• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan berkaitan dengan penetuan kegiatan yang akan dilakukan. Perencanaan merupakan suatu proses untuk menentukan kegiatan yang diperlukan dengan cara paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Menurut Majid (2007:15) “perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan dapat disusun sesuai dengan keinginan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat rencana”. Definisi lain, menurut Uno (2012:2) bahwa “perencanaan yakni suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.

Berdasarkan pendapat di atas, perencanaan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan menyusun langkah-langkah yang efetif dan efisien untuk memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga tujuan dapat dicapai secara maksimal. Pembelajaran yang baik dapat dilihat dari perencanaan pembelajaran. Adapun perancangan pembelajaran dibuat sebelum proses pembelajaran berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Asmawati (2014:7), yang menyatakan bahwa:

Perencanaan pembelajaran atau desain pembelajaran berisi kisi-kisi dari teori belajar, teori pembelajaran, teori evaluasi yang telah dianalisi, didesain, dikembangkan, diimplementasikan, dan dievaluasi yang dilaksanakan secara bertahap dan berulang dalam jangka waktu tertentu. Pengembangan proses pendidikan yang rumit, kreatif, berulang-ulang, teruji, dan dapat dikaji ulang penerapannya sesuai dengan kebutuhan.

Perencanaan pembelajaran berisi tentang materi, media, metode pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran berdasarkan jangka waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Majid (2007:17) bahwa:

Perencanaan dalam konteks pengajaran dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendakatan pembelajaran dan metode pengajaran, penilaian dalam suatu alokasi waktu tertentu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan pembelajaran dapat dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung yang berisi petunjuk arah kegiatan. Perencanaan pembelajaran dijadikan pedoman bagi guru dalam menjalankan tanggung jawabnya. Menurut Majid (2007:22) terdapat

beberapa manfaat perencanaan pengajaran dalam proses mengajar, antara lain:

a. Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan,

b. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan,

c. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur peserta didik,

d. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelemahan kerja,

e. Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja, dan f. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.

Merancang pembelajaran memberikan manfaat yang pertama, sebagai petunjuk arah kegaiatan, artinya dengan merancang pembelajaran guru dapat menetukan arah kegaitan yang dilakukan berfokus pada tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Ke-dua, perencanaan pembelajaran mengatur tugas dan wewenang unsur yang terlibat dalam pembelajaran dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya. Ke-tiga, dapat dijadikan pedoman bagi guru maupun siswa dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan pada tujuan pembelajaran. Ke-empat, sebagai alat ukur yang efektif dalam menilai pembelajaran yang telah dilaksanakan berhasil sesuai tujuan atau tidak. Ke-lima, perancangan pembelajaran dapat digunakan sebagai bahan yang dapat dijadikan data dalam mempertangungjawabkan kinerja, dan yang terakhir, ke-enam dapat digunakan sebagai penentu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran karena waktu masing-masing kegiatan telah ditentukan.

Carl dan Rosalind dalam (Yaumi, 2013:11) berpendapat bahwa definisi perancangan pembelajaran dapat dideteksi dari beberapa perspektif, yakni:

a. Sebagai suatu proses. b. Sebagai suatu disiplin. c. Ilmu pengetahuan. d. Sebagai realitas.

Pertama, perancangan pembelajaran sebagai suatu proses adalah materi pembelajaran dikembangkan berdasarkan teori belajar dan pembelajaran untuk mencapai kualitas pembelajaran dan merupakan proses analisa terhadap keutuhan belajar, dan tujuan pembelajaran. Ke-dua, perancangan pembelajaran sebagai suatu disiplin merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan penelitian dan teori tentang strategi pembelajaran dan proses untuk mengimplementasikan strategi tersebut. Ke-tiga, perencanaan pembelajran sebagai suatu pengetahuan yang mempelajari bagaimana menciptakan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan situasi yang dapat memfasilitasi pembelajaran. Ke-empat, perancangan pembelajaran sebagai realitas yang dapat dimulai dari titik mana saja dalam proses merancang dan sering muncul pandangan baru yang dapat dikembangkan menjadi inti pembelajaran.

