• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABA IV. UPAYA PENINGKATAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN

F. Membangun Suasana Kelas yang Kondusif

Proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik apabila ada suasana kelas yang mendukung. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Guru membantu peserta didik dalam mengembangkan minat, bakat, kemampuan serta potensi-potensi yang dimiliki. Oleh karena itu dalam membangun suasana kelas yang kondusif guru perlu memperhatikan peserta didik secara pribadi (Suwarna, 2005: 11). Guru perlu menjadi fasilitator yang memberikan kemudahan belajar kepada seluruh peserta didik agar dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat,

tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Guru sebagai fasilitator artinya guru lebih terbuka, mendengarkan peserta didik, mampu menerima ide peserta didik. Suasana gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupakan modal dasar bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan dan memasuki dunia yang penuh berbagai tantangan (Suwarna, 2005:10).

Agar suasana dalam proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar maka perlu adanya pengelolaan kelas yang baik.

Pengelolaan kelas yang dimaksudkan adalah upaya menata dan mengoptimalkan kelas baik yang berupa fisik maupun non fisik, sehingga memungkinkan terciptanya iklim belajar yang optimal pula. Unsur-unsur fisik dalam kelas dapat berupa kursi, meja, gambar, dll.Unsur-unsur non fisik dapat berupa suara, aliran udara dan sebagainya (Maman Sutarman, 2004: 56).

Maka pengelolaan kelas dalam hal ini sangat penting untuk membangun suasana kelas yang kondusif yang membantu tercapainya proses pembelajaran. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas antara lain: 1. Pengaturan kelas.

Suasana kelas yang baik merupakan suatu titik awal keberhasilan pembelajaran. Siswa dapat belajar dengan baik dalam suasana yang mendukung, tanpa adanya tekanan-tekanan yang memungkinkan siswa untuk mampu berkomunikasi, baik dengan guru, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya. Untuk dapat menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar serta meningkatkan prestasi belajar siswa diperlukan pengorganisasian (Maman Sutarman, 2004: 56).

Pengorganisasian kelas meliputi pengaturan penggunaan waktu. Pengaturan waktu pelajaran agama setiap semester sangat terbatas. Oleh karena itu perlu diisi dengan kegiatan yang menggairahkan dan menyenangkan bagi siswa. Pengaturan ruangan dalam kelas. Agar terciptanya suasana yang menggairahkan dalam belajar, perlu diperhatikan ruang belajar. Ruang belajar diatur sesuai dengan jumlah siswa atau jumlah kelompok dalam kelas. Agar kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan cara belajar siswa, maka diperlukan pengelompokan siswa dalam belajar (Maman Sutarman, 2004: 57). Jika pembagian kelompok tersebut dilaksanakan dengan baik maka siswa akan lebih bergairah dalam belajar.

2. Pengelompokan Siswa Membantu Proses Pembelajaran

Pengaturan kursi, meja dan alat-alat lainnya harus mudah dipindahkan atau diatur untuk kepentingan bekerja secara berkelompok. Ruang kelas dan segala fasilitas yang disediakan perlu diatur untuk melayani kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran memungkinkan guru mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar dan lebih mengenal siswa secara pribadi. Dalam hal ini guru perlu mengetahui perbedaan antar siswa yang satu dengan yang lainnya sehingga pengelompokan siswa sungguh sesuai dengan minat, bakat, kemampuan yang dimiliki siswa (Maman Sutarman, 2004: 61).

Dalam menciptakan iklim belajar yang nyaman, serasi dan damai maka guru harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku anak didik agar tidak merusak suasana kelas. Kalau ada tingkah laku anak didik yang ramai, nakal,

mengantuk atau mengganggu teman yang lain maka guru harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku anak didik dan mengambil tindakan yang tepat.

BAB V PENUTUP

Dalam bab terakhir ini penulis menyampaikan beberapa hal sebagai kesimpulan atas keseluruhan bab yang ditulis. Selain itu penulis juga menyampaikan saran yang diharapkan dapat berguna bagi siapa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran pendidikan religiositas yang diselenggarakan di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.

A. KESIMPULAN

1. Pendidikan Religiositas

Pendidikan yang diselenggarakan di sekolah merupakan salah satu usaha membantu seseorang untuk berkembang secara utuh ke arah hidup yang lebih baik. Pendidikan religiositas sebagai pendidikan keimanan dimana tidak hanya mengolah segi intelektual, pemahaman siswa, namun juga sampai menyentuh dalam perwujudan serta penghayatan hidup konkret sehari-hari.

Pendidikan religiositas merupakan komunikasi iman bagi para siswa demi membantu mereka untuk menjadi manusia yang utuh dan mampu menjadi pelaku perubahan sosial. Maka proses pembelajaran yang dilaksanakan merupakan titik awal dimana pembentukan manusia yang utuh dapat terwujudkan. Oleh karena itu

perlu usaha terus-menerus untuk membentuk pribadi yang dewasa dalam iman, bersikap jujur serta bertanggung jawab atas hidup yang telah dianugerahkan Tuhan.

2. Pelaksanaan Pendidikan Religiositas di kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta

Pelaksanaan Pendidikan Religiositas di kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta perlu ditingkatkan.Guru perlu mempersiapkan metode pembelajaran yang kreatif sehingga memotivasi siswa agar lebih bersemangat dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran. Sarana yang mendukung dalam proses pembelajaran pendidikan religiositas juga perlu dipersiapkan oleh guru sehingga siswa sungguh memahami materi pembelajaran dan mampu mewujudkannya dalam hidup sehari-hari.

3. Usaha Meningkatkan Pelaksanaan Pendidikan Religiositas kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.

Usaha meningkatkan pelaksanaan pendidikan religiositas adalah melalui rencana program pembelajaran yang lebih kreatif, yang memotivasi siswa serta memberikan kesempatan pada siswa agar semakin berkembang. Rencana pembelajaran ini penting karena membantu guru lebih mempersiapkan materi pembelajaran dan mengajak siswa untuk lebih berpartisipasi aktif, disiplin, saling menghargai serta saling berbagi pengalaman iman mereka. Untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan religiositas perlu spiritualias guru serta perlu menciptakan suasana kelas yang kondusif. Siswa sungguh mengalami bahagia nyaman serta

adanya rasa persaudaraan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Dokumen terkait