• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggenerasi dan Memilih Konsep Dimensi Meja Setrika

4. PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

4.2 Pengembangan Produk dengan Penerapan QFD

4.2.3 Menggenerasi dan Memilih Konsep

4.2.3.2 Menggenerasi dan Memilih Konsep Dimensi Meja Setrika

Konsep dimensi yang akan digenerasi pada penelitian ini hanya dimensi kursi yang akan dipilih setelah melalui pengujian pada software Jack 6.1. Dalam menggenerasi konsep dimensi kursi yang terkait ergonomi, perlu ditentukan terlebih dahulu tinggi meja setrika yang akan digunakan sebagai acuan dalam penentuan tinggi kursi. Oleh karena itu, sebagai langkah awal dalam proses penggenerasian konsep dimensi kursi ini, akan dibahas terlebih dahulu mengenai tinggi meja setrika dan tinggi rak pakaian yang ergonomis untuk digunakan dalam posisi berdiri.

Ketinggian meja setrika pada penelitian ini tidak dikonfigurasikan, melainkan langsung ditentukan dari tinggi siku orang persentil 50 dikurangi dengan tinggi setrika yang diasumsikan adalah setinggi 10. Hal ini mengacu pada teori yang menyatakan bahwa prinsip utama dalam perancangan ketinggian meja kerja sebaiknya disesuaikan dengan tinggi siku orang saat melakukan pekerjaan tersebut. Namun demikian, ketinggian meja kerja juga harus mempertimbangkan tinggi benda kerja yang dalam hal ini, ketinggian meja harus dikurangi sebesar tinggi dari benda kerja tersebut. Di sisi lain, seperti yang dijelaskan pada subbab 2.5.1, Pheasant (2003) dalam bukunya yang berjudul “Bodyspace Anthropometry, Ergonomics and the Design of Work” menyatakan bahwa untuk kegiatan-kegiatan manipulatif berat yang melibatkan tekanan ke bawah pada benda kerja, tinggi meja kerja yang direkomendasikan adalah sebesar 10-25 cm di bawah tinggi siku. Dengan pertimbangan bahwa ketinggian meja 25 cm di bawah tinggi siku akan berakibat pada terlalu membungkuknya orang dengan persentil 95, maka dipilih tinggi meja sebesar 10 cm di bawah tinggi siku, di mana 10 cm yang ditetapkan akan menjadi ruang bagi setrika dengan asumsi tinggi yang sama sehingga dapat disimpulkan bahwa meja setrika yang digunakan pada penelitian ini memiliki dimensi tinggi sebesar 90,65 cm dikurangi 10 cm tinggi setrika menjadi 80,65 cm. Adapun tinggi siku yang digunakan adalah tinggi siku orang dengan persentil 50 dengan maksud untuk mengakomodasi orang dengan persentil 5 dan 95 dengan kenyamanan selama menyetrika. Jika digunakan tinggi siku orang persentil 5 sebagai acuan, maka orang dengan persentil 95 akan membungkuk lebih dalam, sementara jika digunakan tinggi siku orang persentil 95, maka orang dengan

persentil 5 harus mengangkat tangannya untuk mencapai setrika sehingga akan menyebabkan tangan menjadi lebih cepat pegal.

Variabel lain yang juga diubah namun tidak dikonfigurasikan adalah variabel tinggi rak. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perlu dilakukan relokasi rak karena lokasi rak saat ini tidak ergonomis bagi penyetrika karena harus membungkuk cukup dalam untuk mencapainya. Jika dikaitkan dengan teori yang ada, perancangan tinggi rak juga seharusnya sama dengan perancangan tinggi meja, yaitu setinggi siku saat berdiri dikurangi dengan tinggi setrika. Namun demikian, karena adanya penyesuaian dengan desain, di mana desain meja setrika memungkinkan dapat disimpannya rak pakaian persis di bagian bawah meja, maka dimensi tinggi rak akan dipengaruhi oleh tebal meja dan tebal rak itu sendiri.

