• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedagang asongan, pengamen, dan sopir ojek. Keberadaan mereka ibarat sakit kepala untuk para perencana tata ruang wilayah kota dan pemerintah dalam mengembangkan kota modern. Namun, untuk orang buta seperti Trian, mereka adalah pemandu di tengah keriuhan jalan di Jakarta. Mereka membantu Trian menghindari lubang trotoar, menjelajah suasana jalan yang bising, serta menyeberang persimpangan yang berbahaya. “Yang sering kejadian biasanya seperti ini. Seorang petugas (saya tidak yakin polisi atau petugas Dinas

Perhubungan Jakarta [Dishub], tapi jelas mereka

membawa peluit) akan menanyakan tujuan saya. Setelah itu petugas berteriak ke penjual terdekat. ‘Hei kamu, antar orang ini ke bus. Dia mau ke Pulo Gadung.’ Salah satu pedagang kemudian menggandeng saya menuju bus jurusan itu. Sampai di bus, kenek membantu saya naik dan duduk di dalam,” ujar Trian.

Trian adalah aktivis transportasi yang saat ini juga berperan sebagai Koordinator Komite Untuk Advokasi Aksesibilitas (KUAT) - kelompok masyarakat sipil relawan

“Sayangnya, persepsi

bahwa kami ‘aneh’

masih terjadi. Untuk

itu, saya berharap kita

meninjau kembali sistem

pendidikan. Pengetahuan

dan penerimaan terhadap

kelompok disabilitas harus

menjadi bagian dari misi

pendidikan sekolah,”

Trian dan Gubernur Ahok memantau kualitas trotoar saat uji coba bus baru di Jakarta.

-Atas perkenan IndII

yang berupaya memastikan semua warga negara memiliki akses transportasi umum yang aman dan nyaman. Di sebuah pertemuan dengan perwakilan dari Dishub dan operator bus, Trian berbagi fenomena umum (namun tidak resmi) tentang jasa pedagang kaki lima dan sektor informal bagi penyandang disabilitas. Dia membela kehadiran mereka di tengah upaya pemerintah melarang kelompok itu beraktivitas di jalan. “Jangan larang mereka dari jalan-jalan. Mereka adalah teman-teman kelompok disabilitas. Siapa yang akan membantu kami jika mereka tidak ada lagi?“

Menurut Trian, yang juga fasilitator/motivator di sebuah pusat pelatihan dan pendidikan, banyaknya kekurangan dalam penyediaan fasilitas transportasi di Jakarta bagi penyandang disabilitas sebagian besar disebabkan oleh asumsi yang salah dalam proses pengambilan keputusan. “Penyandang disabilitas sering diperlakukan sebagai orang yang tidak mampu. Kita diharapkan pasrah ‘menerima’ keputusan pembuat kebijakan.”

Melibatkan penyandang disabilitas secara aktif agar proses pengambilan keputusan dan advokasi melibatkan pemikiran mereka menjadi fokus kegiatan Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) yang didukung Pemerintah Australia. Ketika merancang dan mengevaluasi

program, IndII bekerja sama dengan organisasi payung yang mewakili penyandang disabilitas di Indonesia - Persatuan Penyandang Cacat Indonesia. IndII juga telah meluncurkan Laporan tentang Gender dan Penilaian Disabilitas Terhadap Reformasi Bus di Koridor Percontohan DKI, di mana Trian dan jaringan KUAT berpartisipasi.

Setelah bergabung dengan KUAT, Trian bisa berkontribusi langsung dalam diskusi dengan para pemangku

kepentingan utama dengan tujuan meningkatkan fasilitas transportasi Jakarta bagi komunitas disabilitas. Pendekatan KUAT melibatkan masukan dan rekomendasi di semua tahapan skema perbaikan transportasi umum - dari desain melalui evaluasi. Salah satu kegiatan pertama KUAT adalah advokasi revitalisasi rute S66 Kopaja ini. Dengan dukungan IndII, Trian beserta anggota KUAT lain berpartisipasi dalam uji coba prototip bus berlantai rendah yang menyediakan aksesibilitas lebih baik dan kenyamanan bagi penumpang disabilitas. Uji coba

juga termasuk mengamati dan menilai fasilitas dalam terminal bus baru seperti jembatan, tangga-tangga, dan penghubung.

Mobilitas di jalan merupakan target Trian untuk diri sendiri setelah ia divonis buta pada usia 17 karena glaukoma. Mendengar vonis dokter, kedua orang tua Trian bersedih hati. Sang ayah menjadi overprotektif. Dia mengantar Trian ke pusat rehabilitasi dan menunggu hingga sesi Trian selesai.

Sebagai seorang petualang yang mencintai pegunungan, sawah, dan desa-desa, Trian mulai merindukan

kemandiriannya. Dia juga tidak ingin kondisinya membebani sang ayah. Sekitar empat bulan menjalani program rehabilitasi Trian bertanya kepada Tohas, penasihatnya, untuk mengajarkan cara berjalan sendiri. Sebagai langkah pertama, Tohas meminta Trian mengganti mobil dengan tongkat.

