• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGETAHUAN LOKAL DALAM CARA PENANGKAPAN

4.4 Doran atau Jaring

4.3.1 Modal Besar untuk Doran

Bagi pemula membutuhkan modal besar untuk menjadi nelayan dengan menggunakan sistem doran. Paling tidak modal awal yang dikeluarkan oleh nelayan lebih kurang 10-12 juta rupiah. Dari modal awal tersebut digunakan untuk perlengkapan yang wajib dimiliki oleh nelayan seperti perau (perahu), dan jaring. Untuk perau sendiri memiliki variasi berdasarkan bahan kayu, ada perau yang dibuat dari kayu gerupel, kayu

jeumpa kedua jenis kayu ini merupakan kualitas terbaik untuk dijadikan sebagai perau.

Ada pula perahu dengan bahan kayu sembarangan atau kayu apa saja seperti perahu yang dibuat dari batang pohon kapas dan lain sebagainya, memiliki kualitas rendah atau biasa disebut KW. Perau dari kayu kapas memang lebih murah dibandingkan perau yang terbuat dari kayu gerupel dan jeumpa. Namun perau dari bahan kayu kapas ini tidak dapat bertahan lama, karena sifatnya menyerap air maka rentan dengan kerusakan seperti lebih cepat lapuk, dan tidak aman digunakan untuk nelayan. Berbeda dengan perau berbahan kayu jeumpa dan kayu gerupel memiliki ketahanan yang lebih lama dapat digunakan sampai 10 tahun bahkan lebih, dan harganya lebih tinggi dibandingkan dengan perau dengan kualitas rendah. Harga perau dari kayu jeumpa dan

gerupel mencapai 4-4,5 juta rupiah. Berikut penuturan informan bernama Rusdan (Aman Tina) berumur 35 tahun.

“ Bertelurnya kayak mana jadi kayak orang laen yang di tipi- tipi tu dia dibudidayakan terus dari, dari tambak ni bertelornya nanti diambil dari ikan ini kan ada tu kan, dia suntik di situ udah bertelor dibadannya itu nanti kalo udah tua baru dikeluarin lagi, di tarok disatu tempat lagi baru menetas. Jadi tau kita berapa hari atau berapa bulan baru… ini lah enggak ada.”

Untuk jaring para nelayan paling tidak harus memiliki 6 jaring, biasanya nelayan membeli net jaring saja dan nelayan menambah sendiri ke jaring untuk pemberat dan pelampung. Informan juga mengatakan dengan uang Rp. 1.000.000,00 bisa mendapat kurang lebih enam jaring. Pemberat jaring biasanya nelayan menggunakan batu besar kira-kira berdiameter 10-15 cm. Pemberat ini biasanya ditinggal di danau, dan ketika nelayan kembali ke danau menggunakan pemberat yang sama yang sudah ditandai. Hal ini bertujuan agar bawaan nelayan tidak terlalu banyak dan mengurangi beban perahu iu sendiri. Sedangkan pelampung jaring nelayan biasanya menggunakan botol plastik yang bekas, dan stereofoam. Berikut pernyataan informan sebut saja namanya x berumur 50 tahun.

“Kadang batu pemberat tu tinggal terus dia di situ besok- besok tinggal ikat lagi di situ. Pindah kita enggak diambil lagi batu itu, bikin lain lagi.”

BAB V

KELOMPOK NELAYAN DAN KEADAAN DANAU LAUT TAWAR

5.1 Kelompok Nelayan

Nelayan adalah sebutan bagi orang-orang yang bekerja sehari-hari menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup di dasar, kolom maupun permukaan perairan. Perairan tempat menangkap ikan bagi nelayan terbagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu perairan tawar, perairan laut, dan perairan payau, dan nelayan yang ada di Danau Laut Tawar termasuk ke dalam jenis nelayan perairan air tawar. Nelayan di perairan Danau Laut Tawar memiliki kelompok-kelompok seperti kelompok nelayan di bidang pengolahan dan pemasaran, kelompok pengawas nelayan, dan kelompok budidaya ikan. Masing-masing dari kelompok tersebut memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Kelompok-kelompok tersebut antara lain:

a. Kelompok Nelayan Tangkap

Kelompok nelayan tangkap ini terdiri dari nelayan tradisional seperti nelayan dengan menggunakan jaring (doran) termasuk juga pemilik penyangkulen dan dedesen.

b. Kelompok Nelayan Bidang Pengolahan dan Pemasaran

Kelompok nelayan di bidang pengolahan dan pemasaran, berfungsi sebagai mengolah hasil tangkapan dari nelayan dan kemudian di pasarkan. Kelompok pengolah dan pemasaran ini juga bekerja sama dengan nelayan, hasil tangkap nelayan akan dibeli oleh pengolah dan kemudian dipasarkan. Banyak juga yang mengolah secara pribadi misalnya suaminya seorang nelayan, kemudian hasil tangkapannya diolah oleh istrinya. Seperti yang diutarakan oleh informan bernama Ruhdan berumur 35 tahun.

“Yang pemasar ni pun ada juga ikan pribadinya misalnya suaminya nelayan ada ikannya ada yang diolah ada yang dijual perharinya, ada juga yang suaminya nelayan tapi dia enggak jualan dia dikasi ke toke.”

Ada beberapa bentuk khususnya ikan Depik yang diolah oleh kelompok ini seperti ikan Depik kering dengan metode pengeringan yang beragam, seperti ikan Depik yang dikeringkan secara alami dengan bantuan cahaya matahari. Biasanya dengan metode ini sangat bergantung dengan cuaca dan memerlukan waktu yang cukup lama sampai 3 hari. Yang kedua metode pengeringan dengan cara di oven, dengan metopde ini lebih cepat hanya dengan hitungan menit saja ikan Depik dimasukkan ke dalam oven dengan suhu tertentu. Yang ketiga yaitu dengan metode pengasapan.

