• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESILIENSI RUMAHTANGGA PENENUN DI DUA DUSUN Bab ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan

rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan dan Dusun Ketangge, Desa Sukarara dalam menghadapi stres dan shock. Salah satu konsep yang cukup populer yang digunakan dalam mengtabelkan ketahanan manusia dalam menghadapi perubahan lingkungannya yaitu konsep resiliensi. Konsep resiliensi sosial diperkenalkan oleh Jansen (2007) dalam Cote (2012) sebagai kemampuan kelompok atau masyarakat untuk mengatasi tekanan eksternal dan gangguan sebagai akibat dari perubahan sosial, politik, dan lingkungan.

Selain itu Chambers dan Conway (1991) menjabarkan beberapa Strategi untuk mengatasi stres dan shock, yang merupakan bentuk-bentuk dari strategi bertahan dalam menghadapi perubahan dalam lingkungannya, yang terdiri

daricampuran antara berhemat, menimbun, menguras, membuat

variasi,mengklaim, migrasi. Pada penelitian ini, resiliensi diukur dari kecepatan recovery dan banyaknya pilihan modal nafkah. Penjumlahan dari skor kedua kategori tersebut kemudian menjadi tingkat resiliensi. Pada penelitian ini, tekanan (stres dan shock) yang dialami oleh rumahtangga penenun adalah ketika masa menunggu hasil pertanian. Pada saat masa menunggu hasil pertanian, rumahtangga penenun tidak dapat mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan untuk bertahan hidup, sehingga harus melakukan berbagai strategi untuk kembali ke keadaan normal.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi Rumahtangga Penenun di Dua Dusun

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat resiliensi diuji dengan analisis regresi linier, alpha ditentukan sebesar 25% atau 0,25 artinya toleransi kesalahan pada uji regresi tersebut adalah 25% dan kebenarannya adalah 75% (Lampiran3). Berdasarkan uji tersebut, modal nafkah yang mempengaruhi tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Sade adalah modal manusia, modal sosial, modal alam, modal fiansial dan modal fisik. Komponen dari modal nafkah tersebut dipecah sehingga dihasilkan faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi rumahtangga penenun di Dusnun Sade yaitu pinjaman, tingkat alokasi tenaga kerja dan tingkat penguasaan keterampilan. Berikut pemaparan hasil analisis regesi.

Berdasarkan Tabel 7, diketahui tingkat signifikan variabel yang mempengaruhi resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Sade, yaitu pinjaman, tingkat alokasi tenaga kerja dan penguasaan keterampilan. Jumlah pinjaman merupakan komponen dari modal financial. Jumlah pinjaman menunjukkan jumlah uang yang dipinjam oleh anggota rumahtangga pada lembaga maupun kerabat, untuk menjaga kestabilan kehidupan.

Tabel 7. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat resiliensi nafkah rumahtangga Penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014-2015 Variabel Koefisien Bawah Standar

Koefisien

Standar t Sig. B Std. Error Beta

(Constant) 1.495 1.352 1.106 .283

Luas Lahan -6.459E-05 .000 -.124 -.475 .640 PendapatanOn Farm 1.273E-07 .000 .267 1.107 .283 Pendapatan Non

Farm -4.970E-09 .000 -.179 -.690 .499

Total Pengeluaran 4.387E-09 .000 .054 .175 .863

Tabungan -3.302E-09 .000 -.030 -.143 .888

Jumlah Pinjaman -4.398E-08 .000 -.335 -1.214 .241(*) Tingkat Alokasi TK .395 .213 .407 1.857 .080(*) Tingkat Lama Waktu

Bersekolah .000 .018 -.002 -.010 .992 Tingkat Penguasaan Keterampilan .221 .171 .270 1.292 .213(*) Tingkat Investasi Barang .148 .169 .182 .878 .391 Tingkat Partisipasi .052 .335 .029 .155 .879 Sumber: Data primer

