• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR NAFKAH RUMAHTANGGA PENENUN DI DUA DUSUN

Bab ini menjelaskan mengenai struktur rumahtangga penenun yang dibagi kedalam tiga lapisan, yaitu lapisan bawah, menengah dan atas yang dilihat dari hasil penjumlahan pendapatan on-farm, off farm, dan non-farm, yang menurut Ellis (1998) sumber pendapatan on-farm merupakan pendapatan yang didasarkan dari sumber hasil pertanian dalam arti luas (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, dll); sumber pendapatan off-farm, yaitu berupa upah tenaga kerja pertanian, sistem bagi hasil (share cropping system), kontrak upah tenaga kerja non upah dan lain-lain; dan pendapatan non-farm, yaitu sumber pendapatan yang berasal dari luar kegiatan pertanian yang dibagi menjadi 5 yaitu: (1) upah tenaga kerja pedesaan bukan dari pertanian; (2) usaha sendiri di luar kegiatan pertanian; (3) pendapatan dari hak milik (misalnya: sewa); (4) kiriman dari buruh migran yang pergi ke kota; dan (5) kiriman dari buruh migran yang pergi ke luar negeri.

Penyajian struktur nafkah dalam bentuk grafik yang dibedakan antar berbagai lapisan yaitu lapisan bawah, menengah, dan atas, serta jumlah pendapatan yang diapatkan berdasarkan ketiga sektor, yaitu sektor on-farm, off- farm, dan non-farm, untuk melihat keberagaman pendapatan dominan yang diterima oleh rumahtangga penenun di dua dusun. Selain itu, pada bab ini juga disajikan grafik pendapatan dan pengeluaran dari masing-masing dusun yang dibedakan pula berdasarkan lapisan rumahtangga penenun. Dari grafik tersebut akan terlihat saving capacity atau kemampuan menabung yang dimiliki oleh rumahtangga penenun berdasarkan lapisan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Sumber: Data primer Sumber: Data primer Gambar 4. Persentase pendapatan pada

setiap lapisan di Dusun Sade, Desa Rembitan 2014-2015

Gambar 5. Persentase pendapatan pada setiap lapisan di Dusun Ketangge, Desa

Sukarara 2014-2015

Rumahtangga penenun di dua dusun memiliki perbedaan dalam struktur nafkah seperti pada gambar 4 dan gambar 5. Pada gambar, terlihat perbedaan yang cukup banyak pada kedua dusun, pada Dusun Sade, terlihat bahwa pendapatan

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Bawah Menengah Atas Rata-Rata

On Farm Off Farm

Non Farm Non Tenun Non Farm Tenun

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Bawah Menengah Atas Rata-Rata

On Farm Off Farm

dari sector non-farm non tenun sangat mendominasi, sementara rumahtangga penenun di Dusun Ketangge memiliki sumber pendapatan yang relative saama disetiap sector kecuali sektor off-farm. Pada gambar 4 dan gambar 5 juga terlihat jelas perbedaan pendapatan pada sektor non-farm tenun pada setiap lapisan, namun terlihat pola yang sama pada kedua Dusun, yaitu semakin rendah lapisannya, semakin tinggi pendapatan dari menenun, yang menunjukkan bahwa menenun merupakan strategi bertahan yang banyak dilakukan oleh rumahtangga lapisan bawah yang pendapatan pertahunnya paling rendah dibandingkan rumahtangga penenun lapisan menengah dan lapisan atas.

Struktur Nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan Rumahtangga penenun di Dusun Sade menjadikan pertanian sebagai sumber pendapatan utama mereka, dan komoditas utama adalah padi dan kedelai. Pertanian di Dusun Sade merupakan pertanian tadah hujan yang dilakukan hanya setahun sekali, pada saat musim penghujan datang, karena sumber pengairan untuk sawah berupa bendungan tidak dapat dijangkau oleh pertanian di Dusun Sade, sehingga pertanian di Dusun Sade hanya dapat mengandalkan air hujan dan “embung” atau penadah air hujan untuk mengairi sawah mereka.

