• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data yang digunakan dalam pengamatan ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud adalah data yang berasal dari pengamatan pribadi penulis, seperti pengamatan langsung di lapangan, wawancara dan pengisian kuisioner. Wawancara merupakan teknik pegumpulan data dalam metode survei yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subjek penelitian (Sekaran, 2006). Pertanyaan peneliti dan jawaban responden dalam penelitian ini dikemukakan secara tertulis melalui suatu kuisioner.

Kuisioner yang diajukan kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sifatnya tertutup (close question), yaitu jawaban kuisioner telah tersedia dan responden tinggal memilih beberapa alternatif dari pilihan jawaban yang telah disediakan. Kuisioner ini ditanyakan langsung oleh peneliti kepada responden.

Melalui hasil kuisioner dapat diketahui informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa pilihan alternatif kebijakan dan prioritas-prioritas yang diperlukan untuk pengelolaan perikanan.

Adapun distribusi responden pada penelitian ini dilakukan melalui pendekatan purposive sampling, yakni dengan menghubungi dan mewawancarai responden yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan yang luas tentang aktifitas penangkapan dan perkembangan hasil tangkapan ikan di perairan yang sedang diamati. Responden yang diwawancarai adalah pemangku kepentingan dalam pengelolaan perikanan ikan layang yaitu 2 (dua) dari instansi perguruan tinggi, 5 (lima) Ponggawa, 2 (dua) tokoh nelayan, 10 (sepuluh) sawi atau anak buah kapal, 1 (satu) tokoh adat, 1 (satu) kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS), 1 (satu) lembaga swadaya masyarakat (LSM), 1 (satu) penyuluh perikanan, 3 (tiga) staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton, 1 (satu) staf Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pasarwajo, 1 (satu) kepala pengawas sumber daya kelautan dan perikanan (PSDKP) Kabupaten Buton, 1 (satu) kepala Syabandar Kabupaten

34

Buton. Sedangkan untuk data sekunder yaitu data yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan serta studi literatur/pustaka berbagai instansi seperti lembaga perguruan tinggi.

Berkenaan dengan pengumpulan data, untuk pemutahiran data dilakukan pula konsultasi dengan para ahli dan atau para pengambil kebijakan lokal dalam mengklarifikasi kebenaran informasi yang terkumpul sehingga terjadi kesempurnaan informasi untuk memungkinkan pembobotan/penskoran dari 28 atribut keberlanjutan perikanan. Atribut dari dimensi sumber daya ikan, habitat dan ekosistem, teknik penangkapan ikan, sosial ekonomi, dan kelembagaan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Atribut yang Digunakan dalam Analisis RAPFISH

DIMENSI ATRIBUT YANG DIGUNAKAN

1. Sumberdaya ikan

(1) CPUE (2) Tren ukuran ikan (3) Proporsi ikan yuwana (juvenile) (4) Komposisi spesies hasil tangkapan (5) Range Collapse sumberdaya ikan (6) Spesies ETP (Endangered species, Threatened species, and Protected Species)

2. Habitat dan ekosistem

(1) Pencemaran perairan (2) Kecerahan (3) Eutrofikasi (4) Perubahan iklim terhadap kondisi perairan dan habitat

3. Teknik penangkapan ikan

(1) Penangkapan yang bersifat destruktif dan/atau ilegal (2) Modifikasi alat penangkapan dan alat bantu penangkapan (3) Fishing capacity dan Effort (4) Selektifitas penangkapan (5) Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal (6) Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan

4. Sosial dan ekonomi

(1) Partisipasi pemangku kepentingan (2) Konflik perikanan (3) Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk didalamnya TEK, Traditional ecological knowledge) (4) Kepemilikan Aset (5) Pendapatan Rumah Tangga Perikanan dan UMR (6) Ratio Tabungan

5. Kelembagaan

(1) Kepatuhan terhadap peraturan formal dalam pengelolaan perikanan (2) Kelengkapan aturan main dalam Pengelolaan Perikanan (3) Mekanisme pengambilan keputusan (4) Rencana pengelolaan perikanan (5) Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan (6) Kapasitas pemangku kepentingan

Sumber : Modifikasi manual EAFM dari (National Working Group, 2014)

Pengumpulan data atribut dari tiap dimensi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut (Modifikasi Manual National Working Group, 2014):

1. Dimensi sumberdaya ikan

1) Tren CPUE

Data yang digunakan adalah data statistik resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah berdasarkan data-data tangkapan yang dikumpulkan dari setiap pendaratan ikan. Data ini memuat data hasil tangkapan per upaya tangkap. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data indikator ini adalah dengan metode survei.

