TINJAUAN PUSTAKA
2.5.4.3 Menghitung [OH - ] dan Kh Larutan Garam yang Tersusun dari Asam Lemah dan Basa Lemah
Untuk menentukan H+ garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah, terlebih dahulu harus menentukan harga Kh, Perhatikan contoh berikut ini!
CH3COONH4(aq) CH3COO–(aq) + NH4+(aq) Reaksi Hidrolisis :
CH3COO-(aq) + NH4+(aq)+ H2O(l) CH3COOH(aq) + NH4OH(aq) Kh = CH3COOH NH4OH
[CH3COO−][NH4+]
Untuk menentukan harga Kh, persamaan tersebut dikalikan dengan
[OH−] [OH−] [H+] [H+],sehingga Kh = CH3COOH NH4OH [CH3COO−][NH4+] [OH−] [OH−] [H+] [H+] Kh = CH3COOH [CH3COO−][H+] NH4OH [NH4+][OH−]x[OH −][H+] CH3COOH [CH3CO O−][H+] adalah 1/ Ka NH4OH [NH4+][OH−]
adalah 1/Kb
[OH−][H+] adalah Kw Maka harga Kh adalah
Kh =
1Ka
x
1Kb
x Kw =
KwKax Kb
Untuk menentukan [H+] perhatikan kembali persamaan untuk Kh, Kh = CH3COOH NH4OH
[CH3COO−][NH4+]
Pada reaksi hidrolisis, CH3COOH selalu sama dengan NH4OH dan [CH3COO−] selalu sama dengan [NH4+] sehingga
Kh = CH3COOH NH4OH [CH3COO−][NH4+] =
CH3COOH 2
[CH3COO−]2
Jika persamaan tersebut dikalikan dengan [H+]2
[H+]2 akan diperoleh Kh = CH3COOH 2 [CH3COO−]2 [H+]2 [H+]2 = CH3COOH [CH3COO−][H+] 2 [H+]2 Kh = 1 2 [H+]2 [H+]2 = Kh x Ka2 Jika harga Kh diganti dengan Kw
Ka x Kb , akan diperoleh [H+]2 = Kw (Ka x Kb)x Ka 2 =Kw Kb x Ka Jadi, H+ = Kw Kb x Ka (Sutresna. 2006: 122-125)
2.6 Kerangka Berpikir
Hidrolisis garam merupakan sebagian materi kimia yang dinilai sulit dipahami oleh peserta didik. Hal ini berdasarkan banyak siswa yang belum mencapai kompetensi dasar yang diharapkan, sehingga menyebabkan hasil belajar
siswa rendah. Rendahnya hasil belajar siswa dapat ditelusuri dari berbagai faktor penyebabnya antara lain pembelajarannya cenderung didominasi oleh guru yang menyebabkan siswa menjadi pasif, banyak siswa yang tidak suka dan menganggap sulit mempelajari materi kimia termasuk juga materi hidrolisis garam. Materi hidrolisis garam berisi konsep dan hafalan yang membutuhkan kemampuan berpikir. Oleh karena itu untuk mengajarkan materi hidrolisis garam kepada siswa diperlukan metode pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam memperoleh pengetahuan atau konsep sendiri. Perolehan konsep sendiri ini akan mempermudah siswa dalam memahami suatu materi dan akan tahan lama dalam ingatan siswa. Selain itu dengan menemukan konsep-konsep sendiri akan melatih siswa berkembang baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik yang pada akhirnya dapat meningkatkan ketercapaian kompetensi dasar siswa.
Salah satu model pembelajaran yang membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman konsepnya, maupun psikomotorik adalah model pembelajaran POE. Penulis memilih menggunakan model pembelajaran POE ini karena pada materi hidrolisis garam terdapat konsep yang memerlukan pengamatan sehingga diharapkan siswa dapat mengamati gejala-gejala, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, dan menarik kesimpulan. Dengan demikian, konsep yang diperoleh siswa akan melekat dalam ingatannya, serta siswa akan memahami apa yang dipelajarinya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yaitu penerapan model pembelajaran POE untuk meningkatkan ketercapaian kompetensi dasar siswa pada materi hidrolisis garam.