Dikarenakan lahan pertanian tadah hujan yang hanya dapat ditanami satu kali dalam satu tahun, rumahtangga penenun memiliki banyak waktu luang, dan pada masa menunggu hasil pertanian tersebut, tentunya rumahtangga penenun membutuhkan sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang tidak dapat tertutupi jika hanya menunggu hasil pertanian. Rumahtangga penenun di Dusun Sade harus berusaha mencari sumber pendapatan lain khususnya pada sektor non-farm untuk mencukupi kebutuhan hidup rumahtangga. Masing-masing lapisan pada rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki sebaran struktur nafkah yang berbeda.

Sumber: Data primer

Gambar 6. Struktur nafkah rumahtangga penenun rata-rata per tahun dalam rupiah menurut lapisan di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014- 2015 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800

Bawah Menengah Atas Rata-Rata

x Rp 1 0 0 0 0 0

Berdasarkan gambar 6, diketahui besarnya pendapatan dari struktur nafkah yang dibangun oleh rumahtangga penenun di Dusun Sade. Terlihat bahwa di masing-masing lapisan sektor non-farm mendominasi sebagai sumber pendapatan rumahtangga penenun di Dusun Sade. Aktivitas non-farm banyak dilakukan oleh rumahtangga penenun di Dusun Sade berupa menenun, berjualan, membuat kerajinan, dan guide. Selain itu, masing-masing lapisan rumahtangga penenun memiliki ciri yang berbeda antar lapisan. Berikut penjelasan struktur nafkah dari masing-masing lapisan.

Lapisan Bawah

Rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade memiliki pendapatan rata-rata kurang dari 20 juta rupiah setiap tahunnya. Pendapatan yang kecil dalam kurun waktu setahun untuk ukuran rumahtangga. Pendapatan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade didominasi oleh pendapatan on-farm dan non-farm, sedangkan dari sektor off-farm, rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade tidak mendapatkan hasil, dikarenakan pada Dusun Sade, kekerabatan masih sangat kuat, sehingga ketika melakukan “nowong” atau menanam padi menggunakan tenaga tanpa dibayar atau gotong royong. Pendapatan on-farmdidapat dari bertani pada tanah tadah hujan yang hanya dapat digunakan sekali dalam setahun untuk pertanian padi sawah dan kedelai. Hasil pertanian padi sawah dan kedelai pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade rata-rata 2,8 juta rupiah dalam setahun. Hasil pertanian tersebut kebanyakan hanya untuk dimakan sendiri.

Rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade memiliki sebagian besar sumber pendapatan dari sektor non-farm. Rumahtangga penenun lapisan bawah mendapatkan rata-rata 15 juta rupiah dalam setahun dari sektor non-farm tersebut. Pendapatan non-farm berasal dari menenun, membuka warung tenun, dan membuat kerajinan tangan seperti gelang yang terbuat dari benang. Pada rumahtangga lapisan bawah di Dusun Sade, kebanyakan melakukan aktivitas non-farm seperti menenun, dan hasil tenun diserahkan pada rumahtangga yang memiliki warung tenun, terlebih lagi bayaran pedagang tenun kepada para guide yang mengantarkan turis ke tempat mereka berjualan, sehingga hasil penjualan tenun yang didapat oleh rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade tidak begitu besar. Berikut penuturan dari Ibu SH (38):

”…Kami harus memberikan persenan kepada guide yang mengantarkan turis ketempat jualan, setiap pembelanjaan satu kain, baik itu kain tenun atau kain lain yang ada di warung, kami harus kasi%an kepada guide, itu mengapa harga jual kain kami mahalkan agar kami tidak rugi. Terlebih jika para guide mengajak turis asing datang, kami bisa mahalkan hingga berkali-kali lipat, disitu kami baru bisa dapat untung…”

Berdasarkan pernyataan Ibu SH (38) tersebut, pendapatan dari menenun dan menjual kain menyumbangkan pendapatan yang lumayan besar bagi rumahtangga penenun di Dusun Sade, meskipun harus memberikan persenan kepada para guide yang mengantarkan turis ke warung mereka. Namun dengan adanya turis, rumahtangga penenun dapat memberikan harga yang relative cukup mahal, sehingga penenun dari berbagai lapisan di Dusun Sade juga mendapat keuntungan.