Merancang pembelajaran harus disusun secara sistematis dan merujuk pada model yang memiliki karakteristik yang jelas. Perencanaan pembelajaran harus berorientasi pada peserta didik, tujuan, terfokus pada pengembangan dan peningkatan kinerja, hasil belajar dapat diukur dengan cara yang valid dan terpercaya. Selain itu, perencanaan pembelajaran mengandung hal-hal empiris, berulang, dapat dikoreksi sendiri, dan merupakan usaha yang dilakukan bersama. Merancang pembelajaran untuk anak usia dini harus dilakukan dengan pengamatan terhadap peserta didik dengan

mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhannya. Kebutuhan anak usia dini yang paling menonjol adalah bermain, sehingga pembelajaran yang diberikan oleh guru hendaknya melalui bermain. Perencanaan pembelajaran PAUD dirancang sebelum proses pembelajaran berlangsung dapat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH).

Rencana pembelajaran merupakan proses untuk memutuskan metode pembelajaran yang sesuia untuk membawa perubahan dan keterampilan dalam suatu materi pembelajaran. Lebih lanjut Rotwell dan Kazanas dalam (Yaumi, 2013:10) menjabarkan bahwa merancang pembelajaran mencakup:

a. Suatu profesi yang muncul

b. Difokuskan pada membangun dan mempertahankan kinerja manusia secara efektif dan efisien

c. Diarahkan dengan model kinerja manusia d. Dilakukan secara sistematis

e. Berdasarkan teori sistem terbuka

f. Berorientasi untuk menemukan dan memberikan solusi pada permasalahan kinerja manusia secara efektif dan menentukan lompatan-lompatan quantum dalam perbaikan produktivitas melalui kecerdasan manusia.

Merujuk pada penjabaran di atas, dapat dijelaskan bahwa merancang pembelajaran merupakan hal penting bagi guru agar tercapai tujuan secara maksimal dari pembelajaran. Perancangan pembelajaran berbasis bermain dalam penelitian ini terfokuskan pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Menurut Hartati (2007:174) menyatakan bahwa:

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) merupakan rencana (jadwal) yang akan dilakukan oleh anak ketika anak berada di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut disusun dari mulai anak datang sampai anak pulang. Jadwal harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, perkembangan anak, serta memberian waktu yang cukup bagi anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen melalui kegiatan bermain serta menyediakan waktu untuk beristirahat antar kegiatan.

Merancang kegiatan pembelajaran dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung. Ketika merancang pembelajaran untuk anak usia dini, guru harus menyesuaikan dengan karakteristik belajar anak usia dini. Karakteristik belajar anak usia dini adalah bermain, sehingga pembelajaran yang diberikan oleh guru hendaknya melalui bermain. Perencanaan pembelajaran PAUD dapat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Merancang RPPH pada pembelajaran berbasis bermain berisi tentang kegiatan bermain anak dalam proses pembelajaran. RPPH yang dirancang menitik beratkan pada rencana kegiatan bermain yang akan dilakukan anak.

Menururt Fadillah (2014:40): “pembelajaran berbasis bermain disajikan dalam bentuk belajar melalui bermain”, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari permainan untuk mengembangkan potensi anak. Pembelajaran berbasis bermain merupakan strategi pembelajaran yang disusun agar anak tidak merasa bosan dan jenuh dalam mengikuti pembelajaran. Menurut Fadillah (2014:40) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dalam pembelajaran berbasis bermain berisi materi pembelajaran yang disajikan dalam bentuk permainan yang mendidik mulai dari kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, dijabarkan sebagai berikut:

a. Kegiatan pembukaan

Guru menyiapkan anak untuk memulai pembelajaran dengan memperkenalkan kegiatan yang akan dilakukan serta alat, bahan yang

akan di gunakan serta aturan dalam permainan dengan suasana yang menarik dan menyenangkan, seperti kegiatan bernyanyi bersama, tebak nama hari, dan tanggal. Guru menyediakan waktu transisi agar anak dapat beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya.