Catatan : (*) signifikan

Berdasarkan tabel 8 di bawah, dapat diketahui bahwa semakin rendah pinjaman yang dilakukan rumahtangga penenun di Dusun Sade, semakin tinggi tingkat resiliensinya. Variabel jumlah pinjaman signifikan dengan tingkat resiliensi rumahtangga penenun, karena rumahtangga penenun di Dusun Sade tidak berani meminjam, dan lebih banyak memanfaatkan sistem banjar. Sistem banjar yang merupakan sistem tolong menolong yang menyerupai arisan dapat dijadikan sebagai sebuah tabungan masa depan, ketika melakukan sebuah acara besar, sehingga tidak perlu meminjam uang untuk melaksanakan sebuah acara. Tabel 8. Jumlah dan persentase pengaruh pinjaman terhadap resiliensi

rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014-2015 Kategori

Tingkat Resiliensi

Kategori Pinjaman

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 3 13 3 50 1 100

Sedang 8 35 1 17 0 0

Tinggi 12 52 2 33 0 0

Total 23 100 6 100 1 100

Sumber: Data primer

Selain pinjaman, faktor yang mempengaruhi resiliensi adalah tingkat alokasi tenaga kerja dan tingkat penguasaan keterampilan yang merupakan komponen modal manusia. Tingkat alokasi tenaga kerja menunjukkan jumlah anggota rumahtangga penenun yang mencari nafkah (bekerja). Variabel tingkat alokasi tenaga kerja pada rumahtangga penenun di Dusun Sade signifikan dengan tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Sade sesuai dengan tabel 9, yang

menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat alokasi tenaga kerja yang digunakan rumahtangga penenun di Dusun Sade, maka semakin tinggi pula tingkat resiliensinya. Hal tersebut dikarenakan setiap anggota rumahtangga berperan aktif dalam melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan perekonomian.

Tabel 9. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat alokasi tenaga kerja terhadap resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014-2015

Kategori Tingkat Resiliensi

Kategori Tingkat Alokasi Tenaga Kerja

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 0 0 7 37 0 0

Sedang 2 100 4 21 3 33

Tinggi 0 0 8 42 6 67

Total 2 100 19 100 9 100

Sumber: Data primer

Peran aktif anggota rumahtangga tersebut mencakup kegiatan disektor on- farm dan non-farm. Pada sektor on-farm, seluruh anggota keluarga dikerahkan untuk membantu menggarap sawah. Sementara pada sektor non-farm, setiap anggota rumahtangga penenun memiliki peranannya masing-masing, yaitu anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade bekerja sebagai guide yang kebanyakan laki-laki, kemudian anggota rumahtangga yang lain ada yang menenun dan membuka warung yang biasanya dilakukan perempuan, anak-anak di Dusun Sade biasanya membuat gelang yang terbuat dari benang yang biasanya dijualkan kepada pengunjung dengan harga 5000 rupiah. Tidak jauh berbeda dengan tingkat alokasi tenaga kerja, tingkat penguasaan keterampilan juga menunjukkan signifikan dengan tingkat resiliensi. Berikut penjabaran hubungan tingkat penguasaan keterampilan dengan tingkat resiliensi.

Tabel 10. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat penguasaan keterampilan terhadap resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014-2015

Kategori Tingkat Resiliensi

Kategori Tingkat Penguasaan Keterampilan

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 3 50 2 22 2 13

Sedang 2 33 4 44 3 20

Tinggi 1 17 3 33 10 67

Total 6 100 9 100 15 100

Sumber: Data primer

Tingkat penguasaan keterampilan anggota rumahtangga penenun Jenis keterampilan diluar sektor pertanian yang dikuasai oleh anggota rumahtangga, untuk menunjang modal nafkahnya. Pada tabel 10, dapat diketahui bahwa semakin tinggi tingkat penguasaan keterampilan rumahtangga penenun di Dusun Sade maka semakin tinggi pula tingkat resiliensinya. Hal tersebut dikarenakan anggota rumahtangga banyak yang bekerja di sektor non farm. Pekerjaan di sektor non-farm dilakukan karena pada saat menunggu hasil pertanian, rumatangga

penenun membutuhkan makan, sehingga kegiatan di sektor non-farm merupakan strategi bertahan ketika masa menunggu hasil pertanian datang. Pekerjaan di sektor non-farm membutuhkan keterampilan, dan keterampilan anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade berupa menenun, menjual kain dan cinderamata, membuat gelang dan kerajinan lain, serta menjadi guide yang terkadang menuntut keahlian berbahasa, karena pendatang yang datang tidak hanya turist lokal, melainkan mancanegara.

