Tuj uan Pem bel aj ar an
Pada subbab ini, Anda akan mengekspresikan dialog para tokoh, menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama. Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharap dapat memerankan drama/ penggalan drama sesuai dengan karakter tokoh, menggunakan gerak-gerik, mimik dan intonasi sesuai dengan watak tokoh.
Di Balik Sinar Suram
Karya: Marx Carverhl Judul Asli : Vergane Glirie Pria : Menyedihkan sekali. Nona sudah lama
bekerja di sini?
Bintang : Ya, dapat dikatakan begitu. Di sini aku termasuk golongan angkatan tua. Sudah lima tahun aku di sini. Waktu itu aku bermaksud menjadi seorang aktris film. Pria : Sekarang masih bisa, bukan?
Bintang : Aku tak berhasrat lagi. Dalam masa lima tahun, aku diperas terus-menerus dan sesudah itu aku tidak diperlukan lagi. Gadis-gadis peraga cantik-cantik yang aku lihat di luar itu selalu berusaha mencari kesempatan mengejar karier mereka (melihat arloji). Tapi maaf, Saudara harus pergi sekarang karena mereka akan segera ke sini.
Pria : Siapa mereka itu?
Bintang : Pemimpin produksi, sutradara, para penulis skenario, dan Bapak Ateng Sujanggo sendiri.
Pria : Bolehkah aku menjumpai mereka di tempat ini?
Bintang : Terserah Saudara, namun aku tak dapat menjamin Saudara berkesempatan untuk berbicara dengan dia.
Pria : Aku harus berbicara dengan dia. Lagi pula, aku tak tahan lagi untuk nongkrong di ruang tamu yang pengap itu.
Bintang : Baiklah, aku harap Saudara bersikap tenang. Saudara boleh tunggu di sana!
(menunjuk ke pintu kiri – Pria ke pintu berdiri dengan tangannya pada gagang pintu)
Pria : Aku akan duduk di kursi dekat pintu itu (keluar). (Bintang kembali ke meja kerjanya. Pintu terbuka lagi Pria nongol ke dalam). Jadi, nona bernama Bintang Purwasari?
Bintang : Ya, begitulah namaku!
Pria : Nama yang bagus – Bintang – (pintu tertutup lagi. Bintang menarik napas).
M e n g g e l e n g - g e l e n g k a n k e p a l a , tersenyum terus mengambil buku catatannya). (Momon Ringgo masuk dari kiri. Rusuh, rebut, tegap, terlalu yakin kepada diri sendiri, sifat tak sabar, selalu punya komentar terhadap segala sesuatu).
Bintang : Selamat pagi, kalau julukan itu ditujukan kepadaku!
Ringgo : Kepada siapa lagi ucapanku ditujukan di pagi seindah ini? Nona Purwasari, rasanya sudah berabad-abad kita tidak pernah bertemu. Apakah gerangan kerjamu pada malam-malam sesudah jam kerja? Mengapa tak pernah kaujenguk aku untuk menyaksikan koleksi prangko di rumahku?
Bintang : Mungkin karena aku tidak pernah tertarik pada prangko? Dan mungkin juga aku tidak tertarik padamu.
Ringgo : Mari, mari Manis, aku tidak bersungguh-sungguh, bukan? Berapa hari yang lalu saja aku menceritakan pada Ateng Sujanggo bahwa …
Bintang : Kau tidak perlu menceritakan apa-apa kepadanya, Momon Ringgo. Mulutku masih sempurna untuk mengatakannya!
Ringgo : Oke, oke. Kau tahu cara yang terbaik, tapi seandainya kau memerlukan seorang kawan … Omong-omong apa maksud rapat itu sebenarnya?
Bintang : Kau tak membaca surat yang diajukan kepadamu?
Ringgo : Tentu saja aku membacanya, tapi … Bintang : Bapak Ateng Sujanggo masih kurang
puas dengan skenario film “Di Balik Sinar Suram” yang sudah dalam proses shooting itu!
Ringgo : Ada apa lagi dengan dia? Kemarin saja dia begitu antusias!
Bintang : Biar saja, tapi Bapak Ateng Sujanggo berpendapat bahwa para penyusun skenario kurang berhasil menyusun penyelesaian cerita.
Ringgo : Justru itu! Ia bermaksud mengubahnya selagi masih sempat.
Ringgo : Waduh! Bapak Ateng Sujanggo, kau hanya bikin tambah kerjaan saja.
(Berusaha menyembunyikan emosinya saat itu tengah dibuka). Slamet Jimbo baru kembali dari luar negeri. Tidak cocok dengan perfilman di sini? Sinis? Mudah tersinggung, kurang puas dengan perkembangan film di sini. Namun, begitulah seorang seniman, pelamun, dan peramal impian.
………
……… Ringgo : Wah, Slamet Jimbo.
Jimbo : Selamat pagi, Nona Purwasari. Selamat pagi, Saudara Momon Ringgo.
Ringgo : Sebut Ringgo saja, itu lebih baik dan mudah.
