BAB III BERBAGAI ELEMEN PENYEIMBANG
3.2. Mengambil Langkah Setapak ( Wawancara dengan Klien )
Setelah berhenti di suatu arah yang tak terduga, saya mencoba mengambil langkah setapak untuk mengetahui apakah saya mendapatkan jalan keluar atau tidak. Terkadang tidak terpikirkan di saat kita melangkah, kita sudah mendekati jalan keluar. Tidak bericara tentang jarak yang dekat melainkan usaha kecil yang
sudah kita lakukan. Proses melangkah setapak mungkin saja tidak akan terjadi karena ketakutan, kemalasan, atau karena hal lainnya. Dan jika tidak mengambil langkah apapun, kita akan terus berputar – putar dan membuat diri kita sendiir semakin pusing dan akhirnya tidak menemukan jalan keluar. Tetapi karena rasa ingin tahu yang tinggi dan mengerti bahwa waktu yang ada harus digunakan sebaik mungkin, mengambil langkah setapak sudah sepatutnya segera dilaksanakan. Proses mengambil langkah setapak ini dilakukan dengan mengadakan wawancara dengan perwakilan klien, yang sangat disyukuri untuk keberadaannya yang tidak jauh dari kami.
Tak kenal maka tak sayang. Klien kami bernama Saharman Gea, Ph.D. Beliau adalah salah satu dosen Jurusan Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Beliau juga menjabat sebagai koordinator Pengelola Akademi Komunitas Negeri Nias Utara. Begitu banyak waktu yang diluangkan untuk mengembangkan kabupaten Nias Utara, salah satunya dalam pembangunan Akademi Komunitas ini. Wawancara ini kami lakukan karena pada waktu itu kami berada pada proses berputar-putar, proses di saat kami merasakan kebingungan mengenai proyek ini dan membutuhkan informasi yang lebih jelas karena kami juga belum melaksanakan survey ke Nias Utara. Waktu terus berjalan dan tidak mungkin waktu ini tidak digunakan sebaik mungkin. Akhirnya saya mengusulkan kepada ketua kelompok untuk melakukan wawancara kepada Bapak Saharman Gea dan akhirnya langkah ini juga disetujui oleh stakeholder kami yaitu Bapak Rudolf Siorus.
Gambar 3.5. Bapak Saharman Gea Ph.D
Sumber : Dokumen pribadi
Pagi yang cerah dengan udara yang segar, tepatnya di hari Senin, kami segera bergegas menuju kantor Bapak Saharman di Fakultas MIPA dengan mengendarai sepeda motor teman kami. Keberadaan kami ternyata membuat semua mata mahasiswi jurusan Kimia tertuju pada kami, mungkin lebih tepatnya pada teman-teman pria satu kelompok saya. Saya tidak tahu apakah karena heran melihat orang yang baru dilihatnya atau mungkin karena hukum alam sedang berjalan. Tetapi menurut saya ini adal hal yang menarik. Kami bertanya kepada salah seorang mahasiswi tentang keberadaan kantor Bapak Saharman. Setelah kami menemukannya, tampak beliau sudah menunggu dan memberikan senyum sapa yang hangat kepada kami.
Ditengah kelelahan sesaat bekerja sebagai dosen, Beliau memberikan waktu istirahatnya untuk berdiskusi dengan kami. Dengan berdebar – debar beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada kami atas ketersediaan untuk turut membantu dalam pembangunan Akademi Komunitas Nias Utara. Ketulusan
hati yang dimiliki beliau menjadi motivasi dan semangat dalam pembangunan kabupaten Nias Utara. Tidak ada terpikirkan olehnya tentang materi. Apa yang beliau dapatkan tidak sebanding dengan apa yang sudah diberikan namun beliau mengingat atas azaz kemanusiaan yang ingin diberikannya kepada masyarakat Nias Utara. Beliau tidak mau menjadi orang yang egois, disaat sudah melanjutkan pendidikan S-3 di luar negeri, beliau teringat dengan saudara-saudara di kota kelahirannya di Nias Utara. Hati yang begitu hancur telah dirasakannya, banyak orang-orang yang tidak bersekolah di sana, atau bisa dikatakan sangat jauh dari kesejahteraan. Sejak saat itu, beliau akhirnya menjumpai para pejabat Nias Utara dan memberikan dirinya untuk turut membangun kota tersebut.