Berdasarkan uji analisis regresi di Dusun Ketangge dengan alpha 25%, variabel modal nafkah yang mempengaruhi tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge adalah pinjaman, tingkat lama waktu bersekolah dan tingkat investasi barang. Berdasarkan tabel 11, terlihat variabel jumlah pinjaman yang mempengaruhi tingkat resiliensi pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge. Sama halnya dengan Dusun Sade, Jumlah pinjaman merupakan komponen dari modal financial.

Tabel 11. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat resiliensi nafkah rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014- 2015

Variabel Koefisien Bawah Standar

Koefisien

Standar t Sig. B Std. Error Beta

(Constant) 2.221 .860 2.583 .019

Luas Lahan -8.417E-05 .000 -.172 -.602 .555 Pendapata On Farm 5.477E-08 .000 .266 .673 .509 Pendapatan Non

Farm -2.800E-09 .000 -.221 -.698 .494

Total Pengeluaran -2.945E-09 .000 -.052 -.212 .834

Tabungan -7.499E-09 .000 -.078 -.394 .699

Jumlah Pinjaman -1.570E-08 .000 -.324 -1.269 .221(*) Tingkat Alokasi TK -.014 .238 -.014 -.060 .953 Tingkat Lama Waktu

Bersekolah .029 .023 .463 1.249 .228(*) Tingkat Penguasaan Keterampilan -.168 .182 -.269 -.927 .366 Tingkat Investasi Barang .287 .183 .491 1.567 .134(*) Tingkat Partisipasi .074 .242 .060 .305 .764 Sumber: Data primer

Catatan : (*) signifikan

Jumlah pinjaman menunjukkan jumlah uang yang dipinjam oleh anggota rumahtangga pada lembaga maupun kerabat, untuk menjaga kestabilan kehidupan. Variabel jumlah pinjaman signifikan dengan tingkat resiliensi rumahtangga penenun, karena rumahtangga penenun di Dusun Ketangge rata-rata melakukan kegiatan meminjam kepada kerabat, tetangga dan bank untuk memenuhi kebutuahan konsumsi dan non konsumsi. Berikut penjabaran terkait hubungan tingkat peminjaman uang rumahtangga penenun di Dusun Ketangge dengan tingkat resiliensi.

Tabel 12. Jumlah dan persentase pengaruh pinjaman terhadap resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014- 2015

Kategori Tingkat Resiliensi

Kategori Pinjaman

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 2 29 8 38 2 100

Sedang 5 71 5 24 0 0

Tinggi 0 0 8 38 0 0

Total 7 100 21 100 2 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan tabel 12 diatas, diketahui bahwa semakin tinggi pinjaman, maka semakin rendah tingkat resiliensinya. Berbeda dengan Dusun Sade yang anggota rumahtangganya tidak banyak meminjam karena merasa takut tidak dapat mengembalikan pinjaman, hampir seluruh anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge pada saat penenlitian dilakukan memiliki pinjaman, baik pada kerabat, tentangga maupun bank atau koperasi. Selain pinjaman, variabel yang mempengaruhi tingkat resiliensi rumahtangga penenun adalah tingkat lama waktu bersekolah. Berikut penjabaran mengenai hubungan tingkat lama waktu bersekolah dengan tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge. Tabel 13. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat lama waktu bersekolah

