Bab ini menjelaskan mengenai pemanfaatanmodal nafkah rumahtangga penenun di dua dusun. Berdasarkan kategori modal nafkah oleh Ellis (2000) yang disebut sebagai'aset' atau'modal' kedalamlima modal, yang mencakup; modal alam yang meliputi tanah/lahan, air dan sumberdaya biologis yang dimanfaatkan oleh orang untuk melangsungkan kehidupan; modal finansial, yaitu persediaan uang rumah tangga yang memiliki akses; modal manusia berarti tenaga kerja yang tersedia dalam rumah tangga seperti pendidikan, keterampilan, dan kesehatan; modal fisik terdiri dari modal yang dibuat dari proses produksi ekonomi terdiri dari gedung, saluran irigasi, jalan, peralatan/alat bantu (tools), mesin, dan sebagainya; dan modal sosial merupakan gabungan komunitas yang memberi keuntungan pada individual atau rumah tangga.
Pemanfaatan kelima modal ini memiliki tingkat serta nilai yang berbeda- beda pada setiap lapisan baik lapisan bawah, menengah, maupun atas. Penyajian modal nafkah dalam bentuk grafik pentagon yang dibedakan antara berbagai lapisan yaitu lapisan bawah, menengah dan atas dari setiap dusun. Berikut ini adalah penjelasan pemanfaatan kelima modal oleh tiap lapisan di dua dusun.
Pemanfaatan Modal nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan
Rumahtangga penenun di Dusun Sade dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan bawah, lapisan menengah dan lapisan atas. Pembagian lapisan tersebut berdasarkan tingkat pendapatan dari masing-masing rumahtangga penenun. Setiap lapisan penenun memiliki kecenderungan terhadap pemanfaatan modal nafkah yang berbeda. Pembagian lapisan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan modal nafkah yang dilakukan rumahtangga penenun lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas di Dusun Sade. Pemanfaatan modal nafkah dari setiap lapisan di Dusun Sade tentunya berbeda-beda antar lapisan. Kecenderungan pemanfaatan modal tertentu akan berdampak pada tumpuan utama rumahtangga penenun dalam melakukan aktivitas nafkahnya. Pemanfaatan modal nafkah oleh masing-masing lapisan rumahtangga penenun dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Sumber: Data primer
Gambar 13. Pemanfaatan modal nafkah berdasarkan lapisan rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014-2015
Berdasarkan gambar 13, terlihat perbedaan yang signifikan antar modal pada setiap lapisan. Pada lapisan bawah terlihat modal finansial dan modal fisik sangat jauh berbeda dibandingkan lapisan menengah dan atas di Dusun Sade. Sementara lapisan atas terlihat dapat memanfaatkan secara optimal seluruh modal. Berikut adalah pemaparan setiap modal berdasarkan lapisan rumahtangga penenun di Dusun Sade.
Modal Alam
Pada gambar 13, terlihat perbedaan kategori rata-rata modal alam yang dimiliki oleh rumahtangga penenun di Dusun Sade. Pada rumahtangga lapisan bawah di Dusun Sade, pemanfaatan terhadap modal alam sedang, terlihat dari rata-rata luas kepemilikan lahan sebesar 2240 m2, dan didukung oleh gambar 13, bahwa rata-rata kategori modal alam yang dimiliki rumahtangga penenun menunjukkan angka kurang dari dua, yang menandakan bahwa kepemilikan lahan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade sedang.
Pemanfaatan modal alam pada rumahtangga penenun lapisan menengah menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade. Pada gambar 13 terlihat bahwa modal alam rumahtangga penenun lapisan menengah menunjukkan angka diatas dua, yang menunjukkan bahwa kepemilikan lahan pada rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade tinggi. Rata-rata kepemilikan lahan lapisan menengah di Dusun Sade adalah 3381 m2.
