• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENYIMAK : Suatu Esensialitas Berbahasa

N/A
N/A
ABDY BUSTHAN

Academic year: 2022

Membagikan "MENYIMAK : Suatu Esensialitas Berbahasa"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

0

(2)

1

MENYIMAK

Suatu Esensialitas Berbahasa

(3)

2

Sanksi Pelanggaran Pasal 72

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan

perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling sedikit satu bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 atau pidana paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp.

500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

3

Abdy Busthan,S.Pd.,M.Pd

MENYIMAK

Suatu Esensialitas Berbahasa

Desna

Life

Ministry

(5)

4

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

MENYIMAK:

Suatu Esensialitas Berbahasa

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd

Copyright © 2016 pada penulis

ISBN: 978-602-74991-7-1

Editor & Penyunting:

Gloria Kasih Narwastu Calunggun

Desain Sampul & Tata Letak:

Hosiana Gracia Inthe

Penerbit:

Desna

Life

Ministry

Jln. Bakti Karya 20 B, Kecamatan Oebobo, Kupang – NTT Telp. 081-333-343-222

Email: [email protected] Website: desnapublishing.blogspot.co.id

Cetakan pertama, September 2016 137 hlm ; 14 x 21 cm

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak isi buku ini dalam bentuk

dan dengan cara apapun, tanpa ijin tertulis dari penulis dan penerbit

(6)

5

Prakata Awal

Pada suatu malam, Apolo, seorang satpam yang bertugas menjaga pangkalan bensin eceran pak Haji Nagasari, tiba-tiba mencium bau asap yang terasa sangat menyengat. Apolo pun segera meninjau secara seksama, dari mana sumber asap tersebut. Kemudian diketahui bahwa asap itu berasal dari kobaran api di salah satu gardu kosong yang berada tak jauh dari gudang tempat penyimpanan bensin. Maka Apolo pun segera meminta bantuan kepada penduduk setempat untuk sama-sama memadamkan api tersebut, agar tidak terjadi kebakaran yang merugikan banyak pihak. Dan usaha yang dilakukan Apolo pun berhasil.

Di tempat lainnya, Yakoba, salah seorang sekertaris muda pada sebuah perusahaan besar di kota Kupang. Suatu ketika ia diperintahkan atasannya untuk segera melengkapi dokumen-dokumen penting yang akan digunakan dalam penawaran proyek pembuatan jembatan di kota Betun Kabupaten Malaka. Karena Yakoba kurang teliti memeriksa

(7)

6

dokumen-dokumen yang di butuhkan, dan ketika waktunya melakukan penawaran, ternyata ada beberapa dokumen penting perusahaan yang tidak di bawa, maka akhirnya, proyek yang direncanakan itu pun menjadi batal. Dan Yakoba saat itu juga langsung di PHK dari perusahaan.

Mari kita ―simak‖ kedua kejadian di atas. Di satu sisi, akibat kesigapan Apolo dalam ―meninjau‖ (merasa, melihat) sesuatu, maka ia pun berhasil memadamkan api yang bisa saja membumihanguskan tempat ia bekerja, bahkan bukan mustahil bisa membawa dampak buruk pada dirinya yang bekerja di tempat itu dan orang-orang yang berada tak jauh dari tempat itu. Di lain sisi, Yakoba yang tidak teliti (melihat) akhirnya membawa kerugian besar bagi perusahaannya dan khususnya lagi bagi dirinya sendiri.

Kedua kejadian di atas, sesungguhnya menegaskan bahwa, aktivitas ―menyimak‖ adalah sesuatu yang secara aksiomatis, hadir dalam kehidupan setiap manusia. Ketika ia hadir, maka akan membawa dampak positif (seperti Apolo), tetapi juga membawa dampak negatif (seperti Yakoba) dalam hidup dan kehidupan insan manusia.

Mengapa demikian? Sebab, kegiatan ‗menyimak‘ pada dasarnya lebih melibatkan segenap pancaindra yang dimiliki oleh setiap individu, seperti: indra penciuman, pendengaran, penglihatan dan indra perasa, serta indra peraba. Pada titik ini, maka dapat ditarik pemahaman mendasar bahwa, dalam

(8)

7

prosesnya, menyimak merupakan segenap aktivitas yang dilakukan dengan mendengar, mencium, melihat, meraba dan merasakan sesuatu objek secara teliti dan cermat.

Banyak orang gagal dalam kehidupan ini, karena ia tak mampu untuk menyimak dengan baik. Banyak orang berhasil, karena ia mampu untuk menyimak dengan baik. Itu sebabnya,

―keterampilan menyimak‖ adalah dasar dalam menangkap, memahami, mengerti, lalu mentransformasikan komponen- komponen dalam berbahasa, yaitu sebagai sistem komunikasi antar manusia.

Buku ini, merupakan acuan dasar untuk mempelajari item-item penting dalam Mata Kuliah Keterampilan Menyimak yang harus dipelajari oleh para Guru Bahasa Indonesia dan para calon Guru yaitu Mahasiswa/i pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, khususnya Progdi Bahasa dan Sastra Indonesia. Kajian buku ini lebih difokuskan pada dua tema penting yang terkait dengan keterampilan menyimak ini, yaitu:

Esensi Menyimak (Bagian-I) dan Proses Pelaksanaan Menyimak (Bagian-II). Semoga bermanfaat. Salam kasih apa adanya, Tuhan Yesus memberkati.

Jalur Cinta Sikumana, Kupang, September, 2016 Penulis,

Abdy Busthan,S.Pd., M,Pd

(9)

8

(10)

9

Daftar Isi

Prakata Awal__(5)

Daftar Isi__(9)

Bagian I: Esensi Menyimak__(12)

1. Pengertian Menyimak__(13)

A. Pengertian Menyimak Secara Umum (Universal) __(13)

B. Pengertian Menyimak Secara Khusus__(15)

2. Menyimak, Mendengar & Mendengarkan__(17)

A. Pengertian Mendengar, Mendengarkan & Menyimak__(17)

B. Hubungan Mendengar, Mendengarkan & Menyimak__(20)

3. Hubungan Menyimak & Komponen Bahasa__(22) A. Substansi Bahasa__(22)

B. Hubungan Menyimak & Berbicara__(25)

C. Hubungan Menyimak & Membaca__(32)

D. Hubungan Menyimak & Menulis__(34)

E. Hubungan Membaca & Menulis__(36)

F. Hubungan Berbicara & Menulis__(37)

4. Bentuk & Jenis Menyimak__(38)

A. Berdasarkan Sumber Suara__(38)

B. Berdasarkan Bahan Simakan__(39)

C. Berdasarkan Aktivitas Menyimak__(49)

(11)

10

5. Tujuan & Manfaat Menyimak__(50)

A. Tujuan Menyimak__(51) B. Manfaat Menyimak__(53)

Bagian II: Proses Pelaksanaan Menyimak__(57)

1. Komponen Menyimak & Model Penyimak__(57) A. Komponen dalam Menyimak__(58)

B. Model Penyimak__(62)

2. Faktor Positif & Negatif dalam Menyimak__(64) A. Faktor Positif__(68)

B. Faktor Negatif__(74)

3. Langkah-Langkah Proses Pelaksanaan Menyimak__(83)

A. Pengertian Proses & Tahap-Tahap Menyimak__(84)

B. Langkah-Langkah dalam Menyimak__(86)

4. Tipe, Teknik & Syarat Menyimak dalam Bahasa__(88)

A. Tipe Pengembangan Kegiatan Menyimak__(89)

B. Penggolongan Tugas Kemampuan Menyimak Anak__(91)

C. Teknik dalam Menyimak__(94)

D. Teknik Meningkatkan Daya Simak__(97)

E. Syarat Menyimak dalam Keterampilan Berbahasa__(102)

5. Proses Menyimak Berdasarkan Otak & Memori __(105)

A. Proses Kerja Otak dalam Menyimak__(106)

B. Memori dalam Proses Menyimak__(117)

C. Menyimak dengan The Whole Brain Solution__(123)

Tentang Penulis__(136)

(12)

11

BAGIAN I

Setelah mempelajari Bagian I, mahasiswa/i dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

1) Jelaskanlah pengertian dari menyimak secara umum dan secara khusus?

