Andrew McLernon I Ketua Tim Konsultasi Persiapan, Penilaian, dan Pengawasan bagi program
Hibah Infrastruktur Australia-Indonesia untuk Sanitasi (sAIIG) Apakah masyarakat dan pemimpin mereka benar-benar
peduli mengenai ke mana perginya air limbah dan siapa yang terkena dampak polusi mereka? Seharusnya mereka peduli, tetapi jawabannya mungkin “tidak terlalu”. Dan sekalipun demikian, dampak dari pengelolaan air limbah yang buruk sangat besar. Akibatnya terhadap kesehatan masyarakat seperti penyakit, perkembangan fisik dan intelektual yang terhambat, serta lingkungan masyarakat yang kotor menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang besar. Hal tersebut juga menghambat pembangunan Indonesia secara keseluruhan dan juga menghambat aspirasi untuk “menjadikan kota-kota di Indonesia seperti Singapura.” Makalah ini menguraikan bagaimana Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) telah mendukung Pemerintah Indonesia untuk mulai mengubah situasi ini.
Sektor dan Isu yang Harus Ditangani
Di mana saat ini 50 persen penduduk (dan akan terus meningkat persentasenya) tinggal di wilayah perkotaan, Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan yang berat dalam menangani pengelolaan air limbah perkotaan. Ini merupakan sektor yang mendapatkan sedikit dukungan dari pemerintah di masa lalu (baik dari Pemerintah Pusat maupun daerah). Masyarakat umumnya masih enggan meminta pemerintah mereka untuk mengatasi isu tersebut, dan pada saat yang sama otoritas Pemerintah Pusat berjuang untuk mempengaruhi prioritas daerah atau membangun kapasitas pemerintah daerah (Pemda) dalam sektor tersebut. Peringkat Indonesia berada di bawah sebagian besar negara tetangga di ASEAN dalam hal upaya sanitasi.
Sebuah keluarga di Gresik, Jawa Timur, kini menikmati sanitasi yang lebih baik dengan adanya lubang periksa untuk sistem drainase bawah tanah mereka.
-Atas perkenan IndII.
Di samping itu, sektor tersebut bukan merupakan prioritas utama di kalangan perencana pembangunan, meski terdapat prospek pengembalian ekonomi yang tinggi terhadap investasi. Jarang terdapat data statistik yang dapat diandalkan dan investasi pemerintah atas “barang pribadi” seperti penyediaan air minum cenderung untuk mendominasi prioritas sektoral. Selanjutnya, tantangan sektor dan solusi teknologi yang umumnya diterapkan, seperti sistem saluran pembuangan
air limbah1, tidak dipahami secara luas di Indonesia dan memiliki daya tarik politik yang kecil. Sebagai akibatnya, kota-kota besar seringkali tidak memiliki instansi yang ditugaskan untuk bertanggung jawab mengelola air limbah. Pada awal tahap pertama IndII tahun 2008, restrukturisasi mendasar pada pemerintah mulai bertumbuh
berdasarkan kebijakan desentralisasi tahun 1999. IndII mengambil kesempatan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam menangani masalah pengelolaan sanitasi/air limbah dengan pendekatan yang lebih mendalam. Tiga kegiatan berbendera IndII diperkenalkan secara progresif – program Hibah Infrastruktur
Lingkungan (IEG, Environmental Infrastructure Grants) (2008), program kota besar Perencanaan Induk Saluran Pembuangan Air Limbah Konvensional (Skala Kota Besar) (2010), dan program Hibah Infrastruktur Australia-Indonesia untuk Sanitasi (sAIIG, Australia-Australia-Indonesia Infrastructure Grants for Sanitation) (2012). Ketiga program ini mencakup sejumlah layanan teknis dan analitis untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam lingkungan yang baru ini.