Lapisan Menengah

Rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade memiliki pendapatan rata-rata lebih dari 40 juta rupiah setiap tahunnya. Tidak jauh berbeda dengan lapisan bawah yang mengandalkan sektor on-farm dan non-farm sebagai sumber pendapatan dominan, lapisan menengah di Dusun Sade juga memanfaatkan kedua sektor tersebut ditambah dengan sektor off-farm. Namun sektor off-farm tidak juga begitu besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sektor off-farm pada rumahtangga penenun yang diteliti hanya dilakukan oleh satu rumahtangga saja, sehingga tidak dapat menggambarkan sektor off-farm yang sebenarnya pada Dusun Sade.

Pada sektor on-farm, rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade mendapatkan hasil yang lebih besar ketimbang rumahtangga penenun lapisan bawah, terlihat dari jumlah rata-rata hasil pertanian 3,9 jutarupiah setiap tahunnya. Sektor on-farm rumahtangga penenun lapisan menengah tidak berdeda dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sadel, yaitu pertanian padi sawah dan kedelai.

Sektor non-farm memberikan sumbangan pendapatan yang relatinf cukup besar, yaitu rata-rata 44 juta rupiah pertahun. Pada sektor ini rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade biasanya melakukan aktivitas berupa menenun, membuka warung tenun, dan juga guide. Membuka warung tenun memberikan pendapatan yang cukup besar, terutama jika musim liburan datang, ketika turis asing maupun turis local berkunjung di Dusun Sade, tidak jarang yang ingin membeli oleh-oleh berupa “sesekan” atau kain tenun, maupun gelang-gelang dan berbagai cinderamata lainnya yang dijual hampir disetiap warung yang ada di Dusun Sade.

Lapisan Atas

Rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade memiliki pendapat yang paling besar dibandingkan dengan pendapatan rumahtangga penenun lapisan bawah dan menengah di Dusun Sade. Pendapatan rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade rata-rata diatas 120 juta rupiah pertahun. Pendapatan tersebut didominasi oleh pendapatan on-farm dan non-farm.

Pendapatan rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade dari sektor on-farm tidak jauh berbeda dengan pendapatan rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Sade, yaitu 4,1 juta rupiah pertahun. Pendapatan dari sektor on-farmdidapat dari pertanian padi sawah dan kedelai, sama dengan lapisan bawah dan lapisan menengah di Dusun Sade.

Pendapatan dari sektor non-farm memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penghidupan rumahtangga lapisan atas di Dusun Sade. Pendapata rata-rata yang diapatkan dari sektor non-farm diatas 120 juta rupiah pertahun. Pendapatan tersebut didapat dari aktivitas membuka warung tenun, menenun, guide, dan membuat kerajinan. Namun pendapatan tersebesar didapat dari membuka warung tenun dan menjadi guide. Dalam sehari warung tenun dapat menghasilkan lebih dari 100 ribu rupiah, jika ramai akan mendapatkan jumlah yang berkali-kali lipat, begitu juga dengan guide, jika ramai pengunjung yang datang, satu orang guide bisa melayani tiga sampai empat rombongan dalam sehari, dan rata-rata sekali mengantarkan pengunjung berkeliling Dusun Sade, mereka akan dibayar 50 ribu

sampai 100 ribu rupiah. Aktivitassektor non-farm tersebut hampir dilakukan oleh semua lapisan di Dusun Sade, yang disebabkan oleh banyaknya turis yang berkunjung. Hampir disetiap rumah akan membuka satu warung tenun, yang menjual berbagai jenis kain dan kerajinan, baik kain tenun maupun kain atau pabrikan.