2) Apakah perbedaan menyimak, mendengar dan mendengarkan?

3) Jelaskan bagaimana hubungan menyimak dengan membaca, menulis, dan berbicara?

4) Deskripsikan bentuk-bentuk dalam menyimak, lalu jelaskanlah jenis-jenis menyimak?

5) Sebutkanlah tujuan dan manfaat menyimak?

(13)

12

Esensi Menyimak

Menyimak itu indah, ia adalah seni dan harmoni. Bahkan ia merupakan ―listening may be golden‖, yaitu sesuatu yang bernilai emas! Ya, menyimak dengan tepat, akan melahirkan sejuta kreatifitas yang membawa perubahan signifikan dalam kehidupan insan manusia. Pada titik ini, maka menyimak sebagai suatu esensialitas berbahasa, memiliki urgensi dalam setiap aktivitas yang dilakukan manusia. Tanpa menyimak dengan seksama, mustahil komunikasi dapat terjalin

Dalam sebuah penelitian, Wilga M. Rivers, seperti yang dikutip oleh Ice Sutari, dkk. (1997:8) menyatakan bahwa, kebanyakan dari orang dewasa, menggunakan 45% waktunya untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% adalah untuk menulis. Dari penelitian Wilga ini, maka jelaslah terlihat bahwa menyimak memiliki peran yang sangat penting dalam aktivitas berbahasa.

1

(14)

13

1. Pengertian Menyimak

Ada banyak pengertian menyimak yang sudah dirumuskan para ahli. Namun kebanyakan diantaranya, hanyalah bersifat khusus. Tentu saja, pengertian dan pemahaman menyimak ini, tidak hanya menyangkut hal-hal yang khusus saja, tetapi lebih daripada itu, ia juga menyangkut pengertian secara universal dan menyeluruh (secara umum).

Karena itu, agar tidak menimbulkan ambiguitas makna, maka seyogyanya pengertian menyimak dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu 1) pengertian secara umum, dan 2) pengertian secara khusus—umum berarti pengertian ini berlaku secara universal; sedang khusus berarti pengertian ini berlaku secara khusus, dalam hal ini adalah bidang Bahasa.

A. Pengertian Menyimak Secara Umum (Universal)

Secara umum, istilah ―menyimak‖, adalah suatu aktivitas yang bukan saja menyangkut proses mendengarkan sesuatu dengan teliti dan cermat, namun lebih dari pada itu, bahwa menyimak sangat membutuhkan kecermatan dan ketelitian untuk menggunakan alat indra dengan cara melihat, mencium, merasakan dan meraba serta mendengarkan.

Bayangkan saja, jika suatu kegiatan menyimak ini hanya ditekankan pada proses mendengarkan dan melihat saja?

Maka pertanyaannya adalah, mampukah seorang tunanetra (orang buta) menyimak dalam kekurangan penglihatan yang ia miliki? Apakah tunarungu (orang tuli) bisa menyimak dalam

(15)

14

kekurangan pendengarannya? Tentu saja, bisa! Sebab orang tunarungu dan tunanetra juga mampu menyimak dengan cermat melalui indra penciuman dan indra perasa mereka.

Karena itu, pengertian menyimak secara umum adalah sebuah kegiatan yang dilakukan manusia untuk mencermati dan meneliti suatu objek dengan menggunakan segenap alat indra yang dimilkinya, yaitu indra perasa, peraba, pelihat, penciuman dan pendengaran.

Dalam pemahaman bahwa, ketika seorang menyimak suatu objek (melakukan kegiatan menyimak), maka ia harus melakukannya dengan dua unsur, yaitu: 1) mencermati; dan 2) alat indra. Berikut penjelasannya:

Mencermati. Dalam hal ini, seorang dapat menyimak ketika ia harus memperhatikan dengan cermat (seksama, teliti, penuh minat), atau dengan kata lainnya, yaitu mengamati dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Alat indra. Dalam hal mencermati suatu objek, maka seorang membutuhkan alat yang digunakan untuk mencermati dengan cermat. Alat yang digunakan ini adalah alat indra yang dimiliki oleh manusia seperti alat peraba, perasa, pelihat, serta pendengar dan penciumannya. Alat-alat ini berfungsi untuk mencermati segala sesuatunya yang disimak

Untuk memahami dengan baik pengertian menyimak yang sudah dijelaskan di atas, maka definisi menyimak ini, dapatlah digambarkan melalui gambar 1.1 berikut ini:

(16)

15

Gambar 1.1 Aktifitas Menyimak

Dari gambar 1.1, dapat dipahami bahwa, aktivitas menyimak secara umum, adalah suatu aktifitas manusia yang dilakukan dengan cara mencermati dan meneliti suatu objek melalui alat indra yang dimilki seperti alat meraba, merasa, melihat, mendengar dan mencium.

B. Pengertian Menyimak Secara Khusus

Secara khusus, pengertian ―menyimak‖ adalah sesuatu yang dilakukan untuk mendukung keterampilan seseorang dalam berkomunikasi melalui tata bahasa yang baik dan benar. Keterampilan ini membutuhkan pendengaran, juga penglihatan yang cermat dan teliti. Berikut ini beberapa pengertian menyimak yang sudah dirumuskan para ahli.

Istilah ―menyimak‖ berdasarkan KBBI (Setiawan Ebta Software, 2010), adalah mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan dan dibaca orang, atau dengan

Menyimak

Meraba

Objek Merasa

Melihat Mendengar Mencium

Mencermati

(17)

16

pertian lainnya yaitu, meninjau (memeriksa, mempelajari) dengan teliti.

Menyimak menurut Sabarti Akhadiah, dkk. (1991:148) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.

Sedangkan menyimak menurut Yeti Mulyati, dkk. (2009:24), bahwa proses menyimak merupakan proses interaktif yang mengubah bahasa lisan menjadi makna dalam pikiran.

Senada dengan itu, Djago Tarigan (1991:4) menjelaskan bahwa, menyimak sebagai suatu aktivitas mencakup kegiatan mendengar bunyi bahasa, mengidentifikasi, menilik, dan mereaksi atas makna yang terkandung dalam bahan simakan.

Pengertian keterampilan menyimak itu sendiri menurut M.E Suhendar dan Pien S. (1992:4) bahwa, keterampilan menyimak merupakan kemampuan menangkap bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan atau yang dibacakan orang lain dan diubah menjadi bentuk makna untuk dievaluasi. Sebagaimana menurut Saleh Abbas (2006:63) yang menjelaskan bahwa, menyimak merupakan proses untuk mengorganisasikan apa yang didengar dan menempatkan pesan suara-suara didengar ditangkap menjadi makna yang dapat diterima.

Dari beberapa definisi di atas, maka secara khusus, menyimak adalah suatu aktifitas mendengarkan lambang lisan dengan segenap perhatian, pemahaman, apresiasi, serta

(18)

17

interpretasi, untuk memperoleh informasi, menangkap isi, lalu memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Dalam pemahaman bahwa, menyimak dalam konteks keterampiln berbahasa, adalah proses komunikasi yang terwujud dalam aktifitas verbalisasi makna dan ucapan dari komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar), dengan maksud komunikan dapat memperoleh informasi, menangkap isi, lalu memahami dan mengerti makna yang diucapkan oleh komunikator, atau sebaliknya, dari komunikan ke komunikator.

Sehingga dapatlah dipahami bahwa menyimak lebih merupakan suatu proses dalan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi dan menafsirkan, menilai serta mereaksi makna.untuk proses ini, menyimak terdiri dari tiga langkah 1) menerima masukan yang didengar 2) melibatkan diri terhadap masukan yang didengar dan 3) mengintepretasikan serta berinteraksi dengan masukan yang didengar.

2. Menyimak, Mendengar & Mendengarkan Menyimak memang dilakukan dengan mendengarkan. Namun mendengarkan tidaklah sama dengan menyimak. Begitupun dengan mendengar. Berikut perbedaan ketiga kata ini.

A. Pengertian Mendengar, Mendengarkan & Menyimak Ketiga istilah ini, yakni mendengar, mendengarkan dan menyimak, kerapkali disalah mengertikan sehingga dalam

(19)

18

penggunaannya nampak tumpang tindih. Berikut penjelasan pengertian mendengar, mendengarkan serta menyimak.

