• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

3. Menulis Kalimat Sederhana

Beberapa pakar mendefenisikan kalimat terdiri atas berbagai pengertian, antara lain :

1. Sultan Takdir Alisyahbana (dalam Syamsuri, 2008:44) menjelaskan bahwa kalimat adalah kumpulan kata-kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap.

2. Gorys Keraf (dalam Syamsuri, 2008:44), mengemukakan bahwa kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan Intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.

3. Fachmuddin A.E (Syamsuri, 2008:44) mendefinisikan bahwa kalimat adalah kelompok kata yang mempunyai arti tertetu, terdiri atas subjek dan predikat tidak tergantung pada suatu konstruksi gramatikal yang lebih besar.

Berdasarkan ketiga pengertian di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa kalimat dapat menarik kesimpulan bahwa kalimat adalah kumpulan kata

17

yang memiliki pengertian lengkap dan dibangun oleh konstruksi fungsional dan tidak bergantung pada konstruksi gramatikal yang lebih besar.

b. Sederhana

Sederhana menurut Syamsuri (2008:44) adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk satu hal berlaku pula untuk hal yang lain.

Sederhana memainkan peran penting dalam pemecahan masalah pengambilan keputusan, persepsi, memori, kreativitas dan komunikasi letaknya dibelakang tugas-tugas dasar seperti identifikasi tempat, benda, orang misalnya persepsi wajah dan sistem pengenalan wajah telah berpendapat bahwa sederhana adalah inti dari kognisi, bahasa sederhana khusus terdiri dari contoh, perbandingan, metapora, similes, kiasan dan perumpamaan.

c. Kalimat Sederhana

Kalimat Sederhana adalah membuat suatu pasangan yang berlawanan kemudian merangkaikannya dalam suatu kalimat. Pada kegiatan ini siswa diharapkan mengemukakan pasangan kata atau yang berlawanan untuk mendeskripsikan suatu objek (dalam Akhdiyah, 1988).

4. Model Synectics pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Ahli yang menyusun model ini ialah William J.J Gordon (dalam Mudjiono, 1993) masyarkat membutuhkan pekerjaan yang kreatif. Kreativitas itu dapat dipelajari, sebab (i) kreativitas merupakan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari

dan dilakukan oleh orang-orang, (ii) Proses kreatif bukan barang aneh, (iii) penemuan-penemuan kreatif dapat terjadi disegala bidang kehidupan, (iv) penemuan dihasilkan oleh individu atau kelompok diperlukan kegiatan belajar yang mendorong perkembangan kreatifitas diperlukan strategi mengajar yang khusus, Model Synectics dirancang untuk pengembangan kreativitas.

Model Synectics (dalam Mudjiono, 1993) adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk melatih siswa mengembangkan (i) keterampilan memecahkan masalah secara kreatif dan (ii) kreatif pribadi.

Model Synectics juga cocok menggambarkan rasa simpati, dan kemampuan membuat tilikan dalam hubungan sosial. Dalam kehidupan modern perubahan terjadi secara cepat sehingga menimbulkan banyak masalah. Masalah tersebut ada yang sederhana dan ada yang kompleks.

Pemecahan masalah memerlukan penelitian, pemecahan masalah memerlukan penelitian secara ilmiah dan sekaligus memerlukan kreativitas baik dalam proses maupun dalam cara-cara pemecahan. Siswa perlu didik untuk terampil memecahkan masalah, dan kreatif dalam memecahkan masalah. Model Synectics merupakan pola belajar dan mengajar yang dirancang untuk

mengembangkan kreativitas. Kreativitas hanya muncul bila seseorang terbiasa dengan aktivitas. Oleh karena itu model Synectics cocok menciptakan kondisi yan mendorong timbulnya cara belajar aktif dan sekaligus kreatif.

Urutan langkah-langkah pembelajaran dengan strategi membuat “hal baru”

menjadi serupa berdasarkan sederhana sebagai berikut (dalam Mudjiono, 1993):

19

1. Langkah Pertama: guru menambahkan “informasi” atau hal baru pada lukisan keadaannya.

2. Langkah Kedua: Guru meminta siswa membuat lukisan serupa atau sederhana dengan lukisan awal.

3. Langkah Ketiga: Guru meminta kepada siswa membuat sederhana langsung seperti “ jika saya menjadi …., maka ………”.

4. Langkah Keempat: Guru meminta siswa untuk membandingkan persamaan–persamaan diantara “hal” baru dengan sederhana langsung sebagai ilustrasi. Semula guru melukiskan “tokoh seniman sukses”.