Struktur Nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge juga menjadikan pertanian sebagai sumber pendapatan utama mereka, dan komoditas utama mereka sama dengan Dusun Sade, yaitu padi dan kedelai. Pertanian di Dusun Ketangge berbeda dengan Dusun Sade yang merupakan pertanian tadah hujan yang dilakukan hanya setahun sekali, pada saat musim penghujan datang, pertanian di Dusun Ketangge merupakan pertanian irigasi yang umum ada di Indonesia dan dapat ditanami padi dua kali dalam setahun, setelah itu ditanami kedelai. Baik pertanian tadah hujan maupun pertania irigasi, keduanya akan membutuhkan waktu untuk panen, dan pada masa menunggu hasil pertanian tersebut, tentunya rumahtangga penenun membutuhkan sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang tidak dapat tertutupi jika hanya menunggu hasil pertanian. Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge tidak berbeda jauh dengan rumahtangga di Dusun Sade, yang harus berusaha mencari sumber pendapatan lain khususnya pada sektor non-farm untuk mencukupi kebutuhan hidup rumahtangga. Masing-masing lapisan pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge memiliki sebaran struktur nafkah yang berbeda.

Sumber: Data primer

Gambar 7. Struktur nafkah rumahtangga penenun rata-rata per tahun dalam rupiah menurut lapisan di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014-2015

Berdasarkan gambar 7, diketahui besarnya pendapatan dari struktur nafkah yang dibangun oleh rumahtangga penenun di Dusun Ketangge. Tidak jauh berbeda dengan Dusun Sade, terlihat bahwa di masing-masing lapisan sektor non- farm mendominasi sebagai sumber pendapatan rumahtangga penenun di Dusun

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800

Bawah Menengah Atas Rata-Rata

x Rp 1 0 0 0 0 0

Ketangge. Aktivitas non-farm banyak dilakukan oleh rumahtangga penenun di Dusun Ketangge berupa menenun dan menjadi supir. Selain itu, masing-masing lapisan rumahtangga penenun memiliki ciri yang berbeda antar lapisan. Berikut penjelasan struktur nafkah dari masing-masing lapisan.

Lapisan Bawah

Rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge memiliki pendapatan rata-rata kurang dari 20 juta rupiahbahkan lebih kecil dibandingkan pendapatan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade setiap tahunnya. Pendapatan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade didominasi oleh pendapatan on-farm, off-farm dan non-farm. Pendapatan on-farmdidapat dari bertani padi sawah dan kedelai. Hasil pertanian padi sawah dan kedelai pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge lebih besar dibandingkan dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade, yaitu rata-rata 4,2 juta rupiah dalam setahun. Pendapatan dari sektor off-farm tidak begitu besar, yaitu rata-rata 1,9 juta rupiah pertahun. Pendapatan off-farmdidapat dari aktivitas buruh, yaitu membantu aktivitas “ngome” atau membersihkan rumput di sawah orang lain, dan ikut melakukan aktivitas “ngerampek” atau proses panen padi. Pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, pendapatan disektor off-farm tersebut merupakan pendapatan rata-rata off-farm terbesar dibandingkan dengan lapisan menengah dan atas, yang menunjukkan bahwa aktivitas di sektor off-farm paling banyak dilakukan oleh rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge.