Mendengar. Ketika Petrus asik membaca sebuah berita tentang salah satu pejabat yang korupsi di harian surat kabar Timur Ekspres. Tiba-tiba ia terkejut mendengar suara kedua adik kembarnya, yakni Barnabas dan Bernadus yang sedang terlibat pertengkaran sengit dalam membicarakan topik kemenangan sang legendaris Motor GP, Valentino Rossi.

Petrus pun menolehkan kepalanya sejenak ke arah datangnya suara mereka, namun ia kembali meneruskan membaca berita hingga selesai. Ini adalah aktifitas ―mendengar‖. Pada contoh ini, menunjukkan bahwa Petrus mendengar suara dari Barnabas dan Bernadus, namun tidak menarik perhatiannya lebih lanjut. Artinya bahwa, kegiatan mendengar, hanya bersifat kebetulan, dan dilakukan dengan tidak disengaja atau tidak direncanakan sebelumnya.

Mendengarkan.Pada suatu sore, seusai mencuci piring di dapur, Yakomina bergegas menuju pekarangan rumah untuk menyapu daun-daun yang banyak berserakan di halaman rumahnya. Namun untuk menambah semangat dalam bekerja, Yakomina pun menuju ke ruang tamu untuk memutar lagu-lagu dansa melalui Vcd Player yang baru di hadiahkan oleh kakaknya sebulan yang lalu. Lagu-lagu itu pun mulai mendendangkan lagu demi lagu hingga tiba pada lagu favorit Yakomina, berjudul ―Karolina‖. Dengan mendengarkan

(20)

19

lagu berjudul ―Karolina‖ yang mengalun ini, maka Yakomina segera menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu ia duduk bersandar di bawah pohon, sambil mendengarkan dengan lagu kesayangannya itu. Ini adalah akfitas ―mendengarkan‖.

Pada contoh ini, Yakomina ―dengan sengaja‖ dan ―sadar‖

untuk mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Artinya bahwa, aktifitas ―mendengarkan‖, terkandung unsur kesengajaan yaitu dengan sengaja melakukan sesuatu hal.

Menyimak. Dalam sebuah acara seminar tentang alat- alat Kontrasepsi yang dilaksanakan di Balai Desa Baun, Yakobus terlihat serius mengikutinya. Ia menyimak dengan segenap perhatian, dan sesekali ia terlihat menulis sambil mengangguk-anggukan kepalanya ketika pembicara sedang menjelaskan jenis-jenis dan cara-cara memasang alat-alat Kontrasepsi. Bahkan saking seriusnya ia memperhatikan penjelasan, ia pun tidak beranjak sedetik pun dari kursinya selama penjelasan demi penjelasan itu berlangsung hingga seminar selesai. Setelah selesai, Yakobus terlihat puas dengan mengangguk-anggukan kepalanya. Ini adalah aktifitas

―menyimak‖. Contoh ini dapat menunjukkan dengan jelas, bagaimana terjadinya proses ―menyimak― dalam sebuah kegiatan berbentuk seminar, yang sudah direncanakan sebelumnya. Saat proses berlangsung, si penyimak Yakobus, menyimak dengan serius dan sungguh-sungguh serta menulis

(21)

20

beberapa hal penting, bahkan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia memahami dan mengerti.

Dari ketiga penjelasan beserta contohnya di atas, maka makna kata mendengar, mendengarkan dan menyimak, memiliki perbedaan. Haryadi dan Zamzani (1997:23), juga memberikan bentuk gambaran perbedaan antara mendengar, mendengarkan dan menyimak dalam tabel 1.1 berikut ini:

Tabel.1.1 Perbedaan Mendengar, Mendengarkan &

Menyimak (Sumber: Haryadi dan Zamzani, 1997:23) Aspek & Unsur Mendengar Mendengarkan Menyimak

Sasaran Bunyi apa saja Bunyi apa saja Bunyi bahasa Kegiatan Tidak sengaja Sengaja/

terencana

Sengaja/

terencana Makna/arti Belum tentu

dapat

Belum tentu dapat Diusahakan dapat Sasaran Dipahami Dipahami Dipahami/

dinikmati

B. Hubungan Mendengar, Mendengarkan & Menyimak Dalam mendengar, si pendengar tidak dapat memahami lebih dalam tentang apa yang didengarkannya. Pada kegiatan mendengarkan sudah ada unsur kesengajaan, tetapi itu belum diikuti unsur pemahaman karena itu belum menjadi tujuan.

Sementara kegiatan menyimak mencakup mendengar, mendengarkan, dan disertai usaha untuk memahami bahan simakan. Dalam kegiatan menyimak ada unsur kesengajaan, perhatian dan pemahaman, yang merupakan unsur utama

(22)

21

dalam setiap peristiwa menyimak. Penilaiannya pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak, bahkan melebihi unsur perhatian. Penjelasannya dalam gambar 1.2 berikut ini:

Gambar 1. 2 Proses Menyimak

Jelas bahwa, proses atau aktifitas menyimak, terdiri dari kegiatan mendengar, mendengarkan, yang akhirnya masuk dalam tahap menyimak dengan seksama, cermat dan teliti.

Namun sekali lagi ditekankan bahwa, menyimak tidak sama dengan mendengar dan mendengarkan.

Gambar 1.2 jelas sekali menggambarkan bahwa, proses menyimak terdiri atas 3 (tiga) wilayah, yaitu mendengar, mendengarkan dan menyimak. Mendengar dilakukan dengan kebetulan dan tanpa disengaja; sedangkan Mendengarkan

Proses Menyimak

Mendengar Mendengarkan Menyimak

2

1

3

(23)

22

dilakukan sebatas di sengaja tapi belum memahaminya dengan baik dan teliti; sedangkan Menyimak merupakan sesuatu yang direncanakan dan disengaja sebelumnya, dan penuh dangan perhatian, pemahaman, juga pengevaluasian (evaluasi), serta dibutuhkan umpan balik atau tanggapan.

3. Hubungan Menyimak & Komponen Bahasa Menyimak adalah bagian yang tak terpisahkan dari bahasa dan komunikasi. Objek yang disimak, entah itu berasal dari pendengaran, penglihatan ataupun dari perasaan, selalu saja mengandung unsur-unsur bahasa yang nantinya dapat pula dikomunikasikan keluar maupun ke dalam diri seseorang.

Karenanya, maka hubungan terdalam antara menyimak, bahasa dan komunikasi adalah bahwa, bahasa menjadi objek yang di kominikasikan melalui aktifitas menyimak. Semua hal yang disimak, akan selalu menggunakan bahasa dalam kata- kata yang dikomunikasikan melalui bicara

A. Substansi Bahasa

Karl Kraus (1874-1936) pernah berucap, bahasa adalah ibu dari pemikiran, bukan dayang-dayangnya. Tentu saja apa yang diucapkan Kraus ini bukanlah isapan jempol semata.

Sebab di dalam aktifitas kehidupan ini, hampir tidak pernah tidak, kita terhindar dari menggunakan bahasa.

Hampir tidak pernah terjadi, misalnya kita bercakap- cakap dengan cara saling menulis di kertas, saling bermain

(24)

23

mata, atau dengan saling memukul-mukulkan suatu benda atau saling melemparkan benda-benda lainnya. Sebab dalam percakapan sehari-hari, kita selalu tidak luput dari bahasa.

Bahkan, efektif tidaknya sebuah percakapan, sebenarnya sangatlah dipengaruhi oleh kemultifungsian sifat bahasa itu sendiri (Wibowo, 2003:2).

Itu sebabnya Danesi Marcel (2011:108) menyatakan bahwa, bahasa benar-benar sebuah fenomenon yang luar biasa, sebab tanpanya, kehidupan manusia seperti yang kita kenal kini takkan dapat terwujud.

Lalu apa pengertian dari bahasa itu? Bahasa secara harfiah, datang secara alamiah kepada manusia. Kita memperolehnya sebagai ujaran vokal tanpa upaya atau pelatihan semasa bayi. Bahkan seorang Chomsky (1928) tidak tanggung-tanggung untuk mengklaim bahwa, bahasa merupakan organ fisik yang bersifat bawaan bagi manusia, sama seperti, misalnya, terbang bagi burung.

