Oleh Dewi Salistina, M.A. DPL KKN Ngadipuro Wonotirto Blitar
A
pa yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik, dalam jangka waktu 40 hari? Mungkin pertanyaan ini yang pada awalnya menggema dalam benak para mahasiswa peserta KKN. Terbatasnya waktu dan begitu banyaknya masalah sosial yang dihadapi menjadi sebuah tantangan tersendiri yang membuat mereka mau tidak mau memerah pikiran, dan menggali ide-ide kreatif untuk berkontribusi dalam menanggulangi berbagai masalah yang terpampang di depan mata. Kegiatan KKN benar-benar terasa sebagai ujian awal sebelum mereka benar-benar melaksanakan ujian akhir (skripsi), yang mengukuhkan kelayakan mereka untuk mendapatkan gelar sebagai sarjana.Tantangan itu pula yang dirasakan oleh para peserta KKN yang mendapat lokasi penempatan di desa Ngadipuro. Tantangan yang paling nyata dihadapi adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam pendidikan. Banyak dari masyarakat Ngadipuro yang hanya lulusan SMP. Bagi mereka kemampuan membaca dan menulis serta berhitung dalam taraf pendidikan SMP sudah lebih dari cukup sebagai bekal dalam berkehidupan. Bahkan, menurut anggapan mereka, justru keterampilan dalam bekerja lebih penting karena dapat dijadikan bekal untuk menopang kehidupan. Fenomena ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat Ngadipuro menetapkan standar kedewasaan bagi anak-anak mereka. Bila seorang remaja sudah terampil menebang tebu maka mereka dianggap sudah
Perjuangan Memberdayakan Masyarakat: Catatan Dosen IAIN Tulungagung
dewasa, sehingga dipercaya sudah siap pula untuk menikah dan menjadi kepala rumahtangga. Hal ini pula mungkin yang menjadi salah satu sebab tingginya angka pernikahan dini di wilayah ini.
Upaya untuk mengubah pandangan masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin tidak mudah bila dibenturkan pada kenyataan bahwa ternyata tidak semua lulusan S1 dan menjadi sarjana dapat terserap dalam lapangan pekerjaan yang memadai. Pendidikan formal yang membutuhkan waktu lama, yaitu 16 tahun untuk sampai pada jenjang perguruan tinggi, ditambah dengan biaya pendidikan yang tidak murah, membuat masyarakat semakin yakin bahwa bersekolah sampai SMP kemudian bekerja adalah jalan pintas nan efektif dan efisien untuk menggapai kehidupan yang lebih sejahtera. Alih-alih menghabiskan waktu belasan tahun untuk bersekolah dan kuliah, mereka memilih untuk bekerja lebih dini agar dapat berpenghasilan lebih dini juga. Dengan adanya potensi perkebunan, khususnya perkebunan tebu, potensi tambang (tanah liat, batu, dll), maka tingkat perekonomian masyarakat Ngadipuro bisa dikatakan cukup baik. Lagi-lagi, realitas membuktikan bahwa tingkat pendidikan yang rendah tidak kemudian selaras dengan tingkat perekonomian yang rendah pula. Lalu, pertanyaan besarnya; masihkah pendidikan penting di sini? Haruskah menunggu belasan tahun, menghabiskan biaya jutaan rupiah, untuk kemudian mendapatkan gelar sarjana, dan setelah itu masih harus berjibaku dengan ribuan pelamar bergelar sarjana hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Betapa tidak praktisnya. Mungkin begitu pemikiran sebagian masyarakat di desa Ngadipuro.
Bila tujuan dari mengenyam pendidikan adalah semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mencapai kesejahteraan secara ekonomi, maka mungkin apa yang diyakini oleh masyarakat Ngadipuro ada benarnya. Banyak jalan ke Roma, begitu kata pepatah. Ada begitu banyak cara untuk menjadi mapan secara finansial tanpa harus bersusah-payah meniti jalur pendidikan. Asal mau bekerja keras, tekun bekerja, siapapun bisa menjadi kaya tanpa harus bergelar sarjana. Lalu apa istimewanya pendidikan? Seberapa pentingkah ia hingga layak diperjuangkan meski jalannya terjal dan mendaki? Pertanyaan yang terdengar sederhana, yang lahir dari lisan
orang yang sederhana, namun ternyata untuk menjawabnya membutuhkan proses yang tidak sederhana .
Menurut UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdsan dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat. Merujuk pada pengertian pendidikan di atas, maka pendidikan informal saja belum cukup, karena diperlukan pula suasana dan proses yang mendukung pembelajaran sehingga dapat berjalan dengan efektif. Sebuah proses pendidikan bila hanya dilaksanakan secara formal saja, akan timpang. Karena peserta didik perlu juga merasakan interaksi sosial dengan masyarakat agar dapat menyerap dan mendialogkan pengetahuan yang telah diperolehnya dengan situasi dan budaya dalam masyarakat.