Pendapatan dari sektor non-farm pada lapisan bawah rumahtangga penenun di Dusun Ketangge merupakan pendapatan di sektor non-farm yang paling kecil, yaitu rata-rata 11,8 juta rupiah pertahun. Aktivitas rumahtangga lapisan bawah di Dusun Ketangge di sektor non-farm berupa menenun dan bertukang. Rumahtangga lapisan bawah memberikan hasil tenunannya kepada penadah dan harga yang dijualkan berkisar antara 200 ribu sampai 250 ribu rupiah untuk satu “bendang” atau satu kain berukuran 4×1 meter. Harga yang yang diberikan kepada penadah tersebut bisa menjadi lebih mahal ketika dijual dipasaran. Sehingga tidak jarang dari rumahtangga tersebut lebih memilih menjadi buruh ketimbang menenun. Sesuai dengan pernyataan Ibu Jt (55):

“…selama hidup, saya tidak pernah melihat penenun kaya, kegiatan menenun membutuhkan waktu yang lama dan melelahkan. Seandainya ada pekerjaan lain yang dapat saya lakukan selain menenun, akan saya kerjakan, karena menenun hasilnya sedikit, modalnya 70000 sampai 80000, dijual dengan harga 230 rbu, dan dikerjakan selama berhari-hari. Saya lebih baik „ngerampek‟ daripada menenun…”

Berdasarkan pernyataan Ibu JTR (55), dapat diketahui bahwa pada rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, menenun menjadi suatu kegiatan yang dilakukan jika tidak ada kegiatan pertanian. Dikarenakan butuh pengerjaan yang lama dan membutuhkan uang untuk membeli benang atau sekedar menyuruh orang untuk memintal benang. Selain itu waktu pengerjaan yang lama, dan selama pengerjaan tersebut rumahtangga membutuhkan makan dan memenuhi kebutuhan rumahtangga, sehingga hasil dari menenun habis ketika mengerjakan tenunan.

Lapisan Menengah

Rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge memiliki pendapatan rata-rata kurang dari 40 juta rupiah setiap tahunnya. Berbeda dengan lapisan bawah yang mengandalkan ketiga sektor nafkah, yaitu sektor on-farm, off- farm, dan non-farm, rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge hanya mengandalkan sektor on-farm dan sektor non-farm sebagai sumber pendapatan. Pada sektor on-farm, rumahtangga penenun lapisan menengah mengandalkan kegiatan pertanian yang komoditas utamanya sama dengan rumahtangga penenul lapisan bawah di Dusun Ketangge, yaitu padi dan kedelai. Pada sektor on-farm tersebut, rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge mendapatkan hasil yang lebih besar ketimbang rumahtangga penenun lapisan bawah, terlihat dari jumlah rata-rata hasil pertanian 6,9 juta rupiah setiap tahunnya.

Pendapatan di sektor non-farm pada rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge rata-rata 28 juta rupiah pertahun, lebih besar ketimbang rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge. Aktivitas non-farm pada rumahtangga penenun lapisan menengah di Dusun Ketangge didominasi oleh menenun dan beberapa pekerjaan lain berupa jasa, seperti ojek, jasa pengetikan, dan honorer. Pekerjaan menenun menjadi pekerjaan yang rutin dilakukan selama masa menunggu, namun tidak jauh berbeda dengan rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Ketangge, hasil dari penjualan tenun habis selama pengerjaan tenun, untuk modal membuat tenun, seperti membeli benang, dan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari selama masa menunggu hasil pertanian.

Lapisan Atas

Rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge memiliki pendapatan yang paling besar dibandingkan dengan pendapatan rumahtangga penenun lapisan bawah dan menengah di Dusun Ketangge maupun pendapatan rata-rata rumahtangga lapisan atas di Dusun Sade. Pendapatan rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge rata-rata diatas 170 juta rupiah pertahun. Pendapatan tersebut didominasi oleh pendapatan dari tiga sektor, yaitu sektor on- farm, off-farm dan non-farm.