terhadap resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014-2015

Kategori Tingkat Resiliensi

Kategori Tingkat lama waktu bersekolah

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 4 50 8 50 0 0

Sedang 3 38 6 38 1 17

Tinggi 1 13 2 13 5 83

Total 8 100 16 100 6 100

Sumber: Data primer

Tingkata lama waktu bersekolah merupakan komponen modal manusia. Tingkat lama waktu bersekolah menunjukkan jumlah tahun yang dihabiskan oleh anggota keluarga dalam mengenyam pendidikan di sekolah formal. Variabel tingkat lama waktu bersekolah signifikan dengan tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, sesuai dengan tabel 13, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat lama waktu bersekolah, maka semakin tinggi tingkat resiliensinya. Hal tersebut karena rumahtangga penenun di Dusun Ketangge sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Generasi muda di Dusun Ketangge hampir semuanya bersekolah, dan tidak jarang yang melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Kebebasan keluar daerah untuk bekerja maupun sekolah mengakibatkan anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge banyak yang memilih untuk keluar daerah untuk bekerja maupun sekolah, sehingga dapat menyumbangkan penambahan pada modal finansial yaitu pendapatan di sektor non-farm. Kebebasan dengan dunia luar mengakibatkan masyarkat Dusun

Ketangge kerap kali melakukan mobilisasi keluar daerah dusun maupun desa, sehingga dibutuhkan transportasi yang mendukung kegiatan tersebut. Kurangnya transportasi umum mengakibatkan masyarakat Dusun Ketangge memilih untuk menggunakan transportasi pribadi.

Tabel 14. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat investasi barang terhadap resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014-2015

Kategori Tingkat Resiliensi Kategori tingkat investasi barang

Sedang Tinggi n % n % Rendah 9 50 3 25 Sedang 7 39 3 25 Tinggi 2 11 6 50 Total 18 100 12 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan tabel 14 diatas, diketahui bahwa, pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, tingkat investasi barang hanya menunjukkan kategori sedang dan tinggi. Hal tersebut dikarenakan kepemilikan transportasi pribadi berupa motor maupun mobil oleh anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge lebih tinggi dibandingkan anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade. Kepemilikan kendaraan bermotor tersebut merupakan salah satu indikator dari tingkat investasi barang. Tingkat investasi barang menunjukkan Jumlah dan nilai barang yang dimiliki rumahtangga penenun, yang dapat ditukarkan dengan uang, seperti alat transportasi, alat tenun, rumah, tanah, ternak, dll. Pada penelitian ini, jenis barang yang termasuk dalam penilaian tingkat investasi barang adalah perhiasan emas (gram), kepemilikan motor, kepemilikan mobil dan nilai ternak. Berdasarkan kebutuhan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge akan transportasi, mengakibatkan tingkat investasi barang mempengaruhi tingkat resiliensi rumahtangga penenun di Dusun Ketangge.

Resiliensi Rumahtangga Penenun di Dusun Sade

Rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki tingkat resiliensi tinggi. Sebesar 46,67%rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki tingkat resiliensi tinggi, sementara lainnya, yaitu 30% memiliki tingkat resiliensi sedang, dan sisanya memiliki tingat resiliensi rendah. Berikut pemaparan hubungan tingkat resiliensi dengan tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat saving capacity dan tingkat modal nafkah rumahtangga penenun di Dusun Sade.

Pengaruh Pendapatan terhadap Resiliensi

Pendapatan dari sektor pertanian merupakan suatu hal yang tidak pasti. Pendapatan dari sektor on-farm maupun 0ff-farm berbeda dengan pendapatan dari sektor non-farm. Pendapatan yang berasal dari sektor on-farm dan off-farm pada rumahtagga penenun di Dusun Sade hanya dapat dirasakan pada saat musim panen padi pada lahan tadah hujan atau hanya sekali dalam setahun. Komponen resiliensi dalam penelitian ini adalah kecepatan pulih dari shockdan banyaknya

pilihan modal nafkah. Kecepatan pulih dari shockyang menunjukkan lamanya waktu yang dibutuhkan rumahtangga penenun untuk pulih ke keadaan stabil setelah menghadapi perubahan dalam lingkungannya. Kecepatan pulih dari shock dapat dilihat ketika rumahtangga penenun dapat mengembalikan uang pinjaman atau hutang, lama yang dibutuhkan untuk sehat dari keadaan sakit dan lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pinjaman.

