SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
Judul Tesis : Dinamika Kebun Campuran : Studi Kasus Praktek Pemanfaatan
Lahan Kering Secara Berkelanjutan di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor
Nama : Kushartati Budiningsih NIM : E051060391
Disetujui Komisi Pembimbing
Dr.Ir.Nurheni Wijayanto MS Dr.Ir. Saharuddin MSi
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Kehutanan
Prof.Dr.Ir.Iman Wahyudi MS Prof.Dr.Ir.Khairil A.Notodiputro MS
PRAKATA
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan karunia-Nya hingga saya dapat merampungkan tesis ini. Pada kesempatan ini saya bermaksud menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan tesis ini.
Ucapan terima kasih pertama saya haturkan kepada yang terhormat Dr. Ir. Nurheni Wijayanto MS selaku pembimbing utama dan Dr. Ir. Saharuddin
MSi selaku pembimbing anggota. Beliau-beliau telah mengarahkan dan meluangkan waktunya untuk membimbing saya selama ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada yang terhormat Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo MS yang telah bersedia menjadi dosen penguji dalam ujian tesis saya . Melalui saran-saran yang diajukan beliau telah memberikan saran-saran untuk perbaikan tesis ini.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada warga Desa Karacak yang telah membantu saya selama melakukan penelitian di lapangan. Tanpa mengurangi rasa hormat , saya tidak dapat menyebutkan satu-per satu akan tetapi keterbukaan yang telah terjalin selama penelitian sangat berharga bagi saya untuk dapat menyusun tesis ini dalam rangka mencari kebenaran.
Ucapan terima kasih saya haturkan kepada suami saya tercinta Mohammad Sidiq yang senantiasa membantu dan memberikan semangat kepada saya dalam menjalani studi ini serta bagi kedua anak saya Farras Nawwaf Shiddiq dan Farhah Najihah yang memberikan semangat dengan senyuman dan tangisan.. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus saya sampaikan kepada ayahanda saya H.R.M. Widjoyo Kusumo Hadiprodjo dan ibunda saya Hj. Siti Harmijati yang selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan anak-anaknya.
Saya menyadari bahwa sebagai sarjana kehutanan saya memiliki keterbatasan dalam melakukan analisa sosial sebagaimana sarjana kehutanan pada umumnya. Oleh karena itu saya menjadi tertarik untuk mencoba membenahi keterbatasan saya tersebut dengan menyusun tesis ini dalam kerangka analisa sosial. Meski demikian saya berharap tesis ini bermanfaat dan menjadi amalan sholeh, amin.
Bogor, September 2008 Kushartati Budiningsih
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor Propinsi Bawa Barat pada tanggal 3 April 1973 dari ayah H.R.M.Widjojo Kusumo Hadiprodjo dan Hj.Siti Harmijati. Penulis putri keenam dari tujuh bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh pada Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 1997. Selama 2 tahun setelah lulus sarjana penulis sempat menekuni bidang pendidikan sebagai tenaga edukatif di Universitas Winaya Mukti Sumedang.
Sejak tahun 1999 hingga saat ini penulis bekerja di Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru Kalimantan Selatan sebagai tenaga fungsional peneliti kehutanan. Pada tahun 2006 penulis mendapatkan beasiswa dari Departemen Kehutanan untuk melanjutkan studi ke tingkat pascasarjana. Pendidikan pascasarjana penulis ditempuh pada tahun 2006 pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dalam Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan.
DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR ... iv PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 2 Tujuan Penelitian ... 3 Kegunaan Penelitian ... 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 4 Sistem Agroforestri. ... 4 Kebun Pepohonan ” Tree Garden ”. ... 5 Fungsi Agroforestri. ... 7 Dinamika Sistem Agroforestri ... 8 Konsep Adaptasi ... 11 METODE PENELITIAN ... 12 Kerangka Pemikiran... 12 Pendekatan Penelitian ... 15 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15 Pengumpulan dan Analisis Data ... 16 KEADAAN UMUM WILAYAH ... 18 Letak Geografis dan Lingkungan Biofisik... 18 Pola Penggunaan Lahan ... 18 Jumlah Penduduk dan Sosial Ekonomi Masyarakat ... 19 Kalender Musiman ... 20 Fasilitas Jalan dan Pasar... 21 Liliuran... 21 PROFIL SISTEM KEBUN CAMPURAN ... 23 Kasus 1 Kebun Campuran Mang Udin ... 23 Kasus 2 Kebun Campuran Mang Ibar... 33 Kasus 3 Kebun Campuran Mang Urya ... 39
TIPOLOGI DAN DINAMIKA KEBUN CAMPURAN ... 43 Tipologi Kebun ... 43 Komponen Kebun ... 44 Peranan Kebun ... 49 Komponen Kebun ... 44 Perspektif Histori Kebun Campuran ... 52 Dinamika Tegakan Kebun... 54 Perubahan Mendasar Dalam Kebun Campuran ... 56 Kebun Campuran : Cara Hidup Penduduk Lokal di Lahan Kering
Dataran Tinggi ... 60 Pertimbangan Kebun Campuran... 60 Jenis Manggis Diutamakan... 60 Proses Pemilikan Kebun dan Tipologi Kepemilikan... 62 Sistem Gadai Kebun... 63 Kebun Jaminan Hari Tua... 65 Kontribusi Kebun Campuran Terhadap Pendapatan Rumah
Tangga... 65 Strategi Pengaturan Komponen Kebun Campuran... 67 Strategi Budidaya Kebun Campuran ... 69 Faktor-Faktor Pada Dinamika Kebun Campuran ... 71 Intervensi Pasar... 71 Kebijakan... 72 Aplikasi Riset Intensifikasi Manggis... 73 Tekanan Penduduk... 74 Modal Sosial... 75 DAMPAK PERUBAHAN KEBUN CAMPURAN ... 76 Aspek Ekonomi... 76 Aspek Sosial... 76 Aspek Ekologi... 77 KESIMPULAN ... 78 DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN ... 83
DAFTAR TABEL
Halaman 1. Kalender musim aktivitas pertanian penduduk Karacak... 21 2. Kontribusi kebun campuran terhadap pendapatan rumah tangga
tahunan ... 66 3. Perbedaan antara teknik budidaya kebun secara tradisional dan intensif ... 70
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Dinamika kebun campuran sebagai hubungan timbal balik sistem
sosial dan sistem kebun campuran ... 14 2a. Tanaman kapol berumur 7 bulan... 44 2b. Kapol di bawah tegakan kebun ... 44 3. Pohon manggis tumbuh berdampingan dengan durian ... 46 4. Sebidang tanah milik desa... 53 5. Industri perkayuan pedesaan ” rentalan kayu” di Karacak ... 58 6. Kebun campuran yang didominasi dengan jenis manggis ... 58
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Peta lokasi Desa Karacak ... 83 2. Perhitungan kontribusi kebun campuran terhadap pendapatan rumah tangga tahunan ... 84
PENDAHULUAN Latar Belakang
Agroforestri merupakan sebuah konsep umum dalam sistem pengelolaan lahan yang mengkombinasikan antara pohon dan tanaman pertanian. Beragam sistem agroforestri telah lama hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat di pedesaan. Beberapa contoh sistem agroforestri yang ada di Indonesia seperti pelak di Jambi, repong di pesisir Krui Lampung, parak di Maninjau, tembawang di Kalimantan Barat, agroforest karet di Jambi dan Sumatera Selatan, kebun durian campuran di Gunung Palung Kalimantan Barat, dan kebun pepohonan campuran di Bogor (ICRAF 2000) disamping itu masih banyak lagi contoh sistem agroforestri lainnya.