b. Kegiatan inti

Kegiatan yang dilakukan anak adalah kegiatan bermain sesuai dengan minat anak, tema kegiatan, serta tahap pencapaian perkembangan anak. Selama bermain, guru memastikan bahwa semua anak mencoba untuk bermain dan menggali gagasan anak berupa pertanyaan positif sehingga anak memiliki pengalaman bermain yang nyata. Guru memberikan waktu transisi sebelum melakukan permainan selanjutnya.

c. Kegiatan penutu

Kegiatan penutup kegiatan setelah kegiatan inti dilakukan. Kegiatan ini berupa membereskan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan permainan yang menarik seperti mengelompokan alat dan bahan sesuai jenis, bentuk, dan ukuran. Anak menceritakan pengalaman bermainnya dan guru memperkuat konsep yang telah diperoleh anak serta mempersiapkan anak untuk kegiatan penutup.

2. Langkah-Langkah Merancang Pembelajaran Berbasis Bermain

Merancang pembelajaran bagi anak usia dini tidak terlepas dari karakteritik belajar anak yaitu bermain. Perancangan pembelajaran berbasis bermain merupakan dokumen tertulis yang mengambarkan dan menjelaskan mengenai tujuan, materi, strategi, skenario, bahan ajar, serta penilaian dalam

pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran berbasis bermain yang dibuat oleh guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat dari kesesuaian perencanaan yang dibuat oleh guru dengan proses pembelajaran yang berlangsung. Hal ini sesuai dengan tujuan perancangan pembelajaran, yaitu agar pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan tidak melenceng dari tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Seorang guru dalam membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) pada pembelajaran berbasis bermain sebaiknya memperhatikan karakteristik belajar anak. Hal ini bertujuan agar RPPH yang dibuat tepat sasaran dan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Haenilah (2015:42) terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan saat merancang pembelajaran untuk anak usia dini, sebagai berikut:

a. indikator yang harus dicapai,

b. wahana pembelajaran yang menyenangkan,

c. alat permainan yang diperlukan untuk menstimulasi anak belajar, d. tema yang tepat,

e. menyusun langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak,

f. cara mengevaluasi ketercapaian perkembangan belajar anak.

Merujuk pada pendapat di atas, maka guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang tahap-tahap dalam merancang pembelajaran untuk anak usia dini. Selain memperhatikan tahap perkembangan anak dan ketercapaian indikator, guru juga harus memperhatikan karakteristik belajar anak agar pemilihan strategi pembelajaran tepat sasaran. Suasana saat proses pembelajaran juga harus diperhatikan saat merancang pembelajaran. Anak

akan belajar dengan serius jika pembelajaran disajikan dalam kegiatan bermain yang menyenangkan tanpa adanya paksaan dari orang dewasa dan dengan alat permainan yang konkrit.

Perancangan pembelajaran berbasis bermain berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yang dijadikan sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pada dasarnya memiliki langkah- langkah sistematika pembuatan RPPH, sebagai berikut:

a. Indikator Capaian Perkembangan Pembelajaran Berbasis Bermain

Menurut Haenilah (2015:47): “indikator capaian perkembangan (ICP) merupakan operasionalisasi atau penjabaran TPP. Rumusan ini disusun oleh guru sebagai gambaran indikasi keberhasilan perkembangan pada semua lingkup perkembangan baik moral-agama, fisik-motorik, kognitif, bahasa, maupun sosial-emosional”. Indikator pencapaian perkembangan anak berfungsi untuk memantau perkembangan anak dan bukan untuk digunakan secara langsung baik sebagai bahan ajar maupun kegiatan pembelajaran. Guru perlu mengembangkan dan menjabarkan tahap pencapaian perkembangan anak ke dalam indikator-indikator agar perkembangan anak dapat terukur secara spesifik sesuai dengan usia anak.

