• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI NAFKAH RUMAHTANGGA PENENUN DI DUA DUSUN

Bab ini menjelaskan mengenai bentuk strategi nafkah rumahtangga penenun di dua dusun yang dibagi kedalam tiga bentuk strategi nafkah menurut Scoones (1998), yaitu rekayasa sumber nafkah pertanian, pola nafkah ganda, dan rekayasa spasial. Rekayasa sumber nafkah pertanian, yang dilakukan dengan memanfaatkan sektor pertanian secara efektif dan efisien baik melalui penambahan input eksternal seperti teknologi dan tenaga kerja (intensifikasi), maupun dengan memperluas lahan garapan (ekstensifikasi); Pola nafkah ganda (diversifikasi), yang dilakukan dengan menerapkan keanekaragaman pola nafkah dengan cara pekerjaan lain selain pertanian untuk meningkatkan pendapatan atau dengan mengerahkan tenaga kerja keluarga (ayah, ibu, dan anak) untuk ikut bekerja, selain pertanian, dan memperoleh pendapatan; dan Rekayasa spasial (migrasi), merupakan usaha yang dilakukan dengan melakukan mobilitas ke daerah lain di luar desanya, baik secara permanen maupun sirkuler untuk memperoleh pendapatan tambahan.

Bentuk Strategi Nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan

Rekayasa Sumber Nafkah Pertanian

Daerah Dusun Sade merupakan daerah perbukitan dan jauh dari sumber air berupa bendungan untuk mengairi sawah, sehingga pertanian di Dusun Sade dan sekitaran Desa Rembitan kebanyakan adalah pertanian tadah hujan. Pertanian tadah hujan di Dusun Sade hanya dapat ditanami tanaman padi sawah sekali dalam setahun karena menunggu datangnya musim penghujan. Hal tersebut mendorong masyarakat Dusun Sade melakukan beberapa bentuk rekayasa sumber nafkah pertanian, berupa intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Rumahtangga penenun di Dusun Sade melakukan kegiatan intensifikasi pertanian berupa penggunaan seluruh anggota rumahtangga dalam mengolah lahan pertanian. Pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, Kegiatan gelebak (menggarap sawah) dilakukan dengan menggunakan traktor, kegiatan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Kegiatan nowong (menanam benih tanaman padi) dilakukan secara gotong-royong dan bergantian dengan kerabat atau tetangga, sehingga memungkinkan kegiatan nowong menjadi lebih cepat. Setelah itu kegiatan berupa ngome (membersihkan hama rumput), biasanya rumahtangga penenun di Dusun Sade mengerjakan sendiri pekerjaan ngome, karena jika menyewa buruh tani, biayanya akan sangat mahal, yaitu 20.000 rupiah per hari. Kemudian kegiatan ngerampek (memanen hasil pertanian), biasanya dilakukan bersama-sama dengan tetangga atau menyewa buruh tani. Keadaan rumahtangga penenun di Dusun Sade yang sudah mulai sejahtera dibidang ekonomi mengakibatkan masyarakat Dusun Sade jarang ada yang bersedia menjadi buruh. Hal tersebut mengakibatkan rumahtangga harus mengerahkan seluruh anggota rumahtangga atau membayar lebih untuk menyewa buruh tani dari luar untuk menggarap sawah mereka.Rumahtangga penenun di Dusun Sade melakukan kegiatan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan menggunakan lahan

hutan untuk menanam pare reu atau padi liar. Penanaman padi liar tersebut tidak membutuhkan perawatan seperti ngome dan gelebak.

Pola Nafkah Ganda

Rumahtangga penenun di Dusun Sade menjadikan sektor pertanian menjadi sumber pendapatan utama mereka. Namun dikarenakan sektor pertanian di Dusun Sade merupakan pertanian tadah hujan, yang hanya dapat ditanami tanaman padi sawah sekali dalam setahun, mengakibatkan masyarakat Dusun Sade harus melakukan strategi lain agar mampu bertahan hidup.Terdapat berbagai bentuk strategi nafkah lain yang di lakukan oleh setiap lapisan rumahtangga di Dusun Sade. Strategi tersebut dilakukan pada saat keadaan normal dan kondisi krisis. Berikut adalah gambar jenis strategi nafkah yang dilakukan rumahtangga penenun di Dusun Sade.