Sistem agroforestri merupakan sebuah sistem yang dinamis (Huxley 1999). Perubahan waktu yang diiikuti perkembangan yang terjadi di masyarakat dapat mengubah struktur dan komposisi vegetasi agroforestri. Perubahan yang bersifat ekstrim bahkan dapat mengganti sistem agroforestri menjadi bentuk penggunaan lahan lainnya.
Dinamika yang terjadi pada sistem agroforestri di suatu tempat akan berbeda dengan dinamika yang terjadi pada sistem agroforestri di tempat lain. Hal itu bergantung pada kondisi sistem agroforestri dan kekuatan stimulus dari lingkungan yang senantiasa mempengaruhi sistem agroforestri.
Kecenderungan perubahan sistem agroforestri yang ada di Indonesia berdasarkan hasil-hasil penelitian antara lain terjadinya perubahan komoditi unggulan karena perkembangan pasar (pelak di Jambi, kebun campuran di Cibitung Bogor), monokulturisasi kebun dengan jenis-jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (talun kebun di Bandung Selatan), berkurangnya keragaman jenis karena komersialisasi pertanian (pekarangan di DAS Citarum), terjadi proses penyeleksian jenis-jenis komersil dan introduksi jenis tanaman baru karena penetrasi ekonomi pasar (sistem agroforestri di Baduy), dan perubahan kawasan sistem agroforestri menjadi areal pemukiman (talun kebun di Bandung Selatan, kebun campuran di DAS Ciliwung hulu). Namun demikian nampak bahwa di tempat lain sistem agroforestri masih tetap ada dengan kedinamisannya.
Sistem agroforestri berupa kebun campuran di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor hingga saat ini masih bertahan. Hal ini menarik untuk diteliti, mengapa kebun campuran ini tetap bertahan. Penelitian ini menjadi penting karena menurut Wiersum (2004) bahwa penelitian tentang forest garden (termasuk kebun campuran) masih sedikit. Padahal kebun campuran yang struktur dan komposisinya dianalogkan dengan hutan alam merupakan bagian penting dari sistem kehidupan di pedesaan.
Penelitian dinamika kebun campuran di Karacak ini bukan hanya memberikan deskripsi tentang dinamika tegakan yang terjadi pada kebun campuran namun juga akan mengungkap sisi lain tentang kebun campuran sebagai cara hidup penduduk lokal dilihat dari titik pandang warga setempat yang tercermin pada perilaku-perilaku yang diperlihatkannnya.
Perumusan Masalah
Penduduk Desa Karacak hingga saat ini masih mengelola kebun campuran. Buah manggis, durian, cempedak dan lainnya yang berasal dari kebun campuran di Karacak beredar di pusat perekonomian tingkat kecamatan bahkan khusus buah manggis diekspor ke mancanegara. Pemandangan kebun campuran di desa ini dari kejauhan menampakkan pegunungan yang hijau. Padahal Desa Karacak ini hanya berjarak 5 km dengan pusat perekonomian Kecamatan Leuwiliang. Aksesibilitas yang relatif mudah dapat membuka peluang terhadap perubahan- perubahan yang terjadi di kebun campuran. Pertanyaan utama pada penelitian ini adalah “ Mengapa kebun campuran di Karacak masih bertahan ?”. Pertanyaan lain pada penelitian ini adalah (1) Perubahan seperti apakah yang umum terjadi dalam kebun campuran di Karacak ?; (2) Bagaimana faktor lingkungan mempengaruhi dinamika kebun campuran dan (3) Bagaimana strategi petani untuk tetap mempertahankan kebun campurannya.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada adalah untuk mendapatkan deskripsi tentang dinamika kebun campuran di Karacak. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bentuk perubahan kebun campuran yang umum terjadi di Karacak.
2. Mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya dinamika kebun campuran.
3. Mengetahui strategi petani untuk tetap mempertahankan kebun campurannya.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini berupa informasi ilmiah yang akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang agroforestri dan akan berguna bagi pengembangan penelitian sistem agroforestri. Hal ini juga penting bagi pemerintah daerah setempat sebagai aktor yang berperan dalam pengendalian penggunaan lahan yang efisien, adil dan berkelanjutan. Penggunaan lahan yang berkelanjutan bukan hanya untuk saat ini namun juga untuk masa mendatang. Praktek kebun campuran yang memiliki fungsi ekonomi, fungsi sosial dan fungsi ekologi merupakan salah satu praktek penggunaan lahan yang berkelanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA Sistem Agroforestri
Istilah agroforestri mulai mendapat perhatian dunia internasional secara global sejak tahun 1970-an (van Maydel 19850. Ada banyak pengertian dan batasan agroforestri. ICRAF, International Centre for Research in Agroforestry, memberi definisi tentang agroforestri sebagai suatu nama kolektif untuk sistem dan penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, palem, bambu, dsb) ditanam secara bersamaan dalam unit lahan yang sama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak, dengan tujuan tertentu, dalam bentuk pengaturan ruang atau urutan waktu, dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan (Lundgren and Raintree 1982 diacu Nair 1993). Whitten et al (1999) menyatakan bahwa agroforestri, agroperhutanan atau wanatani merupakan sistem tata guna lahan yang sesuai dengan praktek-praktek budaya dan kondisi lingkungan setempat, yang tanaman semusim atau tahunan dapat dibudidayakan secara bersama-sama atau rotasi, bahkan kadang-kadang dalam beberapa lapisan sehingga memungkinkan produksi yang dilakukan terus menerus karena pengaruh peningkatan kondisi tanah dan iklim mikro yang tersedia di hutan.
Agroforestri dipahami secara sederhana sebagai sebuah konsep umum mengenai sistem pengelolaan lahan yang mengkombinasikan pohon dan tanaman pertanian (agricultural crops). Berbagai teknik membangun agroforestri dalam aplikasinya dapat dipilih yang mana pemilihan suatu teknik disesuaikan dengan kondisi biofisik dan faktor sosial ekonomi.
Beragam teknik seperti alley cropping, taungya, dan lainnya akhirnya melahirkan beragam bentuk sistem agroforestri. Beragam bentuk sistem agroforestri yang ada oleh Nair (1991) yang diacu dalam Nair (1993) dikelompokkan agar memudahkan untuk memahami, mengevaluasi dan mengembangkan agroforest berdasarkan kriteria umum. Menurut Nair (1993), praktek-praktek agroforestri dibagi menjadi 3 kategori utama berdasarkan komponen agroforestri yaitu agrisilvicultural systems, silvopastural systems dan agrosilvopastoral systems. Praktek-praktek agroforestri yang termasuk kategori agrisilvicultural systems memiliki karakter bahwa komponenya adalah tanaman
yang terdiri atas tanaman semusim, tanaman semak belukar, tanaman merambat dan pohon. Berbeda dengan agrisilvicultural systems, silvopastural systems memiliki karakter utama dengan komponen agroforestri adalah pohon, ternak dan atau binatang. Kategori yang terakhir, agrosilvopastoral systems, memiliki karakter utama komponen penyusunya adalah pohon, tanaman semusim dan ternak atau binatang.
Singh (1995) secara rinci menyebutkan beberapa potensi pemanfaatan agroforestri untuk petani pedesaan yaitu :
- memperbaiki tanah, melalui pencegahan erosi, siklus nutrien, penambahan bahan organik, dan fiksasi nitrogen
- meningkatkan panenan karena perbaikan tanah dan perubahan mikroklimat
- meningkatkan produksi ternak melalui perbaikan kualitas makanan ternak, persediaan makanan ternak selama musim kering, dan perubahan iklim
- pendapatan cash dari produk pohon seperti buah dan kayu - memperkecil risiko melalui diversifikasi
- ketersediaan kayu bakar (dan menghemat waktu dan biaya untuk pengumpulan kayu bakar)
- kayu untuk bangunan dan pagar batas
- batas demarkasi dan pagar hidup menggunakan pohon.