Berbeda hal dengan pendapat Winfried Noth (2006:234) yang menyatakan, bahwa, istilah ―bahasa‖ (language) digunakan secara umum baik untuk sistem tanda linguistik maupun untuk sistem tanda nonlinguistik. Dalam pengertian yang kedua ini, yakni nonlinguistik, terdapat beberapa ragam bahasa, seperti bahasa musik, arsitektur, film dan Objek.

Namun pengertian bahasa umumnya diartikan sebagai suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer (manasuka) yang

(25)

24

digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk mereka dapat bekerja sama, berinteraksi dan mengindentifikasi diri.

Atau bisa juga didefinisikan sebagai kata yang digunakan untuk dapat menghubungkan bagian ujaran. Dalam hal ini, maka bahasa digunakan melalui perkataan yang diucapkan, dan perkataan yang diucapkan adalah dengan ―berbicara‖.

Keterampilan berbahasa yang memiliki sifat sama, pasti memiliki hubungan yang erat. Keterampilan menyimak dan membaca keduanya bersifat reseptif. Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui menyimak akan menjadi skemata yang membantunya ketika dia memahami isi bacaan, demikian pula sebaliknya; pengetahuan yang diperoleh dari bacaan atau hasil membaca akan menjadi skemata yang akan membantu dalam memahami isi simakan. Artinya, kedua keterampilan berbahasa reseptif ini selalu saling mendukung. Dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang terampil membaca juga terampil menyimak atau sebaliknya.

Antara keterampilan berbahasa produktif juga memiliki hubungan yang erat. Seorang penyaji seminar selain pintar berbicara ketika mempresentasikan makalahnya juga pandai menulis bahan seminar.

Empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, menulis memiliki hubungan yang sangat erat meskipun masing–masing memiliki ciri tertentu. Karena ada hubungan yang sangat erat ini, pembelajaran dalam satu

(26)

25

jenis keterampilan sering meningkatkan keterampilan yang lain. Misalnya dalam pembelajaran membaca, di samping dapat meningkatkan keterampilan membaca seseorang, dapat juga meningkatkan keterampilan menulis.

Contoh lain belajar menemukan ide – ide pokok dalam menyimak juga meningkatkan kemampuan dalam hal menemukan ide –ide pokok dalam membaca, karena kegiatan berpikir baik dalam memahami bahasa lisan maupun bahasa tertulis pada dasarnya sama.

Jadi, dalam proses keterampilan komunikasi berbahasa, semua aspek keterampilan berbahasa, baik lisan maupun tertulis, adalah hal yang sangat penting. Pengalaman merupakan dasar bagi semua makna yang disampaikan dan yang dipahami dalam bahasa tertentu. Anak yang memiliki pengalaman berbahasa cukup luas dapat mengungkapkan maksudnya dan mudah memahami maksud orang lain.

Kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis semua bergantung pada kekayaan kosa kata yang diperlukan untuk berkomunikasi yang dimiliki oleh seseorang.

disamping itu, kemampuan berbahasa juga memerlukan kemampuan menggunakan kaidah bahasa.

B. Hubungan Menyimak & Berbicara

Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai

(27)

26

komunikasi lisan. Melalui berbicara, orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain.

Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak, atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi, dua- duanya tidak terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara, sedangkan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Sebagai mana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun takkan berjalan, jika kedua kegiatan ini tidak berlangsung saling melengkapi.

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan berbeda namun erat dan tidak terpisahkan. Kegiatan menyimak dilakukan terlebih dahulu dari berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab dan interview.

Dalam komunikasi lisan, pembicara dan penyimak berpadu dalam suatu kegiatan yang resiprokal berganti peran secara spontan, mudah, dan lancar dari pembicara menjadi penyimak, dan dari penyimak menjadi pembicara. Pembicara cemas akan kepastian responsi pendengar. Pembicara baru dapat memberikan responsi pendengar setelah dia mendapat responsi dari penyimak.

(28)

27

Pendengar baru dapat memberikan responsi yang tepat bila ia sudah memahami pesan yang disampaikan pembicara.

Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.

Melalui proses menyimak, orang akan dapat menguasai pengucapan fonem, kosa kata, dan kalimat. Pemahaman fonem, kata dan kalimat ini membantu yang bersangkutan melakukan kegiatan berbicara, membaca, atau menulis.

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Karena itu dapatlah disimpulkan bahwa salah satu manfaat berbicara adalah agar kita dapat terampil dalam berkomunikasi secara lisan. Keterampilan berbicara menunjang keterampilan menyimak, membaca dan menulis.

Berbicara juga dapat dipahami sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan dan menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan.

Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda- tanda yang dapat di dengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, bahwa berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor- faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik

(29)

28

sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.

Kegiatan berbicara dan menyimak saling mengisi, saling melengkapi. Tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimaknya. Tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara. Karena itulah maka dikatakan kegiatan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan yang resiprokal.

Melalui kegiatan menyimak siswa mengenal ucapan kata, struktur kata dan struktur kalimat. Pengenalan terhadap cara mengucapkan kata, mengenal dan memahami struktur kalimat merupakan landasan yang kuat bagi pengembangan keterampilan menyimak. Karena itu, menyimak dan berbicara lebih merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, serta komunikasi tatap muka atau face to face communication.

Beberapa hubungan antara menyimak dan berbicara adalah sebagai berikut ini:

 Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi); oleh karena itu, model atau contoh yang disimak serta direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan serta kecakapan berbicara

 Kata-kata yang dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasannya ditentukan oleh sang perangsang (stimuli) yang ditemuinya (misalnya kehidupan desa, kota) dan

(30)

29

kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam penyampaian gagasan-gagasannya.

 Ujaran sang anak memencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan di masyarakat tempatnya hidup. Hal ini biasanya terlihat jelas dalam ucapan, intonasi, kosa kata, dan pola-pola kalimatnya.

 Anak yang lebih kecil lebih dapat memahami kalimat- kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit tinimbang kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.

 Meningkatkan keterampilan menyimak berarti pula meningkatkan kualitas berbicara seseorang.

 Bunyi suara merupakan suatu faktor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak., oleh karena itu maka sang anak akan tertolong kalau dia mendengar serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru, rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi , dan lain-lain.

 Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik dari pihak penyimak. Pada umumnya sang anak mempergunakan bahasa yang didengar serta disimaknya.

Empat keterampilan berbahasa baik lisan (menyimak dan berbicara) maupun tulis (membaca dan menulis) memiliki keterkaitan sangat erat. Satu keterampilan akan mendukung keterampilan yang lainnya. Hubungan antar ragam bahasa

(31)

30

(ragam lisan atau ragam tulis) lebih erat dibandingkan hubungan keterampilan antar sifat (reseptif atau produktif).

Misalnya menyimak dengan berbicara lebih erat dibandingkan hubungan menyimak dan membaca atau menulis. Hubungan keterampilan pada ragam yang sama dapat disebut hubungan langsung, sedangkan hubungan keterampilan pada sifat yang berbeda hubungannya adalah tidak langsung. Pada ragam lisan, menyimak dan berbicara ada pada ruang yang sama.

Dalam kegiatan berbahasa lisan secara tatap muka, penyimak dan pembicara dapat bertukar atau berganti peran.

Penyimak bertukar peran menjadi pembicara dan sebaliknya, pembicara menjadi penyimak. Pergantian peran ini biasanya terjadi pada kegiatan tanya jawab, saling memberi masukan atau interaktif. Pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui menyimak dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuannya berbicara. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi pembicara yang baik, maka orang harus memiliki keterampilan menyimak yang baik.

Jadi, dari pembahasan di atas, maka dapat dipahami bahwa, menyimak dan berbicara merupakan keterampilan yang saling melengkapi, dimana keduanya saling bergantung.

Tidak ada yang perlu dikatakan jika tidak ada seorang pun yang mendengarkan, dan meskipun mungkin kita dapat menyimak nyanyian atau doa, komunikasi yang diucapkan merupakan hal utama yang perlu disimak.

(32)

31

Menyimak dan berbicara, merupakan keterampilan berbahasa lisan. Keduanya membutuhkan penyandian dan penyandian kembali simbol-simbol lisan. Pada dasarnya bahasa yang digunakan dalam percakapan dipelajari lewat menyimak dan menirukan pembicaraan.