Gambar 4.25. Desain Meja Setrika Baru (Belum Dilengkapi Kursi)

Gambar 4.25 menampilkan desain meja setrika sebelum dilengkapi kursi. Dapat dilihat pada gambar di sisi kiri bawah, ada 3 bagian utama pada meja, yaitu: 1. meja utama, yang akan digunakan sebagai alas menyetrika;

1

2

3

2. rak pakaian 1, yang dapat diputar ke bagian bawah meja saat disimpan; serta 3. rak pakaian 2, yang mekanismenya seperti laci; dapat ditarik dari bawah rak

pakaian 1.

Dengan desain rak sedemikian rupa, maka tinggi rak pakaian 1 adalah sebesar 80,65 cm tinggi meja setrika dikurangi dengan 2,5 cm tebal meja setrika menjadi 78,15 cm. Sementara itu, tinggi rak pakaian 2 adalah sebesar 78,15 cm tinggi rak pakaian 1 dikurangi dengan 1 cm tebal rak pakaian 1 menjadi 77,15 cm. Untuk memeriksa apakah nilai ini masih dapat ditoleransi oleh orang khususnya persentil 95 yang memiliki tinggi siku paling tinggi, dihitung besar sudut yang terbentuk antara lengan bawah dengan garis horizontal.

lengan

θ

θ 41,51 cm 14 cm

Gambar 4.26. Ilustrasi Kemiringan Tangan Orang Persentil 95 Saat Meletakkan

Pakaian pada Rak Dari hasil perhitungan, didapat nilai:

i  <Gj sin]Z,kZZ] = 19,71°

Besar sudut 19,71° belum melebihi batas maksimum kenyamanan sebesar 30° sehingga dapat disimpulkan bahwa tinggi rak pakaian 77,15 cm masih memenuhi kriteria kenyamanan yang diharapkan.

Untuk membuktikan bahwa desain meja baru yang direkomendasikan lebih baik dibanding desain meja setrika aktual, maka dilakukan simulasi dengan

software Jack 6.1 untuk mendapatkan nilai PEI. Secara keseluruhan konsep,

desain meja setrika yang akan dikembangkan ini memang dilengkapi dengan kursi. Namun, karena salah satu kebutuhan yang diminta oleh konsumen adalah kebutuhan akan fleksibilitas untuk duduk dan berdiri, simulasi pada software Jack

6.1 harus dilakukan, baik pada posisi berdiri maupun duduk. Dengan demikian, diharapkan bahwa meja setrika yang akan dikembangkan ini dapat dikatakan lebih ergonomis bagi penyetrika, baik saat penyetrika melakukan pekerjaannya sambil berdiri maupun duduk.

Simulasi menggunakan software Jack 6.1 mengikuti langkah-langkah yang sama seperti yang dijabarkan pada subbab 4.1. Sebagai langkah awal, dibuat virtual environment pada software Jack 6.1 seperti yang ditampilkan pada gambar 4.27. Pembuatan virtual environment kemudian dilanjutkan dengan pembuatan virtual human yang sama seperti yang ditampilkan pada gambar 4.3 sebelumnya. Virtual human kemudian ditempatkan pada virtual environment seperti yang dapat dilihat pada gambar 4.28.

Gambar 4.27. Virtual Environment Simulasi Ketinggian Meja

Gambar 4.28. Posisi Virtual Human Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95 (Kanan)

pada Virtual Environment Simulasi Ketinggian Meja

Virtual human kemudian diberikan tugas seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.29 dan 4.30.

Gambar 4.29. Animation Window Simulasi Ketinggian Meja Model Persentil 5

Gambar 4.30. Animation Window Simulasi Ketinggian Meja Model Persentil 95

Setelah pembuatan animasi selesai dilakukan, langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap hasil simulasi kedua model. Analisis yang pertama kali dilakukan adalah analisis SSP yang hasilnya dapat dilihat pada gambar 4.31.

Gambar 4.31. Grafik Kapabilitas Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95

(Kanan) pada Simulasi Ketinggian Meja

Hasil pengecekan SSP menunjukkan bahwa kapabilitas untuk semua bagian tubuh pada simulasi semua model usulan bernilai lebih dari 90%. Oleh karena itu, dapat diyakini bahwa aktivitas dan postur kerja yang dilakukan feasible untuk dilakukan oleh model manusia digital ukuran antropometri 5% dan 95% dari populasi ibu rumah tangga yang digunakan sebagai model.