Pengolahan ikan Depik berikutnya yaitu pekasam, pekasam ini merupakan suatu makanan yang diolah dari ikan Depik dengan cara di fermentasi dengan bahan-bahan seperti nasi putih dicampurkan dengan ikan Depik, lalu di masukkan ke dalam bambu lalu didiamkan selama lebih kurang satu minggu. Makanan ini bisa bertahan sampai satu tahun, pekasammerupakan salah satu metode makanan yang dibuat oleh Orang untuk makanan cadangan pada saat tidak musim ikan Depik dan dijadikan sebagai candangan makanan dan protein.

Pemasaran biasanya para nelayan sudah memiliki pembeli, dan pembeli ini akan menjualkan kembali ikan secara eceran yang belinya dari nelayan biasanya disebut dengan moge. Para nelayan biasanya memiliki satu moge istilahnya langganan. Hubungan antara moge dan nelayan sangat baik dan selalu berkomunikasi diantara keduanya, bahkan hubungan diluar pekerjaan mereka. Ada pula nelayan yang menjual hasil tangkapannya kepada orang yang memberikan nelayan modal berupa perau dan bahan bakar, ataupun jaring. Nelayan yang Sistem ini tidak disebut dengan moge melainkan

membayar pinjaman yang digunakan nelayan. seperti yang dikatakan oleh informan bernama Ruhdan berumur 35 tahun.

“Dia ada bayar jasa entah ada yang nanam modal ke jaringnya nelayan. Nanti ikannya dijual ke dia banyak juga yang seperti itu. Dia yang ngasi modal. Jaringnya misalkan kek tu, sampan udah ada hasil dari itunya disetor ke dia, potong penghasilan.”

c. Kelompok Nelayan Bidang Budi Daya Ikan

Kelompok ini berfungsi sebagai wadah untuk perkumpulan para nelayan yang membudidayakan ikan. Budi daya ikan ini biasanya nelayan membuat kolam di danau yang biasanya disebut dengan “kolam tancap” dan membudidayakan atau mengembangbiakkan ikan mereka dengan kata lain tidak mengambil dari danau. Selain budi daya ikan dengan kolam tancap ada lagi budi daya ikan dengan “kolam terapung”, kolam ini juga berada di Danau Laut Tawar. Ikan yang dibudidayakan oleh nelayan yaitu Ikan mas (ikan Bawal), Ikan Nila, ikan Mujahir.

Untuk ikan Depik tidak ada dibudidayakan, karena tidak bisa untuk dibudidayakan. Padahal banyak nelayan yang menginginkan ikan Depik untuk dapat dibudidayakan, namun tidak ada cara yang ditemukan hingga saat ini. Kegiatan para nelayan di kelompok ini adalah berbagi informasi mengenai budi daya ikan seperti misalnya cara-cara membudidayakan ikan dengan baik, dan tempat untuk menyelesaikan masalah apabila ada kendala-kendala mengenai budi daya ikan yang mereka kembangkan.

d. Kelompok Nelayan Bidang Pengawasan

Kelompok ini berfungsi sebagai pengawas para nelayan, untuk menghindari penangkapan ikan dengan cara-cara yang merusak lingkungan dan ekosistem danau seperti pengeboman, penyetruman, dan dengan cara meracun ikan. Penangkapan dengan cara ini sudah dilarang dengan jelas oleh pemerintah, aturan ini dapat dilihat dari undang- undang dengan pasal 84 ayat 1 dengan rumusan sebagai berikut:

“setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat/dan atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau lingkungannya sebagaimana di maksud dalam Pasal 8 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah)”

Penggunaan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak dapat merusak kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan. Selain itu kesehatan manusia juga dirugikan dari penggunaan bahan kimia dan bahan biologi. Pemulihan kerusakan alam yang disebabkan oleh peledak, bahan kimia, dan bahan biologis memerlukan waktu yang lama. Sebelum terjadi maka perlu pencegahan dengan diaturnya Undang-undang pasal 84 ayat 1.

Tidak hanya mengenai bahan untuk managkap ikan yang diatur oleh Undang- undang, tentang alat penangkap ikan pun sudah di atur pada Pasal 85 yang diubah dalam Undang-undang No. 45 Tahun 2009, menyebutkan:

“Setiap orang yang dengan sengaja memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkap ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik

Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

Dengan adanya peraturan-peraturan di atas maka anggota kelompok pengawas nelayan, wajib melapor kepada pihak berwenang apabila ada nelayan yang menggunakan bahan peledak; bahan kimia; dan menggunakan alat tangkap dengan cara menyetrum. Dengan syarat memiliki bukti yang kuat, setelah itu pihak kepolisian yang menindak pelaku. Seperti yang disampaikan oleh seorang infoman bernama Ruhdan berumur 35 tahun.

“Ini kalo misalkan ada itu, kita laporkan ke kelompok masyarakat pengawas karena dia udah bertindak kriminal ada polisi di sini, ada pihak yang berwajib yang menindak dia karena tindakkannya udah tindakan kriminal kan. Makanya dibuat kelompok pengawas masyarakat ada yang ngawasin danau kalo ada yang liat fotokan. Jenis apanya kan atau misalnya nyetrum. Nyetrum pake jenset, nyetrum ikan terus membuat racun, pengeboman ke danau. Kalo ada yang buat ini tu, fotokan dia ada sanksi, ada bukti laporkan. Kelompok pengawas ni yang melaporkan pihak berwajib yang menindak ni.”

Dokumen terkait