Di samping ucapan terima kasih, ucapan meminta maaf juga disampaikan. Beliau sangat menyesal atas keterlambatan penyampaian informasi yang didapatkan mengenai perkembangan site lokasi proyek AKNIRA. Beberapa tanah yang berada di antara site,yang sebelumnya milik masyarakat Nias Utara, akhirnya menjadi milik Pemerintah sehingga menjadi bagian site AKNIRA. Perubahan bentuk dan ukuran site ini tentunya akan mengubah kembali perancangan masterplan yang sudah kami buat, namun hal ini tidak menjadi masalah besar bahkan menjadi keuntungan karena sebelumnya tanah yang masih menjadi milik masyarakat ini sempat menjadi masalah dalam perancangan. Tanah ini masyarakat ini memisahkan site AKNIRA dengan porsi yang tidak efisien, ada site yang luas sekali dan ada site yang sempit sekali. Sehingga kami bingung dalam melakukan pembagian kawasan setiap jurusan dan perletakkan bangunan.
Gambar 3.6. Penambahan site berada pada zona merah Sumber : Dokumen pribadi
Di samping itu ternyata jurusan yang akan didakan di AKNIRA juga sudah berubah yaitu terdiri dari Program Studi Pertanian Budidaya Tanaman Karet, Program Studi Perikanan Budidaya Ikan Air Tawar dan Program Studi Peternakan Budidaya Ternak Potong. Namun di saat mendatang kemungkinan penambahan program studi pada Pertanian dan Perikanan akan terjadi. Perkembangan ini tentunya akan berada pada site yang ada pada saat ini. Namun jika terdapat penambahan program studi di luar Pertanian, Peternakan dan Perikanan, misalnya : multimedia dan pariwisata akan berada pada lokasi site yang berbeda dan tidak berada jauh dari site yang pertama. Selain itu jika 5 tahun ke depan, terlaksana program pengolahan produk, maka tempat seperti pabrik pengolahan juga berada pada site yang kedua karena pada site yang pertama dikhususkan untuk program budidaya pada ketiga program studi tersebut. Bapak Saharman juga menegaskan batasan – batasan dan lokasi setiap program studi pada site. Berikut adalah gambaran pembagian kawasan setiap program studi.
Gambar 3.7. Bentuk Site yang terbaru
Sumber : Dokumen pribadi
Zona perikanan berada pada lokasi tersebut atas dasar pertimbangan keberadaan sungai yang tidak jauh dari site. Sungai ini akan menjadi sumber utama untuk mendapatkan air yang akan digunakan bagi tambak dan pengairan kebun. Perletakkan zona peternakan dibuat atas dasar pertimbangan aliran udara agar bau yang tidak sedap dari peternakan tidak menuju key building. Di mana tentunya hal ini akan mencemari udara dan mengganggu kenyamanan dan kesehatan. Zona key building berada di tengah, di antara setiap program studi, dibuat atas dasar pertimbangan kebudayaan masyarakat Nias Utara terhadap konsep kepemimpinan. Hal ini berguna agar proses penyampaian komunikasi, koordinasi, dan pengamanan, dari pusat atau Direktorat dapat berjalan secara cepat, dan tepat. Zona Pertanian berada pada bagian timur, hal ini berdasarkan pertimbangan adanya lahan perkebunan karet yang luas di belakang site sehingga dapat juga mendukung program budidaya tanaman karet. Sedangkan zona asrama, perumahan dosen dan fasilitas umum untuk olah raga berada pada zona yang berwarna ungu, namun untuk zona yang paling dekat dengan site difungsikan
Zona Peternakan Zona Perikanan
Zona Asrama dan Perumahan Zona Pertanian Zona Key Building
hanya untuk fasilitas olah raga. Fasilitas umum ini dibuat untuk mejalin hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.
