• Tidak ada hasil yang ditemukan

James L. Woodcock | Tenaga Ahli Tata Kelola Air Minum

Pengelolaan perusahaan daerah air minum (PDAM) yang baik adalah kunci untuk layanan air minum yang berkelanjutan di Indonesia, namun sangat sulit untuk dipelihara dan diukur. Sebagai akibatnya, infrastruktur air minum senilai lebih dari A$ 5 miliar masih belum digunakan secara optimal, karena walaupun Pemerintah Indonesia dan donor telah menyediakan dana senilai jutaan dolar untuk pipa, hanya terdapat sedikit dukungan yang diberikan untuk meningkatkan pengelolaan PDAM. Indonesia Infrastructure Initiative (IndII) yang didukung oleh Pemerintah Australia telah menjadi pemimpin dalam mendukung peningkatan prosedur pengelolaan layanan air minum yang dibiayai melalui kredit bank, tidak hanya untuk organisasi penyediaan air minum berbasis masyarakat kecil tetapi juga untuk PDAM yang memenuhi kualifikasi untuk program Pemerintah Indonesia terkait dengan pemberian jaminan parsial dan subsidi bunga yang sejalan dengan Peraturan Presiden no. 29 Tahun 2009 tentang Pemberian Jaminan dan Subsidi Bunga oleh Pemerintah Pusat Dalam Rangka Percepatan Penyediaan Air Minum (Perpres 29).

Ketika program 20 PDAM disusun, Pemerintah Indonesia merupakan sumber utama pembiayaan infrastruktur PDAM, karena sebagian besar pemerintah daerah (Pemda) mengabaikan tanggung jawab mereka untuk mendukung layanan air leding. Namun terdapat kebuntuan; Pemerintah Indonesia tidak dapat memberikan program hibah setara (matching grants) kepada lebih dari 100 PDAM, karena 100 PDAM tersebut

Rencana bisnis meningkatkan kinerja PDAM untuk memperoleh pembiayaan serta dukungan dari pemerintah daerah dan bank umum.

telah berhenti membayar kembali pinjaman dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Sebagai akibatnya, cakupan air leding di wilayah perkotaan menurun dari 36 persen pada 2000 menjadi 24 persen pada 2009. Tetapi karena PDAM menjadi lebih efisien selama masa-masa buruk, 2009 menjadi tahun pertama di mana terdapat lebih banyak PDAM yang sehat daripada PDAM yang sakit, yang berarti lebih banyak PDAM siap untuk melakukan peningkatan dengan syarat mereka dapat mengakses program-program yang mendorong pengelolaan yang baik dalam jangka panjang. Indonesia menetapkan status PDAM dalam klasifikasi “sehat”, “tidak sehat”, dan “sakit” berdasarkan indikator-indikator teknis, finansial, dan pengelolaan tertimbang.

Selama jangka waktu ini, Pemerintah Indonesia memprakarsai dua program untuk memperkuat pembiayaan PDAM. Yang pertama adalah program Restrukturisasi Utang PDAM yang menerima rencana bisnis dari 76 PDAM yang berjanji untuk membayar kembali utang mereka yang telah dijadwalkan ulang. Apabila PDAM kembali mengalami tunggakan, Pemerintah Indonesia dapat memotong pembayaran utang tersebut dari transfer Dana Alokasi Umum (DAU) tahunan Pemda. Program yang kedua, Perpres 29, memberikan jaminan parsial dan subsidi bunga kepada PDAM yang sehat, yang dapat mengatur pinjaman bank umum berdasarkan rencana bisnis yang komprehensif. Apabila sebuah PDAM mengalami tunggakan, Kemenkeu dapat memotong jumlah tunggakan tersebut dari DAU Pemda yang bersangkutan.

Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Direktorat Jenderal Cipta Karya, meminta dukungan IndII terkait penyusunan rencana bisnis untuk mendapatkan pinjaman program Perpres 29, yang selaras dengan maksud awal IndII, yaitu untuk mendukung PDAM dengan rencana bisnis untuk peningkatan pengelolaan. Hasilnya disebut program 20 PDAM, karena pada awalnya hanya 20 PDAM yang akan didukung program Perpres 29. Tugas pertama IndII adalah memberi dukungan kepada sejumlah PDAM yang sebagian besar tidak sehat, yang banyak di antaranya tidak yakin mereka ingin meminjam, sehingga IndII harus melaksanakan program sosialisasi manfaat pinjaman bank. Konsultan yang dipekerjakan

oleh Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum mendukung PDAM lainnya, yang banyak di antaranya cukup sehat.

Artikel ini menjelaskan peran IndII yang terus meningkat dengan stabil dalam hal pembuatan rencana bisnis yang berkontribusi terhadap upaya Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pembiayaan PDAM sementara meningkatkan akses untuk memperoleh air leding, dan pada saat yang sama, meningkatkan kualitas prosedur serta kinerja pengelolaan PDAM.

Kebutuhan Penting yang Dipenuhi oleh Dukungan untuk Perencanaan Bisnis IndII

Pemerintah Indonesia telah menargetkan peningkatan akses terhadap air leding pada tahun 2019, dan peningkatan profitabilitas PDAM. Dalam basis per kapita, sumber daya air Indonesia hampir dua kali lebih besar dari sumber daya air AS, namun hanya 20 persen penduduk Indonesia memiliki akses terhadap pasokan air leding. Meski target akses Pemerintah Indonesia telah ditingkatkan, Pemda kurang memahami bisnis air minum. Mereka enggan untuk menaikkan tarif, dan mereka enggan untuk menggunakan dana mereka sendiri untuk investasi modal pada PDAM.

Terdapat pula kebutuhan penting agar PDAM menjadi lebih mandiri. Untuk investasi jangka panjang, PDAM bergantung pada Pemerintah Indonesia atau Pemda yang mengadakan program dan kontrak kerja menurut prioritas mereka sendiri. Untuk pasokan tambahan air permukaan, PDAM juga bergantung pada izin dari Pemerintah Indonesia atau Pemda dalam proses yang seringkali mengalami penundaan yang lama dan biaya yang besar.

Respon IndII dapat dibagi ke dalam dua tahap. Dalam tahap pertama antara 2008 dan pertengahan 2014, peran IndII adalah mendukung PDAM dalam menyusun rencana bisnis dan dokumen lainnya, dan tantangan pertamanya adalah mengatasi keengganan PDAM dan Pemda untuk meminjam dana melalui program Pemerintah Indonesia. Pada pertengahan 2014, peran IndII berkembang hingga mencakup beberapa kegiatan lain.

Respon IndII hingga Pertengahan 2014

Tim IndII menerima daftar panjang calon PDAM untuk program Perpres 29 dari Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Tim IndII memerlukan waktu hampir dua tahun untuk menjelaskan, sebelum pada akhirnya sejumlah besar PDAM dan Pemda merasa cukup percaya diri untuk memulai proses program Perpres 29. IndII memberi dukungan kepada satu dari tiga PDAM pertama untuk menerima jaminan parsial dan subsidi bunga yang disetujui pada Desember 2011. Pengalaman positif dari PDAM-PDAM tersebut memperkuat PDAM lainnya. PDAM Kabupaten Lombok Timur yang didukung oleh IndII telah membayar kembali pinjaman bank secara tepat waktu dan penuh. Sejak sekitar 2013, terdapat minat yang kuat di kalangan PDAM dan Pemda untuk berpartisipasi dalam program Perpres 29 meski program tersebut berakhir pada Desember 2014, dan Pemerintah Indonesia masih mencoba untuk menetapkan penggantinya.

Sebuah format rencana bisnis dan lembar lajur (spreadsheet) disusun dengan masukan dari Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum dan bank-bank umum. Dokumen-dokumen ini telah diperbarui dari waktu ke waktu dan disertai oleh pedoman tata kelola pemerintahan dan sistem evaluasi PDAM.