Tidak jauh berbeda dengan rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade, rumahtangga penenun lapisan atas juga memiliki kategori rata-rata modal alam diatas dua, yang menunukkan kepemilikan lahan yang tinggi. Pada gambar 13, modal alam rumahtangga penenun lapisan atas terlihat paling tinggi, yang menunjukkan bahwa rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade rata- rata memiliki lahan yang tinggi, yaitu rata-rata 4750 m2. Namun kepemilikan lahan tersebut didominasi oleh beberapa orang saja, yang memiliki lahan diatas5000 m2, sementara sisanya memiliki lahan dibawah 2000 m2.
Kondisi dilapang menunjukkan bahwa pada Dusun Sade dalam (tempat pemukiman warga) tidak terdapat lahan pertanian, hanya rumah adat yang letaknya berdekatan, sehingga tidak memungkinkan adanya pekarangan. Beberapa jalan di Dusun Sade ditutupi dengan batu dan juga balok semen, yang merupakan bantuan dari Pemerintah. Namun dengan adanya balok semen tersebut, mengakibatkna air tidak meresap kedalam tanah, dan tanah tidak dapat ditanami tanaman, sehingga, sesuai dengan pernyataan “Hamerate”atau Kepala Dusun Sade, Bapak KS (46), sebagai berikut:
“…ketika pemerintah ingin memberi bantuan membuat jalan lagi, saya tolak karena percuma saja, menyia-nyiakan anggaran negara. Paling kalau masyarakat bilang mau, nanti setelah pemerintah menyelesaikan dan pergi, jalannya akan dirusak lagi oleh masyarakat. Memang ada yang kita biarkan, seperti jalan-jalan yang sering dilalui. Oleh sebab itu, pemerintah harus dengar apa yang sebenarnya masyarakat inginkan…”
Berdasarkan pernyataan Kepala Dusun Sade, bahwa pemerintah memberikan bantuan jalan yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan oleh masyarakat Dusun Sade. Adapun lahan pertanian milik rumahtangga penenun di
Dusun Sade berada di luar Dusun Sade dalam, yang merupakan daerah yang sering di kunjungi oleh pendatang. Lahan pertanian di Dusun Sade, digunakan untuk pertanian padi sawah dan kedelai.
Modal Finansial
Berdasarkan gambar 13, terlihat perbedaan modal finansial yang cukup besar diantara setiap lapisan di Dusun Sade. Lapisan bawah di Dusun Sade menempati tempat terendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas. Pada gambar 13, modal finanisal rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade menunjukkan bahwa rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade menempati posisi terendah. Modal finansial pada penelitian ini merepresentasikan jumlah pendapatan di sektor on-farm, off-farm dan non-farm, jumlah tabungan dan pinjaman, serta jumlah pengeluaran, baik pengeluaran konsumsi maupun non konsumsi. Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, pendapatan didominasi oleh sektor on-farm dan non-farm, sementara pendapatan off-farm, tidak ada satupun rumahtangga lapisan bawah yang diteliti melakukan aktivitas off-farm, dikarenakan pendapatan dari sektor non-farm lebih menguntungkan, sesuai pernyataan Kepala Dusun Sade, Bapak KS (46), sebagai berikut:
“Gaya hidup mewah sudah menggejala, karena dimasing-masing rumah sudah ada TV. Okelah, dari segi ekonomi sudah tidak ada masalah, masyarakat lebih sejahtera, tidak ada yang mau menjadi buruh, lebih baik di rumah, menunggu datangnya pengunjung, dan dapat uang.”
