• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dirancang berdasarkan metode survei dan bersifat explanatory research, dengan menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Metode survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun dan Effendi 2013). Metode survei dipilih karena dapat menggambarkan karakteristik dari populasi melalui sampel yang digunakan. Penelitian dilakukan untuk memperoleh gambaran persepsi anggota tentang peran ketua kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan yang berkelanjutan.

Explanatory research merupakan penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya (Singarimbun & Effendi, 2013). Explanatory research

digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor yang diduga berhubungan terhadap peran ketua kelompok wanita tani, faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap tujuan anggota kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan, menjelaskan pengaruh peran ketua kelompok wanita tani terhadap pemanfaatan lahan pekarangan yang berkelanjutan, serta menjelaskan pengaruh tujuan pemanfaatan lahan pekarangan terhadap pemanfaatan lahan pekarangan yang berkelanjutan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor yang merupakan pelaksana program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) melalui pemanfaatan lahan pekarangan pada tahun 2011. P2KP di Kabupaten Bogor dilaksanakan pada tahun 2011 di lima Kecamatan yaitu Kecamatan Dramaga, Cibungbulang, Leuwiliang, Ciseeng, dan Caringin. Saat ini kelompok wanita tani yang terdapat di lima kecamatan tetap melanjutkan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan pasca program P2KP. Luas lahan untuk pertanian menurut penggunaannya mengalami pengurangan tiap tahunnya akibat alih fungsi lahan. Tiap tahunnya lahan pertanian di Kabupaten Bogor berkurang, pada Tahun 2010 luas lahan pertanian sebanyak 48.484 ha dan pada Tahun 2013 47.930 ha, sedangkan jumlah penduduk di Kabupaten Bogor terus bertambah yaitu pada Tahun 2010 sebanyak 4.771.932 jiwa dan pada Tahun 2013 sebanyak 5.077.210 jiwa.

Penelitian lapang dilakukan selama tiga bulan mulai Februari 2014 sampai dengan April 2014. Jangka waktu ini dilakukan mulai dari uji coba kuesioner sampai dengan pengumpulan data di lapangan.

Populasi dan Sampel

Populasi merupakan jumlah dari keseluruhan unit-unit analisa yang ciri- cirinya akan diduga (Singarimbun dan Effendi, 2013). Populasi penelitian adalah anggota kelompok wanita tani yang melaksanakan kegiatan P2KP di Kabupaten Bogor, sebanyak 10 kelompok wanita tani yang melaksanakan kegiatan P2KP

tahun 2011. Jumlah anggota kelompok wanita tani yang tergabung dalam 10 kelompok wanita tani tersebut berjumlah 250 orang.

Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara proporsional acak sederhana (proportional simple random sampling). Menurut Sevillaet al. (2006) jika jumlah populasi sangat kecil (<500), maka untuk sampelnya diperlukan minimum 20%. Jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 30% dari jumlah populasi, maka sampel yang diambil berjumlah 75 orang. Hasil perhitungan jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 75 anggota kelompok wanita tani dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jumlah populasi dan sampel penelitian

No Kecamatan Desa Nama KWT Populasi

(orang)

Sampel (orang)

1 Leuwiliang Karacak Karya mekar 30 9

Barengkok Melati suka tani 30 9

2 Rancabungur Bantarsari Rukun tani 30 9

Bantarjaya Mekar jaya 30 9

3 Cibungbulang Situ udik Teratai 20 6

Cibatok 1 Nusa jati 20 6

4 Cijeruk Cibalung Wanti asih 30 9

Cipelang Nusa indah 30 9

5 Dramaga Cikarawang Mawar 10 3

Sukadamai Damai Lestari 20 6

Total 250 75

Data dan Instrumentasi

Data penelitian terdiri dari dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berhubungan dengan data dari persepsi anggota tentang peran ketua kelompok wanita tani terhadap pemanfaatan lahan pekarangan berkelanjutan yang diperoleh melalui wawancara dengan bantuan kuesioner, berdasarkan daftar pertanyaan dan pernyataan yang telah disusun sesuai dengan indikator pengukuran dan tujuan penelitian. Selain wawancara dan kuesioner juga dilakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian dengan cara mendokumentasikan dan ditambah dengan catatan lapangan. Data sekunder meliputi keadaan geografis dan demografis daerah penelitian (Kabupaten Bogor), data kelompok wanita tani serta data lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini. Data tambahan untuk pendalaman dilakukan dengan wawancara mendalam.

