• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN

PERUNDANG-UNDANGAN BUKTI PENCAPAIAN Memetakan Regulasi, Deregulasi,

9. Pengawasan Internal

9.1 Menegakkan Displin Kerja

Reformasi Birokasi Mahkamah Agung pada dasarnya merupakan upaya untuk mewujudkan Peradilan yang modern, independen, bertanggung jawab, kredibel dan menjunjung tinggi hukum dan keadilan, untuk itu harus dilakukan pembaruan dan perubahan mendasar terhadap kemampuan kerja para aparatur peradilan yang tentu harus ditunjang dengan sumber daya yang mampu dan berintegritas tinggi. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dilakukan penegakan disiplin kerja. Dengan harapan

145 kekurangan dan permasalahan dapat terpantau sehingga dapat dilakukan tindakan untuk perbaikan.

Berkaitan dengan hal tersebut Mahkamah Agung telah mengambil kebijakan penegakan disiplin kerja diantaranya dalam bentuk kegiatan mengefektifkan pengawasan melekat dan penanganan pengaduan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1983 jo Inpres No. 1 Tahun 1989 Tentang Pedoman Pengawasan Melekat, melakukan pengawasan reguler, monitoring dan penilaian kinerja Pengadilan.

Pengawasan Internal dalam penegakan disiplin kerja dalam upaya percepatan pencapaian tujuan reformasi birokrasi dilakukan dengan membuka akses pengaduan online dan segera meresponnya dan mengumumkan penindakannya melalui website.

Adapun Tujuan dari penegakan displin adalah:

1. Meningkatnya disiplin dan kualitas kerja aparat peradilan.

2. Terwujudnya aparat peradilan yang mampu mendukung kelancaran pelaksanaan tugas peradilan dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance, bersih dan bebas dari KKN.

3. Terciptanya pelayanan prima terhadap masyarakat pencari keadilan sesuai asas sederhana, cepat dan biaya ringan.

Penegakan disiplin kinerja di Mahkamah Agung melalui 6 aspek aktifitas meliputi : 1. Pembentukan aturan yang berkaitan dengan penegakan disiplin.

Untuk mendukung pelaksanaan penegakan disiplin di Mahkamah Agung, maka telah dibuat beberapa aturan sebagai standar acuan dalam penegakan disiplin kerja antara lain :

a. SK KMA No. 071/KMA/K/VI/2008 Tentang Ketentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan Pegawai Negeri Pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang Berada di Bawahnya.

b. SK KMA No : 060/KMA/SK/V/2009 Tentang Perubahan Pertama atas Keputusan KMA No. 071/KMA/SK/V/2008 tentang Ketentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam Pelaksanaan Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan Pegawai Negeri Pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Yang Berada Dibawahnya.

c. SK Sekma No. 035/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Keputusan KMA No. 071/KMA/SK/V/2008 Tentang Ketentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam Melaksanakan Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan

146 Pegawai Negeri Pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Yang Berada di Bawahnya.

d. SK KMA No. 080/SK/VIII/2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan di Lingkungan Lembaga Peradilan.

e. SK KMA No. 076/KMA/SK/VI/2009 Tentang Pedoman Pelaksanan Penanganan Pengaduan di Lingkungan Lembaga Peradilan.

f. SK Kabawas No. MA/BP/03/SK/IV/2007 Tentang Norma Perilaku Aparatur Badan Pengawasan.

g. SK Kabawas No. 08/BP/SK/XII/2009 Tentang Perubahan Atas Keputusan Kepala Badan Pengawasan No. MA/BP/03/SK/IV/2007 Tentang Norma Perilaku Aparatur Badan Pengawasan.

h. SK Kabawas No. 08/BP/SK/XII/2007 Tentang Uraian Jabatan Pada Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI.

i. SK KMA No. KMA/096/SK/X/2006 Tentang Tanggung Jawab Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Ketua Pengadilan Tingkat Pertama dalam melaksanakan tugas pengawasan.

j. SK Kabawas No. 26A /BP/SK/VI/2010 Tentang Pedoman Audit dan Penilaian Kinerja Pengadilan.

k. SK Kabawas No. 33/BP/SK/XII/2009 Tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Kesekretariatan Badan Pengawasan.

l. SE KMA Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Pembagian Tugas Ketua Pengadilan Tinggi / Negeri dan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi / Negeri.