Namun jumlah pendapatan yang diterima tidak jauh berbeda dengan jumlah pengeluaran, sehingga mengakibatkan saving capacity rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade menjadi rendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas. Pinjaman yang mampu menambah pasokan dana untuk kebutuhan rumahtangga penenun tidak dipergunakan oleh rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, dikarenakan ketidakmampuan mengembalikan pinjaman, sesuai pernyataan Ibu DM (34), sebagai berikut:
“kami tidak berani pinjam, takut tidak ada uang untuk mengembalikan pinjaman. Jadi makan disesuaikan dengan pendapatan saja, daripada harus
meminjam, nanti tidak bisa mengembalikan pinjaman”
Tidak jauh berbeda dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, modal finansial rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade menunjukkan modal finansial rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade sedang. Namun saving capacity pada rumahtangga penenun lapisan menengah lebih tinggi dibandingkan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade. sementara rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade menunjukkan angka yang paling tinggi dibandingkan lapisan bawah dan lapisan menengah, yang menunjukkan bahwa modal finansial rumahtangga penenun lapisan atas adalah tinggi. Kesemuanya dikarenakan pendapatan dari sektor non- farm yang lebih tinggi dibandingkan lapisan bawah dan menengah, serta dikarenakan jumlah pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengeluaran, memungkinkan rumahtangga penenun lapisan atas memiliki saving capacity yang lebih besar dibandingkan lapisan bawah dan menengah.
Modal Manusia
Modal manusia yang ada pada rumahtangga penenun di Dusun Sade pada penelitian inidiukur melalui tiga aspek, yaitu tingkat alokasi tenaga kerja, lama waktu bersekolah dan banyaknya keterampilan yang dimiliki oleh rumahtangga. Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, sesuai gambar 13, modal manusia yang dimiliki terlihat paling rendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas di Dusun Sade. Hal tersebut dikarenakan tingkat lama waktu bersekolah anggota rumahtangga lebih yang rendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas.
Perbedaan lapisan menengah dan lapisan atas cukup banyak, yang disebabkan oleh perbedaan jumlah keterampilan yang dimiliki anggota rumahtangga. Pada rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade, jumlah keterampilan yang dimiliki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah keterampilan yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade. Perbedaan jumlah keterampilan yang dimiliki tersebut menunjukkan bahwa pada anggota rumahtangga penenun lapisan atas memiliki jenis keterampilan yang mampu meningkatkan perekonomiannya. Tentunya kesemuanya berdasarkan pada kemampuan dan keterampilan dari masing-masing individu dalam mengolah sumberdaya yang dimiliki agar mampu menutupi kebutuhan mereka ketika masa menunggu hasil pertanian datang.
Keterampilan rata-rata yang dimiliki anggota rumahtangga penenun lapisan atas adalah menjadi guide, berjualan dan tentunya menenun. Pendapatan menjadi seorang guide yang mengantarkan pengunjung berkeliling Dusun Sade rata-rata 50.000 sampai 100.000 rupiah per sekali mengantar pengunjung untuk berkeliling, dan dalam waktu sehari, ketika pengunjung sedang ramai, terutama dihari libur, para guide dapat mengantarkan 2 sampai 3 rombongan untuk berkeliling. Sehingga keterampilan menjadi guide ini memungkinkan rumahtangga mendapatkan pendapatan yang tinggi, sehingga menjadikannya berada di lapisan atas pada lapisan ekonomi rumahtangga penenun di Dusun Sade. Keterampilan lain di Dusun Sade yang sangat menguntungkan adalah menjadi pedagang tenun. Rata-rata rumahtangga penenun lapisan atas berdagang kain tenun. Ketika pengunjung ramai, pedagang kain tenun bisa mendapatkan 100.000 sampai 400.000 rupiah dalam sehari. Terlebih lagi, jika anggota rumahtangga ada yang berdagang dan menjadi guide, setiap ada pengunjung yang datang untuk melihat ke khasan rumah adat di Dusun Sade, para guide akan mengajak para pengunjung untuk mampir di warung tenun milik anggotarumahtangganya, sehingga pendapatan rumahtangga menjadi semakin meningkat, karena tidak perlu menyerahkan uang upah kepada guide.
