• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Meningkatkan Kemampuan Membaca

1. Meningkatkan

“Meningkatkan berarti menaikkan (derajat, taraf, dan sebagainya); mempertinggikan; memperhebat (produksi dan sebagainya); mengangkat diri. Peningkatan; proses, perbuatan, cara meningkatkan (usaha kegiatan dan sebagainya)” (Suharso dan Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia: 574).

Meningkatkan berasal dari kata tingkat yang dapat diartikan sebagai jenjang, sesuatu yang menunjukkan tinggi rendah tentang kemajuan dan kelas. Meningkatkan diartikan sebagai usaha menuju kemajuan dari yang sudah biasa atau ada menjadikan dan membuat jadi lebih baik. Meningkatkan merupakan kata keija yang dapat berarti menaikkan derajat, menaikkan taraf, mempertinggi, memperbanyak produksi, mengangkat diri, dan sebagainya (Fajri dan Senja, Kamus Besar Bahasa Indonesia:820).

Berdasarkan makna di atas, maka kata meningkatkan bermakna sebelumnya ada usaha, sudah ada pada tingkatan tertentu, sedangkan setelah ada usaha diharapkan ada kenaikan tingkatan ke arah yang lebih tinggi, dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa sebelum adanya upaya meningkatkan

kemampuan membaca, sebelumnya siswa sudah mempunyai kemampuan membaca.

2. Kemampuan

Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang berarti kuasa, sanggup melakukan sesuatu; dapat; berada, kaya (Suharso dan Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia: 308).

3. Membaca

Menurut Suharso dan Retnoningsih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia halaman 64, membaca berasal dari kata baca yang berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) seperti: ia sedang membaca surat dari kekasihnya; mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; mengucapkan; mengetahui; meramalkan; menduga; memperhitungkan.

Syarifuddin (2004;20) menyatakan bahwa:

M embaca dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban. Ilmu, baik yang kasbi

{acquired knowledge) maupun ladunni (abadi, perennial) tidak dapat dicapai tanpa terlebih dulu melalui qiraat dalam arti yang luas.

Berdasar makna di atas maka membaca adalah kemampuan linguistik verbal yang dalam penyampaiannya melibatkan berbagai organ tubuh

22

Agar siswa mendapatkan hasil maksimal dalam membaca, maka guru harus melakukan beberapa usaha karena keberhasilan setiap proses pembelajaran juga tergantung dari gurunya. Mustofa ( 2005:106) menyatakan bahwa membaca membuat anak memahami dirinya sendiri dan orang lain. Tujuan itu tidak akan terwujud tanpa adanya perhatian dari guru. Perhatian dari guru yang dimaksud adalah:

a. Guru harus menumbuhkan kebiasaan gemar membaca pada diri anak/siswa secara berkesinambungan dengan menyediakan bacaan-bacaan yang bermanfaat.

b. Guru harus membekali anak ketrampilan dan kemampuan yang dapat membuat bacaan anak/siswa lebih baik.

Oleh karena itu guru harus menaruh perhatian yang besar untuk memperbaiki dasar-dasar bacaan siswa yang salah dengan cara yang bijaksana, sehingga siswa dapat menerima dengan senang dan suka rela dan pada gilirannya anak/siswa gemar membaca.

Menurut Surakhmad (1982:134-135), dibutuhkan persiapan-persiapan yang harus ditempuh oleh seorang guru untuk mencapai keberhasilan dalam

pembelajaran, yaitu:

a. Persiapan terhadap situasi umum

Sebelum mengajar guru harus memiliki pengetahuan mengenai situasi yang akan dihadapi, misalnya tempat, suasana, waktu, dan variabel-variabel lain yang berpengaruh.

b. Persiapan terhadap siswa yang akan diajar

Mutlak bagi guru memiliki gambaran tentang karakteristik murid yang akan diajar. Misalnya fisik, pengetahuan, watak, sifat-sifat, baik secara individu maupun klasikal/kelompok. Dengan mengetahui karakteristik murid, guru dapat menyusun bahan pelajaran dan memotivasi murid-murid/siswanya.

c. Persiapan dalam tujuan yang akan dicapai

Sebelum mengajar, guru harus merumuskan tujuan dalam perencanaannya, yang mana tujuan itu harus khusus dan riil, sesuai arah yang harus dikuasai pada akhir pembelajaran.

d. Persiapan dalam bahan yang akan diajarkan

Guru harus mengetahui luas {scope) dan urutan {sequence) bahan yang akan diajarkan dengan memperhatikan situasi umum, keadaan murid, dan tujuan yang hendak dicapai, sehingga siswa dapat menguasai bahan secara integral dan fungsional.

e. Persiapan dalam metode mengajar

Penggunaan metode merupakan pokok dari pembelajaran dengan memperhitungkan situasi, bahan, siswa, tujuan, dan modifikasi berbagai

metode.

