peradilan perdata, Adi Sulistiyono dan Muhammad Rustamaji, mengatakan:141
“…pengembangan penyelesaian sengketa non-litigasi dalam rangka untuk mendayagunakan alternatif penyelesaian sengketa bisnis tampaknya sangat penting untuk segera direalisir. Pengembangan di sini jelas tidak hanya sekadar menyiapkan perangkat hukum positifnya. Akan tetapi yang lebih penting justru bagaimana mengarahkan atau menciptakan suatu kondisi agar penyelesaian sengketa non-litigasi menjadi bagian dari perilaku masyarakat ketika mereka hendak menyelesaikan sengketa bisnis.”
Pengintegrasian mediasi dalam pengadilan apabila dikaitkan dengan teori sistem hukum dari Lawrence M. Friedman dengan melihat melihat implementasi mediasi, maka sistem hukum yang terdiri atas tiga elemen, yaitu elemen struktur, substansi dan budaya hukum.142 Begitupun dalam implementasi pengintegrasian mediasi, yang dapat dilihat dari ketiga elemen tersebut, sebagai berikut:
Kelembagaan hukum adalah bagian dari struktur hukum seperti Mahkamah Agung, dan badan-badan peradilan di bawahnya beserta aparaturnya. Hakim
140 Rachmadi Usman, Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Bandung: PT Aditya Bakti,
2003), hlm. 50-51.
141 Adi Sulistiyono dan Muhammad Rustamaji, Hukum Ekonomi…Op.Cit, hlm.133.
pengadilan sebagai struktur pengadilan memiliki peran yang penting di dalam meningkatkan keberhasilan mediasi. Keberhasilan dan kegagalan mediasi ditopang oleh kemampuan dan kecakapan hakim mediator di dalam menjalankan perannya.
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan merupakan salah satu elemen substansi hukum. Elemen substansi ini dapat memberikan kepastian kepada para pihak yang bersengketa untuk menemukan jalan keluar dari sengketa yang sedang dihadapi. Peraturan mediasi ini paling tidak berisi mengenai substantif dan prosedural mediasi.
Terkait dengan budaya hukum ini, mediasi di pengadilan sesungguhnya merupakan produk dari sistem hukum yang cara pemanfaatan dan penggunaannya sangat tergantung dengan nilai dan keyakinan masyarakat sebagai pengguna mediasi tersebut. Nilai dan keyakinan merupakan bagian dari budaya masyarakat. Jika masyarakat menilai dan berkeyakinan bahwa mediasi dapat berperan sebagai sarana penyelesaian masalah sengketa yang dihadapi maka tujuan mediasi akan tercapai sebagai mekanisme penyelesaian sengketa yang cepat dan biaya ringan, reputasi para pihak tidak terganggu, dan hubungan baik tetap terjaga.
Dalam kaitannya dengan sistem hukum ini, Adi Sulistiyono143, menyatakan bahwa:
“…sistem hukum berarti tidak sekedar melibatkan hukum positif, lembaga/institusi hukum, atau aparat penegak hukum, tapi juga budaya masyarakat. Hal ini dianggap penting…karena faktor budaya hukum seringkali terlupakan manakala terjadi wacana permasalahan hukum di tengah-tengah masyarakat.”
Keberhasilan mediasi di pengadilan ditentukan oleh tiga aspek yang satu sama lain saling berhubungan. Tiga aspek itu digambarkan sebagai bangunan segitiga yang satu sama lain saling menopang. Jika salah satu aspek ini hilang atau tidak tercapai dalam proses mediasi, maka mediasi akan gagal. Keberhasilan mediasi di pengadilan ditentukan oleh aspek substantif, prosedural dan psikologis. Aspek substantive keberhasilan mediasi menyangkut kepuasan khusus yang diperoleh para pihak di dalam menyelesaikan sengketanya. Aspek keberhasilan mediasi berikutnya adalah aspek prosedur. Yang di maksud aspek prosedur adalah adanya perasaan puas yang dialami para pihak mengikuti proses mediasi dari awal sampai akhir. Kepuasan prosedur ditandai oleh adanya perlakuan yang fair antara para pihak di dalam menegosiasikan sengketa yang dialami. Keberhasilan mediasi dari aspek prosedur ini
dapat pula dilihat dari netralitas mediator dalam proses mediasi untuk mendengarkan dan memahami dengan baik perasaan dan bahasa para pihak sehingga diantara para pihak tidak ada yang merasa dirugikan.
Keberhasilan mediasi dari aspek psikologis adalah menyangkut kepuasan emosi para pihak yang terkendali, saling menjaga perasaan, menghormati, dan penuh dengan keterbukaan. Sikap-sikap para pihak yang muncul untuk menyelesaikan sengketa dengan baik dapat mendorong lahirnya kepuasan psikologis diantara para pihak. Merasa dihargai dalam forum mediasi oleh para pihak yang terlibat dapat ikut mendorong terciptanya proses mediasi yang berhasil.
BAB IV