• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menganalisis Hasil Simulasi dengan Jack Task Analysis Toolkit

4. PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

4.1 Studi Ergonomi Kondisi Aktual

4.1.6 Menganalisis Hasil Simulasi dengan Jack Task Analysis Toolkit

Setelah melakukan uji verifikasi dan validasi model, simulasi dapat dijalankan untuk menganalisis ergonomi kondisi meja setrika aktual. Setelah semua gerakan selesai dibuat, dilakukan analisis terhadap nilai SSP, LBA, OWAS, dan RULA untuk kemudian dijadikan input dalam perhitungan nilai PEI. Sebelum melakukan analisis, virtual human diberi beban sesuai dengan kondisi aktual dengan memasukkan nilai beban pada modul Load and Weight pada software Jack 6.1. Adapun nilai beban yang dimasukkan adalah sebesar 1,5 kg yang merepresentasikan berat setrika yang digunakan. Sementara itu, ketika setrika diletakkan dan virtual human mulai mengambil pakaian yang sudah disetrika untuk kemudian diletakkan pada rak pakaian, nilai beban diubah menjadi sebesar 0,5 kg dengan asumsi bahwa nilai beban tersebut mewakili berat jeans yang diasumsikan merupakan jenis pakaian paling berat.

Sebagai langkah awal, dilakukan analisis terhadap nilai SSP kedua model dengan melakukan pengecekan nilai kapabilitas yang ditimbulkan oleh postur kerja terhadap model manusia yang digunakan. Sesuai dengan ketentuan, nilai SSP harus lebih dari 90% untuk memastikan bahwa kegiatan yang dipraktikkan pada simulasi dapat dilakukan oleh populasi yang ada. Tampilan dan hasil analisis SSP yang diproses oleh software Jack 6.1 dapat dilihat pada gambar 4.13.

Gambar 4.13. Grafik Kapabilitas Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95

(Kanan) pada Simulasi Kondisi Aktual

Dari gambar 4.13, dapat dilihat bahwa seluruh bagian tubuh memiliki persentase kapabilitas lebih dari 90%; memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap analisis berikutnya, yaitu analisis terhadap nilai LBA, OWAS, dan RULA.

Gambar 4.14. Hasil Analisis Nilai LBA Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil 95

(Bawah) pada Simulasi Kondisi Aktual

Dari gambar 4.14, dapat dilihat bahwa kompresi yang diterima oleh tulang belakang model persentil 5 adalah sebesar 1.076 N, sementara kompresi yang diterima oleh model persentil 95 adalah sebesar 1.701 N. Hal ini disebabkan karena penyetrika harus membungkuk dalam saat meletakkan pakaian yang telah

disetrika pada rak pakaian di bawah meja setrika seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.15.

Gambar 4.15. Postur Penyetrika Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95 (Kanan) Saat

LBA Maksimum pada Simulasi Kondisi Aktual

Nilai LBA kondisi aktual untuk kedua model ini berada di bawah nilai 3.400 N yang menjadi standar NIOSH Back Compression Action Limit sehingga dapat disimpulkan bahwa gangguan tulang belakang masih dapat dikatakan rendah.

Gambar 4.16. Hasil Analisis Nilai OWAS Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil

95 (Bawah) pada Simulasi Kondisi Aktual

Dari hasil analisis OWAS, kedua model menunjukkan nilai evaluasi yang sama, yaitu pada skala 3 yang mengharuskan tindakan perbaikan segera dilakukan. Adapun nilai OWAS maksimum ini didapat saat postur penyetrika sama seperti saat LBA maksimum yang ditampilkan pada gambar 4.15. Dari gambar 4.16, dapat dilihat elemen-elemen nilai OWAS, yaitu seperti yang ditampilkan pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Elemen Nilai OWAS pada Simulasi Kondisi Aktual

Persentil Punggung Tangan Kaki Beban Total

5 2 1 4 1 3

95 2 1 4 1 2

Kedua model menunjukkan elemen nilai OWAS yang sama, di mana elemen OWAS di atas menunjukkan:

1. punggung penyetrika berada dalam kategori 2, yaitu melakukan kegiatan sambil membungkuk;

2. tangan penyetrika berada dalam kategori 1, di mana kedua tangan berada di bawah tinggi bahu;

3. kaki penyetrika berada dalam kategori 4, dengan tumpuan pada kedua kaki dengan kedua lutut menekuk ke depan; serta

4. beban berada dalam kategori 1 yang berarti bahwa berat beban masih di bawah 10 kg (dalam hal ini berat beban mengacu pada berat pakaian sebesar 0,5 kg karena nilai OWAS maksimum dicapai pada saat penyetrika memegang pakaian untuk meletakkannya pada rak seperti ditampilkan pada gambar 4.17). Setelah melakukan analisis nilai LBA dan OWAS, dilakukan analisis nilai RULA yang dihasilkan. Nilai RULA menunjukkan tingkat kenyamanan dan risiko

fatigue yang dapat dialami oleh secara khusus tubuh bagian atas. Output RULA

terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A (bagian tangan dan lengan) dan kelompok B (bagian leher dan batang tubuh). Hasil analisis RULA beserta rincian elemen-elemen penyusunnya dapat dilihat pada gambar 4.17 dan tabel 4.2.