2. Melakukan Sosialisasi Aturan Tersebut.

Agar aparatur peradilan memahami aturan-aturan yang harus dijalankan dalam melaksanakan tugas pokok peradilan maka dilakukan sosialisasi dalam bentuk:

a. Rapat koordinasi dan konsultasi pengawasan dengan 4 (empat) lingkungan peradilan

b. Menerbitkan buku saku aturan-aturan terkait dan didistribusikan kepada pengadilan

147 c. Menerbitkan brosur-brosur tentang penanganan pengaduan

d. Penunjukan Pengadilan Tinggi Bandung, Pengadilan Tinggi Agama Bandung, Pengadilan Negeri Bandung dan Pengadilan Agama Bandung sebagai pilot project pelaksanaan penanganan pengaduan sesuai dengan SK KMA No. 153/KMA/SK/XI/2009 Tentang Penunjukan Pengadilan sebagai percontohan penanganan pengaduan.

3. Laporan Pengaduan Masyarakat

Selama ini Mahkamah Agung dan badan-badan peradilan di bawahnya telah memiliki sistem pengaduan masyarakat. Tujuan dari sistem pengaduan tersebut pada hakekatnya adalah untuk merespon keluhan baik yang berasal dari masyarakat, instansi lain maupun dari internal pengadilan sendiri terhadap penyelenggaraan peradilan maupun perilaku aparat pengadilan. Dengan kata lain, masyarakat dapat berperan dalam memantau proses peradilan. Dengan perkembangan Undang-Undang dan tuntutan masyarakat atas kinerja lembaga peradilan yang semakin tinggi maka dirasa penting untuk melakukan perubahan dalam penanganan pengaduan agar lebih akuntabel dan transparan. Prinsip transparansi dan akuntabilitas yang dimaksudkan adalah proses penanganan pengaduan dan tindak lanjutnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan prosedur yang berlaku, untuk itu Mahkamah Agung menerbitkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 076/KMA/SK/VI/2009 yang merupakan amandemen dari lampiran ke IV SK. KMA. No. 080/KMA/SK/VIII/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan di Lingkungan Lembaga Peradilan.

Saat ini setiap anggota masyarakat dapat melaporkan pengaduan pada pengadilan tingkat pertama, pengadilan tingkat banding atau Badan Pengawasan Mahkamah Agung melalui meja informasi yang berada di pengadilan bersangkutan maupun tersedia secara online.

Berikut ini Skema Alur Penanganan Pengaduan Masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 076/KMA/SK/VI/2009:

148 Gambar 33

Skema Alur Penanganan Perkara

Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sistem pengaduan masyarakat yang baru, Mahkamah Agung menerbitkan brosur tentang informasi layanan pengaduan masyarakat dan prosedur penyampaian laporan pengaduan yang disebarluaskan melalui Pengadilan Tingkat Pertama maupun Pengadilan Tingkat Banding. Sebanyak 6700 booklet, 20.100 brosur dan 2010 poster disebarluaskan untuk masyarakat melalui Pengadilan tingkat banding di seluruh Indonesia.

Berikut ini contoh brosur informasi layanan pengaduan masyarakat dan prosedur penyampaian pengaduan masyarakat:

149 Gambar 34

Contoh Brosur Informasi Layanan Pengaduan

Untuk memastikan pemahaman serta keterlibatan Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama, Badan Pengawasan dalam mengimplementasi sistem tersebut, Mahkamah Agung bekerjasama dengan LeIP juga menyelenggarakan Sosialisasi SK KMA No. 076/KMA/ SK/VI/2009 kepada personil Badan Pengawasan Mahkamah Agung serta Hakim Tinggi pada 13 (tiga belas) Pengadilan Tingkat Banding seperti yang diuraikan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 28