Sumber: Data primer

Gambar 11. Jenis dan jumlah pengguna strategi nafkah yang dilakukan anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade, Desa Rembitan tahun 2014- 2015

Berdasarkan gambar 11, terlihat bahwa strategi nafkah yang paling banyak digunakan masyarakat Dusun Sade adalah menenun, karena pada saat pengambilan sample, responden yang dipilih adalah rumahtangga yang memiliki strategi nafkah menenun, dan hampir seluruh perempuan di Dusun Sade dapat menenun. Rumahtangga penenun di Dusun Sade, selain menenun memiliki strategi lain, yaitu berdagang tenun, yang hampir dilakukan oleh setiap rumahtangga yang ada di Dusun Sade. Adapun kegiatan pola nafkah ganda seringkali dilakukan oleh rumahtangga penenun di Dusun Sade, seperti kegiatan menenun biasanya dibarengi dengan kegiatan berdagang. Selain itu kegiatan menjadi guide biasanya dibarengi dengan kegiatan gendang beleq, yaitu kesenian memainkan alat musik khas Lombok, yang biasanya dimainkan ketika penyambutan turist. Adapun kegiatan membuat kerajinan biasanya dilakukan oleh anak-anak gadis dan para ibu-ibu yang sudah tidak menenun.

0 10 20 30 40

Rekayasa Spasial

Anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade, melakukan kegiatan rekayasa spasial, yaitu dengan melakukan migrasi sirkuler berupa pekerjaan di luar Dusun Sade, seperti menjadi pegawai di luar dusun ataupun desa. Selain itu, rumahtangga penenun di Dusun Sade melakukan kegiatan menjadi TKI di luar negeri, dimana daerah destinasi utamanya adalah negara Malaysia. Anggota rumahtangga penenun yang diperbolehkan untuk melakukan kegiatan menjadi tenaga kerja di luar negeri atau diluar kota adalah para laki-laki, sementara perempuan dilarang melakukan kegiatan diluar daerah Lombok maupun diluar negeri.

Bentuk Strategi Nafkah Rumahtangga Penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara

Rekayasa Sumber Nafkah Pertanian

Daerah Dusun Ketangge merupakan daerah yang dekat dengan sumber air berupa bendungan untuk mengairi sawah, sehingga pertanian di Dusun Ketangge dan sekitaran Desa Sukarara kebanyakan adalah pertanian irigasi. Pertanian irigasi di Dusun Ketangge dapat ditanami tanaman padi sawah dua kali dalam setahun dan setelahnya biasanya ditanami palawija berupa tanaman kedelai. Kegiatan pertanian yang membutuhkan perawatan dan perlakuan tertentu agar dapat memanen hasil yang baik dan banyak sesuai yang diinginkan mendorong masyarakat Dusun Ketangge melakukan beberapa bentuk rekayasa sumber nafkah pertanian, berupa intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge melakukan kegiatan intensifikasi pertanian berupa penggunaan seluruh anggota rumahtangga dalam mengolah lahan pertanian. Pada rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, Kegiatan gelebak (menggarap sawah) dilakukan dengan menggunakan traktor, kegiatan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar. Kegiatan nowong (menanam benih tanaman padi) dilakukan dengan cara membayar buruh tani, bayaran nowong di Dusun Ketangge sebesar 15.000 rupiah per hari. Setelah itu kegiatan berupa ngome (membersihkan hama rumput), biasanya rumahtangga penenun di Dusun Ketangge mengerjakan sendiri pekerjaan ngome, karena jika menyewa buruh tani, biayanya akan sangat mahal, yaitu 20.000 rupiah per hari. Kemudian kegiatan ngerampek (memanen hasil pertanian), biasanya dilakukan dengan menyewa buruh tani, bayaran untuk buruh tani berupa gabah, setiap ngerampek satu ton padi, akan mendapatkan 10 kilogram gabah. Keadaan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge yang rata-rata masih berada dibawah garis kemiskinan mengakibatkan masyarakat Dusun Ketangge banyak yang bekerja sebagai buruh. Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge melakukan kegiatan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan menggunakan menyewa lahan garapan, hal tersebut banyak dilakukan agar mendapatkan lebih banyak hasil pertanian.

Pola Nafkah Ganda

Rumahtangga penenun di Dusun Ketangge menjadikan sektor pertanian menjadi sumber pendapatan utama mereka. Namun dikarenakan sektor pertanian

memiliki masa menunggu hasil pertanian, sehingga masyarakat Dusun Ketangge harus melakukan strategi lain agar mampu bertahan hidup.Terdapat berbagai bentuk strategi nafkah yang di lakukan oleh setiap lapisan rumahtangga di Dusun Ketangge. Strategi tersebut dilakukan pada saat keadaan normal dan kondisi krisis. Berikut adalah gambar jenis strategi nafkah yang dilakukan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge.

Sumber: Data primer

Gambar 12. Jenis dan jumlah pengguna strategi nafkah yang dilakukan anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, Desa Sukarara tahun 2014-2015

Berdasarkan gambar 12, terlihat bahwa strategi nafkah yang paling banyak digunakan masyarakat Dusun Ketangge adalah menenun, karena sama halnya dengan Dusun Sade, yaitu pada saat pengambilan sample, responden yang dipilih adalah rumahtangga yang memiliki strategi nafkah menenun, dan hampir seluruh perempuan di Dusun Ketangge dapat menenun. Strategi lain yang banyak dilakukan anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge adalah menjadi supir.Adapun kegiatan pola nafkah ganda seringkali dilakukan oleh rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, seperti kegiatan menenun biasanya dibarengi dengan kegiatan berdagang. Selain itu kegiatan menjadi supir biasanya dibarengi dengan kegiatan perbenfkelan dan pertukangan.