Anak-anak tidak hanya menirukan pembicaraan yang mereka pahami, tetapi juga mencoba menirukan hal–hal yang tidak mereka pahami. Kenyataan ini mengharuskan guru menjadi contoh figur berbahasa yang baik, agar anak-anak tidak menirukan pembicaraan yang tidak benar.

Menyimak dan membaca merupakan keterampilan reseptif. Keduanya memungkinkan seseorang menerima informasi dari orang lain. Baik dalam menyimak maupun dalam membaca dibutuhkan penyandian simbol–simbol;

menyimak bersifat lisan sedangkan membaca bersifat tertulis.

Penyandian kembali simbol–simbol lisan (menyimak) hanya melibatkan satu tingkat pemindahan, yaitu dari bunyi ke pengalaman yang menjadi sumbernya. Misalnya ketika seorang anak menyimak kalimat ―Nanti Ibu belikan bola‖, anak mengubungkan dengan alat permainan yang digunakan untuk bermain sepak bola, sehingga dapat memahami arti kata bola yang disimaknya. Penyandian kembali simbol–simbol tertulis (membaca) melibatkan dua tingkat pemindahan, yaitu dari simbol tertulis ke simbol lisan, selanjutnya ke pengalaman yang menjadi sumbernya. Ketika membaca bola, anak bisa

(33)

32

mengucapkan langsung atau mengucapkan dalam hati kata tersebut. Selain itu menghubungkannya dengan benda yang digunakan untuk bermain sepak bola. Oleh karena itu keterampilan menyimak bagus untuk mengembangkan kesiapan membaca, karena menyimak memerlukan proses mental yang sama dengan membaca, kecuali pada tingkat penyandiannya.

Mengajar anak–anak menangkap ide-ide pokok, detail, urutan, hubungan sebab akibat, mengevaluasi secara kritis, dan menangkap elemen–elemen lain dari pesan–pesan secara lisan dapat mempengaruhi kemampuan anak–anak membaca guna menangkap elemen–elemen yang sama seperti ketika mereka menyimak. Penambahan sebuah kata dalam kosakata yang disimak anak–anak, bisa saja meningkatkan kemungkinan mereka menafsirkan arti dari kata tersebut jika mereka membacanya Contoh, seorang anak yang dapat memahami kata ―bermain‖ ketika menyimak cerita gurunya, juga dapat memahami ketika menjumpai kata tersebut dalam bacaan atau dalam kehidupan sehari-hari.

C. Hubungan Menyimak & Membaca

Keterampilan menyimak dan keterampilan membaca kerapkali diperoleh bersama-sama sehingga kedua istilah ini mempunyai hubungan yang sangat erat. Keeratan ini diperjelas dengan pendapat, ‖Untuk meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogyanyalah setiap

(34)

33

keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai dengan tujuan menyimak. Dengan kata lain listening gaols harus diikuti oleh reading activity‖ (Tarigan 1994:7).

Keterampilan menyimak juga merupakan faktor penting keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara menyimak dengan membaca sebagai berikut:

Pertama. Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang anak untuk menyimak dengan pemahaman ternyata penting sekali.

Kedua. Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran- kesukaran dengan membaca secara baik.

Ketiga. Dalam hal ini, beberapa pembeda-pembeda atau diskriminasi pendengaran yang buruk, seringkali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu faktor pendukung atau suatu faktor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading).

Keempat. Menyimak turut membantu anak sebagai penyimak untuk menangkap ide pokok atau gagasan utama yang diajukan oleh pembicara; bagi para siswa yang lebih tinggi kelasnya ternyata bahwa membaca lebih unggul

(35)

34

daripada menyimak sesuatu yang mendadak dan memahami informasi yang terperinci (Tarigan 1994:4).

Kelima. Hubungan keterampilan menyimak dengan keterampilan membaca merupakan komunikasi dua arah.

Menyimak itu bukanlah keterampilan pasif, sebab selama seseorang menangkap ujaran baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan, maka mental orang tersebut terlibat secara aktif, dan mungkin baik dikatakan keterampilan menyimak disebutkan sebagai keterampilan reseptif, karena selama kegiatan, orang akan selalu aktif menerima, menangkap, memahami, dan mengingat ujaran yang disampaikan.

Keenam. Tarigan (1986:8) mengemukakan, membaca dapat diartikan sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkombinasikan makna yang terkandung atau tersirat dalam lambang-lambang tertulis.

Jadi, menyimak dan membaca merupakan dua bentuk komunikasi. Bentuk komunikasi dan keterampilan ini, menegaskan bahwa menyimak dan membaca berhubungan erat. Menyimak adalah menerima, menangkap, dan mengingat ujaran yang disampaikan pembaca dan makna bacaan memerlukan kegiatan lebih lanjut untuk disimak.

D. Hubungan Menyimak & Menulis

Ketika seseorang menulis, ia membutuhkan inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Hal ini dapat diperoleh

(36)

35

dari berbagai sumber, seperti: sumber tercetak berupa buku, majalah, surat kabar, jurnal atau laporan. Sedangkan dari sumber tak tercetak seperti: radio, televisi, ceramah, pidato, wawancara, diskusi dan obrolan.Jika dari sumber tercetak informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari sumber tak tercetak diperoleh informasi itu dengan menyimak.

Dalam pelajaran, seorang siswa menulis saat menyimak penjelasan guru. Demikian halnya seorang penulis, dia harus pandai-pandai menyimak suatu informasi yang baru sebagai bahan tulisannya. Melalui menyimak suatu informasi yang baru, akan menjadi bahan tulisannya. Melalui menyimak ini penulis tidak hanya memperoleh ide atau informasi untuk tulisannya, tetapi juga menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang akan berguna untuk aktifitas menulisnya.Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan.

Karena itu dapatlah disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.

Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat berwujud dalam berbagai variasi. Misalnya mendengarkan radio, televisi, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dengan teman sekerja, sekelas dan sebagainya.

(37)

36

Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.‖Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian.

Sebagaimana menyimak dan berbicara, keterampilan membaca dan menulis juga dapat berganti peran. Ketika Anda menerima surat, Anda membacanya. Pada konteks itu, Anda menjadi pembaca. Ketika Anda menulis surat balasan maka Anda menjadi penulis.

Pengetahuan seseorang yang diperolehnya melalui membaca dapatlah digunakan untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan menulis. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi penulis yang baik, orang harus memiliki keterampilan membaca yang baik.

E. Hubungan Membaca & Menulis

Membaca dan menulis merupakan keterampilan yang saling melengkapi. Tidak ada yang perlu ditulis jika tidak ada yang membacanya, dan tidak ada yang dapat dibaca kalau belum ada yang ditulis. Keduanya merupakan keterampilan bahasa yang tertulis, dan menggunakan simbol–simbol yang dapat dilihat yang mewakili kata–kata yang diucapkan serta pengalaman dibalik kata–kata tersebut.

(38)

37

Dalam menulis, orang lebih menggunakan kata-kata yang dikenal dan yang dirasakan sudah dipahami dengan baik dalam bahasa bacaan yang telah dibacanya.

Namun, banyak materi yang telah dibaca dan dikuasai oleh seseorang yang tidak pernah muncul dalam tulisan (karangan). Hal itu terjadi karena untuk menggunakan suatu kata dalam tulisan diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam dalam hal penerapan kata tersebut daripada sekedar memahami ketika membaca.

F. Hubungan Berbicara & Menulis

Berbicara dan menulis adalah merupakan keterampilan ekspresif atau disebut juga produktif. Keduanya dapat digunakan untuk menyampaikan informasi. Sebagaimana dalam aktifita berbicara dan menulis, dibutuhkan kemampuan menyandikan simbol-simbol, maka simbol lisan digunakan dalam aktifitas berbicara sedangkan simbol tertulis digunakan dalam aktifitas menulis.

Dalam berbicara atau menulis, pengorganisasian pikiran sangat penting. Pengorganisasian pikiran ini lebih mudah dalam menulis, karena informasi dapat disusun kembali secara mudah setelah ditulis sebelum disampaikan kepaa orang lain untuk dibaca.