5. Langkah Kelima: Guru meminta siswa untuk melihat perbedaan-perbedaan analogi yang ada. Siswa diminta menerangkan hal-hal yang tidak sesuai. Misalnya ketidak sesuaian suksesnya “seniman” dengan

“lukisan” lamanya meneliti sehingga “menemukan hal baru”

dibandingkan dengan “harga lukisan” atau “honorarium meneliti”, dengan “laba pedagang”.

6. Langkah Keenam: Guru meminta siswa untuk menarik sederhana. Siswa membandingkan persamaan dan perbedaan Sederhana-sederhana atau pengandaian-pengandaian, kemudian menarik satu sederhana baru.

Sebagai ilustrasi “jika saya menjadi pelukis yang menghasilkan ……

atau pedagang yang menghasilkan, ……. Maka jika saya menjadi ……

saya akan ….…

1. Sistem Sosial Model Synectics

Hubungan guru siswa dalam model Synectics tergolong moderat. Perilaku hubungan itu dapat digambarkan sebagai berikut (dalam Mudjiono, 1993):

1. Guru menggunakan urutan pelajaran, kemudian membimbing perilaku belajar dengan sederhana-sederhana.

2. Guru meminta siswa mempelajari penalarannya sendiri. Siswa bebas berdiskusi, dan bebas menggunakan kiasan-kiasan dalam pemecahan masalah.

3. Norma perilaku adalah kooperatif, berorientasi pada permainan fantasi, permainan penalaran dan kesamaan perasaan.

4. Hadiah kegiatan adalah terletak pada kepuasan berinteraksi.

5. Prinsip Reaksi Model Synectics

Perilaku guru mereaksikan siswa sebagai berikut (dalam Mudjiono, 1993):

1. Guru memusatkan perhatian pada pola penalaran siswa yang tampak

“kaku” atau tetap tak berubah. Pola penalaran yang “kaku atau tetap tak berubah tersebut diberi alternatif lain.

2. Guru memberanikan siswa untuk menggunakan fantasi, imajinasi simbol, dan hal-hal “baru” yang memperlancar arus berpikir.

3. Guru diminta menerima perilaku siswa yang aneh, luar biasa, tetapi memperlancar arus kreativitas

4. Guru harus semakin mengembangkan kreavifitas, jika masalahnya semakin kompleks dan sulit.

Pendukung keberhasilan belajar sebagai berikut (dalam Mudjiono, 1993):

1. Perpustakaan yang menyediakan informasi yang kaya dan baik.

2. Ruang kerja dan alat-alat yang mendorong imajinasi dan kreatifitas pemakai.

3. Narasumber yang memiliki keahlian mendorong keberhasilan siswa untuk menggunakan segala kemampuan untuk memecahkan masalah.

6. Dampak Pengajaran dan Pengiring Model Synectics

Model Synectics mengembangkan kreativitas secara umum maupun khusus bidang tertentu, seperti seni, teknik, dan lainnya. Dampak pengajaran dan dampak pengiring pada model Synectics (dalam Joice dan Well, 1980:184) dapat dilukiskan dalam bagan :

Catatan :

Bagan 2.1. Dampak Model Synectics Dampak Pengajaran

21

Melukiskan bahwa dampak pengajaran model Synectics yang penting adalah I kecepatan seperti kesenian lukis, patung dan sastra. Dampak pengiring berupa I pemeroleh kecapakan dan bernalar, berfantasi, berimajinasi, mempermainkan perasaan dibidang khusus.Hal ini tampak pada buku sastra yang mengolah imajinasi pembaca ini kecepatan ikatan kelompok sehingga menimbulkan karya seperti karya sastra dan juga karya ilmiah.

7. Sistem Sosial

Perilaku hubungan guru siswa (dalam Mudjiono, 1993)sebagai berikut : 1. Guru mengemukakan tentang Ki Hajar Dewantara”, dan tugas siswa

mengenal kata-kata baru, membuat kalimat sederhana, dan membuat kesimpulan isi bacaan, dan karangan.