Gambar 4.17. Hasil Analisis Nilai RULA Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil

95 (Kanan) pada Simulasi Kondisi Aktual

Tabel 4.2. Elemen Nilai RULA pada Simulasi Kondisi Aktual

Kelompok A B Total Anggota Tubuh Upper Arm Lower Arm Wrist Wrist

Twist Neck Trunk

Nilai %5 4 3 2 2 1 4 6

%95 5 3 3 2 1 4 7

Nilai RULA model persentil 5 berada pada skala 6, sementara nilai RULA model persentil 95 berada pada skala 7, yang berarti bahwa tindakan perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin. Hal ini mengacu pada elemen-elemen nilai RULA yang akan dibahas secara detail sebagai berikut:

1. Lengan atas model persentil 5 berada dalam kategori 4, sementara lengan atas model persentil 95 berada dalam kategori 5, di mana lengan atas menyimpang membentuk sudut lebih dari 90°. Perbedaan nilai ini disebabkan karena model persentil 95 harus lebih membungkuk dibanding model persentil 5 untuk menjangkau rak di bawah meja setrika.

2. Lengan bawah model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 3, di mana lengan bawah bekerja melewati garis tengah tubuh atau melakukan penyimpangan ke arah kiri melewati diameter tubuh.

3. Pergelangan tangan model persentil 5 berada dalam kategori 2, di mana pergelangan tangan melakukan gerakan menekuk ke atas atau ke bawah sejauh 15°. Sementara itu, pergelangan tangan model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana sudut yang terbentuk dari gerakan pergelangan tangan menekuk lebih dari 15°.

4. Perputaran pergelangan tangan kedua model berada dalam kategori 2, artinya perputaran yang terjadi sudah berada atau berada dekat dengan rentang perputaran yang dapat dilakukan oleh pergelangan tangan.

5. Leher model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 1, di mana leher menunduk sejauh lebih dari 0-10°.

6. Batang tubuh kedua model berada dalam kategori 4, di mana batang tubuh membungkuk dalam jangkauan lebih dari 60°.

Nilai RULA maksimum ini didapat saat postur penyetrika sama seperti yang ditampilkan pada gambar 4.15 sebelumnya.

Tabel 4.3. Rekapitulasi Nilai Analisis Ergonomi Kondisi Aktual

Persentil LBA OWAS RULA

5 1.076 3 6

95 1.701 3 7

Tabel 4.3 menunjukkan rekapitulasi nilai LBA, OWAS, dan RULA kondisi aktual. Ketiga nilai yang telah didapatkan kemudian diolah untuk menghasilkan PEI dengan menggunakan formula (2.8). Adapun hasil perhitungan PEI kondisi aktual ini dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4. Hasil Perhitungan PEI Kondisi Aktual

Persentil I1 I2 I3 mr PEI

5 0,316 0,75 0,857 1,42 2,284

95 0,500 0,75 1 1,42 2,67

Dari hasil simulasi pada model persentil 5 dan 95, dapat dilihat bahwa terdapat nilai PEI yang cukup besar, yaitu 2,284 untuk model persentil 5 dan 2,67 untuk model persentil 95. Hal ini berarti bahwa desain meja setrika saat ini tidak

cukup ergonomis untuk menunjang kegiatan menyetrika; terbukti dari nilai OWAS dan RULA untuk kedua model yang sama-sama menganjurkan segera dilakukannya tindakan perbaikan.

Untuk kedua model, tidak terdapat perbedaan nilai OWAS dan RULA. Namun, terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada nilai LBA keduanya. Hal ini disebabkan karena perbedaan antropometri tinggi yang cukup signifikan antara model persentil 5 dengan model persentil 95. Dilihat dari tingginya, meja setrika aktual ini sebenarnya lebih ergonomis jika digunakan oleh model persentil 95 dibanding model persentil 5. Hal ini disebabkan karena tinggi meja setrika yang digunakan dalam studi ergonomi kondisi aktual ini adalah sebesar 94 cm; berada cukup jauh di atas tinggi siku persentil 5 yang adalah sebesar 80,94 cm. Namun demikian, karena analisis ketiga metode, baik LBA, OWAS, maupun RULA dilakukan saat ketiga nilai tersebut mencapai nilai maksimum, maka variabel yang lebih berpengaruh adalah tinggi rak pakaian karena berimplikasi pada sejauh mana model, baik persentil 5 maupun 95, harus membungkuk untuk meletakkan pakaian pada rak. Dalam hal ini, model persentil 95 harus lebih membungkuk ketika meletakkan pakaian pada rak sehingga tekanan pada bagian punggung akan menjadi semakin besar. Hal ini berimplikasi pada semakin besarnya nilai LBA yang dihasilkan.

Penggunaan rak pakaian saat ini memang kadang diabaikan oleh penyetrika. Selain karena faktor luas yang tidak memadai (terbukti dari voice of customer yang berhasil dikumpulkan), faktor lokasi penempatan rak yang mengharuskan penyetrika membungkuk ini juga menjadi pemicu tidak digunakannya fasilitas yang telah disediakan oleh produsen ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan relokasi rak pakaian dengan mempertimbangkan ketinggian yang tepat sehingga fasilitas yang disediakan oleh produsen ini dapat dioptimalkan penggunaannya.

Adapun nilai PEI yang didapat akan dijadikan sebagai acuan batas atas dalam memutuskan tindakan perbaikan. Nilai PEI konfigurasi usulan yang didapatkan nantinya diharapkan dapat bernilai lebih kecil dibanding nilai PEI kondisi aktual sehingga tindakan perbaikan dapat sampai pada kesimpulan bahwa

meja setrika baru yang dirancang nantinya memiliki aspek ergonomi yang lebih baik dibanding meja setrika aktual saat ini.

Dokumen terkait