Isu-isu penting mencakup: (i) meskipun Pemda memiliki tanggung jawab utama, khususnya di wilayah perkotaan untuk menangani isu sanitasi dan air limbah, mereka tidak menjalankannya; (ii) pengelolaan otonomi daerah yang berhasil, mensyaratkan Pemerintah Pusat menetapkan kerangka kerja berorientasi hasil atau kinerja yang kuat dengan sasaran yang jelas, memperkuat insentif, dan konsekuensi atas kinerja yang buruk, di mana kerangka kerja ini yang tidak tersedia; (iii) dengan riwayat investasi rendah dan sedikit pengalaman dalam sektor terkait, sebagian besar Pemda memerlukan institusi pengelolaan air limbah yang kokoh untuk mengatasi tantangan secara berkelanjutan; dan (iv) meski biaya sistem pengolahan terpusat relatif tinggi, sebagian besar teknologi alternatif (seperti pengolahan di lokasi dengan menggunakan tangki septik yang disediakan dan dikelola oleh rumah tangga) tidak sesuai untuk wilayah perkotaan.
1 “Saluran pembuangan air limbah” (sewerage) merupakan istilah yang berlaku terhadap sistem atau skema infrastruktur pipa sambungan yang mengumpulkan air pembuangan manusia dan air limbah lainnya, serta menyalurkannya ke instalasi pengolahan air limbah terpusat. Aliran sebagian besar digerakkan oleh gaya gravitasi dan benda padat dibawa oleh air dari berbagai sumber rumah tangga, termasuk tangki air yang menempel pada jamban. Jarang terdapat kota di dunia yang maju ini, dan di negara-negara berkembang, yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah.
Respon IndII
Dengan mempertimbangkan konteks, tim sanitasi IndII bersama dengan berbagai mitra Pemerintah Indonesia mengeksplorasi cara-cara untuk mendorong Pemda supaya berinvestasi lebih banyak kepada infrastruktur sanitasi milik publik yang dikelola secara profesional. Menyadari hampir tidak mungkin untuk mempengaruhi 500 Pemda atau lebih, maka dirancang berbagai program percontohan yang, apabila berhasil, dapat memungkinkan Pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Cipta Karya (Ditjen Cipta Karya) yang berada di dalam Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (Kementerian PUPR) untuk meniru program-program tersebut.
Elemen-elemen kunci mencakup: (i) pendekatan berbasis hasil untuk mengakomodasi kebutuhan pengelolaan “lepas tangan” dari Pemda; (ii) pembayaran insentif bagi Pemda untuk mendorong mereka melakukan prioritisasi investasi pada sektor terkait; (iii) dukungan teknis karena Lingkungan yang lebih sehat dengan lubang saluran limbah yang lebih baik—bagian dari program sAIIG.
tuntutan teknologi dan kurangnya pengalaman Pemda dalam penggunaannya; serta (iv) ketetapan hati untuk bekerja di dalam sistem perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan Pemda yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bagi Pemda.
Masih diperlukan solusi untuk masalah tidak adanya institusi penanggung jawab daerah (penyelenggara). Diperlukan unit dalam Pemda untuk memperjuangkan alokasi
anggaran Pemda yang lebih besar dan untuk meningkatkan keberlanjutan. Jawabannya adalah pembentukan organisasi pengelolaan sanitasi khusus di dalam Pemda yang
berpartisipasi, sebagai syarat hibah sAIIG.
Meski kegiatan awal IndII di 2008–2011 dalam program IEG tidak secara langsung mengatasi isu penyelenggara ini, kegiatan awal tersebut menjadi komponen utama dalam kegiatan perencanaan induk saluran pembuangan air limbah konvensional sejak 2010 dan merupakan “persyaratan” khusus untuk dapat berpartisipasi dalam program sAIIG 2013.