2. Guru mengemukakan bahwa siswa bebas mengembangkan penaralaran, fantasi dan imajinasi dan membuat kiasan dan pengandaran.

3. Guru memancing dengan pertanyaan-pertanyaan dan memberi komentar pada tugas-tugas siswa.

4. Selama pembelajaran berlangsung disiplin kelas bersifat kooperatif.

8. Prinsip Reaksi

Perilaku guru mereaksikan siswa (dalam Mudjiono, 1993) sebagai berikut:

1. Guru memusatkan perhatian pada penggunaan kata-kata baru seperti tokoh teladan, hukuman buang, rintangan, kecaman, wartawan, hari Pendidikan Nasional, dan kalimat sederhana seperti “jika saya…….., maka ………..”

2. Guru memberanikan siswa untuk menggunakan penalaran, fantasi, imajinasi tentang tokoh Ki Hajar Dewantara dan Lukisan Zaman Belanda.

3. Guru memberi komentar tentang kalimat siswa, cara membuat sederhana, dan membimbing bagaimana menarik kesimpulan tentang isi bacaan.

9. Sistem Pendukung Keberhasilan Belajar

Faktor pendukung keberhasilan belajar (dalam Mudjiono, 1993) sebagai berikut:

1. Buku pelajaran dan bacaan tentang Ki Hajar Dewantara serta buku petunjuk pengarang di sekolah dasar.

2. Contoh-contoh kalimat pengandaian “jika saya …….. maka…………..”.

3. Kamus bahasa Indonesia, kamus pepatah dan kiasan dalam bahasa Indonesia.

4. Narasumber seperti Ahli pantun dalam masyarkaat . 5. KTSP sekolah dasar kelas IV.

B. Kerangka Pikir

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yang dilakukan pada kemampuan menulis kalimat sederhana dengan menggunakan model Synectics oleh siswa kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang. Guru, siswa dan materi kurikulum merupakan faktor penting dalam penelitian ini, karena ketiga komponen tersebut memikirkan keterkaitan yang sangat penting dalam proses pembelajaran siswa dalam membuat kalimat sederhana dengan menggunakan model Synectics menjadi kajian utama dalam penelitian ini.

Topik yang diangakat dalam penelitian ditinjau identifikasi kompetensi dan subkompetensi dalam menulis kalimat sederhana, identifikasi daya imajinasi, nalar dan hambatan, identifikasi tindakan lanjut yang diinginkan siswa dalam pembelajaran yang kemudian dianalisis untuk mengetahui kemampuan kalimat sederhana dengan model Synectics.

23

Bagan 2.2. Bagan KerangkaPikir KURIKULUM

KTSP

Keterampilan Berbahasa

Menyimak Berbicara Membaca Menulis

Menulis kalimat sederhana

Model Synectics

Identifikasi Kompetensi Sub kompetensi Menulis

kalimat Sederhana

Identifikasi daya imajinasi, nalar

hambatan

Identifikasi tindak lanjut yang diinginkan siswa dalam pembelajaran

Hasil

C. Hipotesis Tindakan

Jika model Synectics diterapkan dalam membuat kalimat sederhana maka hasil belajar siswa Kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang dapat meningkat.

25

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas ini bertujuan memecahkan masalah yang

bersumber dari proses pembelajaran menulis kalimat sederhana yang dilaksanakan di kelas. Menurut Umar dan Kaco (2007: 9) bahwa “PTK bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani kegiatan belajar mengajar”. Model PTK merupakan penelitian proses pengkajian berdaur yang terdiri dari dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Daur penelitian tindakan kelas ditujukan sebagai perbaikan atas hasil refleksi terhadap tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil, maka masalah tersebut dipecahkan kembali dengan mengikuti daur sebelumnya melalui tahapan yang berurutan.

Penelitian ini dilaksankan di kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang.