Banyaknya pilihan modal nafkah yangmenunjukkan jenis dan jumlah berbagai alternatif cara yang dilakukan rumahtangga penenun dalam menyesuaikan diri ketika menghadapi perubahan dalam lingkungannya. Pendapatan yang tidak pasti karena harus menunggu pada saat panen dapat mempengaruhi kapasitas rumahtangga penenun dalam hal finansial salah satunya untuk mengembalikan pinjaman atau hutang. Berikut pemaparan hubungan tingkat resiliensi rumahtangga penenun dengan tingkat pendapatan di Dusun Sade. Tabel 15. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat resiliensi nafkah dengan tingkat pendapatan rumahtangga penenun di Dusun Sade per tahun 2014-2015

Tingkat Resiliensi

Kategori Tingkat Pendapatan

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 1 14 4 22 2 40

Sedang 2 29 7 39 0 0

Tinggi 4 57 7 39 3 60

Total 7 100 18 100 5 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan tabel 15, terihat bahwa pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, sebesar 57% rumahtangga yang memiliki pendapatan rendah, namun tingkat resiliensinya tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, meskipun dengan pendapatan yang rendah tetap dapat bertahan dalam menghadapi guncangan, hal tersebut dikarenakan rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki kecepatan pulih dari shock dan banyaknya pilihan modal nafkah yang tinggi. Kecepatan pulih dari shock yang dilihat berdasarkan lama waktu mengembalikan uang pinjaman atau hutang, lama yang dibutuhkan untuk sehat dari keadaan sakit dan lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pinjaman, menunjukkan bahwa rumahtangga penenun di Dusun Sade cepat mengembalikan pinjaman, cepat sembuh dari sakit, dan cepat mendapat pinjaman. Kekerabatan yang dekat antar rumahtangga mengakibatkan rumahtangga penenun di Dusun Sade cepat dalam mendapatkan bantuan, terutama jika ingin meminjam uang, dikarenakan adanya kebiasaan masyarakat Dusun Sade dalam berhubungan dengan kerabat ataupun tetangga, seperti nginding (meminta), mentanje (memberi), nyinggaq (meminjam), nempik (membeli barang dibawah harga pokok), berutang (berhutang), nalet (saling bantu), dan bedie (barter). Kebiasaan tersebut membuat masyarakat Dusun Sade menjadi lebih dekat satu dengan yang lainnya, sehingga sistem peminjaman maupun pengembalian pinjaman dapat terjadi dengan lebih mudah. Seperti pernyataan Ibu SS (38) berikut:

”…kalo minjem ditetangga atau saudara ya sehari dapet, tapi tergantung

berapa yang dipinjem dan yang dipinjemin ada uang atau tidak, kalau dia sedang ada uang ya sehari juga langsung dikasi, tapi kalo sedang tidak ada

uang, ya sampai seminggu, sebulan baru dikasi pinjam…”

Berdasarkan pernyataan Ibu SS (38) tersebut, dapat diketahui bahwa dengan kedekatan yang dimiliki, rumahtangga lebih mudah untuk meminta bantuan, sehingga dengan pendapatan yang rendahpun rumahtangga penenun di Dusun Sade masih dapat bertahan dari shock. Banyaknya modal nafkah juga mempengaruhi resiliensi rumahtangga penenun, dikarenakan banyaknya pengunjung yang datang untuk berkunjung di Dusun Sade, membuat lapangan pekerjaan baru di sektor non-farm, berupa guide dan pedagang kain dan souvenir. Pengaruh Pengeluaran terhadap Resiliensi