Modal Fisik
Modal fisik pada rumahtangga penenun di Dusun Sade pada penelitian ini diukur melalui jumlah kepemilikan perhiasan (gram), jumlah motor, jumlah mobil, dan nilai hewan ternak (rupiah). Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, sesuai gambar 13, modal fisik yang dimiliki terlihat paling rendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas. Hal tersebut dikarenakan jumlah kepemilikan perhiasan, motor, mobil, dan hewan ternak yang lebih rendah
dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas. Kepemilikan modal fisik yang rendah dikarenakan keterbatasan ekonomi untuk membeli barang tersebut.
Kepemilikan kendaraan bermotor seperti motor dan mobil membuat lapisan atas memiliki modal fisik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan bawah dan lapisan menengah. Kepemilikan akan modal fisik tersebut dimungkinkan karena kesanggupan rumahtangga penenun lapisan atas untuk membeli dikarenakan keadaan perekonomian rumahtangga penenun lapisan atas yang tinggi dibangingkan lapisan bawah dan menengah. Sementara jumlah perhiasan dan nilai ternak lebih banyak dimiliki oleh lapisan menengah.
Modal Sosial
Modal sosial pada rumahtangga penenun di Dusun Sade pada penelitian ini dinilai berdasarkan keikutsertaan terhadap banjar dan partisipasi dalam mengikuti pertemuan masyarakat yang diadakan oleh desa maupun dusun. Keikutsertaan terhadap banjar tersebut diharapkan mampu mengurangi beban masyarakat pada saat mengadakan kegiatan besar seperti acara pernikahan, sunatan, dan kematian. Kegiatan berkumpul masyarakat dilakukan setiap ada informasi terkait bantuan dana, kegiatan budaya untuk penyambutan tamu, pengarahan terhadap pramu wisata (guide) terkait makna yang terkandung di Dusun Sade, serta pengarahan terhadap nilai-nilai kebersihan, keagamaan, serta nilai-nilai kemasyarakatan. Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan hubungan antar tetangga, karena tidak jarang dengan mengikuti kegiatan berkumpul, masyarakat mendapatkan informasi terkait harga benang, harga jual cinderamata yang tetangga mereka jual, sehingga dengan pertemuan-pertemuan tersebut, banyak masyarakat yang melakukan kerjasama bisnis penjualan kain dan cinderamata, terutama bagi penenun yang kegiatannya hanya menenun, mendapatkan rekan yang mau menjualkan hasil tenunannya dengan sistem bagi untung.
Pada gambar 13, terlihat setiap lapisan, yaitu lapisan bawah, menengah dan atas memiliki modal sosal yang hampir sama. Ketiga lapisan memiliki modal sosial diatas nilai dua, yang menunjukkan bahwa modal sosial rumahtangga penenun di Dusun Sade adalah tinggi. Hal tersebut dikarenakan adanya pemberian sanksi teguran kepada masyarakat yang tidak berpartisipasi pada kegiatan kemasyarakatan di Dusun Sade, sesuai pernyataan kepala Dusun Sade, yaitu KS (46), sebagai berikut:
“bagi yang tidak ikut hadir karena alasan-alasan tertentu, ya bisa ditoleransi, ya ga papa, tapi kalo kira-kira ya kita sanksi nanti. Awalnya kita tegur dulu,
„kenapa tidak datang? Gitu sudah kelakuannya, janganlah kaya gitu‟, nanti akan malu sendiri setelah ditegur”
Pemberian sanksi berupa teguran secara halus tersebut diharapkan mampu membuat masyarakat yang tidak mengikuti rapat ataupun kegiatan kemasyarakatan menjadi malu dan tidak enak hati jika tidak mengikuti rapat atau kegiatan. Kegiatan gotong-royong yang dilakukan masyarakat Dusun Sade berupa banjar atau tolong menolong ketika kerabat atau tetangga melakukan hajatan, tolong-menolong dalam bentuk banjar ini banyak jenisnya, tapi khusus untuk memenuhi kebutuhan hajatan, seperti beras, gula, rokok, jajanan ringan, dll. Pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, kegiatan banjar sangat menolong ketika
dilakukannya hajatan, karena sistem banjar seperti sistem arisan, yaitu bergilir mendapatkan hasil.
