BAB IV. METODE PELAKSANAAN KAJIAN
4.4 Metode Analisis a) Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mengumpulkan, meringkas dan menyajikan data hasil penelitian sehingga dapat dianalisis untuk mengetahui karakterisitik dan kecenderungannya secara umum.Analisis ini dilakukan dengan cara mengeksplorasi karakteristik data seperti rata-rata (mean), jumlah (sum) simpangan baku (standard deviation), varians (variance), rentang (range), serta nilai minimum dan maksimum. Hasil analisis disajikan dalam bentuk angka-angka numerik, tabel atau grafis
sehingga lebih mudah dipahami, bermakna, dan dapatmemberikan informasi yang berguna.
Analisis deskriptif dilakukan terhadap data-data penelitian untuk mendapatkan profil mengenai potensi tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Jember. Jenis profil yang akan dijelaskan secara deskriptif diantaranya tersebut pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Karakteristik DataTanaman Pangan dan Hortikultura yang Dianalisis Secara Deskriptif
No Karakteristik Data Penyajian hasil analisis
1. Perkembangan jumlah dan volume produksi tanaman pangan
Angka numerik (angka;trend) dan grafik
2. Perkembangan jumlah dan volume produksi tanaman dan hortikultura
Angka numerik (angka;trend) dan grafik
3. Nilai kontribusi produksi tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Jember
Angka numerik (angka; proporsi); tabel dan grafik
4. Produksi dan luas wilayah tanam tanaman pangan dan hortikultura unggulan di Kabupaten Jember
Angka numerik dan tabel
5. Wilayah potensial produksi tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Jember
Angka numerik dan tabel
b) Teknik Daya Tarik dan Daya Saing
Teknik analisis daya tarik dan daya saing merupakan analisis yang komprehensif dan efektif untuk memotret karakteristik suatu produk atau komoditas dari dimensi daya tarik maupun daya saingnya. Daya tarik adalah penaksiran subjektif berdasarkan pada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi nilai dari suatu produk atau komoditas, sedangkan dimensi daya saing merupakan penafsiran subjektif berdasarkan pada faktor-faktor internal atau kekuatan yang dimiliki oleh suatu produk atau komoditas.
Setiap dimensi mempunyai sejumlah kriteria kritis yang mempunyai bobot tertentu. Setiap kriteria selanjutnya ditentukan nilainya menggunakan skor mulai dari 1 hingga 5 yang mempunyai arti proporional positif
ketertarikan dan daya saingnya. Selanjutnya nilai masing-masing kriteria dikalikan dengan nilai bobotnya sehingga diperoleh nilai indeks atau agregat. Nilai indeks tersebut selanjutnya dipetakan dalam sebuah matrik berbentuk kuadran sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 4.2 Kuadran Analisis Daya Tarik Daya Saing
Kriteria daya tarik dan daya saing yang digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan tanaman pangan dan hortikultura prioritas atau unggulan adalah sebagai berikut:
Kriteria Daya Tarik :
1) Pasar : kondisi pasar dari produk potensial mencakup target pasar, pertumbuhan pasar dan ukuran pasar.
- Target pasar: luasnya sasaran pasar dari produk potensial, apakah produk dapat menyasar segmen pasar yang luas atau kecil.
- Pertumbuhan pasar: laju pertumbuhan atau kenaikan jumlah konsumen pada setiap tahunnya
- Ukuran pasar: Potensi jumlah konsumen yang menjadi sasaran produk potensial
2) Citra produk: pencitraan yang tertanam dari produk potensial di mata para konsumen dan masyarakat luas
3) Diversifikasi produk: pengembangan produk potensial menjadi aneka produk dari segi jumlah dan jenisnya, kemudian seberapa banyak produk tersebut mampu diterima oleh konsumen
4) Trendharga: kecenderungan fluktuasi (kenaikan atau penurunan) harga produk protensial
5) Dampak sosial ekonomi: pengaruh produk potensial terhadap bangkitan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya
- Penyerapan tenaga kerja: jumlah tenaga kerja yang terserap karena adanya aktivitas yang terkait dengan pengusahaan baik budidaya maupun pengolahan produk potensial di tingkat hulu hingga hilir. - Multiplier effect: dampak perekonomian yang muncul terkait
pengusahaan produk potensial di tingkat hulu hingga hilir, misalnya meningkatnya aktivitas transportasi, munculnya agen-agen wisata, berkembangnya jasa keuangan, munculnya warung makan/restoran/hotel dsb.
Kriteria Daya Saing :
1) Infrastruktur: kondisi infrastruktur yang dapat dimanfaatkan oleh kegiatan-kegiatan terkait dengan pengusahaan komoditas potensial, mencakup ketersediaan sarana jalan dan transportasi, serta penunjang lainnya, seperti air untuk irigasi.