Mengarahkan Hibah Langsung ke Pemda Dalam Program IEG
Program berbendera IndII yang pertama adalah Program IEG, yang dirancang untuk mendorong Pemda agar meningkatkan investasi mereka pada infrastruktur terkait sanitasi perkotaan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan layanan pengumpulan dan pengolahan limbah padat dan air limbah di wilayah perkotaan, dan untuk lebih memahami respon Pemda. Esensi dari program ini, yang dijalankan dalam kerjasama dengan Ditjen Cipta Karya, adalah bahwa Pemda, dengan memenuhi beberapa syarat, akan diberikan hibah untuk infrastruktur sanitasi. Program ini dilaksanakan selama Tahap I IndII (2008–2011). Dua puluh dua Pemda dipilih dari daftar pendek (short list) yang diberikan oleh Ditjen Cipta Karya. Panduan pelaksanaan program diberikan dalam Pedoman Pengelolaan Proyek (PMM, Project
Management Manual). Total hibah senilai Rp 28 milyar
diberikan kepada 22 Pemda dengan pembayaran aktual sedikit lebih rendah.
Evaluasi program 2012 menemukan bahwa Pemda menghargai program ini dan terdorong untuk mulai mengatasi sendiri masalah sanitasi mereka. Meski
demikian, insentif bagi Pemda untuk memberikan layanan berkualitas tinggi melalui investasi dianggap lemah. Program juga tidak mengarahkan Pemda untuk mengatasi isu nyata untuk melakukan investasi berskala besar dalam pembuangan dan pengolahan yang aman atas limbah manusia dari lingkungan perkotaan.
Merencanakan Investasi Berskala Besar di Kota Besar
Sejalan dengan program IEG (akhir 2010), IndII juga meluncurkan sebuah program bersama dengan Ditjen Cipta Karya dan Kemendagri untuk menyusun Rencana Induk Pengelolaan Air Limbah dan Studi Kelayakan untuk delapan kota besar yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah umum: Kota Batam, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Bogor, Cimahi, Surabaya, dan Makassar. Program tersebut menjawab: (i) kebutuhan akan perencanaan dan analisis berkualitas tinggi atas investasi infrastruktur besar, termasuk untuk saluran pembuangan air limbah; (ii) kebutuhan untuk mendemonstrasikan pentingnya persiapan yang berkualitas; dan (iii) permohonan dukungan dari Ditjen Cipta Karya dalam bagian perencanaan dari siklus hidup proyek ini. Program tersebut juga memberi dukungan kepada Pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan proyek yang dapat menarik dukungan dari bank-bank pembangunan multilateral, seperti Asian Development Bank (ADB) sebagai cara untuk mencapai sasaran dalam Rencana Strategis Kementerian PUPR.
Rencana tersebut mencakup pengembangan kapasitas terinci dan merupakan sesuatu yang penting dalam memungkinkan Pemerintah Indonesia dan ADB menyetujui Proyek Investasi Pengelolaan Sanitasi Metropolitan (MSMIP, Metropolitan Sanitation
Management Investment Project). MSMIP dimaksudkan untuk memberikan layanan air limbah perkotaan yang lebih baik di Pekanbaru, Palembang, Cimahi, dan Makassar, serta Jambi. Persiapan yang bermutu tinggi ini mendorong ADB untuk juga memberikan program Dukungan Teknis Pengembangan Kapasitas.