Kebun Pepohonan “Tree Garden”
Istilah kebun pepohonan, tree garden, digunakan Wiersum (1982) untuk menunjukkan pada sistem agroforestri tajuk berlapis, multiple-storeyed agroforestry system, yang didalamnya terdapat campuran beberapa pohon buah- buahan dan pohon lainnya, terkadang juga ada tanaman pangan semusim. Terra GJA (1953) dalam Wiersum (1982) mengungkap bahwa ada 3 tipe tree gardening (penanaman pohon) yang ada di Jawa yaitu home garden (pekarangan), tree garden (kebun atau talun) dan clumps of fruit. Karateristik untuk masing-masing tipe adalah sebagai berikut :
a) pekarangan (home garden) : kebun diberi pagar, terdapat di pekarangan rumah, terdapat pohon penghasil buah dan kayu serta sayuran dan tanaman pangan tahunan. Menurut sejarahnya pekarangan ini terkait dengan lahan basah untuk tanaman padi (sawah) namun selanjutnya terkait dengan lahan kering. Kebanyakan ditemukan di lahan milik individu yang memiliki latar belakang budaya martiarkal. Secara khusus pekarangan terdapat di Jawa Tengah dan dikelola oleh orang-orang Jawa.
b) kebun atau talun ( tree garden) : merupakan campuran pepohonan yang terdapat di lahan milik komunal yang berada di sekitar desa yang padat dengan pemukiman. Terkadang juga terletak agak jauh dari desa. Kebun atau talun tidak dikelola dan menurut sejarahnya terlait dengan praktek perladangan berpindah. Banyak ditemukan di lahan milik komunal dan memiliki budaya yang bersifat partriarkal. Kebanyakan ditemukan di Jawa Barat yang dikelola oleh orang-orang Sunda. Jika dibandingkan dengan pekarangan, kebun atau talun kurang terawat dan nampaknya lebih menyerupai hutan alam
c) Rumpun pohon buah-buahan atau pohon kayu yang ditanam di lahan yang telah digunakan untuk praktek perladangan berpindah. Penanaman rumpun pohon ini menunjukkan hak milik utama terhadap pohon yang ada di lahan milik komunal. Tree garden tumbuh dan berkembang lebih awal dibandingkan dengan home garden. Hal itu dapat dipahami dari histori home garden muncul pada saat kebun-kebun pada lahan komunal dibagi-bagi menjadi kebun-kebun milik individual. Seseorang lalu membangun rumah di kebunnya, sebagian lahan kebun yang tidak menjadi rumah menjadi pekarangan. Pada tree garden yang lain, tanaman musiman diintroduksi dan tree garden dikelola lebih intensif. Perubahan terjadi pada tree garden ini. Perubahan juga terjadi pada clumps of fruit yang berubah menjadi tree garden. Perubahan-perubahan yang terjadi pada ketiga sistem tersebut mendorong Wiersum (1982) membedakan tree gardening menjadi : home garden (pekarangan), mixed garden (kebun campuran) dan forest garden (talun, kebun). Berikut karakteristik untuk masing-masing tipe.
a) Pekarangan (home gardens): bentuk penggunaan lahan di lahan milik yang berada di pekarangan rumah dengan pagar yang jelas dengan beberapa jenis
pohon yang ditanamn bersamaan dengan tanaman semusim dan tanaman tahunan dan seringkali dijumpai sedikit ternak.
b) Kebun campuran (mixed gardens): bentuk penggunaan lahan di lahan milik yang terletak di luar desa yang didominasi dengan tanaman tahunan kebanyakan pepohonan dan dibawahnya ditanami dengan tanaman tahunan. c) Talun atau kebun (forest gardens): bentuk penggunaan lahan di lahan milik di
luar desa yang ditanami pepohonan atau pohon yang tumbuh sendiri dan terkadang ditanami pula dengan tanaman pangan tahunan.
