• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 ETIMOLOGI PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 ETIMOLOGI PEMERINTAHAN"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB 1

ETIMOLOGI

PEMERINTAHAN

Berbicara tentang kuasa atau otoritas maka kita tidak akan merasa asing dengan suatu sistem yang terus dan sedang berjalan dalam kehidupan kita saat ini. Jauh sebelum anda dan saya ada di bumi ini, sistem itu telah ada demi terciptanya keteraturan yang hakiki dalam hidup manusia. Sejak penciptaan hingga sekarang dan yang akan datang, kita tidak dapat untuk tidak terlibat dalam sistem itu. Sistem yang selama ini mengatur kita untuk hidup menurut aturan-aturan guna mendapatkan hidup yang penuh dengan rasa aman dan nyaman dalam setiap lini kehidupan telah membawa kita kepada apa yang suatu bangsa harapkan; Pemulihan. Sistem inilah yang memampukan kita untuk tetap eksis di mata bangsa-bangsa lain (internasional) sehingga apa yang kita tegakkan akan menjadi tiang penghargaan bagi kita semua dan mampu terus maju dalam berbagai kompetisi untuk menunjukkan harkat dan martabat suatu bangsa. Sistem ini juga yang terus mengingatkan kita akan betapa pentingnya untuk diresapi oleh sikap tunduk dan taat pada apa yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta dan ketetapan itu mutlak dipatuhi oleh semua manusia selama ia mengaku percaya kepada sang Pencipta. Ketetapan ini telah dinamai-Nya dengan PEMERINTAH. Siapapun di antara kita mesti nampak bahwa KETETAPAN INI ADALAH KETETAPAN SANG

(2)

2

PENCIPTA. Olehnya itu, kita sebaiknya berkata bahwa ternyata sejak saya hadir di dalam dunia ini, saya telah sedang bergelut dalam sistem ini dan karenanya saya berhasrat untuk mengetahui dan memahaminya lebih jauh akan hal ini.

Biasanya, manusia cenderung untuk tidak lagi mengambil suatu pemahaman dari akar pemahaman itu sendiri sehingga mengakibatkan pemahaman yang samar-samar. Asal mengerti sedikit, cukuplah. Kemudian dengan dasar pemahaman yang „sedikit-cukuplah‟ mereka melakukan pertunjukan rasa tidak puas dengan apa yang didengar, dilihat dan diterima dari pemerintah yang sebenarnya bahwa mereka bukanlah berunjuk rasa untuk membela atau memperjuangkan hak-hak diri atau orang lain, tetapi sebenarnya mereka sementara mempertontonkan keangkuhan, kelemahan dan ketidakpahaman mereka terhadap pemahaman atau pengertian mereka sendiri yang ada dalam otak mereka. Seharusnyalah bahwa setiap kita selalu memahami segala sesuatu itu berangkat dari dasar atau akar dari pemahaman itu sendiri agar kita mudah memahami setiap seluknya. Olehnya itu, penting bagi setiap kita untuk memahami dari dasarnya. Dalam buku ini akan dibahas sesuatu yang mungkin saja telah terlupakan secara mendasar agar diharapkan dapat memberi pemahaman yang mendasar pula sebelum memahami hal-hal yang lebih lanjut.

(3)

3

Jika dilihat dari sudut Etimologi (asal-muasal kata), maka kata PEMERINTAHAN dalam Bahasa Indonesia merupakan kata benda yang tersusun dari Prefiks (pe-) dan Sufiks (-an) yang kata dasarnya (infinitif) dapat merupakan kata Benda, Sifat dan kata Kerja, yakni PERINTAH. Sufiks –an dalam Bahasa Indonesia menyatakan suatu Tindakan, Proses atau tindakan dari jenis yang ditentukan. Hal ini berbicara mengenai suatu proses yang aktif dan progress serta menandai sifat dari suatu makna kata itu sendiri. Sekilas, kata Pemerintahan hanya seperti uap yang sebentar datang lalu sebentar lagi lenyap. Rata-rata masyarakat tidak mendapatkan gambaran dan pejelasan yang eksplisit perihal kata ini sehingga respon terhadap kata „Pemerintahan‟ itu sendiri sangat kurang, semuanya hanya sambil lalu saja. Sebab itu, penting bagi kita untuk nampak dan memahami Etimologi kata PEMERINTAHAN ini.

Jika dilihat dari Sufiks yang melekat pada kata dasarnya, maka dapat dikatakan bahwa Pemerintahan adalah sebuah lembaga dan atau sekelompok orang yang ditentukan sebagai pelaku tindakan atau proses yang memiliki keterampilan atau kemampuan di bidangnya berdasarkan hal-hal yang telah disepakati bersama (konvensi) yang tercurah dalam Perundang-undangan berdasarkan konstitusi.

(4)

4

Pemerintahan juga merupakan suatu komponen yang terpilih dan tersusun berdasarkan alur proses yang spesifik untuk bertindak, mengontrol, mengelolah (steering), mengendalikan suatu pergerakan (pilotage) dan membimbing segala sesuatu yang menjadi kepentingan rakyatnya. Lembaga yang diberi kepercayaan sekaligus dipercayai untuk melakukan semua kepentingan Negara berdasarkan aturan yang telah ditetapkan bersama (konvensi).

Dalam Bahasa Yunani kuno, kata PEMERINTAHAN berasal dari kata Κυβερνισμός

(kubernismos), κυβέρνησις (kubernēsis), yang berarti

„pemutaran, pengendalian (kapal atau pesawat) dan bimbingan‟. Tetapi kata ini lebih kepada makna „kepemimpinan atau kemampuan untuk memimpin‟. Untuk kata yang mengacu pada kata „Pemimpin‟ digunakan kata κςβεπνήτηρ (Kubernetes). Juga

κυβερνάω (kubernaō) yang berarti „menyetir,

mengendarai, dan memandu‟. Dari keempat kata tersebut boleh dikatakan bahwa Pemerintahan adalah suatu komponen yang diberikan wewenang untuk memimpin komponen-komponen yang lain sebagai satu kesatuan yang di dalamnya komponen itu melakukan proses pengendalian, bimbingan, pengaturan dan panduan berdasarkan aturan main yang disepakati bersama. Ada kata Yunani lain yang juga menerangkan kata Pemerintahan yaitu βάσίλείά (Basileia),yang berarti

(5)

5

digunakan untuk mengacu pada orang yang memimpin untuk istilah itu adalah kata βάσίλεςρ (Basileus) yang berarti „Raja‟, ini selalu digunakan dalam pengertian ruang lingkup Kerajaan atau sistem Pemerintahan kerajaan (Monarkhi). Sedangkan untuk kata yang menggunakan kata Yunani ηγεμοςια (ēgemouia) diartikan sebagai „Pemerintahan‟, ini dalam konteks ruang lingkup Pemerintahan yang secara umum. Untuk kata „Pemerintah‟ itu sendiri menggunakan kata Yunani

εξοςσιαιs (Eksousiais), dari akar kata εξοςσια (Eksousia) yang artinya „Kuasa‟. Ini menunujukkan kepada kita bahwa Pemerintah adalah kelompok orang-orang yang memiliki Kuasa (Otoritas) atas orang atau elemen atau komponen yang lain. Bukan berarti orang-orang yang Otoriter dalam memerintah, tetapi lebih kepada suatu sistem atau cara memerintah yang hirarkis dan yang seharusnya. Dalam model Pemerintahan kerajaanpun sebenarnya tidaklah dikatakan sebagai model Pemerintahan yang Otoriter atau Diktator, namun cobalah melihat dari sisi sistemnya yang begitu hirarkis. Jika kita memahami sistem ini, maka yakinlah bahwa rakyat dalam suatu Negara akan memiliki minimal rasa penundukan diri yang konkrit terhadap Pemerintah di atasnya, tidak peduli siapapun dia dan bagaimanapun keadaan atau karakter mereka, kita yang berada di bawah pemerintahannya mutlak tunduk dan takluk terhadap mereka dan Ini adalah suatu ketetapan yang mutlak selama anda berada dalam suatu sistem itu. Sekalipun dalam model Pemerintahan Monarkhi

(6)

6

terdapat dua jenis hirarkhi yakni Monarkhi Absolut dan Konstitusional, namun pada prinsipnya bahwa setiap hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan maka selalu saja kembali kepada Kepala Pemerintahan dan atau Kepala Negaranya. Model Pemerintahan apapun, pada substansinya hanya berbicara perihal hirarkhi dari suatu birokrasi dalam pencapaian suatu manajemen atau tata rumah tangga yang baik dan benar. Dari kata yang anda lihat saja (bahasa Indonesia), seharusnya sudah cukup memberi penjelasan kepada kita untuk mengatakan dengan sederhana bahwa Pemerintah adalah orang yang memerintah dan itu berarti ada oknum yang lain yang diperintah, akan tetapi, memerintah di sini bukan berarti „suruh-menyuruh‟ belaka saja dan tidak melakukan apa-apa. Yang mereka sandang adalah atribut Pemerintahan karena memang mereka adalah badan tertinggi yang memerintah suatu Negara. Pemerintah ini juga merupakan suatu sistem menjalankan wewenang dan kekuasaan untuk mengatur tatanan di segala lini baik sosial, budaya, ekonomi, hukum, teknologi dan industri maupun politik.

Pemerintahan adalah suatu tatanan yang di dalamnya ada sekelompok orang yang memiliki otoritas atau kuasa untuk menyelenggarakan, melaksanakan atau menjalankan hukum atau perundang-undangan dalam suatu Negara atau daerah tertentu termasuk masyarakat maupun organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga dan

(7)

7

atau badan-badan dependen, independen maupun interdependen.

