• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJALANKAN PENERAPAN YANG SAMA DAN MERATA

Dalam dokumen BAB 1 ETIMOLOGI PEMERINTAHAN (Halaman 166-179)

YANG SEMULA

MENJALANKAN PENERAPAN YANG SAMA DAN MERATA

Sistem Pemerintahan yang berkualitas tidak saja selalu bertumpu pada pijakan yang tepat dan benar, namun juga tumpuan itu dapat meluas secara universal dan merata di setiap otonom atau lokal yang ada. Pada substansinya, tanaman yang disebar di atas olahan tanah diharapkan dapat bertumbuh secara merata. Jika

167

tanaman tumbuh merata maka sejauh mata memandang akan terlihat struktur yang penuh dengan estetika yang dengannya semua mata akan tertuju ke sana. Memang jika dilihat dari sudut sistem otonomi , maka tentu anda akan melihat bahwa kesepakatan dan ketetapan suatu sistem penerapan tergantung pada daerah masing-masing tanpa bergantung sepenuhnya pada pusat. Mereka diberi kesempatan untuk mengembangkan daerah masing-masing sesuai dengan kemampuan daerahnya. Tetapi dalam perkara tumpuan; konstitusi, maka anda tidak dapat lepas dari satu dasar tumpuan yang telah ada. Dengan kata lain bahwa acuan anda untuk menetapkan sesuatu dalam daerah anda mesti berdasar pada tumpuan universal. Ada beberapa bahan dasar yang anda mesti jadikan sebagai bahan baku untuk mengembangkan adonan anda. Akan jadi apa hasil akhirnya, akan tetapi bahan bakunya tetap saja sama. Jangan pernah menghasilkan kue yang baru dengan dasar bahan baku yang berbeda sebab nantinya akan

mengacaubalaukan keadaan adonan lingkupan

Pemerintahan otonomi daerah anda sendiri. Jangan pernah berpikir bahwa karena anda berdiri sendiri berdasar prinsip otonomi maka anda serta–merta mengenyampingkan bahan dasarnya secara universal.

Untuk mendapatkan penerapan yang universal dan merata maka setiap anda mesti memahami bahwa satu Negara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya. Jika anda telah

168

memahami hal ini maka anda akan maju selangkah lagi kepada penerapannya. Dalam dunia pendidikan, semua guru pasti memiliki acuan dasar mengajar yang biasa dikenal dengan Kurikulum dan Silabus yang dirangkum dalam bentuk Rencana Proses Pembelajaran (RPP). Sekalipun terdapat beberapa guru yang mengajar pada tingkat kelas yang sama akan tetapi secara universal, semua tingkat kelas yang sama itu akan mendapatkan suplai materi yang secara prinsip sama karena mereka memiliki bahan dasar yang satu dan sama pada substansinya. Di sini, kita tidak berbicara melulu hanya perihal hukum, tetapi kita berbicara perihal Konstitusi yang merupakan aturan baku yang telah disepakati oleh suatu bangsa secara bersama yang tentu telah melibatkan semua unsur. Dengannya, anda dapat menetapkan aturan-aturan susulan dalam bidang Hukum, Ekonomi, Sosial, Budaya, Teknologi maupun Politik yang disebut dengan Perundang-undangan. Ada banyak daerah terpisah yang mengalami suatu dilema berkepanjangan karena membuat dan memiliki aturan susulan yang tidak berdasar pada bahan dasarnya. Mungkin saja sudah sesuai, namun penerapannya tidak sesuai dengan acuan dasarnya. Ada juga yang membuat Peraturan Daerah sesuai dengan kehendak hati para pejabat yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan pribadi. Mereka membuat aturan Daerah agar dengan mudah mencapai apa yang diinginkan secara pribadi maupun kelompok. Acuan dasar yang digunakan sudah tepat, namun spekulasi dan konspirasi disisipkan di

169

dalam penerapannya dengan harapan agar rakyat tidak mendapatkan cela untuk menyerahkan mereka ke dalam rana Hukum.

