DAFTAR LAMPIRAN
METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran
Kebun campuran merupakan salah satu sistem agroforestri yang terdiri dari beragam jenis pohon dan tanaman semusim yang menciptakan suatu konfigurasi tajuk yang berlapis-lapis dan membentuk suatu ekosistem yang efisien dalam pemanfaatan ruang, unsur hara, air, energi dan waktu. Kebun campuran sebagai sebuah sistem produksi menghasilkan sumber makanan bagi manusia maupun ternak, sumber bahan bangunan dan sumber energi berupa kayu bakar. Keragaman hasil dari kebun campuran ini menunjukkan produksi total relatif lebih tinggi dibandingkan dengan sistem budidaya tanaman monokultur.
Kebun campuran dan praktek-praktek agroforestri lainnya telah lama hidup dan berkembang di pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan di pedesaan yang berbasis pertanian. Kebun campuran merupakan strategi pertanian yang cocok di daerah atas lahan kering. Hasil dari kebun campuran merupakan sumber pendapatan bagi rumah tangga. Selain itu kebun campuran juga tidak dipungkiri mampu berperan dalam konservasi tanah dan air. Peran ini muncul menurut Noorwijk et al (2004) karena keberadaan unsur pepohonan dan vegetasi lainnya melalui mekanisme intersepsi air hujan, mengurangi daya pukul air tanah, infiltrasi air dan serapan air. Peran kebun campuran khususnya dan sistem agroforestri umumnya dalam konservasi tanah dan air ini akan semakin baik dengan semakin tingginya densitas tutupan kanopi tanaman. Selain peran agroforestri dalam konservasi tanah dan air, agroforestri juga diakui berperan dalam konservasi biologi dan iklim mikro.
Kebun campuran sebagai salah satu penggunaan lahan terbentuk melalui proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Oleh karena itu eksistensi kebun campuran tidak terlepas dari campur tangan manusia. Hidup manusia itu sendiri akan dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya termasuk kebun campuran. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik antara kebun campuran dengan manusia. Hubungan tersebut terjalin karena ada arus materi, energi, dan informasi di antara keduanya. Manusia memanfaatkan tanaman yang tumbuh di kebun campuran baik berbentuk hasil kayu, hasil buah, hasil sayuran, dan hasil
tanaman pertanian. Tindakan manusia itu sendiri dalam pengelolaan kebun campurannya dipengaruhi oleh berbagai unsur atau faktor yang terdapat di dalam dan di luar manusia itu sendiri seperti pasar, kebijakan, tekanan populasi, pengetahuan , teknologi dan nilai-nilai serta unsur lainnya. Manusia yang terdiri atau dipengaruhi oleh unsur-unsur tersebut akan melakukan tindakan terhadap kebun campuran. Hal ini menunjukkan ada arus materi, energi dan informasi dari manusia sebagai sistem sosial ke kebun campuran sebagai sistem biofisik.
Hubungan antara manusia dengan kebun campuran juga dikatakan oleh Michon et al (1983) bahwa kebun yang menyerupai ekosistem hutan senantiasa berubah dan diperbaharui dengan adanya hubungan saling mempengaruhi antara faktor manusia dan faktor struktural (kebun). Manusia dapat mengatur dan memodifikasi komponen yang ada dalam kebun melalui pengetahuan, pengalaman dan praktek-praktek yang dilakukannya. Hal ini menjadikan kondisi struktur kebun bersifat dinamis.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian yang mengulas mengenai dinamika sistem agroforestri, pertambahan penduduk dapat menyebabkan terjadinya konversi pada kebun campuran untuk memenuhi kebutuhan pemukiman (Michon dan Mary 1994; Parikesit et al 2004). Jumlah penduduk meningkat juga menyebabkan luas pemilikan lahan menjadi lebih sempit (Gouyon et al 1993). Perkembangan ekonomi pasar juga mempengaruhi dinamika kebun campuran melalui penyeleksian jenis dan introduksi tanaman baru dalam mengembangkan pertanian yang intensif (Michon dan Mary 1994 ; Parikesit et al 2004). Faktor pasar juga mendorong jenis-jenis yang dinilai tidak atau kurang menguntungkan secara ekonomi dihilangkan diganti dengan jenis-jenis yang lebih komersil (Michon et al dalam ICRAF 2000; Iskandar 2001). Faktor kebijakan juga mempengaruhi dinamika kebun pepohonan campuran (Michon dan Mary 1994).
Perubahan dalam kebun campuran dalam konteks ilmu ekologi merupakan sebuah kelaziman fenomena sebagai hasil interaksi antara manusia (sistem sosial) dan lingkungan (sistem biofisik). Oleh karena itu perubahan fisik kebun campuran sulit terhindarkan dari masa ke masa, dari satu generasi ke generasi berikutnya karena adanya interaksi manusia dengan lingkungannya setiap saat yang akan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal.
Dengan demikian suatu kebun campuran diduga akan mengalami perubahan- perubahan fisik. Namun apakah dengan perubahan fisik kebun campuran berdampak terhadap perubahan fungsinya?
Dinamika kebun campuran sebagai hasil interaksi timbal balik antara manusia (sistem sosial) dan kebun campuran (sistem biofisik), faktor-faktor yang mempengaruhinya dan strategi manusia dalam menghadapi tekanan lingkungan terhadap kebun campuran merupakan lawas dari penelitian ini yang menjadi kerangka pemikiran penelitian seperti pada Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian ini mengadopsi suatu hubungan timbal balik antara sistem sosial dengan sistem biofisik Rambo (1981).