Respon IndII setelah Pertengahan 2014

Perubahan kebijakan pada Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum memerlukan peran tambahan dari IndII. Di samping peran IndII sebelumnya, yaitu mendukung penyusunan rencana bisnis dan

memberi dukungan dalam audit tata kelola pemerintahan yang baik, terdapat empat peran baru:

1. Sebagai fasilitator dan pihak yang mempercepat persetujuan program Perpres 29;

2. Sebagai sumber daya untuk penyusunan pengganti Perpres 29;

3. Sebagai penyusun bahan bagi PDAM dan Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Umum untuk menjamin diikutinya sistem dan prosedur yang baru

dikembangkan setelah berakhirnya proyek;

4. Sebagai pusat keterampilan berpengalaman dalam penyusunan rencana bisnis yang layak perbankan (bankable) yang dapat mendukung PDAM menyusun rencana dalam jangka waktu singkat.

Dalam perannya sebagai fasilitator dan pihak yang mempercepat, IndII dapat menjelaskan rencana bisnis

kepada Badan Pendukung Pengembangan Sistem

Penyediaan Air Minum (BPPSPAM), Kemenkeu, serta bank-bank umum, dan bekerja bersama PDAM yang mengajukan permohonan untuk ikut serta dalam program Perpres 29.

Dalam perannya sebagai sumber daya penyusunan Perpres yang baru, IndII mendukung tiga pertemuan

antar departemen yang pertama pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko

Perekonomian), menyusun kertas posisi (white paper), serta memberikan informasi dan data sementara proses persetujuan berjalan. Perpres 29 memiliki potensi yang sangat besar, tetapi tidak populer di kalangan departemen yang merasa mereka mengambil risiko dengan menyetujui jaminan dan subsidi pemerintah. Pada 2014, IndII mendukung Kemenko Perekonomian dan kementerian-kementerian lini menetapkan solusi PDAM yang berjalan baik menjamin penyediaan air minum dan akses yang berkelanjutan bagi masyarakat.

untuk menciptakan program Perpres 29 yang telah disempurnakan. IndII mendukung penyelenggaraan seminar-seminar awal mengenai Perpres yang telah disempurnakan dan menyusun kertas posisi. Beberapa saran peningkatan dari IndII dimasukkan ke dalam Perpres yang baru. Sebagai contoh, rancangan yang baru mengurangi waktu persetujuan Kemenkeu dari tiga bulan menjadi 15 hari. Perpres yang baru diharapkan untuk diresmikan pada Maret 2017. Jika IndII tidak memberikan arus informasi pendukung yang relevan secara terus-menerus, Perpres yang baru kemungkinan akan tertunda bahkan lebih lama lagi.

Dalam perannya untuk menjamin keberlanjutan sistem

dan prosedur, IndII menyadari bahwa beberapa PDAM yang sudah maju seperti di Palembang dan Pontianak memiliki potensi untuk menyusun rencana bisnis yang layak perbankan dengan sedikit bimbingan. Dan pada akhirnya, semua PDAM yang sehat perlu dapat menyusun rencana bisnis mereka sendiri. Untuk membangun pasar yang berkelanjutan di mana bank memberikan pinjaman kepada PDAM dan PDAM menyusun rencana bisnis yang layak perbankan, terdapat kebutuhan akan pedoman atau pelatihan, atau keduanya. Meski terdapat beberapa pelatihan pembiayaan penyediaan air minum, namun tidak terdapat pelatihan penyusunan rencana bisnis. IndII mempersiapkan pedoman langkah demi langkah mengenai cara menyusun rencana bisnis yang

komprehensif yang mudah untuk dianalisis dan diterima oleh bank. Pedoman (atau “toolkit”) tersebut berisi contoh dan saran penolong mengenai tempat mengakses data. IndII menyusun kurikulum pelatihan berdasarkan pedoman tersebut dan pada 2016 mengadakan sesi pelatihan percontohan untuk PDAM terpilih. Peserta kembali ke PDAM mereka masing-masing dan menyusun rencana bisnis, kemudian kembali ke Jakarta untuk mempresentasikannya. Peserta menilai pelatihan

tersebut sangat baik atau luar biasa. Sama seperti toolkit, pelatihan tersebut adalah satu-satunya dari sejenisnya yang digunakan di Indonesia.

Pada akhirnya, IndII mensponsori sebuah seminar untuk memberikan informasi kepada Pemda mengenai apa yang telah dipelajari PDAM dan untuk mendiskusikan bagaimana Pemda dapat memperoleh manfaat dari kemampuan baru PDAM dalam hal perencanaan.