Sebaliknya setelah suatu pesan yang tidak teratur dikatakan kepada orang lain, meskipun telah dibetulkan oleh pembicara, kesan yang tidak baik sering kali masih tetap ada

(39)

38

dalam diri pendengar. Itulah sebabnya banyak pembicara yang merencanakan apa yang akan dikatakan dalam bentuk tertulis dahulu sebelum disajikan secara lisan.

Namun, kegiatan berbicara dapat juga merupakan kegiatan untuk mencapai kesiapan menulis. Bahasa lisan dipelajari lebih dahulu oleh anak–anak dan pada umumnya mereka tidak mengutarakan secara tertulis hal–hal yang tidak mereka kuasai secara lisan.

4. Bentuk & Jenis Menyimak

Bentuk dan jenis dalam aktivitas menyimak, sangat beragam.

Dalam konteks keterampilan berbahasa, menyimak terdiri dari berbagai macam jenis. Namun dari beberapa jenis tersebut dapatlah dibedakan berdasarkan 3 (tiga) kriteria tertentu (Retno, 2010), yakni menyimak berdasarkan: A) Sumber Suara; B) Bahan Simakan; C) Aktivitas Menyimak.

A. Berdasarkan Sumber Suara

Bentuk sumber suara adalah bentuk menyimak yang didasarkan pada datangnya sumber suara. Bentuk ini terbagi menjadi dua jenis penyimak, yaitu:

Intrapersonal Listening. Dalam hal ini, sumber suara yang disimak berasal dari diri sendiri. Ini terjadi saat seseorang menyendiri dan merenungkan nasib diri, menyesali perbuatan sendiri, atau berkata-kata dengan diri sendiri dengan mendengarkan kata hati dan bisikan hati (naluri).

(40)

39

Itulah sebabnya, jenis menyimak yang seperti ini disebut dengan intrapersonal listening.

Interpersonal listening. Dalam hal ini, sumber suara yang disimak dapat berasal dari luar diri penyimak atau berasal dari orang lain. Menyimak yang seperti inilah yang paling banyak dilakukan, misalnya dalam percakapan, diskusi, seminar, dan sebagainya. Itu sebabnya, jenis menyimak yang seperti ini disebut interpersonal listening.

B. Berdasarkan Bahan Simakan

Menyimak berdasarkan bahan simakan, adalah bentuk menyimak yang didasarkan pada bahan-bahan yang di simak.

Bentuk ini terdiri dari dua jenis, yakni: 1) menyimak ekstensif;

dan 2) menyimak intensif.

1) Menyimak Ekstensif

Menyimak ekstensif (extensive listening) adalah suatu kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, dan tidak diperlukan bimbingan langsung dari seorang guru atau orang yang lebih tua atau yang lebih mengetahui.

Penggunaan paling dasar menyimak jenis ini adalah untuk menangkap atau mengingat kembali bahan yang telah dikenal atau diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara yang baru.

Dalam menyimak jenis ini, penyimak memahami materi simakan hanya secara garis besar saja. Sebab menyimak

(41)

40

ekstensif lebih merupakan proses menyimak yang kerapkali dilakukan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti:

mendengarkan radio, menonton televisi, percakapan di pasar, pengumuman, dan lain sebagainya.

Dalam prosesnya di sekolah, tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang penting saja. Jenis menyimak ekstensif dapat pula dibagi menjadi 4 (empat) jenis, yaitu: menyimak sosial, menyimak sekunder, menyimak estetik, menyimak pasif.

Menyimak Sekunder. Menyimak sekunder adalah sejenis menyimak yang terjadi secara kebetulan, dalam artian bahwa, menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.

Misalnya, jika seorang pelajar sedang membaca di kamar, ia juga dapat mendengarkan percakapan orang lain, suara siaran radio, suara televisi, dan sebagainya. Suara tersebut sempat terdengar oleh pembelajar tersebut, namun ia tidak terganggu oleh suara itu. Misalnya lagi, ketika Bartolomius sedang mencuci motor tanpa sadar ia mendengar Ibunya bercerita di teras dengan tetangganya.

Menyimak Estetik. Menyimak estetik atau estetika, sering disebutkan menyimak apresiatif. Menyimak estetika ialah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu yang dilakukan dengan cara penyimak duduk terpaku

(42)

41

menikmati suatu pertunjukkan misalnya, musik, pembacaan bersama, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Misalnya lagi penyimak menikmati teka-teki, gemerincing irama, dan lakon-lakon yang dibacakan atau diceritakan oleh guru, siswa, atau aktor, dll. Secara imajinatif, penyimak ikut mengalami, dan merasakan karakter dari setiap pelaku. Jadi, kegiatan menyimak estetik ini lebih menekankan aspek emosional penyimak seperti dalam menghayati dan memahami sebuah pembacaan puisi. Dalam hal ini, emosi penyimak akan tergugah, sehingga timbul rasa senang terhadap puisi tersebut. Demikian pula pembacaan cerita pendek. Hal ini kerapkali dilakukan oleh pengarang terkenal yang sering membacakan cerpen-cerpennya melalui radio, lalu banyak remaja mendengarkan pembacaan tersebut. Para remaja tampaknya dapat menikmati dan menghayati cerpen yang dibacakan tersebut.

Menyimak Pasif. Menyimak pasif ialah menyimak suatu bahasan atau objek yang dilakukan tanpa suatu upaya sadar (tanpa disadari menjadi terlibat menyimak). Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam masa dua atau tiga tahun ia sudah mahir memahami pesan dalam bahasa daerah tersebut.

Kemudian, dia mahir pula menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemahiran menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan sebagai hasil menyimak pasif. Namun akhirnya,

(43)

42

orang itu dapat menggunakan bahasa daerah dengan baik.

Kegiatan menyimak pasif banyak dilakukan oleh masyarakat awam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan di sekolah tidak dikenal istilah menyimak pasif. Pada umumnya, menyimak pasif dapat terjadi karena faktor kebetulan dan ketidaksengajaan. Contoh lainnya seperti, seorang sopir travel yang biasa mengantar turis, secara tidak langsung ia pun dapat pandai berkomunikasi menggunakan bahasa asing.

Menyimak Sosial. Menyimak jenis ini berlangsung pada kehidupan sosial dalam masyarakat. Dalam pemahaman bahwa, menyimak jenis ini sering dilakukan oleh sekelompok masyarakat dalam kehidupan sosial, seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, dan lain sebagainya. Kegiatan menyimak ini lebih menekankan pada faktor status sosial, unsur etika dan sopan santun, serta tingkatan kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Misalnya orang mengobrol serta bercengkrama mengenai hal-hal yang menarik perhatian khlayak banyak dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, dan mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang. Contohnya: seorang anak jawa menyimak nasihat neneknya dengan sikap dan bahasa yang santun. Dalam hal ini, nenek memiliki peran yang lebih utama, sedang anak merupakan peran sasaran.

(44)

43

2) Menyimak Intensif

Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian, sehingga penyimak dapat memahami secara lebih mendalam tentang objek atau segala sesuatu yang di simak. Terdapat beberapa ciri atau karakteristik menyimak intensif yang dapat membedakannya dengan jenis menyimak ekstensif, yaitu sebagai berikut:

Pertama. Menyimak intensif adalah kategori menyimak pemahaman. Pemahaman ialah proses memahami suatu objek. Pemahaman dalam menyimak merupakan proses memahami suatu bahan simakan. Pada dasarnya orang melakukan kegiatan menyimak intensif dengan tujuan untuk memahami makna bahan yang disimak dengan baik.

Pemahaman merupakan prioritas pertama. Hal itu berbeda dengan menyimak ekstensif yang lebih menekankan hiburan, kontak sosial. ketidaksengajaan, dan lain sebagainya. Jadi, prioritas dalam jenis menyimak intensif ialah memahami makna pembicaraan.