Gambar 4.32. Hasil Analisis Nilai LBA Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil 95

(Bawah) pada Simulasi Ketinggian Meja

Dari gambar 4.32, dapat dilihat bahwa kompresi yang diterima oleh tulang belakang model persentil 5 adalah sebesar 880 N, sementara kompresi yang diterima oleh model persentil 95 adalah sebesar 1.215 N. Nilai LBA maksimum untuk kedua model ini dicapai saat penyetrika meletakkan pakaian pada rak pakaian 1 seperti yang ditampilkan pada gambar 4.33.

Gambar 4.33. Postur Penyetrika Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95 (Kanan) Saat

LBA Maksimum pada Simulasi Ketinggian Meja

Nilai LBA untuk ketinggian meja yang diusulkan ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai LBA kondisi aktual, baik pada model persentil 5 maupun model persentil 95. Penurunan nilai yang dialami oleh model persentil 5 lebih sedikit dibanding penurunan nilai model persentil 95. Hal ini disebabkan karena pada kondisi aktual, model persentil 95 memang dituntut untuk membungkuk lebih dalam dibanding model persentil 5.

Gambar 4.34. Hasil Analisis Nilai OWAS Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil

95 (Bawah) pada Simulasi Ketinggian Meja

Dari hasil analisis OWAS, kedua model menunjukkan nilai evaluasi yang sama, yaitu 2. Nilai evaluasi ini ditunjukkan pada setiap aktivitas dan postur penyetrika selama simulasi berjalan. Nilai ini menunjukkan bahwa desain meja setrika yang diusulkan telah cukup ergonomis, namun perubahan dan investigasi lebih lanjut terkait desain yang ada masih perlu dilakukan di masa yang akan datang mengingat kegiatan menyetrika adalah kegiatan yang dilakukan secara repetitif. Dari gambar 4.34, dapat dilihat elemen-elemen nilai OWAS, yaitu seperti yang ditampilkan pada tabel 4.22.

Tabel 4.22. Elemen Nilai OWAS pada Simulasi Ketinggian Meja

Persentil Punggung Tangan Kaki Beban Total

5 2 1 2 1 2

95 2 1 2 1 2

Masing-masing elemen OWAS di atas menunjukkan:

1. punggung penyetrika berada dalam kategori 2, yaitu melakukan kegiatan sambil membungkuk;

2. tangan penyetrika berada dalam kategori 1, di mana kedua tangan berada di bawah tinggi bahu;

3. kaki penyetrika berada dalam kategori 2, dengan tumpuan pada kedua kaki; serta

4. beban berada dalam kategori 1 yang berarti bahwa berat beban masih di bawah 10 kg.

Setelah melakukan analisis nilai LBA dan OWAS, dilakukan analisis nilai RULA yang dihasilkan. Hasil analisis RULA beserta rincian elemen-elemen penyusunnya dapat dilihat pada gambar 4.35 dan tabel 4.23.

Gambar 4.35. Hasil Analisis Nilai RULA Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil

95 (Kanan) pada Simulasi Ketinggian Meja

Tabel 4.23. Elemen Nilai RULA pada Simulasi Ketinggian Meja Kelompok A B Total Anggota Tubuh Upper Arm Lower Arm Wrist Wrist

Twist Neck Trunk

Nilai %5 4 3 2 2 2 3 6

%95 3 3 3 2 2 3 6

Nilai RULA berada pada skala 6 yang berarti bahwa tindakan perbaikan harus segera dilakukan. Hal ini mengacu pada elemen-elemen nilai RULA yang akan dibahas secara detail sebagai berikut:

1. Lengan atas model persentil 5 berada dalam kategori 4, di mana lengan atas menyimpang membentuk sudut lebih dari 90°. Sementara itu, lengan atas model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana lengan atas menyimpang membentuk sudut 45°-90°. Perbedaan nilai ini disebabkan karena pada model persentil 5, jarak jangkauan yang dapat dicapai oleh tangan lebih pendek dibanding model persentil 95 sehingga sudut yang terbentuk juga lebih besar dibanding model persentil 95.