Sekolah ini dipilih karena (1). Kemampuan menulis kalimat sederhana masih kaku, (2). SD Negeri No.65 Tampo Enrekang bersifat terbuka dan mau menerima pembaharuan dalam proses belajar mengajar, (3). Kepala sekolah dan guru bidang studi bersedia untuk berkolaborasi dalam penelitian memperkenalkan penelitian tindakan kelas, dan. (4). Juga sebagai usaha peneliti memperkenalkan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki proses pembelajaran menulis kalimat sederhana di SD Negeri No.65 Tampo Enrekang.

25

B. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang yang berjumlah 29 orang yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 16 orang perempuan. Lokasi Penelitian di SD Negeri No.65 Tampo Enrekang.

Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November samapai Desember pada tahun pelajaran 2014/2015.

C. Faktor – Faktor yang diselediki

Faktor utama yang akan menjadi perhatian untuk diselidiki pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Faktor proses yakni melihat keterlaksanaan pembelajaran melalui penerapan model Synectics yang mencakup kehadiran, kesungguhan dan keaktifan serta interaksi antara guru dan siswa.

2. Faktor hasil belajar siswa, hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar yang dicapai pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang pada setiap akhir siklus dengan menerapkan model Synectics.

D. Prosedur Kerja Penelitian

Rancangan penelitian tindakan kelas yang dirancanakan terdiri atas dua siklus, yakni siklus pertama dan siklus kedua. Setiap siklus terdiri atas empat kali pertemuan. Gambaran umum yang dilakukan pada setiap siklus adalah:

Perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang digambarkan sebagai berikut:

27

Bagan 3.1. Skema Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, 2009:16).

Secara rinci pelaksanaan penelitian ini terdiri atas dua siklus yaitu:

1. Siklus I. Dilaksanakan selama empat kali pertemuan, satu kali pertemuan untuk proses belajar mengajar sebanyak 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus I sebanyak dua jam pelajaran (2 x 35 menit).

2. Siklus II dilaksanakan selama empat kali pertemuan. Satu kali pertemuan untuk proses belajar mengajar sebanyak 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan satu kali pertemuan untuk proses belajar mengajar sebanyak 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dan satu kali pertemuan untuk tes akhir siklus II sebanyak dua jam pelajaran (2 x 35 menit).

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

SIKLUS I

REFLEKSI

PENGAMATAN

PELAKSANAAN

SIKLUS II

REFLEKSI

PENGAMATAN PERENCANAAN

a. Siklus I 1. Perencanaan

1) Menelaah kurikulum SD Negeri No.65 Tampo Enrekang Kabupaten semester genap tahun pelajaran 2010-2011 untuk kesesuaian waktu antara materi pelajaran dengan rencana penelitian.

2) Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP).

3) Menulis Lembar Observasi.

2. Observasi

Proses observasi yang dilakukan dalam penelitian adalah mendokumentasikan pengaruh tindakan yang diberikan dalam proses pembelajaran menulis kalimat sederhana berupa pengamatan terhadap kondisi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.

3. Refleksi

Hasil yang diperoleh dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisa, penelitian dapat melihat dan merefleksikan apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan proses pembelajaran menulis kalimat sederhana siswa.

b. Siklus II

Kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini relatif sama pada siklus I, hanya diadakan perbaikan:

1. Merumuskan tindakan berikutnya berdasarkan hasil tahap releksi siklus I 2. Melaksanakan siklus II

3. Siswa diberi Tes

4. Analisis hasil pengamatan siklus II.

29

Langkah ini merupakan langkah yang diambil untuk pencapaian pembelajaran yaitu dengan evaluasi siswa seberapa % tingkat keberhasilan yang dicapai dalam mutu pembelajaran khususnya menulis kalimat sederhana siswa kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan tekhnik tes dan observasi.

1. Teknik tes

Teknik pengumpulan instrumen utama penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data peneliti untuk mengukur kemampuan siswa dalam menulis kalimat sederhana dengan menerapkan model Synectics. Tes berisi pertanyaan tertulis dalam bentuk soal-soal isian yang diberikan pada akhir tindakan setiap siklus, dan dilakukan sebanyak dua kali dengan isi tes berbeda.

Tes penelitian siklus pertama dan kedua masing-masing terdiri atas 5 soal, yaitu:

- Proses benar dan jawaban benar, nilainya 20 - Proses benar tapi jawaban salah, nilainya 10.