Pemanfaatan Modal nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara
Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge dibagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan bawah, lapisan menengah dan lapisan atas. Pembagian lapisan tersebut berdasarkan tingkat pendapatan dari masing-masing rumahtangga penenun. Setiap lapisan penenun memiliki kecenderungan terhadap pemanfaatan modal nafkah yang berbeda. Pembagian lapisan tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan modal nafkah yang dilakukan rumahtangga penenun lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas di Dusun Ketangge. Pemanfaatan modal nafkah dari setiap lapisan di Dusun Ketangge tentunya berbeda-beda antar lapisan. Kecenderungan pemanfaatan modal tertentu akan berdampak pada tumpuan utama rumahtangga penenun dalam melakukan aktivitas nafkahnya. Pemanfaatan modal nafkah oleh masing-masing lapisan rumahtangga penenun dapat dilihat pada gambar14.
Sumber: Data primer
Gambar 14. Pemanfaatan Modal nafkah berdasarkan lapisan rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014-2015
Berdasarkan gambar 14, terlihat perbedaan yang signifikan antar modal pada setiap lapisan. Pada lapisan atas, terlihat modal alam, modal finansia, dan modal fisik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan bawah dan lapisan menengah. Namun pada lapisan menengah terlihat modal manusia yang lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan bawah dan lapisan atas.
Modal Alam
Pada gambar 14, terlihat perbedaan yang cukup besar pada modal alam di tiap lapisan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, terutama perbedaan lapisan atas dengan lapisan menengah dan lapisan bawah. Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, modal alam yang dimiliki terlihat paling rendah, dikarenakan luas lahan yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge paling rendah dibandingkan luas lahan yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan menengah dan lapisan atas di Dusun Ketangge. Tidak jauh berbeda dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, luas lahan rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge juga
sedang, hal tersebut dikarenakan kurangnya kemampuan ekonomi rumahtangga untuk membeli lahan, adapun seringkali lahan yang dimiliki di jual untuk modal bekerja diluar negeri (TKI/TKW).
Rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge memiliki luas lahan yang paling tinggi dibandingkan dengan rumahtangga penenun lapisan bawah dan menengah di Dusun Ketangge. Hal tersebut dikarenakan kemampuan ekonomi rumahtangga penenun lapisan atas untuk membeli atau memiliki lahan merupakan yang paling tinggi dibangkan rumahtangga penenun lapisan bawah dan lapisan menengah di Dusun Ketangge. Kepemilikan lahan pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge di dominasi oleh rumahtangga penenun lapisan atas, yaitu rata-rata seluas 3450 m2, sementara rata-rata luas lahan yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan menengah dan bawah berturut-turut yaitu 1363.75 m2 dan 1327.65 m2. Rata-rata luas lahan yang dimiliki rumahtangga penenun perlapisan di Dusun Ketangge, lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata luas lahan yang dimiliki rumahtangga penenun perlapisan di Dusun Sade. Hal tersebut dikarenakan rata-rata masyarakat di Dusun Ketangge berada di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak memungkinkan untuk memiliki lahan yang luas.Lahan di Dusun Ketangge kebanyakan merupakan lahan warisan, sehingga tidak jarang dalam satu kolompok rumah yang berdekatan masih memiliki ikatan keluarga. Hal tersebut memungkinkan rumahtangga untuk berbagi lahan pekarangan untuk berternak ataupun menanam.