2) Sumberdaya Manusia (SDM): keadaan SDM mencakup penguasaan teknologi, manajemen dan komitmen yang dapat digunakan untuk pengusahaan dan pemasaran produk potensial.
- Penguasaan teknologi: Ketrampilan (skill) pelaku khususnya para tenaga kerja/karyawan dalam proses pengusahaan dan pemasaran produk potensial.
- Kemampuan manajemen: Kemampuan manajerial para pelaku dalam mengelola pengusahaan dan pemasaran produk potensial. - Komitmen pelaku: Adanya kesadaran dan motivasi untuk selalu
mengembangkan produk potensial
3) Dukungan Sumberdaya Alam (SDA): keadaan SDA mencakup kondisi geografis dan ketersediaan lahan/lokasi yang mampu mendukung keberlanjutan produk potensial.
- Kondisi geografis: karakteristik iklim, topografi, dan bentang alam (landscape) yang sesuai dengan kebutuhan produk potensial
- Lahan/lokasi: potensi ketersediaan lahan dan lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk keberlanjutan pengusahaan dan pengembangan produk potensial.
4) Karakteristik produk/komoditas; sifat-sifat produk potensial, mencakup keunikannya, kualitas, kontinuitas dan kapasitas/volumenya.
- Keunikan produk: karakteristik khas produk potensial yang membuatnya menarik dan membedakannya dengan produk sejenis lainnya.
- Kualitas produk: mutu produk potensial yang membuatnya unggul dibanding produk sejenis lainnya
- Kontinuitas produk: keberlanjutan produk potensial dalam jangka panjang
- Kapasitas/volume: jumlah yang dihasilkan (untuk produk potensial berupa komoditas barang) atau volume/daya tampung (untuk produk potensial berupa jasa)
5) Profitabilitas: manfaat finansial yang mampu dihasilkan oleh produk potensial, mencakup efisiensi biaya produksi dan margin keuntungan yang mambu mendorong tumbuhnya investasi
- Efisiensi biaya: kemampuan untuk mengelola produk potensial (budidaya, pengolahan, distribusi atau kegiatan operasional
lainnya) secara efektif dan efisien sehingga dapat dikatakan sebagai produksi berbiaya rendah (low cost)
- Margin keuntungan: keuntungan yang diperoleh dari pengusahaan produk potensial.
c) TeknikComparative Performance Index(CPI)
Teknik Perbandingan Indeks Kinerja (CPI/Comparative Performance
Index) digunakan untuk menentukan jenis produk unggulan di
Kabupaten Nganjuk. Hasil yang diperoleh adalah peringkat produk unggulan untuk beberapa sub sektor. Peringkat tertinggi ditunjukkan dengan nilai komposi (CPI) yang paling besar merupakan produk unggulan yang mempunyai keunggulan berdasarkan kriteria pemilihan. Sebaliknya, peringkat terendah adalah produk unggulan namun mempunyai prioritas terendah.
Teknik CPI merupakan indeks gabungan yang dapat digunakan untuk menentukan peringkat dari berbagai kelompok industri mamin berdasar basis hortikultura (i) berdasarkan beberapa kriteria (j). Formula yang digunakan dalam teknik CPI sebagai berikut:
Aij = Xij(min)x 100 / Xij(min) A(i+1.j) = (X(1+1.j))/ Xij(min) x 100 Iij = Aijx Pj Ii =
n i ij I 1 ) (Aij = Nilai industri mamin ke-i pada kriteria ke-j Xij
(min) = Nilai industri mamin ke-i pada kriteria minimum ke-j A(i+1.j) = Nilai industri mamin ke-i+1 pada kriteria ke-j
X(i+1.j) = Nilai industri mamin ke-i+1 pada kriteria ke-j Pj = Bobot kepentingan kriteria ke-j
Iij = Indeks industri mamin ke-i
I = 1, 2, 3, ..., n J = 1, 2, 3, ..., m
Untuk menentukan bobot kepentingan kriteria yang digunakan (Pi), maka digunakan metodeEikenrode.
d) Teknik SWOT
Teknik analisis ini diawali dengan menentukan faktor internal (IFE) dan eksternal (EFE)
Internal Factor Evaluation (IFE Matrix) digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dari permasalahan yang dikaji. IFE Matrix dapat dikembangkan dalam 5 langkah, yakni :
1. Membuat daftar faktor-faktor internal sejumlah 10-20 faktor yang mengindikasikan kekuatan maupun kelemahan secara spesifik (persentase, rasio, atau angka-angka perbandingan).