24

Setiap proses interaksi membutuhkan alat bantu dalam bentuk peraga pengajaran, guna memaksimalkan dan mempertinggi efisiensi peristiwa belajar,

g. Persiapan dalam evaluasi

Dengan mengetahui tujuan dan situasi umum, guru harus bisa mengevaluasi keberhasilan yang diperoleh. Dengan evaluasi akan diperlukan pengayaan dan perbaikan.

Berdasarkan pendapat di atas jelaslah bahwa keberhasilan siswa dalam mengembangkan kemampuan membacanya, sangat membutuhkan peran guru dalam membimbing, memfasilitasi, memotivasi, dan mengevaluasi keberhasilan siswanya.

Selain kesiapan guru, dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca, diperlukan kesiapan-kesiapan siswa. Menurut Mustofa (2005:31- 40) kesiapan-kesiapan tersebut meliputi kesiapan fisik, psikologis, pendidikan, dan IQ:

a. Kesiapan fisik, maksudnya anak yang sehat akan lebih cepat belajar

membaca.

b. Kesiapan psikologis, maksudnya jik a anak merasa nyaman, maka anak

menjadi percaya diri.

c. Kesiapan pendidikan. Pendidikan yang pertama dari keluarga, sedangkan pendidikan di sekolah merupakan penanggung jaw ab utama.

d. Kesiapan IQ bergantung pada pengalaman siswa, perolehan kosa kata, kebiasaan berbicara, konsentrasi, daya nalar, dan kemampuan mengikuti petunjuk

Lebih lanjut Mustofa menyatakan bahwa penting untuk mengetahui terlebih dahulu kemampuan dan ketrampilan yang harus ada dalam belajar membaca, yaitu:

a. Fasih dalam berbicara

Kemampuan menjelaskan kosa kata, maka bacaannya dapat dimengerti orang lain.

b. Kemampuan mendengar

Anak yang memiliki kemampuan mendengar yang baik dari orang dewasa akan mudah mengulanginya. Begitupun sebaliknya, jika anak memiliki gangguan pendengaran akan menghambat keberhasilan dalam membacanya.

c. Kemampuan melihat

Penglihatan anak yang kurang baik dapat menyebabkan penglihatan terhadap obyek baca terganggu.

d. Pengaruh lingkungan

Lingkungan rumah yang tidak peduli akan pendidikan anaknya akan

26

e. Faktor emosi

Membaca merupakan hal yang sangat penting, maka aktifitas membaca sangat memerlukan keadaan emosional yang hal itu dipengaruhi oleh persolan pribadinya.

f. Kecerdasan

Keterlambatan anak membaca banyak disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang rendah.

Dalam membaca Al-Qur’an, terdapat tingkatan-tingkatan bacaan yang dikuasai oleh ulama Qiro ’at, yaitu:

a. At-Tartil, yaitu bacaan yang lambat dengan menggunakan kaidah ilmu tajwid.

b. At-Tahqiq, yaitu bacaan yang lebih lambat dan pada tartil yang lazim digunakan untuk mengajarkan Al-Qur’an dengan sempurna.

c. Al-Hadr, yaitu bacaan yang dilakukan dengan cepat dan tetap memperhatikan tajwidnya.

d. At-Tadwir, yaitu bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dipertengahan antara Al-H adr dan At-Tartil (Al Hafidz, halaman 10-11). Dalam penelitian ini, yang dimaksud kemampuan membaca adalah kemampuan membaca surat-surat pendek Qur’an dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits melalui metode IQRO’ siswa kelas II MI. Al M a’arif

B. S u rat-su rat Pendek dalam A l-Q ur’an

Sebagaimana dijelaskan dalam bab I, surat-surat pendek dalam penelitian ini adalah bagian dari Al-Qur’an dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas II MI. Al M a’arif Karangkepoh Karanggede yaitu:

1. Surat Al-Fatihah. 2. Surat Al-Maun. 3. Surat Al-Fiil. 4. Surat Al-Ashr. 5. Surat At-Takatsur. 6. Surat Al-Qodr.

Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai Rosul akhir jam an yang dalam bentuknya sekarang termaktub jelas dalam M ushaf Utsmani yang kemudian sampai pada kita dengan jalan mutawatir.