Hibah Insentif untuk Sanitasi Perkotaan (sAIIG)
Berdasarkan pengalaman dari kedua program ini, dan keberhasilan program “Hibah Air Minum”, IndII bersama dengan Ditjen Cipta Karya, merancang program yang
Tabel 1: Indikator-Indikator Utama Kemajuan Fisik Diukur berdasarkan Sambungan Rumah
Per 31 Des’15 Per 31 Des’16 Estimasi 30 Jun‘17
Total SR yang direncanakan oleh Pemda 62.076 67.908 67.908
Total SR yang diborongkan 17.887 28.818 30.000
Total SR yang dibangun 9.468 14.786 20.000
Total SR yang difungsikan 6.488 9.689 15.000
Total SR yang diinspeksi 2.613 8.884 15.000
Total SR yang lolos 1.810 5.913 13.000
Total SR dengan pembayaran hibah 0 2.994 13.000
memadukan (dan memperkuat) insentif kinerja bagi Pemda, dengan fokus pada pengelolaan air limbah program Perencanaan Induk. Program tersebut, sAIIG, menyediakan hingga A$ 40 juta untuk pembayaran insentif berdasarkan hasil bagi Pemda sebagaimana diukur berdasarkan sambungan rumah yang difungsikan. Fitur-fitur kunci mencakup: (i) pengenalan standar yang telah disederhanakan; (ii) penyediaan konsultan “perencanaan, penilaian, dan pengawasan” untuk mendukung Pemda yang berpartisipasi; dan (iii) fokus pada pembayaran hasil setelah verifikasi. Hal ini dirancang untuk mendorong Pemda agar meningkatkan investasi pada sektor ini dan meningkatkan mutu konstruksi. Program bekerja melalui sistem Pemerintah Indonesia dan Pemda, untuk mendorong Pemda membangun saluran pembuangan air limbah dan struktur pengelolaan terkait serta untuk mengatasi perubahan sosial, seperti integrasi kesetaraan gender. Ini lebih lambat dari pendekatan yang diharapkan tapi terbukti membuahkan hasil. Melalui program sAIIG, banyak Pemda menetapkan layanan pengelolaan air limbah yang didanai dan didukung publik. Saat ini terdapat “penanggung jawab” (champion) yang melaluinya pemangku kepentingan dapat memberlakukan perubahan.
Terdapat pula kesepakatan umum bahwa tugas-tugas penyelenggara sAIIG antara lain adalah untuk
mengumpulkan di bawah atap yang sama: (i) pembangunan dan pengelolaan sistem pengolahan di lokasi; (ii) fasilitas pengolahan lumpur tinja; (iii) sistem pengumpulan dan pengolahan berskala masyarakat; (iv) sistem sAIIG yang lebih besar; dan (v) pada akhirnya saluran pembuangan air limbah konvensional yang lebih luas.
Program sAIIG berkembang lambat pada awalnya, tetapi semakin pesat sejak 2013. Instalasi pengolahan dan saluran pembuangan air limbah utama menjadi fokus sampai dengan 2015 ketika perhatian diberikan pada sambungan rumah. Lihat Tabel 1.
Catatan dari indikator-indikator ini adalah penurunan atau “kehilangan” sambungan di sepanjang siklus proyek, khususnya antara layanan yang diborongkan dan sambungan rumah yang terbangun. Meski Pemda yang merancang, menawarkan, dan memberikan kontrak, kemampuan mereka untuk mengkonversikannya menjadi sambungan di lapangan terbukti sulit.
Program sAIIG juga didasarkan pada keyakinan bahwa pendekatan dan standar yang telah disederhanakan akan memungkinkan penyediaan saluran pembuangan air limbah jauh di bawah biaya yang dikeluarkan pada sistem konvensional. Tampaknya benar demikian—analisis terkini menunjukkan biaya satuan rata-rata di wilayah Barat adalah sekitar Rp 8 juta per sambungan dan di wilayah Timur adalah Rp 18,2 juta per sambungan. Biaya yang lebih tinggi di wilayah Timur menunjukkan biaya pengiriman bahan yang lebih tinggi, Pemda yang kurang efisien, tempat tinggal yang lebih terpencar, dan fakta bahwa beberapa Pemda memilih untuk membangun fasilitas umum Mandi, Cuci, Kakus (MCK) sebagai bagian dari pekerjaan.
Layanan Dukungan Lain
Layanan dukungan tambahan diberikan untuk mempertahankan upaya pengenalan teknologi ini. Di samping dukungan pengawasan selama penyusunan
Salah satu instalasi pengolahan air limbah masyarakat yang didukung oleh sAIIG.