Tingkat pengeluaran rumahtangga penenun dibagi menjadi dua kategori yaitu pengeluaran untuk konsumsi dan pengeluaran non konsumsi. Tingkat pengeluaran rumahtangga penenun dalam penelitian ini merupakan akumulasi pengeluaran rumahtangga selama satu tahun. Pengeluaran rumahtangga penenun tentu akan menyesuaikan pendapatan yang mereka terima. Namun, beberapa responden memiliki tingkat pengeluaran yang lebih tinggi daripada pendapatan yang diterima. Fakta tersebut menunjukkan bahwa rumahtangga penenun di Dusun Sade masih memiliki hutang kepada pihak lain. Hal tersebut tentu mempengaruhi tingkat resiliensi rumahtangga penenun. Berikut pemaparan hubungan tingkat resiliensi dengan tingkat pengeluaran rumahtangga penenun di Dusun Sade.

Tabel 16. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat resiliensi nafkah dengan tingkat pengeluaran rumahtangga penenun di Dusun Sade per tahun 2014-2015

Tingkat Resiliensi

Kategori Tingkat Pengeluaran

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 2 29 4 25 1 14

Sedang 0 0 6 38 3 43

Tinggi 5 71 6 38 3 43

Total 7 100 16 100 7 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan Tabel 16, diketahui sebanyak 71% rumahtangga memiliki tingkat resiliensi tinggi dengan tingkat pengeluaran rendah. Hal tersebut merupakan strategi bertahan, yaitu dengan cara berhemat, sesuai pernyataan Chambers dan Conway (1991) yang menjabarkan beberapa strategi untuk mengatasi stres dan shock, yang merupakan bentuk-bentuk dari strategi bertahan dalam menghadapi perubahan dalam lingkungannya, yang terdiri daricampuran antara berhemat, menimbun, menguras, membuat variasi,mengklaim dan migrasi. Penghematan yang dilakukan terlihat dari jenis makanan yang dikonsumsi, yaitu rata-rata rumahtangga penenun di Dusun Sade mengkonsumsi daging hanya ketika ada hajatan. Rata-rata makanan yang dikonsumsi berupa sayuran dan kacang-kacangan.

Pengeluaran non konsumsi pada rumahtangga Dusun Sade lebih banyak ditujukan untuk banjar atau kegiatan tolong-menolong yang menyerupai arisan. Kebanyakan rumahtangga penenun di Dusun Sade menghabiskan biaya yang cukup besar untuk banjar, terutama jika ada anggota rumahtangga yang merupakan anak laki-laki, karena pembiayaan untuk acara nikah dilimpahkan pada pihak laki-laki. Pada masyarakat Dusun Sade, hajatan seperti nikahan dan sunatan merupakan acara yang membutuhkan biaya besar, oleh karena itu dibutuhkan sistem tolong-menolong yang dapat membantu meringankan biaya dan kebutuhan ketika hajatan berlangsung, pada saat itulah banjar dipergunakan. Pengaruh Saving Capacity terhadap Resiliensi

Tingkat saving merupakan hasil dari pendapatan dikurangi dengan pengeluaran. Beberapa rumagtangga memiliki tingkat savingminus dimana pengeluaran lebih besar daripada pendapatan dan biasanya hal tersebut ditutupi oleh hutang. Di Dusun Sade, rumahtangga penenun dengan tingkat saving capacity rendah, sedang dan tinggi kesemuanya memiliki tingkat resiliensi yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, tinggi atau rendahnya tingkat saving capacity, tidak akan besar pengaruhnya terhadap tingkat resiliensi. Berikut pemaparan jumlah dan presentase hubungan tingkat resiliensi dan tingkat saving rumahtangga penenun.