Penjabaran indikator capaian perkembangan pembelajaran berbasis bermain dilakukan dengan menggunakan kata kerja yang dapat diukur dan diobservasi secara jelas. Pengembangan materi pembelajaran harus

sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan tahap pencapaian perkembangan anak secara efektif sesuai dengan karakteristik belajar anak. Indikator dijadikan pedoman bagi guru dalam merancang kegiatan pembelajaran, sehingga pengembangan rencana pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Hal ini dilakukan guru untuk memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efisien dan efektif.

b. Tema Pembelajaran Berbasis Bermain

Tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak didik secara utuh. Tema dalam pembelajaran berbasis bermain diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya pembendaharaan bahasa anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Maksud dari penggunaan tema adalah agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Menurut Haenilah (2015:47): “salah satu ciri penting dari pembelajaran di PAUD adalah bersifat tematik”. Peran dari tema bukan untuk diajarkan kepada anak tetapi tema dijadikan sebagai payung pembelajaran yang akan mengikat seluruh aspek perkembangan sebagai target capaian pembelajaran. Tema dianggap sebagai alat untuk menginspirasi guru dalam menciptakan permainan atau sebagai wahana yang mewarnai permainan anak. Menurut pedoman pengembangan tema pendidikan anak usia dini oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2015:3-6) bahwa:

Terdapat empat prinsip dalam menentukan tema, diantaranya; 1) kedekatan; maksunya tema dipilih mulai dari tema terdekat dengan anak hingga ke tema yang semakin jauh dari kehidupan anak, 2) kesederhanaan; maksudnya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang sederhana menuju pada tema-tema yang lebih sulit dan rumit, 3) kemenarikan; artinya tema dipilih mulai dati tema- tema yang menarik minat anak ke arah tema-tema yang kurang menarik minat anak, dan 4) keinsidentalan; maksudnya tema yang dipilih berdasarkan peristiwa atau kejadian yang ada disekitar anak (sekolah) yang terjadi pada saat pembelajaran berlangsung hendaknya dimasukkan dalam pembelajaran walaupun tidak sesuai dengan tema yang dipilih hari itu.

Merujuk pada pendapat di atas, tema merupakan payung atau alat yang dapat mengembangakan potensi anak sesuai tahap perkembagan anak dengan cara menciptakan permainan yang menyenangkan dan bermakna bagi anak. Hal penting yang harus diperhatikan guru dalam mengembangkan tema adalah kebermaknaan tema dalam membangun pengalaman belajar yang bermutu bagi anak usia dini. Menentukan tema menjadi penting bila diawali dengan identifikasi tema dan sekaligus ketertarikan anak terhadap topik tertentu. Tema dalam pembelajaran anak usia dini tidak ditetapkan oleh pemerintah, melainkan bersifat fleksibel penetapannya oleh lembaga PAUD yang melibatkan seluruh guru pada saat pemilihan dan penetapannya. Banyak hal di lingkungan yang dapat dijadikan tema, artinya apa yang terdapat di lingkungan terdekat seperti air, batu, kelapa, alat transportasi, laut, dan lain-lainnya dapat diangkat menjadi tema.

c. Skenario Pembelajaran Berbasis Bermain

Skenario pembelajaran berbasis bermain menggambarkan langkah- langkah kegiatan yang dilakukan yang disusun secara sengaja oleh guru dalam proses interaksi dan komunikasi dengan anak dalam mencapai

tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Skenario pembelajaran berbasis bermain merupakan bagian terpenting dari rencana kegiatan pembelajaran. Pembelajaran berbasis bermain berisi tiga kegiatan utama, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