Penyelenggaraan Sosialisasi Sistem Pengaduan

150 4. Sistem Administrasi Pengawasan

Pengolahan dan mekanisme kerja bidang pengawasan yang selama ini dilakukan secara manual sekarang dibantu oleh Sistem Informasi dan Administrasi Pengawasan (SAP) sehingga bersifat elektronis. Pada awalnya SAP dibangun untuk mempermudah pengelolaan data dan informasi pengaduan masyarakat pada Badan Pengawasan dan dikembangkan sebagai uji coba dan transisi menuju pengembangan selanjutnya. Saat ini sistem tersebut tengah dikembangkan untuk memproduksi dan mengelola keseluruhan dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan pengawasan guna memberikan dukungan yang lebih komprehensif terhadap pelaksanaan fungsi Badan Pengawasan.

5. Revisi buku IV tentang Tata Laksana Pengawasan

Pada Rapat Kerja Nasional Mahkamah Agung Tahun 2009 di Palembang telah disampaikan edisi revisi Buku II tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Dalam Empat Lingkungan Peradilan. Revisi Buku II tersebut pada prinsipnya mencakup berbagai perubahan dalam teknis hukum acara. Mengingat obyek pengawasan internal di lingkungan peradilan juga mencakup permasalahan ini maka sejalan dengan hal tersebut Badan Pengawasan melakukan Revisi terhadap Buku IV agar materi yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pengawasan sejalan dengan ketentuan yang telah diatur dalam Buku II. Hasil revisi terhadap Buku IV tersebut selanjutnya disosialisasikan dalam Rapat Pembinaan / Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan.

6. Pengawasan Reguler

Selama tahun 2009 Pengawasan Mahkamah Agung RI telah melaksanakan pengawasan reguler yang mencakup 89 obyek pemeriksaan, meliputi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer, yaitu:

151 Tabel 28

Obyek Pemeriksaan Tahun 2009

152 Berikut ini ditampilkan jumlah obyek pengawasan reguler dalam 5

tahun terakhir (Tahun 2004 - 2009):

Grafik 4

Jumlah obyek pengawasan reguler (Tahun 2004 - 2009)

7. On the Spot/Inspeksi Langsung

Mahkamah Agung juga melakukan pemeriksaan On the Spot/inspeksi langsung atas pemeriksaan yang dilakukan atas temuan BPKP dan temuan pengawas eksternal BPK. Pemeriksaan On The Spot (inspeksi langsung) pada tahun 2009 dilaksanakan pada 30 (tiga puluh) Satuan Kerja diantaranya Pengadilan Tinggi, Pengadilan Tinggi Agama, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Militer, yang meliputi 10 (sepuluh) wilayah Denpasar, Yogyakarta, Kupang, Makasar, Kendari, Pekanbaru, Medan, Jayapura, Surabaya dan Banda Aceh. Pemeriksaan dilakukan sebagai tindak lanjut atas hasil temuan BPKP dan temuan pengawas eksternal BPK diantaranya mengenai perkembangan atas realisasi kerugian negara berkaitan dengan penyimpangan dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan DIPA dan Tuntutan Ganti Rugi (TGR) serta laporan tentang manajemen aset.

8. Monitoring

Pada tahun 2009 Tim Pemeriksa Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI telah menyelenggarakan Monitoring untuk memantau tindak lanjut hasil Pemeriksaan Reguler pada 17 Obyek Pemeriksaan. Monitoring ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemajuan atau tindak lanjut yang telah dilakukan atas hasil pengawasan yang telah dilakukan. Monitoring Tindak Lanjut pada tahun 2009 dilakukan meliputi wilayah Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama antara lain :

153 Tabel 29

Wilayah Monitoring Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Internal

9. Pembinaan/Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan

Sebagai voorpost dan garda terdepan pengawasan internal jajaran peradilan maka kualitas Pengadilan Tingkat Banding harus ditingkatkan agar sesuai dengan ketentuan dan bersinergi dengan pengawasan yang dilakukan Badan Pengawasan Mahkamah Agung RI. Menindaklanjuti hal tersebut maka dilakukan rapat kerja dalam rangka Pembinaan / Koordinasi dan Konsultasi Pengawasan dengan para Hakim Pengadilan Tingkat Banding. Materi utama dalam pembinaan ini adalah Buku IV tentang Dalam jangka waktu lima hari para peserta diberikan materi pokok berdasarkan termasuk 1 (satu) hari praktek pemeriksaan di Pengadilan Tingkat Pertama.