Tabel 17. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat resiliensi nafkah dengan tingkat saving capacity rumahtangga penenun di Dusun Sade per tahun 2014-2015

Kategori Tingkat Resiliensi

Kategori Saving Capacity

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 1 20 4 21 2 33

Sedang 1 20 7 37 1 17

Tinggi 3 60 8 42 3 50

Total 5 100 19 100 6 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan tabel 17, terlihat bahwa persentase rumahtangga penenun yang memiliki tingkat saving capacity rendah namun resiliensi tinggi mencapai 60%, yang menunjukkan bahwa meskipun rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki tingkat saving capacity rendah, namun karena adanya kebiasaan pada masyarkat seperti yang dijelaskan sebelumnya mengakibatkan rumahtangga penenun di Dusun Sade dapat bertahan dalam keadaan sulit, ditambah dengan pemanfaatan sistem banjar, yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan rumahtangga penenun pada saat mengadakan hajatan.

Pengaruh Modal Nafkah terhadap Resiliensi

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai pemanfaatan modal nafkah yang dilakukan rumahtangga penenun di Dusun Sade. Rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki modal nafkah yang bernilai tinggi pada modal alam, modal manusia dan modal sosial, dan bernilai sedang pada modal financial

dan modal fisik. Akumulasi dari kelima modal nafkah tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan modal nafkah pada rumahtangga penenundi Dusun Sade bernilai tinggi. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sembiring (2014), tingkat pemanfaatan modal nafkah yang tinggi akan diikuti oleh tingkat resiliensi yang tinggi. Sebaliknya, tingkat pemanfaatan modal nafkah yang rendah akan diikuti oleh tingkat resiliensi yang rendah pula. Berikut pemaparan jumlah dan presentase hubungan tingkat resiliensi dengan tingkat modal nafkah rumahtangga penenundi Dusun Sade.

Tabel 18. Jumlah dan persentase pengaruh tingkat resiliensi nafkah dengan tingkat modal nafkah rumahtangga penenun di Dusun Sade per tahun 2014-2015

Tingkat Resiliensi

Kategori Modal Nafkah

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n %

Rendah 1 17 3 27 3 23

Sedang 2 33 4 36 3 23

Tinggi 3 50 4 36 7 54

Total 6 100 11 100 13 100

Sumber: Data primer

Berdasarkan table 18, terlihat bahwa terdapat pengaruh antara modal nafkah terhadap tingkat resiliensi, yang mendukung penelitian Sembiring (2014), yaitu tingkat pemanfaatan modal nafkah yang tinggi akan diikuti dengan tingkat resiliensi yang tinggi. Pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, 54% memiliki modal nafkah yang tinggi dan tingkat resiliensi yang tinggi pula. Hal tersebut dipengaruhi oleh modal soial, modal alam dan modal manusia yang tinggi pada masyarakat Dusun Sade. Modal sosial yang merupakan akumulasi dari tingkat partisipasi rumahtangga penenun terhadap kegiatan yang dilakukan masyarakat di Dusun Sade dan keikutsertaan terhadap banjar, yang pada masyarakat Dusun Sade yang memiliki awiq-awiq sebagai pengontrol kehidupan bermasyarakatnya memiliki modal sosial yang tinggi dikarenakan hampir seluruh rumahtangga di Dusun Sade mengikuti banjar, setidaknya banjar mate.

Resiliensi Rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge

Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge memiliki tingkat resiliensi rendah. Sebesar 40% rumahtangga penenun di Dusun Ketangge memiliki tingkat resiliensi rendah, sementara lainnya, yaitu 30% memiliki tingkat resiliensi sedang, dan sisanya memiliki tingat resiliensi tinggi. Berikut pemaparan hubungan tingkat resiliensi dengan tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran, tingkat saving capacity dan tingkat modal nafkah rumahtangga penenun di Dusun Ketangge.

Pengaruh Pendapatan terhadap Resiliensi

Pendapatan dari sektor pertanian merupakan suatu hal yang tidak pasti. Pendapatan dari sektor on-farm maupun 0ff-farm berbeda dengan pendapatan dari sektor non-farm. Pendapatan yang berasal dari sektor on-farm dan off-farm pada rumahtagga penenun di Dusun Ketangge hanya dapat dirasakan pada saat musim

panen padi atau hanya dua sampai tiga kali dalam setahun. Komponen resiliensi dalam penelitian ini adalah kecepatan pulih dari shockdan banyaknya pilihan