Jika dibaca dengan baik pada waktu shalat maupun di luar shalat bernilai ibadah dan hukumannya kafir bagi orang yang mengingkari (Nawawi,1988:39).

Al-Qur’an adalah sebuah dokumen untuk umat manusia atau petunjuk bagi manusia (hudaan lil nass) (Rahman, 1996:1).

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW. dan membacanya adalah ibadah

(Depag, 1990:16).

Dari beberapa definisi ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa Al- Q ur’an merupakan firman Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

28

SAW., melalui malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia karena Al-Qur’an memiliki kemukjizatan, membacanya termasuk ibadah, dan

diriwayatkan secara mutawatii dari zaman Nabi Muhammad SAW. sampai manusia di zaman sekarang yang ditulis dalam mushaf dimulai dari surat Al- Fatihah dan diakhiri surat An-Nas.

M enurut Syarifudin (2004:83), surat-surat pendek disebut Al-Mufasshal

atau Al-M uhkam, meliputi Surat Al-Hujurat hingga surat An-Nas. Lebih lanjut dikatakannya bahwa Al-M ufasshal dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Panjang, meliputi surat Al-Hujurat (surat ke 49) hingga surat An-Naba’ (surat ke 78).

2. Sedang, meliputi surat An-Naba’ (surat ke 78) hingga surat Ad-Dhuha (surat ke 93).

3. Pendek, meliputi surat Ad-Dhuha (surat ke 93) hingga surat An-Naas (surat ke 114).

Surat yang diprioritaskan adalah surat Al-Fatihah karena merupakan pembuka, intisari, dan muara Al-Qur’an, dan selalu dibaca berulang-ulang dalam shalat lima waktu.

C. Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits

M ata pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan bagian dari materi Pendidikan Agama Islam di M adrasah Ibtidaiyah, yang memiliki muatan 2 (dua) jam pelajaran tiap minggunya. Berdasrkan Permendiknas RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah M ata

pelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan bagian dari Pendidikan Agama Islam yang bertujuan untuk:

1. Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

2. M ewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

Sebagai bagian dari Pendidikan Agama Islam, mata pelajaran Al-Qur’an Hadits harus sesuai dengan Kurikulum Agama KTSP yang mempunyai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai berikut:

Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar M ata Pelajaran Al-Qur’an ________ Hadits Kelas II tahun Pelajaran 2009/2010 _________________________

Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

I Mampu memahami cara melafalkan huruf-huruf Hijaiyah dan tanda bacanya dan mampu memahami cara melafalkan surat tertentu dalam Juz‘amma dan mampu membaca serta menghafal surat tersebut dengan baik.

Memahami huruf-huruf Hijaiyah

M embaca huruf-huruf Hijaiyah

Melafalkan, hafal, dan membaca surat Al-Qodr, A l-‘Ashr, Al-Kafirun dan Al-Maun

30

Sem ester S ta n d a r K om petensi K om petensi D asar II Mampu menyusun kata-kata dengan

huruf-huruf Hijaiyah baik secara terpisah maupun sambung, memahami cara melafalkan surat- surat tertentu dalam Juz’amma, mampu menghafal dan membaca surat tertentu dan hadits tentang kebersihan dengan baik.

Menulis huruf-huruf Hijaiyah secara terpisah Membaca huruf-huruf Hijaiyah secara bersambung

M elafalkan dan membaca surat At-Takatsur, Al- Fatihah, dan Al-Fiil

M elafalkan dan hafal hadits tentang kebersihan

yang selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam indikatornya, yaitu: 1. Siswa dapat membaca surat Al-Fatihah dengan benar.

