C. Pengintegrasian Forum Mediasi Sebagai Alternatif Penyerasian Konflik Dalam Sistem Peradilan Perdata
2. Mediasi Sengketa Eksekusi Pada Saat Aanmaning
Pada dasarnya batas usaha perdamaian hanya terbuka sepanjang pemeriksaan di persidangan, namun dalam praktek dengan kesadarannya sendiri para pihak berdamai saat proses eksekusi.136
Para pakar hukum mengemukakan, bahwa pelaksanaan eksekusi harus sesuai bunyi putusan. Bila tidak dapat dieksekusi secara riil dilakukan lelang. Bila para pihak dalam melaksanakan eksekusi berdamai mengenai pembagian objek sengketa eksekusi dapat menyimpangi bunyi putusan dan dilakukan pembagian sesuai kesepakatan para pihak.137
Dalam hal benar adanya perdamaian, Pengadilan harus mempertimbangkan dan bijak menghadapi para pihak atau masyarakat pendukung para pihak yaitu menangguhkan pelaksanaan eksekusi dengan batas waktu tertentu, apalagi bila pengamanan tidak sebanding dengan masa para pihak, demi keselamatan aparat negara khususnya dan masyarakat umumnya. Pemberian batas penangguhan eksekusi disesuaikan kesepakatan para pihak, atau misalnya selama enam bulan sejak keluar surat perintah eksekusi. Hal ini dianalogikan dengan hak pemohon ikrar talak ketika diberi hak untuk menjatuhkan talak atau mengeksekusi perkara ikrar talak.
Oleh karena perdamaian pada proses eksekusi dalam pembahasan ini diluar campur tangan Pengadilan, maka perdamaian dimaksud tidak menghapus atau menggantikan amar putusan perkaranya, melainkan salah satu bentuk dari pelaksanaan amar putusan perkaranya.
Berdasar pada uraian tersebut dan berpijak pada azas perdamaian dalam pemeriksaan perkara perdata, dan pula dengan terbitnya Perma Nomor 1 Tahun 2008, maka betapa urgensi dan betapa mahal, serta menghabiskan waktu yang diberikan
136 Sudikno Mertokusumo, Op.Cit, hlm.830. 137 Mahkamah Agung RI : 2008, hlm. 8.
hukum untuk mencapai prestasi perdamaian. Oleh karena waktu itu walaupun dalam proses eksekusi dan kemudian para pihak tanpa disuruh oleh mediator mereka sadar menemukan mufakat dan damai, maka hal tersebut suatu prestasi yang luar biasa dan menggembirakan dimata hukum. Dengan demikian perdamaian pada proses eksekusi masih dibenarkan oleh hukum, dengan syarat perdamaian dimaksud secara tertulis. Sehingga terwujudlah penyelesaian sengketa tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang (win win solution). Pengadilan harus menyelidiki kebenaran perdamaian tersebut, dengan memperhatikan, hal-hal sebagai berikut :
1. Pernyataan dari Tereksekusi tentang adanya perdamaian.
2. Pemohon eksekusi membenarkan dan menyetujui adanya perdamaian. 3. Perdamaian dimaksud secara tertulis.
Selanjutnya, temuan pelaksanaan mediasi terhadap permasalahan eksekusi putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pada Pengadilan Negeri Bogor tahun 2009 menunjukkan bahwa dari 9 (sembilan) perkara eksekusi, yang dapat diselesaikan dengan mediasi sebanyak 6 (enam) perkara. Tabel di bawah ini menunjukkan perkara eksekusi yang selesai dengan perdamaian, sebagai berikut.
Tabel 5:
Perkara Eksekusi Yang Selesai Dengan Mediasi Tahun 2009 PN Bogor
No Nomor Perkara (Para Pihak) Tanggal Pelaksanaan
Aanmaning Sita Lelang Pengosongan Keterangan
1 01/Pdt/Eks.Akte/2008/PN.Bgr
PT. Wahana Lawan PT. Karya Saleh Bahana 21/02/08 - - - Selesai (perdamaian di luar pengadilan) 2 16/Pdt/Eks/2007/PN.Bgr jo No.51/Pdt/G/2000/PN.Bgr Indrawilis Lawan H. A. Sanusi
08/08/07 - - - Selesai
(pelaksanaan secara sukarela)
3 102/Pdt/G/1996/PN.Bgr jo
No.387/Pdt/1997/PT.Bdg Sumaryadi Lawan H. S. Rais dkk
- - - - Selesai
(pelaksanaan secara sukarela)
4 11/Pdt/Eks/2008/PN. Bgr jo
No.13/Pdt/2002/PN.Bgr Roesmiyati dkk Lawan Ny.
