Prinsip VI. Bagi setiap otak, pembelajaran akan bersifat berkembang dan melibatkan proses yang disadari maupun
C. Menyimak dengan The Whole Brain Solution
123
Fuding Theory (teori pemudaran), bahwa informasi yang jarang digunakan, akan memudar/perlahan-lahan hilang.
Distortion Theory, menjelaskan bahwa informasi yang mirip dengan informasi yang lainnya, tidak akan dapat dibedakan, yaitu yang telah disimpan diingatan.
Superssion Theory, dimana teori ini menyatakan bahwa pesan akan hilang ketika timbul hambatan multivasional (yang melukai).
Interference Theory, dimana teori ini lebih menyatakan bahwa, informasi yang telah didapatkan sebelumnya akan bercampur dengan informasi yang baru didapatkan.
Processing Break down Theory, teori berpendapat bahwa tak satupun dari bagian-bagian informasi dapat diingat tanpa menggunakan sistem pengkodean makna ganda (sistem coding ambigu).
124
sebelumnya dalam buku ini. Namun dalam wilayah kognisi, yaitu strategi yang berhubungan dengan proses kemampuan otak dan memori, maka ―The Whole Brain Solution‖ yaitu strategi yang digagas oleh Tricia Amstrong (2003) seorang pendidik senior berkelas dunia ini, menjadi menarik untuk digunakan dalam keterampilan menyimak.
The Whole Brain Solution, adalah solusi dengan menggunakan kemampuan seluruh otak, atau yang biasa disebutkan dengan ―sarana berpikir tingkat tinggi‖, yaitu pendekatan-pendekatan yang disusun untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dengan cara mengidentifikasi relevansi yang melibatkan keterampilan transformsional, dan secara aktif menggunakan informasi.
Sarana berpikir tingkat tinggi ini, bukan tentang apa yang dipikirikan, tetapi tentang caranya berpikir. Dalam strategi The Whole Brain Solution ini, terdapat 9 (sembilan) langkah praktis yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan keterampilan menyimak pada naradidik. Kesembilan langkah tersebut adalah:
1) Mengamati—kata kunci: memvisualisasi
2) Membangkitkan ide—kata kunci: mengambil intisari
3) Mengajukan pertanyaan—kata kunci: dapat mengadakan hipotesa
4) Menghubungkan—kata kunci: memetakan/pemetaan
125
5) Membuat analogi—kata kunci: memberi nama 6) Mengenali pola-pola—kata kunci: membuat pola
7) Memecahkan masalah—kata kunci: dapat mengambil keputusan
8) Mengubah/mentransformasi—kata kunci: membuat model 9) Membuat sintesa—kata kunci: menegaskan
Berikut pembahasan singkat sembilan langkah-langkah dalam The Whole Brain Solution ini.
(1) Mengamati
Mengamati atau observasi merupakan langkah awal dalam menyimak. Mengamati adalah mempelajari langsung fakta-fakta yang disimak dengan melalui akal sehat. Seorang penyimak, dapat meningkatkan kemampuan mengamati dari berbagai perspektif, dan memvisualisasikan (mengungkapkan dengan gambar dan tulisan) serta mengingat kembali dengan semakin jelas.
Observasi yang cermat, merupakan suatu keterampilan penting bagi para penyimak. Keterampilan memvisualisasi dapat membentuk suatu gambaran tentang apa yang disimak, mengingat kembali hal-hal secara visual, dan membayangkan bagaimana hal-hal kelihatan pada masa depan.
Jadi, observasi adalah fakta-fakta yang dipelajari secara langsung melalui pancaindra. Dalam hal ini dapat digunakan apa saja yang dilihat, didengar, disentuh, dikecap, dicium,
126
untuk membantu memahami dan mengingat informasi.
Contohnya: setelah melihat pertunjukan film laga, maka siswa dapat memvisualisasikan karakter dan sifat dari salah satu peran yang terdapat di dalam film tersebut.
(2) Membangkitkan Ide
Membangkitkan ide berarti memunculkan ide tentang sesuatu. Penyimak dapat menggunakan kemampuannya untuk memberi ―brainstorming‖ (inspirasi), membayangkan dan mengingat kembali untuk memikirkan suatu varietas luas suatu solusi dan ide.
