• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk mencapai penelitian yang valid dan variabel, maka data harus sesuai dan bisa dipercaya kebenarannya serta menggunakan metode yang sesuai pula.

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian Lapangan (Field research). Di sini penulis mengumpulkan data dari lapangan dengan mengadakan penyelidikan secara langsung di lapangan untuk mencari berbagai masalah yang ada relevansinya dengan penelitian ini. (Muhadjir, 2002:38). Adapun jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Menurut Lexy metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2002:3). Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh).

Berikut ini langkah-langkah umum yang diterapkan sebagian besar tipe etnografi yang diadopsi dari riset Le Compte dan Schensul (199a) : 1. Temukan sampel yang tepat dan layak dalam kelompok yang dikaji. 2. Definisikan permasalahan, isu atau fenomena yang akan dieksplorasi.

3. Teliti bagaimana masing–masing individu menafsirkan situasi dan makna yang diberikan bagi mereka.

4. Uraikan apa yang dilakukan orang - orang dan bagaimana mereka mengomunikasikannya.

5. Dokumentasikan proses etnografi. 6. Pantau implementasi proses tersebut.

7. Sediakan informasi yang membantu menjelaskan hasil riset.

8. Pengumpulan data dalam etnografi yang dibagi dengan kerja lapangan berlangsung terutama melalui sejumlah pengamatan dan wawancara.

Langkah pertama dalam pengumpulan data adalah menemukan sampel yang tepat dan layak. Ketika sampel telah didapatkan, anda dapat melanjutkan tahapan penelitian dan menjelaskan permasalahan riset atau mengidentifikasi fenomena yang ingin anda ekplorasi.

2. Kehadiran Peneliti

Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penelitian maka peneliti hadir secara langsung di lokasi penelitian sampai memperoleh data-data yang diperlukan.

3. Lokasi dan Instrumen Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Kabupaten Semarang tahun 2014. Dengan alasan peneliti ingin mengetahui bagaimana penerapan pendidikan humanisme religius di pondok pesantren tersebut.

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi istrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono,

2009:222). Begitu pula yang dikatakan oleh Moleong (2011:121) yaitu, peneliti sebagai instrumen karena ia merupakan peneliti sekaligus pelaksanaan, pelaksanaan pengumpulan data analisis dan penafsiran data dan akhirnya ia menjadi pelopor-pelopor hasil penelitiannya. Pengertian instrumen atau alat penelitian di sini tepat karena ia menjadi segalanya dari seluruh proses penelitian.

4. Sumber Data

Subjek penelitian yang penulis teliti adalah santri Pondok Pesantren Edi Mancoro, Gedangan, Kab. Semarang, Ketua Yayasan, sebagian santri, dan ustadz pondok tersebut. Karena data dan informasi yang penulis butuhkan adalah pendidikan humanisme religius di Pondok Pesantren Edi Mancoro Gedangan Tuntang Kabupaten Semarang. Subjek utama penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Edi Mancoro. Di pondok ada 2 macam santri, yaitu santri mukim dan non mukim. Karena kebanyakan yang nyantri adalah santri mukim, maka yang diteliti oleh penulis adalah santri mukim, dimana mereka tinggal di pondok pesantren dengan segala fasilitas dan aturan yang berlaku. Penulis juga harus mencari data-data secara langsung atau langsung terjun ke lapangan. Santri di Pondok Pesantren Edi Mancoro dapat dikategorikan menjadi 4 yaitu santri pelajar, mahasiswa, tahfidz, dan ustadz. Perbedaan itulah yang membuat penulis melakukan wawancara dengan waktu yang berbeda.

a. Data Primer, yang diperoleh dengan melakukan penelitian berupa wawancara dengan santri, asatidz, dan ketua yayasan. Wawancara akan dihentikan jika informasi yang diperoleh sudah relatif sama dan ada pengulangan data.

b. Data Sekunder yang diperoleh melalui data kepustakaan, pengumpulan data dari berbagai tulisan yang berhubungan dengan penelitian ini.

6. Prosedur Pengumpulan Data

Dalam rangka untuk memperoleh data, penulis menggunakan metode pengumpulan data guna membantu dan memudahkan jalannya penelitian. Adapun macam untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

a. Interview

Metode wawancara adalah suatu proses tanya jawab di mana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri suaranya (Sukandarrumidi, 2004:88)

Metode interview digunakan dalam rangka untuk mengetahui penerapan pendidikan humanisme religius Pondok Pesantren Edi Mancoro. Interview dilakukan adalah sebagian santri Pondok Pesantren Edi Mancoro Gedangan Tuntang Kab. Semarang, Ketua Yayasan, ustadz pondok tersebut. b. Metode observasi