Dalam perannya sebagai pusat keterampilan perencanaan bisnis, IndII diminta untuk memberi dukungan dalam

penyusunan rencana bisnis PDAM Kota Bandar Lampung dan PDAM Kota Semarang yang melibatkan elemen-elemen Kemitraan Pemerintah-Swasta (KPS) sektor swasta. IndII sebelumnya telah menyusun rencana bisnis untuk PDAM Kota Surabaya dan PDAM Kota Sidoarjo sebagai pembeli utama air minum dari rencana proyek KPS air minum curah mata air Umbulan yang berjalan sejak 2016.

Apakah Program 20 PDAM IndII adalah Hal yang Tepat untuk Dilaksanakan?

IndII telah berkembang lebih pesat dari donor lain manapun yang mendukung perencanaan bisnis PDAM. Perencanaan bisnis untuk pinjaman bank umum adalah satu dari beberapa topik penting dalam sektor air minum perkotaan di Indonesia yang memberikan berbagai manfaat. Evaluasi telah menunjukkan korelasi perencanaan bisnis terhadap:

1. Kenaikan dalam partisipasi dan investasi Pemda; 2. Kenaikan dalam akses terhadap penyediaan air leding; 3. Kenaikan stok infrastruktur;

4. Kenaikan dalam pembiayaan dari bank umum, yang menurunkan beban pembiayaan pemerintah; 5. Peningkatan prosedur transparansi, efisiensi, dan

pengelolaan jangka panjang infrastruktur; 6. Kenaikan dalam profitabilitas PDAM.

Tabel 1: Perubahan Rata-Rata Ketiga Indikator Pengelolaan untuk 12 PDAM

Staf/1.000 Sambungan Kontribusi Pemda Laba Bersih

Rata-Rata untuk 5 PDAM (2013) -25% +59% +70%

Pemerintah Indonesia telah memvalidasi strategi program IndII dengan menggunakan keahlian IndII untuk menyusun Perpres yang baru, program pelatihan pelatih (training of trainers) dalam perencanaan bisnis, dan penyusunan rencana bisnis untuk dua proyek yang melibatkan kerjasama dengan sektor swasta di Bandar Lampung dan Semarang.

Apakah Program 20 PDAM Mencapai Hasil yang Diharapkan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin secara logis dapat dilihat bahwa sebuah PDAM harus meningkatkan prosedur pengelolaannya untuk melaksanakan dan membayar kembali pinjaman bank. Alasannya adalah bahwa PDAM tersebut harus lebih transparan karena bank memegang 100 persen penerimaan tunainya dan memantau kinerjanya untuk menjamin PDAM tersebut dapat melakukan pembayaran triwulanannya secara tepat waktu. Apabila PDAM tersebut tidak dapat melunasi pinjaman, Pemerintah Indonesia sebagai penjamin parsial akan berupaya untuk menutup sebagian dari ketidakmampuan untuk melunasi pinjaman tersebut dari Pemda. Dengan demikian, karena Pemda memiliki kepentingan yang lebih besar dalam kinerja pengelolaan PDAM, Pemda memantau dengan lebih cermat.

Kinerja PDAM terlihat lebih baik dalam program Perpres 29 daripada sebelumnya dalam program Restrukturisasi Utang yang juga didasarkan pada rencana bisnis. Sebanyak 11 PDAM dalam program Perpres 29 tidak pernah terlambat melakukan pembayaran triwulanan. Terdapat 76 PDAM dalam program Restrukturisasi Utang, dan pada pertengahan 2014, 30 di antaranya tidak dapat melunasi pinjaman.

Survei awal (baseline) atas lima PDAM yang didukung oleh IndII dilakukan pada 2013, dan hasil tata kelola program 20 PDAM pada kelima PDAM ini dievaluasi pada 2016. Evaluasi tersebut menemukan bahwa:

• Terdapat korelasi yang jelas antara perencanaan bisnis untuk pinjaman bank umum dengan indikasi adanya baik peningkatan pengelolaan PDAM maupun peningkatan dukungan Pemda.