Intrumentasi merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumentasi yang diperlukan adalah kuesioner berupa daftar pertanyaan yang berhubungan dengan peubah-peubah yang diamati terhadap obyek penelitian. Kuesioner penelitian disusun menjadi lima bagian. Bagian pertama tentang faktor internal responden, bagian kedua tentang faktor eksternal responden, bagian ketiga persepsi anggota tentang peran ketua kelompok wanita tani, bagian keempat tentang tujuan pemanfaatan lahan pekarangan, bagian kelima tentang pemanfaatan lahan pekarangan yang berkelanjutan.

Definisi Operasional

Definisi operasional peubah dimaksudkan untuk memberikan batasan yang jelas, sehingga memudahkan dalam melakukan pengukuran. Definisi operasional pada masing-masing peubah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1) Faktor internal anggota kelompok wanita tani yang mencakup karakteristik sosial ekonomi yang melekat pada diri wanita tani yang meliputi: umur, pendidikan formal, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, curahan waktu memanfaatkan pekarangan, kekosmopolitan, motivasi, luas lahan pekarangan. Penjelasan masing-masing peubah adalah sebagai berikut:

(a) Umur anggota kelompok wanita tani diukur berdasarkan usia dari anggota kelompok wanita tani yang dihitung sejak lahir sampai pada waktu penelitian, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam tahun. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu muda (20-37 tahun); dewasa (38-42 tahun); dan tua (45-64 tahun).

(b) Pendidikan formal diukur berdasarkan lamanya proses pembelajaran yang ditempuh oleh anggota kelompok wanita tani di sekolah resmi, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam tahun. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (tidak tamat SD-tamat SD), sedang (tidak tamat SLTP-tamat SLTA), tinggi (Perguruan Tinggi). (c) Pendapatan keluarga diukur berdasarkan jumlah/besarnya perolehan

penghasilan keluarga anggota kelompok wanita tani yang berasal dari kegiatan usaha tani (pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan), dan kegiatan non pertanian (usaha dagang, industri/kerajinan, jasa, buruh tani, dan lainnya), dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam Rupiah/Bulan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (Rp500.000–Rp1.000.000); sedang (Rp1.100.000–Rp1.700.000); tinggi (Rp1.750.000–Rp6.000.000).

(d) Jumlah anggota keluarga diukur berdasarkan banyaknya orang yang tinggal bersama anggota kelompok wanita tani dalam satu rumah tangga saat ini, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam orang. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu kecil (2-3 orang), sedang (4-5 orang), besar (6-9 orang).

(e) Curahan waktu diukur berdasarkan lamanya proses kegiatan pemanfaataan lahan pekarangan yang dilakukan anggota kelompok wanita tani diluar kegiatan rumah tangganya sehari-hari, dengan menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam jam/hari. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu sedikit (nol-0.5jam/hari); sedang (1-2 jam/hari); banyak (4-6) jam/hari).

(f) Kekosmopolitan diukur berdasarkan frekuensi anggota kelompok wanita tani bepergian ke luar daerahnya (kota kecamatan, kota kabupaten, keluar kota), serta frekuensi anggota kelompok menggunakan media massa (Televisi, Handphone, koran, brosur, leaflet dan buku panduan) untuk mencari informasi mengenai usaha tani dan pemanfaatan lahan pekarangan dalam tiga bulan terakhir saat penelitian dilakukan, dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan empat aspek parameter/pertanyaan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (2-4 kali); sedang (6-8 kali); tinggi (9-11 kali).

(g) Motivasi diukur berdasarkan dorongan yang timbul pada diri anggota kelompok wanita tani baik yang berasal dari dalam dirinya sendiri (intrinsik) maupun yang berasal dari luar dirinya (ekstrinsik) untuk memanfaatkan lahan pekarangan, dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan 10 aspek parameter/pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 13-29); sedang (skor 30-33); tinggi (skor 34-40).

(h) Luas lahan pekarangan adalah sebidang tanah disekitar rumah anggota kelompok wanita tani yang masih diusahakan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Menggunakan skala rasio yang dinyatakan dalam satuan meter persegi. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu sempit (1-5 m2), sedang (6-10 m2), luas (12-300 m2).

(2) Faktor eksternal yang mencakup dalam penelitian ini adalah intensitas penyuluhan, ketersediaan sarana produksi, dan suasana kelompok.

(a) Intensitas penyuluhan merupakan proses pembelajaran non formal yang diikuti oleh anggota kelompok wanita tani dalam kegiatan kelompok yang berhubungan dengan kesesuaian materi dengan kebutuhan anggota kelompok wanita tani, dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan empat butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 5-10); sedang (skor 11-13); tinggi (skor 14-16)

(b) Ketersediaan sarana produksi diukur kemudahan memperoleh bibit, benih, pupuk, obat-obatan, dan media tanam oleh anggota kelompok wanit tani. Menggunakan skala ordinal berdasarkan empat aspek parameter/pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 6-9); sedang (skor 10-12); tinggi (skor 13-15).