-Atas perkenan IndII
Rencana Induk, firma-firma konsultasi (yang dikelola oleh IndII) memberikan rancangan teknis rinci (DED,
detailed engineering designs) untuk Pekanbaru,
Palembang, Cimahi, dan Makassar, serta studi dampak lingkungan. Dukungan lain mencakup: DED untuk tempat pembuangan akhir saniter daerah yang maju di luar Makassar, desain saluran air limbah bagi Palembang, layanan konsultasi bagi Ditjen Cipta Karya untuk
melakukan survei mendasar dan inspeksi verifikasi untuk program sAIIG serta program (tangki septik) setempat milik Ditjen Cipta Karya, dukungan Penasihat jangka panjang di dalam Ditjen Cipta Karya dan Kemendagri, serta dukungan dalam bentuk manajemen konstruksi untuk Proyek Saluran Pembuangan Air Limbah Kota Palembang.
Temuan dari berbagai studi pelingkupan (scoping studies), evaluasi kegiatan, studi banding, diplomasi publik, dan kegiatan perancangan proyek juga memperkuat sistem yang telah ada. Hal-hal tersebut mencakup dukungan bagi badan pengaturan air minum (BPPSPAM) dari Ditjen Cipta Karya untuk menetapkan dan memperkenalkan Indeks Pelayanan Air Minum dan Sanitasi (WSSI, Water Supply and Sanitation Index).
Belajar dari sAIIG
Sejak awal, program sAIIG telah mencari cara untuk menyederhanakan saluran pembuangan air limbah konvensional untuk menjadikan layanan air limbah lebih murah dan dengan demikian lebih memungkinkan untuk digunakan oleh berbagai otoritas daerah di Indonesia. Program ini bersifat eksperimental dalam berbagai hal: diketahui bahwa di tingkat rumah tangga, program ini akan lebih mahal daripada tangki septik yang dikelola secara perorangan, standar konvensional yang dimiliki oleh Ditjen Cipta Karya mungkin perlu diubah, banyak Pemda tidak menganggap pengelolaan air limbah sebagai tanggung jawab mereka (meski terdapat undang-undang mengenai tanggung jawab fungsional), serta kapasitas teknis dan kelembagaan dari Pemda yang sangat beragam. Program sAIIG telah mencapai keberhasilan yang beragam di antara 46 Pemda yang berpartisipasi, di mana kurang-lebih delapan Pemda belum memulai dan 10 Pemda tidak aktif. Tetapi dari 28 Pemda yang masih aktif, banyak yang kini mulai merencanakan untuk melanjutkan investasi saluran pembuangan air limbah pada 2017, baik dengan maupun tanpa berlanjutnya sAIIG atau dukungan setaranya. Dari 28 Pemda yang aktif, hampir seluruhnya telah menetapkan sebuah “penyelenggara semi-otonom” dan dengan demikian
telah mengidentifikasi penanggung jawab (champion) untuk pengembangan layanan di masa mendatang.
Meski terdapat perkembangan yang luar biasa ini, berbagai isu teknis tetap ada: kapasitas perancangan di berbagai daerah kurang berkembang, kemampuan untuk mengelola konstruksi sistem gravitasi masih merupakan tantangan, dan akuisisi lahan untuk pekerjaan umum merupakan masalah yang terus terjadi. Mendapatkan pendanaan yang berkelanjutan juga menjadi perhatian. Sampai pemulihan biaya pada tingkat tertentu dapat dicapai melalui tarif, maka pendanaan melalui APBD akan tetap beragam. Pencairan dana yang lambat yang menggunakan pendekatan berbasis hasil juga telah mengikis dukungan politik pada beberapa Pemda. Penerimaan masyarakat juga merupakan isu pada beberapa Pemda, khususnya di wilayah perkotaan yang tidak mengenal saluran pembuangan air limbah dan di mana beberapa pekerjaan kontraktor memiliki standar yang buruk. Di kota-kota yang lebih besar (seperti Medan, Bandung, dan Yogyakarta) yang telah memiliki sistem konvensional, terdapat sedikit penolakan. Masyarakat bersemangat untuk terlibat karena akan meningkatkan nilai lingkungan dan tanah. Isu kelembagaan juga mempengaruhi kinerja sambungan. IndII semakin banyak menemukan bahwa dukungan untuk Pemda berupa dukungan teknis dan pengembangan kelembagaan akan membangun kepercayaan diri dan mendorong Pemda untuk berinvestasi pada layanan fisik.