Metode observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki (Sukandarrumidi, 2004:69). Metode ini penulis gunakan sebagai alat bantu dalam penelitian. Penulis mengadakan observasi ke Pondok Pesantren Edi Mancoro, selanjutnya penulis mencatat hasil observasi dengan sistematik. Metode ini juga digunakan oleh penulis yang berkaitan dengan pendidikan religius untuk pengumpulan data mengenai penerapan pendidikan humanisme.

c. Dokumentasi

Metode Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkip surat kabar, majalah, notulen, agenda sebagainya. (Arikunto, 1993 : 2006)

Pada teknik ini peneliti dalam memaksimalkan hasil observasi, peneliti akan menggunakan alat bantu yang sesuai dengan kondisi lapangan. Di antara alat bantu observasi tersebut misalnya; buku catatan dan check list

yang berisi obyek yang perlu mendapat perhatian lebih dalam pengamatan (Sukardi, 2003:79).

Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Edi Mancoro, struktur kepengurusan, jumlah ustadz, santri, kegiatan santri yang berhubungan dengan penelitian ini. 7. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori,

menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2009:244).

Teknik Analisis Domain digunakan untuk menganalisis gambaran objek penelitian secara umum atau ditingkat permukaan, namun relatif utuh tentang obyek penelitian tersebut. Teknik Analisis Domain ini sangat terkenal sebagai teknik yang dipakai dalam penelitian eksplorasi. Artinya analisis hasil penelitian ini hanya ditargetkan untuk memperoleh gambaran seutuhnya dari objek yang diteliti, tanpa harus diperincikan secara detail unsur-unsur yang ada dalam keutuhan obyek penelitian tersebut. Misalnya seorang peneliti menganalisis lembaga sosial, maka domain atau kategori simbolik dari lembaga social antara lain : keluarga, perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, organisasi kepemudaan dan sebagainya. Di samping itu pula, domain pesantren dapat terdiri dari : kyai, santri, guru, juru masak, petugas kebersihan, dan sebagainya. (Bungin, 2001:293)

Adapun alur teknis analisis adalah periset mula-mula akan membaca catatan lapangan, membaca transkrip wawancara untuk mendapatkan pemahaman tentang kasus yang dikaji. Pada tahap ini periset dapat menambahkan beberapa catatan yang mungkin diperlukan. Catatan bisa berupa kesimpulan sementara atau insight yang muncul begitu saja. Tahap selanjutnya periset dapat menggunakan sisi lain dari lembar catatan lapangan atau transkip untuk menuliskan tema, kata kunci atau kata-kata teknis yang

muncul. Setelahnya periset dapat melanjutkan aktivitas analisis dengan membuat daftar seluruh tema yang muncul dan memulai memikirkan hubungan yang mungkin ada di antara tema-tema yang muncul. Terakhir, berdasarkan catatan yang dimiliki, periset dapat membuat “master pola” yang ditemukan dan siap untuk dikemukakan sebagai laporan akhir hasil studi. Pembuatan master pola dari pelaku subjek penelitian dalam masalah tertentu dapat dilakukan dengan memberikan pemaknaan melalui penjelasan berbagai teori yang relevan. Seringkali pemaknaan itu hanya menghasilkan sejumlah kategori awal dari statemen yang dibutuhkan sebagai temuan dalam penelitian.

8. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menguji keabsahan data yang diperoleh, penulis menggunakan cara terjun langsung ke lapangan, observasi yang diperdalam dan juga analisis kasus negatif, dan lain-lain sampai data dapat diuji kebenarannya. Dalam memperoleh keabsahan data, maka peneliti menggunakan teknik trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2011:331).

Ada dua macam trianggulasi yang digunakan, yaitu : a. Trianggulasi sumber data

Trianggulasi sumber data untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. (Sugiyono, 2011:241)

Trianggulasi metode dilakukan dengan cara mengecek derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. (Moleong, 2011:331)

9. Tahap-tahap Penelitian a. Penelitian pendahuluan

Penulis mengkaji buku-buku yang berkaitan dengan implementasi, pendidikan, humanisme religius, dan juga buku lain yang berhubungan dengan pondok pesantren.

b. Pengembangan desain

Setelah penulis mengetahui banyak hal tentang penerapan pendidikan humanisme kemudian penulis melakukan observasi ke obyek penelitian untuk melihat secara langsung bagaimana penerapan pendidikan humanisme religius di pondok pesantren.

c. Penelitian sebenarnya.

Dalam hal ini penulis melakukan penelitian yang dilakukan di pondok pesantren dengan melakukan wawancara lalu membahas serta menganalisisnya untuk mendapatkan kesimpulan apakah implementasi pendidikan humanisme religius dapat diterapkan di pondok pesantren.