Kedua. Menyimak jenis intensif memerlukan konsentrasi tinggi. Konsentrasi ialah memusatkan semua gejala jiwa seperti pikiran, perasaan, ingatan, perhatian, dan sebagainya, kepada suatu objek. Dalam menyimak intensif, sangat diperlukan pemusatan gejala jiwa menyeluruh terhadap bahan yang disimak. Agar penyimak dapat melakukan konsentrasi yang tinggi, maka perlu dilakukan, dengan beberapa cara,

(45)

44

antara lain: (a) menjaga agar pikiran tidak terpecah, (b) perasaan tenang dan tidak bergejolak, (c) perhatian, yaitu terpusat pada objek yang sedang disimak. Penyimak harus mampu menghindari berbagai hal-hal yang dapat menggangu kegiatan menyimak, baik internal maupun ekstenal.

Ketiga. Menyimak intensif ialah memahami bahasa formal. Bahasa formal ialah bahasa yang digunakan dalam situasi formal. Yang dimaksudkan dengan situasi formal ialah situasi komunikasi resmi. Misalnya, ceramah, pidato, diskusi, berdebat, temu ilmiah dan lain sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam ceramah ilmiah, temu ilmiah, atau diskusi ialah bahasa resmi atau bahasa baku. Bahasa baku dalam hal ini lebih menekankan makna.

Keempat. Menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan Reproduksi ialah kegiatan mengungkapkan kembali sesuatu yang telah dipahami sebelumnya. Untuk membuat reproduksi, maka dapat dilakukan dengan beberapa prinsip, seperti: lisan (berbicara); dan tulisan (menulis, mengarang). Reproduksi dilakukan setelah menyimak. Fungsi reproduksi diantaranya seperti: (1) mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan berbicara; (2) mengukur kemampuan integratif antara menyimak dengan menulis atau mengarang; (3) mengetahui kemampuan pada daya serap dari seseorang; serta (4) mengetahui tingkat pemahaman seorang tentang bahan yang telah disimak.

(46)

45

Jenis menyimak Intensif, dapatlah dibagi menjadi enam jenis, yaitu: menyimak kristis, menyimak introgatif, menyimak penyelidikan (eksploratori), menyimak kreatif, menyimak konsentratif dan menyimak selektif.

Menyimak kritis. Menyimak kritis ialah suatu kegiatan menyimak yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memberikan penilain secara objektif, menentukan keaslian, kebenaran dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangannya.

Menyimak dengan cara ini bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan dalam membuat satu kesimpulan. Penyimak menilai gagasan, ide, informasi dari pembicara secara kritis.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyimak kritis adalah (a) mengamati tepat tiap ujaran pembicara, (b) mencari jawaban atas pertanyaan "mengapa menyimak", dapatkah penyimak membedakan antara fakta dan opini dalam menyimak? Dapatkah penyimak mengambil simpulan dari hasil menyimak? atau Dapatkah penyimak menafsirkan makna idium, ungkapan, dan majas dalam suatu kegiatan menyimak? (Kamidjan,2001:22). Misalnya: seseorang yang menghadiri seminar dengan seksama dan akhirnya akan memberikan tanggapan terhadap isi seminar.

Menyimak introgatif. Menyimak interogratif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diarahkan kepada pemerolehan informasi tersebut. Menyimak

(47)

46

interogatif merupakan suatu kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak. Kegiatan menyimak interogratif bertujuan untuk: (a) mendapatkan fakta-fakta dari pembicara, (b) mendapatkan gagasan baru yang dapat dikembangkan menjadi sebuah wacana yang menarik, (c) mendapatkan informasi apakah bahan yang telah disimak itu asli atau tidak.

Misalnya: tes wawancara calon karyawan atau pekerja baru yang mau melamar di salah satu perusahaan atau instansi dan lembaga pemerintah. Atau misalnya juga seorang yang diinterogasi oleh polisi karena telah melakukan kejahatan.

Menyimak penyelidikan. Menyimak jenis ini dapat pula disebutkan dengan eksploratori atau eksploratif, yaitu kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Pada akhir kegiatan, seorang penyimak eksploratif akan (a) menemukan gagasan baru. (b) menemukan informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, (c) menemukan topik-topik baru yang dapat dikembang pada masa yang akan datang. (d) menemukan unsur-unsur bahasa yang bersifat baru. Jadi, menyimak eksploratori adalah sejenis menyimak dengan tujuan menemukan hal-hal baru yang menarik, menemukan informasi tambahan mengenai suatu topik, Isu, pergunjingan atau buah bibir yang menarik. Misalnya: seorang wartawan

(48)

47

ingin meliput berita yang lagi tren dan menghebohkan. Atau contoh lainnya seperti misalnya ada seorang tersangka yang masih diduga melakukan pencabulan anak di bawah umur yang sedang diselidiki oleh polisi dengan mengutarakan beberapa pertanyaan yang harus di jawab. Maka polisi melakukan suatu aktifitas menyimak penyelidikan saat sang tersangka menjawab pertanyaannya.

Menyimak kreatif. Menyimak kreatif ialah kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pelajar (yang mempelajari sesuatu).

Kreativitas penyimak dapat dilakukan dengan cara (a) menirukan lafal atau bunyi bahasa asing atau bahasa daerah, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda. bahasa Jerman.

dan sebagainya, (b) mengemukakan gagasan yang sama dengan pembicara. namun menggunakan struktur dan pilihan kata yang berbeda, (c) merekonstruksi pesan yang telah disampaikan penyimak, (d) menyusun petunjuk-petunjuk atau nasihat berdasar materi yang telah disimak. Jadi, jenis menyimak kreatif sangat berhubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu. Misalnya: seorang puitisi yang mencari ide dan gagasan-gagasan baru mendengarkan pembacaan puisi pada radio dan televisi, atau pada mesia surat kabar, dsb.

(49)

48

Menyimak konsentratif. Menyimak konsentratif atau dengan istilah ―consentrative listening‖ adalah suatu kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang disimak. Kegiatan menyimak konsentratif bertujuan: (a) untuk mengikuti petunjuk-petunjuk; (b) mencari hubungan antar unsur dalam menyimak; (c) mencari hubungan kuantitas dan kualitas dalam suatu komponen; (d) mencari butir-butir informasi penting dalam kegiatan menyimak; (e) mencari urutan penyajian dalam bahan menyimak; dan (f) mencari gagasan utama dari bahan-bahan yang sudah pernah disimak (Kamidjan,2001:23). Karena itu, menyimak kontratif ini lebih merupakan kegiatan telaah terhadap suatu penjelasan, atau dengan kata lainnya, menelaah setiap pembicaraan atau hal- hal yang disimaknya. Melakukan hal ini, tentunya diperlukan konsentrasi penuh dari penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik. Misalnya seorang pelajar yang mendengarkan penjelasan gurunya, atau para peserta seminar yang mendengarkan penjelasan pembicara pada seminar dan studi-studi lainnya. Atau misalnya saat mahasiswa melaksanakan tes toefl sesi listening, maka ia melakukan simak konsentratif agar dapat memahami maksud sang pembicara dengan tepat.

Menyimak selektif. Menyimak selektif ialah kegiatan menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus untuk

(50)

49

mengenal, bunyi-bunyi asing, nada dan suara, bunyi-bunyi homogen, kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan bentuk- bentuk, bahasa yang sedang dipelajarinya. Itu sebabnya, menyimak selektif cenderung melakukan kegiatan menyimak dengan memusatkan perhatian pada hal tertentu yang sudah dipilih. Menyimak selektif memiliki ciri tertentu sebagai pembeda dengan kegiatan menyimak yang lain. Adapun ciri menyimak selektif ialah: (a) menyimak dengan saksama untuk menentukan pilihan pada bagian tertentu yang diinginkan, (b) menyimak dengan memperhatikan topik-topik tertentu, (c) menyimak dengan memusatkan perhatian pada tema-tema tertentu. Kegiatan menyimaknya, dapat dilakukan dengan cara menampung aspirasi dari penutur atau pembicara dengan menyeleksi dan membandingkan hasil simakan melalui hal-hal yang relevan. Misalnya: seorang akademisi yang ingin membandingkan kebenaran sesuatu, maka seyognya ia dapat menyeleksi informasi-informasi yang ada untuk mendapatkan kesimpulan yang bulat, utuh dan benar.

C. Berdasarkan Aktivitas Menyimak

Menyimak Berdasarkan aktivitas penyimak adalah bentuk kegiatan menyimak yang dilakukan dengan berfokus pada pelaksanaan dari menyimak itu sendiri. Pada taraf aktivitas dalam hal menyimak suatu objek, maka bentuk ini dapatlah dibedakan ke dalam dua jenis taraf kegiatannya, yaitu: 1) menyimak taraf rendah; dan 2) menyimak taraf tinggi.