Jimbon : Terima kasih. Berapa lama waktu yang harus dibuang untuk rapat ini. Aku sibuk dan tidak banyak punya waktu. Sepanjang pagi baru saja satu opname kami selesaikan. Menjengkelkan sekali keadaan aktris paling bertingkah yang pernah kujumpai dalam dunia perfilman. Macan betina, ya, betul-betul perempuan jahat.
Ringgo : Menurut kau, barangkali.
Jimbon : Ia membangkang saja setiap instruksi yang kuberikan, aku sutradaranya. Sok acuh tak acuh terhadap segala petunjuk, malah tersenyum masa bodoh untuk kemudian bertindak sesuka hatinya saja. Ringgo : Kalau saja kita dapat membuat film tanpa
perempuan.
Jimbon : Itulah, sampai setiap hari, ratusan kali aku berpikir begitu. (Bunyi telepon, Bintang segera menerimanya).
Bintang : Ya … Siapa? Oo, tunggu sebentar.
Jimbon : (Mengambil oper telepon – tampak terkejut – menjauhkan telepon, sesaat kemudian berhati-hati mendekatkan lagi ke telinga – lalu menutup corong dengan tangannya). Apakah artinya “gondok”? Coba katakan apa arti “gondok” sebenarnya? Ya, ya. Nona Fifi Mirasa betul memang menyesalkan sekali! Tapi akan kuusahakan untuk mengubahnya, segera aku kembali. Oo, jangan, aku mohon, jangan, jangan.
(Menutup corong dengan tangan). Ini keterlaluan! Ia bermaksud mau merobek-robek kontraknya.
Ringgo : Beri aku telepon itu! Kau bicara dengan Momon Ringgo! (Diambilnya telepon dari tangan Jimbon. Tiba-tiba mukanya berubah marah lalu mendamprat).
Tutup mulutmu! Kau bicara dengan Momon Ringg, tahu? Ya, ya aku pernah mendengarnya! Silakan, ayo silakan! Robeklah surat-surat kontrakmu, aku mau lihat di mana kamu mendapatkannya kembali! Kau berhasil diterima hanya karena, karena aku memohon kepada Ateng Sujanggo untukmu! Iya, dan berkat permohonanku juga agar kontrakmu diperbaharui … Film ini adalah yang terakhir bagimu! Ada sepuluh aktris cantik lain di sini yang dapat menggantkan peranmu lebih baik … jadi sebaiknya kau jangan mempersukar aku Apa kau berminat untuk bekerja lagi atau tidak???
(Tiba-tiba ramah). Sudah kuduga, Manis. Ternyata aku dapat berpikir wajar. Tabe, Manis! (Meletakkan telepon).
Jimbon : Terima kasih sebesar-besarnya! Betul-betul ia telah membuat kepalaku pusing.
Ringgo : Aku mengerti! Dia memang racun berbisa! Aku senantiasa membentaknya! Dulu semasa kami menikah …
Jimbon : Kau pernah menjadi suaminya? Maaf! Memang sulit sekali untuk mengingat serta menghapal pasangan-pasangan yang kawin atau dengan siapa-siapa seseorang menikah!
Ringgo : K a u t a k u s a h m e r e p o t k a n s o a l perkawinan yang ada, Slamet Jimbon. Asal saja kau dapat menghapalkan talak dan perceraian yang dilakukan, sudahlah cukup!
Jimbon : Yah begitulah! Sepanjang masa pekerjaan manusia tidak lain adalah kawin-kawin saja! Apakah Nona pernah kawin? Nona Purwasari?
Bintang : Sesuatu dalam hidupku yang belum pernah aku coba, Slamet Jimbon. Jimbon : Bijaksana sekali! Di sini tidak pernah
ada pernikahan yang benar-benar pernikahan! Sudah berapa kali kau menikah? Momon Ringgo?
Ringgo : Dua kali. Sekali menurut gaya Hollwood dan sekali lagi yang sungguh-sungguh. Eh, Manis, jam berapa sebenarnya rapat ini dimulai?
Bintang : Jam 11.
Ringgo : (Lihat arloji). Dasar! Bapak pemimpin selalu jam karet (Ateng Sujanggo sudah masuk melalui pintu tengah berpakaian piknik).
Sujanggo: Tidak benar!
Semua : (terkejut menoleh ke pintu dan bersama-sama memberi salam). Selamat siang, Bapak Ateng Sujanggo!
Sujanggo: Selamat pagi! Di mana penulis scenario, Nona Purwasari? Mengapa mereka belum juga hadir?
Lat i han 2
1. Buatlah kelompok untuk memerankan drama “Di Balik Sinar Suram di Atas” secara bergiliran!
2. Lakukan kegiatan saling menilai pemantasan drama tersebut. Setelah Anda mengamati tokoh-tokoh yang diperankan oleh teman Anda, evaluasilah penampilan teman Anda itu dengan lembar penilaian berikut ini!
Lembar Penilaian Pementasan Drama Nama Siswa/Pelaku : ……… Tokoh yang Diperankan : ………
No. Aspek yang Dinilai Skor yang Diperoleh
1 Kejelasan vokal 2 Gerak-gerik 3 Mimik 4 Intonasi 5 Ekspresi wajah 6 Sikap/penampilan 7 Penghayatan terhadap watak tokoh Jumlah skor
Keterangan: skala nilai antara 10 – 100