2. Siswa dapat membaca surat-surat pendek dengan fasih. 3. Siswa dapat membaca surat-surat pendek dengan lancar.

4. Siswa dapat membaca surat-surat pendek dengan tajwid yang benar.

D. Metode IQRO’

“Metode adalah cara yang telah diatur dan dipikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya; cara belajar dan sebagainya” (Suharso dan Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa

Indonesia:321).

Budiyanto (1995:2-3) menyatakan bahwa:

“Metode IQRO’ adalah suatu metode baru dalam pengajaran Al- Qur’an yang dikenal dengan istilah metode IQRO ’. IQRO’ sebenarnya adalah nama judul sebuah buku yang berisi tuntunan belajar mebaca Al- Qur’an dengan cara-cara baru yang berbeda dengan cara-cara sebagaimana yang dituntunkan oleh Al-Qowaidul Baghdadiyah (turutan atau Juz ‘am m a)”

Lebih lanjut Budiyanto menyatakan bahwa ada empat hal yang menjadi penyebab peningkat ketidakmampuan membaca huruf-huruf Al-Qur’an di kalangan anak terlebih generasi Islam yang menjadi keprihatinan, yaitu:

1. Disebabkan oleh hilangnya atau dihapuskannya pelajaran menulis dan membaca huruf Arab Jawi dari sekolah-sekolah formal di Indonesia.

2. Sempitnya alokasi waktu atau jam pendidikan agama di sekolah-sekolah formal di Indonesia. Berdasarkan kurikulum 1994, dapat diketahui bahwa untuk bidang studi Pendidikan Agama, sejak tingkat SD sampai SMA Negeri hanya mendapat jatah waktu 2 (dua) jam pelajaran. Dengan waktu yang hanya dua jam tersebut, guru agama dituntut bisa menyampaikan semua materi agama termasuk pengajaran membaca Al-Qur’an. Dengan demikian, waktu untuk pelajaran membaca Al-Qur’an menjadi sangat sedikit.

3. Melemahnya peranan pengajian anak-anak di masjid-masjid dan musholla- musholla. Hal ini dikarenakan teknologi sudah masuk ke desa-desa sehingga anak-anak lebih senang menonton televisi dari pada mengaji.

4. Statisnya pengembangan metodologi pengajaran membaca Al-Qur’an. Selama ini metode yang dikembangkan adalah metode Al-Qowaidul Baghdadiyah (turutan atau Juz ‘amma).

Budiyanto menjelaskan bahwa metode IQRO’ dikembangkan oleh Ustadz A s’ad Humam tahun 1983-1988. Beliau lahir di kota Gede Yogyakarta tahun 1933. Beliau merupakan seorang guru agama dan aktifis dakwah dengan mengajar membaca Al-Qur’an kepada anak-anak. Beliau masih menggunakan

32

cara lama atau AI-Qowaidul Baghdadiyah (turutan atau Juz ‘amma). Cara mengajarkannya adalah:

1. Mula-mula anak diajarkan nama-nama huruf Hijaiyah dimulai dari alif, ba, ta sampai ya.

2. Kemudian diajarkan tanda baca (harokat) sekaligus bunyi bacaannya, seperti a lif fathah a, ba fathah ba, dan sebagainya.

3. Setelah anak-anak mempelajari huruf-huruf Hijaiyah dan cara membacanya, baru diajarkan Juz ‘amma dari surat An-Nas (juz 30 Al-Qur’an).

Cara ini ternyata dinilai lambat dalam mengantarkan anak agar bisa membaca Al-Qur’an. Berangkat dari pengalaman itulah kemudian dicari berbagai sistem dan metode.

Pada tahun 1950an, ditemukan modifikasi cara mengajarkan kaidah

Baghdadiyah di mana tidak lagi mengeja tetapi dicoba dengan pola baru dengan cara mencari padanan huruf-huruf Hijaiyah dengan huruf-huruf latin. Misalnya tanda fathah dengan a, kasrah dengan i, dhommah dengan u, fathah tanwin dengan an, kasrah tanwin dengan in, dhommah tanwin dengan un, alif mati=a, ya sukun=i, wau sukun=u, dan huruf mati dengan awalan e, misalnya sin sukun=es, nun sukun=en, dan seterusnya. M aka cara mengejanya adalah sebagai berikut: bismi=ba-i-es=bis, mim-i=mi, rakhimi=ra-a=ra, kha-i=khi, mim-i=mi, dan seterusnya. Sedangkan fathah berdiri dibaca aa, kasrah berdiri dibaca ii, dhommah berdiri dibaca uu. Tasydid dianggap mati dan hidup.