(51)

50

Menyimak Taraf Rendah. Menyimak taraf rendah adalah menyimak dengan sekadar memberikan perhatian, dorongan dan menunjang pembicaraan. Menyimak semacam ini disebut silent listening, dimana penyimak baru akan sampai pada kegiatan memberikan dorongan, perhatian dan menunjang dalam pembicaraan. Biasanya aktivitas itu bersifat nonverbal seperti mengangguk-angguk, senyum, sikap tertib dan penuh perhatian atau melalui ucapan-ucapan pendek seperti benar, saya setuju, ya, ya dan sebagainya.

Menyimak Taraf Tinggi. Pada kegiatan menyimak yang bertaraf tinggi, biasanya diperlihatkan penyimak dengan mengutarakan kembali isi simakan (yang disimak). Menyimak semacam ini disebut active listening, dimana penyimaknya sudah mampu mengutarakan kembali isi dari bahan simakan.

Pengutaraan kembali isi bahan simakan ini, menandakan bahwa penyimak sudah memahami isi bahan simakan.

5. Tujuan & Manfaat Menyimak

Penyimak yang baik adalah para penyimak yang memilki seperangkat rencana sebelum melakukan aktifitas menyimak.

Salah satu butir penting yang dapat diketahui dari perencanan ini, adalah alasan tertentu mengapa yang bersangkutan turut aktif dalam kegiatan menyimak. Alasan inilah yang kemudian disebutkan sebagai tujuan menyimak. Dari pencapai tujuan yang sudah dicapai itu, maka nantinya akan diketahui bagaimana manfaat utama dari menyimak.

(52)

51

A. Tujuan Menyimak

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan, yang terdapat pada materi dan bahasa yang disimak (objek). Ada banyak tujuan menyimak yang didasarkan pada kajian bidang studi berbahasa yang baik dan benar, dan kemudian dikembangkan oleh para ahli. Menurut Ice Sutari, Iyo Mulyono, dan Sukandi (1997:22-26), tujuan menyimak dapat dibagi sebagai berikut:

Mendapatkan fakta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008) fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yg benar- benar ada atau terjadi. Kegiatan menyimak dengan tujuan memperoleh fakta meliputi: melalui kegiatan membaca, baik melalui majalah, koran, maupun buku-buku. Selain itu, mendapatkan fakta melalui radio, televisi, pertemuan, menyimak ceramah-ceramah, dan sebagainya.

Menganalisis fakta. Maksud dari menganalisis fakta yaitu proses menaksir kata-kata atau informasi sampai pada tingkat unsur-unsurnya, menaksir sebab akibat yang terkandung dalam fakta-fakta itu.

Mengevaluasi fakta. Penyimak yang kritis akan mempertanyakan hal-hal mengenai nilai fakta-fakta yaang disimak: keakuratan fakta-fakta dan kerelevanan fakta-fakta itu. Pada akhirnya, maka penyimak akan memutuskan untuk menerima atau menolak materi simakannya itu. Selanjutnya

(53)

52

penyimak diharapkan dapat memperoleh inspirasi yang dibutuhkannya.

Mendapatkan inspirasi. Inspirasi sering dipakai alasan oleh seseorang untuk menyimak suatu pembicaraan.

Menyimak bukan untuk memperoleh fakta saja melainkan untuk memperoleh inspirasi. Kita mendengarkan ceramah atau diskusi ilmiah semata-mata untuk tujuan mendapatkan inspirasi atau ilham.

Mendapatkan hiburan. Hiburan merupakan kebutuhan manusia yang cukup mendasar. Dalam kehidupan yang serba kompleks ini, seseorang melepaskan diri dari berbagai tekanan, ketegangan, dan kejenuhan. Seseorang sering menyimak radio, televisi, film layar lebar antara lain untuk memperoleh hiburan dan mendapatkan kesenangan batin.

Karena tujuan menyimak disini untuk menghibur, maka pembicara harus mampu menciptakan suasana gembira dan tenang. Tujuan ini akan mudah tercapai apabila pembicara mampu menciptakan humor yang segar dan orisinil.

Kebanyakan dari beberapa ahli, memiliki pemahaman dan sependapat dengan tujuan menyimak yang diuraikan di atas. Misalnya pendapat yang sama diungkapkan oleh Saleh Abbas (2006:64) bahwa tujuan dari menyimak adalah: 1) mendapatkan fakta, 2) menganalisis fakta, 3) mengevaluasi fakta, 4) mendapatkan inspirasi, 5) menghibur diri, dan 6) meningkatkan kemampuan berbicara.

(54)

53

B. Manfaat Menyimak

Berdasarkan tujuan di atas, ada banyak manfaat yang dapat diambil dari aktifitas menyimak. Namun, manfaat yang lebih esensial dan substantif dalam berbahasa, bahwa menyimak bermanfaat untuk membekali seseorang dalam menangkap dan memahami 3 hal berikut ini:

1) fakta dalam pesan yang terdapat pada objek materi atau bahasa simakan,

2) fakta dalam ide yang terdapat pada objek materi atau bahasa simakan; serta

3) fakta dalam gagasan yang terdapat pada objek materi atau bahasa simakan

Ketiga manfaat dari menyimak ini dapatlah digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.3 Manfaat Menyimak Pesan

Ide

Gagasan Fakta

Memahami

1

2

3 1

(55)

54

Dapatlah dipahami, dengan seringnya melakukan akfitas menyimak, akan membawa tiga manfaat bagi seseorang, yaitu: (1) seseorang itu akan dengan mudahnya menangkap, lalu memahami pesan-pesan apa yang terkandung pada pada objek materi atau bahasa simakan; (2) setelah pesan itu didapatkan, maka akan lebih memudahkan ia menemukan ide-ide baru atau memadukan ide-ide lama dengan fakta baru yang terdapat pada objek materi atau bahasa simakan; (3) dan akhir, ia pun dapat mengembangkan ide-ide itu menjadi gagasan-gagasan yang nantinya melahirkan inovasi-inovasi baru yang lebih baik dari sebelumnya, atau yang menghasilkan karya-karya baru yang bernilai seni dan memiliki keunikan tersendiri.

Referensi

Danesi Marcel. (2011). Messages , Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory (Third Edition). Terjm, Evi Setyarini & Lusi Lian Piantari. Yogyakarta:Jalasutra

Haryadi dan Zamzani. (1997). Peningkatan Keterampian Berbahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Ice Sutari, Iyo Mulyono, &Sukandi. (1997). Menyimak.

Jakarta: Depdikbud.

Kamidjan. (2001). Teori Menyimak. Surabaya: FBS UNES M.E. Suhendar & Pien. S. (1992). Pengajaran dan Ujian

Keterampilan Membaca dan Keterampilan Menulis.

Bandung: CV. Pionir Jaya.

Referensi

Dokumen terkait

Populasi adalah sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam satu riset khusus (Santoso, 2001). Selain itu

Alhamdulillahirobbil’aalamiin, puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya

Dalam rapat pleno tersebut dijelaskan oleh Komisioner Bawaslu Jawa Barat bahwa perkara laporan kami Nomor 014/LP/PB/Prov/13.00/VII/2018 tidak ditindaklanjuti karena

Bila suatu sambungan terdiri dari satu baris alat pengencang atau lebih dengan alat pengencang baut, ada kecenderungan masing-masing baut mendukung beban lateral yang tidak sama

Pada penelitian pembuatan biokomposit menggunakan serat kelapa sawit sebagai penguat dan polipropilene sebagai matriks serta kalsium karbonat dan glyserin sebagai bahan

Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Doa Anak Jalanan NDU\D 0D¶PXQ $IIDQ\ 'DUL penelitian ini ditemukan lima

Tulisan ini bertujuan untuk membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan Indonesia sebagai bekal hidup yang lebih bahagia sejahtera, berkualitas tinggi, dan mandiri

(1) Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Camat, Sekretaris Kecamatan, Kepala Seksi, Kepala Subbagian, Lurah, Sekretaris Kelurahan dan Kelompok Jabatan Fungsional