SECARA APLIKATIF
6. Membersihkan Al-Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar-samar)
] )F!FH!: Y {6 Vw0 /0 Y K /0N
)`G
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan meminta mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab ?”. (Az-Zumar : 36-37)
6. Membersihkan Al-Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar-samar)
Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Quran Al-Karim tentang masa lalu; banyak disebutkan bahwa sumber cerita dan beritanya tidak mengikuti manhaj (metode) terperinci dan detail, baik dalam penjabaran tentang masa, tempat, pelaku atau perincian tentang kisah-kisahnya tidak terlalu luas, baik dalam menceritakan setiap peristiwa, sebagian atau potongan yang di dalamnya menjelaskan rincian peristiwa, pelaku dan background peristiwa tersebut. Dan Al-Quran tidak melakukan seperti hal tersebut, karena memang bukan merupakan tujuan yang utama dalam menceritakan kisah-kisah secara terperinci dan detail, namun yang diinginkan adalah menjabarkan hakekat dan menetapkan nilai-nilai dan pandangan-pandangan, memberikan mengambil ibrah-nasehat- dan pelajaran, arahan dan petunjuk serta memetik manfaat yang terdapat di dalamnya melalui berbagai sudut pandang. Inilah yang menjadi tujuan utama akan adanya kisah-kisah dalam Al-Quran…
Namun yang mesti menjadi perhatian dari para pemerhati dan penelaah Al-Quran –yang ingin mengambil cerita dari Israiliyat dan dongeng-dengeng- hendaknya melihat lebih jeli dan teliti akan kisah-kisah yang disebutkan dalam Al-Quran, berusaha memetik manfaat dari metode dan cara Al-Quran dalam membuat kisah dan cerita, guna mendapatkan petunjuk dan pelajaran darinya, dan tidak merujuk pada sumber-sumber yang dibuat oleh manusia yang lemah sumber-sumbernya, apalgi ketika ingin merinci kisah yang disebutkan oleh Al-Quran atau mencari penjelasan hal-hal yang mubham – samar- atau sesuatu yang tidak atau belum diketahui dan difahami!!
Hendaknya -para pemerhati kisah-kisah Al-Qur’an- mencari sumber-sumber yang terpercaya yang dapat memberinya pengetahuan dan keyakinan, dan jangan mencarinya dari sumber-sumber yang menyimpang dan dusta, tidak mencari fatwa dari orang-orang kafir dzalim dan menyimpang dari agama mereka atau tidak dengan bertanya kepada keturunan Bani Israil guna mendapatkan kisah-kisah Israiliyat sehingga mendapatkan tambahan ilmu dan pengetahuan, menerima penafsiran, penelitian dan ajaran-ajaran mereka yang menyimpang dari inti Al-Qur’an itu sendiri. Dan juga tidak menghubungkan kebohongan dan kedustaan ini kepada nash-nash Al-Quran, dalam menjelaskan ayat-ayat mubhamat Al-Quran, atau mengungkapkan pendapat yang mereka buat tentang kisah-kisah masa lalu yang mereka tidak ketahui.
Jangan lupa bahwa ada arahan Al-Quran yang melarang membahas sesuatu yang tidak berdasarkan dalil atasnya, seperti kisah masa lalu yang merupakan masalah ghoib, tidak bertanya kepada yang tidak mengetahui hukum dan sumbernya, tidak mengiktui sesuatu tanpa adanya dalil, karena setiap perkataan pasti akan ditanya nanti pada hari Kiamat :
N46 @V48 u_4Z N (3+ N g X Y.!? 7" W !: { 0 ' N
4X0 =W .8
O;
“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak ada ilmu dengannya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan ditanya pertanggungjawabannya”. (Al-Isra : 36)
begitupun jangan lupa bahwa ada larangan Al-Quran yang ditujukan langsung kepada kaum muslimin untuk tidak mengambil kisah-kisah masa lalu dari Ahli Kitab, jangan meminta dari mereka fatwa sedikitpun darinya, seperti Firman Allah –saat berbicara tentang jumlah Ashabul kahfi -penghuni gua- :
H!: "W6 SL: V4j
(t R(0 Y!? "!K !' Vj Y!? "KH 0 "!K'
-6 "K=0 "!K 1 ZX' N
“Katakanlah Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. (Al-Kahfi : 22)
Dan juga jangan lupa bahwa Al-Quran menafikan secara jelas akan pengetahuan manusia tentang berbagai peristiwa sejarah masa lalu, bahwa peristiwa
yang terjadi di masa lalu itu tidak seorangpun yang tahu kecuali Allah, sebagaimana firman Allah :
/0 /\YN u;5N uWN );G !`;j "4+j /0 /\Y 4h+G "4' h "6
Y Y!? "KH "H:
“Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah”. (Ibrahim : 9)
Dan jangan lupa akan petunjuk Al-Quran untuk melakukan klarifikasi terhadap berita-berita yang berasal dari orang-orang fasik, maka bagaimana terhadap orang-orang kafir dan Ahli Kitab :
;= + )9+=!: 7df "48%R~ .!? ;=0%& /\Y K<6
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kamu orang fasik membawa berita maka lakukanlah klarifikasi”. (Al-Hujurat : 6)
Dan atas dasar petunjuk dari kiat sukses berinteraksi dengan Al-Quran khususnya pada masalah kisah-kisah masa lalu, kami menyerukan kepada para pembaca Al-Quran untuk berhati-hati dan cermat serta teliti mengambil cerita-cerita Israiliyat, khurafat dan dongengan yang menceritakan kisah-kisah Al-Quran yang banyak disebutkan oleh para mufassir dan penelaah kitab-kitab mereka hingga dapat menutup berbagai cahaya Al-Quran di dalam hati yang gelap.