2. Lengan bawah model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 3, di mana lengan bawah bekerja melewati garis tengah tubuh atau melakukan penyimpangan ke arah kiri melewati diameter tubuh.

3. Pergelangan tangan model persentil 5 berada dalam kategori 2, di mana pergelangan tangan melakukan gerakan menekuk ke atas atau ke bawah sejauh 15°. Sementara itu, pergelangan tangan model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana sudut yang terbentuk dari gerakan pergelangan tangan menekuk lebih dari 15°.

4. Perputaran pergelangan tangan kedua model berada dalam kategori 2, artinya perputaran yang terjadi sudah berada atau berada dekat dengan rentang perputaran yang dapat dilakukan oleh pergelangan tangan.

5. Leher model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 2, di mana leher menunduk sejauh 10-20°. Sudut ini bertambah dibanding kondisi aktual karena nilai RULA maksimum pada kondisi aktual dicapai saat penyetrika membungkuk dalam saat meletakkan pakaian, sementara pada kondisi usulan ini penyetrika tidak membungkuk terlalu dalam karena tangan penyetrika

dapat mencapai rak pakaian dengan mudah. Sebagai implikasi dari tinggi rak pakaian yang berada di bawah tinggi siku, penyetrika harus menundukkan kepala lebih dalam untuk memastikan pakaian diletakkan pada posisi yang sesuai.

6. Batang tubuh kedua model berada dalam kategori 3, di mana batang tubuh membungkuk dalam jangkauan 20°-60°.

Nilai RULA maksimum ini didapat saat postur penyetrika sama seperti yang ditampilkan pada gambar 4.33 sebelumnya.

Tabel 4.24. Rekapitulasi Nilai Analisis Ergonomi Simulasi Ketinggian Meja

Persentil LBA OWAS RULA

5 880 2 6

95 1.215 2 6

Tabel 4.24 menunjukkan rekapitulasi nilai LBA, OWAS, dan RULA simulasi ketinggian meja. Ketiga nilai yang telah didapatkan kemudian diolah untuk menghasilkan PEI dengan menggunakan formula (2.8). Adapun hasil perhitungan PEI simulasi ketinggian meja ini dapat dilihat pada tabel 4.25.

Tabel 4.25. Hasil Perhitungan PEI Simulasi Ketinggian Meja Persentil I1 I2 I3 Mr PEI

5 0,259 0,5 0,857 1,42 1,976

95 0,357 0,5 0,857 1,42 2,074

Sama halnya dengan yang terjadi pada kondisi aktual, analisis ergonomi pada simulasi ketinggian meja ini juga paling dipengaruhi oleh posisi rak pakaian. Dilihat dari nilai PEI yang dihasilkan, penurunan yang ditunjukkan memang tidak terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena relokasi rak pakaian memang menjadi hal yang sulit dengan adanya pertimbangan kebutuhan yang saling bertentangan dan memerlukan trade-off. Lokasi rak pakaian yang telah ditetapkan melalui penggenerasian dan pemilihan konsep telah didasarkan atas pertimbangan untuk memenuhi semua kebutuhan konsumen yang mungkin dipenuhi, walaupun nilai yang dapat dipenuhi untuk tiap kebutuhan tidak seluruhnya terpenuhi karena

harus memperhatikan kebutuhan lain. Dengan pertimbangan demikian, peneliti memutuskan untuk tetap mempertahankan desain usulan yang ada, terlebih mengacu pada tujuan awal penelitian, di mana penelitian diarahkan untuk menghasilkan rancangan meja setrika yang lebih nyaman; bukan meja setrika yang paling nyaman bagi penyetrika. Terlebih lagi, perancangan juga akan diarahkan untuk memfasilitasi penyetrika dengan kursi yang mudah dipindahkan sehingga secara langsung akan meningkatkan kenyamanan penyetrika.