2. Memberi bobot pada setiap faktor berkisar 0 (tidak penting) sampai 1.0 (semua penting). Bobot menandakan signifikansi relatif faktor tertentu bagi keberhasilan tujuan. Faktor-faktor yang dianggap memiliki pengaruh paling besar terhadap kinerja diberi bobot tertinggi, terlepas apakah faktor utama tersebut berupa kelemahan atau kekuatan internal. Jumlah seluruh bobot harus sama dengan 1.0.
3. Memberi skor 1 sampai dengan 4 pada setiap faktor untuk mengidikasikan faktor tersebut sangat lemah (skor 1), lemah (skor 2), kuat (skor 3), (sangat kuat (skor 4). Kelemahan mendapat skor 1 atau 2, sedangkan kekuatan mendapat skor 3 atau 4.
4. Mengalikan bobot setiap faktor dengan skornya untuk menentukan skor bobot bagi masing-masing variabel.
5. Menjumlahkan skor bobot masing-masing variabel untuk memperoleh skor bobot total.
Hasil akhir berupa skor bobot total di bawah 2.5 mencirikan kondisi yang lemah secara internal, sedangkan skor di atas 2.5 mengindikasikan posisi internal yang kuat. Jumlah faktor, antara 10 sampai 20, tidak
mempengaruhi kisaran skor bobot total karena bobot selalu berjumlah 1.0. Ketika suatu faktor internal merupakan kekuatan sekaligus kelemahan organisasi, faktor itu harus dimasukkan dua kali dalam IFE Matrix. Bobot serta skor pun harus dikalikan (skoring) pada masing-masing faktor.Penilaian intuitif digunakan dalam pengembangan IFE Matrix, sehingga tampilan ilmiahnya tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa teknik ini benar-benar tanpa celah. Pemahaman yang menyeluruh mengenai faktor-faktor yang tercakup di dalamnya lebih penting daripada angka-angka yang ada.Contoh matrik IFE dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Matrik IFE No Faktor Penentu Internal Bobot (a) Skor (b) Skor Tertimbang (a x b) Keterangan A Kekuatan Total B Kelemahan Total
Total Skor Internal 1
Sumber: Hunger dan Wheelan (2012) Keterangan:
1. Bobot diberikan sesuai dengan besarnya kekuatan dan kelemahan, total bobot harus 1
2. Skor diberikan berdasarkan faktor prioritas yang ingin segera dibenahi 3. Skor Tertimbang merupakan hasil kali antara bobot dan skor, apabila nilai total
skor lebih dari 2.5 maka faktor internal Kabupaten Jember dalam pengembangan Agribisnis komoditas = kuat.
EFE (External Factor Evaluation) digunakan untuk merumuskan peluang dan ancaman dari permasalahan yang dikaji. Terdapat 5 langkah dalam membuat EFEmatriks, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan membuat faktor-faktor eksternal yang mencakup peluang dan ancaman yang langsung maupun tidak langsung.
2. Memberi bobot pada setiap faktor berkisar 0 (tidak penting) sampai 1.0 (sangat penting). Bobot menandakan signifikansi relatif faktor tertentu bagi keberhasilan tujuan. Faktor-faktor yang dianggap memiliki pengaruh paling besar terhadap kinerja diberi bobot tertinggi, terlepas apakah faktor utama tersebut berupa peluang atau ancaman. Jumlah seluruh bobot harus sama dengan 1.0.
3. Memberi skor 1 sampai dengan 4 pada setiap faktor untuk mengidikasikan faktor tersebut rendah (skor 1), rata-rata (skor 2), diatas rata-rata (skor 3), tinggi (skor 4). Rating tersebut mencerminkan efektifitas strategi perusahaan dalam memberikan tanggapan.
4. Mengalikan nilai skor tertimbang(rating) dari tiap faktor tersebut dengan bobotnya masing-masing.
5. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut menjadi total nilai skor tertimbang (total skor). Jumlah tertinggi dari total nilai skor tertimbang(total skor) tersebut adalah 4, jumlah terendah 1 dan jumlah rata-rata adalah 2.5. Bila jumlah tersebut adalah 4 adalah menandakan bahwa kegiatan agribisnis telah mampu menerjemahkan peluang-peluang yang ada menjadi strategi pengembangan, serta menjalankan strategi untuk mengurangi potensi ancaman.
Sedangkan analisis faktor eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal kunci yang menjadi peluang dan ancaman bagi pengembangan agribisnis padi. Contoh penyusunan matrik EFE dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Matrik EFE No Faktor Penentu Eksternal Bobot (a) Skor (b) Skor Tertimbang (a x b) Keterangan A Peluang Total B Ancaman Total Total Skor Eksternal 1.00 Sumber: Hunger dan Wheelan 2012 Keterangan:
1. Bobot diberikan sesuai dengan besarnya peluang dan ancaman, total bobot harus 1
2. Skor diberikan berdasarkan faktor prioritas yang ingin segera dibenahi 3. Skor Tertimbang merupakan hasil kali antara bobot dan skor, apabila nilai
total skor lebih dari 2.5 maka faktor eksternal Kabupaten Jember = kuat.