Pemerintahan merupakan sistem yang dipercayai oleh suatu kelompok masyarakat untuk menjalankan segala harapan Bangsanya agar menjadi kenyataan dalam semua aspek yang ada.

Dalam bahasa Inggris, anda sudah mengenal kata Govern atau to govern (memerintah), Government, Governance, Governor dan Governess. Namun anda dapat menemukan dua kata yang berderivasi dan dimaknai berbeda sebab sufiks yang dimilikinya. Yang pertama kata „Governor‟, yang secara informal bisa berarti „Father‟ atau „Ayah‟. Kata yang lain adalah „Governess‟, yang berarti „Woman‟, yang mengandung makna „Seorang wanita yang disewa atau dipekerjakan seseorang untuk mendidik atau mengajar anak-anak di rumah‟.

Secara informal, kita dapat mendefinisikan bahwa Pemerintah sama seperti seorang Ayah atau Ibu yang mendidik anak-anaknya, bahkan sampai menyewa atau membayar seseorang yang lain untuk mendidik anak-anaknya. Pemerintah semestinya dapat menjadi Ayah atau Ibu bagi rakyatnya dan bila perlu, dengan dasar kasih yang besar, anda boleh membayar harga berapapun untuk kepentingan kebutuhan rakyat anda. Seperti seorang Gembala yang mengembalakan domba seratus ekor, suatu hari seekor di antaranya tersesat di

(8)

8

dalam semak-semak, sang Gembala meninggalkan yang kesembilan puluh sembilan ekor untuk sementara waktu lalu kemudian mencari yang seekor itu hingga mendapatkannya kembali, demikianlah Pemerintah terhadap rakyatnya. Penuh perhatian, kasih sayang dan kehangatan. Pemerintah adalah Ayah yang baik bagi anak-anaknya, apapun akan dikorbankannya untuk rakyatnya, ia tidak mempedulikan dirinya sendiri, kepentingannya sendiri dan perlidungan diri sendiri, namun ia akan tetap mendahulukan apa yang menjadi kepentingan anak-anaknya. Bagaimanapun sifat dan sikap anaknya, ia tidak dapat berkata jika ia harus meninggalkan mereka lalu lebih mengurus perkara yang lain. Anak tetaplah anak dan mau tidak mau seorang ayah yang baik akan melakukan apa saja untuk kesejahteraan anaknya dan rumah tangganya. Sebaliknya, seorang anak mesti taat dan tunduk kepada orang tuanya bagaimanapun keadaan orang tuanya. Anak-anak tidak seharusnya merongrong orang tua mereka hanya karena orang tua mereka berbuat perkara yang tidak benar.

Sesungguhnya, Pemerintahan tidak sekadar di dalamnya terdapat proses perintah atau memerintah belaka, tetapi lebih dari itu, mengacu pada tatanan yang simetris dengan aturan yang berlaku dalam suatu teritorial. Dalam Pembukaan UUD 1945 pasal 27 dikatakan: “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan

(9)

9

wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Kita semua wajib dalam menjunjung Hukum yang berlaku beserta Pemerintahnya. Tanpa kecuali, tanpa kecuali dan tanpa kecuali. Frase inilah yang sangat perlu untuk dipahami oleh anda sebagai warga suatu Negara. Akan tetapi, Pemerintah bukanlah oknum yang seakan-akan hanya menggunakan haknya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, tetapi sebaliknya, mereka adalah orang-orang kepercayaan kita dan merupakan Wakil Sang Pencipta. Mereka semua adalah wakil Tuhan dalam melakukan proses Pemerintahan. Apa yang mereka lakukan seharusnya menampilkan pekerjaan Tuhan, tetapi jika mereka berbuat kejahatan dan ketidakadilan maka itu berarti mereka menghina yang Maha Kuasa. Jika anda pahami ini, maka percayalah bahwa jika mereka berbuat perkara yang tidak benar, maka tugas kita sebagai rakyat bukannya merongrong, mengkritik namun tidak membangun, memaksa bahkan menindaki mereka secara anarkhi, tetapi dengan sangat dewasa di hati, mari membawa Pemerintah kita dalam doa, kepada Dia yang berhak menghakimi manusia dan pekerjaannya. Mari belajar untuk membuat Negara ini memiliki kuasa kemenangan oleh karena rakyat yang acapkali menyampaikan keluhan-keluhannya hanya kepada Dia yang memiliki kuasa untuk melakukan perkara yang adikodrati dan yang berhak menghakimi. Mari perhatikan sejenak komunitas Animisme yang tiada ber-Tuhan namun mereka tetap tunduk juga di bawah

(10)

10

suatu pemerintahan lokal maupun nasional, maka anda sebagai orang yang ber-Tuhan, yang percaya kepada Tuhan dan yang disebut beragama, seharusnya melebihi dari mereka tentang sikap rasa hormat dan tunduk kepada pemerintah di atasnya. Etimologi Pemerintahan bukan hanya pengetahuan belaka yang dipelajari untuk dijadikan pengetahuan tentang asal-muasal kata tetapi lebih dari itu, pelajaran tentang asal-muasal kata (Etimologi) adalah dasar yang sangat kuat untuk memperoleh pemahaman yang kuat pula tentang sesuatu sehingga apa yang dipelajari bukan hanya merupakan pengetahuan di otak belaka yang hanya menjadi logos atau ilmu atau teori saja namun boleh menjadi suatu rhema dalam diri anda agar dalam setiap tindakan yang berkaitan dengan Pemerintahan boleh menjadi sesuatu yang dapat dinikmati oleh orang lain dan menjadi dasar yang dapat dipercaya untuk memajukan dan mengembangkan Bangsa dan Negara anda kepada Pemulihan demi Pemulihan. Dalam Bab-Bab selanjutnya, anda akan mendapatkan sesuatu yang baru mengenai Pemerintahan namun hal yang paling penting adalah jika anda dengan Rendah Hati, sebagai orang yang mengaku ber-Tuhan, mau melakukannya dan selalu berpikir bahwa apa yang saya lakukan adalah untuk Dia. Segala sesuatu yang anda lakukan, lakukanlah sama seperti untuk Dia dan bukan untuk manusia.

(11)

11

BAB 2

PEMERINTAH - WAKIL SANG

PENCIPTA

Manusia pertama, Adam, diciptakan pada substansinya merupakan gambar dan rupa Sang Pencipta. Namun karena kejatuhan mereka, Gambar dan Rupa itu rusak dan kehilangan kemuliaannya. Awalnya, mereka adalah Wakil dari sang Pencipta untuk memenuhi, menguasai dan sekaligus memerintah atas semua mahluk yang ada di bumi. Mereka telah diberikan suatu sistem Perwakilan yang adikodrati yang mutlak mereka jalankan sepenuhnya di atas bumi akan tetapi mereka telah merusak kepercayaan itu sekaligus merusak sistem Perwakilan yang mereka telah terima. Inilah awal dari perusakan Sistem Perwakilan. Asalnya, manusia telah ditetapkan untuk menguasai dan memerintah di atas muka bumi ini, mereka diberi hak untuk menguasai dan berkuasa atas semua ciptaan lainnya namun semua telah menjadi rusak akibat ketidaktaatan dan ketamakan manusia di dalam taman yang indah itu. Sejak manusia melanggar ketetapan sang Pencipta dengan memakan buah Pengetahuan yang baik dan yang jahat, sejak saat itu pula manusia sudah mulai mengembangkan kekuatan jiwanya yang dahulunya mutlak tunduk di bawah pengaturan Tuhan, namun sekarang menjadi jiwa yang memilki kekuatannya sendiri yang cenderung mengikuti keinginan diri dan mengatur diri serta memiliki

(12)

12

pengetahuan yang baik dan yang jahat sehingga ia (jiwa) telah memiliki hayat sendiri yang eksis dalam diri manusia sebagai salah satu unsur trikotomi manusia. Manusia sudah mengenal apa yang baik dan apa yang jahat sehingga ketika hal itu terjadi, seketika itu pula mereka merasa malu karena mereka sadar bahwa mereka sedang telanjang (kehilangan citra atau kemuliaan). Ketelanjangan sama halnya dengan memalukan dan hal yang memalukan berarti kehilangan kemuliaan.

Karena manusia telah jatuh dan kehilangan kemuliaan, tentunya sebagai konsekuensi, mereka diusir dari Taman itu dan ditolak, namun Sang Pencipta tetap memperhatikan mereka dengan membuatkan mereka pakaian dari kulit binatang dan mengenakannya kepada mereka; mereka sudah merasa telanjang dan malu. Mereka harus keluar dari tempat yang semestinya; tempat yang indah, nyaman, makmur dan berlimpah dengan kebutuhan sehari-hari, tetapi mereka harus meninggalkan semua itu dan mengusahakan hidup mereka sendiri. Inilah awal dari pengusiran, penolakan, rasa malu dan kutuk kesusahan. Sekalipun demikian, tugas pemerintahan tetap mereka emban untuk keberlangsungan eksistensi kehidupan mereka di bumi walau disertai dengan kesusahan-kesusahan; itulah akibat kutuk. Sejak saat itu, manusia mulai mengatur dan memerintah diri sendiri atau yang lain untuk bertahan hidup dalam suatu sistem dunia. Manusia mulai

(13)