Setelah didapatkan tinggi meja yang sesuai, dapat dicari tinggi kursi dengan mengurangkan tinggi meja denga tinggi siku saat duduk setelah sebelumnya ditambahkan dengan tinggi setrika. Adapun perhitungan tinggi kursi adalah sebagai berikut:

Tinggi kursi = 80,65 + 10 – 22,7 = 67,95 cm

di mana tinggi siku yang digunakan adalah tinggi siku orang persentil 50 saat duduk. Pemilihan penggunaan tinggi siku orang persentil 50 didasarkan pada pertimbangan yang sama dengan pertimbangan saat menentukan tinggi meja, yaitu bahwa pemilihan persentil 50 ini diharapkan dapat juga mengakomodasi orang persentil 5 dan 95 sehingga sudut yang terbentuk antara lengan bawah dengan sumbu horizontal, baik orang persentil 5 maupun 95 tidak terlalu besar.

Namun, setelah melalui perhitungan lebih lanjut, ketinggian kursi sebesar 67,95 cm tersebut ternyata tidak dapat begitu saja diterapkan. Hal ini disebabkan karena dengan ketinggian kursi yang demikian, tidak memungkinkan, baik bagi orang persentil 5, 50, maupun 95 untuk duduk di kursi karena tidak ada ruang antara paha dan sisi bawah meja. Berdasarkan hasil perhitungan, ruang yang terbentuk antara sisi bawah meja dan sisi atas kursi hanya sebesar 10,2 cm; tidak dapat mengakomodasi lebar paha ketiga persentil. Ilustrasi mengenai hal ini ditampilkan pada gambar 4.36.

Paha Meja

Kursi

Siku Lengan

Tinggi siku saat duduk Lebar paha

Jarak paha dan sisi bawah meja Tebal meja Tinggi setrika

Gambar 4.36. Pertimbangan dalam Penentuan Tinggi Kursi

Untuk lebih memperjelas permasalahan yang ada, pada gambar 4.37 hingga gambar 4.39 ditampilkan ilustrasi posisi paha untuk ketiga persentil dengan detail ukurannya. Ukuran lebar paha yang digunakan disesuaikan dengan penyesuaian yang dilakukan oleh software Jack 6.1 saat input semua data antropometri yang didapat selesai dilakukan. Semua ukuran yang tertera dinyatakan dalam satuan cm. Adapun ketiga gambar yang ada tidak menggunakan skala yang sesuai sehingga beberapa ukuran mungkin terlihat tidak proporsional.

Gambar 4.37. Posisi Paha Penyetrika Persentil 5 Jika Ketinggian Kursi 67,95 cm

Gambar 4.38. Posisi Paha Penyetrika Persentil 50 Jika Ketinggian Kursi 67,95

cm

Gambar 4.39. Posisi Paha Penyetrika Persentil 95 Jika Ketinggian Kursi 67,95

cm

Dari ketiga gambar di atas, dapat dilihat bahwa dengan ketinggian kursi 67,95 cm, ruang yang tersedia antara sisi bawah meja dan sisi atas kursi tidak cukup bagi paha persentil 5, 50, dan 95. Sebagai alternatif solusi, dikembangkan dua konsep terkait dimensi tinggi kursi. Kedua konsep ini akan mempengaruhi dimensi lain serta desain kursi secara keseluruhan. Untuk menentukan konsep yang akan dipilih, dilakukan simulasi pada software Jack 6.1 sehingga dapat diketahui satu dari dua konsep yang memberikan nilai PEI terkecil.

Konsep pertama adalah menurunkan tinggi kursi menjadi 53,85 cm dengan asumsi bahwa jarak antara paha dengan meja yang diinginkan adalah sejauh 8 cm. Rincian dimensi-dimensi penting pada konsep ini beserta persentil acuan dan formula perhitungannya dapat dilihat pada tabel 4.26.