(c) Suasana kelompok diukur berdasarkan manfaat mengikuti kegiatan kelompok, hubungan antar anggota kelompok, konflik serta rasa aman dan nyaman dalam kelompok, dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan empat butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 6-10), sedang (skor 11-13), tinggi (skor 14- 16)

(3) Peran ketua kelompok wanita tani adalah perilaku dari ketua kelompok untuk mengarahkan anggotanya dalam melaksanakan suatu kegiatan kelompok agar tercapainya tujuan bersama. Peran ketua kelompok terdiri dari:

(a) Memberikan motivasi diukur berdasarkan kemampuan ketua kelompok dalam menjalin komunikasi, memberikan penjelasan tentang pemanfaatan lahan pekarangan, manfaat yang dirasakan akibat dari dorongan/motivasi, dan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan yang dapat ditiru oleh anggota kelompok wanita tani untuk melaksanakan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan. Menggunakan skala ordinal berdasarkan lima butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 10-14); sedang (skor 15-17); tinggi (skor 18- 20).

(b) Memberikan informasi diukur berdasarkan kemampuan ketua kelompok wanita tani dalam mencari, menyediakan, menyampaikan informasi yang mudah dipahami oleh anggota kelompok serta diberikan secara langsung (tatap muka dan menggunakan handphone) kepada anggota kelompok tentang usaha tani dan pemanfaatan lahan pekarangan. Menggunakan

skala ordinal berdasarkan lima butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 6-10); sedang (skor 11-15), tinggi (skor 16-17).

(c) Mengalokasi sumber daya diukur berdasarkan kemampuan ketua kelompok wanita dalam mencari, menyediakan, menyebarluaskan sumber daya (sarana produksi), serta menjelaskan bantuan yang didapatkan. Menggunakan skala ordinal berdasarkan lima butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 8-13), sedang (skor 14-16), tinggi (skor 17-19).

(d) Memecahkan masalah diukur berdasarkan kemampuan ketua kelompok wanita tani untuk membantu anggota kelompok yang berhubungan dengan kesiapan, ramah, memberikan saran, dapat berlaku adil dan bijkasana dalam pemecahan masalah yang berhubungan dengan kelompok dan pemanfaatan lahan pekarangan, dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan lima butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 9-11); sedang (skor 12-16); tinggi (skor 17-20).

(4) Tujuan pemanfaatan lahan pekarangan merupakan dorongan atau maksud dari anggota kelompok wanita tani dalam melaksanakan kegiatan pemanfaatan lahan yang dilakukan dengan cara menanam berbagai tanaman (sayur, tanaman obat, buah-buahan) untuk memenuhi kebutuhan pangan, melatih keterampilan menanam, untuk meningkatkan pendapatan, serta menciptakan keindahan dan kenyamanan lingkungan. Tujuan pemanfaatan lahan pekarangan terdiri dari:

(a) Memenuhi kebutuhan pangan keluarga diukur hasil tanaman pekarangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi, dan sumber bahan makanan ketika musim paceklik/harga kebutuhan naik. Menggunakan skala ordinal berdasarkan tiga butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 4-6); sedang (skor 7-9), tinggi (skor 10-12).

(b) Melatih keterampilan menanam di pekarangan diukur berdasarkan kemampuan anggota kelompok wanita tani dalam menggunakan teknik budidaya tanaman (vertikultur, hidroponik, tabulampot), serta kemudahan dalam menggunakan teknik budidaya tersebut. Menggunakan skala ordinal berdasarkan lima butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 6-10); sedang (skor 11-13), tinggi (skor 14-17).

(c) Menambah pendapatan diukur berdasarkan hasil tanaman pekarangan dapat mengurangi biaya untuk membeli bahan pangan, pemanfaatan lahan pekarangan yang tidak membutuhkan modal yang besar, serta apabila dijual dapat menambah penghasilan. Menggunakan skala ordinal berdasarkan tiga butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 5-7); sedang (skor 8-10); tinggi (skor 11-12). (d) Menjaga kelestarian lingkungan keluarga diukur usaha yang dilakukan

oleh anggot kelompok wanita tani agar lingkungan keluarga tetap bersih, nyaman, aman serta dapat mengurangi polusi udara. Menggunakan skala ordinal berdasarkan empat butir pernyataan. Data dikelompokkan

menjadi tiga kategori yaitu rendah (skor 4-10); sedang (skor 11-13); tinggi (skor 14-16).