Membangkitkan ide adalah juga dengan mengambil intisari dari sesuatu yang sudah disimak. Hal ini sangat mampu untuk membantu seorang penyimak dalam hal mengabstraksi atau dengan memperkecil hal-hal rumit menjadi prinsip-prinsip sederhana. Misalnya, setelah melihat film dokumenter tentang pembuatan pupuk, maka penyimak dapat mengembangkan ide-ide baru yang belum ada sebelumnya, dengan memanfaatkan bahan dasar pupuk ini menjadi gas atau hal-hal lainnya yang lebih bermanfaat
(3) Mengajukan Pertanyaan
Sebuah pertanyaan sangat berguna untuk mengetahui apa saja, dengan cara apa saja dan dalam kondisi apa saja.
Apa yang belum diketahui, bagaimana mengetahui dan dengan kondisi bagaimana mengetahui, akan dapat terjawab melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
127
Mengajukan pertanyaan, adalah suatu bagian penting dari keterampilan menyimak, mengapa? Karena pertanyaan akan mampu untuk meningkatkan minat penyimak dalam mengetahui sesuatu lalu mempelajari sesuatu. Dan dengan minat ini, maka dapat membantu menghubungkan informasi dengan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya.
Keterampilan mengajukan pertanyaan atau dengan mengadakan suatu hipotesa, akan dapat membantu penyimak menyarankan kemungkinan solusi kepada suatu pertanyaan yang berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sekarang.
Agar komunikasi dua arah terjadi antara pembicara dan penyimak, maka sebaiknya, awal penjelasan suatu materi dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu tentang materi apa yang mau dibahas. Misalnya pembicara ingin menjelaskan tentang ―fungsi bahasa‖, maka pembicara dapat memulainya dengan mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan dasar seperti, apa yang anda ketahui tentang fungsi bahasa? Mengapa bahasa harus difungsikan? Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka pembicaraan dapat diarahkan sesuai dengan kemampuan penyimaknya.
Demikan pula penyimak. Ketika penyimak menyimak suatu materi, maka ia akan lebih memahami materi tersebut ketika sebuah pertanyaan ia ajukan. Misalnya, untuk mencari tahu cara membuat puisi, maka ia harus menyusun suatu pertanyaan yang berhubungan dengan langkah-langkah
128
pembuatan pusi, sehingga jawaban dari pertanyaannya dapat memampukannya untuk membuat suatu puisi.
(4) Menghubungkan
Menghubungkan merupakan suatu kegiatan dalam hal mencari kaitan diantara benda-benda dan mengapresiasi kombinasi-kombinasi baru, atau dangan memetakan sesuatu objek kedalam bagian-bagian kecil yang konkrit.
Penyimak dapat memperluas apresiasi pada keaadaan antar hubungan; antar relasi hidup dengan mencari kaitan diantara benda-benda, ide-ide dan proses-proses.
Mencari kesamaan diantara perbedaan, akan membantu penyimak mengapresiasi (menilai) kombinasi baru, sehingga penyimak dapat melihat hubungan-hubungan melalui satu topik, suatu isu atau subjek yang disajikan secara grafis (bersifat lambang). Misalnya dalam suatu penyelidikan kasus pencurian, maka dengan menghubungkan bukti-bukti yang terdapat di TKP, seperti: keterangan pemilik rumah, barang-barang yang hilang, jejak kaki, dan kerusakan-kerusakan barang lainnya, maka Polisi dapat mengetahui siapa pelaku pencurian itu. Misalnya lagi, dengan menghubungkan antara fakta dan teori yang ada, maka seorang pembuat tempe dapat membuat tempe dengan bahan dasarnya kacang kedelai.
(5) Membuat Analogi
Analogi adalah perbandingan antara dua objek, ide atau gagasan dengan beberapa kualitas yang sama atau bisa juga
129
tidak sama. Misalnya seseorang menggunakan sesuatu yang familiar untuk dapat menjelaskan yang tidak familiar, seperti kamera dibandingkan dengan sebuah mata
Membuat analogi atau memberi nama pada sesuatu, akan membantu penyimak untuk memperhatikan secara detail hal-hal yang menyangkut penampilan, fungsi dan lokasi.
Contohnya dengan membandingkan alat musik drum dengan ember plastik atau drum minyak; membandingkan air tawar dengan air garam (laut); membandingkan rasa manis dan pahit; warna hitam dan warna putih, dsb.
