Perhutanan sosial bukan hanya tentang akses legal masyarakat terhadap hutan. Hal ini bukan pula sekadar agenda bagi-bagi lahan hutan. Perhutanan sosial merupakan upaya pengelolaan hutan lestari yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Demikianlah pengertian yang harus selalu dipegang dalam implementasi perhutanan sosial.
Memastikan akses legal bagi masyarakat hanyalah tahapan pertama dari langkah panjang perhutanan
sosial. Langkah penting berikutnya adalah me-ngelola hutan dan ekosistemnya. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan pengelolaan hutan di lapangan (penanaman, perbaikan kondisi ekosistem, perlindungan, pengamanan, dll), dan pengendalian pengelolaan hutan merupakan rangkaian kegiatan penting yang harus dilaksanakan dalam perhutanan sosial di lapangan (on farm). Langkah inilah yang menjadi salah satu aktivitas utama MCA–Indonesia melalui para penerima hibahnya yang bekerja pada portofolio perhutanan sosial.
Salah satu contoh kegiatan pengelolaan hutan (on farm) dilakukan oleh Konsorsium LATIN bersama masyarakat dampingannya di Kerinci. Penerima hibah GP Project Window 2, MCA–Indonesia ini mengajak masyarakat untuk melaksanakan pena-naman, yang diawali dengan membuat pembibitan mandiri.
P
erhutanan Sosial untuk P
eles tarian dan K esejaht er aan Rak ya t 151 ____
19 Wawancara dengan Arif Aliadi (Koordinator Konsorsium Latin) pada Jumat, 25 Oktober 2017.
20 Wawancara dengan Suherman Ketua Adat Bukit Tinggai, pada 7 November 2017. Hal yang pertama dilakukan oleh Konsorsium
LATIN adalah memberikan sosialisi terkait perhutanan sosial dan bagaimana mengolah lahan agar dapat menjadi produktif dan berdampak baik bagi perekonomian masyarakat. Masyarakat diberikan pelatihan tentang tata cara pembibitan tanaman, yang diikuti praktik langsung. Pembibitan yang dilakukan disesuaikan dengan kecocokan lahan dan kebutuhan masyarakat setempat, di antaranya berupa tanaman buah-buahan dan kopi. Bibit pohon yang berhasil hidup akan ditanam di 15 titik pena-naman, dengan target masing masing titik akan ditanami 100.000 pohon. Saat ini penanaman yang dilakukan sudah 50% dan diharapkan pada akhir program, penanaman pohon bisa mencapai 95%.19
Lokasi penanaman yang difasilitasi Konsorsium LATIN sebagian besar berada di kawasan penyangga, bukan di kawasan hutan yang dikelola masyarakat melalui skema hutan adat. Seperti dipaparkan sebelumnya, pilihan untuk menanam di kawasan penyangga ini bukan tanpa alasan. Langkah ini diambil dengan tujuan agar kawasan hutan adat di Kerinci tetap dipertahankan sebagai kawasan hijau untuk penyimpan air. Pengelolaan hutan adat dilakukan berdasarkan pranata adat yang telah lama diakui dan disepakati oleh masyarakat adat. Penebangan pohon di kawasan hutan adat tidak boleh diperjualbelikan, namun hanya untuk kepentingan umum saja seperti membuat sarana ibadah dan sekolah, serta keluarga yang ingin membuat atau merenovasi rumah.20
Bunga Rampai K
emakmur
an Hijau
152
“Setiap satu pohon ditebang, masyarakat yang menebang harus mengganti 20 bibit tanaman serupa dan harus dirawat sampai umur enam bulan untuk memastikan tetap hidup. Apabila dalam jangka waktu enam bulan tersebut ternyata terdapat bibit yang mati, maka masyarakat harus mengganti dengan tanaman baru. Sete-lah selesai jangka waktu enam bulan, perawatan tanaman diserahkan pada pemangku adat.”
Selain itu, apabila diketahui terjadi penebangan pohon secara ilegal, maka pemangku adat akan memberi sanksi kepada pelaku, yaitu dengan menyembelih kambing dan harus dihidangkan kepada masyarakat adat. Selain itu, pohon yang ditebang akan disita oleh pemangku adat.21
Selain praktik pengelolaan lahan di lapangan, Konsorsium LATIN juga mendorong masyarakat Hutan Adat Bukit Tinggai untuk mengajukan sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML). Sertifikasi PHBML ini merupakan salah satu skema sertifikasi pengelolaan hutan yang bersifat voluntary (sukarela), yang dikembangkan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI).
Penyiapan pengajuan sertifikasi ini dilakukan melalui berbagai tahapan, dari penyusunan peta kawasan, penyusunan desain pengelolaan, Standard Operational Procedure (SOP) pengelolaan hutan, berbagai persyaratan untuk memenuhi standar, prinsip, dan kriteria sertifikasi PHBML. Upaya ini telah mendatangkan hasil dengan diraihnya sertifikat PHBML oleh Hutan Adat Bukit Tinggai ini. Harapannya, dengan diraihnya sertifikasi PHBML, akan lebih mudah bagi pengelola hutan adat Bukit Tinggai untuk mendapatkan insentif pengelolaan hutan lestari yang tersedia, seperti kompensasi
karbon dan jasa lingkungan.