Ada banyak manfaat dapat dipetik dari proses pendidikan. Pendidikan dapat mengasah potensi dan bakat seseorang sehingga dapat berkembang sebagaimana mestinya, dan menebar manfaat yang luas untuk diri dan masyarakat. Potensi dan bakat yang teraktualisasikan dengan baik akan membuka pula peluang karir yang bagus di masa depan. Hal ini tentu akan membawa dampak yang baik bagi kesejahteraan individu, bahkan masyarakat.
Pentingnya pendidikan selanjutnya, adalah untuk menjadikan manusia berkepribadian dan berkarakter yang baik. Pendidikan dapat membantu manusia menjadi makhluk yang lebih beradab, yaitu dengan pengetahuan yang memadai untuk memahami dirinya dan lingkungan. Pengetahuan tentang diri dan lingkungan ini membuat manusia dapat mengembangkan perspektif yang jernih dalam memandang kehidupan sehingga tidak mudah galau dalam menghadapi permasalahan dan tidak pula mudah terprovokasi untuk melakukan hal-hal yang dapat mengganggu ketentraman umum.
Melalui pendidikan pula, manusia dapat didorong untuk mencari hal-hal yang baru, dengan kreativitas dan inovasi, maka individu tempaan pendidikan akan mampu bersaing di era yang semakin kompetitif saat ini. Pendidikan memungkinkan
Perjuangan Memberdayakan Masyarakat: Catatan Dosen IAIN Tulungagung
manusia untuk berpikir out of box, sehingga dapat melihat banyak alternatif solusi dari berbagai macam tantangan zaman. Dapat kita bayangkan, apa yang akan terjadi bila dalam suatu masyarakat hanya mengandalkan keterampilan bekerja untuk bertahan hidup. Sementara zaman terus berubah, teknologi terus berkembang. Apa yang dahulu dapat menjadi gantungan dalam mata pencarian, pada akhirnya bisa hilang tergilas kemajuan zaman. Kembali pada kasus masyarakat di desa Ngadipuro. Saat ini mungkin usaha tambang bisa menghidupi mereka, namun pertambangn adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui, lama kelamaan dapat habis. Bila telah habis, tertutup pula satu mata pencarian penduduk desa Ngadipuro. Akan halnya perkebunan tebu, mungkin bisa lebih dapat diandalkan, karena dapat diperbarui bila telah dipanen. Namun kelangsungan usaha perkebunan tebu juga tidak dapat dipastikan akan bertahan dalam jangka waktu yang lama. Apalagi dengan dibukanya keran perdagangan bebas, maka tidak mustahil industri gula tanah air diserbu oleh gula impor yang jauh lebih murah, belum lagi lahan tebu yang makin lama makin menyempit. Singkatnya, banyak hal dapat berubah seiring dengan perguliran waktu. Maka diperlukan bukan hanya keterampilan, namun juga kecerdasan, pengetahuan, kebijaksanaaan, dan kreativitas, yang dapat diperoleh melalui tempaan pendidikan. Semua itu merupakan modal untuk menghadapi tantangan zaman, bukan hanya untuk generasi sekarang, tapi juga generasi yang akan datang.
Terkait dengan KKN mahasiswa, maka program kuliah kerja nyata merupakan sebuah proses take and give dengan masyarakat. Mahasiswa yang selama ini berkutat dengan teori di bangku perguruan tinggi, dapat membumikan ilmunya dengan praktek langsung dan mencerap pengalaman dari masyarakat yang lebih tahu asam garam kehidupan. Di lain pihak, melalui program KKN, masyarakat juga dapat bersentuhan dengan metode-metode, teknologi, dan ide-ide segar dari buah pikir dan kreativitas mahasiswa. Kampus-Desa, mahasiswa-masyarakat, ilmu-pengalaman, Paduan dari hal-hal tersebut menghasilkan karya nyata yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.
Selain itu, yang tak kalah penting, program KKN juga diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat bahwa
pengalaman dan ketrampilan saja memang memadai untuk meningkatkan taraf perekonomian, namun belum cukup untuk mempersiapkan generasi yang akan datang dalam menghadapi era yang kian kompetitif. Kenyataan bahwa keluarga yang kurang memprioritaskan pendidikan akan melahirkan generasi yang abai pula dengan pentingnya pendidikan, hanya akan membentuk sebuah lingkaran setan yang tak berujung. Maka diperlukan sebuah upaya untuk memutus lingkaran setan tersebut, sehingga kelak generasi berikutnya dapat mulai menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Pada titik inilah kita bisa melihat bahwa program KKN bukan sekadar program Kuliah Kerja Nyata dalam arti mahasiswa mempraktekkan ilmunya di lapangan, namun juga sebuah momentum untuk membuka mata masyarakat bahwa dalam kehidupan, ketrampilan saja tidak cukup. Diperlukan sinergi antara ketrampilan dan pendidikan, sehingga dapat menjadi bekal yang memadai dalam menghadapi kerasnya tantangan zaman. Maka mari bersama mewujudkan generasi SAKTI, sebagaimana disenandungkan oleh grup qasidah Nasida Ria, yaitu generasi yang cerdas, tangkas dan kreatif, generasi yang diyakini akan mampu eksis dalam zaman yang kian sulit.