• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pembelajaran Al- Qur’an

D. Rumusan Masalah

3. Metode Pembelajaran Al- Qur’an

Metode dapat diartikan sebagai cara-cara atau langkah-langkah yang digunakan dalam menyampaikan sesuatu gagasan, pemikiran atau wawasan yang disusun secara sistematik dan terencana serta didasarkan pada teori, konsep dan prinsip tertentu yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu terkait.7 Sedangkan istilah pembelajaran adalah usaha

6Ibid., h. 92-93.

7 Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Prenada Media Group 2014), cet. 4, h. 176.

membimbing peserta didik dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar untuk belajar.8

Dengan berkembanganya zaman terjadilah kemajuan dalam berbagai bidang tidak terkecuali dalam bidang pembelajaran al-Qur’an. Pada zaman sekarang banyak sekali metode pembelajaran al-Qur’an bermunculan beberapa metode pembelajaran al-Qur’an itu diantaranya adalah:

a. Metode Baghdadiyah

Metode ini disebut juga dengan metode “Eja“, berasal dari Baghdad pada masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak diketahui dengan pasti siapa penyusunnya. Telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air. Materi-materinya diurutkan dari yang konkret ke abstrak, dari yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang terinci (khusus). Secara garis besar, Qaidah Baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah sejumlah tersebut menjadi tema sentral dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar) karena bunyinya bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini diajarkan secara klasikal maupun privat

Beberapa kelebihan Qaidah Baghdadiyah antara lain : 1) Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.

2) 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh sebagai tema sentral.

3) Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.

4) Keterampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.

5) Materi tajwid secara mendasar terintegrasi dalam setiap langkah. Beberapa kekurangan Qaidah Baghdadiyah antara lain :

1) Qaidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami beberapa modifikasi kecil.

2) Penyajian materi terkesan menjemukan.

3) Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman siswa.

4) Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca al-Qur’an.9 b. Metode An-Nahdhiyah

Metode an-Nahdhiyah adalah pengembangan dari metode Baghdadiyyah yang disusun oleh sebuah lembaga pendidikan di Tulungangung, Jawa Timur. Metode ini lebih menekankan pada kesesuaian dan keteraturan dengan ketukan. Ketukan di sini merupakan jarak pelafalan satu huruf dengan huruf lainnya, sehingga dengan ketukan bacaan santri akan sesuai baik panjang dan pendeknya dari sebuah bacaan al-Qur’an. Dalam pelaksanaan metode ini, santri harus menyelesaikan dua program, yaitu:

1) Program buku paket, adalah program awal berupa pengenalan dan pemahaman serta mempraktekkan baca al-Qur’an.

2) Program sorogan, adalah program lanjutan aplikasi praktis untuk mengantarkan santri mampu membaca al-Qur’an sampai khatam. Pada program ini santri akan diperkenalkan beberapa sistem bacaan yaitu, tartil, tahqiq, dan taghanni. Untuk bisa mengajar pada metode an-Nahdhiyah, calon pengajar harus sudah mengikuti penataran calon guru Metode An-Nahdhiyah.10

c. Metode Jibril

Metode Jibril ini dicetuskan oleh KH. M. Bashori Alwi, seorang ahli al-Qur’an di Malang Jawa Timur. Untuk menyelesaikan metode ini harus menyelesaikan dua tahap pembelajaran, yaitu tahqiq dan tartil. Metode Jibril mempunyai persamaan dengan metode

9Ida Vera Sophya, Saiful Mujab, Metode Baca Al-Qur’an, Elementary, Vol.2, No.2, 2014, h. 338.

Nahdhiyah yaitu sama-sama menggunakan penekanan pada metode “ketukan”, namun berbeda pada program praktisnya.