“Pelajaran pertama saya adalah mengatur agar langkah kaki sinkron dengan gerakan tongkat. Kaki kanan ke depan, tongkat mengayun ke kiri dan sebaliknya. Juga derajat ayunan tongkat menentukan gerakan kaki.” Langkah besar berikutnya adalah meyakinkan ayah agar Trian boleh pulang sendiri dari pusat rehabilitasi ke rumah dengan bus. Ditemani Tohas, Trian akhirnya berhasil menjalani 45 menit perjalanan dengan bus. “Air mata ayah membasahi wajah ketika saya tiba di rumah. Dia memeluk saya erat seolah kami telah berpisah selama bertahun-tahun.”

Setelah dua tahun berfokus dengan program rehabilitasi, Trian mengulang kembali pelajaran di SMA. Dia memilih mengulang untuk menyegarkan pembelajaran yang tertinggal. Usai SMA, Trian melanjutkan pendidikan ke Universitas Jakarta. Setiap hari, Trian bepergian seorang diri ke universitas. Ia juga kerap berkunjung ke rumah teman-teman di luar kota. Pengalaman bepergian ini membuat Trian sadar akan besarnya kesulitan melakukan perjalanan sehari-hari di Jakarta. Misalnya, dia kerap menyenggol sepeda motor saat berjalan di trotoar. Dalam sebuah insiden, dia meminta dengan sopan agar pengendara sepeda motor meminggirkan kendaraannya ke jalan.

“Maaf, Mas salah ambil sisi ini.” “Ya, saya tahu.” Namun motor tetap di posisi yang sama, tidak mau bergerak.

Saat awal belajar berjalan sendiri, Trian biasanya mengalah dan membiarkan sepeda motor mengambil alih ruang trotoar. Kini, dia bisa lebih tegas. Dia tetap mempertahankan posisi sebagai pejalan kaki di trotoar sehingga pengendara memutar motor kembali ke jalan raya.

Pengalaman penuh tantangan ini mengilhami Trian mengubah pendekatan kampanye tentang disabilitas. Pada Maret 2012, semester terakhir Trian di universitas, dia dan teman-temannya mendirikan Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT).

“Kampanye kesadaran disabilitas tradisional biasanya dirayakan dengan acara gerak jalan atau demonstrasi dengan slogan-slogan. Semua ini tidak membawa hasil yang berdampak lama. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak memberi pengaruh atau mengubah perilaku masyarakat di mana kita berada. Namun, ketika kami di JBFT melakukan acara jalan bareng, baik peserta disabilitas maupun non-disabilitas sebagai sebuah kelompok, hal ini mendidik banyak orang tentang kebutuhan dan akses yang lebih baik di jalan-jalan Jakarta,” kata Trian.

Tim JBFT secara teratur menyusun jadwal acara untuk jalan: minggu ini ke museum, minggu depan sesi karaoke. Yang menjadi fokus bukan acara tamasya itu sendiri melainkan bagaimana peserta menjalani pengalaman perjalanan mencapai lokasi tujuan. Kegiatan ini tak hanya memberikan pembelajaran praktis dan wawasan bagi peserta non-disabilitas tentang rekan-rekan penyandang disabilitas bepergian dengan angkutan umum; juga mengangkat ke permukaan berbagai hambatan yang menghalangi mobilitas dan keamanan kelompok disabilitas bepergian.

Dalam kegiatan perjalanan, seringkali kelompok JBFT berbincang dengan staf dan pengawas fasilitas transportasi yang mereka lewati serta mengidentifikasi masalah yang perlu segera diatasi seperti lift penumpang yang tidak berfungsi, bagaimana mendorong kursi roda dengan aman ke dalam bus, atau membunyikan sinyal suara bagi orang buta di setiap perhentian bus. Pada akhirnya, aktivitas JBFT dan KUAT memuat pesan yang sama: penyandang disabilitas serupa dengan orang lain — mereka belajar, bekerja, bepergian, dan bersenang-senang. Mereka juga bisa, dan mampu, mengekspresikan pendapat mereka serta memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Masih banyak yang perlu dilakukan untuk mencapai pemahaman ini. “Sayangnya, persepsi bahwa kami ‘aneh’ masih terjadi. Untuk itu, saya berharap kita meninjau kembali sistem pendidikan. Pengetahuan dan penerimaan terhadap kelompok disabilitas harus menjadi bagian dari misi pendidikan sekolah,” ujar Trian.

Komite Untuk Advokasi Aksesibilitas (KUAT)

JBFT kini adalah bagian dari jaringan KUAT didukung oleh IndII. Ada tiga poin kunci yang ditekankan oleh JBFT kepada publik dalam memberikan dukungan bagi kelompok disabilitas.

• Tanyakan apakah mereka membutuhkan bantuan (jangan berasumsi); • Tanyakan dukungan spesifik apa yang mereka butuhkan (jangan

berasumsi) dan

• Selalu memastikan keamanan dan kenyamanan dua belah pihak — baik orang yang menolong dan ditolong

Terima Kasih

Atas masukan dan fasilitasi Eko Utomo (Gender Officer IndII) selama proses wawancara.