1. UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Langkah-langkah untuk Memperkuat Desa dalam Menempuh Jalan Pembaruan Desa
Ada banyak aspek yang dapat kita kaji mengenai UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Tulisanini akan focus pada isu pengelolaan pembangunan desa yang transparan dan akuntabel. Salah satu amanat undang-undang ini adalah desentralisasi fiskal dimana pemerintah pusat mempercayai pemerintah desase bagai pemerintahan terdepan atau actor utama dalam pembangunan desa. Ini memberikan angina segar baru bagi pembangunan perdesaan. Bagaimanapun, pihak yang paling tahu mengenai kebutuhan masyarakat desa tentu pemerintah desa itu sendiri. Selain itu, Selama ini memang terasa sangat sulit bagaimana sebuah usulan bertarung dengan usulan lainnya pada Musrembang Desa, Musrembang Kecamatan, Musrembang Kabupaten sampai masuk pada dokumen APBD. Sehingga banyak usulan yang bahkan sudah sampai puluhan tahun belum juga terdanai. Dengan adanya transfer
anggaran dari pusat ke desa ini akan sangat membantu dalam percepatan pembangunan desa.
Pada sisi lain, implementasi undang-undang ini mempunyai tantangan besar, yaitu: apakah sejauh ini pemerintah desa sudah siap? Apakah pemerintahan desa sudah mampu menyusun dokumen perencanaan pembangunan (RPJM) yang partisipatif? Sejauhmana pemerintah desa mampu mengelola pembangunan partisipatif? Apakah pemerintah desa sudah punya sistem pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel? Pertanyaan- pertanyaan seperti ini sering muncul dalam diskusi-diskusi. Dan jawaban saya untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah pemerintah desa masih jauh dari mampu untuk mengelola pembangunan dan keuangan secara transparan dan akuntabel. Pengalamans aya dua bulan terakhir memfasilitasi lokakarya perencanaanstrategis BKAN (Badan Kerja Antar Nagari)1 untuk
sepuluh kecamatan yang ada di KabupatenPasaman Barat Provinsi Sumatera Barat, cukup memberikan gambaran kepada saya tentang bagaimana pengelolaan pemerintahan baikdi level nagari maupun kecamatan masih belum transparan dan akuntabel.
Guyonan yang mengatakan “desentralisasi juga mentransfer korupsi dari pusat ke daerah-daerah,” terasa ada benarnya juga. Tidak sedikit kepala daerah yang setelah habis masa jabatannya kemudian masuk bui. “Saya khawatir lima tahun mendatang penjara penuh oleh kepala-kepala desa, “saya sering mengingatkan hal ini kepada pemerintah desa dalam berbagai kesempatan. Dan saya meyakini bahwa hal ini adalah kekhawatiran banyak orang. Saya melihat, setidaknya ada 3 hal yang harus dilakukan supaya kekhawatiran ini tidak terjadi. Pertama, penguatan kapasitas dan mentalitas pemeritah desa.Kedua, peningkatan kesadaran kritis masyarakat sebagai kontrol sosial. Ketiga, pendampingan.
2. SIDeKa (Sistem Informasi Desa dan Kawasan) dalam konteks pemberdayaan desa: analisisnya tentang kedudukan SIDeKa dalam mempercepat gerak kebangunan desa-desa, peran pemerintah pusat dan daerah, peran pemerintah desa, peran warga desa, dan peran pendamping.
Peningkatan kapasitas pemerintah desa maupun masyarakat yang paling utama guna mewujudkan tata kelola pembangunan yang transparan dan akuntabel adalah tentang keterbukaan informasi publik. Pemerintah desa harus sadar bahwa mereka ber kewajiban menyediakan dan bahkan mempublikasikan informasi public sebagaimana disebutkan dalam UU No. 14 Tahun 2008. Prinsip transparansi dan akuntabilitas juga tertuang dalam undang-undang desa pasal 242 . Kemudian, masyarakat desa harus sadar bahwa
mereka punya hak untuk mendapatkan informasi sebagaimana disebutkan dalam UU No. 6 tentang Desa pasal 68 ayat 13. Dengan
demikian diharapkan pemerintah desa dapat menerapkan good governance dan masyarakat dapat melakukan control sosial.