Dampak Program Sanitasi IndII
Dampak utama sAIIG adalah “menyertakan Pemda dalam bisnis sanitasi”. Meski jumlah sambungan lebih rendah dari yang diharapkan, telah terdapat sejumlah dampak lain: (i) pengenalan pendekatan berbasis hasil telah mendorong Ditjen Cipta Karya untuk merancang beberapa program mereka dengan menggunakan pendekatan yang sangat mirip; (ii) ketersediaan pembayaran insentif telah meningkatkan profil
pengelolaan air limbah pada Pemda yang berpartisipasi, yang mencakup beberapa kota terbesar di Indonesia; (iii) peningkatan pengakuan dari penyelenggara Pemda bahwa pendekatan berbasis hasil, meskipun sulit, benar-benar meningkatkan kualitas kerja; dan (iv) penerimaan yang jauh lebih luas bahwa layanan tersebut lebih baik
dijalankan oleh penyelenggara Pemda semi-otonom yang menunjukkan tata kelola pemerintahan yang baik. Masih terdapat Pemda yang ingin bergabung dalam program ini dan beberapa Pemda yang berpartisipasi telah menyatakan niat mereka untuk menyediakan cakupan saluran pembuangan air limbah 100 persen— contohnya, Medan dan Yogyakarta. Dokumentasi desain telah menjadi lebih baik pada 2015–16 dan terus membaik, Pemda semakin banyak melibatkan konsultan pengawas konstruksi dan mengupayakan dukungan melalui upaya peningkatan kesadaran masyarakat.
Langkah ke Depan
Percontohan inovatif, yang menjelaskan hasil yang diinginkan, dan menjamin ketersediaan sumber daya untuk mencapainya, harus tetap menjadi fokus. Kami menyarankan lima bidang area besar yang harus ditangani dalam kegiatan program mendatang.
Kejelasan dalam Alokasi/Delegasi Tanggung Jawab
Tiga tingkatan pemerintah memerlukan kejelasan yang lebih mengenai peran dan tanggung jawab mereka yang diberikan berdasarkan Undang-Undang no. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur desentralisasi. UU tersebut menetapkan sebagian besar fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pembiayaan sektor pada Pemda—sementara tingkat pemerintahan yang lebih tinggi menetapkan aturan, memberikan insentif, serta mengelola kinerja. Otoritas pusat harus menetapkan standar pelayanan minimal yang merupakan kewajiban mereka berdasarkan UU no. 23 Tahun 2014.
Semua pekerjaan sAIIG harus secara eksplisit dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran formal tahun jamak Pemda. Ini memerlukan lebih banyak upaya untuk memenuhi kebutuhan akan siklus proyek yang lebih panjang (tahun jamak) pada Pemda daripada pendekatan tahun tunggal. Meski menyadari risiko dari perencanaan berlebih, waktu tunggu (lead time) yang lebih panjang akan mempermudah penyelesaian i masalah akuisisi lahan dan rintangan kelembagaan lainnya. Dukungan perencanaan yang telah disederhanakan dapat ditawarkan setelah penyelenggara Pemda memenuhi
tahapan pencapaian yang telah ditetapkan, misalnya, memfungsikan 1.000 sambungan rumah.