Beragam tipe tree gardening systems yang ada namun secara keseluruhan sebenarnya memiliki persamaan karakter (Wiersum 1982) yaitu :
1. memiliki keragaman jenis yang tinggi yang kebanyakan terdapat tanaman MPTS dari beragam tajuk (terkadang ada ternak misalnya ayam) yang menjamin variasi produksi dalam tahunan
2. kebanyakan didominasi oleh pepohonan daripada tanaman pertanian musiman yang menghasilkan nutrien sebagian besar tersimpan dalam vegetasi sehingga mengurangi risiko pelindisan hara dan erosi.
3. kebun pepohonan merupakan bagian dari sistem pertanian keseluruhan, dimana kebun pepohonan menyediakan produk tambahan dengan kandungan gizi tinggi, tanaman obat-obatan dan rempah-rempah, kayu bakar, pakan ternak dan kayu-kayu untuk konstruksi.
4. dalam kondisi normal, kebun pepohonan hanya menghasilkan produk tambahan untuk keperluan subsisten dan jika memungkinkan saat ada kelebihan hasil maka produk tersebut dijual.
5. praktek kebun pepohonan akan berbeda karena lingkungan lokal, kondisi sosial ekonomi masyarakat, preferensi dan keterampilan individu yang berbeda.
Fungsi Agroforestri
Soemarwoto (1984) dalam Iskandar (2001) menyatakan bahwa agroforestri berstruktur menyerupai hutan alam sehingga memiliki fungsi ekologi seperti layaknya hutan alam. Disamping itu agroforestri memiliki manfaat sosial, budaya
dan ekonomi bagi masyarakat pedesaan. Fungsi ekologi yang melekat pada agroforestri diantaranya menahan erosi tanah, mengatur sistem hidrologi, konservasi plasma nutfah, memberikan efek positif pada iklim mikro.
Fungsi ekologi sistem agroforestri khususnya dalam konservasi tanah dan air menurut Noorwijk et al (2004) tercipta karena adanya unsur pepohonan dan vegetasi lainnya melalui mekanisme pepohonan yang berperan dalam intersepsi air hujan, daya pukul air tanah, infiltrasi air dan serapan air. Fungsi ekologi lainnya yang penting adalah adanya keragaman jenis yang dapat berperan sebagai cadangan genetik untuk kebutuhan manusia di masa mendatang.
Fungsi sosial budaya dan ekonomi dari agroforestri adalah menopang kehidupan baik kebutuhan hidup sehari-hari (subsistence) maupun untuk menghasilkan produksi komersil yang dapat diperjualbelikan (Soemarwoto 1984 dalam Iskandar 2001). Sementara itu fungsi sosial yang diemban sistem agroforestri antara lain berbagi hasil kebun dengan kerabat ataupun tetangga ( Parikesit et al 2004; Abdullah et al 2006).
Dinamika Sistem Agroforestri
Kebun campuran seperti ekosistem hutan senantiasa berubah dan diperbaharui dengan adanya hubungan saling mempengaruhi antara faktor manusia dan struktur kebun. Ini menjadikan kondisi struktur kebun bersifat dinamis (Michon et al 1983). Hal ini menunjukkan bahwa dinamika kebun dapat dilihat dari adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur kebun.
Michon et al 1983 menguraikan bagaimana faktor manusia mempengaruhi kebun dimana menurutnya bahwa penduduk merupakan bagian dari ekosistem agroforestri di pedesaan. Pengetahuan, pengalaman dan praktek-praktek yang dilakukannya mengatur dan memodifikasi fungsi dan dinamika komponen yang ada dalam sistem agroforestri tersebut. Terkait dengan kebun campuran maka karakter pemilik kebun campuran turut berperan dalam proses dinamika kebun campuran.
Faktor dari lingkungan yang tidak diharapkan terjadi telah membawa perubahan pada dinamika kebun (village garden) di Cibitung Bogor yaitu tidak adanya lembaga lokal yang mengatasi pemasaran cengkeh, harga cengkeh lokal
yang turun, adanya pengembangan proyek resort holiday dan pembangunan lapangan golf (Michon dan Mary 1994).