Rekayasa Spasial

Anggota rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, melakukan kegiatan rekayasa spasial, yaitu dengan melakukan migrasi sirkuler berupa pekerjaan di luar Dusun Ketangge, seperti menjadi pegawai di luar dusun ataupun desa. Selain itu, rumahtangga penenun di Dusun Ketangge melakukan kegiatan menjadi TKI atau TKW di luar negeri, dimana daerah destinasi utamanya adalah negara Malaysia. Seluruh anggota rumahtangga penenun diperbolehkan untuk melakukan kegiatan menjadi tenaga kerja di luar negeri atau diluar kota. Tidak ada larangan berupa peraturan adat bagi anggota keluarga yang ingin pergi keluar daerah atau keluar negeri untuk bersekolah maupun bekerja.

0 10 20 30 40

Ikhtisar

Bentuk strategi nafkah rumahtangga penenun di dua dusun yang dibagi kedalam tiga bentuk strategi nafkah menurut Scoones (1998), yaitu rekayasa sumber nafkah pertanian, pola nafkah ganda, dan rekayasa spasial. Bentuk rekayara sumber nafkah pertanian yang dilakukan di dua dusun cukup berbeda. Rumahtangga penenun di Dusun Sade melakukan kegiatan intensifikasi pertanian berupa kegiatan nowong (menanam benih tanaman padi) dilakukan secara gotong- royong dan bergantian dengan kerabat atau tetangga, sehingga memungkinkan kegiatan nowong menjadi lebih cepat. Keadaan rumahtangga penenun di Dusun Sade yang sudah mulai sejahtera dibidang ekonomi mengakibatkan masyarakat Dusun Sade jarang ada yang bersedia menjadi buruh. Hal tersebut mengakibatkan rumahtangga harus mengerahkan seluruh anggota rumahtangga atau membayar lebih untuk menyewa buruh tani dari luar untuk menggarap sawah mereka. Berbeda dengan rumahtangga penejun di Dusun Sade, rumahtangga penenun di Dusun Ketangge melakukan kegiatan nowong (menanam benih tanaman padi) dilakukan dengan cara membayar buruh tani, bayaran nowong di Dusun Ketangge sebesar Rp.15.000 per hari. Keadaan rumahtangga penenun di Dusun Ketangge yang rata-rata masih berada dibawah garis kemiskinan mengakibatkan masyarakat Dusun Ketangge banyak yang bekerja sebagai buruh.

Selain kegiatan intensifikasi pertanian, rumahtangga penenun di dua dusun melakukan kegiatan ekstensifikasi. Rumahtangga penenun di Dusun Sade melakukan kegiatan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan menggunakan lahan hutan untuk menanam pare reu atau padi liar. Sementara rumahtangga penenun di Dusun Ketangge melakukan kegiatan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan menggunakan menyewa lahan garapan, hal tersebut banyak dilakukan agar mendapatkan lebih banyak hasil pertanian.

Bentuk pola nafkah ganda yang dilakukan oleh kedua dusun memiliki sedikit perbedaan. Pada rumahtangga penenun di Dusun Sade, seperti kegiatan menenun biasanya dibarengi dengan kegiatan berdagang. Selain itu kegiatan menjadi guide biasanya dibarengi dengan kegiatan gendang beleq, yaitu kesenian memainkan alat musik khas Lombok, yang biasanya dimainkan ketika penyambutan turist. Adapun kegiatan membuat kerajinan biasanya dilakukan oleh anak-anak gadis dan para ibu-ibu yang sudah tidak menenun. Sementara rumahtangga penenun di Dusun Ketangge, melakukan kegiatan seperti kegiatan menenun biasanya dibarengi dengan kegiatan berdagang. Selain itu kegiatan menjadi supir biasanya dibarengi dengan kegiatan perbenfkelan dan pertukangan.

Bentuk rekayasa spasial diantara kedua dusun dibedakan oleh ada atau tidak adanya larangan bagi anggota rumahtangga penenun yang berjenis kelamin perempuan untuk keluar daerah Lombok atau keluar negeri, baik untuk sekolah maupun bekerja. Anggota rumahtangga penenun di Dusun Sade yang diperbolehkan untuk melakukan kegiatan menjadi tenaga kerja di luar negeri atau diluar kota adalah para laki-laki. Semetara untuk Dusun Ketangge kegiatan menjadi TKI atau TKW di luar negeri diperbolehkan untuk anggota rumahtangga berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tidak ada larangan berupa peraturan adat bagi anggota rumahtangga di Dusun Ketangge yang ingin pergi keluar daerah atau keluar negeri untuk bersekolah maupun bekerja.

MODAL NAFKAH RUMAHTANGGA PENENUN DI DUA