- Proses salah dan jawaban salah, nilainya 0 2. Tekhnik observasi

Observasi dimaksudkan untuk mengamati proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model Synectics di kelas IV SD Negeri No.65 Tampo Enrekang. Objek pengamatan yaitu pengamatan terhadap proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model Synectics yang dilaksanakan selama proses tindakan, sekaligus mengamati dampak dari tindakan

yang dilaksanakan berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia, seperti:

keaktifan, kreatifitas dan ketepatan menulis kalimat sederhana.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, adalah:

1. Tes hasil belajar

Tes hasil belajar diambil dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus.

2. Lembar observasi

Data tentang proses pembelajaran diambil dengan menggunakan lembar observasi.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif untuk mengukur kemampuan siswa kelas SD Negeri No.65 Tampo Enrekang dalam menulis kalimat sederhana bahasa Indonesia melalui penggunaan model Synectics berdasarkan hasil tes (2 kali tes), dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, yang didukung oleh hasil obsevasi. Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai rata-rata skor hasil tes sesuai hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal bahasa Indonesia berdasarkan hasil tes.

Pengujian hipotesis penelitian bahwa jika model Synectics dalam membuat kalimat sederhana pada siswa kelas SD Negeri No.65 Tampo Enrekangditerapkan, maka hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia akan meningkat,

31

maka dilakukan dengan membandingkan nilai rata-rata kemampuan siswa dalam membuat kalimat sederhana bahasa Indonesia berdasarkan hasil tes, antara tes pertama dan tes kedua.

Adapun kriteria yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas untuk melihat hasil belajar siswa berdasarkan pada kategorisasi standar yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional. Kategorisasi tersebut terdiri atas 5 kriteria penilaian terhadap hasil belajar yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional.

No. Skor Kategori

1 90 – 100 Sangat Tinggi

2 80 – 89 Tinggi

3 65 – 79 Sedang

4 55 – 64 Rendah

5 0 – 54 Sangat Rendah

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) ini adalah terjadinya peningkatan skor menulis kalimat sederhana

bahasa Indonesia melalui penggunaan model Synectics sesudah tindakan dilaksanakan, sebagaimana data awal yang diperoleh pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 sekitar 70 % nilai siswa berada di bawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di sekolah tersebut yaitu 65 dari skor ideal 100.

Selain peningkatan nilai keterampilan menulis, indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas adalah terjadinya peningkatan keterampilan menulis Bahasa Indonesia pada siswa kelas IV di SD Negeri No.65 Tampo Enrekang yakni terjadi peningkatan siklus I ke siklus II dengan skor minimal 65 dari skor ideal, dan tuntas secara klasikal apabila minimal 85% dari jumlah siswa yang telah tuntas belajar.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Proses penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi (pengamatan), dan (4) refleksi tindakan.

1. Siklus 1 a. Perencanaan

Perencanaan disusun dan dikembangkan oleh peneliti yang dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Adapun Materi pembelajaran yang dilaksanakan pada tindakan siklus I adalah menulis kalimat sederhana. Dengan standar kompetensi adalah mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat salah. Dengan kompetensi dasar adalah Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dengan menggunakan kalimat sederhana.

b. Implementasi Tindakan Siklus I

Pada tahap tindakan dalam siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan yaitu tanggal 1 dan 3 Desember, serta 4 dan 6 Desember 2014 yang diimplementasikan berdasarkan RPP yang telah disusun.

Berdasarkan RPP tersebut implementasi tindakan pada semua pertemuan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

33

Pertemuan pertama dilaksanakan 1 Desember 2014, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah siswa dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dengan menggunakan kalimat sederhana.

Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian guru menjelaskan sedikit materi pelajaran. Pada kegiatan inti, Langkah Pertama: guru menambahkan “informasi” atau hal baru pada lukisan keadaannya. Langkah Kedua: Guru meminta siswa membuat lukisan serupa atau sederhana dengan lukisan awal. Langkah Ketiga: Guru meminta kepada siswa membuat sederhana langsung seperti “ jika saya menjadi …., maka ………”.

