• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GAMBARAN UMUM PENDIDIKAN RELIGIOSITAS

B. Pendidikan Religiositas

Kata religiositas berasal dari bahasa latin religiosus yang artinya relasi (Hardjana, 2005: 29). Relasi yang dimaksud adalah relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan dirinya sendiri. Berdasarkan arti kata itu, maka pendidikan religiositas lebih ditempatkan dalam kerangka pendidikan untuk menumbuhkembangkan semangat dan sikap yang terbuka dari siswa untuk membangun relasi yang mesra dan mendalam dengan Tuhan, sesama, alam dan dirinya sendiri menurut agama dan kepercayaan

masing-masing (MPK dan Komkat KAS, 2005: 9). Relasi dengan Allah mendorong seseorang semakin hidup dalam suasana kasih, persaudaraan serta percaya antara satu dengan yang lain menurut agama dan kepercayaannya. Relasi dengan Allah memampukan seseorang untuk lebih menghargai sesama, menghargai kehidupan serta lingkungan alam.

Relasi antara manusia dengan Allah dapat dikatakan sebagai pengalaman pribadi berjumpa dengan Allah. Pengalaman perjumpaan dengan Allah mendorong orang untuk menceritakan perjumpaan itu kepada orang lain. Seseorang akan menceritakan pengalamannya akan Allah itu, seperti apa Allah yang dialaminya, dimana, kapan, pengalaman itu terjadi, bagaimana kejadiannya, dalam keadaan seperti apa atau sedang berbuat apa ketika pengalaman itu terjadi. Seseorang akan menceritakan bagaimana perasaan serta dampak pengalaman itu dalam diri dan hidupnya (Hardjana, 2005: 48). Pengalaman perjumpaan mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik yang sesuai dengan kehendak Allah. Segala sikap dan tindakannya mencerminkan pengalaman perjumpaan pribadi dengan Allah.

Relasi dengan Allah dapat dibangun melalui doa pribadi, doa bersama serta menjalankan ibadat. Perjumpaan dengan Allah memampukan sesorang mewujudkan sikap hidupnya yang konkret dengan sesama, maupun dengan alam ciptaan Tuhan (Hardjana, 2005: 49). Relasi dengan Allah yang terus-menerus dapat membawa perubahan sikap dalam diri seseorang. Perubahan sikap yang dimaksud adalah mengarahkan sikap hidupnya ke arah yang lebih baik dan mendorong seseorang untuk menghayatinya dalam hidup sehari-hari.

Kata religiositas berarti suatu sikap yang hikmat dan hormat terhadap hal-hal yang suci atau diidentikan dengan agama dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sikap ini dapat membawa kita pada suatu kesadaran dan pemahaman akan Tuhan yang konkret yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari, yang menekankan sikap menghargai kehidupan yang memuliakan kedudukan manusia, yang membuat manusia dapat saling menghargai sesamanya walaupun berbeda keyakinan agama (Hardjana, 2005: 50).

Religiositas merupakan suatu sikap dasar terhadap Tuhan, yang sifatnya lebih personal, lebih melihat aspek yang ada dalam lubuk hati serta lebih bersifat batin. Sikap dasar tersebut tidak hanya di dalam batin seseorang namun diungkapkan dan diwujudkan dalam berbagai bentuk dan berbagai cara, seperti dalam ritual agama. Hardjana (2005: 47) menegaskan bahwa

manusia perlu mengembangkan kepekaan terhadap kehadiran Allah dalam peristiwa-peristiwa hidup yang dialaminya. Dengan demikian pengetahuan dan pengalaman akan Allah tidak terjadi dengan sendirinya tetapi perlu suatu usaha. Dengan demikian religiositas merupakan sumber, pangkal, jiwa, semangat dan roh agama. Dalam religiositas itu, agama mendapatkan semangat dan roh yang sebenarnya. Tanpa religiositas agama menjadi kering kerontang seperti tanah tanpa air, sepi seperti rumah tanpa penghuni, kaku seperti batang pohon yang sudah mati, dan dingin seperti badan tanpa nyawa.