Gambar 35

Rapat Kerja Pengawasan bagi Pengadilan Tingkat Banding

154 10. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pengawasan

Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pengawasan di Mahkamah Agung I dan Badan-badan peradilan di bawahnya saat ini adalah kapasitas SDM pengawasan yang memadai khususnya tenaga auditor (pemeriksa sesuai dengan keahliannya). Menindaklanjuti hal tersebut maka Badan Pengawasan melakukan kerjasama dalam bentuk bimbingan teknik (Bintek) dengan instansi terkait diantaranya :

a. Pelatihan Auditing tingkat dasar bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

b. Pendidikan dan Pelatiham (Diklat) Keuangan DIPA Angkatan I Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

c. Sertifikasi Pengadaan Barang dan Jasa bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

d. Penyusunan Standar Pelayanan dan SOP bekerjasama dengan Kementerian Sekretariat Negara.

11. Hasil Penanganan Pengaduan

Pada tahun 2009, Badan Pengawasan Mahkamah Agung menerima tembusan surat pengaduan dari masyarakat, yang diajukan ke pengadilan tingkat banding dan tingkat pertama sebanyak 2.302 surat. Sedangkan surat pengaduan yang ditujukan langsung kepada Badan Pengawasan adalah sebanyak 2.140 surat, dengan perincian sebagai berikut :

Diproses sebanyak 891 surat dengan rinciang sebagai berikut :

 Diperiksa oleh Bawas sebanyak 296 surat;

 Dijawab melalui surat sebanyak 268;

 Didelegasikan ke Pengadilan Tingkat Banding sebanyak 327 surat;

Surat yang tidak layak diproses sebanyak 1.249 surat.

Berikut ini hasil penanganan pengaduan melalui surat yang diterima oleh Mahkamah Agung disajikan dalam bentuk Grafik:

155 Grafik 5

Penanganan Pengaduan

Sedangkan Pengaduan yang masuk melalui website secara online antara bulan Maret-Desember 2009 adalah sebanyak 300 pengaduan dengan perincian sebagai berikut:

a. Bukan kewenangan Bawas sebanyak 45 surat.

b. Dijawab dengan surat sebanyak 97 surat.

c. Ditelaah sebanyak 37 surat.

d. Tidak layak proses sebanyak 121 surat

12. Pengawasan Melekat

Mengefektifkan pengawasan melekat dimaksudkan untuk memberikan kewenangan penuh kepada pimpinan pengadilan melakukan penindakan dalam rangka memfungsikan pengawasan melekat sebagaimana dituangkan dalam surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Nomor : KMA/096/SK/X/2006 Tentang Tanggung Jawab Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Ketua Pengadilan Tingkat Pertama dalam melaksanakan tugas pengawasan.

13. Pengukuran Kinerja Pengadilan

Melakukan penilaian terhadap kinerja pengadilan, yang sebelum tahun 2010 pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan pengawasan reguler dengan materi pengawasan mengacu pada buku IV Tentang Tata Laksana Pengawasan Peradilan, dalam hal hasil evaluasi perlu ditindaklanjuti oleh Pengadilan yang bersangkutan maka dibuat kontrak kinerja. Jika ada penyimpangan yang tidak

156 dapat diselesaikan hanya dengan kontrak kinerja dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus.

14. Penindakan Terhadap Pelanggaran Disiplin Kerja

Terhadap pelanggaran disiplin kerja maka sesuai aturan yang ada dilakukan penindakan dengan rincian sebagai berikut :