Pendapatan rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge dari sektor on-farmlebih besar dibandingkan dengan lapisan bawah dan menengah di Dusun Ketangge, bahkan dua kali lebih besar dibandingkan pendapatan sektor on- farm rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Sade. pendapatan tersebut dihasilkan dari aktivitas yang sama dilakukan oleh lapisan bawah dan menengah di Dusun Ketangge, yaitu menanam padi dan kedelai. Namun seperti terlihat pada gambar 14, pendapatan terbesar pada lapisan atas Dusun Ketangge, didapat dari sektor non-farm, yang didominasi oleh aktivitas menenun, membuka warung dan menjadi supir. Pada rumahtangga penenun lapisan atas di Dusun Ketangge, menenun dilakukan sembari menunggu pembeli datang diwarung mereka, yang rata-rata menjual makanan ringan, sementara menjadi supir merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para laki-laki sembari menunggu hasil pertanian, kebanyakan dari rumahtangga lapisan atas di Dusun Ketangge menggunakan buruh untuk membantu menyelesaikan sawah mereka. Adapun tidak jarang dari rumahtangga

penenun lapisan atas di Dusun Ketangge ini melakukan kegiatan menjadi buruh pada saat musim panen tiba. Karena kegiatan “ngerampek” atau proses panen cukup membantu sebagai tambahan penghasilan. Sesuai dengan pendapat dari Ibu EL (30):

“…orang-orang yang menjadi buruh itu lebih banyak penghasilannya, mereka tidak butuh uang untuk membeli pupuk dan membayar orang, mereka tidak perlu uang untuk menyewa traktor, mereka hanya butuh tenaga dan mereka dibayar, sementara kami yang menggarap tanah sendiri, sudah perlu uang untuk beli segala macam pupuk, ditambah dengan biaya air, traktor dan bayar orang untuk membersihkan hama, sementara hasilnya hanya bisa untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dan modal untuk bertani lagi…”

Berdasarkan pernyataan Ibu EL (30) tersebut, dapat diketahui bahwa pendapatan dari sektor on-farm, hanya mampu memenuhi kebutuhan rumahtangga akan beras, tidak jarang petani menjual beras hasil pertaniannya untuk dibelikan beras “kantor” atau beras raskin yang harganya lebih murah agar dapat membeli kebutuhan lain. Sehingga tidak jarang rumahtangga lebih baik memilih untuk menjadi buruh yang pendapatannya tidak dipotong berbagai macam biaya seperti biaya membeli pupuk, membeli air dan menyewa traktor. Pendapatan seorang buruh yang “merampek” atau memanen satu kwintal gabah adalah 10 kg gabah, itu sebabnya pekerjaan sebagai buruh banyak dilakukan oleh rumahtangga penenun di dusun Ketangge, terutama rumahtangga lapisan bawah.

Struktur Pengeluaran dan Saving Capacity Rumatangga Penenun di Dua Dusun

Pengeluaran rumahtangga penenun di dua dusun merupakan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli kebutuhan pokok yang dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan konsumsi dan non konsumsi. Jumlah pengeluaran antara satu rumahtangga dengan rumahtangga lain tentu berbeda. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, jumlah pendapatan, dan kualitas hidup rumahtangga. Saving capacity merupakan kemampuan menabung rumahtangga penenun yang dapat dilihat dari pengeluaran yang dikurangi oleh pendapatan. Berikut pemaparan struktur pengeluaran dan pendapatan rumahtangga penenun di dua dusun.

Berdasarkan gambar 8, diketahui bahwa rumahtangga penenun di Dusun Sade memiliki tingkat pengeluaran yang berbeda-beda sesuai dengan lapisan rumahtangga. Rumahtangga penenun lapisan bawah memiliki jumlah pengeluaran yang lebih kecil dibandingkan jumlah pendapatan meski tidak jauh berbeda, terlihat pada gambar 8, perbedaan antara pendapatan dan pengeluaran rumahtangga lapisan bawah di Dusun Sade hanya 100 ribu rupiah, yang menandakan saving capacity atau kemampuan menabung rumahtangga penenun lapisan bawah di Dusun Sade tersebut adalah 100 ribu rupiah pertahun.

Rumahtangga penenun lapisan menengah memiliki jumlah pengeluaran