Bambang Soeseno dkk
01/07/08 - - - Selesai
dengan perdamaian
5 04/Pdt/Eks.Akte/2009/PN.Bgr
Rukmiati dkk Lawan Wahyudi Ruwiyanto 23/03/09 23/070 9 - - Selesai dengan perdamaian 6 09/Pdt/Eks.Akta/2004/PN.Bgr jo
Risalah Lelang No.195/2005 Kamsidin Wirahadikusumah
Lawan Liong Po Yin
18/12/06 - - - Selesai
dengan perdamaian
7 22/Pdt/Eks/2008/PN.Bgr jo
No.25/Pdt/G/2004/PN.Bgr Ali Nasser Asry dkk Lawan Sopian
Ranawijaya 19/01/09 08/04/ 09 - 19/11/09 Selesai (pelaksanaan secara sukarela) 8 20/Pdt/Eks.Akta/2009/PN.Bgr jo No.102/Pdt/G/2005/PN.Bgr PeyHerlina Lawan Teddy Fajar
Siddiq 29/09/09 06/10/09 - - - Selesai dengan perdamaian 9 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr jo No.26/Pdt/G/2007/PN.Bgr Eva 10/02/09 23/02/09 - - - Selesai dengan perdamaian
Savianthi Lawan Grealdine I Flohr
Sumber: Panitera Pengadilan Negari Bogor Tahun 2010.
Dari jumlah penyelesaian sengketa eksekusi di atas, maka prosentase keberhasilan penyelesaian mediasi dapat digambarkan dalam bentuk tabel sebagaimana di bawah ini.
Tabel 6 :
Prosentase Penyelesaian Sengketa Eksekusi
No Penyelesaian Sengketa Eksekusi Frekuensi Prosentase
1 2 Selesai Secara Sukarela 6 3 6.7 % 3.3 % Total 9 100 %
Dari sejumlah perkara eksekusi yang dapat diselesaikan oleh pihak pengadilan sebanyak 6.7 % sedangkan yang selesai dengan sukarela sebanyak 3.3%. Namun, demikian selesainya sengketa eksekusi tersebut dapat diklasifikasi dalam dua bagian yakni secara sukarela dan penyelesaian dengan mediasi. Sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 7:
Prosentase Penyelesaian Mediasi
No Penyelesaian Melalui Mediasi Frekuensi Prosentase
1 Perdamaian di dalam pengadilan 5 83 %
2 Perdamaian di luar pengadilan 1 17 %
Total 6 100 %
Dengan demikian, penyelesaian sengketa eksekusi melalui perdamaian di dalam pengadilan sebanyak 5 perkara (83%) sedangkan sisanya 1 perkara (17 %) dilakukan di luar pengadilan.
Dalam perkara antara Geraldine I Flohr (Termohon Eksekusi/Tergugat) dengan Eva Savianthi (Pemohon Eksekusi/Penggugat) Nomor: 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr. jo Nomor: 26/Pdt/G/2007/PN.Bgr, kedua belah pihak di hadapan Pengadilan Negeri Bogor telah menyatakan adanya kesepakatan yang mengikat kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa hukum dalam perkara Nomor: 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr. jo Nomor: 26/Pdt/G/2007/PN.Bgr, secara perdamaian dan sukarela sebagaimana yang diuraikan dalam Surat Kesepakatan yang dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak tertanggal 26 Nopember 2009. Bahwa dengan telah dicapainya kesepakatan yang dimaksud, para pihak telah menyatakan bahwa sengketa hukum dalam perkara Nomor: 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr. jo Nomor: 26/Pdt/G/2007/PN.Bgr, telah selesai dengan tuntas.
Secara rinci, dalam kesepakatan perdamaian yang dibuat oleh para pihak tercantum beberapa hal sebagai berikut.