Pada saat sebelum menjalani Preview yang pertama kami juga menemukan hambatan mengenai jenis tanah yang berada di site. Berdasarkan informasi yang ada sejak awal diberitahukan bahwa tanah tersebut adalah tanah gambut. Kondisi tanah ini sangat dalam sekali untuk mendapati tanah keras dan hanya tanaman-tanaman tertentu yang dapat di tanam di lokasi tersebut. Namun saat wawancara ini, Bapak Saharman meminta maaf kembali atas kesalahan informasi mengenai jenis tanah di lokasi tersebut. Beliau menjelaskan bahwa tanah tersebut bukanlah tanah gambut melainkan tanah tergenang. Saat gempa yang terjadi, air laut mengalami kenaikan sehingga menggenangi daerah pesisir laut khususnya kota Lottu. Hal ini dapat ditanggulangi dengan membangun kubangan atau waduk yang besar agar air yang tergenang merata di site, mengalir ke kubangan tersebut sehingga tanah menjadi kering dan keras. Saat ini hal tersebut tidak menjadi rintangan kembali karena mengatasi tanah gambut lebih sulit dibandingkan tanah tergenang.
Untuk fungsi bangunan yang disarankan Bapak Saharman adalah Gedung Direktorat, Perpustakaan, Auditorium, Masjid, Chapel, Gudang, Bengkel, Student Center, Kampus Budidaya ikan air tawar dengan tambak, Kampus Budidaya Ternak Potong dengan kelima kandang ternak, Kampus Budidaya Tanaman Karet dengan rumah kaca, kebun entras, dan pusat pembibitan. Pada Kampus Budidaya Ikan air tawar terdapat tambak ikan lele, tambak ikan gurami, tambak ikan mas,
dan tambak ikan nila. Pada Kampus Budidaya Ternak potong terdapat 2 kandang sapi, 2 kandang babi,2 kandang ayam, 2 kandang kambing, dan 2 kandang unggas ( puyuh ). Fasilitas umum untuk olahraga berada pada area diluar kampus namun tidak jauh dari site. Sedangkan untuk Asrama Putra, Asrama Putri, dan Perumahan Dosen dan beberapa fasilitas umum lainnya juga berada di luar area kampus. Beberapa bangunan seperti kampus, Direktorat, Student Center, Asrama Putra, Asrama Putri, terdiri dari 3 lantai, dan jumlah lantai bangunan lainnya dibuat sesuai kebutuhan namun maksimal 3 lantai agar mendukung keamanan saat terjadi gempa bumi.
Area I : Kampus dan Birokrasi Area II : Lapangan sepak bola
Area III : Asrama Putra ( untuk 90 orang ) dan 30 unit rumah dosen Area IV : Asrama Putri ( untuk 90 orang ) dan 30 unit rumah dosen Area V : ( masih sedang dipertimbangkan tim pengelola AKNIRA
Gambar 3.8. Detail Pembagian Zona Sumber : Dokumen pribadi
Konsep kawasan yang disarankan adalah dimana kampus AKNIRA menjadi rumah perubahan bagi masyarakat Nias Utara . Kampus dengan sistem vokasi ini merupakan sistem yang berbeda pada umumnya, lebih banyak menerapkan aksi daripada teori sehingga sangat dibutuhkan kenyamanan saat kuliah. Masyarakat diharapkan lebih senang tinggal di kampus daripada di rumah, begiitu ujarnya. Kampus AKNIRA juga bukan menjadi kampus yang padat modal melainkan padat masyarakat. Bukan hanya banyak masyarakat Nias yang akan bersekolah di sana tetapi masyarakat sekitar juga ikut menikmati suasana kampus dan memperoleh pengetahuan dari fasilitas kampus. Konsep kawasan juga menuntut pengguna kampus untuk berjalan kaki, mengajarkan untuk lebih aktif beraktifitas dan mengurangi polusi udara. Berjalan kaki juga lebih membuka kesempatan bagi pengguna kampus untuk bersosialisasi dengan orang – orang
I II I II I I I V I
yang dijumpainya saat di sekitar kampus. Kampus ini tidak akan menjadi kampus yang otoriter dan menjunjung tinggi demokrasi di antara setiap pengguna kampus sehingga diharapkan tidak akan terjadinya perselisihan, tawuran, atau kegiatan negatif lainnya. Sehingga bagaimana kampus dapat memanusiakan mahasiswa juga dapat terlihat pad kampus ini.