Metode yang di latar belakangi oleh sistem pengajaran Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad pada proses penyampaian wahyu al-Qur’an ini, mempunyai sistem yang sama yaitu berupa musyafahah atau sistem tatap muka. Sehingga teknik dasar pada metode ini adalah dengan membaca satu ayat atau lebih kemudian ditirukan oleh seluruh peserta didik sampai sesuai dengan bacaan gurunya.11

d. Metode Al-Barqy

Metode al-Barqy dapat dikatakan sebagai metode cepat membaca al-Qur’an yang paling awal. Metode ini ditemukan oleh seorang dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya yang bernama Muhadjir Sulthon pada tahun 1965. Pada awalnya metode al-Barqy diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Muhadjir Sulthon lalu membukukan metodenya pada tahun 1978, dengan judul “Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur’an al-Barqy”.

Terdapat lembaga yang bernama Muhadjir Sulthon Manajemen (MSM) yaitu sebuah lembaga yang didirikan untuk membantu program pemerintah dalam hal pemberantasan buta baca tulis al Qur’an dan membaca huruf latin. Lembaga ini berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai cabang di beberapa kota besar di Indonesia dan luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Metode ini disebut metode anti lupa karena mempunyai struktur yang khas, pada saat siswa lupa dengan huruf-huruf/suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan anti lupa itu sendiri adalah dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI. Metode ini diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mempelajari al-Qur’an mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah:

1) Bagi guru (guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik)

2) Bagi murid akan merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan waktu untuk belajar membaca al-Qur’an menjadi semakin singkat sehingga menambah kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan menguasainya dalam waktu singkat.12

Buku al-Barqy memiliki beberapa kelebihan antara lain:

1) Menggunakan sistem 8 Jam, artinya hanya dengan waktu 8 jam murid dapat membaca dan menulis huruf al-Qur’an.

2) Praktis untuk semua umur.

3) Menggunakan metode yang aktual yaitu SAS (Struktur Analitik Sintetik) yang memudahkan murid belajar al-Qur’an.

4) Memperhatikan pendekatan, sistematika dan teknik dalam pembelajaran.

5) Cepat dapat membaca huruf sambung.

6) Bukunya dilengkapi teknik imla’ yang praktis dan teknik menulis khat, serta dilengkapi dengan buku latihan menulis al Barqy (LKS),

7) Tidak membosankan karena ada teknik-teknik yang akurat dan menarik seperti: menyanyi, permainan dan lain-lain.

8) Sangat cepat jika dipakai klasikal, bahkan massal.

Langkah-langkah penerapan metode Al Barqy yang dapat dilakukan adalah, sebagai berikut:

1) Langkah pertama: guru meminta siswa untuk menghafalkan terlebih dahulu beberapa kata kunci dalam metode Al-Barqy. Kata kunci tersebut merupakan struktur yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyah. Contohnya: Ada Raja Maha Kaya – Kata Wana – Sama Laba. Guru membacakan kata-kata kunci tersebut dengan

cara menyanyikannnya kemudian diikuti oleh peserta didik. Sehingga peserta didik merasa belajar al-Qur’an sangat menyenangkan dengan cara bermain, bernyayi sambil belajar. 2) Langkah kedua: setelah peserta didik sudah mampu menghafalkan

kata-kata kunci tersebut, kemudian guru menuliskannya di papan

tulis. Contohnya : . Selanjutnya

guru meminta siswa untuk membacakan huruf-huruf tersebut, karena sebelumnya peserta didik sudah menghafalkan kata kunci, maka huruf-huruf hijaiyyah yang dituliskan guru mampu dibaca peserta didik dengan sangat lancar sambil menyayikannya.

3) Langkah ketiga : guru meminta siswa untuk menuliskan kata-kata kunci tersebut dengan huruf hijaiyah. Sebagai permulaan guru meminta siswa mengikuti contoh tulisan huruf tersebut, selanjutnya guru meminta siswa menutup buku Al-Barqy dan membuka lembaran baru yang kosong kemudian guru menyebutkan salah satu huruf dengan acak dan siswa menuliskannya di lembaran kosong dengan cara guru mendikte dan siswa menulis sambil menyebutkan huruf yang ditulisnya berulang kali sampai hafal. 4) Langkah keempat : guru meminta siswa satu persatu untuk

membaca huruf-huruf tersebut dengan cara guru menunjukan huruf-huruf tersebut dengan tidak teratur.13

e. Metode Iqro’