Gambar 2.2. Kerangka Berpikir
2.7 Desain Pembelajaran Model POE
Gambaran mengenai tahapan model POE dalam pembelajaran kimia pada materi hidrolisis garam dapat disajikan pada Tabel 2.1.
siswa pasif, tidak suka dan menganggap sulit mempelajari
materi hidrolisis garam
Ketercapaian kompetensi dasar siswa rendah
Model Pembelajaran POE
melibatkan keaktifan siswa dalam memperoleh pengetahuan atau konsep sendiri melalui pengamatan yang nantinya akan mempermudah
siswa dalam memahami suatu materi
Ketercapaian kompetensi dasar
meningkat
Soal tes (kognitif) Lembar observasi psikomotorik dan afektif
(psikomotorik dan afektif) Pembelajaran pada materi
hidrolisis garam pembelajarannya cenderung
Tabel 2.1 Ringkasan Deskripsi Kegiatan Guru dan Siswa dalam Melaksanakan Model Pembelajaran POE
Tahapan Model POE
Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Predict Memberikan apersepsi terkait materi yang akan
dibahas dengan memberikan permasalahan-permasalahan untuk setiap indikator. 1. Bagaimana ciri-ciri larutan garam yang mengalami hidrolisis? 2. Mengapa larutan
garam ada yang bersifat netral, asam, dan basa?
3. Bagaimana cara menghitung larutan garam?
Memberikan prediksi atau jawaban sementara bedasarkan permasalahan yang diambil dari pengalaman siswa, atau buku panduan yang memuat suatu fenomena terkait materi yang akan dibahas.
Indikator 1
Menggolongkan garam yang mengalami hidrolisis dan tidak terhidrolisis
Indikator 2
Memberikan alasan suatu garam memiliki sifat yang berbeda
Menuliskan reaksi ionisasi dan reaksi ion terhidrolisis dari masing-masing garam yang sudah diketahui nilai pH Indikator 3
Menghitung pH larutan garam.
Observe Sebagai fasilitator dan mediator apabila siswa mengalami kesulitan dalam melakukan pembuktian.
Melakukan observasi atau pengamatan dengan melakukan eksperimen atau demonstrasi yaitu, Indikator 1
Menentukan pH dari masing-masing larutan yang apabila dicampur membentuk campuran larutan garam terhidrolisis dan campuran larutan garam tidak terhidrolisis.
Indikator 2
Menentukan sifat larutan garam dengan menggunakan kertas lakmus dan indikator universal
Indikator 3
Menentukan pH berbagai larutan garam dengan indikator universal. Kemudian siswa dituntut menggolong-nggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan dan menarik kesimpulan dari eksperimen tersebut.
Explain Memfasilitasi jalannya diskusi apabila siswa mengalami kesulitan. Memberikan koreksi dan
Mendiskusikan fenomena yang telah diamati secara konseptual-matematis, serta membandingkan hasil observasi dengan prediksi sebelumnya bersama
penguatan pada prediksi dan hasil observasi siswa.
kelompok masing-masing.
Mempresentasikan hasil observasi di kelas, serta kelompok lain memberikan tanggapan, sehingga diperoleh kesimpulan dari permasalahan yang sedang dibahas. Indikator 1
Menentukan ciri-ciri larutan yang mengalami hidrolisis dari pengamatan, dan membenarkan hasil prediksi.
Indikator 2
Menentukan sifat garam yang terhidrolisis dan menuliskan persamaan reaksi ionisasi dari pengamatan, dan membenarkan hasil prediksi.
Indikator 3
Mengaitkan hasil pengukuran pH dari pengamatan dengan hasil perhitungan pH dari persamaan. Desain model pembelajaran POE seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.1 menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model POE ini menekankan keaktifan siswa pada setiap tahap. Tahap predict guru memberikan lembar kerja siswa yang berisi permasalahan-permasalahan sesuai indikator yang ada. Kemudian setiap individu siswa memprediksi jawaban dari permasalahan tersebut. Tahap observe, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan praktikum. Siswa melaksanakan praktikum sesuai dengan petunjuk praktikum yang ada pada LKS. Tahap explain, siswa diminta untuk membandingkan hasil observasi dengan prediksi sebelumnya serta memberi penjelasan dan akhirnya dapat menyelesaikan masalah yang mereka prediksikan.