SIDeKa (Sistem Informasi Desa dan Kawasan) merupakan bagian penting dalam penerapan transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan desa atau kawasan. Meskipun SIDeKa tidak hanya bicara tentang transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa. Kalau kita merujuk kepada Undang-Undang Desa Pasal 864 tentang Sistem Informasi
Pembangunan Desadan Pembangunan KawasanPerdesaan, secara prinsip, ada dua hal yang dikembangkan oleh SIDeKa. Pertama, bagaimana pemerintah nagari mendapatkan akses informasi dari pemerintah kabupaten/kota. Kedua, bagaimana pemerintah nagari
memberikan akses informasike pada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
kabupaten/kota perlu menyediakan sarana dan prasarana pendukung, baikituperangkat lunak, perangkat keras, jaringan maupun sumberdaya manusianya. Harus ada satu orang khusus yang bertanggung jawab untuk menjalankan sistem informasi ini di setiap nagari. Dan mereka harus dibekali dengan kemampuan pengelolaan sistem informasi dengan menggunakan website, media sosial, email dan lain sebagainya serta kemampuan dasar untuk menulis. Tantangan lainnya adalah bagaimana dengan desa-desa tertinggal yang jangankan jaringan internet, listrik pun tidak ada? Kalaupun bisa menyediakan listrik dengan genset kemudian jaringan internet dengan satelit khusus -yang tentu berbiaya mahal-, bagaimana masyarakat desa bisa mengakses informasi tersebut? Ini merupakantantangan yang mesti kita pikirkan juga ke depan.
Mengingat pentingnya keberadaan SIDeKa ini, maka sudah seharusnya SIDeKa menjadi urusan strategis yang dituangkan dalam RPJM Desa. Sehingga SIDeKa menjadi program yang berkelanjutan di desa, denganatautanpa dukungan dari pihak luar.
Pendamping mempunyai peran yang sangat penting dalam hal ini. Pertama, memfasilitasi dan koordinasi dengan pemerintahan kabupaten/kota untuk menarapkan program SIDeKa ini dan menghimbau pemerintah desa untuk juga terlibat dalam program ini. Kedua, memfasilitasi dan memperkuat kapasitas pemerintah desa untuk mengelola sistem informasi. Ketiga, memberikan pendidikan kritis kepada masyarakat tentang hak informasi.
3. Skil dan Pengetahuan yang Harus Dikuasai Pendamping serta Rencana Pribadi untuk Mendapatkan Pengetahuan dan Ketrampilan Tersebut.
Kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pendamping adalah tentang perencanaan pembangunan desa, teknik fasilitasi,
advokasi, pengetahuan tentang UU Desa dan UU Keterbukaan Informasi Publik serta PP pendukungnya, dan kemampuan dasar dalam mengelola sistem informasi. Sebagian dari kemampuan ini sudah saya miliki. Namun kemampuan ini akan terus saya tingkatkan dengan mengkuti berbagai pelatihan yang terkait, mengikuti diskusi- diskusi, serta membaca berbagaili teratur. Untuk itu, sangat diharapkan peran Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan dalam memfasilitasi pelatihan-pelatihan serta ruang-ruang diskusi untuk peningkatan kapasitas pendamping.
4. Rencana Kerja dalam Kerangka Program SIDeKa
Langkah kerja yang perlu dilakukanpertamasekaliadalah sosialisasi dan lobi kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menerapkan program SIDeKa serta mendorong lahirnya Perda atau minimal Perbup tentang Sistem Informasi Pembangunan Desa dan Pembangunan Kawasan Perdesaan. Dengan adanya Perda atau Perbup ini akan memperkuat aturan tentang pelaksanaan SIDeKa. Langkah kedua yaitu memperkuat pemerintah desa dalam pengelolaan sistem informasi, baik dalam hal penyediaan sarana prasarana pendukung maupun peningkatan sumberdaya manusianya. Langkah ketiga yaitu mendorong adanya Perdes tentang SIDeKa serta menjadikan SIDeKa menjadi agenda prioritas di dalam RPJM Desa. Langkah keempat yaitu memberikan pendidikan kritis kepada masyarakat tentang hak informasi sehingga masyarakat diharapkan dapat melakukan kontrol sosial.