Metode Iqro’ disusun oleh KH. As’ad Humam dari Kota Gede Yogyakarta dan dikembangkan oleh AMM (Angkatan Muda Masjid dan Musholla) Yogyakarta, dengan membuka TK Al-Qur’an dan TP Al-Qur’an. Metode Iqro’ semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur’an dan metode Iqro’ sebagai program utama

13Dwi Respatiningrum, Metode-metode Pembelajaran al-Qur’an, 2015,

perjuangannya. Metode Iqro’ terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur’an. 14

Metode pengajaran Iqro’ adalah : 1) Bacaan langsug tanpa dieja.

2) CBSA (Cara Belajar Santri Aktif) yaitu guru sebagai penyimak tidak menuntun, hanya memberikan contoh pokok pelajarannya saja.

3) Privat, yaitu penyimakan seorang demi seorang sedang bila secara klasikal harus dilengkapi dengan peraga.

4) Asistensi, yaitu setiap santri yang lebih tinggi pelajarannya diharap membantu menyimak santri lain yang lebih rendah pelajarannya. 5) Komunikatif, yaitu setiap huruf/kata dibaca betul, guru diharuskan

memperhatikan bacaan siswa dan membetulkan bacaan siswa apabila terdapat kesalahan dan apabila santri salah cukup dibetulkan huruf yang salah saja.

6) Diajarkan secara praktis. Guru menjelaskan pokok bahasannya saja dan siswa langsung mempraktekkannya.15

Materi pembelajaran iqro’

1) Iqro’ jilid 1: memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah berharakat fathah secara langsung tanpa dieja dan membacanya dengan suara pendek.

2) Iqro’ jilid 2: memperkenalkan huruf yang bersambung dan mulai pada halaman 16 diperkenalkan dengan bacaan panjang, diperbolehkan panjang lebih dari 2 harakat, yang terpenting siswa dapat membedakan dengan jelas mana bacaan yang dibaca pendek dan mana bacaan yang dibaca panjang serta diperbolehkan juga membaca putus-putus meskipun huruf-hurufnya bersambung. 3) Iqro’ jilid 3: memperkenalkan huruf berharakat kasrah dan

dhammah dan mengenalkan hukum bacaan mad thabi’i.

14Ida Vera Sophya, Saiful Mujab, op.cit.,h. 340.

15As’ad Humam, Buku Iqro’ Cara Cepat Belajar Membaca al-Qur’an, (Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ Nasional Team Tadarus AMM, 1990).

4) Iqro’ jilid 4: mengenalkan huruf-huruf yang berharakat tanwin dan bacaan mad layyin yaitu apabila ada huruf hijaiyah berharakat fathah lalu bertemu dengan salah satu huruf “ya” atau “wawuberharakat sukun. Lalu pada halaman 13 diperkenalkan huruf mimberharakat sukun dan pada halaman 16 diperkenalkan huruf nunberharakat sukun. Sedangkan pada halaman 18 mulai diperkenalkan bacaan qolqolah.

5) Iqro’ jilid 5: memperkenalkan bacaan al-qomariyah, bacaan mad wajib dan mad jaiz, bacaan idghom bigunnah dan idghom bilagunnah, bacaan ikhfa syafawi, lafdzul jalalah dan bacaan mad lazim mutasqqal kalimi. Dan dalam jilid ini juga yang ditekankan adalah cara praktik membacanya sedangkan untuk tajwid yang secara teoritisnya tidak diharuskan.

6) Iqro’ jilid 6: memperkenalkan bacaan yang dibaca dengung (ikhfa), tanda-tanda waqaf dan cara membaca huruf-huruf pada awal surat.16

Adapun kelemahan dan kelebihan metode Iqro’ adalah: Kelebihan:

1) Menggunakan metode CBSA, jadi bukan guru yang aktif melainkan santri yang dituntut aktif.

2) Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama) privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah). 3) Komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan

benar guru dapat memberikan sanjungan, perhatian dan peng-hargaan.