1) Kegiatan pendahuluan

Kegiatan pndahuluan merupakan kegiatan awal main anak yang dilakukan dengan cara menstimulasi anak agar tertarik mengikuti semua kegiatan yang akan dilakukan. Pada kegiatan ini, telah dibangun pengetahuan anak tentang konsep tertentu yang akan dipelajari dengan menghubungkan tema kegiatan yang akan dipelajari pada hari tersebut dengan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki anak yang di dapat dari lungkungan melalui kegiatan bercerita, bertanya jawab, bernyanyi, dan lain sebagainya. Kegiatan pendahuluan menjabarkan langkah-langkah kegiatan bermain yang akan dilakukan anak, cara menggunakan bahan dan alat permainan yang disusun berdasarkan alokasi waktu yang telah ditentukan. Haenilah (2015:100) menjelaskan:

Kegiatan belajar pada tahap pendahuluan sering dimaknai sebagai tahap apersepsi yaitu suatu proses asimilasi pengalaman baru dengan pengalaman lama yang sudah dimiliki anak sebelumnya sehingga secara perlahan membentuk satu kesatuan pengalaman yang lebih sempurna.

Merujuk pada pendapat di atas, kegiatan pendahuluan ini dimaksudkan untuk membangkitkan minat anak dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan pada hari itu dengan menggabungkan antara pengalaman yang telah diperoleh anak dari

lingkungan dengan pengalaman baru yang akan dilakukan. Penggabungan pengalaman tersebut dilakukan melalui upaya klasifikasi, memahami, mengingat, atau menguatkan pengalaman lama. Kegiatan main ini bertujuan untuk mengembangkan rasa kritis anak, rasa ingin tahu anak, serta memberikan semangat kepada anak dalam melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan.

2) Kegiatan inti

Kegiatan inti merupakan kegiatan inti dalam proses pembelajaran yang melibatkan anak secara aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Kegiatan inti menggambarkan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan anak melalui kegiatan bermain yang dipilih dan disukai anak agar dapat bereksplorasi, berinprovisasi, berkesperimen, meningkatkan pengetahuan, konsentrasi, memunculkan inisiatif, kemandirian, kreativitas anak, serta mengembangkan potensi yang dimiliki anak secara optimal. Peran guru dalam kegiatan ini adalah membimbing, mengawasi, dan membantu anak jika mengalami kesulitan saat melakukan proses pembelajaran. Pada kegiatan inti, anak diberikan kebebasan dan kesempatan untuk melakukan kegiatan bermain yang melibatkan seluruh panca indera sesuai dengan minat, bakat, dan tahap perkembangan anak. Proses belajar pada kegiatan ini sepenuhnya disajikan dalam bentuk permainan yang sepenuhnya melibatkan anak secara langsung dalam semua aktivitas bermain. Haenilah (2015:100) menjelaskan bahwa:

Proses belajar yang dilakukan anak dalam kegiatan inti hendaknya berdasarkan pada hal-hal konkrit yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik. Proses belajar yang dilakukan harus secara utuh, karena anak usia dini memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan. Pembelajaran diberikan secara bertahap mulai dari hal-hal sederhana ke hal- hal yang lebih kompleks.

Berdasarkan pendapat di atas, proses belajar pada kegiatan inti dilakukan melalui kegiatan bermain yang melibatkan anak secara langsung. Proses pembelajaran disajikan secara utuh, bertahap dan melalui benda-benda konkrit yang diperoleh dengan memanfaatkan lingkungan sekitar anak sebagai sumber belajar. Pada kegiatan inti anak secara aktif mengembangkan seluruh aspek perkembangan mulai dari moral-agama, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, sampai seni.