Catatan kaki
1 Sama dengan BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa). Nagari adalah sebutan
2 Penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan asas:
a. Kepastian hukum;
b. tertib penyelenggaraan pemerintahan; c. tertib kepentingan umum;
d. keterbukaan; e. proporsionalitas; f. profesionalitas; g. akuntabilitas;
h. efektivitas dan efisiensi; i. kearifan lokal;
j. keberagaman; dan k. partisipatif.
3 Masyarakat desa berhak:
a. meminta dan mendapatkan informasi dari Pemerintah Desa serta mengawasi kegiatan penyelenggaraan PemerintahanDesa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa;
4 UU Desa Pasal 86
1) Desa berhak mendapatkan akses informasi melalui sistem informasi Desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan sistem
informasi Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan.
3) Sistem informasiDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumberdaya manusia.
4) Sistem informasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi data Desa, data Pembangunan Desa, Kawasan Perdesaan, sertainformasi lain yang berkaitandengan Pembangunan Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan.
5) Sistem informasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola oleh Pemerintah Desa dan dapat diakses oleh masyarakat Desa dan semua pemangku kepentingan.
6) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyediakan informasi perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota untuk Desa.
HISAM SETIAWAN
[email protected] [Indragiri Hilir – Riau]1. Pandangan umum kawan-kawan tentang desa, UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa dan langkah-langkah untuk memperkuat desa dalam menempuh jalan pembaruan desa.
Terbitnya UU No 6 Tahun 2014 membuka peluang besar untuk Desa di Indonesia melakukan pembenahan dari semua sektor. Saat ini bagaimana sebenarnya kesiapan warga dan pemerintahan desa menyikapi dan mengambil peluang ini. Dimana kondisi selama ini, bahkan dimulai sesaat kemerdekaan negara republik indonesia, pembangunan desa lebih banyak diatur oleh pemilik kepentingan. T idak ada kebebasan warga dan pemerintah desa berhak menentukan nasib dan kesejahteraan desa tersebut.
Seperti tertuang dalam UU Desa No 6 Tahun 2014 Pasal 1 : Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam konteks pengembangan desa untuk wilayah Provinsi Riau, jelas disebutkan dalam UU Desa tentang defenisi desa yaitu “kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan”. Namun pada kenyataanya hampir sebagain besar desa-desa di Provinsi Riau belum memilki batas-batas wilayah desa yang dituangkan ke dalam bentuk Peta Desa. Sehingga yang terjadi, bagaimana mungkin pemerintah desa dan wargadesa bisa menyusun dan merencanakan pengembangan dan pembangunan desa tanpa mengetahui batas wilayah yang menyimpan seluruh potensi desa mereka yang pastinya akan sangat terkait dengan upaya pemanfaatan potensi desa dalam mensejahterkan warga desa tersebut. Ditambah dengan penentuan izin-izin atas perkebunan dan industri kehutanan menambah polemic atas status batas-batas wilayah desa tersebut yang sampai saat ini masih dalam proses penggodokan di level nasional (Konflik Agraria – One Map Policy).
Hal ini menjadi yang paling mendasar dalam upaya pengembangan desa khususnya di wilayah Provinsi Riau. Dan dengan mengandalkan UU Desa No 6 Tahun 2014, hal ini menjadi pedoman untuk dapat menyelesaikan sengkarut yang terjadi selama ini dalam rencana pengembangan desa-desa di Riau.
2. Pandangan umum kawan-kawan tentang SIDeKa (Sistem Informasi Desa dan Kawasan), dalam konteks pemberdayaan desa. Peserta diminta pandangan dan analisisnya, tentang kedudukan SIDeKa dalam mempercepat gerak kebangunan desa-desa. Apa yang harus dilakukan pemerintah (baik pusat maupun daerah), apa yang harus dilakukan pemerintah desa, apa yang harus dilakukan warga desa, dan apa yang harus dilakukan para pendamping.
Sistem Informasi Desa & Kawasan (SIDeKa) menjadi pintu masuk dalam upaya penyelesaian mendasar permasalahan di Desa. Perencanaan pembangunan desa melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes), Rencana Kerja Pembanguan Desa (RKPDes) dan Anggaran Pendapatan & Belanja Desa (APBDes) tanpa didasari oleh data-data dasar yang dibutuhkan sering sekali membuat perencanaan pengembangan desa tidak terarah dan tidak sesuai dengan yang dibutukan oleh desa tersebut. Melalui SIDeKa ini dapat menjadi pedoman dan arahan serta tujuan desa dalam merencanakan pembangunan oleh desa tersebut.