Modal Finansial
Berdasarkan gambar 14, terlihat perbedaan modal finansial yang cukup besar diantara setiap lapisan di Dusun Ketangge. Lapisan bawah di Dusun Ketangge menempati tempat terendah dibandingkan lapisan menengah dan lapisan atas. Pada gambar 14, modal finanisal rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge menunjukkan bahwa rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge menempati posisi terendah. Modal finansial pada penelitian ini merepresentasikan jumlah pendapatan di sektor on-farm, off-farm dan non-farm, jumlah tabungan dan pinjaman, serta jumlah pengeluaran, baik pengeluaran konsumsi maupun non konsumsi. Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, pendapatan didominasi oleh sektor on-farm, off-farm dan non-farm. Pada sektor off-farm rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge melakukan aktivitas sebagai buruh tani. Pendapatan sebagai buruh tani sangat membantu masyarakat dibandingkan menenun, karena dengan menjadi buruh, mereka tidak membutuhkan modal, hanya butuh tenaga dan hasilnya akan langsung dirasakan, sementara menenun membutuhkan waktu yang lama dan hasilnya dipergunakan untuk modal dan menutupi kebutuhan selama menenun. Seperti pernyataan Ibu JTR (55):
“…Seandainya ada pekerjaan lain yang dapat saya lakukan selain menenun, akan saya kerjakan, karena menenun hasilnya sedikit, modalnya 70000 sampai 80000 rupiah dijual dengan harga 230 ribu rupiah, dan dikerjakan selama berhari-hari. Saya lebih baik „ngerampek‟ daripada menenun, seandainya
„ngerampek‟ ada setiap hari, saya lebih baik „ngerampek‟, cuma kan „ngerampek‟ ga bisa setiap hari…”
Berdasarkan pernyataan Ibu JTR (55) tersebut, dapat diketahui bahwa jika pekerjaan memanen dilakukan setiap hari, masyarakat Dusun Ketangge akan lebih memilih bekerja dibidang on-farmdan off-farm dibandingkan harus bekerja non- farm. Oleh karena itu, kebanyakan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge akan lebih memilih bertani dibandingkan menenun ketika musim bertanu datang. Namun dikarenakan pekerjaan di sektor on-farmdan off-farm hanya dapat dilakukan 2-3 kali dalam setahun, maka rumahtangga di Dusun Ketangge harus mencari pekerjaan lain di sektor non-farm.Pendapatan dari ketiga sektor tersebut pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge masih lebih rendah dibandingkan rata-rata pengeluaran yang dikeluarkan oleh rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, sehingga saving capacity rumahtangga penenun lapisan bawah adalah minus.
Tidak jauh berbeda dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, modal finansial rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge menunjukkan modal finansial rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge rendah. Namun saving capacity pada rumahtangga penenun lapisan menengah lebih tinggi dibandingkan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge. sementara rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge menunjukkan angka yang paling tinggi dibandingkan lapisan bawah dan lapisan menengah, yang menunjukkan bahwa modal finansial rumahtangga penenun lapisan atas adalah tinggi. Kesemuanya dikarenakan pendapatan dari sektor non-farm yang lebih tinggi dibandingkan lapisan bawah dan menengah, serta dikarenakan jumlah pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah pengeluaran, memungkinkan rumahtangga penenun lapisan atas memiliki saving capacity yang lebih besar dibandingkan lapisan bawah dan menengah. Modal Manusia
Modal manusia yang ada pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge pada penelitian ini diukur melalui tiga aspek, yaitu tingkat alokasi tenaga kerja, lama waktu bersekolah dan banyaknya keterampilan yang dimiliki oleh rumahtangga. Pada rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge, sesuai gambar 14, modal manusia yang dimiliki terlihat paling tinggi dibandingkan lapisan bawah dan lapisan atas di Dusun Ketangge. Hal tersebut dikarenakan tingkat lama waktu bersekolah yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan bawah dan atas lebih rendah dibandingkan lama waktu bersekolah yang dimiliki rumahtangga penenun lapisan menengah. Perbandingan tersebut dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga yang bersekolah, dan berapa tahun anggota rumahtangga mengenyam pendidikan formal.
Pada rumahtangga penenun lapisan menengah, rata-rata lama waktu bersekola yang dipergunakan adalah 38,5 tahun, sementara rumahtangga lapisan bawah memiliki rata-rata lama waktu bersekolah yaitu 18,6 tahun dan