Tabel 4.26. Dimensi Konsep 1

Dimensi Formula Perhitungan Persentil

Acuan Nilai Satuan

Jarak paha-meja langsung ditentukan 5, 50, 95 8 Cm

Tinggi kursi

tinggi meja – (tebal meja + jarak paha dan meja + lebar

paha)

50 53,85 Cm

Lebar kursi 1,1 × hip breadth 95 43,79 Cm

Kedalaman

kursi 0,99 × buttock-popliteal 5 35,84 Cm

Panjang footrest 1,32 × 2 × lebar kaki 95 31,15 Cm

Lebar footrest 1,32 × panjang kaki 95 35,38 Cm

Tinggi footrest tinggi kursi - popliteal 5 19 Cm

Kemiringan

footrest

langsung ditentukan (kaki membentuk sudut 90° terhadap sumbu horizontal)

5, 50, 95 0 °

Dari data-data tersebut, dibuat desain kursi untuk kemudian dimasukkan ke dalam software Jack 6.1 membentuk virtual environment. Desain yang dibuat dapat dilihat pada gambar 4.40 sementara virtual environment yang terbentuk dapat dilihat pada gambar 4.41.

Gambar 4.40. Desain Konsep 1

Gambar 4.41. Virtual Environment Simulasi Konsep 1

Virtual human kemudian ditempatkan pada virtual environment yang ada seperti ditampilkan pada gambar 4.42.

Gambar 4.42. Posisi Virtual Human Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95 (Kanan)

pada Virtual Environment Simulasi Konsep 1

Virtual human kemudian diberikan tugas seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.43 dan 4.44.

Gambar 4.43. Animation Window Simulasi Konsep 1 Model Persentil 5

Gambar 4.44. Animation Window Simulasi Konsep 1 Model Persentil 95

Analisis SSP kemudian dilakukan untuk menguji kapabilitas model. Hasil analisis SSP dapat dilihat pada gambar 4.45.

Gambar 4.45. Grafik Kapabilitas Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil 95

(Kanan) pada Simulasi Konsep 1

Kedua model memiliki nilai kapabilitas lebih dari 90% sehingga analisis dapat dilanjutkan untuk mengevaluasi nilai LBA, OWAS, dan RULA.

Gambar 4.46. Hasil Analisis Nilai LBA Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil 95

(Bawah) pada Simulasi Konsep 1

Dapat dilihat pada gambar 4.46 bahwa nilai LBA maksimum untuk model persentil 5 adalah sebesar 1.000 N. Nilai LBA maksimum ini dicapai pada saat model meletakkan setrika pada tempat setrika, seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.47.

Gambar 4.47. Model Persentil 5 saat Meletakkan Setrika pada Simulasi Konsep 1

Sementara itu, nilai LBA maksimum yang dicapai oleh model persentil 95 yang adalah sebesar 1.246 N dicapai saat model meletakkan pakaian pada rak pakaian 1 seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.48.

Gambar 4.48. Model Persentil 95 saat Meletakkan Pakaian pada Rak 1 pada

Simulasi Konsep 1

Nilai LBA maksimum kedua model dicapai pada postur yang berbeda. Pada saat meletakkan setrika, postur tubuh model persentil 5 lebih berbahaya karena antropometri model persentil 5 yang memang lebih kecil sehingga jangkauan tangan juga lebih terbatas dibanding model persentil 95. Terlebih lagi, dilihat dari jaraknya, jangkauan ke kanan (ke arah tempat setrika) memang lebih jauh dibanding jangkauan ke kiri (ke arah rak). Desain ini dibuat dengan pertimbangan bahwa jika penyetrika diposisikan berada di tengah-tengah meja setrika dengan area jangkauan yang sama, baik ke kiri maupun ke kanan, kaki penyetrika akan menabrak kaki meja.

Gambar 4.49. Hasil Analisis Nilai OWAS Model Persentil 5 (Atas) dan Persentil

95 (Bawah) pada Simulasi Konsep 1

Sama halnya dengan nilai LBA maksimum, nilai OWAS maksimum model persentil 5 dan 95 juga dicapai pada postur tubuh yang berbeda, yaitu postur saat meletakkan setrika pada model persentil 5 dan postur saat meletakkan pakaian di rak pada model persentil 95 seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.47 dan 4.48.

Dari gambar 4.49, dapat dilihat elemen-elemen nilai OWAS, yaitu seperti yang ditampilkan pada tabel 4.27.