Pemerintahan Pusat & Daerah dapat mengawasi serta mendukung upaya – upaya yang dilakukan pemerintahan desa dalam proses pembangunan dan pembaruan desa, tanpa harus melupakan hak dan wewenang desa dalam mengatur dan mengurus desa.
Warga desa dapat berperan aktif dan terlibat dalam penyusunan rencana dan arah pembangunan desa melalui penerapan Sistem Informasi Desa & Kawasan (SIDeKa).
3. Tentang segi-segi apa yang kawan kawan(para peserta) harus kuasai, atau pengetahuan tentang apa saja yang harus kuasai/dimiliki, sedemikian rupa sehingga kerja-kerja pendampingan menjadi lebih efektif (langkah pendampingan sampai kepada maksud). Apa rencana pribadi kawan kawan untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tersebut. Apa saran kepada Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan.
Aspek yang harus dipahami dalam melakukan kerja-kerja pendampingan desa yaitu mengenal lebih jauh tentang kondisi terkini desa tersebut. Terdapat 3 kategori desa dengan indikator “Keselamatan Warga Desa” diantaranya yaitu: 1. Spot Berdaya Pulih
2. Survive (bertahan) 3. Collaps (Pasrah). Hal ini dapat diketahui dengan melakukan analisa terhadap: a. Tata Produksi & Konsumsi, b. Tata Kelola Kawasan c. Tata Guna Lahan, d. Tata Hukum Pengaturan & Kelembagaan e. Tata Pembelajaran di desa. Tentunya kondisi desa tidak akan sama tergantung dengan karakteristik masing-masing desa.
Tentunya beberapa langkah ini sangat dibutuhkan pendekatan partisipatif dan pendampingan yang tepat untuk dapat mewujudkan pembaruan desa.
4. Tentang rencana kongkrit Kawan, baik dalam kerangka pendidikan (pelatihan) maupun dalam kerangka program SIDeKa. Dalam hal ini setiap peserta diminta menyusun rencana kerja kongkrit untuk melakukan pengorganisasian SIDeKa.
Rencana kongkrit: Mengupayakan terlaksanakanya penentuan batas-batas wilayah desa yang akan menjadi lokasi kerja- kerja pendampingan yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat desa. Bisa saling berbagi bersama dengan teman-teman desa yang telah memiliki kemampuan untuk melaksanan hal tersebut. Hal ini menjadi modal utama dan dasar dalam rangka melakukan perencanaan dan penngembangan desa. Serta melakukan penhimpunan data-data dasar yang dibutuhkan dalam upaya perencanaan dan pengembangan desa
Melakukan kordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Kecamatan & Kabupaten di lokasi kerja pendampingan
Penyebarluasan isu terkait dengan permasalahan desa serta rencana dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan tersebut.
NENDRA ILYADI
[email protected] [Natuna – Kepulauan Riau]1. Pandangan saya tentang Desa mungkin hampir sama dengan pandangan orang pada umumnya. Jika melihat dari perjalanannya Desa yang dulunya pada masa Orde Baru, Desa dulunya hanya sebutan yang hanya sekedar ada. Namun setelah reformasi keberadaan Desa semakin jelas dan sangat di istimewakan sampai saat sekarang ini.
Dengan telah lahirnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa semakin memberikan kejelasan untuk Desa dalam penjalankan Pemerintahan dengan penuh kemandirian. Berkenaan dengan hal tersebut tentang Desa, maka perlu adanya langkah nyata dari segala lapisan, mulai dari pemerintah Pusat, pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Pemerntahan Desa serta semua lapisan masyarakat didalamnya guna untuk memajukan dan pembaruan Desa, adapun langkah-langkah yang yang harus diambil diantaranya :
· Melalui kewenangan yang telah diberikan oleh Pemerintah kepada Desa untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang bedasarkan asala usul, maka seharusnya Pemerintah Desa (Kepala Desa dan Aparat Desa) harus
memiliki dan berpemikiran untuk maju dengan mengembang dan menggali potensi Desa sehingga keberadaannya dapat menjadikan suatu hasil yang bermanfaat dan berguna serta meningkatkan pendapatan Desa.