• Terdapat pula indikasi bahwa proses perencanaan memiliki korelasi dengan kecepatan penguatan beberapa PDAM yang lebih lemah.

Temuan-temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara dengan manajer yang menyatakan bahwa perencanaan bisnis menghasilkan kepercayaan diri, pemahaman, dan interaksi dengan pemangku kepentingan yang lebih besar. Pada akhir 2016, evaluasi yang kedua mengkaji hasil tata kelola pada tujuh PDAM yang kurang sehat yang telah Seminar mengenai panduan rencana bisnis untuk PDAM di seluruh Indonesia untuk mendukung pencapaian akses universal 100 persen pada tahun 2019, telah diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 30–31 Januari 2017.

didukung oleh IndII selama jangka waktu 2010–2013. Hasil evaluasi yang kedua ini serupa dengan hasil evaluasi yang pertama, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1. Oleh karena keterlibatan bank dan visibilitas publiknya yang tinggi, program Perpres 29 sendiri menghasilkan transparansi dan perhatian yang lebih besar dari Pemda. Peningkatan indikator pengelolaan dapat disebabkan oleh hal ini dan banyak faktor lain, sehingga kesimpulan mengenai dampak langsung perencanaan bisnis terhadap peningkatan pengelolaan didasarkan terutama pada pendapat personil PDAM, seperti:

“Setelah bekerja bersama dengan konsultan-konsultan rencana bisnis, kami dapat mengikuti data yang lebih andal selama pelaksanaan.” — Cik Mik, S.T., Presiden

Direktur, PDAM Kota Palembang

“Para konsultan membantu kami menyusun rencana bisnis yang memenuhi persyaratan bank sehingga menghasilkan kepercayaan yang lebih besar dari pemangku kepentingan terhadap PDAM.” — Affandi,

Presiden Direktur, PDAM Kota Pontianak

“Saya tidak dapat menjalankan pengelolaan dengan baik tanpa rencana bisnis. Rencana bisnis merupakan pedoman pengelolaan saya.” — Deni Erlanda, Direktur

Pengelola, PDAM Kabupaten Kuningan

Perencanaan bisnis tampaknya menjadi solusi bagi permasalahan yang sudah lama ada. Dengan sedikit keberhasilan, badan-badan Pemerintah Indonesia telah menggunakan program hibah setara (matching

grants) dan berbagai mekanisme lain untuk mencoba

menarik investasi Pemda kepada penyediaan air minum. Tetapi evaluasi menemukan bahwa perencanaan bisnis untuk pinjaman bank harus disertai oleh peningkatan pengelolaan dan peningkatan investasi Pemda. Dukungan IndII hanya kepada lima PDAM selama 2013–2014 hanya merupakan sebagian kecil dari kegiatan 20 PDAM, dengan biaya kurang dari A$ 2 juta, tetapi evaluasi dampak menunjukkan peningkatan tahunan rata-rata kontribusi Pemda sebesar A$ 28 juta selama dua tahun terakhir pelaksanaan rencana bisnis lima tahunan.

Kebutuhan Masa Mendatang

Terdapat kebutuhan untuk menindaklanjuti Perpres 29 agar manfaat-manfaat ini dapat terus berlanjut. Selama lebih dari dua tahun, bank umum telah menunggu persetujuan Perpres 29 yang baru untuk memberikan pinjaman kepada 16 PDAM yang belum dikerjakan. PDAM tersebut menunggu untuk meminjam A$ 52 juta (90 persennya diminta oleh PDAM yang didukung IndII). Segera setelah Perpres yang baru ditandatangani, konsumen air minum Indonesia akan menerima manfaat baru senilai A$ 52 juta, termasuk pembangunan 315.000 sambungan baru, tanpa harus menarik dana Pemerintah Indonesia atau Pemda.