Dalam prinsip penerapan, paling tidak, ada beberapa hal yang menjadi hasil negatif jika penerapan yang ada tidak merata:

 Perpecahan

Pembentukan karakter sangat dibutuhkan dalam menjalankan prinsip penerapan Konstitusi. Semua unsur mesti memahami bahwa ketika anda lebih mengutamakan diri sendiri dari kepentingan orang lain maka akan dengan mudah terjadi perpecahan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa sadar atau tidak, Negara anda telah masuk ke dalam Perpecahan. Bangsa yang bersatu adalah bangsa yang tetap berada pada prinsip Dasar Negaranya dan dengan gigih memperjuangkan dan mempertahankan “Dasar” itu walau apapun yang terjadi. Tidak peduli apakah ia sempat terluka atau kecewa, mengalami perbedaan pendapat atau sepaham, merasa diri lebih mampu atau tidak, ia akan tetap berdiri pada satu Dasar yang kokoh dan tidak membentuk organ-organ yang baru lagi atau oposisi-oposisi yang baru atau paham-paham yang baru atau apapun itu yang menjadikan adanya separasi atau aliran kiri atau apapun namanya yang bersifat

170

sekte atau perpecahan. Seperti dalam Bab sebelumnya bahwa perpecahan adalah sama dengan penyembahan berhala. Ini berarti bahwa semestinya anda sadari bahwa jika anda telah sedang berada pada salah satu dari bagian-bagian yang disebut sebelumnya maka anda sebenarnya telah masuk ke dalam perpecahan yang dengannya akan memberi kesan yang jelas bahwa anda sementara melakukan penyembahan berhala. Perpecahan tidak akan membawa

Negara anda kepada suatu pencapaian

kematangan yang signifikan tetapi justru memperhambat pertumbuhannya. Seandainya, ketika anda mengalami kekecewaan, anda segera kembali kepada Dasar Negara niscaya anda tidak akan berlarut-larut dalam kekecewaan yang dapat membawa anda untuk menciptakan partai-partai yang lain lagi yang sekalipun visi dan misinya sangat mulia. Jika anda mengalami perbedaan pendapat, kembalilah kepada Dasar Negara anda, niscaya anda akan tetap terikat satu sama lain dan mengabaikan perbedaan itu ketika anda berjuang untuk Negara anda sehingga anda tidak menjadi orang atau kelompok yang masuk ke dalam aliran kiri (ideologi dan filosofi yang berbeda dari yang telah ada).

Demokrasi yang sebenarnya bukanlah Demo and Crazy – demonstrasi kebebasan yang gila – tetapi merupakan kebebasan yang terkontrol oleh Dasar

171

dan Konstitusi yang ada. Anda boleh bebas berkarya, berpendapat ataupun „berunjuk rasa‟, namun semuanya mesti berlangsung pada rel atau koridor yang telah disediakan oleh Negara anda, Jika tidak, maka pasti akan menyebabkan perbuatan yang anarkhis. Jangan mengabaikan sifat-sifat dasar dari perpecahan, jangankan menjadi kelompok separasi atau pembangkang Negara, menjadi orang yang berbeda pendapat saja lalu menimbulkan pertentangan di dalam hati, itu sudah dikatakan perpecahan. Ingatlah bahwa setiap bentuk atau struktur atau unsur atau bagian yang telah bergeser sedikit saja dari

ketetapan Pemerintahan yang sementara

berlangsung (incumbent) maka anda sementara bergeser ke arah perpecahan. Satu kesatuan berbeda dengan persatuan, kesatuan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya. Ia tidak memiliki bagian-bagian yang terpisah, ia tidak terlihat dalam beberapa jenis dan ia memiliki satu sifat dasar yang sama. Sementara persatuan adalah kumpulan dari beberapa kesatuan. Ia memiliki bagian-bagian yang berbeda di dalamnya, ia berasal dari gabungan beberapa jenis yang berbeda dan memiliki sifat dasar yang berbeda. Perhatikan bagan berikut ini:

172

LINGKARAN 1 = Kesatuan; satu kesatuan yang tidak memiliki bagian-bagian di dalamnya. Hanya memiliki satu dasar, sifat dan bagian yang sama.

LINGKARAN 2 = Persatuan; gabungan dari beberapa bagian bentuk yakni B,C,D,E,F,G,H,I,J,dan K bersama membentuk suatu Persatuan namun masing-masing memiliki dasar, sifat dan jenis yang berbeda yang memungkinkan dapat terpisahkan kembali jika lingkar Persatuannya putus.

LINGKARAN 3

LINGKARAN 3 = D, B dan J, Persatuan yang terbentuk dari perpecahan persatuan yang pertama menjadi persatuan yang kedua.