Kebutuhan tempat pemukiman dan lahan untuk pertanian yang intensif telah menyebabkan perubahan yang cepat pada kebun tradisional di Cibitung. Fitur hutan alam yang ada pada kebun secara gradual berubah menjadi kebun pekarangan yang tidak kompleks (Michon dan Mary 1994).
Parikesit et al (2004) menyatakan dalam penelitiannya bahwa perluasan sistem pertanian intensif mempengaruhi keberadaan kebon tatangkalan di DAS Citarum. Disamping itu pertumbuhan penduduk menjadi salah satu penyebab terjadi konversi kebon tatangkalan.
Faktor ekonomi pasar berkonsekuensi terhadap maksimisasi produksi dan penggunaan input eksternal sehingga kebun pekarangan hilang (Kumar dan Nair 2004). Input eksternal dalam sistem pertanian tradisional ini merupakan masuknya inovasi teknologi dalam sistem tersebut. Tekanan pasar, komersialisasi dan adopsi teknologi mendorong perubahan dalam agroekosistem termasuk pekarangan (Abdoellah et al 2001 dalam Abdoellah 2006). Faktor pasar ini juga dikatakan oleh Abdoellah et al (2006) bahwa keperluan khusus, preferensi pemilik dan pasar merupakan faktor utama yang memicu pembangunan pertanian intensif dan menyebabkan meningkatnya komersialisasi pekarangan. Nautiyal et al (1998) menyatakan bahwa pada sistem agroforestri di Garhwal Himalaya, India perubahan yang terjadi pada penggunaan lahan didorong karena adanya interaksi antara faktor ekologi, kebijakan dan faktor manusia.
Palte (1980) dalam Wiersum (1982) menyebutkan bahwa ada 11 faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi keberadaan sistem agroforestri yaitu (1) metode pengelolaan dan atau keberhasilan pengenalan sistem agroforesti pada petani, (2) situasi demografi, (3) ukuran lahan pertanian dan kepemilikan lahan, (4) struktur kekuatan lokal, (5) kohesi desa (modal sosial), (6) keberadaaan lembaga sosial, (7) pendapatan petani, (8) tekanan dan pemanfaatan tenaga kerja, (9) produktivitas, (10) komersialisasi dan pasar, (11) ketersediaan modal dan kredit serta penyuluhan.
Faktor-faktor penyebab terjadinya dinamika pada pekarangan diantaranya faktor sosial ekonomi ( Peyre et al 2006 ). Wiersum (2004) menyebutkan faktor- faktor yang menyebabkan dinamika tersebut adalah peran pekarangan dalam semua sistem pertanian, pendapatan petani dan akses pada pekerjaan di luar pertanian.
Beberapa hasil penelitian tentang dinamika sistem agroforestri seperti yang telah diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika sebuah sistem agroforestri yakni faktor pengelola sistem agroforestri, pasar, kelembagaan, kebijakan, teknologi, dan budaya. Penelitian dinamika agroforestry yang telah dilakukan selama ini umumnya mengungkap perubahan keragaman jenis (Augusseau et al 2006; Peyre et al 2006; Abdoellah et al 2006), homogenisasi struktur (Peyre et al 2006), alih guna lahan ( Michon dan Mary 1994). Namun ukuran dari dinamika itu sendiri belum ada suatu ukuran standar hanya menurut Perikesit et al (2004) kecenderungan menurunnya kebon tatangkalan dapat didekati dengan indikator penurunan luasan areal kebun.
Vandermeer et al (1998) dalam Parikesit et al (2004) memandang bahwa dalam sistem multi-species (termasuk kebun campuran) dimensi manusia membuat persoalan yang ada pada sistem tersebut menjadi lebih kompleks karena indikatornya memiliki karakter yang lebih bersifat dinamik daripada biofisik. Hal