Tanah
Bagaimana fungsi produksi, fungsi sosial dan fungsi ekologi kebun campuran ?
Pengelolaan kebun campuran lestari dan
berkelanjutan Populasi Ekonomi /Pasar Kebijakan Sistem Sosial Nilai Tekno logi Pengetahuan Unsur lain Kayu Hama Penyakit Sistem Kebun Campuran Air Buah Tanaman Semusim Unsur lain Seleksi dan Adaptasi Arus energi, materi, informasi Arus energi, materi, informasi
Gambar 1. Dinamika kebun campuran sebagai hubungan timbal balik sistem sosial dan sistem kebun campuran (Modifikasi Rambo 1981)
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan studi kasus sebagai suatu ikuiri empiris yang menyelidiki fenomena dalam konteks kehidupan nyata masa kini (Yin 2002. Secara umum, studi kasus memberikan akses dan peluang yang luas kepada peneliti untuk menelaah secara mendalam, detail, intensif, dan menyeluruh terhadap unit sosial yang diteliti. Studi kasus dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antar-variabel, serta proses- proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas. Selain itu, studi kasus dapat menyajikan data-data dan temuan-temuan yang sangat berguna sebagai dasar untuk membangun latar permasalahan bagi perencanaan penelitian yang lebih besar dan mendalam, dalam rangka pengembangan ilmu (Yin 1997; Azis 2003).
Pendekatan studi kasus yang digunakan tidaklah kaku sifatnya, dan sewaktu- waktu dapat diubah sesuai dengan perkembangan fakta empiris yang tengah dicermati. Hal ini tidak berarti terjadinya inkonsistensi, melainkan terhadap fenomena sosial yang menjadi unit analisis, lebih dikedepankan dan diutamakan aspek emik daripada etik-nya. Hal ini menyangkut prinsip dalam penelitian kualitatif. Sebab, fenomena dan praktek-praktek sosial, sebagai sasaran ”buruan” penelitian kualitatif tidak bersifat mekanistik, melainkan penuh dinamika dan keunikan, dan karenanya tidak bisa diciptakan dalam otak dan menurut kehendak peneliti semata (Bungin 2000).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Luas desa ini mencapai 710,723 hektar. Kebun campuran berada di wilayah perbukitan. Hasil kebun campuran yang terkenal dari desa ini dan menjadi buah unggulan Kabupaten Bogor adalah buah manggis. Selain manggis hasil lainnya yang juga sering dipasarkan adalah durian, cempedak, nangka, melinjo, petai, pisang dan lainnya.
Penelitian dibagi ke dalam 3 tahapan yaitu tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan penelitian dan tahap penyusunan laporan. Tahap persiapan penelitian
adalah penyusunan rencana penelitian dan orientasi lapang dilakukan pada bulan Desember 2007. Orientasi lapang, kegiatan untuk menentukan lokasi penelitian, pendalaman masalah penelitian dilakukan pada bulan Januari 2008. Eksplorasi dilakukan untuk mendapatkan dskripsi umum tentang kebun campuran dan fenomena-fenomena yang terjadi di sana dilakukan pada bulan Pebruari 2008. Pelaksanaan penelitian ditujukan untuk memperoleh bukti-bukti empiris di lapangan melalui pengumpulan baik data primer maupun data sekunder Maret – Mei 2008. Tahap penyusunan laporan hasil penelitian dilakukan pada bulan Juni- Juli 2008.
Pengumpulan dan Analisis Data
Data yang digunakan untuk membahas dinamika kebun campuran mengutamakan data kualitatif dan sebagai pelengkap digunakan data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan contoh secara sengaja. Responden dipilih secara sengaja berdasarkan usia. Usia dijadikan variabel untuk melihat apakah terdapat perbedaan luas pemilikan kebun antara generasi tua dan muda. Kategori tua dan muda ini didasarkan pada persepsi masyarakat lokal. Total jumlah responden yang dilibatkan sebanyak 40 orang. Pengumpulan data kualitatif dilakukan terhadap 3 informan yang dipilih.
Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan pengamatan lapang. Metode wawancara adalah cara-cara yang dipergunakan kalau sesoerang untuk tujuan suatu tugas tertentu mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari responden dengan bercakap-cakap berhadapan dengan orang itu (Koentjaraningrat 1977). Teknik wawancara terencana dan wawancara tanpa recana, keduanya digunakan pada penelitian ini.
Pengumpulan data baik melalui teknik wawancara dan pengamatan lapang dilakukan dengan memperhatikan pendekatan emik yang memungkinkan peneliti memahami apa yang diungkapkan informan berdasarkan sudut pandang orang yang diteliti.
Analisis data yang diterapkan pada penelitian ini adalah analisis data kualitatif yang diarahkan untuk mendapatkan makna dari data yang diperoleh melalui pijakan logika berpikir induktif abstraktif (Faisal 2003).
Tiga tahap analisis data kualitatif yang digunakan adalah :
1. tahap reduksi : memilih, memusatkan perhatian pada penyederhanaan data “kasar”, catatan-catatan tertulis di lapangan, dan selanjutnya menajamkan menggolongkan, mengarahkan , membuang dan mengorganisasi data dengan sedemikian rupa sehingga lebih memudahkan untuk memperoleh kesimpulan- kesimpulan.
2. penyajian data : data hasil reduksi dapat disajikan dalam bentuk teks naratif, matriks, grafik atau bagan.
3. penarikan kesimpulan : dalam hal ini mencakup juga verifikasi kesimpulan yang dilakukan selama penelitian berlangsung dengan cara yang ditempuh : berpikir ulang selama penulisan dan tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan .
KEADAAN UMUM WILAYAH