3) Kegiatan penutup

Kegiatan penutup dilakukan untuk menenangkan anak dan diberikan secara klasikan melalui kegiatan bermain yang menyenangkan sepeti bercerita, bernyayi, bermain tebak-tebakan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini diakhiri dengan tanya jawab mengenai kegiatan yang telah berlangsung sehingga anak dapat memaknai kegiatan yang telah dilksanakan. Haenilah (2015:101) menjelaskan bahwa:

Kegiatan penutup harus mampu memfasilitasi anak untuk mendapatkan kesan bahwa pembelajaran yang telah dilaksanakan menjadi penyempurna pengalaman sebelumnya. Kegiatan penutup selain berperan untuk menguatkan hasil

update pengalaman lama, menjadi pengalaman baru, juga suatu

saat pengalaman ini pengalaman ini akan menjadi pengalaman lama yang akan diupdate pada pembelajaran-pembelajaran berikutnya.

Merujuk pada pendapat tersebut, kegiatan penutupan merupakan upaya yang dilakukan guru dalam memberikan penguatan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan. Dalam kegiatan penutup guru dituntut untuk mampu membuat kegiatan yang berkesan bagi anak, sehingga anak akan mudah menyerap makna dari kegiatan yang akan dilakukan di pembelajaran berikutnya. Guru hendaknya mampu menyajikan kegiatan yang dapat mengembalikan ingatan anak pada kegiatan bermain yang telah dilakukan. Pada hakikatnya kegiatan penutup bertujuan untuk mereview kembali kegiatan proses pembelajaran yang telah dilakukan anak .

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa skenario pembelajaran berbasis bermain pada dasarnya merupakan gambaran mengenai langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru berisi kegiatan akan dilakukan pada saat proses pembelajaran. Skenario pembelajaran berbasis bermain tersusun dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

d. Sumber dan Media Pembelajaran Berbasis Bermain

Media pembelajaran berbasis bermain pada pendidikan anak usia dini lebih dikenal dengan istilah Alat Permainan Edukatif (APE). Menurut Gagne dalam (Haenilah, 2015:101) bahwa “APE merupakan berbagai jenis komponen dalam lingkungan anak didik yang dapat memotivasi anak untuk belajar”. APE tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran

anak usia dini, karena dengan APE anak dapat menafsirkan perkembangan berfikir konkrit dan simbolik. Proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal apabila guru mempu menyediakan sarana alat permainan yang mampu menstimulasi seluruh panca indera untuk memberikan rangsangan pada kemampuan penalaran anak. Pada masa anak usia dini, bermain menjadi sarana untuk bereksplorasi, penemuan, penciptaan, perkembangan daya pikir, perkembangan bahasa, perkembangan fisik-motorik, kebiasaan berbagi, bersosialisasi, berimajinasi, serta kreativitas yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitar anak.

Sardiman dalam (Asmawati, 2014:36) menjelaskan bahwa “guru perlu memahami bahwa lingkungan sangat efektif sebagai sumber dan media bermain atau belajar”. Melalui pemanfaatan bahan alam dan bahan sisa guru dapat menciptakan permainan baru yang mendidik bagi anak, mengoptimalkan penggunaan bahan alam dan bahan sisa sebagai sarana bermain untuk mengoptimalkan kemampuan daya cipta guru, dan mengetahui beraneka ragam bahan alam dan bahan sisa yang dapat dijadikan alat bermain sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan dapat dijadikan sumber dan bahan belajar bagi anak usia dini. Lingkungan sekitar sangat kaya akan sumber belajar, sehingga guru

harus mampu mengelola dan menciptakan media pembelajaran berbasis bermain dengan memanfaatkan bahan-bahan yang dapat dijadikan saran belajar seperti batu, kayu, pasir, kertas bekas, kardus, koran, botol, dan lain sebagainya.

e. Evaluasi pembelajaran Berbasis Bermain

Menurut Haenilah (2015:42): “evaluasi merupakan suatu fase yang memutuskan apakah suatu program efektif dan memenuhi tujuan”. Fase

Dokumen terkait