• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.5 Metode RGEC

Sesuai PBI No. 13/1/PBI/2011 Tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, Bank Indonesia telah menetapkan sistem penilaian Tingkat Kesehatan Bank berbasis risiko menggantikan penilaian CAMELS. Metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital) ini berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2012 yaitu untuk penilaian tingkat kesehatan bank periode yang berakhir 31 Desember 2011 dan sekaligus mencabut PBI No. 6/10/PBI/2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan SE BI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dengan metode CAMELS.

17 Faktor – faktor penilai dalam metode RGEC digolongkan kedalam 4 faktor yaitu Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, dan Capital.

2.1.5.1 Risk Profile

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 Pasal 7 Profil risiko (risk profile) merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam operasional bank yang dilakukan terhadap 8 risiko, yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan, risiko reputasi.

a. Penilaian Risiko Inheren

Penilaian Risiko Inheren merupakan penilaian risiko yang melekat pada kegiatan bisnis bank, baik yang dapat dikuantifikasikan maupun yang tidak, yang berpotensi mempengaruhi posisi keuangan bank. Inheren risk dapat berupa parameter yang bersifat ex-post (telah terjadi) maupun parameter yang bersifat ex-ante (belum terjadi). Penetapan tingkat Risiko Inheren atas masing-masing jenis risiko mengacu pada prinsip-prinsip umum penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum.

Penetapan tingkat risiko Inheren untuk masing-masing jenis risiko dikategorikan ke dalam peringkat 1 (low), peringkat 2 (low to moderate), peringkat 3 (moderate), peringkat 4 (moderate to high), dan peringkat 5 (high). Berikut ini adalah

18 parameter/indikator yang wajib dijadikan acuan oleh bank dalam menilai Risiko Inheren:

1. Risiko Kredit

Risko Kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.

Dalam menilai Risiko Inheren atau Kredit, parameter/indikator yang digunakan adalah komposisi portofolio aset dan tingkat konsentrasi, kualitas penyediaan dana dan kecukupan pencadangan, strategi penyediaan dana dan sumber timbulnya penyediaan dana, dan faktor eksternal.

Indikator yang digunakan dalam mengukur risiko kredit adalah Non Performing Loan (NPL). NPL merupakan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah dibandingkan dengan total kredit yang diberikan bank. Fungsi mengukur rasio ini adalah untuk mengetahui besarnya kredit bermasalah bank, sebagai acuan agar lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. NPL dihitung dengan rumus:

19 2. Risiko Pasar

Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Risiko pasar meliputi antara lain risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko ekuitas, dan risiko komoditas. Dalam menilai Risiko Inheren dalam Risiko Pasar, parameter/indikator yang digunakan adalah volume dan komposisi portofolio, kerugian potensial (potential loss) risiko suku bunga dalam Banking Book (interest rate risk in banking book), strategi dan kebijakan bisnis.

Risiko bunga adalah potensi timbulnya kerugian akibat bergeraknya suku bunga pasar ke arah yang berlawanan dengan ekspektasi posisi portofolio bank. Indikator yang digunakan untuk mengukur risiko pasar adalah rasio Interest Rate Risk (IRR) berdasarkan SE BI 13/24/DPNP/2011 dengan rumus:

Menurut Indrawati (2008) bank yang memiliki rasio IRR di atas 100% adalah bank yang mampu mengoperasikan dana hutang yang diterima oleh nasabah , baik dalam bentuk giro, deposito, ataupun dana pihak ketiga, sehingga risiko tingkat bunganya akan meningkat.

20 Tabel 2 - 1

Klasifikasi Aktiva Dan Pasiva Berdasarkan Sensitivitas Suku Bunga

No RSA

(Rate Sensitive Asset)

RSL

(Rate Sensitive Liabilities) 1 Surat berharga Bank

Indonesia

Giro 2 Giro pada bank lain Tabungan

3 Obligasi penyertaan Sertifikat deposito 4 Obligasi pemerintah Deposito berjangka 5 Penempatan pada bank lain Simpanan dari bank lain 6 Surat-surat berharga Pinjaman yang diterima 7 Kredit yang diberikan -

8 Penyertaan -

Sumber: Rifai dkk (2007) 3. Risiko Likuiditas

Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko ini disebut juga Risiko Likuiditas Pendanaan (Funding Liquidity Risk). Risiko likuiditas juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah.