Survei untuk mendapatkan data atau informasi tentang jumlah hasil tangkapan maksimum untuk jenis alat tangkap purse seine. Data diperoleh dari data sekunder (laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara) serta data primer (wawancara dengan nelayan).

2) Tren ukuran ikan

Data yang diperlukan pada indikator ukuran ikan adalah data morfometrik ikan yaitu berupa panjang cagak (fork length) dalam santuan centimeter. Metode kuantitatif yang digunakan untuk pengumpulan indikator ini dengan mengukur secara langsung ikan layang (Decapterus spp.) menggunakan penggaris berskala.

Pengambilan sampel dilakukan secara acak terhadap 4-5 kapal yang mendarat. Data sampling yang telah di ukur sebanyak 1209 ekor ikan layang kemudian dibandingkan dengan data sekunder berupa data penelitian ukuran ikan layang terdahulu. Secara kualitatif, dilakukan melalui metode survei yang dilakukan melalui pendekatan purposive sampling, yakni dengan menghubungi dan mewawancarai dua orang tokoh

nelayan dan lima orang ponggawa yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan yang luas tentang perkembangan hasil tangkapan ikan di perairan yang sedang diamati.

3) Proporsi ikan yuwana (Juvenille) yang ditangkap

Pengumpulan data untuk indikator proporsi ikan yuwana (juvenille) dilakukan dengan metode sampling, wawancara dan data sekunder. Metode sampling dilakukan dengan mengukur panjang cagak ikan layang menggunakan penggaris

36

berskala. Pengukuran sampel pada ikan layang diambil dari ukuran terkecil hingga ukuran terbesar hasil tangkapan purse seine, kemudian dibandingkan dengan data sekunder terkait dengan ukuran juvenille ikan layang (Decapterus spp.). Selain itu, wawancara dilakukan dengan pendekatan purposive sampling yaitu mewawancarai lima orang ponggawa dan sepuluh orang sawi (anak buah kapal) yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan tentang hasil tangkapan ikan di perairan yang sedang diamati.

4) Komposisi hasil tangkapan

Pengumpulan data untuk indikator komposisi hasil tangkapan dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Pegumpulan data secara kuantitatif dilakukan dengan cara pendataan secara langsung terhadap berat total perjenis ikan yang didaratkan dari hasil tangkapan purse seine. Pengambilan sampling dilakukan terhadap lima kapal purse seine selama Bulan Januari 2018 hingga April 2018.

Secara kualitatif data dikumpulkan melalui purposive sampling yaitu dengan menghubungi dan mewawancarai lima ponggawa dan satu staf Pangkalan Pendaratan Ikan yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan tentang perkembangan hasil tangkapan ikan di perairan yang sedang diamati.

5) Range collapse” sumber daya ikan

Informasi mengenai range collapse sumberdaya ikan dilakukan dengan model kuantitatif yakni dengan metode survei. Proxi terhadap range collapse bisa dilihat dari seberapa sulitnya atau jauhnya nelayan untuk mencari ikan. Secara kualitatif dilakukan melalui wawancara (purposive sampling) terhadap lima orang ponggawa dan sepuluh orang sawi / anak buah kapal.

6) Spesies ETP

Metode Spesies ETP yang digunakan untuk pengumpulan data indikator ini adalah dengan metode survei. Survei untuk mendapatkan data atau informasi tentang ikan yang termasuk kategori Endangered species, Threatened species, and

Protected species berdasarkan jenis alat tangkap yang digunakan, dilakukan dengan pendekatan purposive sampling, yakni dengan menghubungi dan mewawancarai langsung lima orang ponggawa dan sepuluh orang sawi/ anak buah kapal yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan tentang produksi hasil tangkapan.