Langkah Keempat: Guru meminta siswa untuk membandingkan persamaan–

persamaan diantara “hal” baru dengan sederhana langsung sebagai ilustrasi. Semula guru melukiskan “tokoh seniman sukses”. Langkah Kelima: Guru meminta siswa untuk melihat perbedaan-perbedaan analogi yang ada. Siswa diminta menerangkan hal-hal yang tidak sesuai. Misalnya ketidak sesuaian suksesnya “seniman” dengan

“lukisan” lamanya meneliti sehingga “menemukan hal baru” dibandingkan dengan

“harga lukisan” atau “honorarium meneliti”, dengan “laba pedagang”. Langkah Keenam: Guru meminta siswa untuk menarik sederhana. Siswa membandingkan persamaan dan perbedaan Sederhana-sederhana atau pengandaian-pengandaian, kemudian menarik satu sederhana baru. Sebagai ilustrasi “jika saya menjadi pelukis

35

yang menghasilkan …… atau pedagang yang menghasilkan, ……. Maka jika saya menjadi …… saya akan ….….

Guru memberikan pekerjaan rumah, memberikan pesan-pesan moral, kemudian guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.

2) Pertemuan kedua (Rabu, 3 Desember 2014)

Pertemuan kedua dilaksanakan tanggal 3 Desember 2014, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah siswa dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dengan menggunakan kalimat sederhana.

Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian guru menjelaskan sedikit materi pelajaran. Pada kegiatan inti, Langkah Pertama: guru menambahkan “informasi” atau hal baru pada lukisan keadaannya. Langkah Kedua: Guru meminta siswa membuat lukisan serupa atau sederhana dengan lukisan awal. Langkah Ketiga: Guru meminta kepada siswa membuat sederhana langsung seperti “ jika saya menjadi …., maka ………”.

Langkah Keempat: Guru meminta siswa untuk membandingkan persamaan–

persamaan diantara “hal” baru dengan sederhana langsung sebagai ilustrasi. Semula guru melukiskan “tokoh seniman sukses”. Langkah Kelima: Guru meminta siswa untuk melihat perbedaan-perbedaan analogi yang ada. Siswa diminta menerangkan hal-hal yang tidak sesuai. Misalnya ketidak sesuaian suksesnya “seniman” dengan

“harga lukisan” atau “honorarium meneliti”, dengan “laba pedagang”. Langkah Keenam: Guru meminta siswa untuk menarik sederhana. Siswa membandingkan persamaan dan perbedaan Sederhana-sederhana atau pengandaian-pengandaian, kemudian menarik satu sederhana baru. Sebagai ilustrasi “jika saya menjadi pelukis yang menghasilkan …… atau pedagang yang menghasilkan, ……. Maka jika saya menjadi …… saya akan ….….

Guru memberikan pekerjaan rumah, dan memberikan pesan-pesan moral, kemudian guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.

3) Pertemuan ketiga (Kamis, 4 Desember 2014)

Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2014, indikator yang diharapkan dicapai pada pertemuan ini adalah siswa dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dengan menggunakan kalimat sederhana.

Pertama-tama guru memberi salam kemudian mengabsen murid. Setelah mengabsen guru memotivasi murid berani menjawab pertanyaan dengan memberikan pertanyaan terkait dengan materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, kemudian guru menjelaskan sedikit materi pelajaran. Pada kegiatan inti, Langkah Pertama: guru menambahkan “informasi” atau hal baru pada lukisan keadaannya. Langkah Kedua: Guru meminta siswa membuat lukisan serupa atau sederhana dengan lukisan awal. Langkah Ketiga: Guru meminta kepada siswa membuat sederhana langsung seperti “ jika saya menjadi …., maka ………”.

Langkah Keempat: Guru meminta siswa untuk membandingkan persamaan–

37

persamaan diantara “hal” baru dengan sederhana langsung sebagai ilustrasi. Semula guru melukiskan “tokoh seniman sukses”. Langkah Kelima: Guru meminta siswa untuk melihat perbedaan-perbedaan analogi yang ada. Siswa diminta menerangkan hal-hal yang tidak sesuai. Misalnya ketidak sesuaian suksesnya “seniman” dengan

“lukisan” lamanya meneliti sehingga “menemukan hal baru” dibandingkan dengan

“lukisan” lamanya meneliti sehingga “menemukan hal baru” dibandingkan dengan

Dokumen terkait