· Sebuah pelatihan mengenai Studi perbandingan Desa dan Kota perlu dilakunan oleh pihak Pemerintah Kepada Kepala Desa, guna memberikan Kesadaran kepada Desa akan arti pentingnya Desa bagi kehidupan Kota.
· Peningkatan Sistem Informasi Bagi Desa-Desa yang berada pada daerah perbatasan atau pedalaman yang sangat terisolir. Karna dengan adanya sistem informasi yang baik dan lancer akan memudahakan terjalinnya suatu hubungan yang efektif dan Intens antar pemerintah Pusat/Daerah dengan Desa. Sehingga apa yang terjdi Di Desa cepat di ketahui oleh Pemerintah Pusat/Daerah.
· Memberikan pemahaman kepada masyrakat akan artipentinga partisivasi dalam segala hal yang menyangkut pembangunan Desa, baik itu perencanaan, pengendalian, pengawasan, dan evaluasi terhadap pembangunan Desa. Karna dengan itu semua akan menjadikan pembangunan Desa yang benar berguna bagi masyarakat.
2. Sistem Informasi Desa dan Kawasan yang disingkat SiDeKa menurut saya merupakan suatu tindakan nyata dari Pemerintah yang harus didukung dan dijalankan dengan baik guna mewujudkan Desa yang selama ini ketertinggalan dalam hal memperoleh sebuah infomasi. Dengan adanya SiDeKa ini diharapkan dapat membuka pintu bagi Desa dalam guna untuk ambil bagian dalam mengatur rumah tangganya sendiri, dan suatu kontribusi Desa dalam ikut serta menjadi bagian dari penyelesaian masalah-masalah bangsa.
Dalam mempercepat kebangunan Desa, SiDeKa mempunyai peran mendorong dan membuat suatu ide mengenai informasi, hal ini harus dengan menganalisa potensi dan kebutuhan Desa dengan cara turun langsung ke Desa-Desa sehingga apa yang dibuat dan apa yang dibutuhkan dapat sejalan.
Untuk mendukung program SiDeKa ini, adapun hal-hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat/Daerah yakni terlebuh dahulu mempasilitasi Desa dengan Jaringan dan akses Internet yang baik dan lancer. Hal ini guna untuk mempermudah bagi Desa dan Pemerintah dalam berbagi informasi.
Bagi pemerintah Desa adapun hal yang harus dilakukan adalah dengan segera membuat rencana pembangunan yang sipat nya berasal dari kemandirian Desa yang nantinya akan berdampak positive pada pertumbuhan perekonomian dan pembangunan Desa. Dengan demikian SiDeKa akan lebih mudah menampakkan perannya.
Berikutnya yang harus dilakukan oleh warga desa, dalam hal ini sebagai penerima atau yang mengkosumsi informasi haruslah bijak dalam menyaring segala informasi yang masuk, serta selalu mendukung dan mengawasi segala kegiatan SiDeka guna terciptanya suatu informasi yang benar-benar member manfaat bagi semua.
Yang harus dilakukan oleh Pendamping yakni harus memposisikan dirinya sebagai mitra dan bagian daripada massyarakat. Dengan demikian keberadaannya akan selalu member manfaat dan nantinya akan saling membutuhkan. Selanjutnya yang tidak luput adalah pemahaman dan wawasan akan SiDeKa itu sendiri. Jika tidak memahami dan berwawasan tentang SiDeKa, mustahil program SiDeKa ini dapat akan sampai manfaatnya bagi Desa dan semua.
3. Menurut saya adapun yang vital yang harus saya kuasai yakni pengetahuan tentang maksud dan tujuan dari SiDeKa, dengan mengetahui secara menyeluruh apa itu SiDeKa dengan segala komponen didalamnya, maka saya akan lebih mudah untuk melanjutkan misi yang ingin dicapai tersebut. Jika mengenai keterampilan, yang paling harus saya kuasai yakni cara membuat website dan mendisign nya semenarik mungkin, karna dengan terciptnay suatu website dengan design yang bagus akan dapat memikat daya tarik sehingga informasi akan dengan cepat dapat diterima masyarakat.