Tabel 4.27. Elemen Nilai OWAS pada Simulasi Konsep 1

Persentil Punggung Tangan Kaki Beban Total

5 4 1 1 1 2

95 2 1 1 1 2

Masing-masing elemen OWAS di atas menunjukkan:

1. punggung model persentil 5 berada dalam kategori 4, di mana model melakukan kegiatan membungkuk dan memutar secara bersamaan. Sementara itu, punggung model persentil 95 berada dalam kategori 2, yaitu melakukan kegiatan sambil membungkuk;

2. tangan kedua model berada dalam kategori 1, di mana kedua tangan berada di bawah tinggi bahu;

3. kaki kedua model berada dalam kategori 1, di mana kegiatan dilakukan sambil duduk; serta

4. beban berada dalam kategori 1 yang berarti bahwa berat beban masih di bawah 10 kg.

Gambar 4.50. Hasil Analisis Nilai RULA Model Persentil 5 (Kiri) dan Persentil

95 (Kanan) pada Simulasi Konsep 1

Analisis RULA kedua model seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.50 sama-sama menunjukkan skala 6. Nilai RULA maksimum kedua model ini

didapat saat postur penyetrika sedang meletakkan pakaian pada rak. Adapun elemen-elemen RULA untuk kedua model disimpulkan pada tabel 4.28.

Tabel 4.28. Elemen Nilai RULA pada Simulasi Konsep 1

Kelompok A B Total Anggota Tubuh Upper Arm Lower Arm Wrist Wrist

Twist Neck Trunk

Nilai %5 5 2 3 2 3 1 6

%95 3 3 3 2 3 3 6

Elemen-elemen RULA yang ditampilkan pada tabel 4.28 mengacu pada hal-hal berikut:

1. Lengan atas model persentil 5 berada dalam kategori 5, di mana lengan atas menyimpang membentuk sudut lebih dari 90°. Sementara itu, lengan atas model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana lengan atas menyimpang membentuk sudut 45°-90°.

2. Lengan bawah model persentil 5 berada dalam kategori 2, di mana lengan bawah melakukan penyimpangan membentuk sudut lebih dari 100°. Sementara itu, lengan bawah model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana lengan bawah bekerja melewati garis tengah tubuh atau melakukan penyimpangan ke arah kiri melewati diameter tubuh.

3. Pergelangan tangan model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 3, di mana sudut yang terbentuk dari gerakan pergelangan tangan menekuk lebih dari 15°. 4. Perputaran pergelangan tangan kedua model berada dalam kategori 2, artinya perputaran yang terjadi sudah berada atau berada dekat dengan rentang perputaran yang dapat dilakukan oleh pergelangan tangan.

5. Leher model persentil 5 dan 95 berada dalam kategori 3, di mana leher menunduk sejauh lebih dari 20°.

6. Batang tubuh model persentil 5 berada dalam kategori 1, di mana batang tubuh berada dalam posisi tegak, sementara batang tubuh model persentil 95 berada dalam kategori 3, di mana batang tubuh membungkuk dalam jangkauan 20°-60°.

Tabel 4.29. Rekapitulasi Nilai Analisis Ergonomi Simulasi Konsep 1

Persentil LBA OWAS RULA

5 1.000 2 6

95 1.246 2 6

Tabel 4.29 menunjukkan rekapitulasi nilai LBA, OWAS, dan RULA simulasi konsep 1. Adapun hasil perhitungan PEI simulasi konsep 1 ini dapat dilihat pada tabel 4.30.

Tabel 4.30. Hasil Perhitungan PEI Simulasi Konsep 1 Persentil I1 I2 I3 Mr PEI

5 0,294 0,5 0,857 1,42 2,011

95 0,366 0,5 0,857 1,42 2,084

Perhitungan PEI konsep 1 menghasilkan nilai di bawah nilai PEI kondisi aktual. Hal ini berarti bahwa konsep 1 telah lebih ergonomis dibanding kondisi aktual, walaupun perbedaan nilai PEI-nya tidak mengalami penurunan yang signifikan. Dalam rangka mempertimbangkan desain lain yang mungkin lebih ergonomis, maka dibuat konsep kedua dari desain meja setrika yang ada.

Dokumen terkait