Terdapat kebutuhan untuk melatih para pelatih mengenai prosedur perencanaan bisnis yang komprehensif. Banyak yang harus dilakukan di sini karena pada 2016, hanya 30 persen dari seluruh PDAM yang memiliki tarif yang dapat menutup biaya, dan program penghapusan utang baru-baru ini telah mengizinkan lebih banyak PDAM yang memenuhi syarat untuk menerima pinjaman bank. Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum sangat membutuhkan keahlian perencanaan bisnis dari tim yang dibentuk melalui belanja jutaan dolar dan yang memiliki tujuh tahun pengalaman, khususnya selama permulaan program jaminan dan subsidi Perpres 29 yang telah disempurnakan.

Akhir kata, badan-badan pemerintah masih perlu memahami besarnya risiko perbankan dan manfaat hutang kepada nasabah dari program subsidi dan jaminan Pemerintah Indonesia untuk menciptakan pasar antara PDAM dan bank umum. Penundaan penandatanganan dari pengganti Perpres 29 sebagian besar disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang lambat laun diperjelas melalui lokakarya dan berbagai pertemuan lain.

Keberlanjutan: Akankah Manfaat Program 20 PDAM Berkelanjutan?

Kegiatan IndII dilakukan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kontribusi Kementerian Pekerjaan dan Perumahan Umum terhadap program nasional Perpres

29, meski Kementerian menggunakan keahlian tim IndII untuk mendukung perencanaan bisnis untuk berbagai program lain seperti kerjasama sektor swasta pada PDAM di Semarang dan Bandar Lampung. Keberlanjutan prosedur dan perangkat IndII sebagian besar bergantung pada keberlanjutan program yang menjadi tujuan dari prosedur serta perangkat tersebut dikembangkan, dan persetujuan Perpres yang baru sudah berada pada tahap akhir, menunjukkan indikasi keberlanjutan untuk lima tahun lagi.

Salah satu dari manfaat yang paling dekat dan nyata dari program 20 PDAM adalah keahlian tim perencanaan bisnis IndII yang sangat berguna yang telah berulang kali dipuji dan diminta dukungannya oleh Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Dua evaluasi terpisah menggunakan data resmi telah menyimpulkan bahwa perencanaan bisnis dalam program 20 PDAM memiliki korelasi dengan peningkatan pengelolaan yang terukur seiring waktu. Ketersediaan umpan balik yang terukur ini akan menimbulkan kepercayaan donor untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya demi menjamin keberlanjutan investasi infrastruktur mereka yang sangat besar melalui dukungan perencanaan bisnis yang direncanakan dan dipantau dengan baik untuk pinjaman bank.

Jelas bahwa berbagai perangkat yang dikembangkan oleh program 20 PDAM akan digunakan dan dikembangkan secara berkelanjutan karena dibutuhkan saat ini dan belum pernah ada sebelumnya. Toolkit dan pedoman perencanaan bisnis dengan contoh dan format digunakan secara rutin oleh lebih dari 30 PDAM, dan lebih dari 20 pelatih yang telah menerima pelatihan terkait aplikasi praktisnya. Tidak terdapat pedoman lain untuk perencanaan bisnis yang komprehensif di Indonesia. Apabila Perpres yang baru disetujui, penggunaan luas pedoman dan perencanaan bisnis untuk pinjaman tersebut dapat mendukung penciptaan pasar yang berkelanjutan untuk pinjaman PDAM dari bank umum sehingga menghasilkan kelayakan kredit PDAM yang lebih besar, keterlibatan sektor swasta yang lebih besar serta PDAM yang secara berkelanjutan dikelola dengan lebih baik dan lebih mandiri.

Tentang penulis:

James L. Woodcock adalah seorang konsultan

infrastruktur perkotaan yang telah mengerjakan berbagai proyek yang didukung oleh Bank Dunia, USAID, dan DFAT di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia telah bekerja selama 25 tahun terakhir dalam desain proyek, tata kelola sektor air minum perkotaan, keberlanjutan peningkatan pengelolaan, serta pemantauan dan evaluasi. Belakangan ini, Jim menjadi Tenaga Ahli Tata Kelola Air untuk Indeks Layanan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi IndII, proyek Tata Kelola Air Minum NTT/NTB Tahap I, dan program 20 PDAM, untuk meningkatkan instansi-instansi pengelolaan PDAM melalui perencanaan bisnis, terutama untuk pembiayaan bank umum.