13

memikirkan tatanan yang baik dalam bertahan hidup dan mengusahakan suatu keteraturan dalam hidup mereka, oleh karenanya, Tuhan menetapkan suatu Pemerintah di atas yang lain agar hidup mereka boleh teratur. Ketetapan ini adalah ketetapan Tuhan atas diri manusia yakni menetapkan Pemerintah atas manusia yang lainnya untuk mengekspresikan diri-Nya di atas bumi. Mau atau tidak, anda dan saya harus tunduk mutlak di bawah Pemerintah yang ada sebagai orang-orang yang memiliki otoritas dan tetap taat pada apa yang baik dan benar yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Ketetapan yang telah Tuhan tetapkan atas manusia – Pemerintah – telah ada sejak manusia pertama diciptakan. Mereka diberi kebebasan dan kuasa atas semua mahluk ciptaan lainnya. Ini memang suatu gambaran bahwa kelak pada waktunya nanti akan ada suatu sistem Pemerintahan yang baik dan benar; sempurna, yang akan diprakarsai oleh-Nya sendiri beserta dengan orang-orang pilihan-Nya. Jadi, Tuhan menetapkan Pemerintah sebagai yang berwenang menjalankan semua kepentingan Negara sekaligus mengekspresikan gambaran kedaulatan-Nya di bumi ini. Tetapi kelak nanti Ia akan mendirikan Pemerintahan-Nya dalam bentuk Kerajaan, bukan sistem atau jenis Pemerintahan yang lain. Memang ada perbedaan yang sangat mendasar antara sistem Pemerintahan Kerajaan dengan sistem Pemerintahan yang lainnya, namun secara umum bahwa semua sistem Pemerintahan yang ada saat

(14)

14

ini hanyalah merupakan gambaran dari apa yang akan datang kelak. Sebagaimana dalam sistem Pemerintahan Kerajaan, tidak satupun orang yang akan menampakkan kekecewaannya secara langsung di hadapan seorang raja apa lagi hingga menindakinya secara tidak sopan sampai bersifat anarki. Semua berlangsung dalam sistem yang sangat ketat dan hirarkis, yang sangat menjunjung nilai-nilai moral yang tinggi, lebih mengedepankan penundukan diri dan ketaatan ketimbang kritisasi dan pembelotan.

AKIBAT PERUSAKAN SISTEM PERWAKILAN Sebuah Perusahaan Pelayanan Jasa; Travel Agent, tahun demi tahun mengalami perkembangan yang sangat pesat, Travel Agent ini memiliki omset hingga Rp100.000.000,- per bulan. Akhirnya, karena jangkauan pelayanan yang meliputi domestic dan internasional, Travel Agent tersebut harus membuka beberapa cabang di berbagai daerah, kota, bahkan luar negeri dan termasuk agent stands yang berlokasi di bandara-bandara. Suatu ketika, salah satu cabang dari Travel Agent ini pernah melakukan suatu masalah yang agak mengecewakan pelanggannya. Sebenarnya masalah tersebut hanyalah masalah miswritten pada penanggalan tiket, tetapi hal tersebut tidak bisa ditolerir tentunya. Pelanggan tersebut mengeluh dan marah habis-habisan hingga tedengar sampai ke Agent Pusat. Segera sesudah

(15)

15

kejadian itu, pimpinan Travel Agent Pusat memanggil pimpinan cabang yang bermasalah untuk dimintai keterangan. Akhirnya, karena dianggap telah merusak citra Perusahaan lewat perwakilan yang dipercayakan maka pimpinan cabang tersebut diberhentikan dari jabatannya.

Sedikit saja merusak sistem perwakilan akan berakibat buruk pada eksistensi perusahaan, demikian pula dengan sistem perwakilan yang telah ditetapkan Sang Pencipta dengan menempatkan pemerintah sebagai wakil-Nya di bumi ini sekaligus menjadi gambaran yang baik dari sudut pandang pemerintahan Sang Pencipta untuk mencapai tujuan kekal-Nya atas manusia di bumi. Seorang Duta adalah seorang yang sedang merepresentasikan suatu citra, apa yang CITRA itu punyai, seharusnya sang Duta mengekspresikannya dengan penuh tanggung jawab, inilah yang seharusnya…!!! Wakil Sang Pencipta; Pemerintah, telah ditetapkan untuk suatu pekerjaan yang baik. Pemerintah adalah tangan kanan-Nya di bumi untuk mengatur dan menertibkan manusia serta memutuskan dan menetapkan prinsip-prinsip kebaikan yang adalah Citra dari Sang Pencipta.

Semua manusia mesti mengetahui dan memahami Apa, Siapa, kapan, dimana, dan bagaimana pemerintahan yang sedang berjalan di tempat mereka berada; dari ruang lingkup yang kecil (Desa) sampai

(16)

16

pada ruang lingkup yang besar (Negara) lalu kemudian mesti memandang dan meyakini bahwa Pemerintah yang ada adalah WAKIL SANG PENCIPTA, jika tidak demikian, maka akan sulit untuk mematuhi dan mentaati mereka. Hendaklah kita semua tunduk terhadap Pemerintah, jika sebaliknya maka pasti akan muncul berbagai kesukaran bahkan kekacau-balauan yang membawa kita semua kepada keadaan yang membuat kita tidak merasa tenang dan tentram. Ketika kita mulai merongrong, mengkritik-tanpa solusi, memaksa hingga berbuat yang anarkhi terhadap Pemerintah, sejak saat itulah kita telah membuka pintu yang lebar bagi si jahat untuk memporak-porandakkan system pemerintahan kita yang baik. Ingat, si jahat sama seperti singa yang mengaum-aum, yang siap menerkam mangsanya jika ada kesempatan. Jika kita membuka kesempatan, maka kita segera menjadi mangsanya yang lezat hingga kita mencucurkan banyak darah, menjadi hancur tanpa bentuk bahkan sampai mati. Jika kita membuka kesempatan, maka segera Negara kita menjadi mangsanya untuk mencucurkan banyak darah; lewat kejahatan, kerusuhan bahkan bencana yang bisa mengakibatkan banyak korban manusia, lalu membuat Negara kita hancur tanpa bentuk hingga mati; stagnasi, tidak berkembang, tidak bisa menemukan solusi yang tepat atas setiap akar permasalahan, dan bahkan tidak dapat mengalami kemenangan demi kemenangan. Merongrong, mengkritik, memaksa hingga berbuat hal yang anarkhi terhadap Pemerintah secara terus-menerus

(17)

17

pasti akan mejadikan Negara kita menjadi kacau-balau hingga Pemerintah kita menjadi Pemerintah yang sulit berfikir dengan hati nurani yang murni untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik bagi rakyatnya. Pemerintah menjadi orang yang tanpa visi sehingga rakyatnya menjadi liar, Pemerintah akan lebih cenderung memperhatikan kebohongan daripada kejujuran. Kita bisa bayangkan bagaimana kita sebagai rakyat jika keadaan Pemerintah kita sudah menjadi sedemikian. Nampaklah akan hal ini bahwa sebenarnya kekacaubalauan yang terjadi dalam Pemerintahan itu bukanlah disebabkan oleh masalah siapa yang melakukan pelanggaran-pelanggaran tetapi ini disebabkan oleh masalah bagaimana sikap anda sebagai rakyat terhadap Pemerintah yang ada. Dengan kata lain bahwa setiap masalah yang terjadi dalam Negara anda itu bukan karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Pemerintah, tetapi karena oleh sikap anda sebagai rakyat terhadap Pemerintah yang justru menyebabkan munculnya berbagai pelanggaran.

Kita semua mesti nampak suatu kebenaran bahwa tidak ada Pemerintah yang tidak berasal dari Sang Pencipta; Tuhan, sebab Pemerintah-pemerintah yang ada telah ditetapkan oleh Tuhan sehingga kita sebagai rakyatnya harus mutlak tunduk dan takluk di bawahnya. Sebab itu, barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Tuhan dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas

(18)

18

dirinya. Jadi jangan heran jika kita mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya telah disebutkan, maka hukumanlah yang akan tiba atas diri kita; rakyat, hukuman ini membuat rakyat menjadi susah dan pada akhirnya menjadi tidak terkendali. Mari coba tengok kembali mengapa Negara anda menjadi bulan-bulanan si jahat, mengapa Pemerintah anda yang telah anda pilih sendiri melalui proses yang panjang menjadi orang-orang yang melakukan ketidakadilan bagi anda, mengapa Pemerintah anda lebih memilih memerintah secara diktator daripada secara lemah lembut, mengapa Pemerintah anda lebih mengutamakan kepentingannya daripada kepentingan anda, mengapa Pemerintah anda menjadi lemah dan tidak dapat berbuat yang maksimal atas setiap akar permasalahan sehingga selama ini mereka hanya memangkas daun-daun kejahatan tanpa mencabut akar permasalahan yang ada, tanyakan pada diri anda sendiri sebagai pihak rakyat, tanyakan hal-hal ini kepada rakyat mengapa anda tidak merasa puas akan kinerja Pemerintah, mengapa anda merasa tidak nyaman, tentram dan damai? jawabannya hanya satu, bahwa kita tidak lagi menghargai dan menghormati Pemerintah yang ada, sehingga secara tidak langsung, kita telah tidak menghargai dan menghormati Sang Pencipta sebagai yang menetapkan Pemerintah itu sendiri.

(19)

19

RASA MALU SUATU BANGSA

Suatu hari seorang ibu membawa anaknya ke suatu pusat perbelajaan, setibanya di sana ia menggandeng anaknya masuk sambil mengawasinya dengan ketat. Umur anaknya baru sekitar Lima tahun. Di suatu Blok yang menyediakan alat-alat kosmetik, ibunya menyuruhnya untuk mengambil sebotol facial pencuci muka. Karena botol tersebut berada agak tinggi dari anak itu sehingga ia sukar untuk meraihnya dan akhirnya beberapa barang lain berjatuhan dari atas rak dan menimpanya. Sementara orang-orang di sekitar anak itu terpaku melihat kejadian itu, tampillah ibunya dengan nada yang agak geram memarahinya hingga membuat muka anak itu merah karena malu. Anak itu mulai terdiam membisu sambil melihat ibunya mengumpulkan barang yang jatuh. Ia hanya berdiri seakan menunggu apa kata-kata kemarahan dari sang ibu kemudian, ia tidak dapat melakukan apa-apa lagi bahkan sekalipun membantu ibunya memungut barang-barang yang jatuh tadi.