(6) Mengidentifikasi Pola-pola
Tahapan mengenali atau mengidentifikasi pola, adalah keterampilan dalam mengatur bagaimana bagian-bagian cocok untuk membentuk suatu keseluruhan. Kegiatan mengindentifikasi seperti mencari suatu susunan kualitas, bentuk gaya, bentuk warna, desain, dan sebagainya
Mengidentifikasi ini juga identik dengan membuat pola.
Dalam hal ini penyimak dapat dibantu dengan bagian ini, yaitu dengan membantu mereka melihat bagaimana bagian-bagian dapat dicocokkan dalam membentuk keseluruhan yang koheren. Misalnya dengan menghubungkan bagian-bagian tubuh manusia (tangan, kaki, kepala, dll); bagian-bagian mobil (ban, stir, kursi, dll).
130
(7) Memecahkan Masalah
Memecahkan sebuah masalah, tidak semudah membuat masalah. Sebab memecahkan masalah butuh pengkajian mendalam dan menyeluruh tentang persoalan yang mau di simak. Memecahkan masalah dalam konteks ini adalah dengan mengidentifikasi suatu pertanyaan dan kemudian menyeleksi yang terbaik.
Kegiatan ini dapat pula dilakukan dengan menetapkan suatu masalah demi untuk mencari pemecahan masalahnya.
Penyimak dapat menigkatkan keterampilan menyimaknya dengan mendekati suatu masalah secara terorganisir dengan cara menerapkan teknik-teknik pemecahan masalah pada situasi-situasi berbeda.
Memecahkan masalah membantu penyimak memahami kebutuhan dari berbagai bagian dari situasi tertentu dan memilih tindakan yang tepat dari suatu kisaran kemungkinan.
Misalnya, seorang mahasiswa akhir pada satu perguruan tinggi, yang dituntut membuat skripsi atau karya ilmiah dengan cara mencari masalah-masalah (membuat masalah) baru dengan menentukan ―rumusan masalah‖ di BAB I pada pendahuluan, kemudian menyediakan cara pemecahan masalah atau teknik pemecahan masalahnya di BAB III pada metode penelitian. Dengan demikian, maka pemecahan masalah akan dapat membantu dalam mengambil keputusan.
131
(8) Mengubah atau Mentransformasi
Mengubah adalah proses menginternalisir informasi dan kemudian menyajikannya dalam suatu cara yang berbeda.
Proses mengubah ini, menggabungkan dua atau lebih sarana berpikir secara berurutan, yaitu dengan mengamati dan mengambil intisari atau memberi nama, memvisualisasi dan menghubungkan. Penyimak menggunakan keterampilan ini untuk berpikir secara dimensional (misalnya memperkirakan, memvisualisasi bentuk-bentuk geometris), atau membuat pengetahuan menjadi relevan dan dapat mengkomunikasikan pengetahuan kepada orang lain melalui berbagai format.
Mengubah di sini adalah proses yang dilalui penyimak ketika menginternalisasi informasi baru dengan menghubungkannya pada bahasa, pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri yang kemudian menyajikannya dalam cara yang berbeda.
Keterampilan mengubah atau membuat model ini, sangat membantu penyimak menciptakan suatu gambaran mental atau sebuah representasi fisik untuk menjelaskan suatu objek, kejadian atau proses. Misalnya, menjadikan suatu bahan mentah menjadi barang jadi siap pakai, yaitu mengubah air laut menjadi garam, atau buah tebuh diolah menjadi gula, atau dalam karya seni tarian tradisional, seperti tarian Yospan dari daerah Papua yang kemudian diformat dan dimasukkan ke dalam bentuk film dokumenter, film laga atau film berseri, atau dengan memadukannya dengan unsur-unsur
132
drama musikal dan lain sebagainya yang dapat dinikmati sebagai tontonan yang indah dan menghibur.
(9) Membuat sintesa
Membuat sintesa adalah proses mengumpulkan bagian-bagian untuk membentuk keseluruhan-keseluruhan, demi menciptakan sesuatu yang baru. Hal ini melibatkan integrasi serempak dari banyak sarana berpikir tingkat tinggi, seperti:
mengamati, memvisualisasi, menegaskan, sehingga memori pengetahuan, imajinasi, dan perasaan dapat dipahami dan diapresiasi dalam suatu cara holistis. Tentu saja membuat sintesa akan membantu penyimak mencari dalam diri sendiri suatu refleksi dari dunia luar.