LINGKARAN 1

LINGKARAN 2

173

Lingkaran Persatuan merupakan lingkaran yang memiliki garis putus-putus karena sifatnya hanya sementara. Dari luar kelihatan bersatu, namun keadaan di dalam tidaklah demikian. Suatu waktu mereka bisa saja membentuk bagian yang baru lagi sebagai suatu persatuan yang lain pula, seterusnya demikian hingga semakin besar kesan perpecahannya. Yang jelas bahwa perpecahan

akan membawa Negara anda kepada

keterpurukan yang sangat. Walau dari luar terlihat bahwa Negara anda maju, namun di dalam tidaklah demikian. Kembalilah pada pijakan yang tepat dan benar.

 Bias-bias Hukum

Penerapan konstitusi yang tidak sama dan merata akan dapat menimbulkan fatamorgana jalan Hukum. Akan timbul ketidakjelasan dasar yang semestinya sehingga birokrasi dan administrasi Hukum menjadi kabur atau samar-samar bagi mereka yang awam dengan Hukum. Rakyat dapat melihat begitu banyak aturan susulan (undang-undang) yang baru beserta dengan penerapannya yang tidak merata dan tidak berdasar pada tumpuan Konstitusi sehingga mereka merasa bahwa hukum telah bersifat relatif. Mereka melihat ada bias-bias yang membuat mereka tidak dapat melihat hukum atau aturan itu dengan jelas dan pada akhirnya

174

mereka tidak lagi menaruh rasa hormat dan tunduk pada konstitusi yang ada. Rakyat melihat di daerah A bahwa penduduknya sudah sangat maju berkat sistem aturan yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, banyak lini yang tereksplorasi berkat subsidi dana dari daerah. Pemerintah daerah menetapkan bahwa anggaran untuk belanja kendaraan dinas dipotong 20-30 % sehingga dana itu dialokasikan ke lini yang dianggap memiliki prospek yang baik ke depannya. Sementara di daerah B terlihat agak begitu memprihatinkan oleh karena aturan yang diberlakukan sangat membatasi ruang gerak rakyat dalam berkarya dalam usaha-usaha mikro maupun makro. Bagaimana tidak, yang boleh mendapat Izin Usaha dan Akta Notaris hanyalah orang-orang yang berduit karena untuk membuat hal demikian harus menyiapkan dana yang besar untuk ukuran usaha Mikro saja yang sebenarnya tidaklah demikian jika berdasarkan peraturan perundangan, semua sudah dibalut dalam kemasan komersil. Di daerah C justru semakin parah, yang berkembang bukannya bidang

pertanian, perdagangan, pendidikan dan

teknologi, tetapi justru yang berkembang pesat adalah anggaran belanja fasilitas anggota Dewan yang Terhormat, padahal dari gaji yang didapatkan sudah cukup memadai untuk pemenuhan kebutuhan pribadi dan keluarga atau

175

bahkan kerabat. Padahal prinsipnya, mereka adalah hamba atau pelayan rakyat dan seorang pelayan tidaklah lebih besar dari tuannya. Dari tiga contoh keadaan daerah yang demikian, maka timbullah pertanyaan, mengapa hal itu dapat terjadi?

Perkara yang demikian tidak saja melulu masalah penerapan aturan yang tidak merata yang berdasar pada acuan konstitusi baku, namun juga perihal karakter seseorang. Semuanya ini yang akan membuat rakyat memandang Hukum dengan cara yang tidak tepat. Justru mereka akan mengalami yang namanya „Traumatic Rules‟. Mereka tidak lagi berpatokan pada supremasi hukum tetapi justru pada supremasi personil. Siapa yang yang berperan sebagai filantropi maka itulah yang dijunjung tinggi. Para pejabat mesti terjaga akan hal ini untuk memulihkan

pandangan rakyatnya terhadap konstitusi

sehingga rakyat anda dapat menjadi rekan yang baik dalam menerapkan konstitusi yang ada. Ingatlah bahwa bias-bias hukum akan menjadi

bomerang bagi anda sebagai Pejabat

Pemerintahan dan bagi anda sebagai rakyat. Usahakanlah agar konstitusi Negara anda menjadi supremasi mutlak yang membawa Pemerintahan di Negara anda kepada jalan yang bersahaja. Bawalah rakyat anda ke tempat bias-bias itu berada sehingga ketika mereka telah berada di

176

sana maka diharapkan mereka akan melihat hukum yang sebenarnya karena bias-bias itu telah lenyap dengan sendirinya.