4) Bila ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarrus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.

5) Bukunya mudah di dapat di toko-toko.

Kekurangannya:

1) Bacaan-bacaan tajwid tak dikenalkan sejak dini. 2) Tak ada media belajar

3) Tak dianjurkan menggunakan irama murottal.17 f. Metode Qiroati

Metode baca al-Qur’an Qiroati ditemukan KH. Dahlan Sālim Zarkasyī dari Semarang, Jawa Tengah. KH. Dahlan Sālim Zarkasyī yang mulai mengajar al-Qur’an pada tahun 1963, merasa metode baca al-Qur’an yang ada belum memadai. Beliau kemudian menerbitkan enam jilid buku pelajaran membaca al-Qur’an untuk TK al-Qur’an anak usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. KH. Dahlan Sālim Zarkasyī berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qiroati, tetapi semua orang boleh diajarkan dengan metode Qiroati. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an ini, memungkinkan anak-anak mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah. Dalam perkembangannya, sasaran metode Qiroati kian diperluas. Kini ada Qiroati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6- 12 tahun, dan untuk mahasiswa.

Metode pengajaran Qiroati adalah:

1) Klasikal menggunakan alat bantu peraga. 2) Privat baca simak menggunakan buku.

3) CBSA, yaitu Guru menjelaskan dengan memberi contoh materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri

4) Siswa membaca tanpa mengeja. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat.18

Prinsip pembelajaran metode Qiroati untuk guru dan siswa:

1) Lancar, cepat, tepat dan benar.

17Dwi Respatiningrum, op. cit.

18 Andi Anirah, Optimalisasi Metodologi Pembelajaran al-Qur’an dalam Meningkatkan Minat

2) TIWAGAS, guru harus teliti, waspada dan tegas dalam menyimak bacaan siswa. Ketika terdapat kesalahan dalam membaca guru tidak boleh memberi tahu letak kesalahannya tetapi biarkan siswa sendiri yang menemukan letak kesalahan bacaannya.

3) DAKTUN, guru tidak boleh menuntun ketika siswa membaca.19 Materi Qiroati

1) Qiroati jilid 1, memperkenalkan huruf-huruf berharakat fathah yang dibaca langsung tanpa mengeja dan memperkenalkan huruf hijaiyah yang terdapat dalam kotak bagian bawah, dan pada halaman 31 mulai diperkenalkan huruf berangkai atau bersambung.20

Misi jilid 1 yaitu: untuk memberantas bacaan al-Qur’an yang samar-samar. Caranya dengan membiasakan baca huruf yang yang berharakat ’a’ atau ’u’ dengan mulut terbuka lebar dan suara keras.

Gambar 2.1

Buku Materi Qiroati Jilid 1

2) Qiroati jilid 2, berisi bacaan pendek. Huruf-huruf hijaiyah berharakat fathah, kasroh, dommah dan tanwin, dibaca langsung

19 Hasil Wawancara langsung dengan Bapak Ahmad Zaeni, S.Ag Wakil Bidang Qiroati Sekolah Dasar Islam Terpadu Darul Muttaqien Parung. Hari Kamis 24 November 2016 di Ruang Kepala Sekolah.

20 Dachlan Salim Zarkasyi, Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an, Jilid 1, (Semarang: Yayasan Pendidikan al-Qur’an Raudhatul Mujawwidin, 1990).

huruf hidup tidak diurai. Setiap tulisan kotak baris bawah, termasuk pelajaran yang harus dibaca, pengenalan nama harakat dan angka arab dari 1-99, halaman 25 sampai akhir pelajaran mad. Misi jilid 2 yaitu: untuk memberantas bacaan al-Qur’an yang kurang tepat, caranya dengan membiasakan kasroh dan dhommah yang bagus, dan diajarkan agar cermat baca panjang pendeknya. 3) Qiroati jilid 3, memperkenalkan bacaan mad thabi’i yang belum

diajarkan pada jilid 2, memperkenalkan tanda sukun dan menjelaskan bahwa setiap huruf berharakat sukun supaya ditekan membacanya, bacaan al-qomariyah dan memperkenalkan bacaan harfu layyin wawu sukun dan ya sukun serta memperkenalkan angka arab dan huruf hijaiyah yang terdapat di dalam kotak bagian bawah.21

Misi jilid 3 yaitu: memberantas bacaan al-Qur’an yang diseret -seret, caranya dengan diajarkan baca sukun di tekan atau tidak dipanjangkan dan tidak tawallud. Dan dengan membiasakan baca mad thabi’i normal satu alif atau dua harokat.