2. Dimensi habitat dan ekosistem 1) Pencemaran perairan

Pengumpulan data untuk indikator pencemaran perairan dilakukan dengan metode survei atau pengamatan secara visual di lokasi fishing ground yakni melihat secara langsung lokasi perairan seperti warna perairan dimana warna air yang tercemar cenderung berubah warna dari warna yang alami seperti akibat kekeruhan atau bahan-bahan pencemar yang terlarut di dalamnya. Serta dapat dideteksi dengan indra penciuman, karena akan memberikan bau yang menyengat.

2) Kecerahan air

Pengumpulan data indikator kecerahan air dilakukan melalui metode survei.

Survei yang dilakukan dengan menggunakan secchi disk untuk mengukur secara langsung kecerahan air di delapan titik lokasi yang menjadi daerah penangkapan ikan layang. Selain itu dilakukan dengan wawancara (purposive sampling) yakni responden yang diwawancarai merupakan nelayan tangkap purse seine yang memiliki pengetahuan dan informasi mengenai kecerahan air di lokasi penelitian.

3) Eutrofikasi

Pengumpulan data indikator eutrofikasi menggunakan data citra satelit hasil deteksi MODIS yang diunduh dari situs http://www.oceancolor dianalisis menggunakan software SeaDAS (SeaWIFS Data Analysis Sistem) versi 5.2 untuk mengetahui konsentrasi klorofil a di lokasi perairan yang diteliti. Pengkuran menggunakan citra satelit dilakukan dari bulan Januari 2018 sampai bulan April 2018.

38

4) Perubahan iklim terhadap kondisi perairan dan habitat

Untuk mengetahui bahwa suatu wilayah mendapat dampak dari perubahan iklim dilakukan dengan survei lapangan dan pengumpulan data sekunder untuk monitoring dalam jangka waktu yang panjang.

Penentuan skor dari dampak perubahan iklim dilakukan melalui dua cara yaitu state of knowledge level dan state of impact. State of knowledge level digunakan dalam rangka mengetahui apakah suatu wilayah mendapat dampak dari adanya perubahan iklim atau tidak. Sedangkan state of impact lebih ditekankan pada dampak perubahan iklim terhadap habitat penting perairan. Kegiatan ini dilakukan dengan wawancara kepada staf Dinas Kelautan dan Perikanan, lima orang ponggawa, sepuluh orang sawi/ anak buah kapal dan dua orang tokoh nelayan.

3. Dimensi teknik penangkapan ikan

1) Penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan/atau ilegal

Data yang diperlukan untuk indikator metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif adalah jumlah kasus pelanggaran penangkapan ikan yang merusak dan ilegal yang terjadi setiap tahun. Data dapat diperoleh dari data primer berupa wawancara dengan nelayan, staf Dinas Kelautan dan Perikanan, serta tokoh adat, LSM atau POKMASWAS yang memiliki informasi dan pengetahuan tentang kondisi penangkapan ikan di perairan Kabupaten Buton yang diperkuat dengan bukti dan/atau pengamatan langsung dilapangan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kabupaten Buton.

2) Modifikasi alat penangkapan dan alat bantu penangkapan

Data yang diperlukan untuk indikator modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan adalah data panjang ikan target saat pertama kali matang gonad (length at first maturity atau Lm) dan data panjang ikan target yang dominan tertangkap dalam satu trip operasi penangkapan ikan (Lc). Data dapat diperoleh dari data primer yaitu melakukan sampling pengukuran langsung rata-rata panjang cagak

serta tingkat kematangan gonad (TKG) ikan target yang tertangkap dalam satu trip operasi penangkapan ikan, hal ini dilakukan dengan pendekatan purposive sampling, yakni pemilihan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan tertetu, seperti ketersediaan waktu survei dan jumlah hasil tangkapan yang didapat.

Pengumpulan data juga dapat dilakukan dengan data sekunder berupa yaitu laporan hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan length at first maturity.

3) Fishing capacity dan effort

Pengumpulan data indikator fishing capacity dan effort diperoleh dari data sekunder berupa laporan dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, laporan dari PPI Pasarwajo dan data perimer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan nelayan untuk mendapatkan informasi tentang jumlah tangkapan maksimum untuk jenis alat tangkap purse seine.