Terkadang kita; rakyat, mirip dengan apa yang dilakukan ibu tadi, seringkali kita merasa geram terhadap Pemerintah, kita berfikir bahwa apa yang dilakukan Pemerintah tidak sesuai dengan kehendak kita dan pada akhirnya kita mulai merongrong dan jika tidak ada respon maka kita mulai memaksa, mengancam sampai melakukan tindakan yang begitu menghina

(20)

20

Wakil Tuhan - Pemerintah. Kita merasa bahwa kitalah pengawas, kita merasa bahwa kitalah yang mesti didengarkan. Memang benar demikian, tetapi tindakan yang kita lakukan tidak mesti harus sampai pada rasa ketidakpercayaan, ketidakpuasan, kebenaran diri, yang kemudian bermuara pada kekacau-balauan. Hal-hal inilah yang juga membuat Pemerintah menjadi tidak dapat berbuat apa yang seharusnya diperbuat bahkan menolong andapun jadi tidak berdaya karena rasa malu yang diakibatkan oleh anda. Rasa ketidakpercayaan, ketidakpuasan dan kebenaran diri merupakan hal yang perlu diperhatikan dan diwaspadai karena hal-hal itulah yang nantinya menciptakan lorong-lorong menuju separasi (perpecahan) dan sudahlah pasti akan menjadi satuan terpisah yang besifat oposisi. Ini adalah salah satu gangguan internal yang akan timbul dan sangat membahayakan persatuan dan kesatuan suatu Bangsa dan tentu sangat memalukan.

Rasa malu suatu bangsa terjadi ketika rakyat tidak lagi memiliki rasa hormat, apresiasi, dan penundukan diri terhadap Pemerintah. Rasa malu ini sebenarnya kemudian menjadi boomerang bagi diri kita sendiri. Negara malu maka Pemerintah juga malu lalu kita menerima remah-remahnya. Pemerintah malu maka kita sebagai rakyatnya jadi malu sendiri. Kita mesti Nampak bahwa Pemerintah adalah Hamba Tuhan untuk kebaikan kita, tidak percuma Pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah Hamba Tuhan untuk

(21)

21

membalaskan murka Tuhan atas mereka yang berbuat jahat. Bagaimanapun karakter Pemerintah kita; baik atau buruknya, dari sisi tanggung jawab anda sebagai rakyat agar semestinya tidak perlu lebih dahulu mengajukan suatu pertanyaan bagaimana dengan Pemerintah itu sendiri yang telah atau sementara berbuat yang semena-mena terhadap rakyat, kesampingkan dahulu pertanyaan demikian lalu cobalah untuk mulai melihat dan bila perlu mencatat hal-hal yang tidak benar kemudian membawa semua itu ke hadapan sang Pencipta sambil melakukan proses birokrasi yang berdasarkan perundang-undangan yang ada di bawah konstitusi UUD 1945. Kita tidak semestinya kehilangan rasa hormat dan penundukan diri terhadap Pemerintah, sayangilah mereka sama seperti anda menyayangi diri anda sendiri. Tetapi bagaimana jika memang Pemerintah yang ada seringkali berbuat ketidakadilan, bagaimana jika mereka sewenang-wenang terhadap anda, bagaimana jika mereka tidak memperhatikan kepentingan anda? Apa yang harus anda lakukan terhadap mereka? Anda akan mendapatkan jawabannya dalam halaman-halaman berikutnya.

‘SEORANG WAKIL’ - ANDA ATAUKAH PEMERINTAH?

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa Pemerintah adalah Perwakilan dari Sang Pencipta untuk

(22)

22

kebaikan kita. Pemerintah telah ditentukan untuk menjadi ekspresi Tuhan dalam sistem Pemerintahan-Nya di bumi hingga akhir zaman. Tampuk pemerintahan ada di atas bahu mereka sebagai tanda bahwa merekalah yang dipilih untuk berkuasa dan menyandang pedang. Bukan berarti mereka ditentukan untuk memerintah secara diktator, tetapi mereka telah Tuhan pilih melalui kita dan tentu untuk kebaikan kita. Bagaimanapun sifat dari proses yang terjadi hingga terpilihnya suatu Pemerintah dalam Pemerintahan, anda tidak dapat untuk tidak mengakui bahwa itu telah ditetapkan untuk kebaikan anda. Mungkin anda melihat kecurangan-kecurangan dalam proses pemilihan sehingga hal itu membuat anda berpikir bahwa Pemerintah yang ada sekarang tidak ditetapkan Tuhan. Jelaslah bahwa Tuhan tidak pernah berkompromi dengan setiap kecurangan tetapi tujuan terbentuknya suatu Pemerintahan adalah kehendak-Nya. Anda tidak perlu kuatir dengan mereka yang masuk dalam dunia Pemerintahan telah ternyata berbuat hal yang buruk namun tetap ingatlah bahwa masing-masing mereka telah menerima upahnya dan akan menerima konsekwensinya sebab segala ssesuatu ada waktunya. Yang perlu anda lakukan hanyalah berseru kepada Dia yang telah menetapkan mereka tanpa harus kehilangan sikap penundukan diri dan ketaatan kepada Pemerintah anda. Ingatlah, bahwa semua perkara yang tidak berkenan di hadapan-Nya akan dihakimi oleh-Nya.

(23)

23

Pilihan atas mereka tidak bisa digugat atau bahkan disesalkan, olehnya itu, setiap kita mesti nampak bahwa Pemerintah adalah wakil atau hamba yang akan merepresentasikan pekerjaan Sang Pencipta di atas bumi, seharusnya merekalah yang akan membawa kehendak sang Pencipta di atas muka bumi. Ini bukan teori belaka, tetapi ini adalah ketentuan yang tidak dapat digugat. Jika kita menggugatnya, berarti kita sedang menggugat Tuhan dan jika kita melakukannya maka tentu ada konsekwensinya. Bagaimanapun keadaan Pemerintah, kita akan tetap lapangkan hati untuk menerima sembari menengadah kepada Sang Pencipta tentang keadaan Pemerintah. Hal yang baik yang dilakukan oleh mereka, kita terima dengan ucapan syukur dan demikianlah seharusnya yang Pemerintah lakukan bagi rakyatnya. Tetapi jika mereka melakukan ketidakadilan dan kesewenangan, kita mesti tetap berhati lapang dengan hal-hal itu semua. Tidak serta-merta kita langsung menghakimi mereka. Memang hal ini berat jika anda melakukannya dengan hati yang sempit dan tidak memahami apa maksud dari penetapan Pemerintah. Justru karena itu, yang mesti kita lakukan adalah menyerahkan mereka ke dalam tangan Tuhan yang perkasa, ke dalam otoritas-Nya melalui doa kita kepada-Nya. Jika semua manusia memahami bahwa tidak satupun yang benar di hadapan Tuhan, maka anda tidak akan mudah menghakimi sesama anda. Pahamilah dengan sungguh bahwa tidak satupun manusia yang dibenarkan hanya karena melakukan perbuatan baik

(24)

24

atau yang mulia sekalipun jika Ia tidak berkenan, sungguh lebih lagi jika perbuatan itu nyata tidak benar di hadapan manusia sendiri. Saya yakin bahwa kita semua percaya jikalau Tuhan itu ada, dia selalu memantau kita sebab bumi adalah tempat pijakan kaki-Nya.

Menghakimi Pemerintah justru menambah parahnya keadaan Negara kita. Prinsip menghakimi adalah demikian; Ukuran yang kita pakai untuk mengukur atau menghakimi akan diukurkan kepada kita dan lebih parahnya dipadatkan. Dengan kata lain bahwa jenis penghakiman yang anda jatuhkan atas sesama atau dalam hal ini Pemerintah akan diukurkan kembali kepada anda sendiri (secara khusus) dan kepada Negara anda (secara umum) bahkan ukuran itu semakin dipadatkan. Bukan hak kita untuk menghakimi sesama kita karena penghakiman adalah hak Tuhan. Hal inilah juga yang perlu dipahami dengan sungguh oleh para pejabat Pemerintah yang khusus berkecimpung dalam dunia Kehakiman untuk tidak sembarangan dalam menentukan keputusan hukum terhadap mereka yang dianggap bersalah. Semua yang diputuskan akan dipertanggungjawabkan kelak pada hari penghakiman Tuhan. Olehnya itu, anda sebagai rakyat sebaiknya menjadi rakyat yang bijak dalam bersikap dan meresponi setiap perkara dalam Pemerintahan Negara anda. Saya percaya bahwa dengan kesabaran, seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah yang lembut akan

(25)

25

mematahkan tulang. Jadi jika kita dengan hati yang lapang dan lidah yang lemah lembut menerima dan menyampaikan aspirasi kita tentang hal-hal yang dilakukan Pemerintah, maka kita pasti dapat meyakinkan mereka dan mematahkan tulang mereka (Kekerasan hati dan keangkuhan) kemudian kita pasti melihat Negara kita menjadi maju untuk menjadi pemenang dalam kompetisi di berbagai bidang. Pemerintah adalah duta Tuhan sementara anda dan saya adalah pengawas sekaligus pelapor, bukan mengawasi Pemerintah lalu kemudian melaporkan semua perkara kepada sesama anda jika ada hal-hal yang buruk sambil mencari di antara anda yang bisa se-paradigma dengan anda untuk melakukan demonstrasi dan kritisasi kemudian lebih lanjut lagi memaksa dan mengkudeta Pemerintah. Tetapi sebagai pengawas dan pelapor yang bijak, anda hanya menengadah kepada Dia yang berkuasa membunuh tubuh dan jiwa manusia. Jika yang anda lakukan hanyalah MENENGADAH maka itu berarti bahwa anda sedang menumpukkan bara api di atas kepala mereka. Dengan kata lain bahwa anda sementara mengumpulkan api murka Tuhan di atas mereka yang anda bawa dalam doa-doa anda kepada Tuhan. Ini bukan Teori belaka, tetapi Ujilah.

Perhatikanlah bahwa yang menjadi wakil atau duta dalam suatu Pemerintahan adalah pemerintah itu sendiri, bukan anda atau rakyat. Rakyat hanyalah bagian atau stake holder dalam suatu Pemerintahan yang ada.

(26)

26

Pemerintahan memang mencakup Pemerintah itu sendiri dan rakyat, lalu rakyat mencakup semua Lembaga atau Instansi atau Badan dan atau Organisasi-organisasi yang ada, semua berada dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan akan tetapi tetaplah pahami bahwa yang menjadi wakil atau Duta sang Pencipta adalah Pemerintah anda. Jika anda pahami hal ini dengan benar maka anda akan senantiasa merasa malu jika ingin mengambil alih dari tugas wakil atau duta dengan dasar ketidakpuasan atau kekecewaan yang ada di hati. Jika anda melakukan hal itu, berarti anda merasa jauh lebih baik dari Pemerintah dan itu juga berarti bahwa anda adalah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan selama hidup anda. Jika anda merasa bahwa anda adalah orang yang demikian, maka waspadalah kalau-kalau anda telah menjadi sangat angkuh dan itulah awal kejatuhan anda, sebab Kesombongan adalah awal dari Kejatuhan manusia.

(27)

27

BAB 3

PEMERINTAHAN YANG BAIK

Rakyat yang bijak, yang merindukan bangsa dan negaranya menjadi pemenang adalah rakyat yang nampak bahwa Pemerintah yang telah ditetapkan Tuhan adalah Wakil-Nya untuk memanifestasikan sistem Pemerintahan yang sebenarnya di bumi ini. Bukan hanya tahu bahwa Pemerintah adalah mereka yang kita percayakan untuk memimpin bangsa ini, lebih dari itu anda harus nampak bahwa mereka bukan sekadar dipercayakan untuk memimpin dan mengatur bangsa ini tetapi mereka adalah Duta besar Tuhan di bumi. Jika kita semua mau menurut dan mendengar, maka kita akan memakan hasil yang baik dari negeri ini, tetapi jika kita melawan dan memberontak, maka kita akan dimakan oleh pedang. Pedang melambangkan otoritas atau kuasa, bukan saja kita akan dimakan oleh kuasa atau otoritas Pemerintah yang ada, tetapi juga kuasa atau otoritas Sang Pencipta. Tuhan akan bertindak terhadap kita yang melawan dan memberontak terhadap para duta-Nya, Ia akan memurnikan perak kita dengan garam soda dan menyingkirkan segala timah daripadanya. Perak dan timah adalah hal-hal yang tidak murni dari hati kita yang selama ini telah tercampur-baur dengan hati nurani yang murni.

Pemerintah adalah Hamba Tuhan untuk kebaikan kita. Pemerintahan yang baik tidak saja melulu rakyat

(28)

28

yang memahami statusnya sebagai rakyat tetapi juga para Duta ini mesti nampak bahwa dalam Pemerintahan yang baik ada hubungan timbal balik yang harmonis seperti suatu rantai makanan dalam suatu ekosistem, yakni saling membutuhkan satu sama lain. Saling memberi makan dan memberi diri tanpa menuntut kebutuhan diri, berjalan normal tanpa didramatisir oleh pikiran-pikiran yang baik sekalipun. Pemerintah diberi makan oleh rakyat, tetapi Pemerintah semestinya juga memberi diri untuk rakyatnya, segenap hati dan pikirannya diberinya untuk rakyatnya tanpa menuntut kebutuhan diri. Hanya perlu diingat bahwa proses ini sebaiknya berjalan normal tanpa didramatisir oleh pikiran-pikiran, entah dari Pemerintah maupun dari rakyat bahkan sekalipun buah pikiran itu baik dan luhur adanya di pemandangan manusia, sebab tidak satupun perilaku manusia yang mulia sekalipun benar di hadapan-Nya jikalau Ia tidak berkenan membenarkannya. Semuanya tergantung dari pada-Nya, sebab Ia hanya berkenan kepada siapa Ia berkenan. Jadi dalam hal ini, anda tidak perlu berspekulasi dalam berbuat, semuanya akan sia-sia jika tidak seturut pada apa yang telah Ia tetapkan.

Karena Pemerintah adalah Hamba, maka sebaiknya para Duta mesti Nampak apa maksud dari seorang HAMBA bagi TUANnya. Beberapa hal penjelasan HAMBA berikut ini:

(29)

29 HAMBA

a) Hamba adalah orang yang DIPILIH

Terpilih bukan karena BISA atau MAMPU, terpilih bukan karena KUAT dan GAGAH tetapi ada satu hal yang melampaui - terpilih karena ANUGERAH. Pemerintah DIPILIH karena ANUGERAH saja, hanya karena KASIH KARUNIA saja anda terpilih. Ini poin yang sangat perlu dipahami oleh para Duta. Tidak satupun orang yang TERPILIH sanggup menyombongkan dirinya jika ia paham siapa ia sebenarnya; anda adalah seorang HAMBA bukan TUAN. Anda kini memiliki seorang TUAN dan Ia yang telah memilih anda di antara banyak orang yang lain. TUAN itu memilih anda bukan karena anda punya KEMAMPUAN, bukan karena KEKUATAN dan KEGAGAHAN anda tetapi hanya karena ANUGERAH-Nya saja, sebab Ia hanya berkasih karunia kepada siapa Ia berkasih karunia. Jadi kini tidak ada alasan untuk meninggikan diri. Mungkin anda berpikir bahwa saya sudah dipilih oleh pendukung saya yang banyak, karena kemampuan sayalah orang-orang itu sepakat memilih saya. Nampaknya memang demikian… mengapa, karena tidak mungkin binatang dan pepohonan yang memilih anda selama anda masih berpijak di muka bumi ini. Tapi

(30)

30

kenyataannya, anda hanya beroleh ANUGERAH untuk dipilih melalui orang lain. Sekalipun anda telah mengumpulkan banyak orang dan telah memastikan bahwa mereka akan memilih anda, tetapi jika Tuhan tidak menghendakinya, maka semuanya sia-sia belaka. Bisa saja Ia mengubah pikiran orang-orang yang anda sudah kumpulkan – Ia memiliki kuasa untuk itu. Belajarlah untuk tidak mempercayakan diri anda kepada manusia, sebab manusia tidak lebih dari hembusan nafas, dan sebagai apakah manusia dapat dianggap? b) Hamba adalah orang yang DIUTUS

Seorang yang DIUTUS adalah seorang yang DIPERCAYA untuk melakukan kehendak yang mengutusnya. Ini mengandung makna SESUATU UNTUK DIKERJAKAN. Anda DIUTUS karena suatu pekerjaan yang besar dan anda dianggap layak untuk melakukannya. DIUTUS karena suatu pekerjaan, maka anda semestinya terlebih dahulu mengetahui dan memahami apa yang anda akan kerjakan. Dari manakah anda dapat TAHU dan MEMAHAMI apa yang anda akan kerjakan? Tentu dari TUAN atau MAJIKAN anda. Ini menunjukkan bahwa ada suatu HUBUNGAN yang sangat baik antara anda sebagai Hamba dan Tuan anda selama anda bekerja untuk-Nya. Kita khususnya orang yang

(31)

31

ber-Tuhan hendaklah belajar mendengar apa yang Ia kehendaki bagi kita agar anda tahu apa yang Ia kehendaki untuk anda kerjakan. Jika anda sudah TAHU dan MEMAHAMI apa yang anda akan kerjakan, barulah anda siap bekerja. Jangan sekali-kali mendahului sebelum mendengar, jika anda tergesa-gesa maka pasti salah jalan. Gunakanlah Intuisi anda untuk belajar mendengar apa yang Ia kehendaki, agar apapun yang akan anda kerjakan, seberat apapun tugas itu maka semuanya akan terasa ringan dan pintu masuk untuk mendapatkan keberhasilan pasti dibuka-Nya bagi anda, sebab jika Ia yang membuka pintu maka tak satupun orang yang dapat menutupnya. Ini bukan TEORI belaka tetapi UJILAH!

c) Hamba adalah orang yang MELAYANI

Tugas utama seorang hamba adalah MELAYANI TUANnya. Apa yang Tuannya kehendaki, segera hamba itu mengerjakannya tanpa alasan. Tanpa memikirkan dirinya sendiri, ia segera melakukan apa yang Tuannya kehendaki untuk dilakukan. Jika Pemerintah mengerti hal ini maka segera mereka melakukan pekerjaannya dengan baik-baik sesuai dengan keinginan Tuannya tanpa alasan. Pemerintah yang telah dipilih sebagai wakil-Nya seharusnya

(32)

32

melayani rakyatnya bagi Dia dan untuk Dia. Bukan sebaliknya, rakyat yang melayani Pemerintahnya. Ketahuilah ini hai, Pemerintah… anda seharusnya melayani rakyat dan menjadi hamba rakyat, bukan dilayani dan menjadi Tuan atas rakyat anda, mau mengabdi kepada mereka dan mau menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, demikian pula Rakyat, mengabdilah kepada Negaramu, jawablah pemerintahmu dengan kata-kata yang baik maka mereka akan menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu. Tidak semua orang mau dan bisa melayani, anda telah terpilih menjadi Pemerintah suatu Desa, Kota, Kabupaten, Provinsi dan atau Negara, anda mau dan bisa melayani menurut standar Tuan anda, olehnya itu, anda mesti melayani rakyat dengan baik dan bijaksana menurut standar Tuan anda dan bukan menurut ukuran anda. Jika tidak demikian, maka TUHAN akan mengadakan perhitungan dengan anda sebab di mata-Nya anda adalah Hamba yang jahat. Jangan pernah berpikir bahwa seorang Pemerintah adalah yang terbesar di antara bangsanya. Tetapi jika anda ingin menjadi yang terbesar maka hendaklah anda menjadi pelayan di antaramu. Orang yang dipandang besar adalah orang yang menjadi pelayan di antara sesamanya. Karena itu, jadilah hamba yang baik, setia dan bijaksana dan

(33)

33

belajarlah untuk melayani seorang akan yang lainnya.

d) Hamba adalah orang yang TAAT

Taat sampai titik darah penghabisan. Semboyan inilah yang mesti dianut menjadi filosofi Pemerintah. Sampai kapanpun akan tetap memperjuangkan aspirasi rakyatnya berdasarkan visi yang diterima. Bagaimanapun keadaan sekeliling ia akan selalu bersandar pada visi yang diterima. Pentingnya suatu visi dalam mengemban roda Pemerintahan sehingga ia tidak bisa untuk tidak terus maju untuk menjadi pemenang dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Kapanpun dan dimanapun ia tidak akan pernah memilih untuk mundur dari garis pertempuran.

Ketaatan akan membawa kita kepada hati yang lapang terhadap rakyat dan keadaannya sehingga kita beroleh pengertian tingkat tinggi. Sebab hanya dengan hati yang lapanglah kita dapat memperoleh pengertian tingkat tinggi. Dengan hati yang lapang, rakyat mesti taat dan tunduk kepada pemimpin di atasnya – Pemerintah. Demikian pula Pemerintah mesti taat dan tunduk kepada pemimpin yang di atasnya – Tuhan. Suatu struktur yang indah jika kita semua,

(34)

34

baik Pemerintah maupun rakyat memahami hal ini.

Ketaatan dan penundukan diri adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya harus berbunyi sesuai dengan tangga nadanya masing-masing. Kita, rakyat, harus taat kepada Pemerintah berdasarkan hal yang baik yang mereka lakukan dan kita tidak bisa taat berdasarkan hal yang buruk yang mereka lakukan. Ketaatan itu relatif, kita wajib taat terhadap apa yang baik dan tidak bisa taat terhadap apa yang jahat. Tetapi ingat, dikatakan jahat atau tidak, bukan berdasarkan ukuran pikiran kita tetapi mesti berdasar pada hati nurani yang murni. Agak berbeda dengan ketaatan, rasa penundukan diri itu tanpa pilihan, kita tidak bisa untuk tidak tunduk kepada Pemimpin di atas kita walau bagaimanapun karakter yang mereka miliki. Penundukan diri mengacu pada rasa hormat dari hati kita dan menghargai apa yang mereka sudah kerjakan untuk kebaikan kita walau masih sebesar biji anggrek saja. Di sinilah awal kekacauan bahkan kehancuran suatu Negara jika rakyatnya sudah mulai tidak memiliki rasa hormat dan menghargai Pemerintahnya sebagai pemimpin di atasnya. Tunduk kepada Pemerintah sebagai pemimpin di atas kita itu mutlak dilakukan, jika tidak, maka Negara kita akan

(35)

35

kacau bahkan hancur karena kita sementara membuka jalan bagi si jahat untuk membuat Negara kita menjadi mangsanya. Ini bukan TEORI belaka, tetapi UJILAH.

Ketaatan akan membawa anda pada apa yang tidak anda duga. Apa yang tidak pernah anda dengar, lihat, bahkan yang tidak pernah timbul dalam hati anda, semua itu disediakan bagi anda yang taat pada apa yang menjadi ketetapan Tuhan. Pemerintah adalah alat Tuhan di bumi untuk kebaikan anda semua dan anda mesti taat dan tunduk di bawah Pemerintahan mereka. Ingatlah selalu untuk belajar mengusahakan hal-hal yang baik bagi negeri anda selama anda hidup, waktu ini begitu singkat bagi setiap orang yang mengasihi Sang Pencipta sebab itu ia pasti mempergunakan waktu untuk perkara-perkara yang baik. Jauh sebelum Pemerintahan yang anda kenal ada, telah ada suatu Pemerintahan yang semula sesuai dengan standar-Nya. Model Pemerintahan yang seharusnya terealisasi tetapi manusia telah merusaknya sehingga apa yang ada sekarang seharusnya memiliki bahan pembelajaran yang berharga. Paling tidak, mulailah untuk belajar taat dan tunduk di bawah Pemerintahan yang ada di negeri anda.

(36)

36

e) Hamba adalah orang yang MENDENGAR

Datang untuk mendengarkan lebih baik dari datang untuk berkata-kata saja. Mendengarkan lebih terhormat dari hanya berbicara. Siapakah orang yang paling bijaksana di bumi ini dibanding dengan orang yang kesukaannya mendengarkan. Rakyat mesti belajar mendengarkan apa yang Pemerintah katakan dan putuskan, demikian pula Pemerintah mesti belajar mendengarkan visi yang Tuhan sudah taruh di dalam hati anda agar rakyat bisa mempercayai apa yang anda katakan dan putuskan karena setahu rakyat bahwa yang anda katakan dan putuskan bukan semata berasal dari inisiatif anda semua tetapi dari Dia yang memberikan Visi. Pemerintah tidak semestinya membuat rakyatnya menjadi liar hingga tidak dapat diatur lagi. Tanpa Visi maka liarlah rakyat. Visi; pandangan ke depan; tujuan; yang hendak dicapai, merupakan dasar bagi Pemerintah untuk melakukan Misi dalam bangsa dan negaranya. Tanpa Visi maka Misi yang akan dilakukan akan menjadi serong kiri dan kanan tidak terarah hingga anda akan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menempuh perjalanan agar sampai di kota tujuan (Visi) dan bahkan bisa saja tidak akan pernah tiba di tempat tujuan. Untuk lebih memahami Visi,

(37)

37

hendaklah kita mengetahui PRINSIP VISI dan CARA VISI itu diperoleh.

Visi memiliki prinsip dasar seperti berikut ini:

 Visi mengamati diri anda tentang perkara-perkara yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup anda selama ini. Hanya dengan mengetahui dan memahami perkara-perkara yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup anda maka anda akan lebih mudah memahami keadaan di sekitar anda.

 Visi dimulai oleh para pemimpin. Entah dari Tuhan secara langsung kepada anda ataupun dari Tuhan melalui orang lain Visi itu datang, tetap saja yang memulai melakukannya adalah pemimpinnya. Ia atau mereka yang mempelopori untuk awalnya. Ini jelas berbeda dengan visi pribadi masing-masing orang.

 Visi itu harus ditanam. Ditanam berarti dituntut untuk bergerak; bergerak menaburkan, menyebarkan atau memberitahukan hingga dapat tertanam di hati para pendengarnya. Tidak seharusnya visi itu dipendam atau disembunyikan. Visi mesti diketahui oleh semua orang agar

(38)

38

mereka dapat membantu dalam berbagai bentuk dukungan.

 Visi itu akan memotivasi anda. Melakukan sesuatu dengan Visi akan terasa lebih berapi-api dibanding jika tanpa Visi. Visi yang ada dapat menjadi suatu dorongan dari dalam untuk berjalan sesuai dengan arah yang benar, sesuai dengan alur yang disepakati bersama dalam program kerja dan konstitusi, dan menjadi titik akhir dari tali ukur yang anda telah bentangkan.

 Visi akan menguji sikap hati anda. Karena anda sudah memiliki dasar yang kuat untuk mencapai suatu tujuan maka tentu di hati anda akan merasakan suatu kepastian pencapaian. Anda boleh merasakan bahwa apa yang telah anda terima merupakan hal yang dapat senantiasa menguatkan anda untuk melangkah maju. Hal inilah nantinya yang akan menguji sikap hati anda apakah anda akan tetap progress karena keadaan yang baik-baik saja ataukah anda akan step back karena keadaan yang mulai memburuk. Apakah dengan kepastian yang anda sudah miliki akan membuat hati anda tidak bergantung (independen) lagi pada

(39)

39

Sumber Pemberi Visi ataukah justru anda akan semakin bergantung (dependen) pada-Nya. Olehnya itu, anda sebaiknya tetap berpegang pada sumber Pemberi Visi karena hanya Ia yang sanggup mengawasi jalan anda agar tetap pada jalur visi yang telah anda terima.

 Visi akan menguji kesetiaan anda. Jika anda telah menerima Visi, anda akan nampak apa yang akan dicapai nantinya, akan tetapi selama proses yang berlangsung menuju Visi, akan ada banyak tantangan yang akan anda hadapi. Namun apapun itu, bertindak bijaksanalah terhadap situasi atau keadaan yang menyela anda karena hanya kebijaksanaan sajalah yang sanggup memelihara kita dari jalan yang bengkok yang mengakibatkan anda menyimpang dari jalan Visi hingga anda tidak dapat berlaku setia. Tetaplah setia walau seribu rebah di sisi kiri dan sepuluh ribu di sisi kanan. Jangan takut, sebab Tuhan memelihara jalan orang yang berlaku setia. Utusan atau duta yang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan. Kesetiaan anda akan mendatangkan kesembuhan bagi anda

(40)

40

sebagai Pemerintah dan juga kesembuhan bagi rakyat anda. Mereka yang terluka karena perlakuan Pemerintah yang sebelumnya akan mendapat pemulihan oleh kesetiaan anda saat ini, setialah menyatakan hukum yang berlaku di kota anda hingga kota anda akan disebut kota keadilan, kota yang setia. Dengan kesetiaan maka rakyat tidak akan mendapatkan anda dalam kelalaian. Mari belajar untuk setia dalam perkara-perkara kecil maka anda akan diberi perkara yang lebih besar lagi. Walau anda tidak setia, Tuhan tetap setia karena Ia adalah setia dan adil sehingga Ia sanggup membuat anda menjadi setia pula.