Risiko ini disebut juga Risiko Likuiditas Pasar (Market Liquidity Risk). Dalam menilai risiko inheren atas risiko likuiditas, parameter/indikator yang digunakan adalah komposisi dari aset,

21 kewajiban, dan transaksi rekening administratif, konsentrasi dari aset dan kewajiban, kerentanan pada kebutuhan pendanaan, dan akses pada sumber-sumber pendanaan.

Indikator yang digunakan untuk mengukur rasio likuiditas adalah Loan to Deposit Ratio (LDR) yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima bank.

Menurut Dendawijaya (2001) Loan to Deposit Ratio (LDR) menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah, kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Rasio ini juga merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank.

Semakin tinggi Loan to Deposit Ratio (LDR) maka laba perusahaan semakin meningkat (dengan asumsi bank tersebut mampu menyalurkan kredit dengan efektif, sehingga jumlah kredit macetnya akan kecil).

22 Nilai LDR dapat ditentukan melalui suatu formula yang ditentukan oleh Bank Indonesia melalu Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001 yaitu:

4. Risiko Operasional

Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Dalam menilai Risiko Inheren atas risiko operasional, parameter/indikator yang digunakan adalah, karakteristik dan kompleksitas bisnis, sumber daya manusia, teknologi informasi dan infrastruktur pendukung, fraud baik internal maupun eksternal, dan kejadian eksternal.

5. Risiko Hukum

Risiko Hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai. Dalam menilai risiko inheren atas risiko pasar, parameter/indikator yang

23 digunakan adalah faktor litigasi, faktor kelemahan perikatan, dan faktor ketiadaan /perubahan perundang-undangan.

6. Risiko Stratejik

Risiko Stratejik adalah adalah risiko akibat ketidaktepatan bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Dalam menilai risiko inheren atas risiko stratejik, parameter/indikator yang digunakan adalah kesesuaian strategi bisnis bank dengan lingkungan bisnis, strategi berisiko rendah dan berisiko tinggi, posisi bisnis bank dan pencapaian rencana bisinis bank.

7. Risiko Kepatuhan

Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Sumber risiko kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan ataupun standar bisnis yang berlaku umum. Dalam menilai risiko inheren atas risiko kepatuhan, parameter/indikator

24 yang digunakan adalah jenis dan signifikasi pelanggaran yang dilakukan, frekuensi pelanggaran yang dilakukan atau track record ketidakpatuhan bank, dan pelanggaran terhadap ketentuan atau standar bisnis yang berlaku umum untuk transaksi keuangan tertentu.

8. Risiko Reputasi

Risiko Reputasi adalah risko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengkategorikan sumber risiko reputasi bersifat tidak langsung (blow the line) dan bersifat langsung (above the line). Dalam menilai risiko inheren atas risiko reputasi, parameter/indikator yang digunakan adalah pengaruh reputasi negatif dari pemilik bank dan perusahaan terkait, pelanggaran etika bisnis, kompleksitas produk dan kerjasama bisnis bank, frekuensi, materialitas, dan eksposur pemberitaan negatif bank, serta frekuensi dan materialitas keluhan nasabah.

Penelitian ini mengukur faktor Risk Profile dengan menggunakan tiga indikator yaitu faktor risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas. Hal tersebut dikarenakan pada risiko diatas peneliti dapat memperoleh data kuantitatif yang tidak dapat diperoleh

25 pada faktor risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi.

b. Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko

Penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko mencerminkan penilaian terhadap kecukupan sistem pengendalian risiko yang mencakup seluruh pilar penerapan manajemen risiko sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Penilaian Kualitas Penerapan manajemen Risiko bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan manajemen risiko bank sesuai prinsip-prinsip yang diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum. Penilaian kualitas penerapan manajemen risiko merupakan penilaian terhadap empat aspek yang saling terkait, yaitu:

1. Tata Kelola Risiko

Tata kelola risiko mencakup evaluasi terhadap perumusan tingkat risiko yang akan diambil (risk appetite) dan toleransi risiko (risk tolerance) serta kecukupan pengawasan aktif oleh Dewan Komisaris dan Direksi termasuk pelaksanaan kewenangan dan tanggungjawab Dewan Komisaris dan Direksi.