Pada tingkat proyek, Pedoman Pengelolaan Proyek harus cukup spesifik dan dipatuhi oleh semua pihak apabila Pemda ingin memiliki keyakinan di dalam program berbasis aturan. Sangat penting untuk menyampaikan informasi mengenai program kepada Pemda sejak awal. Standar saluran pembuangan air limbah yang disederhanakan harus disetujui, didukung, dan dipantau penggunaannya. “Tim Perancangan Saluran Pembuangan Air Limbah” pusat yang dibentuk pada 2016 untuk meningkatkan kualitas desain dan dokumentasi Pemda harus dilanjutkan. Pekerjaan juga harus terus mempromosikan Perda mengenai air limbah daerah yang relevan
Sumber Daya yang Memadai
Kecuali Pemda dapat sepenuhnya mendanai sendiri solusi tangki septik, maka Pemda memerlukan dukungan terkait: (i) pendanaan modal; (ii)
penetapan harga layanan yang hemat biaya; dan (iii) pengembangan kapasitas. Kemampuan Penyelenggara baru untuk tumbuh bergantung pada kemampuan mereka untuk menyediakan layanan yang pelanggan bersedia untuk membayar. Pengembangan kapasitas mereka dan peningkatan tingkat transparansi dan akuntabilitas mereka menjadi prioritas. Di lingkungan eksternal, diperlukan penyusunan standar aliran air limbah yang jelas dan sarana untuk menegakkan standar tersebut.
Penyediaan Layanan
Sistem terpisah akan semakin penting, di mana jumlah dukungan yang diperoleh Pemda akan mempengaruhi tingkat perkembangannya. Penyelenggara baru harus diwajibkan untuk memberikan berbagai layanan berdasarkan prinsip “di bawah satu atap”. Ini menunjukkan bahwa standar pelayanan minimum dan pendekatan pengelolaan kinerja lainnya dari Kemendagri perlu dimasukkan ke dalam program dan proyek sanitasi. Ini juga memerlukan peningkatan akuntabilitas dan peningkatan pelaporan dari Pemda/Penyelenggara. Dukungan juga diperlukan untuk mengembangkan hubungan masyarakat dan untuk mengembangkan kapasitas pemasaran sosial Penyelenggara baru dan Pemda.
Informasi Kinerja
Sistem informasi Ditjen Cipta Karya dan Kemendagri perlu memberikan lebih banyak wawasan mengenai kualitas layanan air limbah yang diselenggarakan oleh Pemda. Sebagai contoh, apakah jumlah, kualitas, dan pengaturan waktu layanan sesuai dengan kewajiban Pemda? Indeks WWS yang didukung oleh IndII dapat ditingkatkan dan Sistem Informasi Pengelolaan (MIS, Management Information System) keuangan Penyelenggara diperkuat. Pendanaan Pemerintah Pusat yang konsisten atas sistem MIS makro juga diperlukan.
Insentif
Dimulai dengan Penyelenggara yang baru, disarankan untuk memberikan insentif yang lebih kuat dengan menggunakan pendekatan hibah sAIIG, di mana jumlah pendanaan hibah yang lebih tinggi tetapi dengan penalti bila tidak memenuhi capaian. Pengenalan terhadap aturan pemantauan lepasan aliran air limbah dan “sambungan menyeluruh” (100 persen sambungan di wilayah layanan) dapat mendukung Pemda untuk memantau hasil. Dukungan juga dapat diberikan pada kantor lapangan Ditjen Cipta Karya, Satker, serta provinsi untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengaturan baru mereka.
Urbanisasi meningkatkan profil dan pentingnya fungsi pengelolaan sanitasi dan air limbah dari pemerintah perkotaan. Masyarakat mungkin masih belum jelas mengenai ke mana perginya limbah mereka, tetapi
setidaknya sebagian besar Pemda dalam program sAIIG telah mapan berkecimpung dalam bisnis pengelolaan air limbah.
Tentang penulis
Andrew McLernon adalah konsultan pembangunan perkotaan yang tinggal di Indonesia, serta telah bekerja terutama di Bank Dunia, Asian Development Bank, dan berbagai proyek dengan pendanaan bilateral yang memberikan dukungan kepada Pemerintah Indonesia. Ia menghabiskan 20 tahun pertama karir profesionalnya untuk desain teknis dan pengawasan penyediaan air minum,