Matrik IFE maupun EFE menjadi masukan bagi analisis SWOT. Analisis ini merupakan singkatan dari Strength (S), Weakness (W), Opportunities (O), dan Threats (T) yang artinya kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau kendala, dimana yang secara sistematis dapat membantu dalam mengidentifikasi faktor-faktor luar (O dan T) dan faktor internal (S dan W). Analisa SWOT didasarkan pada hubungan atau interaksi antara unsur internal, yaitu kekuatan dan kelemahan, terhadap unsur-unsur eksternal yaitu peluang dan ancaman.Penelitian analisis SWOT diproleh hasil berupa kesimpulan-kesimpulan berdasarkan ke-4 faktor dimuka yang sebelumnya telah dianalisis:
1. Strategi Kekuatan-Kesempatan (S dan O atau Maxi-maxi) 2. Strategi Kelemahan-Kesempatan (W dan O atau Mini-maxi) 3. Strategi Kekuatan-Ancaman (S atau T atau Maxi-min) 4. Strategi Kelemahan-Ancaman (W dan T atau Mini-mini)
Strength (S) Menentukan faktor kekuatan internal Weakness (W) Menentukan faktor-faktor kelemahan internal Opportunities (O) Menentukan faktor-faktor peluang eksternal Strategi S-O Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Strategi W-O Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Threats (T) Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal Strategi S-T Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Strategi W-T Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Hunger dan Wheelan (2012)
Gambar 4.3. Matriks SWOT
e) Teknik QSPM
Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis, yaitu tahap masukan atau input, tahap pencocokan atau analisis, dan tahap keputusan (decision making). Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE, hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis, pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT. Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making), dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks.
QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. Secara konseptual, tujuan QSPM adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif (relative attractiveness) dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih dan untuk menentukan strategi mana yang dianggap paling baik untuk diimplementasikan. Sebagai suatu teknik, QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan
bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif, berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Secara konseptual, tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih, untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan.
QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri. Kondisi eksternal-internal agribisnis sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini, sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut. Cara membuat tabel QSPM sebagai berikut:
1. Membuat daftar peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan di sebelah kiri QSPM, informasi ini diambil dari matriks EFE dan IFE. 2. Memberi weight pada masing-masing eksternal dan internal. Weight
ini sama dengan yang ada di matriks EFE dan IFE.
3. Meneliti matriks-matriks pada stage I dan identifikasikan alternative strategi yang dapat direkomendasikan dari hasil matriks SWOT,grand strategy, matriks profil kompetitif,danmatriks BCG.
4. Menetapkan attractiveness score (AS), yaitu nilai yang menunjukkan kemenarikan relatife untuk masing-masing strategi yang dipilih. AS ditetapkan dengan cara meneliti faktor internal dan eksternal, dan bagaimana peran dari tiap faktor dalam proses pemilihan strategi yang sedang dibuat. Batasan nilai attractive score adalah 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 = menarik, 4 = sangat menarik.
5. Menghitungtotal attractiveness scoreyang dapat dari perkalianweight dengan attractives score pada masing-masing baris. total attractiveness score menunjukkan relative attractiveness dari masing-masing alternatif strategi.
6. Menjumlahkan semua score attractiveness score pada masing-masing kolom QSPM. Dari beberapa nilai TAS yang didapat, nilai TAS dari alternative strategi yang tertinggilah menunjukkan bahwa alternatif. 7. Strategi itu yang menjadi pilihan utama. Nilai TAS terkecil
menujukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir. Contoh matrik QSPM tertera pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Matriks QSPM Faktor-faktor
utama
Bobot Alternatif Strategi
Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3
AS TAS AS TAS AS TAS
Faktor-faktor utama internal Total bobot Faktor-faktor utama eksternal Total bobot
Jumlah Keseluruhan Daya Tarik Total
Keterangan:
1. Memasukkan faktor utama internal dan eksternal 2. Memasukkan bobot yang ada dalam matrik IFE dan EFE
3. Identifikasi berbagai strategi alternatif dalam matrik SWOT, kemudian masukan ke dalam matrik QSPM
4. Tentukanlah skor daya tarik (Attractiveness Score-AS), berikan kisaran skor mulai dari 1, 2, 3, atau 4
5. Hitunglah skor daya tarik total (TotalAttractiveness Score-TAS) dengan cara mengkalikan bobot dengan AS
6. Jumlahkan semua TAS. Strategi dengan skor tertinggi merupakan strategi yang paling menarik untuk dikembangkan.