Pembelajaran menarik dapat dilihat juga dari program yang dijalankan oleh Konsorsium SSS Pundi Sumatra. Konsorsium ini memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan hutan dengan mendorong perbaikan tehnik budidaya kopi robusta di Kabupaten Merangin, Jambi. Sebelumnya, masya-rakat cenderung asal-asalan dalam memanen biji kopi yang masih hijau. Konsorsium SSS Pundi Sumatra kemudian melatih masyarakat agar meng-gunakan teknik petik merah, yaitu memetik biji kopi yang berwarna sudah matang saja. Selain itu untuk memperbaiki kualitas tanaman kopi robusta dilakukan tanam sambung (okulasi). Peningkatan kualitas teknik budidaya kopi ini menjadi sangat penting karena pada era booming kopi seperti saat ini, kualitas biji kopi yang baik menjadi syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan pasar yang luas dan harga jual yang baik.
Pembelajaran lain dari keberhasilan program MCA–Indonesia dapat juga dilihat di Lombok. PT Gaia Eko Daya Buana (Gaia-dB) mendorong masyarakat yang telah memegang izin HKm pengelolaan hutan untuk melakukan penanaman pohon di areal kerja perhutanan sosial di Lombok Tengah. Sebenarnya, sebelum adanya pendampingan Gaia-dB, sudah banyak program penanaman pohon yang dicanangkan pemerintah. Namun demikian, tanaman dari program-program tersebut belum pernah ada yang berhasil hidup. Menurut masyarakat, pohon yang diberikan pemerintah kepada masyarakat, bukan merupakan bibit unggul. Jenis tanaman yang diberikan pemerintah seringkali
juga bukan jenis yang diinginkan masyarakat. Dengan demikian, kemauan masyarakat untuk merawat dan mempertahankan tanaman tersebut menjadi sangat rendah.22
____
21 Wawancara dengan Suherman Ketua Adat Bukit Tinggai, pada 7 November 2017.
P
erhutanan Sosial untuk P
eles tarian dan K esejaht er aan Rak ya t 153 ____
23 Wawancara dengan Budi Setiawan dari Gaia-dB pada 9 November 2017. Melihat situasi tersebut, Gaia-dB mencoba melakukan strategi yang berbeda. Fasilitator membebaskan kelompok tani mengusulkan jenis tanaman yang diinginkan dan yang diyakini cocok dengan kondisi tanah di areal perhutanan sosial tersebut. Kebebasan dalam menentukan jenis tanaman ini menimbulkan antusiasme di kalangan anggota kelompok. Pada akhirnya Gaia-dB juga menitipkan tanaman endemik yang dilindungi yaitu kruing, untuk ditanam di antara bibit MPTS yang jenisnya telah dipilih oleh anggota kelompok tersebut. Tanaman tersebut ditanam di lima desa lokasi proyek, masing-masing desa menanam 30.000 bibit, dari total tersebut ada sekitar 5.000-10.000 tanaman kruing per-desa.23
Selain memfasilitasi penanaman MPTS dan pohon kruing, Gaia-dB juga memfasilitasi pengusulan sertifikasi dengan skema PHBML, seba- gaimana dilakukan Konsorsium LATIN di Jambi. Satu lagi skema sertifikasi yang didorong Gaia-dB untuk diimplementasikan di lokasi kerjanya adalah Sertifikasi Plan Vivo. Sertifikasi ini me-rupakan program Layanan Pembayaran untuk Pembangunan Ekosistem (PES) berbasis masyarakat
yang mendukung petani pedesaan dan kelompok masyarakat untuk mengelola sumber daya alam yang lebih baik. Standar ini dirancang untuk memastikan bahwa proyek Plan Vivo menguntungkan mata pen-caharian, meningkatkan ekosistem, dan melindungi keanekaragaman hayati. Plan Vivo menyediakan kerangka kerja untuk transaksi layanan ekosistem yang setara dengan masyarakat dan memungkinkan akses ke berbagai sumber pendanaan dan pasar untuk layanan ekosistem, termasuk kredit karbon sukarela.
“Untuk memenuhi standar PHBML dan Plan Vivo, masyarakat dengan fasilitas dari Gaia-dB membuat perencanaan pengelolaan hutan. Sedangkan untuk kegiatan monitoring perkembangan pohon yang ditanam diterapkan sistem MRV (Measurement, Reporting, and
Verification). Sistem monitoring terhadap
perkembangan tanaman tersebut dilaku-kan setiap satu bulan sekali. Sampai saat ini, tanaman yang hidup sekitar 75%.”
Bunga Rampai K
emakmur
an Hijau
154