Metode ini ternyata cukup lumayan hasilnya. Akan tetapi belum seperti yang diharapkan. Metode ini digunakan sampai tahun 1970an.

Sebelum tahun 1970an, beliau tertarik pada tulisan Prof. Mahmud Yunus mengenai cara-cara praktis membaca Al-Qur’an yang tidak perlu dieja lagi, tetapi langsung dibaca. Misalnya mim fathah langsung dibaca ma. Sayangnya tulisan P rof Mahmud Yunus ini belum ditulis secara lengkap dan sistematis, di samping mengalami kesulitan dalam mencari padanan huruf transliterasinya dalam bahasa Indonesia sehingga belum bisa dijadikan tuntunan untuk mengantarkan anak-anak fasih membaca Al-Qur’an.

Barulah sekitar tahun 1970an beliau mendapatkan buku Q iro ’ati yang disusun Ustadz Dahlan Salim dari Semarang, yang prinsip-prinsipnya sama dengan tulisan Prof. M ahmud Yunus dan telah disusun secara sistematis dan lengkap. Bersamaan dengan itu, beliau bertemu dengan sejumlah anak-anak muda yang memiliki pemikiran sama tentang problema mengajar membaca Al-Qur’an. Anak-anak muda itu terhimpun dalam satu wadah yang berpusat di Musholla Baiturrahman Selokraman Kota Gede Yogyakarta yang berjumlah sekitar 17 (tujuh belas) orang.

Bersama Tim Tadarus “AMM” ini beliau mengajarkan anak-anak membaca buku Qiro’ati tersebut. Namun dari pengalaman memakai buku Qiro’ati ini, masih banyak ditemui berbagai kekurangan. Untuk itu dengan didukung oleh masukan-masukan dari Tim Tadarus AMM dan melakukan studi banding ke berbagai lembaga pengajaran Al-Qur’an, maka disusunlah buku IQRO’. Jadi,

34

buku IQRO’ bukanlah disusun berdasarkan renungan semata, tetapi berdasarkan pengalaman yang panjang dan praktek langsung di lapangan.

Dalam waktu singkat, buku IQRO’ ini tersebar ke mana-mana, bersamaan tersebarnya pula lembaga pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an yang baru yaitu TKA-TPA. Melalui TKA-TPA dengan buku IQRO’ ini, ternyata anak-anak usia 4-6 tahun (TKA) dan anak usia 7-12 tahun (TPA) yang selama ini kesulitan belajar membaca Al-Qur’an dapat dengan mudah dan dalam waktu singkat (rata- rata dalam waktu 6-8 bulan) telah bisa diantarkan mampu membaca Al-Qur’an. Hal ini yang mendorong Munas LPTQ yang ke VI tahun 1991 menetapkan TK Al-Qur’an AMM Kota Gede Yogyakarta sebagai Balai Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengajaran Baca Tulis Al-Qur’an LPTQ Nasional di Yogyakarta (berdasarkan SK LPTQ no. 1 tahun 1991), yang diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia dan selaku ketua LPTQ Nasional, Bapak Munawir Sadzali, MA, pada tanggal 10 Februari 1991.

Dengan mengajarkan ilmu membaca Al-Qur’an, metode IQRO’ mempunyai karakteristik dan spesifikasi tertentu agar pengajarannya dapat berhasil dengan baik sesuai tuntunan ibadah sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan RasulNya. Untuk itulah metode IQRO’ ini mempunyai karakteristik

dan spesifikasi antara lain:

1

Tujuan metode IQRO’ adalah untuk menjaga dan memelihara kesucian, kehormatan, dan kemurnian Al-Qur’an dan cara membaca yang benar sesuai

2. Membaca AI-Qur’an mempunyai kaidah tertentu. Jika cara membacanya salah akan mempunyai arti yang salah dan dapat menimbulkan dosa.

3. Menyebarkan ilmu bacaan Al-Qur’an yang benar dengan cara yang benar. 4. Mengingatkan kepada guru-guru membaca Al-Qur’an agar dalam menajarkan

bacaan Al-Qur’an harus berhati-hati.

5. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan pengajaran ilmu baca Al- Qur’an.

Metode IQRO’ mempunyai indikator agar siswa mampu membaca Al- Qur’an secara tartil sesuai kaidah tajwid yang benar. Mujito (2001:18) menjelaskan aturan-aturan dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an menggunakan metode IQRO’ antara lain:

1. M embaca huruf-huruf Hijaiyah yang sudah berharokat secara langsung tanpa mengeja.

2. Langsung praktek secara mudah dan praktis bacaan bertajwid secara baik dan benar.

3. Materi pelajaran diberikan secara bertahap dan berkesinambungan. 4. Menerapkan belajar dengan cara sistem modul/paket.

5. Menekankan pada banyak latihan membaca.

6. Belajar sesuai dengan kesiapan dan kesanggupan siswa. 7. Evaluasi dilakukan setiap hari.

Selanjutnya Budiyanto (1995:14-20) menjelaskan bahwa guru dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an dengan metode IQRO’ tidak boleh menuntun,

36

tetapi diperbolehkan membimbing dan bersikap teliti, waspada, dan tegas. Sedangkan prinsip siswa yaitu CBSA, cepat, tepat dan benar. Dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an harus mempunyai stategi dalam memberikan materi antara lain :

1. Secara individual/privat

Belajar individual dengan cara memberikan materi pelajaran secara perseorangan sesuai dengan kemampuan siswa menerima materi pelajaran. 2. Secara klasikal

Yakni mengajar dengan cara memberikan materi pelajaran secara masai (bersama-sama) kepada sejumlah siswa dalam satu kelas.

3. Klasikal baca simak

Seperti difirmankan Allah SWT dalam QS. Al-A’raf ayat 204:

“Apabila dibacakan Al Qur’an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang (seksama) agar kamu mendapatkan rahmat” (Depag, 1989:256) Jadi, pengajaran membaca Al-Qur’an dengan cara klasikal baca simak adalah satu siswa membaca, siswa lain menyimak dan bergantian di bawah bimbingan guru.

Untuk mencapai keberhasilan membaca Al-Qur’an, ditentukan oleh beberapa faktor, seperti pengajar atau guru, lingkungan, suasana, siswa, metode,

dan bahannya. Faktor tersebut terkait satu sama lain , tanpa meremehkan salah satu faktor. Untuk menyampaikan suatu materi, dalam hal ini surat-surat pendek, maka diperlukan adanya suatu metode. Metode yang sudah diketemukan dan dipakai disepakati oleh siswa sebagai penerima.

Dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada siswa-siswa ada beberapa cara, di antaranya adalah:

1. Cara klasikal

a. Metode meniru (thariqah musyarakah), metode ini diawali dari siswa meniru bacaan guru sampai hafal. Setelah itu baru dikenalkan beberapa huruf beserta tanda baca dan harakatnya.

b. Metode bunyi (thariqah shautiyyah), metode ini tidak dimulai dengan memperkenalkan huruf-huruf Hijaiyah, tetapi memperkenalkan bunyi yang huruf-hurufnya sudah diharakati. Misalnya a, ba, ta, dan seterusnya. c. Metode mengenalkan cara membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan

kaidah-kaidah bacaannya, dengan diawali memperkenalkan huruf bersyakal tanpa dieja.

2. Cara individual

a. At-Thariqah bil muhakah yaitu pengajaran dengan cara meniru guru memberikan contoh-contoh bacaan yang benar kemudian menirukannya. Oleh karena itu bagaimanapun kefasihan siswa banyak tergantung pada kefasihan guru.

38

b. At-Thariqah bil Musyafahah yaitu siswa melihat gerak gerik bibir guru dan guru juga melihat gerak gerik bibir siswa. Metode ini penting untuk mengajarkan makhorijul huruf.

c. At-Thariqotu bil Kalamissorih, artinya metode pengajaran dengan cara guru mempergunakan ucapan yang jelas dan komunikatif. Walaupun dalam metode ini anak dituntut aktif, namun tidak berarti guru p asif Guru tetap aktif menyimak bacaan anak sambil memberikan motivasi dan komentar-komentar komunikatif dan menyanjung siswa dengan komentar yang bagus.

d. At-Thariqah bissua al Limaqosiditaklimi, di mana guru mengajukan

Dokumen terkait