Gambar 2.2

Buku Materi Qiroati Jilid 3

4) Qiroati jilid 4, mengenalkan huruf nun sukun langsung dengan bacaan tajwid, setiap tanwin harus dibaca dengung sebab suara

tanwin sama dengan suara nun sukun, mengenalkan mad wajib dan mad jaiz, agar dibaca panjang yang nyata, pelajaran makhraj sin dan syin, ha (cha) dan kha (kho) agar dibaca dengan makhraj yang benar. Mengenalkan setiap huruf nun dan mim bertasydid supaya dibaca gunnah termasuk bacaan syamsiyah, mengenal huruf wawu yang tidak dibaca sebab tidak ada tanda harakat, setiap mim sukun tidak boleh dibaca dengung, kecuali mim sukun berhadapan dengan huruf mim (idghom mitslain/idghom mimi), setiap nun sukun jika berhadapan dengan huruf mim suara nun sukun hilang ditukar dengan suara mim sukun, setiap nun sukun atau tanwin jika berhadapan dengan huruf lam atau ro’, suara nun atau tanwin hilang, ditukar dengan suara lam atau ro’ sukun.22

Misi jilid 4 yaitu: untuk memberantas bacaan al-Qur’an yang tidak bertajwid, caranya dengan membiasakan bacaan nun sukun dengan dengung yang lama lebih dari satu alif.

Gambar 2.3

Buku Materi Qiroati Jilid 4

5) Qiroati jilid 5, memperkenalkan bacaan idgham bigunnah untuk huruf ya dan wawu, setiap nun sukun dan tanwin, jika berhadapan

dengan salahsatu huruf yang empat yaitu ( ya mim nun wawu), memperkenalkan bacaan iqlab, memperkenalkan bacaan ikhfa syafawi dan idzhar syafawi, memperkenalkan cara menghentikan bacaan, mengenalkan cara pengucapan huruf, memperkenalkan cara melafalkan lafadz Allah, bacaan qalqalah dan bacaan mad ladzin mutsaqqal kalimi.23

Misi jilid 5 yaitu: memberantas bacaan al-Qur’an yang tidak bertajwid.

Gambar 2.4

Buku Materi Qiroati Jilid 5

6) Qiroati jilid 6, inti pelajaran jilid 6 ini, khusus bacaan idzhar halqi tidak boleh dibaca dengung tetapi harus dibaca dengan jelas dan pengenalan membaca tulisan (اَنَا) dibaca pendek ketika dibaca secara washal. Mulai jilid 6 ini siswa dapat dilatih membaca mushaf al-Qur’an juz 1.

Misi jilid 6 yaitu: memberantas bacaan al-Qur’an yang tidak bertajwid melanjutkan jilid 5.24

23Ibid., Jilid 5.

24Indriyani Sukmana, “Metode Pembelajaran Al-Qur’an: Studi Komparatif Metode Qira’ati dengan Iqra’,” Skripsi Pada Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2010, h. 33-36, tidak dipublikasikan.

g. Metode Tilawati

Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs. H. Hasan Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang berkembang di TK-TPA.25

Metode tilawati merupakan metode belajar membaca Al-Qur’an yang disampaikan secara seimbang antara pembiasaan melalui pendekatan klasikal dan kebenaran membaca melalui pendekatan individual dengan tekhnik baca simak.26Untuk memperoleh hasil maksimal dalam kegiatan pembelajaran maka target pembelajarannya ditetapkan sebagai berikut: