• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam desain penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan eksplanatori. Sugiyono (2017: 23) menyebutkan penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Penelitian eksplanatori adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Penelitian eksplanatori atau eksplanatif bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variabel .

B. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek penelitian

Hermawan dan Yusran (2017:95) mengatakan subjek adalah suatu anggota tunggal dari sampel, sama halnya dengan elemen yang merupakan anggota tunggal dari populasi. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang menggunakan dan pernah menggunakan ponsel pintar merek Samsung, Xiaomi, dan Advan selama 1 tahun terakhir.

2. Objek penelitian

Objek penelitian merupakan data yang harus diukur dengan bantuan skala tertentu (dalam Widyaningrum, 2015). Objek penelitian ini adalah efek negara asal, persepsi atas kualitas produk, persepsi atas harga, dan niat beli ulang.

C. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian : Maret-Mei 2019

Lokasi penelitian : Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

D. Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel

a.) Variabel terikat atau variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya vaiabel bebas.

Variabel terikat ditunjukkan dengan simbol (Y). Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah Niat Beli Ulang.

b.) Variabel bebas atau variabel independen adalah variabel penjelas yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas ditunjukkan dengan simbol (X).

Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah Efek Negara Asal dan Persepsi atas Kualitas Produk. Variabel efek negara asal tidak dapat diubah menjadi persepsi karena menjelaskan tentang pengaruh negara asal pembuat produk bukan tentang persepsi/pandangan konsumennya.

c.) Variabel intervening atau variabel pemediasi adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel bebas dan terikat, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel bebas dan terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat. Variabel pemediasi dalam penelitian ini adalah persepsi atas harga dengan simbol (M). Peneliti menggunakan variabel persepsi harga sebagai variabel mediasi karena persepsi harga dapat menjadi pengaruh antara variabel X dengan variabel Y.

2. Definisi Variabel a. Efek Negara Asal

Tjiptono dan Chandra (2017:521-522) menyatakan bahwa efek negara asal adalah segala pengaruh dari negara asal terhadap persepsi positif maupun negatif konsumen atas produk dan merek tertentu. Kotler dan Keller (2009:338-339) menyebutkan bahwa efek negara asal merupakan asosiasi dan kepercayaan mental yang dipicu oleh sebuah negara. Pemasar ingin menggunakan persepsi negara asal yang positif untuk menjual produk maupun jasa mereka. Pemasar global tahu bahwa pembeli mempunyai sikap dan kepercayaan berbeda tentang merek atau produk dari berbagai negara

b. Kualitas Produk

Kotler dan Keller (2009:4) menyebutkan produk adalah segala sesuatu yang dapa ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu

keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.

Sangadji dan Sopiah (2013:190) menyatakan bahwa meskipun kualitas produk mutlak harus ada, dalam pelaksanaannya faktor ini merupakan ciri pembentuk citra produk yang paling sulit dijabarkan.

Konsumen sering tidak sependapat tentang faktor-faktor apa yang sebenarnya membentuk kualitas produk. Produk harus mampu mencapai tingkat kualitas yang sesuai dengan fungi penggunaannya;

tidak perlu melebihi. Konsumen akan memiliki harapan mengenai bagaimana produk tersebut seharusnya berfungsi (performance expectation). Harapan tersebut adalah standar kualitas produk yang sesungguhnya dirasakan konsumen.

c. Persepsi Harga

Tjiptono dan Chandra (2017:370) menyebutkan istilah harga bisa diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain (non-moneter) yang mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah produk.

Sciffman dan Wisenblit (2015: 136) menyebutkan bahwa persepsi harga adalah pandangan konsumen terhadap suatu nilai yang dia terima dari suatu pembelian. Konsumen memberikan perhatian pada harga yang dibayar oleh pelanggan lain dan bahwa startegi penetapan harga yang berbeda dirasakan tidak adil oleh para pelanggan yang tidak memenuhi syarat untuk harga-harga khusus. Persepsi ketidakadilan

harga mempengaruhi persepsi konsumen terhadap nilai produk dan akhirnya terhadap kesediaan mereka untuk menjadi pelanggan toko atau perusahaan jasa. Strategi yang mengurangi ketidakadilan harga yang dirasakan akan meningkatkan pandangan terhadap nilai produk.

d. Niat Beli Ulang

Peter dan Olson (dalam Oetomo & Nugraheni, 2012) menyebutkan bahwa pembelian ulang adalah kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali. Kepuasan yang diperoleh seorang konsumen, dapat mendorong seseorang untuk melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain. Fornell (dalam Hendarsono & Sugiharto, 2013) mengatakan bahwa konsumen yang merasa puas akan melakukan kunjungan ulang di masa mendatang dan juga memberitahukan kepada orang lain atas produk atau jasa yang dirasakan.

3. Metode Pengumpulan Data

Skala pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Sugiyono (2017 : 158) mengatakan skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur

dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yaitu :

Tabel III.1.

Nilai Skala Likert

No. Kategori Nilai

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Netral (N) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

5 Sangat Tidak Setuju (STS) 1

E. Definisi Operasional Variabel

Hermawan dan Yusran (2017:63) menyebutkan bahwa definisi operasional merupakan suatu definisi yang menyatakan secara jelas dan akurat mengenai bagaimana suatu konsep tersebut diukur. Dapat pula dikatakan sebagai suatu penjelasan tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam mengukur suatu konsep. Mengoperasionalkan suatu konsep agar dapat diukur dilakukan dengan cara melihat dimensi perilaku, aspek atau karakteristik yang ditunjukkan oleh suatu konsep.

Dalam penilitian ini, definisi operasional variabelnya adalah sebagai berikut:

Tabel III.2

Definisi Operasional Variabel

VARIABEL DEFINISI INDIKATOR

Efek Negara negatif konsumen atas produk dan merek tertentu.

ο‚· Inovasi yang dimiliki negara asal produk

ο‚· Kemampuan dan kualitas negara asal untuk

Kemampuan sebuah produk untuk melakukan fungsi-fungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan. (Mowen dan Minor,

Persepsi harga diidentikkan dengan persepsi kualitas dan persepsi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk.

(diadaptasi dari penelitian Pardede dan Haryadi, 2017) atau beberapa kali. Kepuasan yang diperoleh seorang konsumen, dapat mendorong seseorang untuk melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun loyal terhadap barang tersebut tersebut sehingga konsumen dapat menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain. (diadaptasi dari penelitian Oetomo dan Nugraheni, 2012)

ο‚· Ketertarikan untuk menggunakan produk lagi di masa yang akan datang

F. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Sugiyono (2017:136) menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan elemen yang akan dijadikan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Elemen populasi adalah keseluruhan subyek yang akan diukur, yang merupakan unit yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma yang sedang menggunakan atau pernah menggunakan ponsel pintar Samsung, Xiaomi, dan Advan dalam waktu 1 tahun terakhir. Peneliti memilih populasi penelitian ini karena mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma dapat mewakili konsumen pengguna ponsel pintar Samsung, Xiaomi, maupun Advan dalam waktu 1 tahun terakhir.

2. Sampel

Sugiyono (2017:137) menyebutkan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

Sampel pada penelitian ini adalah pria dan wanita yang berstatus mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma angkatan 2015-2018 dari fakultas Ekonomi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Sains dan Teknologi, Psikologi, Sastra, dan Farmasi, sedang menggunakan atau pernah menggunakan minimal dalam 1 tahun terakhir. Peneliti belum mengetahui

secara pasti jumlah populasi yang menggunakan ponsel pintar merek Samsung, Xiaomi, dan Advan, maka dalam menentukan jumlah sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Cochran (Sugiyono, 2017:148).

𝑛 =𝑧2π‘π‘ž 𝑒2

𝑛 =(1,96)2(0,5)(0,5) (0,10)2 𝑛 = 96,04 Keterangan :

n = Jumlah sampel yang diperlukan

z = Harga dalam kurve normal untuk simpangan 5%, dengan nilai 1,96 p = Peluang benar 50% = 0,5

q = Peluang salah 50% = 0,5

e = Tingkat kesalahan sampel (sampling error) = 0,10

Hasil perhitungan dari jumlah sampel yang diperlukan adalah 96,04.

Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 120 responden yang terdiri dari 40 responden pengguna Samung, 40 responden pengguna Xiaomi, dan 40 responden pengguna Advan..

G. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi stiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2017:142). Teknik nonprobability sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan yang didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Dalam penelitian ini pertimbangan dalam memilih sampel adalah adalah mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma yang sedang menggunakan atau pernah menggunakan ponsel pintar merek Samsung, Xiaomi, ataupun Advan dalam waktu 1 tahun terakhir.

H. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini berasal dari data primer. Data primer merupakan data yang diperoleh dan dikumpulkan oleh peneliti secara langsung yang berasal dari responden yang sesuai dengan sampel yang akan diambil. Sumber data primer pada penelitian ini diperoleh dari penyebaran kuesioner secara online yang diisi oleh 120 responden.

I. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan oleh peneliti adalah dengan melakukan penyebaran kuesioner (angket) yang akan diisi oleh responden. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2017:225). Kuesioner dapatberupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan secara langsung atau dikirm melalui pos atau internet.

Kuesioner akan dibagikan secara online kepada 120 mahasiswa/mahasiswi Universitas Sanata Dharma yang sedang menggunakan atau pernah menggunakan ponsel pintar merek Samsung, Xiaomi, ataupun Advan dalam waktu 1 tahun terakhir.

J. Teknik Pengujian Instrumen

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Pengujian instrumen dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data yang layak digunakan sebagai alat ukur penelitian. Agar instrumen penelitian dapat menghasilkan data yang benar, maka instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Untuk itu, instrumen penelitian khususnya kuesioner harus diuji validitas dan reliabilitasnya.

1. Uji Validitas

Sugiyono (2017:198) mengatakan bahwa hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Valid berarti instrumen (alat ukur) yang digunakan dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Pengujian validitias dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan validitas konstruk (construct validity) dengan teknik korelasi product moment yang dibantu menggunakan program SPSS untuk uji validitas. Pengujian teknik validitas menggunakan teknik korelasi product moment untuk menguji konsistensi hasil pengukuran dari populasi diwaktu yang berbeda atau oleh peneliti yang berbeda.perhitungan tersebut digunakan untuk mencari koefisien korelasinya. Rumus korelasi product moment, yaitu :

𝒓 π’‰π’Šπ’•π’–π’π’ˆ = 𝒏 (βˆ‘π‘Ώπ’€) βˆ’ βˆ‘π‘Ώ) βˆ’ (βˆ‘π’€)

√[𝒏(βˆ‘π‘Ώ) βˆ’ (βˆ‘π‘Ώ)𝟐][𝒏(βˆ‘π’€πŸ) βˆ’ (βˆ‘π’€)𝟐]

Keterangan :

n = jumlah responden

X = skor variabel (jawaban responden)

Y = skor total dari variabel untuk responden ke – n

Jika r hitung > r tabel dengan tarif keyakinan 95%, maka instrumen tersebut dikatakan valid. Jika r hitung ≀ r tabel dengan tarif keyakinan 95%, maka instrumen tersebut dikatakan tidak valid.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran sebanyak dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula. Instrumen yang reliable akan menghasilkan data yang konsisten. Pengujian realibilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik reliabilitas Cronbach’s Alpha. Rumus untuk pengujian reliabilitas menggunakan teknik Cronbach’s Alpha, yaitu :

π’“πŸπŸ = [ π’Œ

π’Œ βˆ’ 𝟏] [𝟏 βˆ’ βˆ‘πˆπ’ƒπŸ πˆπ’•πŸ ] Keterangan :

πˆπ’•πŸ = varian total

βˆ‘πˆπ’ƒπŸ = jumlah varian butir k = jumlah butir pertanyaan π’“πŸπŸ = koefesien reliabilitas

Jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60, maka variabel tersebut dinyatakan reliabel. Jika nilai Cronbach’s Alpha ≀ 0,60, maka variabel tersebut dinyatakan tidak reliabel.

K. Teknik Analisis Data

Sugiyono (2017:232) menyebutkan bahwa kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Tahap penelitian dijelaskan pada sub-bab berikut ini:

1. Uji Asumsi Klasik

Agar dapat memperoleh nilai pemikiran yang tidak biasa dan efisien dari persamaan regresi, maka dalam menganalisis data harus memenuhi beberapa asumsi klasik yang harus dipenuhi yang terdiri dari normalitas dan heteroskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah sebuah data memiliki distribusi normal. Dalam uji-t dan uji-F mengasumsikan bahwa nilai dideteksi dengan nilai penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Cara untuk mengetahui normalitas adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatf dan distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal dan plotting data akan dibandingkan dengan garis diagonal (Ghozali, 2013: 160).

b. Uji Hetereoskedastitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Menurut Ghozali (2013: 139) ada dasar analisis yang dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya heteroskedastisitas yaitu :

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Jika variabel independen

saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.

Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2018:107).

2. Regresi Linear dengan Varibel Intervening

Variabel mediasi atau intervening adalah variabel yang secara teoritis dapat mempengaruhi hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikat, tetapi tidak dapat diamati dan diukur (Sugiyono, 2017:70). Variabel ini terletak di antara variabel independen dan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak secara langsung mempengaruhi variabel dependen. Model penelitian tanpa menggunakan variabel mediasi digambarkan pada Gambar III.1. berikut ini:

c

Gambar III.1.

Model Penelitian tanpa Variabel Mediasi

(sumber : diadopsi dari penelitian Munawaroh, Desi Yuniarti, dan Memi Nor Hayati, 2015)

Gambar III.1. menunjukkan adanya pengaruh langsung variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y). Huruf c merupakan koefisien regresi dari pengaruh variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y) secara langsung. Model penelitian dengan menggunakan variabel mediasi dapat diilustrasikan seperti pada Gambar III.2.

X Y

a b

c’

Gambar III.2.

Model Regresi melalui Variabel Mediasi

(sumber : diadopsi dari penelitian Munawaroh, Desi Yuniarti, dan Memi Nor Hayati, 2015)

Gambar III.2. menunjukkan pengaruh tidak langsung variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y) melalui variabel mediasi (M). Huruf a merupakan koefisien regresi dari pengaruh X pada M secara langsung, huruf b merupakan koefisien regresi dari pengaruh M pada Y secara langsung, sedangkan huruf c’ merupakan koefisien regresi dari pengaruh X pada Y secara tidak langsung melalui M.

Hipotesis mediasional umumnya diuji dengan dua cara yaitu dengan metode Causal Step yang dikembangkan oleh Reuben M. Baron dan David A. Kenny (1986) dan metode Product of Coefficient dikembangkan oleh Michael E. Sobel Suliyanto (dalam Munawaroh,Yuniarti, dan Hayati, 2015).

a. Metode Causal Step

Metode Causal Step ini dikembangkan oleh Reuben M. Baron dan David A. Kenny pada tahun 1986 (Larsman, 2008 dalam Tamba ,2014). Dalam pengujian dengan causal steps, peneliti harus mengestimasi tiga persamaan regresi berikut :

X Y

M

ο‚· Persamaan I (dari Gambar III.1) adalah persamaan regresi sederhana variabel terikat pada variabel bebas: Y = Ξ± + cX + Ξ΅

ο‚· Persamaan II (dari Gambar III.2) adalah persamaan regresi sederhana variabel mediator pada variabel bebas:

M = Ξ± + aX + Ξ΅

ο‚· Persamaan III (dari Gambar III.2) adalah persamaan regresi

berganda variabel terikat pada kedua variabel bebas dan mediator:

Y = Ξ± + c’X1+c’X2 + bM + Ξ΅

Pada uji ini variabel M dinyatakan sebagai variabel mediasi antara variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y). Berdasarkan hasil estimasi ketiga model regresi tersebut, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk tercapainya mediasi, yaitu:

1) Jika pada persamaan I, variabel bebas (X) berpengaruh signifikan pada variabel terikat (Y) atau c β‰  0.

2) Jika pada persamaan II, variabel bebas (X) berpengaruh signifikan pada variabel mediasi (M) atau a β‰  0.

3) Jika pada persamaan III, variabel mediasi (M) berpengaruh signifikan pada variabel terikat (Y) atau b β‰  0.

Mediasi terjadi jika pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat lebih rendah pada persamaan ketiga (c’) dibandingkan pada persamaan kedua (c) (Baron dan Kenny, 1986 dalam Tamba, 2014). Variabel M dinyatakan sebagai variabel mediasi sempurna (perfect mediation) apabila setelah memasukkan

variabel M, pengaruh variabel X pada variabel Y menurun menjadi nol (atau c’ = 0) atau pengaruh variabel X pada variabel Y yang tadinya (sebelum memasukkan variabel M) signifikan menjadi tidak signifikan setelah memasukkan variabel M ke dalam model persamaan regresi. Sebaliknya, variabel M dinyatakan sebagai variabel mediasi parsial (partial mediation) apabila setelah memasukkan variabel M, pengaruh variabel X pada Y menurun tetapi tidak menjadi nol (atau c’ β‰  0) atau pengaruh variabel X pada Y yang tadinya (sebelum memasukkan variabel M) signifikan menjadi tetap signifikan setelah memasukkan variabel M ke dalam model persamaan regresi, tetapi mengalami penurunan nilai pada koefisien regresinya (atau c’ < c).

Langkah-langkah uji variabel mediasi dengan menggunakan metode Causal Step dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Membuat persamaan regresi variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y).

2) Membuat persamaan regresi variabel bebas (X) pada variabel mediasi (M).

3) Membuat persamaan regresi variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y) dengan memasukkan variabel mediasi (M) dalam persamaan.

4) Menarik kesimpulan uji variabel mediasi dengan kriteria seperti yang telah diuraikan di sebelumnya.

b. Metode Product of Coefficient (Uji Sobel)

Metode Product of Coefficient ini dikembangkan oleh Michael E. Sobel pada tahun 1982 (dalam Tamba, 2014). Uji variabel mediasi pada metode ini dilakukan dengan menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y) melalui variabel mediasi (M) atau dengan kata lain menguji signifikansi pengaruh tidak langsung. Perkalian antara pengaruh langsung variabel bebas pada variabel mediator (a) dan pengaruh langsung variabel mediator pada variabel dependen (b) akan menghasilkan koefisien ab. Jadi, koefisien ab = (c – c’). Uji signifikansi pengaruh tidak langsung (ab) dilakukan berdasarkan rasio antara koefisien (ab) dengan standard error-nya yang akan menghasilkan nilai t- statistik. Nilai standard error dari koefisien ab dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑆𝒂𝒃 = βˆšπ’ƒπŸπ’”π’‚πŸ+ π’‚πŸ π’”π’ƒπŸ+ π’”π’‚πŸ π’”π’ƒπŸ

Sedangkan nilai t-statistik dari koefisien ab dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

𝒕 = 𝒂𝒃 𝑆𝒂𝒃

Langkah-langkah uji variabel mediasi dengan menggunakan metode Product of Coefficient Suliyanto (dalam Munawaroh, Yuniarti dan Hayati, 2015) dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Membuat persamaan regresi variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y), sehingga diperoleh nilai koefsien regresi a dan standard error dari koefisien regresi a (sa).

2) Membuat persamaan regresi variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y) dengan memasukkan variabel mediasi (M) ke dalam persamaan, sehingga diperoleh nilai koefisien regresi b dan standard error dari koefisien regresi b (sb).

3) Menghitung nilai standard error dari koefisien ab (sab).

4) Menghitung nilai t-statistik dari koefisien ab.

5) Menarik kesimpulan uji variabel mediasi dengan kriteria: Apabila nilai absolut dari t- statistik > t tabel pada Ξ± = 0,05 dan df = n – (k +1) dimana n = jumlah jumlah observasi dan k = jumlah variabel bebas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel M memediasi hubungan kausal antara variabel bebas (X) pada variabel terikat (Y).

L. Uji Hipotesis 1. Uji F

Uji F adalah untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen secara bersamaan. Pengujian ini antara F hitung dengan F tabel dapat ditentukan dengan tingkat signifikasi 5%

dengan df 1 (k-1)/(jumlah variabel-1) dan df 2 (n-k-1)/(jumlah sampel – jumlah variabel-1). Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika F hitung lebih besar dari F tabel maka hipotesis di tolak.

Prosedur Uji F ini adalah sebagai berikut :

a. Menentukan hipotesis nol maupun hipotesis alternatifnya :

H0 : b1 = b2 = 0, berarti tidak ada pengaruh positif Efek Negara Asal (X1), Persepsi atas Kualitas Produk (X2) pada Niat Beli Ulang(Y) H1 : b1 β‰  b2 β‰  0, berarti ada pengaruh positif Efek Negara Asal (X1), Persepsi atas Kualitas Produk (X2) pada Niat Beli Ulang (Y)

b. Membuat keputusan uji F

Jika F hitung lebih besar dari F tabel maka H0 ditolak pada derajat kepercayaan 5%, dengan kata lain hipotesis alternatif (H1) diterima, yang menyatakan bahwa semua variabel Efek Negara Asal (X1), Persepsi atas Kualitas Produk (X2), dan Persepsi atas Harga (M) secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel Niat Beli Ulang (Y).

2. Uji t

Tujuan dari uji t adalah untuk mengetahui pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara t hitung dengan t tabel. Nilai t tabel dapat ditentukan dengan tingkat signifikansi 0,05 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel. Kriteria pengujian yang digunakan adalah adalah

Tujuan dari uji t adalah untuk mengetahui pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian ini dilakukan dengan cara membandingkan antara t hitung dengan t tabel. Nilai t tabel dapat ditentukan dengan tingkat signifikansi 0,05 (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel. Kriteria pengujian yang digunakan adalah adalah

Dokumen terkait