Para Pemerintah bisa memperoleh Visi (rakyatpun tidak terkecuali) dengan cara berikut:

 Pertama, mendengarkan suara Tuhan melalui intuisi anda sehingga anda memiliki beban di dalam hati, bebannya apa dan di bidang apa tergantung pada apa yang anda sudah dengar dan yang tertanam di hati anda yang kemudian disuarakan lewat intuisi anda, itulah Visi. Ini bukan TEORI belaka, tetapi UJILAH.

(41)

41

 Kedua, mendengarkan suara Tuhan lewat beberapa orang tertentu atau hamba Tuhan lainnya.

 Ketiga, mendengarkan Tuhan lewat apa yang sudah anda yakini itu baik untuk dilakukan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain dan di hadapan Tuhan.

f) Hamba adalah orang yang BELAJAR

Setiap kita wajib untuk belajar. Semua kita mesti nampak bahwa prinsip dasar pembelajaran adalah RASA INGIN TAHU (Curiousity). Tanpa prinsip ini, anda akan sukar untuk masuk dalam proses pembelajaran. Hal ini berlaku umum; Pemerintah maupun rakyat. Perkara ini bukan saja dilakukan secara formal, informal ataupun nonformal tetapi lebih dari itu semua, belajarlah untuk:

 Mendengarkan

 Menerima pendapat orang yang berbeda paham dengan anda

 Memberi apa saja kepada yang berhak menerimanya. Berilah keadilan kepada

(42)

42

yang berhak menerima keadilan, berilah perhatian kepada yang berhak menerima perhatian, berilah kepercayaan kepada yang berhak menerima kepercayaan, berilah kebijaksanaan kepada yang patut dibijaksanai, berilah prioritas kepada yang berhak menerima prioritas, berilah waktu, tenaga dan pikiran anda kepada yang patut menerima semua itu dan akhirnya berilah diri anda kepada mereka yang sangat membutuhkan anda.

g) Hamba adalah orang yang BERTANGGUNG JAWAB

Suatu hari seorang Tuan akan bepergian ke luar kota. Namun sebelum ia berangkat, ia terlebih dahulu mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Yang seorang dipercayakannya lima talenta, yang seorang lagi dua talenta dan yang lain satu talenta. Masing-masing mereka dipercayakan sesuai dengan kemampuan mereka kemudian ia berangkat. Setelah tuan mereka pergi, yang mendapatkan lima talenta pergi memutar uang itu dan ia mendapatkan keuntungan lima talenta. Hamba yang mendapat dua talenta juga berbuat serupa hingga ia mendapat keuntungan dua talenta. Lain

(43)

43

halnya dengan hamba yang mendapat satu talenta, ia justru menggali tanah dalam-dalam lalu menanam uang tuannya itu dalam tanah. Beberapa lama setelah itu, tuan mereka pulang lalu mengadakan perhitungan dengan ketiga hamba-hambanya. Yang dipercayakan lima talenta datang ke hadapan tuannya lalu berkata „Ini uang tuan yang aku jalankan dan aku mendapat laba lima talenta‟. Tuannya berkata „Baik sekali pekerjaanmu hai hamba yang baik dan setia, engkau telah setia melakukan perkara yang kecil dan olehnya itu aku akan memberi perkara yang lebih besar lagi kepadamu‟. Hamba yang dipercayakan dua talenta menghadap tuannya dan berkata „Tuan, aku juga telah mengusahakan uang tuan dan aku kini mendapatkan laba dua talenta, ini ambillah milik tuan‟. Melihat itu, tuannya berkata „Baik sekali pekerjaanmu hai hamba yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab yang kecil, dan olehnya itu aku akan memberi engkau tanggung jawab yang lebih besar lagi kepadamu‟. Segera setelah tuannya berkata demikian, datanglah hamba yang diberi satu talenta. Ia berkata „Tuan, aku tahu jika engkau adalah tuan yang jahat, engkau menuai dari tempat yang tidak pernah tuan tabur dan tuan memungut dari tempat yang tuan tidak pernah tanam. Aku takut sehingga aku menyimpan uang tuan di dalam

(44)

44

tanah. Ambillah uang tuan ini kembali‟. Mendengar hal itu, tuannya marah sambil berkata „Engkau sudah tahu jika aku menuai dari tempat yang tidak pernah aku tabur dan memungut dari tempat yang tidak pernah aku tanami, sudah seharusnyalah engkau memberikan uangku itu kepada orang yang mau mengusahakannya agar jika aku kembali aku akan menerima uangku serta dengan bunganya. Jadi sekarang, ambillah talenta itu daripada hamba ini dan berikan kepada yang memiliki sepuluh talenta. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil apapun juga. Lalu tuannya berkata „Campakkanlah hamba yang jahat dan tidak setia ini ke dalam kegelapan yang paling gelap, sebab di sanalah terdapat ratap dan kertak gigi‟.

Anda bertanggung jawab bukan sekadar karena pekerjan, jabatan atau kedudukan yang telah dipercayakan kepada anda, akan tetapi anda bertanggung jawab karena anda mau belajar setia terhadap Tuhan dan mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa anda. jika anda adalah Pemerintah yang dipercayakan oleh rakyat untuk memimpin mereka, maka dengan sendirinya tanggung jawab itu akan mengikuti anda. Mau atau tidak, seharusnyalah anda

(45)

45

berkata „iya‟ terhadap tanggung jawab itu. Apa yang anda dapatkan atau pemberian yang anda terima seharusnya dijalankan hingga menghasilkan sesuatu yang lebih dari yang semula. Anda diberi kepercayaan, berarti anda diminta untuk menghasilkan sesuatu yang lebih untuk rakyat anda dan terlebih untuk Sang Pencipta. Sekali lagi bahwa belajarlah untuk merasa malu jika memang anda tidak bisa atau tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang akan dipercayakan kepada anda. Jika anda mau belajar setia untuk bertanggung jawab maka anda akan mewarisi negeri. Ini bukan TEORI belaka, tetapi UJILAH.

TIGA MACAM SIFAT HAMBA

Mental hamba yang dipaparkan sebelumnya adalah bukti mental yang teruji. Berikut ini anda akan nampak dua dari tiga jenis mental hamba yang belum ditempa dan yang satu lagi adalah jenis mental yang lebih unggul:

a) Hamba Bungsu

Jenis hamba ini sifatnya banyak menuntut. Boleh dikata jika mental ini adalah mental budak.

(46)

46

Seringkali, kita melihat ada Pemerintah yang seharusnya menjadi tempat rakyat untuk mengadu, tetapi yang terjadi sebaliknya, merekalah yang menuntut rakyatnya ini dan itu, sama seperti seorang anak kecil yang merengek kepada orang tuanya minta ini dan itu. Seharusnya Pemerintah belajar diri untuk dewasa agar bisa belajar memberi, bukannya belajar merengek seperti anak-anak. Anda semua harus keluar dari mental seperti ini dan milikilah mental kerajaan; mental yang dewasa.

b) Hamba Sulung

Jenis hamba ini sifatnya tidak mau kalah dengan yang lain, tidak mau melihat orang lain maju, sukanya cemburu saja. Terkadang kita melihat ada Pemerintah yang bersaing secara tidak sehat di antara mereka sendiri. Masing-masing tidak mau kalah terhadap yang lainnya, masing-masing mempertahankan kehendak sendiri yang muaranya adalah pertengkaran dan adu jotos. Parahnya, mereka sadar atau tidak, ternyata rakyatnya sedang melihat mereka di atas ring jabatan sedang adu jotos dengan yang lainnya. Ada juga yang lain yang merasa terusik jika rekan yang lainnya mengalami progress yang signifikan. Ia merasa cemburu dengan kemajuan rekannya yang lain tanpa harus bertanya bagaimana cara

(47)

47

ke arah itu. Mari belajarlah menjadi hamba yang saling membangun dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Belajarlah untuk sehati dan sepikir di dalam jiwa, se-iya dan se-kata dalam perbuatan, yang merasa belum mengalami kemajuan, datanglah kepada yang telah anda lihat mengalami kemajuan lalu pelajari caranya, tetapi yang telah mengalami kemajuan, dengan rendah hati tolonglah yang datang kepada anda karena ia merasa belum mengalami kemajuan yang berarti.

c) Hamba Hati Bapa

Seperti Bapa yang sayang anaknya, demikianlah Tuhan mengasihi Pemerintah dan rakyatnya, seperti Bapa sayang anaknya, demikianlah Pemerintah mengasihi rakyatnya sendiri. Hamba yang memiliki Hati Bapa adalah hamba yang benar-benar memperhatikan rakyatnya sama seperti dirinya sendiri, ia lebih mementingkan keperluan rakyatnya dari pada kepentingannya sendiri, ia membela rakyatnya yang tertindas, ia memberikan yang terbaik untuk rakyatnya, saat rakyatnya kelaparan, ia memberi makan, saat mereka haus ia memberi minum, saat mereka kedinginan ia memberi tumpangan dan kehangatan, saat mereka terasing ia menyambut mereka, bahkan di saat rakyatnya terancam ia

(48)

48

segera menjadi pelindung dan pembela mereka tanpa menghiraukan nyawanya sekalipun. Bagaimanapun bobroknya karakter rakyatnya, ia tetap menerima mereka dengan hati yang lapang tanpa mempercakapkan kekurangannya sama seperti Tuhan sudah memilih dan menerima mereka untuk dilayakkan menjadi Pemerintah; Duta-Nya di antara bangsanya.