Adapun sarannya, diharapkan dengan ikhlas hati membagikan ilmu menyangkut SiDeKa serta harus benar-benar memperhatikan pemanfaatanya dari program yang di buat ini bagi masyarakat banyak.
4. Rencana kongkrit yang akan saya buat mengenai rencana kerja dalam pengorganisasian SiDeKa ini yaitu melalui 4 (empat) tahapan seperti yang sering terapakkan dalam memecahakan suatu permasalahan yang di antaranya :
· Identif ikasi, yaitu sebuah peoses pengamatan terhadap permasalahan dan peroalan yang ada dan baikpun yang akan datang. Melalui tahap ini segala mermasalahan akan dapat dengan cepat diketahui dan akan cepat ditangani.
· Solusi, setelah tahap identifikasi selesai maka yang perlu dilakukan adalah menentukan solusi yang tepat terhadap pemasalah yang terjadi. Untuk solusi ini saya perlu bekerja sama dengan pihak terkait dalam hal ini pemerintah pusat/ daerah, pemerintah desa dan aparat serta masyarakat. Hal ini dilakukan guna memberikan solusi yang benar tepat dan diinginkan oleh Desa dan masyarakat didalamnya.
· Implementasi, dalam hal ini solisi yang telah dibuat kemudian di implementasikan atau dijalankan.
. Evaluasi, setelah selesai melaksanakan atau menjalankan suatu program. Hal terakhir yang perlu dilakukan yaitu evaluasi, hal ini penting guna melihat efektif dan efesiensinya sebuah program atau solusi yang diambil dan yang dijalankan. Seringkali kebanyakan sebuah program atau solusi yang dijalankan tidak di evaluasi sehingga jika ada kegagalan atau hambatan solusi atau program itu kemudian ditinggalkan.
SRI SUMARYANI
[email protected] [Ogan Komering Ilir – Sumatera Selatan]1. Pandangan Umum tentang Desa :
Desa sebagai simpul utama pembangunan masyarakat dan negara, Desa mempunyai kekuatan yang luar biasa namun kenyataannya Desa hanya menjadi sekedar jargon kebijakan pemerintah. Pembangunan hanya dipandang sebagai pertumbuhan ekonomi, dan bukannya sebuah proses perubahan inter-bidang kehidupan masyarakat desa. Masyarakat tetap menjadi obyek kebijakan dan korban keputus(asa)an pemerintah. Kebijakan pemerintah terkesan (atau malah sebenarnya?) sporadis, tanpa arah tujuan yang jelas dan nihil konsep perencanaan yang matang. Sehingga terjadi kesalahan-kesalahan yang berulang-ulang, yang menghamburkan uang masyarakat dan bermain-main api emosi masyarakat.
Kelahiran UUdesa merupakan prestasi besar lembaga legislasi Indonesia. UU ini telah mengatur desa sesuai dengan konsep desa yang dianut oleh norma dasar hukum Negara (Pancasila) dan norma hukum dasar Negara (UUD NRI 1945). Memberikan kewenangan seutuhnya kepada Kepala Desa ( Pemerintah Desa ) untuk menjalan pemerintahan Desa dengan tetap memperhatikan fungsi-fungsi
pendampingan,pengawasan dan pertanggungjawaban . Dari sekian banyak Undang-Undang yang mengatur tentang Desa sejak Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 memang Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 adalah yang terbaik. Desa sebagai ujung tombak pemerintahan terbawah memiliki otonomi dalam mengatur pembangunan untuk mensejahterakan rakyatnya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya harus diawasi agar tidak terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang. Badan Permusyawaratan Desa sebagai unsur pemerintahan Desa harus bisa menjalankan tugas dan fungsinya sesuai amanat Undang- Undang agar Kepala Desa tidak terjebak dalam jeratan hokum. Masyarakat Desa diharapkan juga ikut mengawasi dan mengambil peran aktif melalui musyawarah desa agar pelaksanaan pembangunan bisa benar-benar efektif dan tepat sasaran serta dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Langkah-langkah dalam memperkuat Desa :
1. Adanya Pendampingan terhadap pengelolaan dana yang di