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data indikator ini adalah dengan metode survei dan wawancara. Survei untuk mendapatkan data atau informasi tentang jumlah hasil tangkapan maksimum untuk jenis alat tangkap purse seine dilakukan dengan pendekatan purposive sampling, yakni pemilihan sampel dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan responden yang akan diwawancarai dianggap memiliki informasi yang cukup tentang produksi hasil tangkapan ikan.

4) Selektifitas penangkapan

Data yang diperlukan untuk indikator selektifitas penangkapan adalah data jumlah keseluruhan alat tangkap purse seine yang ada di Kabupaten Buton dan data alat tangkap purse seine yang tergolong tidak atau kurang selektif. Data dapat diperoleh melalui data sekunder berupa laporan dari Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Data primer diperoleh dari sampling pengukuran langsung ikan yang menjadi hasil tangkapan nelayan serta wawancara dengan nelayan untuk mengetahui tentang keragaman hasil tangkapan, daerah penangkapannya serta lama waktu pengoperasiannya.

40

5) Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal

Data yang diperlukan untuk indikator kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal adalah data jumlah sampel dokumen legal kapal purse seine yang diperiksa di wilayah perairan Kabupaten Buton, dan data jumlah dokumen legal kapal purse seine yang tidak sesuai dengan fakta fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan yang diperiksa. Data dapat diperoleh dari data sekunder berupa data dari Kepala Syahbandar dan Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buton, data primer berupa melakukan pemeriksaan sampel di lapangan untuk mengetahui tingkat kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legalnya.

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data indikator ini adalah dengan metode survei. Penentuan jumlah sampel ditentukan sebesar 5 unit kapal atau 10%

(pilih yang paling besar jumlahnya) dari populasi kapal penangkapan ikan yang memiliki dokumen legal disuatu wilayah perairan. Pemilihan sampelnya dilakukan dengan pendekatan purposive sampling. Survei dilakukan untuk memeriksa tingkat kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legalnya.

6) Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan

Data yang diperlukan untuk indikator sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan adalah data jumlah sampel kapal purse seine yang diperiksa di wilayah perairan Kabupaten Buton, dan data jumlah sampel kapal purse seine yang dioperasikan oleh awak kapal bersertifikat sesuai dengan peraturan. Data dapat diperoleh dari data sekunder berupa data dari kepala Syahbandar Kabupaten Buton.

Data primer dperoleh dengan melakukan pemeriksaan sampel dilapangan untuk mengetahu jumlah kapal penangkapan ikan yang dioperasikan oleh awak kapal bersertifikat sesuai dengan peraturan.

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data indikator ini adalah dengan metode survei. Penentuan jumlah sampel ditentukan sebesar 5 unit kapal atau 10%

(pilih yang paling besar jumlahnya) dari populasi kapal penangkapan ikan yang memiliki dokumen legal disuatu wilayah perairan. Pemilihan sampelnya dilakukan dengan pendekatan purposive sampling. Survei dilakukan untuk memeriksa jumlah kapal penangkapan ikan yang dioperasikan oleh awak kapal bersrtifikat.

4. Dimensi sosial-ekonomi

1) Partisipasi pemangku kepentingan

Data yang dibutuhkan untuk indikator ini merupakan data primer yang berasal dari wawancara dengan responden pemangku kepentingan (rumah tangga perikanan, staf Dinas Kelautan dan Perikanan, tokoh nelayan, tokoh adat. LSM, dan POKMASWAS). Pewawancara menanyakan langsung kepada kepala rumah tangga perikanan tentang frekuensi keikutsertaan pemangku kepentingan dalam kegiatan pengelolaan sumber daya ikan kemudian dibandingkan dengan jumlah seluruh kegiatan pengelolaan sumberdaya ikan(bulanan, tahunan) yang dilakukan di lokasi penelitian.

2) Konflik perikanan

Data yang dibutuhkan untuk indikator ini merupakan data primer yang bersal dari wawancara dengan responden rumah tangga perikanan. Pewawancara menanyakan secara langsung kepada kepalah rumah tangga perikanan tentang frekuensi terjadinya konflik pemanfaatan sumber daya ikan.

3) Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pemanfaatan sumber daya ikan (termasuk didalamnya TEK, traditional ecological knowledge)

Data yang dibutuhkan untuk atribut ini merupakan data primer yang berasal dari wawancara terhadap responden rumah tangga perikanan. Pewawancara dapat langsung menanyakan langsung kepada kepala rumah tangga perikanan tentang keberadaan dan keefektifan penerapan pengetahuan lokal dalam kegiatan

42

pengelolaan sumberdaya ikan kemudian dibandingkan dengan hasil observasi lapangan mengenai keefektifan penerapan pengetahuan lokal dalam kegiatan pengelolaan sumberdaya ikan yang dilakukan di lokasi penelitian.

4) Kepemilikan aset

Data yang dibutuhkan untuk indikator ini merupakan data primer yang berasal dari wawancara dengan responden rumah tangga perikanan. Pewawancara dapat menanyakan langsung kepada kepala kepala rumah tangga perikanan tentang kepemilikan aset produktif saat ini kemudian dibandingkan dengan kepemilikan aset produktif tahun sebelumnya. Kepemilikan aset tidak hanya terbatas pada aset produktif perikanan, tetapi aset produktif lainnya, misalnya aset perlengkapan rumah tangga, tanah, lahan pertanian dan sebagainya.

5) Pendapatan rumah tangga perikanan dan UMR

Data yang dibutuhkan untuk indikator ini merupakan data primer yang berasal dari wawancara dengan responden rumah tangga perikanan. Pewawancara dapat menanyakan langsung kepada kepala kepala rumah tangga perikanan tentang sumber pendapatan keluarganya. Tetapi harus ditanyakan per musim seperti musim puncak, musim sedang dan musim paceklik serta lama waktu terjadinya. Bila responden rumah tangga perikanan sulit menjawab pendapatan perbulan, maka dapat dilakukan dengan pendekatan analisis usaha, yaitu menanyakan perolehan hasil tangkapan ikan secara bertahap, yaitu dengan cara menanyakan hasil tangkapan ikan setiap musim tangkap ikan dan frekuensi terjadinya.

6) Rasio tabungan

Data yang dibutuhkan untuk indikator ini merupakan data primer yang berasal dari wawancara dengan responden rumah tangga perikanan. Pewawancara dapat menanyakan langsung kepada kepala kepala rumah tangga perikanan tentang selisih pendapatan dan pengeluaran keluarganya, kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara indikator pendapatan rumah tangga perikanan. Pertanyaan tentang

selisih pendapatan dan pengeluaran rumah tangga nelayan dapat dilakukan secara langsung per satuan waktu (misalnya hari, minggu, bulan, musim ataupun tahun).

5. Dimensi kelembagaan

1) Kepatuhan terhadap prinsip-prinsip perikanan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perikanan yang telah ditetapkan baik secara formal maupun non formal

Metode pengukuran data indikator ini dilakukan dengan menggunakan monitoring ketaatan . Monitoring ketaatan ini ditandai dengan dua hal, pertama, berdasarkan laporan/catatan terhadap pelanggaran formal dari Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kabupaten Buton. Data yang diperlukan untuk indikator kepatuhan ini adalah frekuensi terjadinya pelanggaran hukum dalam rentang waktu setahun operasi pengawasan perikanan. Metode kedua dilakukan dengan wawancara/kuisioner (key person) terhadap pelanggaran non formal termasuk ketaatan terhadap peraturan sendiri maupun peraturan di atasnya.

Data yang dibutuhkan berupa data sekunder yang diperoleh dari laporan pengawas sumber daya kelautan dan perikanan. Selain itu, laporan juga diperoleh melalui data primer berupa laporan dari nelayan, tokoh adat, POKMASWAS serta masyarakat pesisir lainnya yang diperkuat dengan bukti dan/atau pengamatan langsung di lapangan pada saat survei terhadap pelanggaran dalam aturan terkait pengelolaan perikanan. Data sekunder untuk aturan non formal juga bisa didapatkan dari tokoh adat setempat.

Metode yang digunakan untuk pengumpulan data ini indikator ini adalah dengan dua metode: 1) monitoring kepatuhan. Hal ini dilakukan dengan mencatat secara langsung pelanggaran hukum yang terjadi atau melihat catatan pelanggaran hukum yang ada pada pengawas perikanan. 2) metode survei yang dilakukan melalui pendekatan purposive sampling, yakni dengan menghubungi dan mewawancarai tokoh adat dan pengawas perikanan yang dianggap memiliki

44

informasi dan pengetahuan tentang pelanggaran hukum terhadap peraturan yang berlaku.