(49)

49

BAB 4

PEMERINTAHAN YANG BENAR

Pada pasal sebelumnya, anda telah memahami bagaimana Pemerintahan yang baik. Saya yakin dan selalu berharap di dalam Doa agar kita semua boleh mengalami Pemerintahan yang baik. Jika boleh kali ini, anda akan dibawa lebih progress lagi dalam menyikapi model Pemerintahan yang lebih jauh dalam kedewasaan.

Satu prinsip yang mesti anda nampak bahwa sesuatu yang Baik belum tentu Benar. Prinsip ini sama halnya dengan Pekerjaan Jiwa dan Pekerjaan Roh. Pekerjaan Roh jauh lebih kuat dari Pekerjaan Jiwa, dengan kata lain, Kebenaran jauh lebih kuat dari Kebaikan. Jika anda rindu mengalami suatu tatanan Pemerintahan yang sesungguhnya, anda perlu nampak tentang KEBAIKAN dan KEBENARAN. Secara umum, Baik dan jahat adalah satu kelompok, sementara Benar dan Salah juga sekelompok. Kebaikan dan Kejahatan lalu kemudian Kebenaran dan Ketidakbenaran.

KEBAIKAN dan KEBENARAN

Mari melihat pasangan Kebaikan dan Kebenaran. Hampir semua orang menganggap bahwa Baik dan Benar itu sama saja, perbedaan mereka tidak lebih dari

(50)

50

setipis silet, namun pada kenyataannya ada makna yang sangat mendasar yang membuat keduanya berbeda.

Di dunia ini banyak orang yang baik bahkan sangat baik perawakannya, kelakuannya sungguh baik di pandangan manusia sehingga terkadang mendapatkan apresiasi. Banyak orang yang berkata, Oh, dia memang baik, perbuatannya sangat mengagumkan dan menyentuh hati kami. Memang seharusnya demikian; perbuatan kita mesti baik terhadap semua orang, bagaimanapun jahatnya orang terhadap anda, tetapi jiwa anda yang di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan tekad akan senantiasa membalas kejahatan dengan kebaikan yang anda miliki. Berbuat baik bukan karena orang itu baik terhadap anda, bukan karena hanya pantas, tetapi berbuat baik kepada orang lain berarti anda sementara berbuat baik kepada diri anda sendiri. Sebab kebaikan itu seperti awan hujan musim semi, kebaikan itu seperti embun yang turun ke atas rumput, menyejukkan dan memberi kesegaran kepada orang lain sekalipun mereka jahat. Pemerintah telah diberikan kepada kita untuk kebaikan kita semua, jika anda sebagai rakyat rindu melihat kebaikan demi kebaikan terjadi di negeri anda maka dimanapun ada jalan yang baik, tempuhlah itu. Berilah yang terbaik atas apa yang Pemerintah kehendaki untuk kebaikan anda. Jangan menahan kebaikan itu, tetapi hendaklah kebaikan hatimu diketahui oleh semua orang. Siapa yang menahan gandum, ia dikutuki orang. Tetapi berkat akan

(51)

51

turun ke atas orang yang menjual gandum. Kejarlah apa yang baik bagi Pemerintah supaya mereka berkenan kepada anda, kejarlah apa yang baik bagi rakyat anda agar anda dikenan oleh rakyat anda sendiri. Sebab siapa yang mengejar kejahatan akan ditimpa dengan kejahatan pula. Ini bukan TEORI belaka, tetapi UJILAH.

Ada tiga hal di dalam diri kita yang patut diperhatikan:

 HATI yang BAIK

Hati adalah sumber terpancarnya KEHIDUPAN. Apa yang ada di dalam akan terpancar ke luar, bagaimana keadaan Hati anda maka demikian pula yang akan terekspresi ke luar diri anda. Tidak seorangpun yang dapat berkata bahwa dirinya baik jika terkadang masih ada hal yang jahat yang ia ekspresikan ke luar. Ini berbicara masalah prinsip. Semua manusia di bawah kolong langit ini, tidak seorangpun yang baik jika diukur dari kelakuan kita sehari-hari. Olehnya itu hanya ada satu yang baik – Tuhan semesta alam. Tidak ada satupun hal yang jahat di dalam diri-Nya. Jadi jika kita merasa bahwa kita „baik‟ tetapi di mata Tuhan sebaliknya, maka betapa kerasnya kita harus berbuat baik agar dapat dikatakan baik di mata-Nya. Mintalah Hati yang Baik dari Dia yang adalah baik agar apa

(52)

52

yang anda lakukan merupakan standar yang baik di mata-Nya.

Jangan pernah berkata untuk tidak dapat berbuat baik kepada Pemerintah yang di atasmu hanya karena anda melihat kelakuan Pemerintah anda tidak sesuai dengan yang anda harapkan, padahal anda dapat melakukannya. Sebaliknya, tidak ada alasan bagi Pemerintah untuk tidak dapat berbuat Kebaikan kepada rakyatnya. Ini bukan masalah dapat atau tidaknya anda melakukan kebaikan kepada rakyat, tetapi ini berbicara masalah keharusan karena sadar bahwa anda semua adalah Hamba atau Pelayan. Olehnya itu, masing-masing kita, baik sebagai Pemerintah maupun sebagai rakyat agar Kebaikan Hati kita diketahui semua orang bukan karena hanya ingin memperlihatkan saja, tetapi karena memang Kebaikan itu dengan sendirinya terpancar dari dalam Hati lalu terekspresi ke luar. Kebaikan Hati di sini mengacu kepada memperlakukan orang dengan patut, tenggang rasa, memperhatikan orang lain, tidak kaku dalam menuntut hak absah seseorang dan memperlakukan orang lain berdasarkan apa yang dianggap baik dan patut dipuji. Ini bertentangan dengan bersungut-sungut, berbantah-bantahan, ambisi yang egoistis dan kemuliaan yang sia-sia. Jika matamu baik, maka teranglah seluruh

(53)

53

tubuhmu. Jika Hatimu Baik, maka teranglah seluruh jiwamu.

 PERKATAAN yang BAIK

Apa yang keluar melalui mulut, meluap dari hati. Dengan perkataan kita bisa dibenarkan, namun dengan perkataan pula kita dapat dihukum.

Dengan dasar hati yang baik, maka perkataan kita yang keluarpun akan baik adanya. Mungkin ada orang yang berkata, „Oh, yang saya katakan tadi hanya pura-pura, yang saya katakan tadi tidaklah lebih dari bercanda saja‟. Sesungguhnya, apa yang sudah anda katakan yang keluar melalui mulut anda maka itulah yang meluap dari dalam hati anda yang secara tidak langsung menggambarkan siapa diri anda sebenarnya. Jika yang keluar dari mulut anda adalah rongrongan, kritikan dengan nada merendahkan, mengatakan bodoh, tolol dan tidak becus terhadap Pemerintah atau siapa saja, maka sebenarnya demikianlah apa adanya anda. Yang sebenarnya, anda adalah perongrong, pengkritik yang bodoh, tolol dan tidak becus. Logisnya, dengan beberapa pertanyaan sederhana; apakah negeri ini akan jauh lebih baik di tangan anda? Bagaimanakah keadaan negeri ini jika anda yang memerintah? Mengapa anda mengatakan bahwa pemerintah incumbent tidak

(54)

54

becus? Kapan anda akan memerintah dengan cara yang becus?

Mungkin anda dapat menjawab semua pertanyaan ini dengan baik, tetapi apakah itu benar? Jangan menjadi sombong tetapi rendah hatilah. Semua lontaran di atas adalah perkataan-perkataan yang putus asa, perkataan-perkataan yang tanpa pengharapan, perkataan yang tanpa rasa kepercayaan, perkataan yang sebenarnya sedang menggambarkan diri anda yang sebenarnya sesaat setelah anda melontarkannya kepada Pemerintah anda atau orang lain. Perkataan yang baik seperti madu bagi orang yang mendengarkan, tetapi perkataan yang putus asa seperti paku yang tertancap di hati lalu dilumuri dengan cuka. Tahukah anda bahwa dengan semua perkataan yang jahat tadi akan menghukum diri anda sendiri. Ini bukan TEORI belaka, tetapi UJILAH.

Lebih baik berdiam diri dan dikatakan bodoh daripada berbicara lalu membuktikan bahwa memang anda bodoh.

Pepatah Arab menggambarkan Empat Jenis Manusia berdasarkan perkataannya:

 Ia tidak tahu jika ia tidak tahu

Referensi

Dokumen terkait

Menentukan kondisi operasi yang optimal (daya microwave , lama waktu ekstraksi, dan rasio antara bahan baku yang akan diekstrak dengan pelarut yang digunakan) dari

Setelah semua anak selesai melaksanakan 3 kegiatan yang disediakan kemudian guru mengkondisikan anak untuk duduk melingkar, lalu guru meminta anak satu persatu

Selain itu, untuk mengetahui kenaikan muka air laut di perairan PPP Sadeng berdasarkan data multi satelit altimetri maka menggunakan data satelit altimetri yang telah dikelompokan

Secara administratif dalam kegiatan keperawatan, bertanggung jawab kepada Perawat Kepala Kamar Operasi, dan secara operasional bertanggung jawab kepada ahli bedah dan perawat

Humbang Hasundutan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 42 15071902710300 HONDA SIHOTANG Kab.. Humbang Hasundutan Guru

mendayagunakan zakat secara produktif sebagai pemberian modal usaha yang tujuannya adalah supaya zakat tersebut dapat berkembang. Zakat didayagunakan dalam rangka