Misalnya seseorang usai mengamati satu materi tentang bagaimana membuat layang-layang, dimana pembuatan layang-layang tersebut terdiri dari perpaduan unsur-unsurnya seperti; kertas, benang, bambu, lem, dsb. Dengan berbekal pengamatan ini, maka orang tersebut dapat memadukan unsur-unsur yang ada untuk bisa membuat layang-layang yang lain, yang mungkin saja lebih baik dari layang-layang sebelumnya. Atau misalnya dalam inovasi produk motor Honda yang bersintesa dari produk-produk sebelumnya (produk lama), kemudian menyempurnakan produk-produk lama tersebut menjadi produk baru yang lebih baik dari sebelumnya, seperti contoh pembuatan motor Honda Supra X menjadi Supra XX, dan lain sebagainya.
133
Referensi
Ahmad Rofi‘udin dan Darmiyati Zuhdi. (2001). Pendidikan Bahasa dan Sastra Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud.
Daniel G Amen. (1998). Change Your Brain Change Your Life. New York: Three Rivers Press
David A Sousa. (2011). How the Brain Learns (4th edition).
California: A Sage Company
Djago Tarigan. (1990). Pendidikan Bahasa Indonesia 1.
Jakarta: Depdikbud.
Djago Tarigan. (1986). Menyimak sebagai Suatu keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Diane Ronis. (2007). Bran-compatible Assessments, (Second Edition). California: Corwin Press
Dimyati dkk. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi Mahastya.
Eric Jensen. (2011). Brain-Based Learning. California:
Corwin Press
Harry Wong & Rosemary Tripi Wong. (1991). The First Days of School. Sunnyvale, Calif: Wong
Ice Sutari, Iyo Mulyono, &Sukandi. (1997). Menyimak.
Jakarta: Depdikbud.
Joyce Meyer (1999). Battlefield or the Mind. Tulsa: Access Sales International, inc.
Kamidjan. (2001). Teori Menyimak. Surabaya: FBS UNES Leslie Hart. (1998). Human Brain and Human Learning,
Rev. Ed. Kent, Wash: Books for Educators
M.E. Suhendar & Pien. S. (1992). Pengajaran dan Ujian Keterampilan Membaca dan Keterampilan Menulis.
Bandung: CV. Pionir Jaya.
134
Martha Kaufeldt. (1999). Begin with the Brain: Orchestrating the Learner-Centered Classroom. Chicago: Zephyr Press
Mustakim Nur M. (2005). Peranan Cerita dalam Pembentukan Perkembangan Anak TK. Jakarta:
Depdiknas.
Nandy Intan Kurnia. (2010). Pengembangan Kemampuan Menyimak bagi Anak-anak Usia Muda dengan Memanfaatkan Teknologi Internet. Yogyakarta: PBI FBS UNY
Nurbiana Dhieni. (2007). Model Pengembangan Bahasa.
Jakarta: UniversitasTerbuka.
Pancsofar & Vernon-Feagans L. (2006). Mother anda Father Language Input to Young Children: Contributions to Later Language Development. Journal of Applied Development Psychology, 27, 571-587
Renate Caine & Geoffrey Caine. (1997a). Education on the Edge of Possibility. Alexandria,Va: ASCD
Rost, M. (1991). Learning to Listen. San Diego: Domine Press.
_________________________(1997b). Unleashing the Power of Perceptual Change. Alexandria, Va: ASCD Rudolf Schaffer & Ellen Galinsky. (2007). Agar Otak Tetap
Sehat. Terjm, Winianto. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
Sabarti Akhadiah, dkk. (1991). Bahasa Indonesia I. Jakarta:
Depdikbud
Saleh Abbas. (2006). Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Scott W A. & Ytreberg L H. (1990). Teaching English to Children. London: Longman.
135
Suyono dan Kamijan (2002). Menyimak. Jakarta: Depdiknas DitjenDikdasmen Direktorat Sekolah Lanjutan Pertama Tarigan Guntur Henry. (1994). Strategi Pengajaran dan
Pembelajaran Bahasa. Bandung: Angkasa Bandung Tarigan Guntur Henry. (2008). Menyimak Sebagai Suatu
Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa Bandung.
Tricia Amstrong. (2003). The Whole-Brain Solution: Thinking Tools to Help Student Doserve, Make Conections, and Solue Problems. Canada: Pembroke Publishers
Yeti Mulyati, dkk. (2009). Keterampilan Berbahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
136