(5) Pemanfaatan lahan pekarangan berkelanjutan diukur berdasarkan keputusan untuk tidak melanjutkan, melanjutkan namun kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan lebih sedikit ketika adanya program P2KP, melanjutkan dan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan sama ketika adanya program P2KP, serta melanjutkan dan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan lebih besar dari ketika adanya program P2KP (perluasan), dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan 10 butir pernyataan. Data dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu rendah (tidak melanjutkan dan melanjutkan namun jenis dan jumlah tanaman kecil dari program P2KP dengan total skor yang diperoleh 12-25), sedang (melanjutkan sama dengan program P2KP dengan total skor yang diperoleh 26-31), tinggi (melanjutkan besar dari program P2KP/perluasan dan total skor yang diperoleh 32-36).

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Suatu alat ukur sudah dianggap valid apabila alat ukur tersebut dapat digunakan untuk mengukur secara tepat konsep yang ingin diukur, sehingga hasil dari pengukuran tersebut tidak menimbulkan keraguan. Kerlinger (2006) menyatakan bahwa validitas instrumen merupakan tingkat kesahihan suatu alat ukur untuk menunjukkan sejauh mana instrumen dapat diukur berdasarkan apa yang sebenarnya ingin diukur.

Singarimbun dan Effendi (2013) menyatakan bahwa ada beberapa cara menetapkan kesahihan atau keabsahan suatu alat ukur yang dipakai, yaitu: (1) validitas konstruk adalah seorang peneliti dapat menyusun tolok ukur operasional berdasarkan kerangka konsep, (2) validitas isi merupakan suatu alat pengukur ditentukan oleh sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep, (3) validitas eksternal merupakan alat ukur yang digunakan tidak berbeda hasilnya jika dibandingkan dengan alat ukur yang sudah valid, (4) validitas prediktif merupakan alat ukur yang digunakan untuk memprediksi kejadian di masa yang akan datang, (5) validitas budaya yaitu suatu alat ukur yang digunakan di negara dengan suku bangsa yang sangat bervariasi, (6) validitas rupa menunjukkan bahwa dari segi “rupanya” suatu alat pengukur tampaknya mengukur apa yang ingin diukur.

Menguji validitas instrumen dalam penelitian yang digunakan adalah cara validitas konstruk yaitu menyusun tolok ukur operasional dari kerangka konsep berdasarkan pemahaman atau logika berpikir dari pengetahuan ilmiah. Tahap uji validitas konstruk: (a) isi kuesioner disesuaikan dengan konsep dan teori yang telah dikemukakan oleh para ahli, (b) melakukan konsultasi dengan pembimbing dan pihak yang dianggap menguasai tentang materi dalam daftar pertanyaan/pernyataan pada kuesioner yang digunakan, (c) melakukan uji coba kepada anggota kelompok wanita tani yang memiliki karakteristik sama dengan anggota kelompok wanita tani responden, (d) melakukan uji statistik dengan menggunakan rumus korelasiproduct momentPearson sebagai berikut ini.

Keterangan

r : Koefisien korelasi n : Jumlah responden

ΣXi: Jumlah skor butir

ΣYi: Jumlah skor total

Uji instrumen dilakukan di Kecamatan Dramaga yaitu dengan mengambil 30 responden, yang terdiri dari 15 responden di kelompok wanita tani Anggrek di Desa Babakan Kecamatan Dramaga dan 15 responden di kelompok wanita tani Melati di Desa Cikarawang. Berdasarkan hasil analisis uji instrumentasi dapat diketahui bahwa semua butir pernyataan dalam instrumen tergolong valid. Hasil ini terlihat dari nilai r_hitung yang berkisar antara 0,401 sampai dengan 0,845, nilai ini lebih besar dari r_tabel yaitu 0,374 pada taraf nyata lima persen (Lampiran 21)

Reliabilitas merupakan tingkat kemantapan atau konsistensi dari suatu alat ukur penelitian. Menurut Singarimbun dan Effendi (2013) reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukkan tingkat suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan, apabila alat itu dipakai dua kali atau lebih untuk mengukur gejala yang sama dengan hasil pengukuran yang konsisten (Singarimbun & Effendi, 2013). Suatu alat ukur harus memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi agar dapat menghasilkan jawaban yang sesuai dengan tujuan penelitian. Reliabilitas diuji menggunakan metodealphaCronbach dengan rumus:

Keterangan

r = koefisien reliabilitasalpha

Cronbach

k = banyaknya butir pernyataan

2

b

Dokumen terkait