1. Bahwa Pihak Pertama selaku Termohon Eksekusi/Tergugat dalam perkara Nomor : 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr. jo. No.26/Pdt/G/2007/PN.Bgr dan Pihak Kedua selaku Pemohon Eksekusi/Penggugat dalam perkara Nomor : 03/Pdt/Eks/2009/PN.Bgr jo.No.26/Pdt/G/2007/PN.Bgr dengan ini menyatakan bersepakat yang mengikat kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa hukum dalam perkara tersebut secara perdamaian ;
2. Bahwa Pihak Pertama menyatakan bersedia dan akan melaksanakan putusan Pengadilan Negeri Bogor Nomor : 26/Pdt.G/2007/PN.Bgr tertanggal 09 Oktober 2007 jo putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor : 196/Pdt/2008/PT.Bandung tertanggal 11 Juli 2008, yang telah berkekuatan hukum yang tetap tersebut yaitu akan mengosongkan dan meninggalkan tanah/rumah milik Penggugat/Pemohon Eksekusi SHM No.108 dengan Surat Ukur No.443/1995 tertanggal 22-11-1995, yang terletak di Jalan Ahmad yani No.42 Rt.06/01 Kelurahan Tanah Sareal, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, dalam tenggang waktu 1 % (satu setengah) bulan terhitung sejak tanggal 23 Oktober 2009 sampai dengan tanggal 8 Desember 2009, menyatakan mencabut Laporan Polisi di Polwil Bogor daa Permohonan Banding di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bogor, sesuai dengan Surat Pemyataan tertar.ggal 12 Nopember 2009 ;
3. Bahwa Pihak Kedua menyatakanakan memberikan rumah sebagai rasa kemanusiaan yang secara fisik telah dikuasai oleh pihak tergugat : Geraldine I Flohr, serta mengenai pengurusan surat-surat rumah pengganti telah diserahkan kepada Bapak Edi Tasman, BBA sesuai dengan surat penyataan yang bersangkutan tertanggal 6 Oktober 2009, dan mencabut Laporan Polisi di Polresta Bogor No.PoI.LP/635/IV/2008/SPK tertanggal 23 April 2008, sesuai dengan Surat Pemyataan tertanggal 24 Nopember 2009 ;
4. Bahwa Pihak Pertama dan Pihak Kedua dengan ini menyatakan bahwa sengketa hukum di Pengadilan Negeri Bogor dalam perkara Nomor : 03/Pdt/Eks /2009/PN.Bgr. jo. No.26/Pdt /G/2007/PN.Bgr telah selesai dengan tuntas ;
5. Bahwa apabila kesepakatan ini tidak dipenuhi/tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka kedua belah pihak setuju untuk kembali kepada amar putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut.
Begitupun antara Ny. Bambang Soeseno (Termohon Eksekusi I/Tergugat I dengan Ny.Murni Samosir (Pemohon Eksekusi/Penggugat) dalam perkara Nomor 11/Pdt/Eks/2008/PN. Bgr jo Nomor 13/Pdt/G/2002/PN.Bgr, kedua belah pihak menerangkan kepada kami dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi, bahwa sehubungan dengan penetapan Ketua Pengadilan Negerl Bogor No.11/Pdt/Bks/2008/PN.Bgr jo No. 13/Pdt/G/2002/PN.Bgr tertanggal 24 Juni 2008, maka antara Pemohon Eksekusi dan Termohon Eksekusi telah dicapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa hukum dalam perkara Perdata Nomor : 13/PDT.G/2002/PN.BGR jo. No. 5l/PDT/2004/|PT.BDG jo. No: 343/K/PDT/2005 secara perdamaian, sebagaimana yang dituangkan dalam Kesepakatan Perdamaian tertanggal 14 April 2009 dan Akta Perdamaian Nomor 02 tertanggal 8 April 2010 yang dibuat dihadapan Indraswari, SH, Notaris di Bogor . Bahwa dengan telah tercapainya kesepakatan perdamaian tersebut, kedua belah pihak menyatakan bahwa sengketa hukum dalam perkara Perdata Nomor : 13/PDT/G/2002/PN.BGR jo. No. 51/PDT/2004/PT.BDG jo. No:343/PDT/2005 tersebut telah selesai dengan tuntas . Secara rinci, dalam kesepakatan perdamaian yang dibuat oleh para pihak tercantum beberapa hal sebagai berikut.
1. Bahwa pihak Kedua bersedia mencabut perkara Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung Republik Indonesia Jakarta jo Putusan Mahkamah Agung RI, No.343/Pdt/2005 tertanggal 7 November 2006 jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.51/Pdt/2004 tertanggal 20 Maret 2004 jo Putusan Pengadilan Negeri Bogor No.13l/Pdt/G/2002 tertanggal 8 Januari 2003;
2. Bahwa pihak Pertama bersedia memberikan sebagian dan tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Sekolah Pertukangan No.2 Sempur, Bogor kepada Pihak ke dua sebagaimana gambar yang telah disepakati oleh kedua belah pihak; 3. Bahwa segala biaya-biaya yang timbul berkenaan dengan Pemecahan
Sertifikat dan balik nama Sertifikat Hak Milik Nomor 20/Bantarjati/Kota Bogor dibebankan kepada Pihak ke dua.
Dalam proses mediasi yang dilakukan oleh para pihak yang bersengketa dituangkan dalam Kesepakatan Perdamaian yang dibuat oleh masing-masing pihak dan Akta Perdamaian yang dibuat di hadapan Notaris. Dengan tercapainya
kesepakatan perdamaian tersebut, kedua belah pihak menyatakan bahwa sengketa hukum diantara mereka sebagaimana telah diputus oleh pengadilan yang telah memperoleh hukum tetap dinyatakan telah selesai dan tuntas dengan dikuatkan oleh Berita Acara Pelaksanaan Putusan Pengadilan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap Secara Perdamaian, ditandatangani oleh masing-masing pihak (pemohon eksekusi/penggugat dan termohon eksekusi/tergugat, dengan disaksikan oleh para saksi dan pihak Pengadilan Negeri Bogor (Panitera).