Manusia perlu mengembangkan kepekaan terhadap kehadiran Allah dalam setiap peristiwa hidup artinya manusia tidak hanya dapat mengetahui, mengenal Allah, melainkan juga dapat mengalami dalam hidup nyata. Oleh karena itu dalam mengembangkan kepekaan terhadap kehadiran Allah tersebut perlu suatu usaha yang terus-menerus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa religiositas lebih penting diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari. Iman tidak cukup untuk diketahui sebagai pengetahuan dasar tetapi juga harus dihayati dalam hidup sehari-hari.

Dalam hal ini penulis dapat mengartikan bahwa religiositas adalah sikap batin yang hakiki atau sikap dasar yang selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan dan diwujudkannya dalam hidup sehari-hari. Religiositas juga merupakan relasi pribadi antara manusia dengan Allah atau pengalaman perjumpaan dengan Allah sehingga mampu mewujudkan, mengungkapkan pengalaman tersebut dalam sikap hidup sehari-hari.

2. Pengertian Pendidikan Religiositas

Pengertian Pendidikan Religiositas menurut Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang (2005: 8):

merupakan salah satu bentuk komunikasi iman, baik antar siswa yang seagama dan sekepercayaan maupun siswa yang berbeda agama dan kepercayaan agar membantu siswa menjadi manusia yang religius, bermoral, terbuka dan mampu menjadi pelaku perubahan sosial, demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera, lahir dan batin, berdasarkan nilai-nilai universal seperti kasih, kerukunan, kedamaian, keadilan, kejujuran, pengorbanan, kepedulian, persaudaraan.

Pendidikan religiositas merupakan komunikasi iman antar siswa dan membantu siswa menjadi manusia yang religius artinya siswa bersikap sesuai dengan iman dan kepercayaannya pada Tuhan. Sikap dan tindakan siswa sungguh berdasarkan pada pengalaman perjumpaan dengan Allah atau berdasarkan pengalaman relasi dengan Allah. Siswa menghayati hidupnya sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Komunikasi iman membantu siswa menjadi manusia bermoral artinya melalui pengalaman iman yang dimilikinya dan dibagikan tersebut, memampukan dan medorong siswa untuk bersikap dan bertingkah laku yang lebih baik serta

bersikap terbuka terhadap sesama yang berlainan agama sehingga mampu membawa dampak yang baik dalam hidup bermasyarakat sehingga terciptalah suasana persaudaraan, kerukunan dan kedamaian.

Menurut Listia (2007: 151) pendidikan religiositas merupakan komunikasi iman mengenai pengalaman hidup antar siswa seagama maupun yang berbeda agama untuk menumbuhkembangkan sikap batin seseorang agar mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama dan lingkungan hidupnya serta mampu melihat aneka perbedaan sebagai anugerah Tuhan untuk saling melengkapi sehingga mereka terbantu menjadi pribadi yang utuh.

Pendidikan religiositas memampukan siswa untuk mengembangkan sikap hidup, nilai-nilai hidup beriman yang lebih baik serta mengajak siswa untuk terbuka melihat setiap perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada mendorong siswa untuk saling melengkapi, saling membantu serta saling memperkaya satu terhadap yang lain. Berdasarkan pengertian pendidikan religiositas tersebut di atas, penulis dapat mengartikan bahwa pendidikan religiositas sebagai komunikasi iman, dimana dalam komunikasi iman terjadi dialog antar siswa yang saling terbuka dan percaya satu dengan yang lain. Pendidikan religiositas memampukan siswa untuk saling berbagi pengalaman iman masing-masing dan menerima setiap perbedaan sebagai suatu anugerah sehingga mampu mewujudkan pengalaman imannya dalam hidup sehari-hari.

Dokumen terkait