 Rusaknya Estetika Tatanan Pemerintahan

Jika melihat lahan persawahan yang terbentang luas, maka anda akan segera mendapatkan kesan

estetika (keindahan) yang luar biasa.

Pertumbuhan yang sempurna, warna yang sama dan segar; hijau muda, dan jalinan erat antar tanaman yang memberi anda penglihatan terhadapnya bagai karpet yang terbentang tanpa ada cela-cela di antaranya. Pemandangan yang sedemikian merupakan penglihatan terhadap pertumbuhan yang merata. Adalah hal yang merusak pemandangan itu jika pertumbuhan tanamannya tidak merata, ada bagian yang memiliki warna kuning atau kecoklatan dan bahkan mungkin ada yang layu hingga mati. Anda harus nampak bahwa ketidakmerataan penerapan Konstitusi akan memperlihatkan sesuatu yang tidak indah di pemandangan mata, tidak adanya estetika yang menyegarkan. Singkatnya bahwa penerapan Konstitusi yang tidak merata akan merusak estetika tatanan pemerintahan yang ada. Olehnya itu, dimanapun

daerah-daerah independen berada mesti

memahami hal ini dan agar tidak bertindak semena dalam menentukan aturan-aturan susulan sekalipun hal itu berdasar pada konstitusi.

177

Usahakan agar anda, para pejabat Pemerintahan selalu bertindak menentukan aturan sesuai dengan kebutuhan daerah anda dan rakyatnya, bukan berdasar kebutuhan pribadi atau kelompok atau Instansi. Hendaklah semuanya didasarkan pada perkara need analysis (analisa kebutuhan) secara umum lalu setelah itu membawanya pada kebutuhan masing-masing Instansi yang ada. Di sini ada terdapat mata rantai yang saling berkaitan satu sama lainnya. Jika anda melihat bahwa aturan itu sudah sesuai dengan kebutuhan Instansi maka anda mesti kembali kepada kebutuhan yang umum, tetapi setelah anda melihat pada kebutuhan umum lalu anda menemukan benturan yang nyata ataupun terselubung, maka jangan melanjutkannya untuk menjadikan aturan kebutuhan Instansi itu sebagai peraturan yang baku. Prinsipnya bahwa penentu untuk menjadikan suatu aturan itu menjadi baku maka perlu untuk mendasarkannya pada kebutuhan secara umum; kebutuhan daerah dan rakyatnya (ruang lingkup daerah otonomi). Demikian halnya dengan pembakuan aturan suatu Negara, tidak didasarkan pada kebutuhan sesaat dan khusus tetapi lebih kepada kebutuhan yang berkesinambungan dan umum.

178

 Terbentuknya Negara dari Negara

Ketika bias-bias Hukum mulai muncul dan estetika tatanan Pemerintahan mulai lenyap maka kejadian berikutnya akan menjadi lebih parah. Fatamorgana dan ketidakindahan menyatu menjadi pengabaian. Ketika hal ini terjadi maka cepat atau lambat akan merusak sistem Pemerintahan yang baik dan bermuara pada pelepasan bagian-bagian dari suatu keutuhan. Ketika ada suatu daerah yang memiliki fatamorgana Konstitusi (penerapannya) lalu menunjukkan ketidakindahan tatanan, maka akhirnya daerah itu merasa terabaikan hingga mereka memutuskan untuk berpisah mutlak dari induk keutuhan. Inilah kejadian yang sekarang ini disebut Negara-negara bagian atau pendirian Negara baru dari suatu Negara. Bagaimanapun luasnya suatu Negara secara geografis, tidak akan mudah terpisah-pisah jika saja bagian-bagian daerah tidak merasa terabaikan atau kurang perhatian. Justru mereka dengan sekuat tenaga akan menjaga keutuhan Negaranya. Sekalipun secara kondisional mengatakan bahwa daerah itu boleh menjadi suatu Negara lagi, tetapi jika rakyat yang ada di dalamnya merasa aman, nyaman dan sejahtera maka tidaklah mudah mereka menyatakan kemerdakaan sendiri sebagai suatu Negara baru. Tetaplah ingat bahwa apapun bentuknya, jika ia beraliran kiri (lain ideologi dan

179

filosofi), merasa diri mampu dan dapat berdiri sendiri atau menganggap bahwa ia telah dapat terpisah dari induknya, maka itu disebut perpecahan, baik yang terselubung maupun yang nyata.

Dalam dokumen BAB 1 ETIMOLOGI PEMERINTAHAN (Halaman 166-179)