Para pembaca hendaknya membersihkan Al-Quran dari kisah-kisah Israiliyat, tidak melampaui nash-nash Al-Quran dan yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw, tidak menerima ucapan orang lain setelah itu jika tidak ada penjelasan lebih lanjut dalil-dalilnya dan sumber-sumbernya yang jelas.
Jika para pembaca melakukan ini, maka betapa banyak yang akan berguguran dari lembaran-lembaran tafsir dari kitab-kitab tafsir masa lalu..?! Akan banyak menghapus kitab-kitab, hikayat-hikayat yang dibuat-buat ? sehingga mendapat ketenangan dan kenyamanan jika khurafat-khurafatnya telah hilang dan berada dalam sinar dan cahaya Al-Quran.
Diantara kisah Israiliyat yang banyak kita temukan adalah kisah tentang kerbau Bani Israel dalam surat Al-Baqoroh, tentang kelahiran nabi Isa AS dalam surat Ali Imron, mangkatnya beliau dalam surat An-Nisa, Kisah hidangnan orang-orang Nasrani dalam
surat Al-Maidah, Kisah nabi Ibrahim bersama kaumnya dalam surat Al-An’am, dan kisah nabi Musa bersama Firaun dan Bani Israel dalam surat Al-A’raf dan sebagainya… Adapun yang berkaitan dengan kaidah ini adalah sikap seorang pembaca dari mubhamat Al-Quran, yaitu ayat-ayat yang samar-samar dalam Al-Quran dari nama-nama pelaku dan tempat dalam kisah-kisah masa lalu, yang merupakan sesuatu yang mustahil untuk dijelaskan secara detail begitupun dengan menentukan nama-namanya, karena kita tidak pernah menyaksikannya dan karena riwayat-riwayat dari Ahli Kitab terdapat banyak kebohongan dan kedustaan di dalamnya, dan tertolak secara ilmiyah untuk menghindar dari penyimpangan, dusta dan pengaruh.
Sikap pembaca adalah hendaknya merujuk kembali kepada Al-Quran, jika menemukan apa-apa yang mubham pada suatu tempat boleh jadi penjelasan di tempat lain yang dapat ditemukan, dan jika tidak ditemukan dalam Al-Quran maka hendaknya merujuk ke hadits-hadits dari Rasulullah saw yang shohih, jika ditemukan penjelasannya maka dapat dijadikan hujjah. Dan jangan menceari rujukan selain dari dua sumber yang benar tersebut, lalu setelah itu meninggalkan hal-hal yang mubham, memperluas bahasan apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan sahabatnya dalam mensikapinya. Jika tidak melakukan hal tersebut maka dia telah mengatakan ayat-ayat Allah tanpa ada dasar ilmu, mengikuti seseorang yang tidak memiliki ilmu, menyibukkan dirinya pada sesuatu yagn tidak bermanfaat, keluar dari kontek –nash- Al-Quran, sehingga menjadikan penghalang dan tirai yang dapat menghalangi masuknya nur Al-Quran ke dalam jiwanya serta berakibat pada penyimpangan dari petunjuk Rasulullah saw dan sahabatnya dalam menjalin hubungan dengan Al-Quran, jauh dari meraih kiat-kiat yang tepat dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Diantara mubhamat yang tidak boleh dicari-cari penjelasannya adalah : pohon yang dimakan oleh nabi Adam AS, kayu yang digunakan nabi Nuh dalam membuat perahu, nama dan jenis burung yang diperintahkan oleh Allah untuk dijadikan contoh oleh nabi Ibrahim AS dalam menjelaskan kekuasaan Allah dalam menghidupkan makhluk yang sudah mati, jenis tongkat nabi Musa AS, nama-nama pemuda Ashabul kahfi dan anjing yang bersama mereka, jumlah uang yang dihargai untuk membeli nabi Yusuf, nama raja yang mendebat nabi Ibrahim pada masalah ketuhanan, nama kaum atau seseorang yang berjalan melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya, nama seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab pada zaman nabi Sulaiman dan sebagainya.