Selain memiliki konsep untuk menciptakan sosialisasi dengan sesama, kampus ini juga diharapkan membuka ruang untuk bersosialisasi dengan Tuhan, Sang Pencipta seluruh isi bumi. Pasca gempa, masyarakat sangat terpukul sekali dan menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya terhadap sang Pencipta. Di dalam kampus ini, Bapak Saharaman mengajukan untuk dibangun fasilitas rohani bagi pengguna kampus, yaitu sebuah Masjid dan sebuah Chapel. Mayoritas masyarakat Nias Utara menganut agama Islam dan Kristen Protestan sehingga kedua bangunan ini harus disediakan. Beliau tidak ingin masyarakat lupa kepada Tuhannya bahkan ingin agar masyarakat semakin dekat dengan Tuhan. Konsep ruang terbuka, sawah, kebun, tambak, dan lain-lain juga harus ditata sedemikian agar tercipta nuansa atau panorama alam yang begitu indah dan masyarakat Nias Utara bisa memahami anugerah Tuhan yang masih disediakan kepada mereka. Masyarakat Nias Utara senantiasa selalu mensyukuri dan mengingat Tuhan dalam segala aktiftas mereka. Di samping itu keberadaan kedua bangunan menggambarkan kondisi masyarakat yang tidak pernah hidup dalam perselisihan antar agama. Kerukunan antar umat beragama sangat dijunjung tinggi dan hal ini juga sudah menjadi sesuatu yang unik dari kehidupan mereka.
Ketiga program studi yang disediakan berada pada kawasan yang berbeda dan terpisah agar setiap pengguna kampus baik mahasiswa, dosen, dan pegawai administrasi memiliki tanggung jawab terhadap kampusnya masing-masing. Menumbuhkan rasa kepemilikan dan terbeban untuk merawat , memelihara dan menjaganya. Namun pemisahan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan persaingan yang sehat antar setiap program studi. Persaingan yang bersifat positif yaitu seperti di bidang prestasi atau hal positif lainnya agar memicu semangat dalam belajar dan bekarya. Ketiga bangunan tersebut disarankan memiliki porsi yang sama, terdiri dari 3 lantai , dan memiliki penzoningan ruang yang sama. Namun keputusan penzoningan ini bukan keputusan mutlak dan dapat dipertimbangkan kembali oleh tim perancang. Berikut adalah penzoningan ruang yang disarankan oleh Bapak Saharman :
Gambar 3.9. Penzoningan ruang sementara Sumber : Dokumen pribadi
Visi tanpa misi akan menjadi sebuah mimpi, begitu juga misi tanpa visi akan jadi tidak terarah. Jika konsep digambarkan sebagai visi, maka tindakan adalah sebuah misi. Kampus AKNIRA akan menjadi jantung bagi para mahasiswa, generasi penerus bangsa. Namun penggerak visi tersebut bukan hanya mahasiswa melainkan seluruh masyarakat Nias Utara, orang-orang yang sedang mempunyai mimpi namun juga sedang berjuang membangun kotanya.
RUANG KULIAH ( Lt.1 )
R. DATA, R. PERTEMUAN, R. DOSEN ( Lt.2 ) R. KEP & SEK. JURUSAN & R.