2) Kelengkapan aturan main dalam pengelolaan perikanan

Untuk melihat ada atau tidaknya penegakkan aturan main serta efektifitasnya, metode yang digunakan adalah survei dengan melakukan wawancara dengan menggunakan kuisioner kepada Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Lembaga Swadaya Masarakat (LSM), tokoh adat, dan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS). Poin utama wawancara harus memuat tiga hal penting yaitu: 1) Ada tidaknya penegakkan aturan dan efektifitasnya; 2) Ketersediaan alat seperti kapal, senjata untuk keamanan dan peralatan lainnya serta ketersediaan orang (petugas) yang mengawasi; 3) Bentuk dan intensitas penindakan (teguran maupun hukuman).

3) Mekanisme pengambilan keputusan

Data yang dibutuhkan untuk pengumpulan mekanisme pengambilan keputusan berupa identifikasi keputusan-keputusan baik ditingkat pemerintah maupun pemerintah daerah terkait dengan pengelolaan perikanan dan praktek dari keputusan itu sendiri, apakah dijalankan atau tidak. Jika dijalankan sudah sejauh mana keputusan tersebut berjalan, apakah sudah penuh dijalankan atau setengahnya.

Pertanyaan-pertanyaan untuk menggali ada tidaknya mekanisme pengambilan keputusan dilakukan melalui survei. Metode data dilakukan dengan survei melalui kegiatan analisis dokumen dan analisis stakeholders melalui wawancara atau kuisioner kepada staf Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Syahbandar dan Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kabuptaen Buton. Survei untuk mendapatkan data atau informasi tentang ada tidaknya keputusan dilakukan dengan pendekatan purposive sampling.

4) Rencana pengelolaan perikanan

Metode penggalian data dilakukan dengan survei melalui teknik wawancara/

kuisioner dengan menggali pertanyaan seputar ketersediaan RPP di suatu daerah.

Setelah memastikan keberadaan RPP, pertanyaan penting berikutnya adalah apakah RPP tersebut dijalankan atau tidak. Pemilihan responden dilakukan secara purposive sampling, artinya wawancara dilakukan secara sengaja dengan asumsi

pihak yang ditanya mengetahui banyak informasi. Responden dapat berasal dari pihak-pihak pembuat keputusan yang mengetahui banyak tentang informasi dan kebijakan yang ada yakni dari staf Dinas Kelautan dan Perikanan, Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, tokoh adat serta tokoh nelayan.

5) Tingkat sinergisitas kebijakan dan kelembagaan pengelolaan perikanan Metode pengambilan data dilakukan dengan teknik survei dengan metode penggalian data melalui wawancara/kuisioner. Selain itu perlu dilakukan juga analisis data sekunder atau analisis dokumen terkait. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pihak yang ditanya merupakan pihak yang menguasai banyak informasi dan pembuat keputusan. Survei dilakukan untuk memastikan di lapangan apakah terjadi benturan kepentingan yang memicu terjadinya konflik pada level bawah. Untuk memeriksa ada tidaknya sinergi antar lembaga, wawancara dilakukan dengan tokoh adat, tokoh nelayan, POKMASWAS, LSM, Kepala Syahbandar, Staf Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Pengawas Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kabupaten Buton.

6) Kapasitas pemangku kepentingan

Data yang diperlukan untuk seberapa jauh upaya peningkatan kapasitas dilakukan. Pengukuran dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pelatihan/

workshoop/ seminar/ shoot course yang diikuti ole pemangku kepentingan dan materi apa saja yang diterimanya. Semakin banyak upaya peningkatan kapasitas dilakukan, maka semakin tinggi peluang keberhasilannya. Pendataan dapat

46

dilakukan dengan wawancara dengan pihak terkait atau pemangku kepentingan seperti tokoh adat, tokoh nelayan dan nelayan pada umumnya. Teknik pencarian informasi dapat dilakukan dengan teknik purposive sampling. Kapasitas pemangku kepentingan diukur dari frekuensi pelaksanaan pelatihan dalam pengelolaan perikanan.

Dokumen terkait