2. Kerangka Manajemen Risiko

Kerangka manajemen risiko mencakup evaluasi terhadap strategi manajemen risiko searah dengan tingkat risiko yang

26 akan diambil dan toleransi risiko, kecukupan perangkat organisasi dalam mendukung terlaksananya manajemen risiko secara efektif termasuk kejelasan wewenang dan tanggungjawab, dan kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit.

3. Proses Manajemen Risiko, Kecukupan Sumber Daya Manusia, dan Kecukupan Sumber Informasi Manajemen

Proses manajemen risiko, kecukupan sumber daya manusia, dan kecukupan sumber informasi manajemen mencakup evaluasi terhadap proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko, kecukupan sistem informasi manajemen, serta kecukupan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia dalam mendukung efektivitas proses manajemen risiko.

4. Kecukupan Sistem Pengendalian Manajemen

Kecukupan sistem pengendalian manajemen mencakup evaluasi terhadap kecukupan sistem pengendalian intern dan kecukupan kaji ulang oleh pihak independen (independent review) dalam bank baik oleh Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) maupun oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI).

2.1.5.2 Good Corporate Governance (GCG)

Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011 Pasal 7 ayat 2 penilaian terhadap faktor GCG sebagaimana dimaksud dalam

27 pasal 6 huruf b merupakan penilaian terhadap manajemen bank atas prinsip-prinsip GCG. Adapun prinsip-prinsip GCG tersebut diantaranya: keterbukaan, akuntabilitas, tanggungjawab, independensi serta kewajaran.

Forum for Corporate Governance (FCGI) dalam publikasi yang pertamanya (dalam Jurnal Nominal/Volume 1 Nomor 1/Tahun 2012) menggunakan definisi Cadbury Committee yaitu “seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan”.

Penilaian untuk faktor Good Corporate Governance berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.15/15/DNDP/2013 dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Aspek Penilaian GCG

No Aspek Yang Dinilai Bobot

1

Pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Dewan

Komisaris 10%

2 Pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Direksi 20%

3 Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite 10%

28 4 Penanganan benturan kepentingan 10%

5 Penerapan fungsi kepatuhan bank 5%

6 Penerapan fungsi audit intern 5%

7 Penerapan fungsi audit ekstern 5%

8

Penerapan fungsi manajemen risiko dan

pengendalian intern 7,5%

9

Penyediaan dana kepada pihak terkait dan debitur

besar 7,5%

10

Transparansi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan

pelaksanaan GCG dan pengendalian internal

15%

11 Rencana strategis bank 5%

Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No.15/15/DNDP/2013

Good Corporate Governance (GCG) adalah faktor penilaian terhadap kinerja manajemen bank secara internal. Penilaian faktor GCG ini dinilai dengan Self Assessment. Penilaian ini telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Penilaian Good Corporate Governance pada perbankan di Indonesia dapat dilihat melalui laporan keuangan yang telah dipublikasikan setiap tahunnya.

2.1.5.3 Earning

29 Rentabilitas merupakan aspek yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan keuntungan. Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode. Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara rentabilitas yang terus meningkat diatas standar yang telah ditetapkan.

Penilaian ini meliputi juga hal-hal seperti:

a. Rasio laba terhadap Total Aset (ROA), dan

b. Perbandingan biaya operasi dengan pendapatan operasi (BOPO)

2.1.5.4 Capital

Aspek ini menilai permodalan yang dimiliki oleh bank yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank.

Penilaian tersebut didasarkan kepada CAR (Capital Adequacy Ratio) yang telah ditetapkan BI. Perbandingan rasio CAR adalah rasio modal terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

Dokumen terkait